RELEVANSI POKOK-POKOK PIKIRAN KITAB TA’LIM AL- MUTA’ALLIM DALAM PENGEMBANGAN TRADISI ILMIAH
Hariadi
Guru Pendidikan Agama Islam SMAN 4 Kediri
Abstrak
Tulisan ini merupakan hasil penelitian kepustakaan terhadap kitab “Ta‟lim al- Muta‟allim” karya Syaikh al-Zarnujiy. Pokok masalah yang hendak dijawab oleh penelitian ini adalah bagaimana pokok-pokok pikiran pendidikan dalam kitab tersebut dikontekstulisaikan dengan tradisi ilmiah dalam pendidikan modern. Tradisi ilmiah di sini meliputi beberapa konsep sebag ai berikut:
kons ep t entang ilmu pengetahuan; kons ep tentang eti ka il miah; kons ep tent ang hi dup dan tujuan pendidi kan dan kons ep tentang int eraksi - edukatif. Penelitian ini menyi mpulkan bahwa ada beberapa pokok pi kiran pendidi kan dalam ki tab t ers ebut yang pe rlu di revit alisasi, demikian pula ada beber apa yang harus diperbarui, dalam kait annya dengan pengembangan t radi si sai ntifi k dalam pendidi kan moder n.
Kata-kunci: Kitab Ta‟lim al-Mutaalim, Tradisi Ilmiah, Pendidikan Modern I. Pendahuluan
Kitab “Ta‟lim al-Muta‟allim” adalah sebuah kitab hasil “anggitan”
ilmuwan Muslim („Ulama) besar yang memiliki kompetensi dalam bidang pendidikan dan pengajaran di zamannya. Secara umum kitab tersebut mengupas tentang metode mengajar dan menuntut (belajar) ilmu pengetahu an atau dalam lain perkataan, disebut sebagai kitab “Dikdaktik-Metodik”.
Pokok-pokok pikiran yang terdapat di dalam kitab tersebut secara historis telah mengalami ujian kurang lebih 8 abad lamanya. Perhitungan ini didasarkan pada perkiraan wafatnya pengara ng kitab tersebut, yakni Syaikh al- Zarnujiy pada tahun 620 H/1239 M, sampai sekarang tahun 1415 H/1995.
Hingga abad modern ini kitab tersebut masih tetap bertahan sebagai kitab pegangan pokok bagi para guru (Kyai) dan murid (santri) di sebagian besar pondok pesantren di Indonesia. Meskipun banyak orang yang mengatakan, bahwa kitab tersebut sudah tidak layak lagi untuk dipelajari dan dipraktekkan dalam masyarakat era modern ini. Dan tidak mungkin mengembangkan tradisi ilmiah dalam masyarakat modern. Termasuk yang meragukan relevansi kitab tersebut adalah Ahmad Sjalaby, dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Pendidikan Islam”, sebagai berikut :
“... dan kebanjakannja lebih suka membitjarakan hal -hal mengenai budi -pekerti para pel adj ar dan guru -guru serta kewadj iban -kewadjiban mereka, kemudi an menj ebutkan hal -hal apa yang bisa m emperkuat
hafalan dan menghil angkan sifat pelupa, dan l ain -l ain s ebagai nja, jaitu berm atj am-berm atj am mas al ah j ang wal aupun dapat dit erima pada mas a-masa j ang lam pau namun pada m asa s ekarang sudah t ak dapat diterim a l agi.1
Berkenaan dengan m as al ah ini, S a yyi d Husei n Nas r dal am bukun ya yang berjudul “Tasauf Dulu Dan Sekaran g”, mengatakan :
“Dewasa ini begitu sering orang berbicara bahwa gagasan ini dan itu, tak sesuai l agi dengan dunia modern, ya ng cum a m enunj ukkan bahwa mereka sangat pint ar m elupakan hakekat yang i nti dari ajaran -aj aran dan gagasan-gagasan yang s ebenarn ya memili ki arti yang langgeng;
demi kian orang tel ah mel ecehkan kebut uhan haki ki duni a m odern dan demi kian pul al ah m ereka merem ehkan pentingn ya gagas an -gagas an tersebut dalam memenuhi kebutuhan mereka sebenarnya”.2
Berkaitan langsung dengan isi kitab Ta‟lim al-Muta‟allim, dan beberapa pokok pikiran yang harus dibahas, khus usn ya ya ng berkait an dengan pengem bangan t radisi ilmi ah dal am mas yarakat m odern. Maka pokok-pokok pi ki ran yang akan di bahas meliputi : Konsep t ent ang ilmu pengetahuan; konsep eti ka ilmi ah; Kons ep hidup dan tuj uan pendidikan dan Kons ep tent ang i nteraksi -edukat if.
II. Pokok-Pokok Pikiran Kitab Ta’lim Al-Muta’allim
A. Kon sep Ten tan g Il mu Pengetahuan
1. Defini si Ilmu Penget ahuan
S yaikh al -Zarnuj i y mendefini sikan ilm u penget ahuan adal ah merupakan “sifat yang apabila dimiliki oleh seseorang akan menjadi jelas apa yang terlintas dalam pengertian yang dimilikinya”.3 ( اَّيَاَو
ُُسْيِسْفَت
، ِىْهِعْنا
َُىُهَف
ُ ةَفِص ىّهَجَتَي اَهِب
ًٍَُِْن
ُْتَياَق
ُِهِب
ُُز ْىُكْرًَْنا ).
Definisi ini mengandung pengertian, bahwa ilmu itu bersifat intuitif dan metafisis. Bukan empirik yang menuntut terlebih dahulu
1 A h ma d S j a l a b y, Sejarah Pendidikan Islam, (J a ka r t a : B u l a n -B i nt a n g, 1 9 7 0 ) .
2 S a y yi d H us e i n N a s r , T a s a u f D u l u D a n S e k a r a n g, ( J a ka r t a : P u s t a ka F i r d a u s , 1 9 9 4 ) , 1 2 7 .
3 S ya i k h a l - Z a r n uj i y, Ta‟ lim a l- Muta‟a llim Tho riq al -Ta‟a llu mi, ( S ur a b a ya : A l - H i d a ya h , t . t ) , 9 .
pembuktian dalam kenyataan alam. Akan tetapi, yang dituntut adalah tunduk dan melaksanakan dalam kehidupan sehari -hari. Jadi dal am pembuktiannya adalah melaksanakan, bukan mencoba -coba atau mengadakan eksperimen. Sehingga manusia tinggal menerima barang jadi (ilmu) itu dari Sang Khaliq melalui wahyu, hadist Nabi dan intuisi atau inspirasi mistik. Hal yang demikian ini diperkuat den gan kewajiban seorang muslim dalam menuntut ilmu guna diamalkan dalam kehidupan beragamanya. Ilmu yang diwajibkan adalah bukan segala macam ilmu, tet api han ya “ Ilmu Hal” ( ُِلاَحنا ُُىْهِع ), sebagaim ana dikat akan al -Zarnuj i y :
،ْمَلْعِا
ُ وَّنَأِب
ُ ضَرَ تْف يَُل ىلَع
ُ ل ك
ُ مِلْس م
ُ ةَمِلْس مَو
ُ بَل ط
ُ ل ك
ُ مْلِع
ُْلَب
ُ ضَرَ تْف ي
ُِوْيَلَع
ُ مْلِع
ُِلاَْلْا ....
“Ketahuilah, bahwa yang wajib dipelajari oleh setiap Muslim bukanl ah segal a macam Ilm u, melainkan han ya Ilmu Hal”.4
Il mu Hal ini , ol eh S yai kh Ibrahim ibn Is mail diberi S yarah ( حرش ) s ebagai ilmu pokok -pokok agam a ( نيدلا لوصأ ), i lmu fiqh ( وقفلا ).5 Il mu -ilm u ini s angat dibut uhkan dal am kehi dupan keberagam aan ses eorang. Di si nil ah l et ak ke -i ntuit if -an dan ke-m et afis ik -an pengerti an i lmu ya ng didefini sikan ol eh al -Zarnuji y. At au bis a dikatakan il mu yan g di defini sikann ya adal ah ilmu yang m emili ki muat an tras endent al, yakni berdim ensi ill ahi yah.
Dalam kaitannya dengan ilmu -ilmu yang berdimensi illahiyah ini, Tuhan adalah “Maha Mengetahui”, sedangkan manusia hanya memiliki “rasa ingin tahu”. Oleh karena itu pula dalam agama Islam salah satu nama lain Allah Swt ialah “Al -„Alim” yang artinya ialah
“Yang Maha Mengetahui”. Ke -Maha Mengetahuian Tuhan adalah kekal , sedangkan rasa ingin t ahu m anus ia itu s ewaktu -wakt u akan bisa di cabut oleh Al lah Swt , dengan cara s ecara berangsur -angsur at au s eketi ka akan hilang.6 Sehingga m anusi a ti dak l agi memiliki kekuatan untuk m engembangkan ras a ingi n t ahu yang dimil iki n ya.
Sehingga ilmu pengetahuan modern , yang juga disebut sebagai science bila dihadapkan pada konsep ilmu pengetahuan dalam kitab
4 S ya i k h a l - Za r n uj i y, Ta‟ lim al- Muta ‟allim,9 .
5 S ya i k h a l - Za r n uj i y, Ta‟ lim al- Muta ‟allim,9 .
6 D a l a m S ur a t a l -N a hl , a ya t 7 0 d i n ya t a ka n :
َُشُ ٍىْهِعَُدْعَبَُىَهْعَيُلاُْيَكِنُِسًُُعْناُِلَذْزَأُىَنِإُُّدَسُيُ ٍَْيُْىُكُِْيَوُْىُكاَّفَىَتَيَُّىُثُْىُكَقَهَخُُ َّاللََّو
ُ ُمحُنااُ سيِدَقُ ىيِهَعَُ َّاللَُّ ٌَِّإُااًْي 07
)
“Allah mencip takan kamu, kemud ian me wafatkan kamu; d an di antar a kamu a d a ya n g d i ke mb a l i k a n ke p a d a u mu r ya n g p a l i n g l e ma h ( p i k u n) , s u p a ya d i a t i d a k me n g e t a h ui l a gi s e s ua t u p u n ya n g p e r n a h d i k e t a h u i n ya . S e s u n g g u h n y a Al l a h M a ha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.
“Ta‟lim al-Muta‟allim”. Maka ilmu pengetahuan modern atau science yang mengharuskan adanya pembuktian secara empirik adalah merupakan bukti kenisbian -kebenaran yan g dicapai oleh ilmu pengetahuan (science). Lagi pula ilmu di sini adalah merupakan ilmu pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasi a al am , agar gej al a ilmiah t ersebut tidak m erupakan mist eri bagi manusi a. P enj el as an ini akan m em ungkinkan kita untuk meramalkan s uatu kej adi an al am yang akan terj adi at au bahkan mereka yas a kej adi an alam, dan dengan demiki an memungki nkan ki ta untuk m engont rol gej al a tersebut . Untuk itu ilmu (modern; pen.) membat asi ruang j el ajah kegiatannya pada daerah “pengalaman” manusia. Arti nya, obyek penel aahan keilmuan meli puti s egenap gejal a yang dapat dit angkap oleh pengal am an m anusi a l ewat pengindraann ya.7
Urai an di at as bis a kit a pahami , bahwa ilm u pengetahuan modern berori ent asi pada pengungkapan gej al a al am agar dapat dimanfaatkan ol e h umat manusi a. Dengan cara m engadakan penelit ian dan percobaan ilmi ah t erhadap gejal a al am t ers ebut . Sebagaim ana yang di terangkan oleh A. M . S yai fudi n sebagai beri kut :
“Untuk menjelaskan rahasia alam tersebut, ilmu menafsirkan realitas obyek penelaahan “sebagai adanya” (das sein) yang terbebas dari segenap nil ai yang bersi fat praduga -apakah ni lai itu bersumber dari moral, idiologi atau kepercayaan”.8
J a d i j e l a s l a h , a n t a r a p e n g e r t i a n i l m u y a n g a d a d a l a m k i t a b T a ‟ l i m a l - M u t a ‟ a l l i m d e n g a n p e n g e r t i a n i l m u ( m o d e r n ) a d a p e r b e d a a n i m p l i k a s i y a n g b e r a s a l d a r i m a k n a y a n g t e r k a n d u n g d a l a m p e n g e r - t iann ya masi ng-masing. At au tepatn ya, perbedaan itu beras al dari paradi gm a masi ng-masing yan g m endasari t erbent ukn ya s uat u kons ep pengerti an t ers ebut . Sehingga defi nisi il mu yang di kem ukakan ol eh al-Zarnuji y tidak bisa dit erapkan dal am pengembangan t radisi ilmiah dal am m as yarakat modern, kecuali dengan m erombak paradi gm a ilmu penget ahuan modern mel alui upa ya isl amis as i.
Sem ent ara itu paradi gm a ilm u penget ahuan modern t elah dibangun di atas l andasan fi losofis Barat. Sehingga si stem nya pun tak l epas dari pola pikir Barat, m eskipun demiki an ban yak di dal am sistem itu yang dapat dit erim a ol eh Is lam, dis ampi ng ban ya k pul a
7 A. M . S ya e f u d d i n, D e s e k u l e r i s a s i P e m i k i r a n : L a n d a s a n I s l a m i s a s i , c e t . I I I , ( B a nd u n g : M i z a n, 1 9 9 1 ) , 1 5 .
8 A. M . S ya e f ud d i n, D e s e k u l e r i s a s i P e m i k i r a n , 1 5 .
yang ditolak ol ehn ya . Seben arn ya dal am rangka isl ami sasi ini yang diut amakan adal ah bagaimana s eorang i lmuan m emiliki tanggungj awab s ecara moral t erhadap i l mu yang dikem bangkann ya.
Dengan demikian bila s eorang ilmuan telah mel aks anakan rasa tanggung j awabn ya dal am m engembangkan ilm u , s ebenarn ya Ia tel ah m el aksanakan Islami sasi. Al -Qur‟an berul ang kali men ya takan bahwa manus ia bel um mengembangkan ras a tanggungjawabn ya secara tepat . Dalam Al -Qur‟an di akhir s urat al -Ahzab, yakni pada a yat 72 din yat akan :
اَّنِإ اَنْضَرَع
َُةَناَملأا
َُلَع
ُِتاَواَمَّسلا ى
ُِضْرلأاَو
ُِلاَبِْلْاَو
َُْيَ بَأَف
ُْنَأ اَهَ نْلِمَْيَ
َُنْقَفْشَأَو اَهْ نِم اَهَلََحََو
ُ ناَسْنلإا
ُ وَّنِإ
َُناَك اًمو لَظ لو هَج
( 27 )
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung -gunung, maka semuan ya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawat ir akan m engkhi anati nya, dan dipi kull ah am anat it u ol eh m anusi a. Sesungguhn ya manusi a itu amat zalim dan amat bodoh”.9
Dari sini kit a bis a mem ahami bahwa ketika ilmu ada, ras a tanggungj awab m enghil ang. S ering kali uji an yang pali ng menent ukan datang kepada m anus ia, i a tidak m ampu m enanggung amanat ini. Lagi, di awal Surat „Abasa, yakni ayat 23 dinyatakan :
لاَك اَّمَل
ُِضْقَ ي
ُ هَرَمَأاَم
“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperi ntahkan All ah kepadan ya”.10
Karena kes enj angan ant ara kekuatan penget ahuan yang dimiliki manusi a dan ketidakm ampuann ya unt uk m enj unjung tanggungj awab moral yang timbul dari pengetahuan, m aka perlu adan ya pen yadaran terhadap para ilmuwan agar m emiliki tanggungj awab m oral terhadap Sang Pencipt a. Karena gejala alam yang m ereka pel ajari ini adal ah merupakan m ani festa si adanya Sang Pencipta yang menciptakan segala ala mini. J adi ber -science bagi umat manusia (ilmuwan) adalah memahami Sang Pencipta itu, dan dalam rangka beriman kepadaNya. Dan tentunya perlu kita sadari bahwa bila kita mengambil posisi berfikir secara science, seperti telah dikemukakan di atas, dimana peran bukti sangat vital, kita bisa sampai pada keadaan di mana penemuan scientific (dengan bukti
9 T e a m D e p a g R I . , A l - Q u r ‟ a n d a n T e r j e m a h a n n y a, 6 8 0 .
10 T e a m D e p a g R I . , A l - Q u r ‟ a n d a n T e r j e m a h a n n y a, 1 0 2 5 .
empirik) tidak cocok dengan tafsir ayat -ayat al-Qur‟an tertentu.
Sehingga seolah -olah ada kesenjangan antara penemuan ilmiah dengan ayat -ayat suci al -Qur‟an, ini bisa kita fahami. Sebab jelas kemampuan manusia dalam membuktikan secara empirik itu terbatas juga. Sementara itu daya tafsir manusia terbatas juga. Dengan demikian, sekali lagi, kesenjangan itu bisa terjadi. Tapi kesenjangan itu tidak abadi dan tidak hakiki. Yang hakiki adalah bahwa kebenaran ilmiah identik dengan kebenaran Allah. Sebab gejala alam sebagai obyek ilmu adalah gejala/manifestasi adanya Tuhan yang berupa sunat -Allah.
Pemiki ran di at as perl u dibukti kan dengan m engambil Surat al-Rahman a yat 33 :
َُرَشْعَماَي
ُ نِْلْا
ُِسْنلإاَو
ُِنِإ
ُْم تْعَطَتْسا
ُْنَأ او ذ فْ نَ ت
ُْنِم
ُِراَطْقَأ
ُِتاَواَمَّسلا
ُِضْرلأاَو او ذ فْ ناَف
َُنو ذ فْ نَ تل
ُ ناَطْل سِبلِإ
“ H a i j a m a ‟ a h j i n d a n m a n u s i a , j i k a k a m u s a n g g u p m e n e m b u s ( m e l i n t a s i ) p e n j u r u l a n g i t d a n bumi, maka lintasil ah, kam u tidak dapat m enembus n ya m el ainkan dengan kekuatan”.11
Lafadz “Bisultan” (ُ ناَُطْل سِب) di atas oleh para penafs i r diartikan/ditafsirkan sebagai “kekuatan”. Kekuatan di sini juga masi h m engundang pert an yaan para penafsir itu s endiri dan para pem baca l ainn ya. Tetapi set el ah adan ya pem bukti an ilmi ah, bahwa
“roket” bisa menembus langit, mak a kita menganggap dengan terci ptan ya roket yang memi liki da ya tembus dan da ya jel aj ah yang kuat itu term asuk dal am rangka m enj awab tant angan Allah, yakni mewujudkan “bisultaan”. Jadi, intinya kesenjangan antara al -Qur‟an dan penemuan ilmi ah ini suatu ketik a akan hil ang. Ingat kebenaran adan ya han ya sat u.
Untuk itu, perlu mempertimbangkan defini si ilm u ya ng diberi kan ol eh al -Zarnuj i y dal am rangka ber -sci ence. Karena dal am defini si al -Zarnuji y mengandung muat an t auhi d dan tras endental . Han ya s aj a, keban yakan dari kit a memahami t auhid itu secara sempit, s eharusn ya tidak demiki an. Tet api bert auhi d dengan cara mem ahami realit as empi rik dengan mel alui kegiat an peneliti an ilmiah. Karena s ebagaim ana di kat akan di at as, bahwa gej ala al a mini adal ah m anifest asi adan ya Tuhan.
2. Sumber -sum ber Ilm u Pengetahuan
Di at as telah diterangkan, bahwa ilmu menurut S yai kh al - Zarnuji y m engandung dim ensi ill ahi yah , maka sudah s em estin ya
11 T e a m D e p a g R I . , A l - Q u r ‟ a n d a n T e r j e m a h a n n y a, 8 8 7 .
bila ilmu itu bersum ber dari wah yu,12 hadi st Nabi dan int uisi13 atau inspi rasi mist ik. Ini berkait an de ngan ilmu -ilmu yang waji b dipelaj ari ol eh umat Is l am, yait u Ilm u Hal (pokok -pokok agama dan fiqh). Kedua ilmu ini bers umber dari wah yu All ah dan hadist Nabi.
Dan untuk mem ahami kedua s umber i ni, bis a dil akukan mel alui pengalam an int uisi atau misti k (tasawu f/t hariqat ).
Dal am masalah ini, mem ang al -Zarnuji y tidak m engat akan secara t egas t ent ang sumber il mu. Akan tet api berdas arkan pada
“ilmu apa yang harus dipelajari”, maka bisa diperoleh keterangan tent ang s umber -s umber ilmu. Al -Zarnuji y mengat akan :
َُو
ُ م دَق ي
ُ مْلِع
ُِدْيِحْوَّ تلا
َُو
ُ فِرْعَ ي للها
ََُ
لىاَعَ ت
ُِلْيِلَّدلاِب
َُّنِاَف
َُناَْيِْا
ُِدَّلَق مْلا
ُْنِاَو
َُناَك اًحْيِحَص
،اَنَدْنِع
ُْنِكل
ُ نْو كَي اًِثِا
ُِكْرَ تِب
ُِلَلْدِتْسِلْا
“Hendaknya lebih dahulu mempelajari tauhid, mengenal Allah lengkap dengan dal iln ya. Karena orang yang im ann ya hanya taqli d sekalipun menurut pendapat kit a s udah s yah, adal ah tetap berdosa, karena i a tidak m au m enggali dalil yang menjadi sumber dasar dalam masalah tauhid ini”.14
Tidak ada sumber penget ahuan y ang fundam ent al dal am mempel aj ari ilm u t auhid kecuali dengan mem pelaj ari dal il -dalil yang ada dal am al -Qur‟an dan hadist Nabi. Dan t auhid i ni juga merupakan s ebagai sumber/das ar dari segala m acam ilmu pengetahuan. M aka dalam hal ini, ilm u itu harus dalam r angka bert auhi d. Ilm u harus memil iki ketert ujuan ses uai dengan tauhi d (transenden). Karenan ya t auhid harus dil et akkan pada awal pendalam an ilm u penget ahuan.
Di atas dit erangkan sum ber il mu pengetahuan dis ampi ng wah yu (al-Qur‟an) dan hadist Nabi juga intuis i atau pengalam an mistik. Al -Zarnuji y mengat akan :
12 W a h yu a d a l a h p e n ge t a h ua n ya n g d i s a mp a i k a n o l e h T u h a n k e p a d a ma n u s i a . P e n ge t a h ua n i n i d i s a l u r ka n me l a l u i N a b i - n a b i ya n g d i ut u s N ya s e p a nj a n g z a ma n.
( L i ha t : J uj u n S . S ur i ya S u ma n t r i , F i l s a f a t I l m u S e b u a h P e n g a n t a r P o p u l e r, c e t . V I , ( J a k a r t a : P u s t a k a S i na r H a r a p a n, 1 9 9 0 ) , 5 4 .
13 I nt u i s i a d a l a h me r up a k a n p e n g e t a h u a n ya n g d i d a p a t ka n t a np a me l a l ui p r o s e s p e n a l a r a n t e r t e nt u. B a g i M a s l o w i nt u i s i i n i me r up a ka n p e n ga l a ma n p u nc a k (p e a k e x p e r i e n c e ), s e d a n g k a n b a gi N i e t z c he me r up a k a n i nt e l e g e ns i ya n g p a l i n g t i n g g i . ( J uj u n S . S ur i ya S u ma n t r i , F i l s a f a t I l m u, 5 3 ) .
14 Al - Z a r n uj i y, Ta‟ lim al- Muta‟a llim, 1 3 .
اَذَكىَو ىِغَبْنَ ي
ُِبِلاَطِل
ُِمْلِعْلا
ُْنَأ
َُلِغَتْشَي
ُِرْكُّشلاِب
ُِناَس للاِب
ُِناَكْرَلْاَو
، ِلاَمْلاَو ىرَيَو
َُمْهَفْلا
َُقْيِفْوَّ تلاَو
َُنِم
ُِللها
،لىاَعَ ت
ُ ب لطَيَو
َُةَياَدِْلْا
َُنِم
ُِللها لىاَعَ ت
ُِءآعَّدلاِب
َُوَل
ُِعُّرَضَّتلاَو
ُِوْيَلِا
َُّنِاَف
ُ داَىََللها
ُِنَم ناَدْهَ تْسا
“Demikianlah, pelajar harus selalu menyatakan syukurnya dengan bukti lisan, hati badan dan juga hart an ya. M enget ahui (men yadari) bahwa kefahaman ilm u dan t aufiq i tu sem uan ya dat ang dari hadi rat Allah Swt. mem ohon hida yahN ya dengan berdo‟a bertadlaru‟, karena hanya Allah -lah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang memohon”.15
Dengan bero‟da dan bertadlaru‟ ( عسضتناو هنءآعدناب ) s es eorang akan m endapat kan hida yah (ilm u) l angsung dari Allah Swt.
Anugerah at au karunia ilm u yang l angsung dari All ah ini tergantung pada tingkat kedekatan atau pendekat an manusia kepadaN ya . Pola pandangan il mu s emacam ini, t erm asuk dalam i lmu penget ah uan intuiti f at au ins pirasi mistik (thari qat ).
Dari jal an pemi kiran ini, m aka yan g m esti dil akukan ses eorang untuk dapat mem peroleh ilmu adal ah m en ye diakan kondi si spi ritual yang kondusi f bagi hadi rn ya anugerah itu mel alui latihan -l ati han kerohanian, mel al ui jal an ri yadl ah s ecara intensi f dan benar. Unt uk m elaksanakan ri yadl ah yang int ensif dan benar ini ses eorang harus m engikuti seorang guru secara utuh dan total.
Sehingga peranan guru adal ah sangat penti ng dal am m endapat kan ilmu yang bersumber pada pengal am an i ntuisi dan mis tik (thari qat) ini.
Sem ent ara itu pada z am an modern ini sumber ilm u pengetahuan modern diperol eh m el alui pengal am an empi rik, yakni mel alui peneli tian il miah. Sebagai mana dikat akan oleh Slamet Imam Santoso sebagai beri kut :
“Dalam perkembangan ilmu pengetahuan ini, yang menjadi dasar adal ah pengal am an manusi a itu sendi ri, yang kem udi an diolah dengan akal m anusia pul a. Ol eh karena it u, m aka perkem bangan sel anj utn ya m enj adi empi ris -eksperim ent al, di dasarkan kem ampuan m anusia tanpa ada peng aruh lai n, dan tidak ada hubungan dengan soal agama”.16
15 Al - Z a r n uj i y, Ta‟ lim al- Muta‟a llim, 3 2 .
16 S l a me t I ma m S a nt o s o , T a n t a n g a n G a n d a D a l a m P e n d i d i k a n A g a m a , c e t . I , ( J a k a r t a : B ul a n -B i n t a n g, 1 9 8 5 ) , 1 0 .
Dan pada das arnya pengal aman empiri k ini adal ah menggunakan m et ode idukatif -empi rik dalam m em perol eh pengetahuan.17 Sehi ngga tem uan ilm iah tidak bis a diakui keilm iahann ya bil a tanpa dibukti kan s ecara e mpi ri k. Dan peran indera pun menjadi sangat penting dal am rangka m em perol eh pengetahuan i ni.
B e r d a s a r p a d a g a m b a r a n d i a t a s , s e b e n a r n y a s u m b e r - s u m b e r i l m u y a n g d i k e m u k a k a n a l - Z a r n u j i y d i a t a s m a s i h b i s a d i b e r l a k u k a n d e n g a n s y a r a t p e m a h a m a n k i t a t e r h a d a p o b y e k t e l a a h k e i l m u a n h a r u s k i t a r u b a h m e n j a d i “ o b y e k r e a l i t a u n i v e r s a l ” . M a k s u d n y a o b y e k telaah keilmuan itu tidak han ya pada al am benda -benda s aj a, t et api juga mem andang kesemua tanda-t anda kekuas aan All ah s ecara kes eluruhan. Tanda -tanda itu dal am al-Qur‟a n di sebut sebagai “a yat ”, atau lengkapn ya “a yat Allah”. Sebagaimana dikatakan oleh Masdar F. Mas‟udi :
“…. Seperti diketahui, bahwa terminolog i “ayat” dalam al- Qur‟an berkisar pada dua konotasi (dalalah); Pertama pada realit as -realit as ya ng kawedar dalam al am semesta (ayat kauniyah), …. Kedua, ayat yang kawaatir atau menunjuk pada ken yat aan -ken yat aan yang kawedar dal am sabda (a yat qauli yah) bai k dal am bentuk perint ah (awamir ) dengan s egal a ga ya dan sent uhann ya , dan dal am ujud larangan (nawah y) j uga dengan segala bentuk dan sentuhannya”.18
Inil ah s al ah s atu j al an yang dimungki nkan dapat m emberikan solusi dal am rangka pen yembuhan t radisi ilmi ah m odern yang terpent al j auh dari sumber hakiki n ya. Yang m enj adi m as alah adal ah bisakah para ilmuan modern m engakui adan ya realit as uni vers al ini, sedangkan m ereka sudah t erlanjur menggunakan paradi gm a keilm uann ya secara sekuler.19 M em ang i ni adalah pekerja an yang sulit, akan t et api upa ya ini harus di lakukan guna mel ahirkan ilmuwan -ilm uwan beri kut n ya, yang m emiliki ras a tanggungj awab
17 J uj u n S . S ur i a s u ma n t r i , I l m u d a l a m P e r s p e k t i f, c e t . I X , ( Y a ya s a n O b o r I nd o ne s i a , 1 9 9 1 ) , 1 0 5 .
18Maj al ah PESANTR EN, No. 1/ Vol . III/ 1986, 6 3 .
19 K e ma d j ua n i l mu a d a l a h t e r ut a ma ka r e na p e r a na n d a n s u mb a n ga n d a r i ma t r i a l i s mu s . M a n u s i a mo d e r n j a n g d i b e nt u k o l e h i l mu mo d e r n i t u “ m e nd a s a r ka n d a n me n yu s u n p i ki r a n a t a u p e r b u a t a n nj a a t a s s u a t u d i s i p l i n a t a u p a nd a n ga n h i d up ya n g b e r t j o r a k h ub u n ga n s e b a b - a ki b a t , d j a d i d a l a m ha k e ka t n ya b e r s i f a t ma t e r i a l i s t i k d a n me k a ni s t i k ( L i ha t : S i d i G h a z a l b a , I s l a m I n t e g r a s i I l m u d a n K e b u d a y a a n, ( D j a k a r t a : T i nt a M a s , 1 9 6 7 ) , 1 0 1 .
moral t ent ang hasil penelit ian ilmi ah yang dil akukan. S ehingga pen yal ah-gunaan ilm u tidak akan t erjadi di kal angan m ereka.
Den gan demiki an akan didapat kan suatu pemahaman, bahwa ilmu (s ci ence ) pada das arn ya adalah suat u proses at au suat u tahapan untuk memahami terhadap “pemahaman kehendak dan pengenalan terhadap Sang Pencipta (Allah Swt)” melalui beberapa upaya, baik secara deduk ti f, empirik, filos ofi k m aupun int uiti f.
B. Kon sep Etik a Il mi ah
D a r i w a k t u k e w a k t u p e t u a l a n g a n i l m i a h t a k p e r n a h t e r h e n t i , b a h k a n s e n g a j a s a l i n g m e n d a h u l u i d a l a m m e n e m u k a n k e b e n a r a n i l m i a h . I n i m e n u n j u k k a n i l m u i t u m e m i l i k i d a y a t a r i k y a n g l u a r b i a s a b a g i m a n u s i a ( i l m u w a n ) . V a n P a u r s e n s e h u b u n g a n d e n g a n i n i m e n u n j u k p a d a s i f a t i l m u ya n g “ t a k a k a n s e l e s a i ” . D i j e l a s k a n n ya b a h w a i l m u i t u b e r o p e r a s i d a l a m r u a n g y a n g t a k t e r b a t a s . K e g i a t a n n y a b e r i s i a n e k a k e t e g a n g a n d a n g e r a k y a n g p e n u h k e r e s a h a n . K e r e s a h a n i t u m e m a n g c o c o k d e n g a n h a s r a t m a n u s i a y a n g t a n p a h e n t i i n g i n t a h u
segal an ya.20 Akibatn ya tidak pelak lagi mereka berpetual ang untuk menggali rahasi a -rahasi a itu s ecara ilmi ah, dan dipakai pat okan dal am meram al kan suat u gejal a yang serupa.
Sem angat ilmi ah para ilmuwan ini , secara n yat a t elah mel ahirkan kem ajuan -kem ajuan dibidang ilmu dan t eknologi. Yang kes em uan ya i ni berguna dal am membantu keingi nan manusi a unt uk mencukupi kebutuhan hidup s ehari -hari m aupun kebutuhan j angka panj ang.
Kem aj uan ini dis amping m embawa manfaat bagi manusia j uga menim bul kan efek negati f dan bahkan m engancam kel angsungan hidup komunitas manusi a. Ancam an ini di akibatkan adan ya pen yal ahgunaan ilmu penget ahuan oleh para ilmuwan yang ti dak memi liki ras a tanggung j awab mo ral t erhadap pengembangan ilmi ahn ya.
Berkaitan dengan masalah ini, Nurcholish Madjid mengatakan:
“… namun dengan kemampuan itu manusia modern menjadi makhluk dengan keunikann ya yang i roni s, musuh ut aman ya bukan lagi bencana al am at au binat ang buas di hut an -hut an (seperti musuh nenek moyang mereka dalam zaman “pra -peradaban”), tetapi hasil kem ampuann ya s endiri dan rekan ses am a manusi a yang menggunakan kem ampuan itu. Dengan kat a lain manusi a menj adi musuhnya sendiri”.21
20 J uj u n S . S ur i a s u ma n t r i, I l m u d a l a m P e r s p e k t i f, 2 3 4 .
21 N u r c ho l i s h M a d j i d , I s l a m D o k t r i n d a n P e r a d a b a n, ( J a k a r t a : Y a ya s a n W a k a f P a r a ma d i n a , 1 9 9 2 ) , 3 0 1 .
K e n y a t a a n i n i m e n g g u g a h k i t a u n t u k m e m p e r j e l a s untuk apa ilm u it u dikem bangkan m anusi a. S ebenarn ya ilmu i tu bukan tujuan tet api s arana untuk m encapai tujuan dalam kehidupan i ni.
Karena itu kebenaran ilmi ah, bila dis adari selal u berhimpi t dengan etika pel a yanan bagi sesam a manusi a dan bert anggungj awab s ecara moral dan agam a. Untuk it u diperlukan kons ep eti ka il miah yang jelas dal am pengembangan t radi si ilmi ah, agar para ilmuwan tidak mengem bangkan ilm un ya dengan sombong, t anpa memperhat i kan etika.
Dal am masalah etika ilmi a h i ni, al -Zarnuj i y m engemukakan : ىِغَبْنَ يَو
ُِلْىَلَِ
ُِمْلِعْلا
ُْنَا
َُّلِذَي َُل
ُ وَسْفَ ن
ُِعَمَّطلاِب
ُِْيَغ ُِف
ُ حَمْطَم اَّمَعَزَّرَحْنَ يَو
ُِوْيِف
ُ ةَّلَذَم
ُِمْلِعْلا
ُِوِلْىَأَو
ُ نْو كَيَو
،اًعِضاَوَ ن م
ُ ع ضاَوَّ تلاَو
َُْيَ ب
ُُِّبَّكَّتلا
ُِةَّلَذَمْلاَو
ُِةَّفِعْلاَو .
“Orang yang berilmu itu hendaknya jangan membuat dirinya sendiri menj adi hina lant aran tamak t erhadap ses uatu yang tidak sem esti n ya, j angan sampai t erj erumus kedal am lim bah kehinaan ilmu dan ahli ilmu. Ia supaya berbuat tawadlu‟ (tawadlu‟ y aitu sikap t engah -t engah ant ara som bong dan kecil hati ), berbuat fitnah”.22
M e s k i p u n t i d a k s e c a r a r i n c i d a n t e g a s , a l - Z a r n u j i y m e n g a n j u r k a n p e n t i n g n y a e t i k a i l m i a h y a n g h a r u s d i p e g a n g i o l e h p a r a i l m u w a n ( ملعلا لىل ). Anjuran it u merupakan kons ep etika il miah yang berdimensi rel egius . M aks udn ya kons ep etika yang dirumuskan ol ehn ya bers umber dari pemaham an terhadap pesan -pesan ajaran agam a, yakni agam a Isl am .
Menj auhkan diri dari sikap som bong berarti juga sebagai cermi nan t anggungj awab s eorang il muwan s ecara pri badi dan sosi al . Set elah terhindar dari sikap sombong il muwan selal u menj aga pernyataan ilmiahnya dengan “pernyataan yang benar”. Sebagaimana dikatakan oleh Adi Hakim Nasoetion, sebagai beri kut:
“Oleh karena itu tanggung jawab utama ilmuwan terhadap dirinya sendiri, s es am a ilmuwan, dan mas yarakat ial ah m enj ami n kebenaran dan ket erandal an pern yataan -pern yat aan i lmiah yang dibuatn ya dan yang dibuat ol eh s es am a ilmuwan lainn ya. Dengan demikian sel ain menj aga agar s emua pern yat aan s emua pern yat aan i lmi ah yang dibuatn ya s el alu benar, ia harus m emberikan tanggapan apabila i a
22 Al - Z a r n uj i y, Ta‟ lim al- Muta‟a llim, 1 1 -1 2 .
meras a ada pern yat aan ilm iah yang dibuat ilm uwan l ain yang t idak benar. Tanggung jawab s eperti ini adal ah tanggung jawab mas yarakat ilm iah ya ng l azim dan sudah berl aku t urun -temurun”.23
Sem ent ara i tu ken yataan dalam m as yarakat modern ada dua kelom pok i lmuwan dalam mengam bil sikap terhadap tanggungj awab sosial n ya. Yang menurut Liek Wilardj o dikataka n, “Yang tak ambi l pusing” dan “Yang ambi l tampuk putusan”.24 Yang tak ambil pusing, memandang tugasn ya sebagai ilmuwan han yal ah untuk menghasil kan ilmu yang bai k dan hasil penelit iann ya berm ut u. Tugas ini dipandang s ebagai tugas pri badi, dan pem anfaat ann ya berada di l uar t anggungj awabn ya. Bagi m ereka ( yang ambil t ampuk putusan) m em andang apakah hasil -hasi l penemuan keilm uan mereka sebaikn ya dirahasi akan atau dipublikasi kan.
Putus ann ya didas arkan pada baha ya yang terkandung dan kem ungki nan pengaruh ne gati f/m erusak dal am hasi l -hasil peneliti an itu. Kalau resiko itu di nil ai bes ar, mereka m erahasiakan penem uan m ereka.
M e n gh a d a p i m a s a l a h i n i s e b a i k n ya k i t a s a d a r i k e m b a l i , b a h w a i l m u p e n ge t a h u a n i t u a d a l a h u n t u k m e n e m u k a n k e b e n a r a n . S e h i n g ga k e w a j i b a n b a t i n i a h s e o r a n g i l m u w a n a d a l a h m e m b e r i k a n s u m b a n g a n p e n g e t a h u a n b a r u ya n g b e n a r d a n b e r m a n f a a t s a j a k e p a d a m a s ya r a k a t p e m a k a i h a s i l i l m u p e n g e t a h u a n , ya n g b e r u p a t e k n o l o gi . K a r e n a a d a k a l a n ya t e k n o l o gi d a p a t b e r t e n t a n ga n d e n g a n p e r i k e m a n u s i a a n d a n s e k a l i gu s m e n ga n c a m k e l e s t a r i a n k e t u r u n a n u m a t m a n u s i a d i a t a s b u m i i n i . D a n s e b e n a r n ya p e n e r a p a n i l m u d a l a m t e k n o l o gi a d a l a h u n t u k m e n gu b a h dan mem perbai ki keadaan di bumi ini25 unt uk kepentingan um at manusi a secara kes eluruhan, bukan han ya untuk golongan at au pribadi tert ent u.
Dengan keadaan s eperti di at as , m aka m al a pet aka yang sebagaim ana di gambarkan ol eh Nurcholi sh M adji d di at as t i dak akan berkembang s em aki n parah. Untuk i tu perl u adan ya kendali etik atau kode eti k yang bisa m en yadarkan para ilm uwan kes ombongan ilmiahn ya. Namun s epertin ya, bil a kode etik it u han ya di cipt akan ol eh ses am a manusi a (kesepakat an para ilm uwan) t et ap suli t unt uk dit aati.
23 A nd i H a ki m N a s o e t i o n , P e n g a n t a r K e F i l s a f a t S a i n s, c e t . I , ( B o go r : L i t e r a A n t a r N u s a , 1 9 9 2 ) , 2 7 .
24 B a nd i n g ka n d e n g a n: L i e k W i l a r d j a , R e a l i t a d a n D e s i d e r a t a, ( Y o g ya ka r t a , D ut a W a c a n a U n i ve r s i t y P r e s s , 1 9 9 0 ) , 2 5 5 .
25 D a l a m S ur a t a l - R a ‟d , a ya t 1 1 d i s e b ut k a n:
....ُْىِهِسُفََْؤِبُاَيُاوُسِّيَغُيُىَّتَحٍُوْىَقِبُاَيُُسِّيَغُيُلاَُ َّاللَُّ ٌَِّإُ...
“…. Sesungguhnya Allah tid ak mer ubah kead aan suatu kaum sehingga mereka mer ubah keadaan yang ada pada dir i mer eka sendiri. …”. ( Lihat: T eam Depag RI, A l - Qur‟an dan Terj emahan nya, 3 7 0 ) .
Karena masi ng -m asi ng ilmuwan sebagai pribadi memil iki am bisi unt uk berpetual ang dal am pengembaraan i lmi ah, yang kadang -kadang l epas kont rol .
Upa ya t erakhi r ya ng bisa dil akukan adal ah han ya dengan
“penyadaran diri” terhadap pribadi -pribadi para ilmuwan, bahwa ilmu pengetahuan yang dikuasainya hanyalah sebagian kecil dari “Al -„Ilmu, ilmu yang di kuas ai oleh Tuhan Yang Maha K uas a, dan i a han yalah khalifahn ya di bumi ini, yang di suruh untuk menj aga kes eimbangan ant ara berbagai m akhluk hidup m aupun yang t ak hidup (t ak memil iki n yawa) di bumi ini .
Untuk itu, rumusan etika ilmiah yang dikemukakan ol eh al - Zarnuji y s ecara normati f m asih bi sa diterapkan dal am mas yarakat modern ini . Mes ki pun rumus ann ya belum bis a dikat akan s ebagai rumusan etika ilmi ah yang sempurna. Nam un setidak -tidakn ya bis a menj awab perm as al ahan yang selal u mengiringi upa ya pengembangan ilmu pengetahuan dan t eknolog i dewas a i ni.
C. Kon sep Hidup Dan Tujuan Pendidik an
Ket erkait an antara kons ep hidup dan tuj uan pendidikan adal ah suat u kons ep yang m en yat u, di m ana konsep hidup merupakan inti dari pada semua akti fit as kehidupan manusi a. Sedangkan tuj uan pendidikan merupakan s al ah s at u upa ya untuk menuj u inti dari pada kehi dupan ini . Karena tuj uan pendi dikan ini m erupakan rum us an s uatu konsep yang bersum ber dari fals afah hidup suatu bangsa at au s es eorang. Sehingga dengan mengerti dan memahami tujuan pendidikan it u, s es eorang akan dapat m emperki rakan arah mana yang harus dil al ui agar s ampai pada titik inti kehidupann ya. Dengan l ain perkat aan tujuan pendi dikan itu merupakan suat u rumusan yang harus dicapai ol eh s eseorang guna mem enuhi cit a -cit a hidupn ya.
B a g i a l - Z a r n u j i y , t u j u a n h i d u p d a n t u j u a n p e n d i d i k a n i n i t e r c e r m i n d a l a m “ n i a t s e s e o r a n g ” d a l a m m e l a k s a n a k a n s e g a l a a k t i f i t a s k a r e n a n i a t m e r u p a k a n suatu keingi nan yang berimpl ikasi -praktis. Maksudn ya, apa s aja yang dil akukan s es eorang itu bersum ber dari sebuah cit a -cit a at au ni at.
Dal am hal i ni al -Zarnuj i y secara tegas, dalam pas al “Niat Di Waktu Belajar” ( ُِمُّلَعَّ تلاُِلاَحُِفُِةَّي نلاُِفُ لْصَف ), m en yat akan sebagai berikut :
ىِغَبْنَ يَو
ُْنَا
َُىِوْنَ ي
ُ م لَعَ ت مْلا
ُِبَلَطِب
ُِمْلِعْلا
ُِللهااَضِر لىاَعَ ت
َُرِخلآْاَراَّدلاَو
َُةَلاَزِاَوَُة
ُِلْهَْلْا
ُْنَع
ُِوِسْفَ ن
ُْنَعَو
ُِرِئآَس
ُِلاَّه ْلْا
َُءآَيْحِاَو
ُِنْي دلا
َُءآقْبِاَو
ُِمَلاْسِلْا
َُّنِاَف
َُمَلاْسِلْا
ُِمْلِعْلاِب .
“Dan seyogyanya pelajar itu niat belajar ilmu untuk mendapatkan ridl a Al lah Swt., kehidupan akhirat, m enghilangkan kebodohan diri -
sendiri dan kebodohan orang lai n, mengembangkan agam a, menghidupkan Is l am . M aka sesungguhnya kelanggengann ya Isl am dengan ilmu”.26
Dari t uj u an p endi d i kan yan g di t er apk an dal am ni at bel a j ar t ers ebut a da b ebe r apa poi n pent i n g ya n g h arus di wuj u dkan ol eh pel aj ar, ya i t u: p ert a m a, unt uk m enc ari keri dl aa n Al l a h S wt ; kedu a, unt uk k ehi dup an a khi rat ; ket i ga, unt u k m en ghi l an gkan k ebodoh an di ri -s endi ri d an o ra ng l ai n; ke em p at , u nt uk m e n gem b an gk a n Is l am ; dan kel i m a, unt u k m el an ggen gk an Is l a m . Ya n g kes emuan ya i ni merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipis ah -pi sahkan antara yang s at u dengan ya ng l ainn ya. Karena pada das arn ya untuk mencapai tujuan yang pertam a dapat di lal ui dari mewuj udkan keem pat tuj uan berikutn ya.
Secara umum tuj uan pend idi kan yang dikem ukakan ol eh al - Zarnuji y ini berori ent asi pada kehidupan akhi rat dan tidak begitu simpati pada kehi dupan dunia. Demi ki an ini lebih dit egaskan lagi dal am t ulis ann ya, ya ng m engutip perkat aan S yai kh al -Im am al -Aj all al - Ust adz Qowam un al -Din Ha mad ibn Ibrahim Ibn Ism a‟il al -S hofar al - Anshari, yang m engutip juga dari s yair Im am Abu Hanifah sebagai berikut :
ُْنَم
َُبَلَط
َُمْلِعْلا
ُِداَعَمْلِل
ُ لْضَفِبَزاَف
َُنِم
ُِداَشَّرلا
اَيَ ف
ُ ناَرْس ْلْا ةَّيِبِلاَط
ُِلْيَ نِل
ُ لْضَف
َُنِم
ُِداَبِعْلا
“Barang siapa mendalami ilmu demi kebahagiaan akhirat mendapat keuntungan keutamaan, anugerah dari Allah berupa petunjuk jalan. Aduh sangat sayang dan merugi bagi penuntut ilmu yang suci. Semata hanya mencari sesuap nasi mengharap dari hamba Illahi”.27
D a n m a s a l a h r i z q i b a g i p a r a p e n u n t u t i l m u a d a l a h u r u s a n A l l a h S w t s e m a t a . I a t i d a k u s a h m e n c a r i n y a d a n s e m u a n y a a k a n d i c u k u p i o l e h A l l a h S w t . S e b a g a i m a n a a l - Z a r n u j i y m e n g u t i p h a d i t s y a n g d i r i w a y a t k a n o l e h I m a m Abu Hanifah dari Abdull ah ibn al -Has an al -Zubai d y s eor ang s ahabat Rasul Al lah s ebagai berikut :
ُْنَم
َُوَّقَفَ ن
ُِنْيِدُِف
ُِللها
ُ هاَفَك
ُ وََّهَ َللها
ُ وَقَزَرَو
ُْنِم
ُ ثْيَح
ُ بِسَتَْيََُل
26 Al - Z a r n uj i y, Ta‟ lim al- Muta‟a llim, 1 0 .
27 Al - Z a r n uj i y, Ta‟ lim al- Muta‟a llim , 1 1 .
“Barang siapa mempelajari agama Allah, maka Allah akan mencukupi kebut uhann ya dan mem beri rizqi dari jal an yang tidak diki ra s ebelum n ya”.28
Perm as al ahann ya s ekarang adal ah apakah kehidupan modern bi sa menerim a tujuan pendidikan yang di rumuskan ol eh al -Zarnuji y.
Jawabann ya akan di kem bali kan pada realit as kehidupan m odern itu sendiri. Maksudn ya untuk m eni lai m asi h rel evan atau tidaknya tuj uan pendidi kan ters ebut, maka yang pertam a -t am a harus m emahami pol a hidup modern. Sementara itu, “modern” bukan berarti disamakan
“westernisasi”. Karena pada keduanya ada perbedaan yang esensial, yang m erupakan pem beda di ant ara keduanya.
M o d e r n a t a u l e b i h t e p a t n y a m o d e r n i s a s i m e n u r u t S o e d j a t m o k o a d a l a h “ m e n a m b a h k e m a m p u a n s u a t u s i s t e m s o s i a l y a n g m e n a n g g u l a n g i t a n t a n g a n - t a n t a n g a n s u a t u p e r s o a l a n b a r u y a n g d i h a d a p i n y a , d e n g a n p e n g g u n a a n s e c a r a r a s i o n a l d a r i p a d a i l m u d a n t e k n o l o g i a t a s segal a sum ber kemampuannya”.29 Koentjarani ngrat mengarti kan moderni s asi it u sebagai “usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang”.30 Sedangkan west ernisasi adalah m encont oh dan m engambil alih cara hi dup Bara t (orang-orang Am eri ka S erikat dan Eropa Barat).
Koentj araningrat mencontohkan bentuk pengambil ali han, pemi ndahan dan pengadopsi an ga ya dan cara hi dup Barat itu sebagai berikut :
“Meniru gaya hidup Barat berarti meniru secara berlebihan gaya pakai an orang Barat dengan cara m engi kuti mode yang berubah cepat; m eni ru ga ya bicara dan adat sopan s ant un pergaul an orang Barat dan s eri ngkali dit ambah dengan s ikap m erendahkan buda ya nasional dan adat sopan santun pergaulan Indonesia; …”.31
Dal am hubungan ini perlu d itambahkan bahwa proses westerni sasi biasan ya di ikuti ol eh sekul eri sasi. P andangan -pandangan dan aspi rasi agam a dan moral diti nggal kan dan han ya m em enti ngkan kehidupan materi al, duni awi dan kebendaan. Kebenaran diukur dengan
28 Al - Z a r n uj i y, Ta‟ lim al- Muta‟a llim, 3 4 .
29 M . M a n s yu r A mi n ( E d . ) , D i a l o g P e m i k i r a n I s l a m d a n R e a l i t a s E m p i r i k, ( Y o g ya ka r t a : L K P S M N U D I Y , 1 9 9 3 ) , 2 7 .
30 K o e n t j a r a n i n gr a t , K e b u d a y a a n , M e n t a l i t a s D a n P e m b a n g u n a n, ( J a k a r t a : P T . G r a me d i a , 1 9 7 9 ) , 1 3 3 .
31 K o e n t j a r a ni n gr a t , K e b u d a y a a n , 1 3 3 .
MERK (m at eri al , empi rik, ras ion al dan kwantit atif). Nil ai -nil ai kerohanian, s piri tual dan moral telah runt uh dan terdesak ol eh pertimbangan dan kepentingan “praktis -pragmatis-sekuleristik”.
Di at as, t el ah di uraikan bahwa antara moderni sasi dan westerni sasi ada perbedaan yang esensial. B erkenaan dengan perm as alahan yang terdahul u, m aka modernis as i bis a di teri ma ol eh Is l am. Karena s ebenarn ya Isl am adal ah agam a yang sangat m odern dan sangat diperlukan dal am m as yarakat modern. Ris wanda Imawan mengutip pendapat Muhamm ad Natsi r, s ebagai beriku t :
“Kalau yang dimaksud dengan modern adalah penghargaan akan waktu, ci ri modern itu juga di tem ukan dal am Isl am. Orang sal ah mengira bahwa Is lam itu bertentangan dengan kehidupan modern.
Sebagai bukti l ainnya, s ehubungan dengan si fat rasi onalit as pada man usi a modern, Isl am juga m em buka kes empat an dan m endorong orang unt uk berijti had, menggunakan rasionaln ya dalam m engkaji berbagai ketentuan dalam Islam”.32
D a r i b e r b a g a i u r a i a n d i a t a s , p o l a h i d u p m o d e r n t i d a k b e r t e n t a n g a n d e n g a n a j a r a n I s l a m , y a n g b e r t e n t a n g a n a d a l a h p o l a h i d u p y a n g w e s t e r n. K a r e n a p o l a h i d u p w e s t e r n b e r l a n j u t p a d a p o l a h i d u p s e k u l e r , y a n g l a r i d a r i a g a m a , n i l a i - n i l a i m o r a l d a n s p i r i t u a l . D e n g a n d e m i k i a n b i l a k i t a k e m b a l i p a d a t u j u a n p e n d i d i k a n y a n g d i r u m u s k a n o l e h a l - Z a r n u j i y , m a k a t u j u a n p e n d i d i k a n t e r s e b u t s e c a r a n o r m a t i f m a s i h relevan unt uk diterapkan pada kehi dupan m as yarakat modern. Karena kondi si mas yarakat modern sekarang i ni aj aran hi dup sufisti k sem aki n diminati, s edangkan tujuan pendidikan yang di rumuskan oleh al - Zarnuji y sebagaim ana diterangkan di atas bercorak s ufi stik.
Di negara Barat orang sem akin tert arik pada sufist ik (t as awuf).
Dal am makal ahn ya Az yum ardi Azra mencontohkan ada s eorang Insi n yur Tekni k l ulusan Cul umbi a Uni versit y, put ra Im am New York Is l ami c Cent re, yang j ebol a n Universit as Al -Azhar, m enj adi khali fah tarekat Halvati ye J errahi di Lower West S ide Mahatt an.33
Lebih lanjut Azra mengutip has il surve y yang diadakan oleh Sa yyed Hos ein N as r bel um l am a ini m en yimpulkan :
“… dalam beberapa dekade terakhir Sufisme mengalami kebangkit an di duni a Muslim s ej ak S yria, Iran, Turki , P akist an
32 M . M a ns yu r A mi n ( E d . ) , D i a l o g P e m i k i r a n I s l a m, 9 7 .
33 Az yu ma r d i Az r a , “ N e o - S u fi s me D a n M a s a D e p a n I s l a m ” , M a k a l a h d i s a mp a i ka n p a d a S t ud i u m G e n e r a l ya n g d i a d a k a n o l e h S E M A F T I A I N S u na n A mp e l M a l a n g p a d a t a n g g a l 5 M e i 1 9 9 4 .
sampai Asia Tenggara. Terdapat peni ngkat an si gnifi kan dalam minat terhadap Sufisme, terutama di kalangan terdidik. …, sebagian kebangkit an i t u berkait an dengan m eni ngkatn ya kegiatan t arekat - tarekat sufi, semacam tarekat Sadziliyyah atau Ni‟mat Allah yang sangat aktif misalnya di Syria dan Iran”.34
B a h k a n s e b e l u m n y a N a i s b i t d a n A b d u r d e n e d a l a m hasi l peneliti ann ya ada kesi mpul an yang menarik untuk di cat at di sini , dalam bukunya yang berjudul “Megatrend 2000” menurut mereka ilmu pengetahuan dan te knologi ti dak memberikan makna tentang kehidupan. “Kebangkitan agama (termasuk tasawuf) merupakan penol akan yang t egas t erhadap kepercayaan ya ng buta kepada ilmu pengetahuan dan t ek nologi”.35
Di negara Indones ia sendi ri, kursus -kursus t as awuf ya ng diselenggarakan lembaga sem acam LSAF dan P aram adi na menari k minat yang cukup tinggi. Dan ada pula pen yai r yang di beri sebutan
“Penyair Sufistik”, seper ti Emha Ainun Najib misalnya. Karena karya - kar ya Emha Ainun Najib keban yakan berbau nil ai -nil ai s ufistik.
Dengan s emakin diminati pol a hidup sufistik, sebagaim ana diterangkan di at as , yang i ntin ya bi sa menerim a tujuan pendidi kan yang dirumus kan ol eh a l-Zarnuji y, m aka pengembangan tradis i ilmi ah di masa m endatang akan t et ap produktif. Karena m ereka akan mendekat i alam i ni dengan pem aham an, bahwa al am ini adalah realit as univers al yang membukti kan adan ya Tuhan. Dan mereka sem aki n bers em a ngat meneliti al am ini guna m emahami adan ya Tuhan i tu s endi ri. J adi ber -sci ence bagi mereka adal ah mem ahami All ah, dal am rangka menuju pada -N ya. Menurut M. S al eh Munt asi r, prinsip kes at uan (tauhid) adal ah kunci pokok dari pengal am an ket uhanan dal am Is l am, ti dak mengakui pemis ahan ant ara s ains dan Iman … sesuatu dalam alam adalah ayat tentang kehadiran Tuhan.36
Sampai di sini , tuj uan pendidi kan yang di rum uskan ol eh al - Zarnuji y s ecara normati f masih t et ap relevan untuk dit erapkan dal am rangka pem binaan p rilaku ilmi ah di masa yang akan dat ang. Khususn ya berfungsi s ebagai kendali etik (eti ka ilmi ah) bagi m ereka dal am mengem bangkan kemampuan ilmi ahn ya . Sehingga mereka memili ki
34 Az yu ma r d i A z r a , “Neo - S u fi s me ”.
35 J o hn N a i s b i t t d a n P a t r i c i a Ab d ur d a ne , M e g a t r e n d 2 0 0 0, t e r j . F X . B ud i j a nt o , c e t . I , ( J a ka r t a : B i n a r up a A k s a r a , 1 9 9 0 ) , 2 5 6 .
36 M . S a l e h M u n t a s i r , M e n c a r i E v i d e n s i I s l a m, c e t . I , ( J a ka r t a : R a j a wa l i P r e s s , 1 9 8 5 ) , 5 1 .
“rasa tanggungjawab moral” tentang segala sesuatu yang dihasilkan dal am peneliti an i lm iahn ya.
D. Kon sep In terak si -E dukatif
L e m b a g a p e n d i d i k a n m o d e r n t e l a h b e r m u n c u l a n d i s e a n t e r o j a g a t i n i d a n m e m b a w a p a d a i m p l i k a s i y a n g s a n g a t b e s a r p a d a k e h i d u p a n m a s y a r a k a t d u n i a s e k a r a n g i n i . D i a n t a r a n y a p e r g a u l a n g u r u d a n m u r i d d i p e r l a k u k a n s e b a g a i “ t e m a n ” . M a k s u d n ya a n t a r a m u r i d d a n g u r u “ b e b a s bertanya-jawab” dalam berbagai masalah yang berkait an dengan pelaj aran yang diberikan ol eh guru. Pol a s eperti ini adal ah merupakan i nteraksi edukat if s ebagai t rans aksi . Yakni suatu komunikasi edukati f yang m engembangkan partisipas i akti f antara guru dengan sis wa, tet api juga m elibat kan interaksi di namis antar si swa yang satu dengan siswa yang l ainn ya .37 Dan akhi r-akhir ini pol a interaksi edukatif seperti ini yang dipandang sebagai pol a yang dapat mengantarkan si swa pada pem aham an t erhadap m ateri pel ajaran yang diberi kan ol eh guru.
Dal am hubungann ya dengan int eraksi -edukati f ini, al -Zarnuji y dalam kitab Ta‟lim al-Muta‟allim juga merumuskan suatu konsep interaksi -edukatif ya ng s ampai saat s ekarang ini m asi h di pe rgunakan di beberapa pondok pesant ren di Indonesi a. Yang menurut pengamat an kita, pondok pesantren t ersebut t el ah m enghasilkan ilmuwan (ulama) yang berhasil dal am mengembangkan kapasi tas keilm uannya. Akan tet api akhi r-akhi r i ni pes ant ren yang dulun ya m engh asilkan ban yak ilmuwan („ulama), sekarang sudah tampak mengalami kemunduran sej ak beberapa dasawarsa i ni.
Y a n g d e m i k i a n i t u , j u g a d i r a s a k a n o l e h M u h a m m a d Thol hah Has an:
Ken yat aan keberhas ilan pesant ren di masa l alu m em ang tak terbant ahkan. Akan tet api kita j uga melihat keban yakan bahwa prest asi pes ant ren t el ah m enurun sej ak beberapa das awars a ini.
Pihak yang keberatan dengan perubahan berpendapat bahwa kemunduran itu justru disebabkan adanya “penyelewengan” dari cara-cara l am a. Akan tet api sa ya s endiri berpendapat bahwa kem unduran itu j ust ru bukti bahwa apa yang baik dan suks es untuk mas a lal u bel um tent u demi kian keadaannya jika dit erapkan di masa kini.38
37 N a na S ud j a n a , D a s a r - d a s a r P r o s e s B e l a j a r M e n g a j a r, c e t . I I I ( B a nd u n g : S i n a r B a r u, 1 9 9 1 ) , 3 2 .
38 M a j a l a h P E S A N T R E N , N o . 1 / V o l . I I I / 1 9 8 6 , 5 6 .
Untuk itu menarik sekali untuk m embahas beberapa hal yang berkait an l angsung pada peristi wa int erak si -edukatif yang t erj adi di dal amn ya. Dalam hal ini setidak -tidakn ya ada perist iwa hubungan ant ara muri d dengan guru yang int ensi f dalam m empel ajari s ebuah il mu pengetahuan, dan m etode apa yang dipergunakan dal am m emperol eh ilmu pengetahuan tersebut.
Pada uraian t erdahulu dit erangkan, bahwa gagas an -gagas an al - Zarnuji y dal am kitabn ya adalah bercorak sufisti k. Dal am kehi dupan sufi kehadiran s eorang guru adal ah s angat pent ing dal am meniti kehidupan sufistik. Sebagaimana diungkapkan oleh Masdar F. Mas‟udi sebagai beri kut :
“ B e t a p a p e n t i n g n y a k e d u d u k a n g u r u d a l a m d u n i a k e s u f i a n d a p a t d i l i h a t d i h a m p i r s e t i a p r i s a l a h kitab t asawuf ya ng di mat a murid seolah -olah ti dak ada yang penti ng di al am s em esta i ni kecuali dua: Guru dan Tuhan. Melebihi si apa s aja, guru adal a h satu - satun ya pihak yang dapat m engant arkan manusia untuk s am pai ke Tuhan”.39
Sehingga dal am memilih seorang unt uk dij adikan s ebagai guru adal ah betul -bet ul orang yang m emili ki kelebihan di bidang i lmu, wira‟i dan yang lebih tua usianya. Al -Zarnujiy mengatakan :
اَّمَاَو
ُ راَيِتْخا
،ِذاَتْس لْا ىِغَبْنَ يَ ف
ُْنَا
َُراَتَْيَ
َُمَلاْعَلأْا
َُعَرْوَلْاَو
َُّنَسَلْاَو
Dalam memilih guru, hendaknya memilih yang lebih „alim, wira‟i dan tua usi an ya.40
Kebutuhan m urid akan kehadi ran guru i ni m embutuhkan waktu tersendi ri dalam memilih guru, guru yang dikehendaki, yang t ent un ya guru yang di pilih it u adalah guru yang m emili ki kri teri a di at as, yakni
„alim, wira‟i dan lebih tua umurnya. Untuk itu al -Zarnujiy memberi pet unjuk :
ُْلَّمَأَتَ ف
ُِنْيَرْهَشُِف
ُِراَيِتْخا ُِف
ُِذاَتْس لْا
ُْرِواَشَو
ُّتَح
ُ جاَتَْتَ َُل
ُِوِكْرَ ت لىِا
ُِضاَرْعِلْاَو
ُ وْنَع
َُت بْثَتَ ف
ُ هَدْنِع
ُّتَح
َُنْو كَي
َُك مُّلَعَ ت اًكَراَب م
ُ عِفَتْنَ تَو
َُكِمْلِعِب اًرْ يِثَك .
41
39 M a j a l a h P E S A N T R E N , N o . 1 / V o l . I I I / 1 9 8 6 , 5 6 .
40 Al - Z a r n uj i y, Ta‟ lim al- Muta‟a llim, 1 3 .
41 Al - Z a r n uj i y, Ta‟ lim al- Muta‟a llim, 1 4 .
…. Karena itu, pertimbangkanlah dulu selama dua bulan untuk memili h gurumu itu, dan bermus yawarahlah agar t epat , s erta tidak lagi i ngi n berpindah at aupun berpaling dari guru ters ebut. Dengan begitu engkau mendapat kan kem ant apan dal am bel aj ar di situ, mendapat berkah dan kemanfaat an il mu yang kamu peroleh.
Set elah m endapat guru yang c ocok, maka seorang murid harus menghorm ati guru itu, agar m endapat kan keberkahan ilmun ya.
Menghorm ati guru s ebenarn ya adalah merupakan penghorm atan yang didasarkan bukan karena jasmanin ya, mel ainkan karena i lmu yang dimiliki n ya. Dan menghorm ati guru ini da l am pandangan Is lam termasuk dal am perbuatan yang t erpuji. Karena guru adal ah seorang yang m en yi arkan ilm u penget ahuan, s edangkan Is lam amat m enghargai ilmu pengetahuan. P enghargaan Islam t erhadap ilmu tergam bar dal am, ant ara l ain ada beberapa hadits yang artinya di kutip oleh Ahm ad Tafsi r sebagai beri kut :
1. Tint a ulam a lebih berharga daripada darah S yuhada.
2. Orang berpenget ahuan m el ebi hi orang yang senang beribadah, yang berpuas a dan menghabiskan waktu m al amn ya untuk m engerjakan shal at , bahkan m el ebihi kebai k an orang yang berperang di jal an All ah.
3 . A p a b i l a m e n i n g g a l s e o r a n g a l i m , m a k a t e r j a d i l a h k e k o s o n g a n d a l a m I s l a m y a n g t i d a k d a p a t d i i s i kecuali ol eh seorang alim yang lai n.42
Dis ampi ng m emang Is l am secara t egas m enghargai s eorang yang
„alim, ada penyebab khusus mengapa banyak orang yang menghormati guru dil ebi hkan dari menghorm ati yang lainn ya. Karena adan ya suatu pem aham an yang mem andang bahwa guru adal ah pengga nti All ah dal am m engajarkan kebenaran kepada m anusia. M ereka beral as an pad a ket erangan dalam Surat al -Baqarah a yat 32 :
او لاَق
َُكَناَحْب س
َُمْلِعل اَنَل اَملِإ اَنَ تْمَّلَع
َُكَّنِإ
َُتْنَأ
ُ ميِلَعْلا
ُ ميِكَْلْا .
Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ket ahui sel ai n dari apa yang t el ah Engkau aj arkan kepada kami;
ses ungguhn ya Engkaul ah Yang m aha Menget ahui lagi Maha Bijaksana”.43
42 A h ma d T a f s i r , I l m u P e n d i d i k a n D a l a m P e r s p e k t i f D a l a m I s l a m, c e t . I , ( B a nd u n g : R e ma j a R o s d a k a r ya , 1 9 9 2 ) , 7 6 .
43 T e a m D e p a g, A l - Q u r ‟ a n d a n T e r j e m a h n y a, 1 4 .
Il mu datang dari Tuhan, guru yang pert ama adalah Tuhan.
Pandangan yang menembus l angit i ni tidak bol eh ti dak telah mel ahi rkan sikap pada orang Is lam bahwa ilm u itu tidak terpis ah dar i All ah; ilm u tidak t erpisah dari guru, m aka kedudukan guru amat tinggi dal am Isl am .44
A k a n t e t a p i k o n s e p i n i k e b a n y a k a n d i p a h a m i s e c a r a l a t a h . M e r e k a s a n g a t m e n g k u l t u s k a n k e b e r a d a a n guru, yang mana s eorang muri d seol ah -ol ah dianggap s ebagai “s eperti botol kosong” yang siap diisi oleh apa saja sesuai dengan kehendak guru.
Hal ini dapat dibaca pada keterangan al -Zarnuji y s ebagai beri kut : ىِغَبْنَ يَو
ُِبِلَطِل
ُِمْلِعْلا
ُْنَا
َُراَتَْيََُل
َُعْوَ ن
ُ مْلِع
،ِوِسْفَ نِب
ُْلَب
ُ ض وَف ي
ُ هَرْمَا
َُلىِا
ُِذاَتْس لْا
َُّنِاَف
َُذاَتْس لْا
ُْدَق
َُلَصَح
ُ وَل
ُ ب راَجَّتلا
َُكِلذُِف
َُفَرَعَو
ىِغَبْنَ ياَم
ُ ل كِل
ُ دَحَأ اَمَو
ُ قْيِلَي
ُِوِتَعْ يِبَطِب
“Hendaknya sang murid jangan menentukan pilihan sendiri terhadap ilmu yang akan di pelaj ari . Hal i ni di persilahkan S ang Guru untuk menent ukann ya, karena di alah yang t el ah berkali -kali mel akukan percobaan s erta di a pul a yang menget ahui ilmu apa yang sebai kn ya diaj arkan kepada s eseorang dan ses uai dengan t abi at n ya”.45
Kedudukan guru sebagai wakil Tuhan dal am m engaj arkan kebenaran ilm u kepada m uri d, yang berperan mem ilih il mu at au m at eri apa yang sesuai dengan kem ampuan m urid, bil a di pahami sebagai
“peran pengorganisasi kurikulum”. Maka kedudukan guru yang sem acam i ni m asih bisa diterim a dal am pen yel enggaraan pendidikan di mas yarakat modern. Karena dengan t ersus unn ya kuri kul um yang sistemat is akan mem udahkan pen yel enggaraan pros es belaj ar mengaj ar.
Akan t et api t ampakn ya, beberapa pondok pesantren ya ng menggunakan kit ab tersebut sebagai acuan dal am pen yel enggaraan bel aj ar m engaj ar mem ahami gagas an al -Zarnuji y dengan pemaham an bahwa s ant ri harus t unduk dan patuh t erhadap kemauan guru (k yai) -n ya dal am mem ilih materi kaji an. Dan bahkan ada pula yang hanya ingi n mendapat kan barokah ilmu dari sang k yai, tanpa berupa ya menggunakan kemampuann ya s endi ri, untuk m endapatkan ilm u pengetahuan.
Kal au s emua murid dalam m enunt ut ilmu m en yerahkan sepenuhn ya pada guru (k yai ), m aka pengem bangan t radisi i lmiah di kal angan m as ya rakat um at Isl am ti dak ubahn yal ah s am a dengan tradi si keilm uan um at Isl am pada del apan abad yang lalu. S ehi ngga umat Is l am akan tetap m engal ami kemunduran dal am pengembangan ilmu.
44 A h ma d T a f s i r , I l m u P e n d i d i k a n , 7 7 .
45 Al - Z a r n uj i y, Ta‟ lim al- Muta‟a llim, 1 9 .
Sehingga kitab Ta‟lim al-Muta‟allim tersebut tidak bisa diterima sebagai acuan dalam pengembangan tradisi ilmiah dalam masyarakat modern. Meskipun ilmu Fiqih yang disebut -sebut sebagai pengetahuan tentang kelembutan -kelembutan ilmu ( ُِىْهِعْنا ُِقِئاَقَدُُةَفِسْعَي ،ُهْقِفْناَو ),46 tetapi dalam keutuhannya ia merupakan apresiasi penulisnya terhadap suasana kultural umat yang telah didominir oleh tradisi sufi yang sangat ketat, sehingga apresiasinya terhadap fiqih sebagai proses penalaran secara keseluruhan menjadi tenggelam.
46 Al - Z a r n uj i y, Ta‟ lim al- Muta‟a llim, 9 .
DAFTAR PUST AKA
Ahm ad, M ahamm ad Abdul Qodi r , Ta‟lim al-Muta‟allim Thoriq al- Ta‟llumi Ta‟lif al-Imam Burhan al-Ddin al-Zarnujiy Halaway 539 H/62 0 M., M esi r, 198 2.
Al-Qur ‟an dan T erj emahannya, Depag R I., 1990.
Amin, Ahmad, Isl am dari Masa ke Mas a, Rem aj a R osdakar ya, Bandung, III, 1993.
Amin, M. M as yhur (Ed.), Dialog Pemi ki ran Isl am dan Real i tas Empi ri k, LKPSM NU D IY. Yogyakart a, 1993.
Amirin, Tat ang M., Menyusun Rencana Penelitian, R aj awali P ress, J akart a, I, 1986.
Ari fin, H.M . , Filsafat Pendi di kan Is lam, Bina Aksara, J akart a, II, 1991.
As‟ad, Aliy, Bimbingan bagi Penuntut Il mu Penget ahuan, Kudus, I, 1978.
As-S iba‟i , Mus tafa , Kebangkitan Kebudayaan Isl am, Media Da‟wah, J akart a, t .t. .
Azra, Az yumardi, “Neo -Sufism e Dan Mas a Depan Is lam ”, M akal ah Dis ampaikan pada Acara Studium General yang Dis el enggarakan oleh SEM A FT IA IN Sunan Am pel M alang pada Tanggal 5 M ei 1994.
Bakker, Anton dan Achmad Charris Zubai r, Met odologi Peneli tian Filsaf at, Kanis ius , Yogyakarta, I, 1990.
Buchor i, Mucht ar, Pendidi kan dalam Pembangunan, Tiara W acana Yogya dan IK IP Muhammadi yah J akarta, Yogyak art a, I, 1994.
Depag R I, Team Bi mbaga Islam , Sej arah dan K ebudayaan Islam I, IA IN
“Alauddin” dan Depag RI, Jakarta, 1981/1982.
Ghazal ba, Sidi , Isl am Int egra si Il mu dan K ebudayaan, Tint a M as , Djakart a, 1967.