• Tidak ada hasil yang ditemukan

regulasi isbat nikah poligami dalam sema no. 3 tahun 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "regulasi isbat nikah poligami dalam sema no. 3 tahun 2018"

Copied!
161
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Konteks Penelitian

Fokus Kajian

Pembahasan dalam rumusan masalah ini memuat uraian yang mempunyai kesinambungan dengan masalah yang ingin diteliti dan dituangkan secara runtut dan konsisten.10 Peneliti merumuskannya sebagai berikut.

Tujuan Kajian

Manfaat Kajian

Metode Penelitian

Yang disebut dengan penelitian hukum normatif adalah melakukan penelitian dengan cara mengkaji bahan pustaka atau data sekunder saja. Ruang lingkup penelitian hukum normatif adalah asas-asas hukum, sistematika hukum, tingkat sinkronisasi vertikal dan horizontal, perbandingan hukum dan sejarah hukum.15.

Definisi Istilah

30 Dalam hal ini maqashid syariah Ibnu Asjur digunakan dalam kaitannya dengan hukum keluarga khususnya untuk membahas poligami. Peraturan Isbat Pernikahan Poligami dalam SEMA Nomor 3 Tahun 2018 (Perspektif Maqashid Syariah Ibnu Asyur)' merupakan tawaran konsep pengaturan mengenai Isbat pernikahan poligami di Indonesia dilihat dari maqashid syariah.

Sistematika Penulisan

Bab ketiga berisi tentang peraturan mengenai Isbat perkawinan poligami di Indonesia sebelum dan sesudah hadirnya SEMA Nomor 3 Tahun 2018. Bab ini membahas tentang peraturan terkait Isbat perkawinan poligami dalam SEMA Nomor 3 Tahun 2018 dalam perspektif maqashid syariah Ibnu Asyur.

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Penelitian Terdahulu

Persamaan tesis ini dengan penelitian terletak pada fokus masalah yang diangkat yaitu keberhasilan pernikahan poligami. Persamaan penelitian ini terletak pada garis besar masalah yang diteliti yaitu terkait keberhasilan pernikahan poligami.

Kajian Teori

Jadi kita bisa berasumsi bahwa surat edaran Mahkamah Agung tersebut merupakan sebuah peraturan politik.78 Dalam hal ini kita perlu mengetahui kedudukan SEMA dalam hierarki perundang-undangan atau hukum positif di Indonesia. Awalnya SEMA didirikan berdasarkan ketentuan ayat 3 Pasal 12 UU No. 1 Tahun 1950 tentang Susunan, Wewenang dan Tata Cara Mahkamah Agung Indonesia. Untuk melihat landasan hukum Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA), kita perlu melihat UU Mahkamah Agung sebagai kerangka hukum pelaksanaan SEMA itu sendiri.

Kewenangan ini diberikan agar Mahkamah Agung dapat memutus hal-hal yang tidak diatur lebih lanjut dalam undang-undang. Dalam hal ini peraturan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung dipisahkan dengan peraturan yang dibuat oleh pembuat undang-undang. Dengan Undang-undang ini, Mahkamah Agung mempunyai kewenangan untuk menetapkan aturan mengenai cara penyelesaian suatu permasalahan yang tidak atau tidak diatur dalam Undang-Undang ini.

Dari segi kewenangannya, Surat Edaran Mahkamah Agung dibentuk oleh kewenangan pengaturan yang berada di tangan Mahkamah Agung. Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Perumusan Hasil Rapat Paripurna Mahkamah Agung Tahun 2018 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Pengadilan. 84 Irwan Adi Cahyadi, Kedudukan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) dalam Hukum Positif di Indonesia (Malang: Jurnal.

Pemikiran yang digagaskan oleh Ibn Ashur dalam Maqasid ash-Shari'ah al-Islamiyyah tidak dapat dipisahkan daripada apa yang telah dimulakan oleh tokoh-tokoh terdahulu khususnya ash-Syatibiy.

Kerangka Konseptual

TAHUN 2018

  • Ketentuan Isbat Nikah Poligami Sebelum Hadirnya SEMA
  • Landasan filosofis lahirnya SEMA No. 3 Tahun 2018
  • Ketentuan Isbat Nikah Poligami Sesudah Hadirnya SEMA

Kesamaan karya ilmiah ini terletak pada fokus penelitian yang membahas permasalahan perkawinan poligami. Nuzuluddin, Analisa Putusan Hakim Kasus Isbat Nikah Poligami di Pengadilan Agama Giri Menang (Studi Putusan No. Permohonan nikah poligami berdasarkan perkawinan siri padahal demi kepentingan anak, seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima .

Salah satu hasil rapat pleno senat agama Mahkamah Agung RI adalah terkait permohonan diakhirinya isbat nikah poligami berdasarkan nikah siri128 dan hubungannya dengan permohonan asal usul anak di dalam negeri. pengadilan agama. . Peradilan agama berdasarkan ketentuan pada Buku II mengadili perkara permohonan isbat nikah. Sedangkan SEMA Nomor 3 Tahun 2018 menyatakan dengan tegas bahwa pengadilan agama tidak dapat mengabulkan permohonan isbat nikah poligami siri dan harus menyatakan permohonan tersebut tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard).

Perbandingan Ketentuan Isbat Nikah Poligami di Indonesia Sebelum dan Sesudah SEMA Nomor 3 Tahun 2018 Sebelum SEMA Nomor 3 Berikut rincian ketentuan Isbat Nikah Poligami di SEMA Nomor 3 Tahun 2018 dalam Sudut Pandang Syariah Makashid Ibnu Asyur. Peraturan Isbat Pernikahan Poligami dalam SEMA Nomor 3 Tahun 2018, Perspektif Maqashid Syariah Ibnu Asyur dari segi kemaslahatan, Perspektif Maqashid Syariah Ibnu Asyur dari segi kemaslahatan.

3 Tahun 2018 dengan tegas menyatakan bahwa Pengadilan Agama tidak boleh mengabulkan permohonan perkawinan siri-poligami dan harus menyatakan permohonan tersebut tidak dapat diterima. Perlakuan terhadap perkara isbat perkawinan poligami siri dan kaitannya dengan permohonan asal usul anak di Pengadilan Agama. Analisis Putusan Hakim dalam Kasus Perkawinan Poligami Isbat di Pengadilan Agama Giri Menang (kajian Putusan No.

REGULASI ISBAT NIKAH POLIGAMI DALAM SEMA

Regulasi Isbat Nikah Poligami dalam SEMA Nomor 3

Tujuan utama hukum universal menurut Ibnu Asiur sendiri antara lain: ketertiban, persamaan, kebebasan, kemudahan dan kelestarian fitrah manusia.133 Hal ini pula yang melatarbelakangi pemikiran Ibnu Asiur tentang pencatatan perkawinan, yang tujuannya adalah untuk mengakui dari hakikat perkawinan. istri dan terjadinya perkawinan. Hal ini tidak berbeda dengan perkawinan poligami siri yang dilakukan karena tujuan pencatatan perkawinan poligami siri adalah untuk mengakui perempuan lain atas terjadinya perkawinan syria dan hal ini dapat menjamin persamaan status perempuan dan anak yang dilahirkan dalam perkawinan syria. Aspek mengukuhkan ikatan perkawinan merupakan salah satu indikator maqasid syariah Ibnu Asyur dimana penting untuk mengukuhkan perkawinan karena membedakan hakikat perkawinan dengan perbuatan zina atau prostitusi.

Hal ini juga akan melindungi hubungan kekeluargaan, sehingga dengan disahkannya perkawinan siri-poligami akan memberikan kejelasan status kepada anak-anak yang dilahirkan dalam perkawinan siri-poligami tersebut. Peraturan Perkawinan Poligami dalam SEMA Nomor 3 Tahun 2018 tentang Kamar Keagamaan mengatur bahwa perkawinan poligami secara sirri dianggap tidak dapat diterima atau diperbolehkan. Hal ini mengakibatkan kerugian bagi perempuan dan khususnya anak-anak. Karena perempuan dan anak tidak mendapat pengakuan administratif dari negara, hal ini tidak sejalan dengan teori kesejahteraan Ibnu Assyur, dimana perempuan dan anak tidak mendapat haknya secara administratif.

Peraturan Isbat Nikah Poligami Dalam SEMA Edisi 3 Tahun 2018, Perspektif maqashid syariah Ibnu Asyur tidak sesuai dengan maqashid syariah Ibnu Asyur ditinjau dari aspek kemaslahatan, dimana SEMA hanya mengutamakan asas hukum yang dianut oleh negara yaitu asas kemaslahatan. monogami tanpa melihat sisi lain dari keuntungan yang terhambat karena penolakan lamaran. Peraturan Isbat Nikah Poligami Dalam SEMA Edisi 3 Tahun 2018 Dalam Perspektif Maqashid Syariah Ibnu Asyur Dalam Aspek Substansial.

Regulasi Isbat Nikah Poligami dalam SEMA Nomor 3

Hingga saat ini, di beberapa wilayah Pengadilan Agama di Indonesia, seperti di wilayah Aceh, sudah menjadi hal yang lumrah jika permohonan perkawinan poligami diajukan pada perkawinan yang dilakukan secara siri. Apabila permohonan perkawinan poligami diajukan oleh instansi terkait yaitu Pengadilan Agama atau Pengadilan Syariah setempat, maka sudah selayaknya diterima, dipatuhi, diputuskan dan dikabulkan. Pengajuan permohonan perkawinan poligami dimungkinkan atas dasar perkawinan siri dengan format sebagaimana diuraikan di atas selama ini dibenarkan secara hukum dan harus sekaligus diterima dan dikabulkan oleh Pengadilan Agama.

Ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Buku II jelas mengakomodir permasalahan perkawinan di luar nikah yang pada umumnya lazim terjadi di masyarakat, termasuk perkawinan poligami berdasarkan perkawinan di luar nikah sebagaimana dimaksud dalam rumusan hasil rapat paripurna pelayanan Kamar Keagamaan. Dengan demikian, sejauh ini ketentuan teknis yuridis yang terdapat dalam Buku II masih dapat dijadikan pedoman dan dilaksanakan oleh Pengadilan Agama dalam menangani perkara permohonan isbat perkawinan poligami berdasarkan perkawinan siri. 3 Tahun 2018 yang menyatakan bahwa permohonan isbat nikah poligami tidak dapat diterima dengan alasan apapun, sehingga undang-undang pada hakikatnya telah memberikan peraturan yang tidak dapat menjawab permasalahan di masyarakat.

Badan peradilan agama yang berwenang menangani perkara isbat nikah poligami dapat menyikapi dan secara kasuistis menggunakan penanganan perkara isbat nikah poligami berdasarkan nikah siri, karena perkawinan poligami yang dilakukan dalam nikah siri merupakan kenyataan yang lumrah dan massal di Indonesia bagi perusahaan dari sebelum dan sesudahnya. setelah mereka menerapkan UU Perkawinan no. 1 Tahun 1974. Peraturan Isbat Perkawinan Poligami dalam S EMA Nomor 3 Tahun 2018 Sudut Pandang Maqashid Syariah Ibnu Assyur Dari Sudut Pandang Kemantapan dan.

Regulasi Isbat Nikah Poligami dalam SEMA Nomor 3

Berangkat dari uraian tersebut, maka pengaturan perkawinan poligami dalam SEMA Nomor 3 Tahun 2018 belum memenuhi substansi dan supremasi hukumnya, dimana Mahkamah Agung dalam sidang paripurna dengan tegas menolak pencatatan perkawinan. 3 Tahun 2018, sehingga masih terdapat putusan hakim pengadilan agama yang menerima dan mengabulkan permohonan perkawinan poligami, seperti putusan no. 1506/Pdt.G/2019/PA.Jr, yang dinyatakan diterima dan disetujui dengan alasan yang sah, bahwa para pihak menyetujui perbuatan hukum yang dilakukan satu sama lain. Bahkan, para pihak diperbolehkan mengajukan tuntutan tentang asal usul anak dari perkawinan poligami yang dilakukan secara siri, sebagaimana tertuang dalam hasil rapat paripurna Kamar Agama yang berujung pada SEMA no.

Berdasarkan uraian tersebut, maka aturan isbat perkawinan poligami dalam SEMA Nomor 3 Tahun 2018 tidak memenuhi aspek stabilitas dan stabilitas sosial yang dirumuskan oleh Ibnu Asyur, dimana dalam rapat pleno Mahkamah Agung dengan tegas menolak pencatatan perkawinan. Jadi, masih ada putusan hakim pengadilan agama yang mengabulkan dan menerima permohonan pembuktian perkawinan poligami, seperti putusan nomor 5065/Pdt.G/2019/PA.Clp yang dinyatakan diterima dan dikabulkan. Seperti yang telah penulis jelaskan pada bab sebelumnya mengenai konsep perkawinan poligami Isbat di SEMA No.

Poligami dalam hukum Islam dan hukum positif di Indonesia serta urgensi pemberian izin poligami di pengadilan agama. Analisis Putusan Isbat Pernikahan Poligami (Pemeriksaan Putusan Pengadilan Agama Bima No. 0663/Pdt.G/2014/PA.Bm dibandingkan dengan Putusan Pengadilan Tinggi Agama Mataram No. 0093/Pdt.G/2014 /PTA.Mtr) .

PENUTUP

Kesimpulan

Saran

Sebaiknya lembaga Mahkamah Agung mempertimbangkan kembali dan merevisi surat edaran yang telah dikeluarkan, khususnya SEMA Nomor 3 Tahun 2018 pada poin kamar agama, sehingga tercapai kemanfaatan, substansi dan stabilitas hukum. Alaisa as-Subhu bi Qarib: at-Ta'lim al-'Arabiy al-Islamiy, Tarikhiyah wa Ara' Islahiyah. Keputusan Presiden Mahkamah Agung Republik Indonesia nomor KMA/032/SK/2006 tentang pedoman pelaksanaan tugas dan administrasi peradilan.

Keputusan Ketua MARI Nomor KMA/032/SK/IV/2006 tentang Penerapan Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Tata Usaha Peradilan, tanggal 06 April 2006. Hukum Perdata (Keluarga) Islam Indonesia dan Perbandingan Hukum Perkawinan di Indonesia dunia Islam dengan pendekatan interkoneksi integratif. Isbat nikah poligami siri ditinjau dari segi hukum-normatif (kajian putusan no. 190/Pdt.G/2004/PA.Smn dan putusan no. 1512/Pdt.G/2015/PA.Smn tentang isbat poligami siri). perkawinan di Pengadilan Agama Sleman).

Akibat hukum penolakan permohonan nikah itsbat oleh pengadilan agama bagi pihak yang melangsungkan perkawinan siri (putusan studi kasus nomor: 1478/Pdt.G/2016/PA.JT). Al-Mahdi Bin Humaidah, Muhammad Tahir Bin Asyur: 'Alam wa Sirah, di Majalah Turess Online (http://www.turess.com/alwasat/126), diunduh pada 10 April 2022, 16.00.

Referensi

Dokumen terkait