REFLEKSI BUDAYA MINANGKABAU PADA ANTOLOGI LENGKAP CERPEN A.A. NAVIS
ARTIKEL ILMIAH
Diajukan sebagai Syarat untuk Memeroleh Gelar Sarjana Pendidikan
(Strata 1)
YOZI OVIANTI NPM 10080238
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2015
REFLEKSI BUDAYA MINANGKABAU PADA ANTOLOGI LENGKAP CERPEN A.A. NAVIS
Oleh
Yozi Ovianti
1, Eva Krisna
2, Titiek Fujita Yusandra
31) Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat
2) 3) Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP
PGRI Sumatera Barat
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi adanya perubahan budaya Minangkabau yang dulu sampai budaya Minangkabau yang sekarang pada Antologi Lengkap Cerpen A.A.
Navis (ALCN). Bentuk-bentuk refleksi budaya Minangkabau yang dikaji dari segi lingkungan pemerintahan adat, lingkungan pergaulan masyarakat (sosial), lingkungan kehidupan badunsanak (keluarga), serta lingkungan mencari nafkah (ekonomi) yang terdapat dalam Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navi (ALCN). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk refleksi budaya Minangkabau pada Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN). Manfaat penelitian ini akan di aplikasikan secara teoritis dan secara praktis. Sumber data dalam penelitian ini adalah Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN).
Jenis penelitian ini adalah kualitatif, sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Data dalam penelitian ini berupa refleksi budaya Minangkabau yang terdapat pada Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN).
Hasil penelitian ini berupa: (1) refleksi budaya Minangkabau terhadap lingkungan pemerintahan adat, tentang sindiran yang ditujukan untuk pemerintahan yang tidak bersih, uang dijadikan politik paling lancar dalam menyelasaikan masalah, serta hubungan antara mamak dan kemenakan yang sudah mulai renggang; (2) lingkungan pergaulan masyarakat (sosial), masyarakat Minang yang memiliki sikap saling tolong menolong, namun ada juga yang tidak menunjukkan sikap yang baik, serta tidak adanya budaya yang ramah karena perkembangan zaman yang sudah berubah; (3) lingkungan kehidupan bandunsanak (keluarga), yang merefleksikan tanggung jawab seorang bapak terhadap keluarganya, tanggung jawab seorang mamak terhadap kemenakannya untuk mengarahkan kemenakannya ke arah yang lebih baik, namun hal tersebut tidak terlaksanakan sampai sekarang; dan (4) lingkungan mencari nafkah (ekonomi), yang merefleksikan budaya merantau dan manggaleh (berdagang) yang sudah menjadi kebiasaan orang Minangkabau yang terdapat dalam Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN).
Kata Kunci: refleksi, budaya, Minangkabau
REFLECTIONS ON CULTURE MINANGKABAU ANTOLOGI LENGKAPCERPEN A.A. NAVIS
by The
Yozi Ovianti1, Eva Krisna2, Titiek Fujita Yusandra3 1) Student of STKIP PGRI West Sumatra
2) 3) Lecturer Program Study Education of Ianguage and Art Indonesia of STKIP
PGRI West Sumatra
ABSTRACT
This research is motivated a change in the Minangkabau culture used until now in the Minangkabau culture Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN). Forms of Minangkabau culture studied reflection of the environment in terms of customs administration, community social environment (social), environmental badunsanak life (family), as well as a living environment (economic) contained in the Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN). The purpose of this study is to describe the forms of reflection on the Minangkabau culture Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN). The benefits of this research will be applied theoretically and practically.
Source of data in this study is the Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN).
This research is qualitative, whereas the method used in this research is descriptive method of analysis. The data in this study is a reflection of Minangkabau culture contained in the Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN).
The results of this study are: (1) reflection of Minangkabau culture of the indigenous governance environment, about satire aimed not clean government, politics made the most money in the completion of their current problems, as well as the relationship between mamak and kemenakan who had started tenuous; (2) the milieu of society (social), Minang people who have an attitude of helping each other, but some are not showing a good attitude, and the absence of a culture that is friendly for the times had changed; (3) environment badunsanak life (family), which reflects the responsibilities of a father to his family, the responsibility of a mamak against his kemenakan to drive his kemenakan to a better direction, but it is not fulfilled until now; and (4) the environment for a living (economy), which reflect the culture migrated and manggaleh (trade) that have a habit of Minangkabau contained in the Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN)
Keywords: reflection, Minangkabau, culture
PENDAHULUAN
Sastra hadir dan berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia.
Perkembangan hidup manusia memberikan nilai positif terhadap kehadiran karya sastra karena diterima langsung oleh masyarakat. Tradisi dan kebudayaan masyarakat dapat menjadi bahan untuk menghasilkan sebuah karya sastra.. Persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat Minang tidak lepas dari budaya. Mulai dari budaya pemerintahan adat, pergaulan masyarakat, kehidupan badunsanak, hingga budaya mencari nafkah yang ada dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Masalah kebudayaan merupakan tema yang menarik untuk dianalisis dalam karya sastra karena masyarakat dan kebudayaan merupakan suatu jalinan yang sangat erat dan saling mempengaruhi.
Salah satu bentuk karya sastra yang merefleksikan budaya Minangkabau adalah cerpen.
Karya sastra dalam bentuk cerpen menitikberatkan pada permasalahan kehidupan manusia.
Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN) merupakan salah satu karya yang diciptakan oleh pengarang yang merefleksikan budaya Minangkabau, mulai dari refleksi budaya lingkungan pemerintahan adat, lingkungan pergaulan masyarakat (sosial), lingkungan kehidupan badunsanak (keluarga), hingga lingkungan mencari nafkah (ekonomi). Sepuluh di antara 68 cerpen-cerpen yang terdapat dalam Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN) lebih menonjolkan budaya Minangkabau.
Bentuk refleksi budaya Minangkabau yang dikaji dari segi lingkungan pemerintahan adat adalah cara seorang pemimpin yang memimpin dalam pemerintahan adat yang tidak bersih atau tidak berlandaskan pada kebenaran yang bersumber dari alue jo patuik yaitu bersumber dari al Quran. Rasa saling tolong menolong, memiliki rasa kepedulian, kebersamaan, dan kesetiakawanan juga terlihat dalam antologi ini, namun ada juga orang Minang yang tidak memiliki sifat seperti hal tersebut. Selanjutnya, dari segi lingkungan kehidupan badunsanak yang akan merefleksikan tanggungjawab seorang bapak, peranan ibu dan permasalahan perkawinan yang ada di Minangkabau, serta dari segi lingkungan mencari nafkah yang akan merefleksikan budaya manggaleh (berdagang) dan merantau yang sudah menjadi kebiasaan oleh masyarakat Minang.
Namun, sejalan dengan perkembangan zaman, budaya yang dulunya kental dan selalu dijunjung tinggi oleh masyarakat Minang sedikit demi sedikit sudah mulai hilang karena terpengaruh oleh budaya barat.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Afrizal (2014:13) menyatakan penelitian kualitatif didefinisikan sebagai metode penelitian ilmu-ilmu sosial yang mengumpulkan dan menganalisis data berupa kata-kata (lisan maupun tulisan) dan perbuatan-perbuatan manusia serta peneliti tidak berusaha menghitung atau mengkuantifikasikan data kualitatif. Ratna (2004:53) menyatakanmetode deskriptif analisis adalah metode yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Metode deskriptif analisis juga dapat memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya terhadap penelitian. Penelitian ini akan berisi data berupa kalimat-kalimat untuk memberikan gambaran pengajuan suatu laporan. Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yang berfungsi untuk mendeskripsikan serta menguraikan tentang refleksi budaya Minangkabau pada Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitia ini berupa bentuk-bentuk refleksi budaya Minangkabau pada Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN), yaitu: refleksi lingkungan pemerintahan adat, lingkungan pergaulan masyarakat (sosial), lingkungan kehidupan badunsanak (keluarga), dan lingkungan mencari nafkah (ekonomi).
PEMBAHASAN
1. Refleksi Budaya Minangkabau terhadap Lingkungan Pemerintahan
Lingkungan pemerintahan adat berarti berhubungan dengan seorang pemimpin yang ada di Minangkabau. Cara seorang pemimpin dalam pemerintahan adat Minangkabau, baik terhadap masyarakat atau kaumnya maupun terhadap sanak saudaranya, seperti seorang mamak yang memimpin anak kemenakannya. Pemerintahan adat di Minangkabau harus berlandaskan pada kebenaran yang bersumber dari alue jo patuik atau kebenaran dari al Quran. Namun, hal tersebut sudah tidak dipakai lagi oleh seorang pemimpin yang ada di Minangkabau. Di dalam Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN) banyak mencerminkan tentang pemimpin yang memimpin nagarinya dengan cara tidak bersih dan lebih mementingkan keperluan pribadi tanpa memikirkan dampak yang terjadi terhadap orang lain seperti tindakan korupsi yang dapat merugikan rakyatnya, baik hubungan antara atasan dengan bawahan, maupun hubungan antara mamak dengan kemenakan yang sudah mulai renggang seperti yang digambarkan dalam kutipan cerpen Tamu yang Datang di Hari Lebaran.
Uang merupakan salah satu alat yang digunakan oleh seseorang untuk melakukan tindakan hal-hal kotor, yaitu menggunakan uang sebagai politik yang paling lancar dalam menyelesaikan masalah. Mengambil hak-hak orang miskin demi kepentingan pribadi juga terlihat dalam cerpen Politik Warung Kopi, sehingga nilai moral dalam diri seseorang pun sudah tidak berharga lagi. Hal ini membuat para pemimpin yang ada di Minangkabau sudah menjadi terbiasa melakukan tindakan seperti itu dan sudah tidak menjadi sebuah kecemasan bagi mereka untuk melakukan perbuatan itu.
Mamak juga merupakan seorang pemimpin di Minangkabau, baik pemimpin bagi kaumnya maupun pemimpin bagi sanak saudaranya seperti adik perempuan dan anak kemenakannya. Hal ini terlihat dalam kutipan cerpen Kawin yang mencerminkan tentang seorang Mamak bertanggung jawab untuk mengarahkan adik perempuang serta kemenakannya ke arah yang lebih baik lagi, baik dalam segi pewarisan harta pusaka, pendidikan, maupun jodoh mamak berhak mengaturnya karena mamak bertanggungjawab penuh untuk kehidupan adik perempuan dan kemenakannya.
2. Refleksi Budaya Minangkabau terhadap Lingkungan Pergaulan Masyarakat (Sosial) Masyarakat Minang terkenal dengan jiwa pergaulan yang harmonis, rukun, dan damai karena orang Minang memiliki jiwa kebersamaan, kepedulian, kesetiakawanan, sikap saling tolong menolong dan sikap tenggang rasa yang sangat tinggi. Menjalin hubungan silaturrahmi yang baik merupakan hal yang paling penting bagi masyarakat Minang untuk mewujudkan kelompok masyarakat yang rukun dan damai. Membentuk masyarakat berbudi luhur, manusia yang berbudaya dan beradab juga merupakan tujuan hidup masyarakat Minang. Salah cara atau kebiasaan orang Minang dalam menjalin hubungan silaturrahmi yang harmonis adalah kebiasaan duduk di lapau (warung) sambil minum kopi segelas dan memperbincangkan permasalahan politi di negerinya. Cara ini sudah terbiasa dilakukan oleh kaum lelaki di Minangkabau.
Di Minangkabau, sikap yang paling dijaga dalam pergaulan sehari-hari adalah sikap tenggang rasa. Tenggang rasa berarti sikap yang bisa menjaga perasaan orang lain agar tidak tersinggung oleh perkataan yang kita ucapkan. Hal ini terlihat dalam kutipan cerpen Ganti Lapik.
Jiwa kepedulian yang dimiliki orang Minang juga menjadi modal utama dalam menjalin hubungan silaturrahmi yang rukun dan damai, baik itu rasa peduli terhadap keluarga, teman dekat, maupun orang lain.
Berjalannya waktu seiring perkembangan zaman, kini budaya yang ramah, rasa kepedulian yang dulunya ada sekarang sudah mulai hilang sedikit demi sedikit. Sifat kesetiakawanan dan rasa kebersamaan pun mulai memudar terhadap teman, hingga sopan santun sebagai orang Minang pun sudah mulai hilang. Hal ini terlihat pada kutipan cerpen Datangnya Sepucuk Surat yang menggambarkan tentang tidak adanya rasa kesetiakawanan terhadap temannya yang sedang dimaki-maki oleh atasannya dengan meninggalkan Harmen sendirian di dalam ruangan.
3. Refleksi Budaya Minangkabau terhadap Lingkungan Kehidupan Badunsanak (Keluarga) Dunsanak merupakan tempat atau lingkungan yang paling tepat untuk mengadu, melimpahkan keluh kesah dan tempat mencurahkan hati sesorang. Dunsanak juga merupakan keluarga yang paling dekat dan yang paling bisa mengerti seseorang. Di dalam kehidupan badunsanak, seorang bapak memiliki peranan penting dalam keluarga. Bapak merupakan tiang dalam rumah tangga untuk membangun sebuah keluarga yang bahagia dan harmonis. Di Minangkabau bapak merupakan pendatang di rumah gadang, ia tetap dipandang sebagai tamu oleh anak-istrinya. Bapak memiliki tanggung jawab penuh terhadap anak dan istrinya, baik di dunia maupun di akhirat nantinya. Namun, di balik semua itu masih ada juga seorang bapak yang tidak melakukan tanggung jawabnya sebagaimana mestinya. Beribadah memang penting untuk dilakukan sebagai seorang umat muslim untuk amal kita yang di bawa ke akhirat nanti. Akan tetapi, menelantarkan keluarga sama saja menjerumuskan diri ke dalam neraka karena salah satu tanggung jawab seorang bapak adalah bisa membahagiakan dan membimbing keluarganya ke jalan yang benar. Hal ini terlihat pada kutipan dalam cerpen Robohnya Surau Kami.
Di Minangkabau, ada juga pepatah mengatakan anak dipangku kamanakan di bimbiang yang artinya, di samping tanggung jawab seorang bapak terhadap anaknya, ia juga bertanggung jawab dalam membimbing kemenakannya ke arah yang lebih baik lagi. Hubungan antara mamak dan kemenakan sangat dekat sekali karena setali darah menurut garis keturunan ibu. Mamak juga berhak memberikan arahan kepada kemenakannya ke arah yang lebih baik lagi. Seperti yang terlihat pada kutipan cerpen Cina Buta.
Selanjutnya, di Minangkabau banyak jenis-jenis perkawinan. Mulai dari perkawinan cina buta, kawin sasuku, kawin wakil, perkawinan ganti lapik, perkawinan antara anak mamak dan kemenakan yang disebut dengan pulang ka mamak atau pulang ka bako, hingga pantangan perkawinan yang ada di Minangkabau. Perkawinan ganti lapik berarti perkawinan seseorang (laki- laki atau perempuan) yang pasangannya telah meninggal. Lalu si janda atau si duda dikawinkan dengan saudara yang meninggal itu. Lain halnya dengan perkawinan cina buta atau cino buto yang berarti sepasang suami istri yang telah tiga kali melakukan kawin cerai, tidak dapat rujuk atau menikah kembali. Namun, mereka akan dapat menikah kembali apabila si janda telah menikah dan bercerai pula dengan laki-laki lain lebih dahulu. Hal ini terlihat pada kutipan cerpen Ganti Lapik.
4. Refleksi Budaya Minangkabau terhadap Lingkungan Mencari Nafkah (Ekonomi)
Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna dengan dibekali akal dan fikiran untuk menjalani hidup dengan baik. Dalam mencari nafkah manusia dibekali akal untuk berusaha mencari pekerjaan agar dapat bertahan hidup. Salah satu kebiasaan orang Minang dalam mencari nafkah adalah manggaleh atau berdagang. Manggaleh atau berdagang biasa dilakukan oleh orang Minang, mulai dari berdagang bahan pokok makanan, pakaian, bahan bangunan serta masih banyak lagi kebutuhan sehari-hari manusia yang dibutuhkan. Hal ini terlihat pada kutipan dalam cerpen Datangnya Sepucuk Surat.
Selanjutnya, cara orang Minang untuk mencari nafkah adalah tradisi merantau. Tradisi ini merupakan salah satu cara yang dilakukan orang Minang dalam mencari kehidupan yang lebih baik lagi. Orang Minang pergi merantau dari kampung halamannya dengan memulai usaha berdagang di daerah rantau. Banyak orang Minang yang sukses dan berhasil setelah pergi merantau dari kampung halamannya. Namun, sejauh apapun seseorang pergi merantau hati jiwa, dan raga akan tetap terpaut di tempat kita di lahirkan. Seperti yang terlihat pada kutipan cerpen Ganti Lapik.
PENUTUP a. Kesimpulan
Refleksi budaya Minangkabau yang ditinjau dari segi lingkungan pemerintahan adat menggambarkan tentang cara seorang pemimpin yang memimpin nagarinya. Pengarang mencerminkan tentang sebuah sindiran yang ditujukan untuk pemerintahan yang tidak bersih.
Uang merupakan politik paling lancar dalam menyelesaikan masalah, baik hubungan antara atasan
dan bawahan maupun antara mamak dengan kemenakan. Hubungan antara mamak dan kemenakan pun mulai renggang dikarenakan mamak yang tidak acuh lagi dengan kemenakannya.
Refleksi budaya Minangkabau dari segi lingkungan pergaulan masyarakat (sosial) terlihat pada sikap saling tolong menolong, rasa kepedulian, rasa kebersamaan, dan budaya yang ramah selalu ditunjukan oleh orang Minang, Namun, di balik itu ada juga yang tidak menunjukkan sikap yang baik serta tidak menunjukkan budaya yang ramah karena seiring perkembangan zaman yang sudah berubah. Nilai moral sudah tidak menjadi hal yang terpenting lagi bagi masyarakat Minang seperti laki-laki Minang yang memperlakukan perempuan dengan baik.
Refleksi budaya Minangkabau dari segi lingkungan kehidupan badunsanak (keluarga) tergambar pada tanggung jawab seorang bapak terhadap keluarganya, tanggung jawab mamak yang selalu membimbing kemenakannya ke arah yang lebih baik, tanggung jawab seorang kakak terhadap adik-adiknya, serta istri yang hormat kepada suaminya tergambar pada cerpen tersebut.
Namun, semua itu tidak terlaksanakan sampai sekarang. Semuanya sangat bertolak belakang dengan keadaan zaman sekarang. Hilangnya tanggung jawab seorang bapak terhadap keluarga dengan menelantarkan anak dan istrinya, mamak yang tidak pernah memperdulikan kemenakannya dan tidak pernah memberi arahan yang baik, hingga hilangnya rasa hormat sang istri terhadap suaminya.
Refleksi budaya Minangkabau dari segi lingkungan mencari nafkah (ekonomi) terlihat dari budaya manggaleh (berdagang) yang dimiliki oleh orang Minang seperti berbisnis, berlepau (warung), dan budaya merantau yang biasa dilakukan laki-laki Minang demi memperbaiki kehidupan. Namun berjalannya waktu, berbagai macam cara dilakukan orang untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya walaupun dengan cara yang salah. Sekarang budaya merantau tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki saja, melainkan kaum perempuan juga ikut- ikutan pergi merantau mencari pekerjaan yang lebih baik lagi untuk memperbaiki kehidupannya.
b. Saran
Berdasarkan analisis yang peneliti lakukan terhadap Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN) di atas, maka peneliti menyarankan sebagai berikut. Pertama bagi pembaca, untuk dapat memahami makna yang disampaikan A.A. Navis dalam Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN) sehingga banyak pengetahuan dan pengalaman yang dapat dijadikan panutan dan ajaran oleh pembaca. Kedua, bagi peneliti lain, penelitian ini dapat memberikan gambaran dalam memahami dan menganalisis karya sastra, khususnya cerpen. Ketiga, untuk pengarang yang ingin meneliti tentang budaya Minangkabau selanjutnya agar dapat menggunakan objek yang berbeda untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis dan pembaca.
KEPUSTAKAAN
Afrizal. 2014. Metode Penelitian Kualitatif: Sebuah Upaya Mendukung Penggunaan Penelitian Kualitatif dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Amir, M.S. 2003. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Orang Minang. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.
Esten, Mursal. 1993. Minangkabau Tradisi dan Perubahan. Padang: Angkasa Raya Padang.
Navis, A.A. 2005. Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (ALCN) (ALCN). Jakarta: Buku Kompas.
Penghulu, H. Idrus Hakimy Dt. Rajo. 2003. Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Ratna, Nyoman Kuta. 2004. Teori,Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Belajar.