• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekayasa Pembuatan Kompos Limbah Industri Pewarna Alami Daun Strobilanthes cusia Secara Anaerob dengan Penambahan Serbuk Gergaji dan Bioaktivator EM4

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Rekayasa Pembuatan Kompos Limbah Industri Pewarna Alami Daun Strobilanthes cusia Secara Anaerob dengan Penambahan Serbuk Gergaji dan Bioaktivator EM4"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

,

Rekayasa Pembuatan Kompos Limbah Industri Pewarna Alami Daun Strobilanthes cusia Secara Anaerob dengan

Penambahan Serbuk Gergaji dan Bioaktivator EM4

Dista Pinasti1, Sri Sunarsih2*, Suparni Setyowati Rahayu3

1,2,3

Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Sains Terapan, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta, Indonesia

*Koresponden email: [email protected]

Diterima: 8 Juli 2023 Disetujui:15 Juli 2023

Abstract

The industry for making an indigo paste from Strobilanthes cusia leaves in Wonoboyo, Temanggung, Central Java generates solid waste left over from maceration. This study aims to determine the best conditions for making compost from leaf waste. Composting was carried out by the anaerobic method using the raw material of Strobilanthes cusia leaf waste, varying the concentration of EM4 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, and varying the weight of sawdust 100, 200, 300, 400 and 500 grams. The quality of the compost produced was analyzed for parameters of pH, water content, and C/N ratio. C analysis used the Walkley and Black method and N analysis used the Kjedahl method Analysis of compost products showed that the best results were obtained from the composition of the ingredients in the form of 1000 grams of leaf waste, 2%

concentration of EM4 bioactivation, and 300 grams of sawdust. The quality test of compost yields on the parameters of pH and water content has met the criteria set out in the Regulation of the Minister of Agriculture no. 70/Permentan/SR.140/10/2011, namely pH 8.07 (quality standard pH 4 – 9) and water content 20.56% (quality standard 15 – 25%). Meanwhile, the C/N ratio parameter still exceeds the quality standard

Keywords: compost, strobilanthes cusia leaves, EM4, sawdust, anaerob

Abstrak

Industri pembuatan pasta indigo dari daun Strobilanthes cusia di Wonoboyo, Temanggung, Jawa Tengah menimbulkan limbah padat sisa maserasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi terbaik untuk pembuatan kompos dari limbah daun tersebut. Pengomposan dilakukan dengan metode anaerob menggunakan bahan baku limbah daun Strobilanthes cusia, dengan variasi konsentrasi EM4 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% serta variasi berat serbuk gergaji 100, 200, 300, 400, dan 500 gram. Kualitas kompos yang dihasilkan dianalisis parameter pH, kadar air, dan rasio C/N. Analisis C menggunakan metode Walkley and Black dan analisis N dengan metode Kjedahl. Analisis produk kompos menunjukkan bahwa hasil terbaik diperoleh dari komposisi bahan berupa 1000 gr limbah daun, bioaktivator EM4 konsentrasi 2% dan serbuk gergaji seberat 300 gram. Uji kualitas hasil kompos terhadap parameter pH dan kadar air sudah memenuhi kriteria yang terantum dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 70/Permentan/SR.140/10/2011 yaitu pH 8,07 (standar mutu pH 4 – 9) dan kadar air 20,56 % (standar mutu 15 – 25 %). Sedangkan untuk parameter rasio C/N masih melebihi standar mutu

Kata Kunci: kompos, daun strobilanthes cusia, EM4, serbuk gergaji, anaerob

1. Pendahuluan

Di Ganduwetan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, terdapat industri kecil pembuatan pasta pewarna biru dari daun Strobilanthes cusia (UMK Shibiru). Produk pasta biru tersebut digunakan sebagai zat pewarna kain, kayu, benang sutra dan bahan lainnya yang berasal dari alam.

Dari proses produksi, terdapat hasil samping yaitu limbah daun sisa dari masesari (fermentasi) yang sebagian besar belum dimanfaatkan kembali. Dalam sekali proses pembuatan yang berlangsung 3 hari, limbah padat yang dihasilkan sekitar 1200 kg.

Limbah ini digunakan sebagai pupuk tanaman secara langsung tanpa dilakukan pengolahan Komposisi limbah daun secara umum terdiri atas C-organik 53,88 %, N-total 3,8 %, dan C/N rasio 14,7 [1]. Berdasar komposisi unsur penyusunnya, limbah daun Strobilanthes cusia sisa maserasi tersebut dapat diolah menjadi kompos sehingga akan mengurangi timbulan limbah padat.

(2)

Pengolahan limbah padat ini membutuhkan inokulan EM4 untuk membantu proses fermentasi serta penambahan sumber karbon (sampah coklat) misal serbuk gergaji. EM4 mampu mempercepat dekomposisi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman, dan menekan aktivitas mikroorganisme patogen [2].

Ada dua teknik utama yang sering digunakan dalam penguraian limbah organik yakni secara aerobik (membutuhkan udara) dan secara anaerobik (tidak memerlukan udara). Secara alamiah proses anaerob sering terjadi dan digunakan untuk mengolah kotoran hewan dan tinja. Saat ini proses anaerob juga banyak digunakan untuk mengolah limbah padat perkotaan dan limbah hijau. Dekomposisi ini memerlukan mikroorganisme anaerob yang memanfaatkan nitrogen, fosfor, dan nutrisi lain untuk mengembangkan protoplasma selnya. Produk peruraian limbah organik berupa metana, CO2, NH3, gas-gas lain dan asam- asam organik [3,4,5].

Selama pengomposan anaerobic, berlangsung 4 tahapan proses : hidrolisis, asidogenesis, asetogenesis dan metanogenesis. Ketika berada pada tahap hidrolisis, mikroba fermentatif menguraikan bahan organik kompleks yang tidak larut (misal selulosa) menjadi molekul larut seperti asam lemak, asam amino dan gula. Aktivitas hidrolitik merupakan faktor pembatas laju pengomposan yang memiliki dampak yang signifikan terhadap bahan baku dengan kandungan bahan organik tinggi. Tahap kedua adalah asidogenesis, berupa peruraian lebih lanjut sisa molekul kompleks oleh bakteri asidogenik fermentatif).

Pada fase berikutnya molekul sederhana yang terbentuk pada tahap asidogenesis akan dicerna hingga membentuk asam asetat, karbon dioksida dan hidrogen. Bakteri utama dari fase ini adalah Clostridium aceticum, Acetobacter woodie, dan Clostridium termoautotrophicum. Fase terakhir adalah metanogenesis.

Bakteri pembentuk metana (misal Methanosarcina) akan menghasilkan metana [3,7].

Laju pengomposan pada metode anaerob lebih cepat dibandingkan dengan pengomposan menggunakan metode aerob [5,6]. Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pengomposan anaerobic adalah temperatur, pH, substrat, dan keberadaan organisme patogen. Temperatur merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam proses pengomposan anaerobik. Temperatur optimal untuk pertumbuhan bakteri mesofilik adalah 35 oC. Setiap penurunan temperatur sebesar 10 oC akan menurunkan aktivitas dan laju pertumbuhan bakteri penghasil biogas sebesar 50%. Penurunan temperatur sebesar 20 oC menyebabkan produksi sangat menurun dan bahkan berhenti pada temperatur 10 oC. Sebaliknya, jika temparatur > 37 oC akan menyebabkan proses pencernaan lebih panjang dan penurunan tingkat produksi biogas [8]. Pada proses pengomposan anaerobik pH merupakan parameter yang memiliki efek signifikan.

Kisaran pH optimum adalah 6,8 hingga 7,2. Namun masih dapat ditolerir pada kisaran 6,5 hingga 8,0 [8].

Pengaruh faktor substrat terhadap proses pengomposan dapat ditinjau dari rasio C/N. Rasio C/N yang efektif dalam proses pengomposan berkisar antara 30 : 1 sampai dengan 40 : 1). Mikroba akan memecah senyawa C sebagai sumber energi, sedangkan senyawa N akan digunakan sebagai bahan sintesis protein.

Apabila nilai rasio C/N terlalu tinggi maka mikroba akan kekurangan senyawa N untuk mendukung sintesis protein. Akibatnya proses dekomposisi limbah organik akan berjalan lambat. Oleh karena itu, limbah organik yang tidak seimbang dapat ditambahkan sumber nitrogen (limbah hijau) atau sumber karbon (limbah coklat) [9].

Pada pengomposan anaerobik adanya patogen merupakan ancaman utama karena sistem tidak cukup panas untuk mematikan. Faktor yang mengurangi patogen dalam pengomposan adalah tidak tersedianya oksigen. Selain itu, antagonisme biologis terhadap patogen juga dapat mengurangi patogen di kompos anaerob. Oleh karena itu, diperlukan kondisi yang benar-benar anaerobik selama enam bulan sampai satu tahun untuk memastikan kehancuran total pathogen [3,15].

Mengingat timbulan limbah padat yang cukup besar dan berpotensi mengganggu lingkungan serta berpeluang untuk menambah pendapatan UMK, maka perlu ditemukan kondisi optimum untuk memproses limbah tersebut menjadi kompos. Dapat juga produk kompos diaplikasikan ke plasma kebun Strobilanthes cusia yanng dikelola oleh koperasi petani setempat.

2. Metode Penelitian

Bahan penelitian berupa limbah daun Strobilanthes cusia, sisa maserasi dalam pembuatan pasta pewarna biru indigo, serbuk gergaji, bioaktivator EM4, molase, akuades. Limbah daun Strobilanthes cusia diambil dari UMK SHIBIRU, Produsen Pewarna Alami di Gandu Wetan RW 2 Gaden, Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah.

Proses pengomposan dilakukan dalam 2 tahap, Tahap pertama untuk menentukan konsentrasi EM4 yang optimal dengan memvariasi konsentrasinya seharga 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5%. Tahap kedua untuk

(3)

Selama proses pengomposan dilakukan pengadukan dan penyeprotan larutan bioaktivator EM4 serta pengecekan fisik dengan pengambilan data pH, kadar air, dan suhu yang dilakukan setiap tiga hari sekali.

Proses penyemprotan EM4 dan pengadukan kompos dilakukan dengan kondisi komposter tetap tertutup rapat agar udara tidak masuk. Pengecekan untuk memastikan proses fermentasi sudah berjalan dilakukan dengan memantau kenaikan suhu. Proses pengomposan diakhiri saat limbah sudah berubah sifatnya menjadi berwarna coklat kehitaman, tidak berbau, dan bertekstur remah. Kompos yang dihasilkan kemudian ditentukan rasio kadar C-organik / N-organik, pH dan kadar airnya. Analisis C-organik didasarkan pada metoda Walkley dan Black, sedangkan analisis N-organik dilakukan dengan metoda Kjedahl.

Analisis data yang digunakan adalah analisis data regresi yang digunakan untuk mengetahui adanya korelasi antara konsentrasi EM4 dan berat penambahan serbuk gergaji terhadap kualitas kompos yang dihasilkan berdasar parameter rasio C/N organik, pH dan kadar airnya.

3. Pembahasan dan Pembahasan

Pengaruh Variasi Konsentrasi EM4 Terhadap Proses Pengomposan

Pengamatan pengaruh variasi konsentrasi penambahan EM4 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% terhadap proses pengomposan dapat dilihat dengan menganalisis rasio konsentrasi C/N, kadar air dan pH kompos yang dihasilkan. Pengamatan ini dilakukan dengan kondisi perbandingan limbah daun Strobilanthes cusia dan serbuk gergaji 1 : 1, atau beratnya 1000 gram : 1000 gram. Adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut:

Gambar 1. Pengaruh Konsentrasi EM4 terhadap Rasio C/N Sumber: Analisis data primer (2023)

Pada penambahan EM4 bervariasi dari konsentrasi 1-5 %, kompos yang dihasilkan memiliki rasio C/N mengalami fluktuasi dengan kisaran antara 47,20 sampai dengan 65,42 Menurut Peraturan Menteri Pertanian No.70/Permentan/SR.140/10/2011 kompos yang baik memiliki rasio C/N pada kisaran 15 – 25 , sehingga ke 5-nya belum memenuhi baku mutu.Diperkirakan tingginya nilai rasio C/N disebabkan oleh kurangnya sumber nitrogen atau berlebihnya sumber karbon (serbuk gergaji). Dapat juga tingginya rasio C/N disebabkan proses peruraian bahan organik belum selesai. Namun dalam kasus ini proses fermentasi sudah selesai ditandai perubahan sifat bahan baku yang sudah menunjukkan sifat sebagai kompos, yakni berwarna coklat kehitaman, tidak berbau, dan bertekstur remah.

Hasil uji regresi menunjukkan bahwa variasi konsentrasi EM4 yang diberikan pada proses pengomposan tidak berpengaruh terhadap rasio C/N kompos. Hal ini bersesuaian dengan fakta bahwa dalam pengamatan ini baik sumber C (serbuk gergaji) maupun sumber N (limbah daun Strobilanthes cusia) tidak divariasi (beratnya tetap).

Pengaruh variasi EM4 terhadap nilai pH kompos yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 menunjukkan bahwa nilai pH kompos mengalami fluktuasi antara 8,25 sampai dengan 8,97.

Dalam percobaan ini nilai pH kompos sudah memenuhi baku mutu menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 70/Permentan/SR.140/10/2011 dengan standar mutu yaitu 4 – 9 [10].

47,2

58,05

47,26

50,13

65,42

30 35 40 45 50 55 60 65 70

0 1 2 3 4 5 6

Rasio C/N

Konsentrasi EM4 (%)

(4)

Gambar 2. Pengaruh Konsentrasi EM4 terhadap nilai pH Sumber: Analisi data primer (2023)

Terjadinya perubahan pH kompos awalnya berasal dari asam yang terbentuk dari proses peruraian bahan organik dalam limbah daun Strobilanthes cusia. Peruraian tersebut menghasilkan bahan-bahan organik sederhana. Pada masa inkubasi lebih lanjut pH meningkat karena terurainya protein dan terjadinya pelepasan ammonia (NH3) [11]. Hasil uji analisis regresi menunjukkan bahwa konsentrasi EM4 yang digunakan tidak berpengaruh terhadap parameter pH kompos. Penambahan EM4 dalam proses pengomposan yang bervariasi konsentrasinya tidak berpengaruh terhadap pH pada kompos

Pengaruh variasi EM4 terhadap nilai kadar air pada kompos yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 3. Pada gambar tersebut terlihat bahwa nilai kadar air pada kompos berkisar antara 38,77 % - 47,48 %. Hasil tersebut belum sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No.70/Permentan/

SR.140/10/2011yang mensyaratkan 15 – 25 %. Tampak pula ada kecenderugan semakin besar konsentrasi EM4. maka kadar air pada komposnya makin kecil. Diduga hal ini terjadi karena semakin besar konsentrasi mikroorganisme yang digunakan maka proses degradasi menjadi cepat. Dalam proses degradasi ini, air berperan sebagai pelarut nutrien yang diperlukan oleh mikroorganisme. Semakin besar jumah mikroorganismenya, nutrien dan pelarut yang diperlukan untuk mendukung fungsi-fungsi metabolik dan pertumbuhannya juga semakin banyak. Dengan demikian, semakin tinggi konsentrasi mikroorganisme yang diaplikasikan, air yang digunakan juga semakin banyak dankadar air dalam kompos menadi semakin kecil [12].

Gambar 3. Pengaruh Konsentrasi EM4 terhadap Konsentrasi Kadar Air Sumber: Analisis data primer (2023)

Hasil uji analisis statistik regresi linier menunjukkan bahwa konsentrasi EM4 yang diberikan dalam proses pengomposantidak berpengaruh terhadap kadar air pada kompos.

Pengaruh Variasi Berat Serbuk Gergaji Terhadap Proses Pengomposan

8,49

8,25

8,79

8,97

8,79

8 8,2 8,4 8,6 8,8 9 9,2

0 1 2 3 4 5 6

pH kompos

Konsentrasi EM4 (%)

30 32 34 36 38 40 42 44 46 48 50

0 1 2 3 4 5 6

Kadar air (%)

Konsentrasi EM4 (%)

(5)

konsentrasi EM4 sebesar 2 %. Pengaruhnya kemudian dapat dilihat dengan menganalisis rasio konsentrasi C/N, kadar air seta nilai pH pada produk kompos yang dihasilkan.

Pengaruh variasi berat penambahan serbuk gergaji terhadap rasio C/N pada produk kompos dapat dilihat pada Gambar 4.

.

Gambar 4. Pengaruh berat serbuk geragaji terhadap rasio C/N Sumber: Analisis data primer (2023)

Pada Gambar 4 tersebut tampak bahwa pada penambahan serbuk gergaji 100-400 mg rasio C/N mengalami kenaikan. Hal ini mudah dipahami karena serbuk gergaji merupakan sumber karbon, sehingga penambahan serbuk gergaji akan menambah kadar karbon. Apalagi dalam kasus ini, jumlah mikroorganisme yang ditambahkan sama (dengan konsentrasi 2%) sehingga berapapun sumber karbon yang ditambahkan, maka yang dapat diuraikan dalam waktu yang sama akan relatif sama dalam periode waktu yang sama. Menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 70/Permentan/SR.140/10/2011, dari hasil uji parameter rasio C/N di dalam kompos berada di atas dari standar mutu yaitu 15 – 25.

Dapat disimpulkan bahwa berdasar parameter rasio C/N perbandingan berat limbah hijau (daun Strobilanthes cusia) terhadap berat serbuk gergaji yang ideal adalah 1000 gram : 100 gram (10 : 1).

Pada perbandingan ini rasio C/N sebesar 26,98, hampir memenuhi persyaratan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pertanian tersebut. Sedang pada penambahan serbuk gergaji yang lebih banyak cenderung menaikkan rasio C/N sehingga hasilnya belum memenuhi standar Hasil uji analisis statistik regresi menunjukkan bahwa jumlah berat serbuk gergaji yang digunakan tidak berpengaruh terhadap parameter rasio C/N kompos.

Pengaruh variasi berat penambahan serbuk gergaji terhadap pH pada produk kompos dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Pengaruh berat serbuk gergaji terhadap nilai pH Sumber: Analisis data primer (2023)

Pada Gambar 5 terlihat bahwa kenaikan parameter pH kompos hampir tidak berubah terhadap variasi berat penambahan serbuk gergaji 100 - 500 gram, walaupun secara konsisten mengalami kenaikan, namun kenaikannya tidak signifikan. Pada semua perbandingan limbah coklat : limbah hijau tersebut

26,98

51,51

96,62 106,31

58,1

0 20 40 60 80 100 120

0 100 200 300 400 500 600

Rasio C/N

berat serbuk gergaji (gram)

8,03 8,05

8,07 8,08

8,19

8 8,05 8,1 8,15 8,2 8,25 8,3

0 100 200 300 400 500 600

pH

berat serbuk gergaji (gram)

(6)

memiliki nilai pH pada kisaran 8,03 - 8,19 sehingga memenuhi baku mutu yang tertera dalam Peraturan Menteri Pertanian No.70/Permentan/SR.140/10/2011 yaitu 4 – 9.

Pada saat awal proses pengomposan, bakteri pembentuk asam akan berativitas merombak senyawa organik menjadi asam -asam organik sederhana sehingga bersifat asam dan menurunkan nilai pH. Tahap berikutnya adalah peruraian protein yang menyebabkan terbentuknya gas amonia yang bersifat basa sehingga nilai pH akan meningkat. Peningkatan nilai pH juga berasal dari perubahan nitrogen anorganik menjadi ammonium yang bersifat basa dan berkontribusi meningkatkan nilai pH [13-16]. Secara logis, semakin banyak bakteri yang terlibat (konsentrasi EM4 makin besar) maka kenaikan pH akan semakin besar. Namun dalam kasus ini jumlah mikroorganisme yang berperan relatif sama, yakni dengan konsentrasi 2 %. Dengan demikian dapat diduga bahwa kenaikan pH ini berasal dari bertambahnya berat serbuk gergaji. Kenaikan pH yang relatif kecil ini sekaligus mengindikasikan bahwa kelimpahan unsur N dalam serbuk gergaji relatif kecil.

Hasil uji analisis statistik regresi menunjukkan bahwa variasi serbuk gergaji yang diberikan dalam proses pengomposan berpengaruh terhadap pH pada kompos. Pengaruh variasi berat penambahan serbuk gergaji terhadap kadar air pada produk kompos dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa kadar air mengalami fluktuasi dengan kisaran nilai antara 20,56 % - 37,89 %.

Dari ke-5 varian tersebut, maka ada 2 varian produk kompos yang kadar airnya memenuhi standar yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 70/Permentan/SR.140/10/201, yakni berasal dari 1000 gr limbah daun Strobilathes cusia ditambah serbuk gergaji 300 gram atau 500 gram. Kedua varian tersebut memiliki kadar air pada kisaran 15 – 25 % sesuai dengan standar mutu.

Dari hasil pengamatan juga terlihat adanya kecenderungan penurunan kadar air terhadap kenaikan berat serbuk gergaji yang ditambahkan. Hal ini bersesuaian dengan aktar bahwa bahan baku limbah daun Strobilanthes cusia lebih lembab dibanding seruk gergaji. Akibatnya adalah, makin banyak serbuk gergaji yang ditambahkan, maka kadar air pada produk komposnya makin kecil. Namun dari hasil uji analisis statistik regresi menunjukkan bahwa variasi serbuk gergaji yang diberikan dalam proses pengomposan tidak berpengaruh terhadap kadar air pada kompos.

Gambar 6. Pengaruh berat serbuk geragaji terhadap kadar air produk kompos Sumber: Analisis data primer (2023)

Berdasarkan hasil uji variasi konsentrasi dan variasi berat serbuk gergaji didapatkan bahwa produk kompos terbaik ada 2 pilihan. Pilihan pertama diperoleh dari 1000 gr daun Strobilanthes cusia ditambah 300 gram serbuk gergaji dan difermentasi dengan EM4 konsentrasi 2%. Pada kondisi tersebut produk kompos yang diperoleh memiliki spesifikasi rasio C/N sebesar 96,62, nilai pH sebesar 8,07, dan kadar air sebesar 20,56 %. Menurut baku mutu produk kompos, parameter rasio C/N-nya masih melampaui standar. Sedangkan pilihan kedua, kompos yang diperoleh dari 1000 gr daun Strobilanthes cusia ditambah 100 gram serbuk gergaji dan difermentasi dengan EM4 konsentrasi 2%. Kompos yang diperoleh memiliki rasio C/N sebesar 26,98, nilai pH sebesar 8,03, dan kadar air sebesar 36,05 %. Pada kondisi ini rasio C/N hampir mendekati baku mutu, niai pH memenuhi standar dan nilai kadar air melebihi baku mutu. Jika akan diaplikasikan untuk pengolahan limbah padat daun Strobilathes cusia pada UMK Shibiru, maka kedua ini lebih dianjurkan karena produk kompos yang kadar airnya melebihi standar dapat ditangani secara mudah

36,05

32,08

20,56

37,89

20,78

10 15 20 25 30 35 40

0 100 200 300 400 500 600

kadar air (%)

berat serbuk gergaji (gram)

(7)

memenuhi baku mutu, rasio C/Nnya jauh melampaui standar. Untuk mengubahnya menjadi memenuhi baku mutu diperlukan penambahan sumber nitrogen. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan menambahkan urea atau pupuk kandang pada saat proses fermentasi.

4. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari limbah daun Strobilanthes cusia seberat 1000 gr yang ditambah serbuk gergaji 1000 gr yang ditadan difermentasi dengan larutan EM4 pada kondisi anaerob, maka konsentrasi larutan EM4 yang paling efektif adalah 2 %. Larutan ini menghasilkan kompos dengan rasio C/N sebesar 58,05, pH 8,25 dan kada air 47,48. Dari ke tiga parameter uji kualitas tersebut, hanya pH yang memenuhi baku mutu.

Menurut hasil pengamatan dari perbandingan berat menghasilkan kompos limbah daun Strobilanthes cusia seberat 1000 gr yang ditambah serbuk gergaji 1000 gr yang difermentasi dengan larutan EM4 dari konsentrasi 1-5 %, maka semua kompos yang dihasilkan menunjukkan rasio C/N yang melebihi baku mutu. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan semuanya kelebihan sumber unsur C (serbuk gergaji).

Pengamatan terhadap variasi berat penambahan serbuk gergaji menunjukkan bahwa perbandingan limbah daun Strobilanthes cusia dengan serbuk gergaji yang paling ideal adalah 1000gr : 100 gr. Kompos yang dihasilkan memiliki spsesifikasi rasio C/N sebesar 26,98 (baku mutu 15-25), pH 8,03 (baku mutu 4- 9) dan kadar air 36,65 % (baku mutu 15-25 %). Nilai rasio C/N-nya sedikit melebihi baku mutu, sedangkan kadar air yang melebihi baku mutu dapat diatasi dengan dijemur di bawah sinar matahari.

5. Referensi

[1] L. R. Panataria, “Analisa Kandungan Hara Kompos Limbah Daun Teh,” AGRIUM J. Ilmu Pertan., vol. 22, no. 3, pp. 178–182, 2020, [Online]. Available:

http://journal.umsu.ac.id/index.php/agrium/article/view/4691.

[2] W. A. Akbari, “Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang dan Tanaman Mucuna bracteata Sebagai Pupuk Kompos,” J. Teknol. Lingkung. Lahan Basah, vol. 3, no. 1, pp. 1–10, 2015, doi:

10.26418/jtllb.v3i1.11424

[3] C. M. Mehta and K. Sirari, “Comparative study of aerobic and anaerobic composting for better understanding of organic waste management: Aminireview,” Plant Arch., vol. 18, no. 1, pp. 44–48, 2018.

[4] S. S. Gonawala and H. Jardosh, “Organic Waste in Composting: A brief review,” Int. J. Curr. Eng.

Technol., vol. 8, no. 01, pp. 36–38, 2018, doi: 10.14741/ijcet.v8i01.10884.

[5] A. K. Zaalouk, M. A. Mosallam, I. S. EL-Soaly, A. L. Mohamed, and O. N. Khfagy, “Engineering Factor Affecting Organic Compost Production,” Misr J. Agric. Eng., vol. 0, no. 0, pp. 0–0, 2020, doi:

10.21608/mjae.2020.95779.

[6] Suharno, S. Wardoyo, and T. Anwar, “Perbedaan Penggunaan Komposter An-Aerob dan Aerob Terhadap Laju Proses Pengomposan Sampah Organik,” Poltekita J. Ilmu Kesehat., vol. 15, no. 3, pp. 251–255, 2021, doi: 10.33860/jik.v15i3.527

[7] A. L. Meena, M. Karwal, R. Kj, and E. Narwal, “Aerobic composting versus Anaerobic composting:

Comparison and differences,” Food Sci. Reports , vol. 2, no. 1, pp. 23–26, 2021, doi:

10.13140/RG.2.2.21424.69125.

[8] E. Cioabla, I. Ionel, G. A. Dumitrel, and F. Popescu, “Comparative study on factors affecting anaerobic digestion of agricultural vegetal residues,” Biotechnol. Biofuels, vol. 5, no. 2, pp. 1–9, 2012, doi: 10.1186/1754-6834-5-39.

[9] S. Yuliananda, P. Utomo, and R. M. Golddin, “Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Pupuk Kompos Cair Dengan Menggunakan Komposter Sederhana,” J. Abdikarya, vol. 3, no. 2, pp. 159–

165, 2019.

[10] Permentan, “Pupuk Organik, Pupuk Hayati Dan Pembenah Tanah,” J. Chem. Inf. Model., vol. 70, no. 140, pp. 1–109, 2011.

[11] A. E. D. Hermawansyah, “Analisis Parameter Fisik Kompos Menggunakan Metode Vermikomposting Pada Sampah Daun Kering,” Prod. Tek. Lingkungan, Fak. Tek. Sipil dan Perenc.

UII. Yogyakarta, 2015, [Online]. Available:

https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/10524/13- JURNAL.pdf?sequence=13&isAllowed=

(8)

[12] A. Aguilar-Paredes, G. Valdés, N. Araneda, E. Valdebenito, F. Hansen, and M. Nuti, “Microbial Community in the Composting Process and Its Positive Impact on the Soil Biota in Sustainable Agriculture,” Agronomy, vol. 13, no. 2, 2023, doi: 10.3390/agronomy13020542.

[13] Y. Dewilda and L. Darfyolanda, “Pengaruh Komposisi Bahan Baku Kompos (Sampah Organik Pasar, Ampas Tahu, dan Rumen Sapi) Terhadap (Waste Organic Market, Soybean Waste, and Rumen

’ S Cow) To Quality and Quantity of Compost,” J. Tek. Lingkung. UNAND, vol. 14, no. (1), pp. 52–

61, 2017.

[14] T. A. Benito, A. Yuli, D. Zam-zam, and B. Sudiarto, “Identifikasi Bakteri yang Dominan Berperan pada Proses Pengomposan Filtrate Pengolahan Pupuk Cair Feses,” Ilmu Ternak, vol. 12, no. 1, pp.

7–10, 2012

[15] S. Singh, K. S. Kaushik, B. Prashanth, and S. K. Nayak, “Factors affecting anaerobic digestion of organic waste,” Int. J. Eng. Res. Mech. Civ. Eng., vol. 3, no. 2, pp. 99–103, 2018.

[16] A. J. Kang. and Q. Yuan, “Enhanced Anaerobic digestion of organic waste,” Intech, vol. 11, no. Solid Waste Management in Rural Areas, p. 13, 2017, [Online]. Available:

https://www.intechopen.com/books/advanced-biometric-technologies/liveness-detection-in- biometrics.

Referensi

Dokumen terkait