• Tidak ada hasil yang ditemukan

Remaja dan Penemuan Identitas Diri sebagai Orang Kristen

N/A
N/A
TK PAUD TANAKA YAGIYOBUTU

Academic year: 2024

Membagikan "Remaja dan Penemuan Identitas Diri sebagai Orang Kristen "

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Yose Emeraldo T.

NIM : 52140002

Paper Akhir Pendidikan Kristiani Bingkai Teoritis Pendidikan Kristiani

Remaja dan Penemuan Identitas Diri sebagai Orang Kristen

A. Remaja

Di dalam gereja kita masing-masing, remaja tentulah merupakan suatu kelompok usia yang menarik. Setidaknya di gereja penulis, remaja diberikan wadah persekutuan sendiri yang terpisah dari Sekolah Minggu untuk anak-anak maupun ibadah umum. Remaja menjadi kelompok usia yang unik karena mereka mulai didorong lebih mandiri dalam kehidupan bergereja. Jika saat mengikuti Sekolah Minggu, semua aktifitas kelas dipersiapkan oleh guru yang notabene bukan anak-anak (orang dewasa atau setidaknya pemuda), lain halnya yang terjadi di dalam persekutuan remaja. Jemaat berusia remaja turut mempersiapkan dan melaksanakan persekutuan itu sendiri misal dengan menjadwal pembicara, menentukan tema, bahkan menjadwal dan menjadi pelayan ibadah seperti WL (worship leader), pemain musik, atau pengedar kantong kolekte. Sebagai sebuah kelompok usia tersendiri, remaja tentu memiliki kebutuhan, tantangan, persoalan dan karakteristiknya yang unik.

Menurut penulis, salah satu persoalan kontekstual yang dihadapi oleh remaja GKI Ngupasan saat ini adalah menemukan vokasi kita. Vokasi berbicara mengenai panggilan Tuhan kepada manusia untuk terlibat dalam aktivitas dan rencana Allah atas dunia ini dan respon manusia atas hal itu. Vokasi memberi koherensi dan tujuan yang lebih luas mengenai hidup kita.1 Singkatnya menemukan vokasi bicara mengenai menemukan jati diri remaja sebagai orang Kristen, seorang pengikut Kristus.

Dalam dunia yang semakin pluralis ini kebutuhan menemukan jati diri tentu semakin besar dan semakin mendesak. Jemaat remaja di gereja kita sebagian menempuh studi di sekolah swasta Protestan atau Katolik. Dengan demikian interaksi mereka lebih banyak dengan teman-teman yang seiman (walau dari denominasi gereja yang berbeda-beda setidaknya sama-sama orang Kristen). Namun sebagian jemaat remaja juga menempuh studi di sekolah Negeri dengan siswa yang dominan merupakan pemeluk agama Islam, tak jarang dalam satu angkatan hanya ada 3-4 orang Kristen. Bagaimanapun juga sebagai orang Indonesia dimana terdapat berbagai agama, tentu remaja telah mendengar bahkan mungkin sampai berdialog dengan pemeluk agama lain. Dalam dialog antar agama di Indonesia sejauh ini, penulis mengamati bahwa orang-orang sering jatuh kepada pola pikir relatifis yang berpandangan bahwa semua agama sama saja. Ini tampak dalam kalimat-kalimat yang sering

1 Seymour, J (Editor). Mapping Christian Education: approaches to congregational learning. (Nashville:

Abingdon Press, 1997)

(2)

muncul mengenai antar-agama adalah seperti, “Semua agama mengajarkan yang baik”, “tidak ada agama yang buruk.”, “Banyak jalan menuju ke Roma.”.

Dalam tulisannya, Placher ketika berbicara mengenai dialog antar umat beragama, berpendapat mungkin memang ada kesamaan antar agama tetapi sebenarnya seringkali mereka menunjuk ke arah yang berbeda-beda.2 Jadi tidak bisa disama-ratakan begitu saja,

“mereka bicara hal yang sama tapi cuma kata-katanya beda”. Ambil contoh Kekristenan, Tuhan Kristen, Yesus Kristus turun kedunia, mati sebagai penebusan dosa manusia. Ini jelas berbeda dengan keyakinan Islam atau Hindu atau Budha dimana sejauh yang penulis tahu, tidak ada Tuhan yang turun dan mati sebagai penebusan dosa manusia. Penyamarataan begitu saja mau tidak mau membuat kita mengabaikan bagian-bagian tertentu dari keyakinan iman kita3. Ini menyebabkan individu kehilangan suara khas dari agamanya sendiri dalam usahanya bergerak dan menjadi sama dengan 4. Remaja juga dapat kehilangan atau kesulitan menemukan identitasnya sebagai pengikut Kristus. Dalam konteks demikian penting mengetahui identitas dirinya sendiri sebagai seorang Kristen. Menentukan siapa dirinya, siapa Kristus baginya dan panggilan hidupnya dalam dunia.

Jemaat remaja saat ini dapat digolongkan sebagai generasi Z (lahir antara 1995- 20095). Generasi ini juga disebut sebagai Net generation, Digital natives, naturals, dan dot.com kids6. Sebagai generasi yang hidup dan bertumbuh dalam dunia teknologi informasi- komunikasi seperti telepon genggam, tablet, dan internet, maka remaja-remaja ini sangat akrab dan terbiasa hidup bersama dengan perangkat elektroniknya. Mereka adalah generasi yang tidak pernah mengenal dunia tanpa internet, telepon genggam, dan iPod. Mereka adalah generasi yang melek teknologi.7 Melalui pengamatan penulis, jemaat remaja saat ini memiliki setidaknya satu telepon genggam atau smartphone. Sebagian juga memiliki tablet, pemutar musik, dan atau laptop. Beberapa bahkan sangat lekat dengan smartphone atau tablet sampai- sampai dalam kebaktian pun masih sibuk memainkan perangkat teknologi tersebut.

Kehidupan yang bergantung dan melekat sekali dengan peralatan teknologi ini membawa konteks hidup tertentu bagi remaja. Yang pertama adalah keleluasaan dan kecepatan menemukan informasi. Dalam sekejap remaja dapat membuka browser, mencari di

2 Placher, W. C., Unapologetic Theology: A Christian Voice in a Pluralistic Conversation. (Kentucky:

Westminster/John Knox Press, 1998), h.143

3 Ibid., h.17

4 Ibid., h.1, h.147

5 Years of Birth dari http://generationz.com.au/years-of-birth/ diakses 15 Desember 2014

6 Jacqueline, D., Talking about God to Generation Z. diunduh 13 Desember 2014 dari http://www.lutheran.edu.au/assets/Uploads/pr/general/SchooLink/SCHOOLINKVol163.pdf

7 Looper, L., How Generation Z Works, 2011 dari http://people.howstuffworks.com/culture- traditions/generation-gaps/generation-z.htm diakses 13 Desember 2014.

(3)

Google dan menjelajahi berbagai situs di internet yang memuat artikel, blog, foto, musik dan atau video. Dalam tumpukan informasi tersebut remaja dapat menemukan dengan beragam kondisi, kejadian dan peristiwa, belum termasuk berbagai opini, argumentasi, pendapat dan nilai-nilai yang berbeda-beda.8 Kekayaan informasi ini disatu sisi dapat mendorong remaja menjadi lebih kritis, cermat dan analitis dalam berpikir dan berpendapat. Remaja juga dapat menjadi lebih matang dalam mengambil keputusan karena bisa mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Meskipun demikian keberagaman ini jika tidak dikelola dengan baik justru dapat menyebabkan kebingungan identitas, ketercerabutan dari akar tradisi (baik agama maupun kultural lokal) dan sikap apatis-pragmatis terhadap hidup. Keberagaman informasi dapat membantu maupun menghambat remaja dalam membentuk identitas dirinya sebagai orang Kristen.

Dampak berikutnya adalah remaja terbiasa dengan hal yang cepat, kilat dan kadangkala otomatis. Budaya mereka mendorong mereka untuk mengejar hal yang cepat alih- alih keakuratan. Mereka membutuhkan umpan balik yang cepat dan segera9. Hal ini akibat remaja terbiasa dengan gadget-gadget beserta aplikasi-aplikasinya dan situs-situs di internet yang memang didesain agar menjadi user-friendly, mudah dikendalikan dan memberi respon segera. Pola demikian ini seringkali diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti sekolah, relasi pertemanan, bahkan dalam usaha mencari identitas diri ataupun dalam usaha memahami Tuhan. Sayangnya dunia nyata (non-virtual) seringkali tidaklah se-user-friendly dunia maya. Banyak hal yang membutuhkan kerja keras, kesabaran, dan ketekunan dalam mengusahakan dan mencari, terlebih lagi mengenai hal-hal yang abstrak seperti identitas diri.

Dalam hal-hal inilah generasi remaja masa kini lebih rentan untuk gagal.

B. Psikologi Remaja

Siapakah remaja itu? Apa kata para ahli psikologi mengenai remaja? Remaja adalah manusia yang berusia antara 10-19 tahun10 atau 13-19 tahun11. Mereka populer disebut sebagai teenager atau secara lebih resmi-ilmiah disebut adolescent. Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa12. Suatu kesenjangan antara keamanan masa anak-anak dan otonomi masa dewasa13.

8 Digital, 2014 dari http://generationz.com.au/digital/ diakses 13 Desember 2014.

9 Looper, op.cit.

10 WHO, Maternal, newborn child and adolescent health dari

http://www.who.int/maternal_child_adolescent/topics/adolescence/dev/en/ diakses 13 Desember 2014

11 Psychology Today, Adolescence, dari http://www.psychologytoday.com/basics/adolescence diakses 13 Desember 2014

12Ibid.

13 Santrock, John W. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5, Jilid 2. (Indonesia, Erlangga, 2002), h.57

(4)

Terkait pola pikirnya (kemampuan kognitif), menurut Piaget, pada masa remaja dimulailah tahapan keempat sekaligus terakhir dari perkembangan kognitif manusia. Sekitar usia 11 tahun, remaja mulai mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara abstrak.

Konsep-konsep yang dipahami mulai dapat dibayangkan dan diolah didalam pikiran semata (abstraksi). Remaja memiliki kemampuan membangkitkan situasi khayalan, kemungkinan hipotesis serta penalaran yang benar-benar abstrak.14 Remaja juga dapat memikirkan berbagai kemungkinan konsekuensi dan akibat dari suatu tindakan. Dengan demikian anak mampu untuk membuat perencanaan jangka panjang.

Selanjutnya menurut David Elkind, pemikiran remaja bersifat egosentris. Ia mengajukan dua konsep terkait egosentrisme remaja yaitu penonton khayalan (imaginary audience) dan dongeng pribadi (personal fable). Penonton khayalan terkait dengan keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya seperti dirinya sendiri. Remaja seakan berada dipanggung dan menjadi sorotan dan dilihat oleh orang lain. Pemikiran ini juga dapat mendorong remaja mencari perhatian. Konsep kedua yaitu dongeng pribadi berbicara mengenai perasaan remaja bahwa dirinya adalah unik. Dengan demikian orang lain tidak mungkin tahu yang dia rasakan karena dia berbeda dari orang lain.15

Meskipun tidak secara jelas menyebut mengenai rentang usia, namun dalam teori Kohleberg, mulai dari usia 10 tahun keatas manusia mulai memasuki proses penalaran moral di tingkat Konvensional yang terdiri atas tahap Relasi Interpresonal dan Ketertiban Sosial.

Remaja dengan demikian berada dalam tahap Relasi Interpersonal atau Ketertiban Sosial.

Pada tahapan Relasi Interpersonal perilaku moral dimotivasi oleh keinginan mendapat persetujuan sosial dari orang yang terdekat16. Ini bisa berarti orangtua, maka anak berperilaku baik (menjadi anak manis) atau juga teman sebaya, karena relasi teman sebaya dan konformitas kepada teman merupakan bagian penting dari masa remaja17. Dengan demikian ini juga bisa mengarah pada perilaku positif namun juga ke perilaku negatif tergantung dari pertemanan remaja. Remaja bisa saja telah mencapai tahap empat yaitu Ketertiban Sosial.

Tahap ini mirip dengan tahap Relasi Interpersonal tetapi motivasi ‘ingin disetujui’ diperluas kepada masyarakat. Pada tahapan ini muncul konsep “melakukan perannya dalam komunitas.”18 Ketertiban dan aturan bersama menjadi hal yang dipertahankan.

Erik Erikson dalam teori Psikososialnya menyebut masa remaja sebagai periode

Identity vs Role Confusion”. Erikson percaya bahwa identitas seseorang berkembang

14 Ibid., h.10

15Ibid., h.11-12

16Fleming, J. S. Piaget, Kohlberg, Gilligan, and Others on Moral Development. 2006, h.8

17 Santrock, op.cit., h.44

18 Fleming, op.cit., h.9

(5)

melalui mempertanyakan diri dan pencarian. Tugas perkembangan utama dari remaja adalah menemukan identitasnya. Remaja belajar peran-peran yang akan dilakukannya sebagai orang dewasa. Remaja memeriksa ulang identitasnya dan berusaha mengetahui siapakah dirinya.

Menurut Erikson ada dua identitas yang dibentuk yaitu seksual dan occupational (terkait pekerjaan).19 Karena sedang mencari identitas maka remaja mulai bereksperimen, bereksplorasi dan mencoba-coba berbagai hal termasuk gaya berpakaian, peran, kegiatan, dan perilaku. Menurut Erikson ini penting untuk membentuk identitas diri dan arah hidup.20 Disamping itu peran teman sebaya sangat kuat dan menentukan. Keberhasilan dalam pencarian ini akan menghasilkan identitas diri yang solid sementara kegagalan akan meyebabkan kebingungan, identitas diri yang negatif serta tidak stabil, bertindak merusak, dan kesulitan membangun relasi yang erat pada usia lebih lanjut.21

Fowler dalam teorinya mengenai Perkembangan Iman (Faith Development) menyebut remaja sebagai masa Sintesis Konvensional. Pada masa ini pandangan hidup anak dibentuk oleh otoritas diluar diri seperti orangtua, pemimpin gereja dan kelompok sosial. Anak mempercayai apa yang dipercayai oleh semua orang dan enggan untuk tampil berbeda karena ingin terhubung dengan komunitasnya. Ada konformitas yang terjadi. Oleh karena itu iman perlu menolong remaja memperloeh orientasi yang lebih luas serta menggabungkan informasi dan nilai-nilai dalam membentuk identitas dan pandangan hidup.

Dengan demikian dapat kita katakan bahwa remaja merupakan kelompok usia transisi antara anak dan dewasa dimana remaja melalui proses pencarian jati diri dan usaha menemukan posisi, peran dan bagian dirinya di dalam masyarakat. Proses mencari jati diri ini ditopang kemampuan remaja untuk mulai memikirkan konsep-konsep abstrak, membangun situasi hipotesis dalam pikiran, serta membayangkan jauh kedepan. Namun disadari juga keterbatasan pola pikir remaja yang masih egosentris dan menempatkan dirinya sebagai pusat dari kehidupan. Meski demikian pada masa remaja pengaruh dari orang-orang terdekat sekaligus lingkungan menjadi faktor penting dalam pembentukan identitas diri tersebut.

Remaja mengalami dorongan konformitas yang tinggi dan keinginan terhubung dan diterima komunitasnya.

19 Mc Leod, S. Erik Erikson, 2013, dari http://www.simplypsychology.org/Erik-Erikson.html diakses 13 Desember 2014

20 Cherry, K. Identity Versus Confusion: Stage Five of Psychosocial Development, dari http://psychology.about.-com/od/psychosocialtheories/a/identity-versus-confusion.htm diakses 13 Desember 2014

21 Huffman, K., Vernoy, M., & Vernoy, J. Psychology in action 5th edition. (New York: John Wiley & Sons, Inc., 2000), h.339.

(6)

Tantangan dalam tahap perkembangan ini menjadi semakin tinggi ketika remaja hidup dalam situasi dan kondisi yang pluralis, dengan kebebasan dan keleluasaan mencari dan menemukan informasi. Disatu sisi ini membantu remaja menimbang berbagai perspektif dan mengenali keberagaman pikir yang membantunya menentukan jatidirinya namun kondisi ini juga beresiko menyebabkan remaja kebingungan dan kewalahan (overwhelm) dengan ragam perbedaan yang ada. Oleh karena itu menurut penulis, isu kontekstual yang dihadapi remaja saat ini adalah menemukan identitas diri sebagai orang Kristen didalam dunia yang semakin plural (mungkin bukan hanya dunia yang menjadi semakin plural tetapi dunia yang semakin mudah dijelajahi sehingga remaja semakin terpapar pada pluralitas).

C. Gaya-gaya Refleksi Teologis

Berangkat dari kondisi yang demikian, penulis hendak mengajak remaja untuk melakukan refleksi teologis untuk membantu mereka dalam menemukan identitas mereka sebagai orang Kristen. Refleksi teologis menurut Kinast adalah bentuk berteologi yang berupaya mengkorelasikan pengalaman dengan tradisi iman untuk menghasilkan praxis.

Refleksi teologis hendak mengupas realitas teologis yaitu kehadiran Allah dalam pengalaman manusia, dimana Allah mengundang manusia mengalami Allah dan untuk berpartisipasi dalam kehidupan kekal yang ditawarkan-Nya.22 Ada beragam gaya berefleksi teologis, dalam tulisan ini penulis akan membahas mengenai lima macam gaya refleksi teologis yaitu, gaya Ministerial dari The Whiteheads, gaya Spiritual Wisdom dari Groome dan dari Killen & de Beer, gaya feminis, gaya Inkulturasi dari Schreiter, dan gaya Praktis dari Browning.

Keberagaman ini merefleksikan kekayaan pandangan para teolog mengenai refleksi teologis serta penggunaannya. Masing-masing gaya walaupun sama-sama membicarakan pengalaman, tradisi iman, dan praxis, namun masing-masing berfokus pengalaman yang berbeda, mengkorelasikannya dengan tradisi iman secara berbeda, serta mengharapkan praxis yang berbeda pula.23

The Whiteheads mengajukan gaya refleksi teologis yang disebut gaya Ministerial.

Refleksi teologis ini merupakan proses membawa sumber iman kristiani dalam keputusan- keputusan praktis kepelayanan gerejawi. Dalam gaya ini terdapat 3 elemen yang terlibat dalam proses refleksi teologis.24 Elemen tersebut adalah tradisi Kristiani (mencakup tidak hanya Kitab Suci dan konsili gereja di Nicea dan Chalcedon tetapi dalam sejarah-sejarah denominasi beserta pernyataan teologis dan panduan pastoralnya25), pengalaman pribadi

22Kinast, R. L., What Are They Saying About Theological Reflection? (New Jersey: Paulist Press, 2000) h.3

23 Ibid., h.5

24 Ibid., h.6-7

25 Whitehead, J.D. & Whitehead, E. E., Method in Ministry: Theological Reflection and Christian Ministry.

(Wisconsin: Sheed & Ward, 1999). h.6

(7)

(pengalaman penatalayanan yang kongkrit dalam komunitas iman tertentu26), dan sumber- sumber kultur (meliputi sikap, nilai, dan bias yang membentuk lingkungan pergaulan sosial partisipan27).

Dalam refleksi teologis ini terdapat tiga tahapan yang perlu dijalani. Tahap pertama adalah tahap Attending (Hadir) dimana terjadi usaha mencari informasi yang beragam dari ketiga elemen yang ada. Dalam tahap ini komunitas didorong untuk mendengarkan secara kritis dan tidak memberi penilaian. Keterampilan mendengar, kewaspadaan introspektif dalam melihat pemikiran, perasaan, motivasi, bias dan nilai-nilai diri sendiri, dan kemampuan kelompok menerima informasi baru adalah beberapa hal penting agar tahapan ini berjalan baik.28

Selanjutnya ada tahap Assertion (Pernyataan), dimana terjadi dialog antara ketiga elemen di atas untuk memperjelas, menantang dan memurnikan pencerahan dan batasan dari masing-masing sumber. Dialog didasari pemahaman bahwa 1) Tuhan hadir dalam ketiga elemen tersebut, dan 2) informasi dalam masing-masing elemen itu terbatas dan tidak lengkap. Dibutuhkan keberanian untuk berbagi keyakinan dan kemauan untuk dikoreksi dan ditantang.29

Tahapan terakhir adalah tahap Pastoral Response (Respon Pastoral) dimana hasil refleksi diterjemahkan dalam aksi komunal dan personal. Pada tahap ini pencerahan dan pengetahuan terbaik yang ditemukan dalam tahap assertion akan dipilih. Selanjutnya ada penentuan respon, perencanaan langkah-langkah pastoral dan evaluasi atas aksi yang dikerjakan.30

Gaya refleksi teologis kedua adalah gaya Spiritual Wisdom. Spiritual Wisdom maksudnya adalah kebijaksanaan yang pantas atau tepat bagi kehidupan seorang percaya.31 Dalam gaya ini, partisipan didorong membentuk hidup melalui dialog dengan kebijaksanaan spiritual yang dimiliki dan dibawa tradisinya. Pertama-tama kita akan membahas Groome dengan gaya refleksinya yang disebut Shared Christian Praxis. Proses refleksi dimulai dengan suatu Focusing Activity dimana partisipan diajak untuk memfokuskan diri kepada present praxis masing-masing terkait dengan suatu tema generatif dalam suatu kejadian belajar / mengajar. Disini partisipan diajak untuk memperhatikan tema tersebut misal lewat contoh-

26 Kinast, op.cit., h.10

27 Whitehead & Whitehead, op.cit., h.11

28 Ibid., h.13-14

29 Ibid., h.13, 15

30 Ibid., h.13, 16

31 Kinast, ibid., h.16

(8)

contoh, bacaan, simbol-simbol, menunjukkan suatu kejadiana atau keprihatinan.32 Setelah itu partisipan memasuki kelima tahap atau pergerakan (movement) yang diajukan oleh Groome.33 Pertama, Naming Present Praxis. Partisipan diajak untuk menyebutkan atau mengekspresikan tindakan masa kini yang dilakukan oleh mereka / masyarakat terkait dengan tema tersebut. Ekspresinya bebas, tidak boleh dihakimi dan dinilai orang lain, dan sebaiknya jujur menggambarkan pengalaman masing-masing.

Kedua, Critical Reflection on Present Action. Partisipan diminta merefleksikan tindakan-tindakan itu secara kritis. Partisipan diajak memperdalam kejadian itu, menggali alasan-alasannya, motivasi, asumsi yang muncul, ideologi atau keyakinan yang mendasarinya, nilai-nilai terkait, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah memperdalam pemahaman atas aktivitas tersebut.

Pergerakan ketiga adalah Making Accessible Christian Story & Vision, ketika partisipan di ajak untuk melihat Christian Story/Vision yang terkait dengan tema-tema tersebut. Disini Story melambangkan kehidupan beriman komunitas Kristiani sepanjang sejarah sampai saat ini, dan Vision melambangkan janji dan tuntunan hidup yang muncul dari Story yang dihidupi dan dipahami bersama oleh umat Kristiani.

Keempat, dilakukan Dialetical Hermeneutic Between Christian’s and Participant’s Stories and Vision. Pada tahap ini pemahaman kritis akan Story/Vision yang dimiliki partisipan terkait tema (ditemukan pada tahap kedua) kemudian didialogkan dengan Christian Story/Vision. Ada proses saling menginterpretasi diantara keduanya. Keduanya bisa mempertajam, mempertanyakan dan mengafirmasi satu sama lain.

Pergerakan terakhir adalah Decision / Response for Lived Christian Faith. Dalam tahapan terakhir ini partisipan diajak untuk menentukan bagaimana mereka harus hidup (berubah) dalam keseharian mereka. Kebijaksanaan tidak terpisah dari aksi sehari-hari.

Menurut Groome aksi ini bisa terjadi pada aspek manapun entah kognitif, afektif ataupun perilaku, dan juga bisa terjadi pada tingkat relasi manapun juga, baik personal, interpersonal maupun sosial-politis dan masyarakat.

Gaya refleksi teologis Spiritual Wisdom yang lain berasal dari Killen & de Beer.

Gaya refleksi ini dikembangkan dari kerangka berpikir movement toward insight. Killen & de Beer mengikuti pola movement toward insight yang wajar dan biasa terjadi pada manusia dan menambahkan poin-poin tertentu dan mengembangkannya menjadi lebih teologis.

32 Ibid., h.17-18

33 Ibid., h.18-20

(9)

Tahap pertama adalah Experience – pengalaman. Pengalaman adalah apa yang terjadi kepada kita baik saat kita partisipan aktif maupun pasif. Pengalaman memiliki dimensi internal (respon dan tindakan kita akan suatu kejadian) dan dimensi eksternal (orang, objek, tempat yang berinteraksi dengan kita dalam kejadian itu). Dimensi internal menjelaskan bagaimana kita mengalami dan dimensi eksternal menjelaskan apa yang kita alami. Dalam tahap ini hal yang penting adalah memasuki kembali pengalaman kita, mendeskripsikan dimensi internal dan eksternal kita tanpa menginterpretasi dan memberi penilaian terlebih dahulu. Ini sulit karena menginterpretasi, menilai dan memaknai pengalaman itu proses alamiah dan seringkali taken-for-granted. Dalam tahap ini partisipan belajar menceritakan bagaimana (how) dan apa (what) saja dan menahan diri tidak mengisahkan unsur mengapa (why). Hal ini karena unsur why mendorong terjadinya interpretasi terhadap kejadian.34 Killen

& de Beer memperluas dan mengkategorikan pengalaman-pengalaman yang ada menjadi 4 kategori yang disebut sebagai source-sumber. Pemilahan ini membantu partisipan lebih menyadari pengalaman-pengalaman yang akan direfleksikan. Keempat (sumber) pengalaman tersebut adalah a) action (narasi yang kita hidupi), b) tradisi (kebijaksanaan religius yang kita terima sebagai otoritas yang berwenang), c) culture/ budaya (meliputi ide-ide, struktur sosial dan lingkungan ekologis) dan d) position (sikap, opini, keyakinan yang kita pegang dan siap kita pertahankan dalam argumen).35 Dalam melakukan refleksi teologis, partisipan didorong memilih dan berfokus pada salah satu source ini.

Setelah mendeskripsikan pengalaman yang dipilih, maka kita memasuki tahap kedua yaitu menghampiri Feelings – perasaan. Feeling bukan sekadar emosi kita, tetapi merupakan respon intelektual (pikiran) dan afektif (emosi) yang mendarah-daging (embodied) kepada realitas yang partisipan alami. Perasaan menjadi kunci menuju makna dari pengalaman partisipan. Partisipan tidak bisa menemukan pencerahan tanpa menyadari feeling partisipan dahulu. Di tahap ini partisipan perlu menyelidiki feeling partisipan, menerimanya tanpa memberi makna dulu. Partisipan juga perlu menamai feeling partisipan dengan akurat.36 Setelah menemukan feeling, maka partisipan didorong menemukan Images – imaji / gambar- gambar. Imaji adalah simbolisasi pengalaman partisipan. Imaji menangkap totalital respon partisipan kepada realitas. Imaji berbeda dengan penjelasan konseptual kata-kata karena lebih total, lebih terikat erat dengan feeling partisipan dan tidak terlalu dirasionalisasikan. Imaji bisa berupa ekspresi indera penglihatan, penciuman, pendengaran, dan lainnya, bahkan

34 Killen, P.O. & de Beer, J., The Art of Theological Reflection. (New York: The Crossroad Publishing Company, 2000), h.21-25

35 Ibid., h.54-58

36 Ibid., h.27-30

(10)

kombinasi dari seluruhnya itu. Imaji sendiri merupakan tahapan lebih lanjut dari feeling karena ia melambangkan pertanyaan partisipan dan mengajak partisipan untuk terhubung dengan pengalaman partisipan. Imaji sudah sedikit berjarak dari pengalaman karena sifatnya yang seperti metafora dan kemampuannya menangkap esensi dari feeling sehingga partisipan bisa menemukan petunjuk kepada makna pengalaman partisipan.37 Dalam refleksi teologis Killen & de Beer, feeling / imaji signifikan yang kemudian menjadi perhatian utama refleksi disebut sebagai heart of the matter – jantung persoalan. Ini merupakan pertanyan, ketegangan, isu, tema, masalah dan ketakjuban atas pengalaman.38

Dari penemuan akan heart of the matter tersebut, partisipan kemudian diajak menggali dan menemukan Insight – pencerahan. Dalam usaha menemukan insight, partisipan menemukannya dengan menimbang-nimbang dan mengajukan pertanyaan kepada imaji yang partisipan miliki. Imaji sebagai gambaran yang penuh, padat dan terintegrasi mampu membuka partisipan kepada cara pandang baru kepada pengalaman partisipan. Ketika partisipan menemukan insight partisipan, adalah penting untuk menangkapnya dalam kata atau simbol sehingga tidak hilang.39 Dalam refleksi teologis, heart of the matters ini kemudian dipertemukan dengan tradisi / warisan religius Kristiani. Untuk menghubungkan keduanya dilakukan korelasi. Korelasi terdiri atas dua tahapan: Tahap pertama adalah mengeksplorasi heart of matter dengan pertanyaan dari tema-tema utama Kristiani. Tahapan kedua adalah menghadirkan materi-materi dari source tradisi, dan menghubungkannya dengan proses ini.40

Penemuan insight membawa partisipan untuk mentranformasi diri partisipan melalui suatu Action-aksi. Ini membawa partisipan kepada tindakan untuk merubah pikiran, cara pandang, atau cara berperilaku partisipan. Kadangkala partisipan sulit mengambil tindakan sebagai tindak lanjut insight partisipan. Ada tiga hal yang disarankan Killen & de Beer yang dapat membantu partisipan mengatasi kelumpuhan itu yaitu a) doa, b) perencanaan dan c) kehadiran / kerjasama dari orang lain – asumsinya adalah komunitas partisipan.41 Ini adalah praxis yang diharapkan.

Refleksi teologis ala feminis merupakan kumpulan dari berbagai pandangan dan bukan pemikiran / metode dari satu dua tokoh saja (seperti gaya Ministrial dan Spiritual Wisdom). Tujuan dari gaya ini adalah membebaskan seluruh umat manusia, terutama yang miskin (lemah) untuk hidup dalam harmoni dengan bumi dan bebas dari struktur dan

37 Ibid., h.36-39

38 Ibid., h.61

39 Ibid., h.42

40 Ibid., h.65-66

41 Ibid., h.44

(11)

kebijakan sosial yang membatasi dan merusak.42 Dalam refleksi gaya ini, partisipan diajak menghargai pengalaman perempuan dan mencoba melihat hal-hal dari perspektif perempuan dalam rangka mengatasi sexism. Ada empat tahapan refleksi teologis feminis.

Yang pertama adalah Critical Consciousness dimana partisipan diajak menyadari bahwa wanita mengalami penindasan entah fisik atau emosional. Ada ketidakadilan yang dialami akibat dari sexism, asumsi yang salah bahwa laki-laki lebih superior dari perempuan dan maskulinitas adalah norma yang tepat bagi laki-laki dan perempuan. Sederhananya adalah pandangan yang terdistorsi tentang relasi manusia. Kesadaran ini pertama-tama perlu dimiliki perempuan karena mereka adalah perempuan karena merekalah korban utama.43 Stimulus untuk membangun kesadaran adalah pengalaman wanita (tidak hanya pribadi tapi juga pengalaman kolektif), yaitu pengalaman perempuan sebagai korban sexism, pengalaman sexism perempuan dari sudut pandang bukan wanita, serta pengalaman sexism perempuan sebagai bagian dari pola dominasi dan kontrol.44

Tahap kedua adalah tahap Critique of Tradition yang didasarkan pada pemahaman bahwa sexism juga terjadi digereja (bahkan berkembang pula disana!). Dalam tahap ini ada usaha melihat bias sexism yang terjadi dalam tradisi Kristiani. Untuk itu dipakai hermeneutic of suspicion, yaitu pendekatan yang berasumsi bahwa sexism sudah mendistorsi pesan-pesan Kristiani sampai taraf tertentu. Tujuan pendekatan ini menemukan dimana dan seberapa taraf distorsi itu dan implikasinya. Meskipun suspicion memang berarti curiga tetapi metode hermeneutik ini tidak bersikap sinis dan melakukan penolakan reaktif akan tradisi Kristiani.45

Setelah menggali pengalaman perempuan dan memperjumpakannya secara kritis dengan tradisi, maka refleksi memasuki tahapan Retrival & Reinterpretation yaitu penemuan kembali tradisi Kristiani. Ada dua bentuk penemuan yang dapat terjadi. Pertama, menyatukan kembali gambaran situasi nyata kehidupan perempuan dibalik bahkan lebih dalam dari catatan di Perjanjian Baru. Meski ada imajinasi disini tapi ini bukanlah fantasi dan spekulasi tapi rekonstruksi ulang untuk menunjukkan bagaimana pandangan dominan patriaki menekan atau menutupi pengalaman tertentu. Kedua, pemulihan perspektif dan metafora perempuan yang diabaikan, dinilai rendah dan dilupakan dalam sejarah dominan laki-laki.46 Tujuannya jelas, interpretasi dan rekonstruksi ulang teologi Kristen, bukan sekadar menambah sudut pandang perempuan pada teologi yang ada atau menawarkan opsi-opsi alternatif.47

42Kinast, op.cit., h.27

43 Ibid., h.29-31

44 Ibid., h.35

45 Ibid., h.32

46 Ibid., h.32-33

47 Ibid., h.37

(12)

Tahap terakhir tentulah berbicara tentang Praxis yang diharapkan. Ada 4 macam perubahan praxis yang diharapkan yaitu a) emansipasi wanita dari dominasi laki-laki (emosional, fisik, intelektual, finansial, dst), b) emansipasi laki-laki dari cara pandang dan berelasi yang salah dan terdistorsi dengan perempuan dan dunia, c) Tranformasi sistem, struktur, kebijakan dan institusi yang mengembangkan sexism dan menghambat kemajuan perempuan, dan d) Pembebasan dunia fisik dari ekploitasi dan daya irasionalitas yang menguras SDA (cara pandang yang sexism tampaknya berpengaruh juga pada cara pandang mengenai ekologi)48. Dari tulisan ini dapat dilihat bahwa praxis dari refleksi teologis gaya feminis berbicara tentang pemakaian kuasa (power) dalam cara yang partisipatif dan bermanfaat bagi laki-laki dan perempuan secara seimbang. Tujuannya bukan pembalikan kekuasaan (wanita lebih dari laki-laki) dan bukan juga pengabaian kekuasaan (tidak menggumuli persoalan kekuasaan sama sekali)49.

Selanjutnya gaya keempat adalah gaya Inkulturasi. Dalam gaya refleksi ini pengalaman utama yang hendak didialogkan dengan tradisi kekristenan adalah pengalaman kultural. Dalam pendekatan ini hendak dilihat mengenai pengaruh kultur itu terhadap respon kepada Injil. Disini kita mengikuti pemikiran Schreiter. Model berefleksi ini menjadi penting karena dua faktor, yaitu tendensi universalis pandangan teologi yang sudah lama hidup dan efek dari globalisasi. Gaya refleksi ini berusaha membangun suatu teologi lokal pembangunan kontekstual yang berfokus pada pembangunan identitas kultural atau penyingkiran yang dialami orang tertindas dan marjinal.50

Schreiter menawarkan suatu peta alih-alih metode untuk menghindari impresi bahwa ada satu cara yang tepat untuk melakukan refleksi teologis ini. Ada tiga sumber yang dapat menjadi stimulus membangun teologi lokal yaitu 1) Konfrontasi dengan teologi lokal lama, akibat dari kegagalan teologi lama itu untuk menjawab kebutuhan komunitas dan justru menjadi penghambat perkembangannya, 2) kemunculan kejadian kultural baru dan 3) kebutuhan dan perkembangan tradisi gereja secara luas.51

Untuk melakukan refleksi teologis ini, pertama-tama partisipan diajak mendengarkan budaya secara seksama untuk menemukan Kristus disana. Dalam mendengar ini partisipan diajak melihat tema-tema yang muncul dalam pengalaman budaya itu. Perlu sadari juga bahwa tema yang muncul itu ditentukan oleh identitas dan kebutuhan kelompok dan cara suatu hal dilakukan (atau tidak dilakukan). Dalam mendengarkan budaya secara seksama

48 Ibid., h.38

49 Ibid., h.34

50 Ibid., h.41

51 Ibid., h.43

(13)

partisipan perlu bersikap holistik (mempertimbangkan keseluruhan budaya), memperhatikan dorongan yang membentuk identitas kultur dan responsif terhadap dorongan yang menuntut perubahan. Schreiter menggunakan pendekatan semiotic (memeriksa tanda, pesan dan kode yang mengekspresikan makna dalam budaya) untuk mendengarkan budaya. Dalam pendekatan semiotic ini, partisipan perlu melihat deskripsi dari berbagai perspektif. Suara dalam budaya (narasi identitas kelompok), suara luar budaya (penjelasan dan analisa akan kelompok), suara dari pembicara (keprihatinan akan kejelasan penyampaian pesan) dan suara dari pendengar (keprihatinan akan kebermaknanaan pesan dalam budaya itu).52

Tahap kedua adalah proses menerjemahkan tradisi kristiani yang ada dari satu konteks budaya ke konteks lain. Misal dari masa lalu ke sekarang, dari wilayah A ke wilayah B. Perlu kesensitifan untuk melihat perbedaan kultur dan kesadaran bahwa tradisi kristiani pun sesungguhnya suatu teologi lokal. Ada 4 bentuk teologi sebagai hasil dari ekspresi kultural yaitu teologi sebagai variasi teks suci (misal kotbah, kehidupan santo-santa), teologi sebagai kebijaksanaan, teologi sebagai pengetahuan pasti, dan teologi sebagai praksis.53

Selanjutnya untuk membangun teologi lokal perlu menemukan paralel diantara teologi lokal baru dan teologi lokal dari tradisi. Ada dialog antara tradisi kristen dengan teologi lokal baru yang hendak dikembangkan ini. Perlu disadari juga bahwa tradisi Kristiani pun sesungguhnya adalah teologi lokal yang akhirnya menjadi global juga.54

Hasil dari eksplorasi itu kemudian mengafirmasi teologi lokal, memodifikasi bahkan mengkoreksinya. Kita juga bisa menggali lagi tradisi yang hilang dan terlupakan.55 Melalui ini kita bisa membantu perkembangan tradisi Kristen lebih luas melalui kontribusi lokal.

Tujuan utama dari teologi lokal baru adalah mengafirmasi identitas kristen dalam hubungannya dengan budaya saat ini. Untuk menentukan apakah teologi lokal itu demikian, ada 5 kriteria menjaga kualitas itu : 1) Bagaimana teologi lokal sesuai dengan kitab suci dan tradisi gereja, 2) Pengalaman melihat penampilan bernada Kristiani dalam penyembahan (ibadah), 3) pengalaman melihat penampilan bernada Kristiani dalam praksis komunitas, 4) kemauan menerima penilaian dari gereja lain, dan 5) kemauan memberi penilaian kepada gereja lain.56

Gaya terakhir adalah gaya Praktis menurut Don Browning. Teologi praktis disini adalah refleksi teologisi kritis akan praxis masa kini dan berfokus pada komunitas iman dan relasinya dengan masyarakat lebih luas. Dalam refleksi teologis ini menurut Browning

52 Ibid., h.45

53 Ibid., h.47-48

54 Ibid., h.44

55 Loc.cit.

56 Ibid., h.48

(14)

tujuannya adalah menyelidiki kondisi yang memungkinkan klaim normatif atas praktek religius dari komunitas iman.57 Ada 4 langkah melakukannya.

Descriptive Theology, pada tahap ini partisipan diminta mendeskripsikan situasi yang hendak direfleksikan. Diharapkan deskripsinya “tebal” alias menyeluruh, mendetail dan sejelas mungkin. Pengalaman yang dicari adalah pengalaman / masalah komunitas bukan individual saja. Jenis pengalaman yang direfleksikan adalah pengalaman menjalankan iman baik secara internal (ibadah, model pembinaan, pastoral) maupun dalam masyarakat luas (menghadapi krisis keluarga, pandangan soal kebijakan-kebijakan publik). Browning mengajukan kerangka kerja mengenai 5 tipe input yang membantu membuat deskripsi yang dihasilkan menjadi tebal. Kelima tipe input tersebut adalah : a) Visi, makna religius yang diakui dan dipahami komunitas. Ini berisi nilai dan keyakinan serta menentukan identitas dan posisi yang diambil komunitas tersebut. b) Kewajiban (Obligasi), implikasi moral-praktis untuk hidup sesuai apa yang diyakini. Ini adalah ekspresi perilaku dari visi yang dianut tersebut. c) Tendensi-Kebutuhan yaitu implus yang dimiliki orang banyak terkait soal makanan, keamanan, perlindungan, relasi, dan kepercayaan diri. d) Setting Sosial- Lingkungan yang menjadi batasan-batasan atau gambaran ideal yang mempengaruhi tiga input diatas. e) Aturan-Peran sebagai penentuan mengenai siapa yang bertindak, dalam situasi apa, otoritas macam apa dan dengan cara bagaimana.. Kelima tipe input ini juga dapat digunakan dalam setiap tahapan refleksi teologis Praktis ini.58

Tahap kedua adalah Historical Theology, sebagai refleksi kritis akan pertanyaan / isu yang muncul dari Descriptive Theology. Disini kita memeriksa teks-teks normatif yang menjadi bagian sejarah dari komunitas – Alkitab, kredo-kredo, doktrin dan tradisi komunitas.

Pembacaan teks bukan bersifat akademis tetapi berfokus pada menjawab pertanyaan atau isu yang ada.59

Setelah Descriptive dan Historical Theology, partisipan memasuki tahap ketiga yaitu Systematic Theology, dimana terjadi dialog antara posisi teologis praktek sekarang dan teks- teks normatif. Tujuannya adalah menemukan suatu horizon makna yang baru dari peleburan dua posisi itu. Selain membuat horizon baru juga perlu membuat reasoning atau alasan yang bagus untuk mendukung validitas horizon makna dan bertindak dengan suatu cara tertentu.60

Tahapan terakhir adalah Strategic Practical Theology sebagai tahap yang mengarah pada praksis. Ini bukan pengaplikasian keyakinan teologis pada situasi konkret saat muncul

57 Ibid., h.52-53

58 Ibid., h. 54-56

59 Ibid., h.56

60 Ibid., h.57

(15)

saja tetapi implementasi sengaja dan terarah dari hasil refleksi teologis yang meliputi edukasi, pastoral dan tranformasi yang dilakukan. Ada dua praxis yang diharapkan, praxis dalam internal komunitas dan praxis komunitas dalam konteks masyarakat lebih luas.61

D. Refleksi Teologis Bagi Remaja

Dari kelima gaya refleksi teologis yang sudah dibahas diatas yaitu Ministerial, Spiritual Wisdom, Feminis, Inkulturasi, dan Praktis, penulis akan memilih gaya yang dirasa cocok untuk menjawab kebutuhan remaja yaitu menemukan identitas diri sebagai orang Kristen didalam dunia yang semakin plural. Menurut penulis, gaya yang tepat dalam menjawab isu ini adalah memakai gaya Spiritual Wisdom ala Killen & de Beer.

Gaya Spiritual Wisdom ini dapat dipakai untuk tipe pengalaman yang luas. Menurut Kinast, pengalaman yang cocok direfleksikan adalah segala pengalaman hidup yang membangkitkan ketertarikan dan feeling, dengan cara menyarankan suatu pemaknaan lebih dalam dan penting mengenai relasi partisipan dengan Allah dan sesama.62 Dalam hal ini maka gaya Spiritual Wisdom ini cocok dengan usaha pencarian akan identitas diri remaja sebagai orang Kristen didalam dunia yang semakin plural karena topik ini jelas penting dan dalam serta berdampak besar pada relasi remaja dengan Allah dan sesama. Bagaimanapun juga menemukan vokasi remaja dalam Kristus pastilah berbicara mengenai relasi dengan Allah dan dengan sesama.

Lebih lanjut lagi pembagiaan pengalaman menurut Killen & de Beer menjadi empat source menyebabkan remaja dapat merefleksikan beragam hal secara bervariasi. Ini memudahkan remaja untuk menggali dan mengeksplorasi beragam pengalaman dalam rangka penemuan jati diri. Ditengah situasi plural yang dihadapi remaja jaman sekarang, refleksi teologis ini memampukan remaja membawa berbagai hal (bahkan bisa dibilang hampir segala macam pengalaman) dan mendialogkannya dengan tradisi kekristenan. Remaja bisa merefelksikan pengalaman pribadinya dalam interaksi sehari-hari, remaja bisa merefleksikan ide-ide atau cara berperilaku masyarakat, atau mungkin suatu kasus yang dia temukan dari internet. Keleluasaan dan kekayaan ragam pengalaman yang dapat direfleksikan ini memperkaya proses refleksi teologis remaja. Ketika proses refleksi teologis ini berjalan baik dan dapat mencapai insight-insight maka remaja dapat terhindar dari kebingungan akibat keberagaman duniannya.

Faktor lain adalah pendekatan ini memberi ruang lebih kepada penggalian feeling dan penemuan imaji. Seperti yang dikatakan Killen & de Beer, imaji itu bersifat intelktual, cerdas

61 Ibid., h.58, 62

62 Ibid., h.24

(16)

tapi bukan terlalu diintelktualkan atau dirasionalisasi.63 Imaji karena lebih dekat dengan feeling, terasa lebih luas, lebih mentah namun lebih holistik menangkap esensi pengalaman.

Menurut penulis dalam berbicara topik yang abstrak dan luas seperti identitas diri, penggalian dan eksplorasi mendalam terhadap feeling dan imaji dapat membantu remaja berefleksi teologis secara lebih mudah. Hal ini karena menangkap imaji mungkin tidak membutuhkan daya pikir abstrak sebanyak yang dibutuhkan menganalisa dan mengkritisi pengalaman pribadi. Ini adalah kenyamanan (convinient) tersendiri bagi remaja terlebih lagi karena pada masa remaja baru berkembang pola pemikiran yang lebih abstrak-konseptual. Selain itu penulis merasa bahwa imaji dapat menangkap suatu pengalaman secara lebih mendalam.

Mengkorelasikan imaji dengan tradisi kristiani kemungkinan menghasilkan insight yang lebih kuat dan membekas di dalam diri remaja.

Hal lain lagi yang menarik adalah Killen mengajukan tema-tema sentral dari warisan tradisi Kristiani sebagai usaha menjawab pertanyaan klasik manusia. Sayangnya jawaban- jawaban (yang sekarang menjadi doktrin) itu tercerabut dari konteks pertanyaannya sehingga menjadi bisu, tidak relevan, dan sulit dipahami.64 Melalui penggalian kembali tema-tema ini dalam proses korelasi ini dapat membantu remaja untuk mengenali imannya sebagai suatu proses dinamis memahami dunia dan bukan sekadar kumpulan informasi yang turun temurun harus dijalankan dan diikuti semata. Kesadaran ini penting dalam proses pencarian identitas sebagai orang Kristen sehingga identitas tersebut menjadi menarik dan menggugah hati.

Identitas Kristen menjadi cara individu memahami peran dan posisinya dalam dunia yang terkait dengan konteks masanya dan bukan sekadar aturan baku yang turun temurun.

Disamping itu ketika remaja mampu mengenali tema-tema sentral dalam Kekristenan maka sedikit banyak remaja berproses untuk semakin mengenali Kekristenan itu sendiri. Proses ini pada akhirnya membantu remaja dalam menemukan identitasnya dalam Kristus. Jadi disamping pemakaian tema-tema sentral Kekristenan membantu remaja dalam proses refleksi teologis dan menemukan insight, pemakaian tema-tema itu membuat remaja semakin mengenal dan akrab dengan Kekristenan itu sendiri.

Meminjam kriteria yang diajukan The Whiteheads mengenai metode refleksi teologis yang baik65, penulis merasa metode Spiritual Wisdom dari Killen & de Beer ini cukup portable, performable, dan communal bagi remaja. Portable karena remaja dapat melakukan ini sendiri dalam kesehariannya. Performable karena metode ini mudah, mengajak remaja melihat pengalaman-pengalamannya sendiri dan mengkorelasikannya dengan tradisi

63 Killen & de Beer, op.cit., h.37

64 Ibid., h.132-133

65 Whitehead & Whitehead, op.cit., h.3

(17)

kekristenan. Memang perlu berlatih juga untuk melakukan tahapan-tahapan refleksi itu, terutama mengenai mendeskripsikan pengalaman tanpa menginterpretasi, mengenali feeling dan imaji, serta mengajukan pertanyaan korelasional dengan tradisi kekristenan. Namun setidaknya proses ini lebih familiar karena metode ini dibangun atas kerangka movement toward insight yang sudah rutin dilakukan hanya sering tidak disadari. Metode ini juga cukup communal karena dapat dipakai dalam setting komunitas bersama. Hal ini sangat mendukung bagi remaja karena identitas mereka sedikit banyak ditentukan oleh lingkungan pergaulan dan teman-teman sebaya. Ketika metode ini dipakai bersama-sama maka insight dalam kelompok akan lebih kuat pengaruhnya bagi remaja.

Killen & de Beer mengajukan 3 aspek yang menolong dalam melakukan insight yaitu doa, perencanaan dan orang lain / komunitas. Doa menolong remaja yang berada dalam proses pencarian identitas diri ini senantiasa mencoba terhubung dengan Allah. Aktivitas spiritual sederhana ini dapat menolong remaja menumbuhkan keterhubungan dan relasi dengan Allah secara otentik, dengan demikian menolong dalam penemuan dan penggalian identitas dirinya sebagai pengikut Kristus. Perencanaan spesifik dan terencana bagi remaja tentu bermanfaat dalam menangkap suatu konsep identitas diri yang abstrak dan menerjemahkannya dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan praktis. Dalam masa remaja dimana terdapat banyak hal menarik yang dapat mengalihkan fokus dan perhatian remaja, perencanaan membantu remaja belajar setia mengerjakan suatu hal. Aspek ketiga yaitu orang lain dan komunitas menjadi sarana yang baik untuk membantu remaja melakukan insightnya.

Dukungan dan perhatian dari orang-orang sekitar serta dorongan untuk menemukan peran dan tempatnya dalam komunitas dapat mendorong remaja lebih serius mengerjakan insightnya.

E. Strategi dan Kebijakan

Jadi sampai disini dapat kita simpulkan bahwa remaja yang perlu menemukan identitas kekristenan dalam dunia yang makin pluralis ini dapat tertolong dengan melakukan refleksi teologis gaya Spiritual Wisdom dari Killen & De Beer. Tentunya untuk dapat menerapkan bahkan menjadikan refleksi teologis sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan bergereja remaja maka perlu dilakukan beragam strategi dan perubahan kebijakan untuk mengakomodirnya. Dengan demikian penulis hendak mengajukan beberapa strategi yang tampaknya perlu dilakukan dalam komunitas remaja di gereja.

(18)

Yang perlu dilakukan tentu saja adalah mengubah model kebaktian pada minggu- minggu tertentu dari kebaktian dengan kotbah dari pembicara menjadi kebaktian dengan melakukan refleksi teologis. Perubahan ini untuk tentu saja memberi ruang melakukan refleksi teologis tanpa harus menambah pertemuan lain diluar kebaktian (yang belum tentu bisa dihadiri oleh jemaat remaja dengan kegiatan sekolah dan lesnya yang padat). Menurut penulis model demikian dapat dilakukan sebanyak satu kali setiap bulan untuk masa-masa awal. Ketika jemaat remaja sudah lebih terbiasa maka dapat dilakukan sampai dua kali (atau mungkin tiga kali) dalam sebulan.

Kebijakan ini perlu didukung dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dimana refleksi teologis dapat dilakukan secara komunal bersama beberapa orang kawan. Kelompok- kelompok kecil ini sebaiknya dibentuk dengan mempertimbangkan kelompok pertemanan dari remaja. Jika remaja ditempatkan dalam kelompok bersama dengan sahabat-sahabat dekatnya maka ini mempermudah remaja untuk berbagi kehidupannya satu sama lain.

Disamping itu kita tidak perlu berusaha membangun relasi dan keakraban dalam kelompok tersebut dari nol. Masing-masing kelompok kemudian diberi pemimpin kelompok kecil (entah dari pemuda, remaja yang lebih tua, atau dari antara remaja-remaja dalam kelompok tersebut). Para pemimpin ini akan menjadi orang yang mengkoordinasi dan memfasilitasi pertemuan dalam kelompok-kelompok agar berjalan dengan baik.

Terkait dengan perubahan ini maka para pendamping remaja (pembimbing, tenaga kategorial remaja, maupun majelis pendamping) dan pemimpin kelompok kecil perlu dilatih dan membiasakan diri melakukan refleksi teologis terlebih dahulu. Hal ini karena orang- orang inilah yang akan menolong jemaat untuk melakukan refleksi teologis bersama-sama.

Pendamping remaja dan pemimpin kelompok kecil perlu melakukan refleksi teologis terlebih dahulu dalam pertemuan-pertemuan rutin tersendiri. Dalam setiap pertemuan tersebut, setiap pendamping remaja dapat mempraktekan proses berefleksi secara teologis bersama-sama dengan para pemimpin kelompok kecil di dalam kelompok.

Selain itu hal lain yang perlu dilakukan adalah menciptakan kurikulum yang tepat untuk membantu remaja dalam proses berefleksi teologis untuk menemukan insight mengenai identitas diri sebagai orang Kristen. Mungkin dapat disajikan tema-tema terkait relasi dengan Allah seperti gambar diri, rencana dan karya Allah bagi dirinya, keselamatan dalam Kristus.

Remaja juga bisa diajak belajar mengenali siapa Allah misal sebagai Raja, sebagai Tuhan, atau sebagai Sahabat. Remaja juga dapat diajak membicarakan tema mengenai relasi dengan sesama seperti membahas perjumpaan dengan agama lain, pluralisme, relasi yang indah dengan sesama, atau membahas keprihatinan dan kerinduan Allah akan dunia ini. Pembuatan

(19)

kurikulum khusus ini dapat dikerjakan oleh pendamping remaja dengan bekerjasama dengan pendeta jemaat dan lembaga yang secara reguler menerbitkan bahan-bahan pembinaan misal LPPS atau Binawarga.

Untuk memperkaya masukan pengalaman remaja, maka remaja dapat pula dipertemukan dengan realitas-realitas yang berbeda. Hal ini bisa dilakukan dengan kontak langsung ataupun memakai media-media tulis atau elektronik. Remaja bisa diajak menonton film tertentu, atau diberi tugas membaca sebuah novel atau buku cerita singkat. Melihat dari konteks remaja saat ini dan rendahnya minat baca di Indonesia maka tugas membaca mungkin bukan metode yang efektif meski sesungguhnya membaca dapat menggali berbagai kekayaan. Untuk mempertemukan dengan realitas maka remaja bisa diajak mengadakan kunjungan ke panti asuhan, rumah singgah, perkampungan kumuh, akademi-akademi khusus misal militer atau sepak bola. Remaja juga bisa didorong mengadakan dialog-dialog antar agama misal dengan orang Muslim (entah pergi ke pesantren, diadakan digereja, atau ditempat ‘netral’), orang Budha, bahkan pun kalau memang bisa dengan orang-orang ateis (jika ada komunitasnya di Indonesia). Kunjungan dan dialog ini memungkinkan remaja untuk membuka wawasannya, melihat situasi dan nilai-nilai hidup yang berbeda dan akhirnya mendorong remaja menggumuli identitas dirinya. Beberapa kunjungan atau dialog ini mungkin terlihat kontroversial dan memang beresiko. Namun penulis yakin bahwa untuk memantapkan diri memilih suatu jalan, maka seseorang perlu melihat sebanyak mungkin (kalau tidak semua) jalan yang ada. Barulah pilihan yang diambil terasa lebih bertanggungjawab.

Demikianlah yang dapat penulis sajikan. Akhir kata, penulis sekali lagi hendak menyatakan bahwa masa remaja adalah masa yang krusial dalam pembentukan iman individu. Sebagai manusia yang sedang dalam proses pencarian identitas, masa manakah yang lebih baik untuk mengenalkan Kristus dan membentuk identitas Kristiani selain masa- masa remaja ini?

DAFTAR PUSTAKA

Christiani, T. K., Sejarah GKI Ngupasan 75th. GKI Ngupasan, 2009.

Fleming, J. S. Piaget, Kohlberg, Gilligan, and Others on Moral Development. 2006.

Huffman, K., Vernoy, M., & Vernoy, J. Psychology in action 5th edition. New York: John Wiley & Sons, Inc., 2000.

(20)

Killen, P.O. & de Beer, J., The Art of Theological Reflection. New York: The Crossroad Publishing Company, 2000.

Kinast, R. L., What Are They Saying About Theological Reflection? New Jersey: Paulist Press, 2000.

Placher, W. C. Unapologetic Theology: A Christian Voice in a Pluralistic Conversation.

Kentucky: Westminster/John Knox Press, 1998.

Santrock, John W. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5, Jilid 2.

Indonesia, Erlangga, 2002.

Seymour, J (Editor). Mapping Christian Education: approaches to congregational learning.

Nashville: Abingdon Press, 1997.

Whitehead, J.D. & Whitehead, E. E., Method in Ministry: Theological Reflection and Christian Ministry. Wisconsin: Sheed & Ward, 1999.

http://generationz.com.au/digital/

http://generationz.com.au/years-of-birth/

http://people.howstuffworks.com/culture-traditions/generation-gaps/generation-z.htm http://psychology.about.-com/od/psychosocialtheories/a/identity-versus-confusion.htm http://www.lutheran.edu.au/assets/Uploads/pr/general/SchooLink/SCHOOLINKVol163.pdf http://www.psychologytoday.com/basics/adolescence

http://www.simplypsychology.org/Erik-Erikson.html

http://www.who.int/maternal_child_adolescent/topics/adolescence/dev/en/

Referensi

Dokumen terkait