Abstrak
Tulisan ini membahas tentang kesalehan sosial yang terkandung dalam film
“Mencari Hilal” tahun 2015 besutan Ismail Babeth. Film ini merepresentasikan eksistensi kesalehan sosial di kalangan masyarakat telah mengalami kemerosotan.
Hal itu disebabkan oleh minimnya kesadaran masyarakat untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Kondisi tersebut diperburuk dengan meningkatnya angka penggunaan alat-alat elektronik dan sosial media. Oleh karena itu diskusi ini mencoba menguak apa saja bentuk kesalehan sosial yang terdapat dalam film. Dan bagaimana resepsi Hadis yang muncul dalam film “Mencari Hilal”. Untuk mengkaji hal tersebut penulis menggunakan teori resepsi eksegesis dan resepsi fungsional. Yang mana teori resepsi eksegesis merupakan tindakan menafsirkan atau mengamalkan.
Sedangkan teori resepsi fungsional ialah memperlakukan teks dengan tujuan praktikal dan manfaat yang akan didapat oleh pembaca (tidak langsung) serta lebih mengunggulkan pada oral aspect dari pembacaan teks. Dengan menggunakan teori tersebut penulis berhasil menemukan bentuk kesalehan sosial yang berlandaskan dengan Hadis Nabi yaitu larangan nepotisme, toleransi, musyawarah, dan tolong menolong. Kesalehan sosial tersebut terkadang berupa teks Hadis nabi yang muncul dalam bentuk dialog dan juga hasil dari interpretasi dalam adegan.
Kata Kunci: Film, Resepsi, Kesalehan Sosial.
REPRESENTASI KESALEHAN SOSIAL DALAM FILM
“MENCARI HILAL” (KAJIAN LIVING HADIS)
Ahmad Hadi
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Email: [email protected]
Fatur Novan Rahmatullah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Email: [email protected]
A. Pendahuluan
Pengajaran nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis terus mengikuti zaman. Banyak teknologi-teknologi canggih yang sudah bisa menjadi wadah pengajaran nilai-nilai tersebut, seperti halnya film. Dikemasnya
sebuah nilai-nilai ajaran al-Qur’an dan Hadis dalam bentuk film, menjadikannya lebih menyenangkan. Selain itu, film dapat menjadi senjata untuk berdakwah, bahkan berjihad, melalui perspektif yang dibawa oleh sutradara, penulis skenario, maupun
produser. Para penonton dapat memahami nilai-nilai film dengan memproduksi makna yang sudah terkandung didalamnya.1
Termasuk dalam hal ini film “Mencari Hilal”, film ini merupakan film bergenre Islami yang di dalamnya hidup nilai-nilai Qur’an dan Hadis. Dalam konteks kajian akademik, hal seperti ini dikenal dengan living Qur’an dan Hadis, yakni suatu bentuk kajian praktik, tradisi, ritual atau perilaku yang hidup masyarakat yang berdasarkan Al- Qur’an dan Hadis.
Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan, penelitian yang berhubungan dengan tema diklasifikasi dalam dua kategori. Pertama, kajian living Hadis yang menjadikan film sebagai objek penelitianya.
Kedua, penelitian tentang film “Mencari Hilal”. Untuk kategori yang pertama, penulis menemukan beberapa penelitian living Hadis yang menjadikan film sebagai objek materialnya. Seperti, kajian living Hadis dalam film “Papi dan Kacung” di instagram, yang menguak ragam resepsi atas Hadis Nabi yang terkandung didalamnya.2 Kemudian ada Mila Aulia dan Miski yang meneliti bagaimana film “Ayat Tentang Cinta” bisa menjadi model interpretasi atas al-Qur’an dan Hadis.3 Dan Muhammad Fajri yang membahas resepsi Hadis Nabi yang terdapat dalam film “Surau dan Silek”.4
Untuk kategori yang kedua, setelah ditelusuri, penelitian yang mengangkat film Mencari Hilal sebagai objek materialnyasudah ada. Seperti skripsi Tb. Zhiya Maulana5 yang
1 Primi Rohimi, “Keberagaman Islam dalam Film Indonesia Bertema Islam,” Jurnal Dakwah, (2015)..
2 Ihsan Nurmansyah, “Islam dan Media Sosial: Kajian Living Hadis dalam Film,” Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya, (2019)..
3 Mila Aulia & Miski, “Film Islami sebagai Model Interpretasi atas Al-Qur’an dan Hadis: Kasus Film Ayat Tentang Cinta,”. Jurnal Theologia, (2020)..
4 Muhammad Fajri, “The Concept Of Pious Children In The Movie “Surau Dan Silek”: A Living Hadith Study,” Jurnal Living Hadis, (2020)..
5 Zhiya Maulana Yusuf, Analisis Semiotika
membahas analisis semiotika makna ikhtiar dalam film Mencari Hilal, skripsi Nur Rahma yang merepresentasikan komunikasi tepa selira dalam film Mencari Hilal ini.6 Untuk itu, penelitian ini menjadi menarik karena belum adanya penelitian sebelumnya yang masuk untuk membahas bagaimana praktik- praktik Hadis yang terkandung dalam film
“Mencari Hilal” ini, baik melalui dialog tokoh maupun hasil interaksi tokoh.
Tujuan disusunnya artikel ini adalah untuk memperkaya khazanah keilmuan terutama dalam penelitian di bidang Hadis.
Selain itu tulisan ini juga berusaha untuk melihat pola kehidupan dan perilaku masyarakat yang berlandaskan Hadis di media sosial, dalam hal ini terbatas pada sebuah film yang berjudul “Mencari Hilal”.
Berangkat dari keinginan untuk menguak ekspresi dan resepsi masyarakat terhadap teks keagamaan, dalam hal ini adalah Hadis dalam film tersebut, penulis merumuskan beberapa pertanyaan guna mengkaji film ini.
Pertama, apa saja bentuk kesalehan sosial yang terdapat dalam film. Kedua, bagaimana resepsi Hadis yang muncul dalam film
“Mencari Hilal”.
Sebelum melakukan penelitian ini, penulis memiliki asumsi bahwa agama dan segala perangkatnya merupakan sumber utama kebudayaan di masyarakat. Hadis yang merupakan salah satu bagian sekaligus sumber ajaran dalam agama Islam, sedikit banyak pasti mempengaruhi perilaku dan budaya masyarakat muslim. Kaum muslimin akan senantiasa mencoba untuk memahami ajaran Islam melalui hadis-hadis yang mampu diakses oleh mereka. Baik pemahaman
Makna Ikhtiar dalam Film Mencari Hilal (Jakarta:
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, 2019).
6 NurRohman, Representasi Komunikasi Tepa Selira Dalam Film “Mencari Hilal” Karya Ismail Basbeth.
Salatiga: Program Studi Komunikasi Dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN. (2019).
tekstual maupun kontekstual. Film
“Mencari Hilal” ini bersumber dari berbagai pemahaman masyarakat terhadap Hadis. Oleh karena itu, film ini terbilang cukup menarik untuk diteliti. Selain mengandung ajaran Islam, film “Mencari Hilal” juga menyajikan situasi sosial keagamaan yang erat kaitanya dengan kondisi masyarakat saat ini.
Dalam menggali data, penelitian ini menggunakan metode observasi dengan cara menyaksikan film tersebut secara langsung. Di sini penulis menempatkan film sebagai data primer. Selain itu penulis juga menggunakan data-data pendukung seperti jurnal dan artikel-artikel terkait dengan film.
B. Sejarah Film Islami di Indonesia
Meski dianggap sebagai negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia, wajah perfilm-an Indonesia pada awal mulanya kurang begitu produktif dalam pembuatan film bernuansa Islami. Bahkan hampir setengah abad setelah lahirnya film pertama di Indonesia “Loetoeng Kasaroeng”, tidak ada satu pun film produksi tanah air yang berlatar belakang agama Islam. Hal itu disebabkan kondisi masyarakat Indonesia yang masih berperan sebagai konsumen atau penikmat pertunjukan film. Selain karena pola pikir untuk membuat film itu belum ada, Indonesia pada saat itu masih berada di bawah kekuasaan penjajah. Film “Loetoeng Kasaroeng” sendiri muncul sekitar tahun 1926 dan diproduseri oleh perusahaan milik belanda yaitu NV Java Film Company.7
Sampai masa di mana Indonesia mendapatkan kemerdekaannya, film-film di Indonesia masih didominasi oleh film- film buatan penjajah belanda. Namun, pada sekitar tahun 1940-an sampai tahun 1945-an di mana kekuasaan atas Indonesia berpindah dari belanda ke jepang, perfilm-an Indonesia yang awalnya digunakan sebagai media
7 Edo Nabil Arovi, Tema Islami dalam Genre Film di Indonesia Tahun 1959-2008. (Salatiga: 2018)
hiburan berubah menjadi media propaganda oleh kekuasan jepang pada saat itu. Setelah masa kekuasaan jepang, kemudian banyak bermunculan film-film yang bernuansa perjuangan. Dalam kurun waktu mulai tahun 1945–1959 kebanyakan film-film Indonesia bernuansa perjuangan.8 Dari segelintir pemaparan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa media massa seringkali dipengaruhi oleh siapa yang berkuasa pada saat itu. Salah satu tujuanya adalah untuk menarik perhatian masyarakat secara luas.
Sejarah film Islam di Indonesia sendiri baru dimulai sekitar tahun 1959 oleh seorang sutradara bernama Asrul Sani.
Pada tahun tersebut muncul sebuah film yang berjudul “Titian Serambut dibelah Tujuh”. Film yang disutradari oleh Asrul Sani ini menjadi tonggak awal munculnya film bernuansa Islami di Indonesia.9 Film ini menceritakan tentang seorang guru agama Islam sedang mencoba untuk mengajar di sebuah desa. Di desa tersebut Ibrahim (nama guru tersebut) selalu mendapat berbagai rintangan mulai dari ancaman oleh sesama guru agama, sesepuh desa, sampai ancaman jika menolong Halimah (orang yang dianggap gila oleh penduduk setempat karena sering bertingkah laku aneh), padahal Halimah seperti itu disebabkan trauma oleh fitnah yang dilemparkan kepadanya, selain itu dia juga hampir menjadi korban pemerkosaan.
Dengan diputarnya film tersebut, Asrul Sani, berusaha menunjukkan bahwa komunitas agama Islam pun dapat direalisasikan dalam bentuk film.10
Setelah kemunculan film “Titian Serambut Dibelah Tujuh” film-film bertemakan Islam lainya pun mulai banyak bermunculan meski tidak begitu intens
8 Ibid.
9 Hakim Syah, "Dakwah Dalam Film Islam Di Indonesia," Jurnal Dakwah, (2013) hal. 263-282.
10 Edo Nabil Arovi, Tema Islami dalam Genre Film di Indonesia Tahun 1959-2008 (Salatiga: 2018).
seperti akhir-akhir ini. selain itu, tema yang diangkat pada saat itu pun masih bisa dibilang monoton karena hanya berusaha untuk menunjukan eksistensi dari komunitas muslim itu sendiri. Hal tersebut sangat bisa dimaklumi mengingat situasi bangsa Indonesia yang memiliki keragaman suku dan agama. Sedangkan di sisi lain terdapat juga komunitas yang memiliki ideologi berlawanan mencoba untuk bersaing dengan komunitas muslim pada saat itu dalam menanamkan ideologi mereka. Keduanya hampir bersaing di segala bidang termasuk dakwah melalui karya-karya, salah satunya adalah film. Ya, mereka adalah PKI (Partai Komunis Indonesia). Oleh karena itu, perwujudan nilai keislaman dalam film pada masa tersebut hanya berkutat pada keinginan untuk menunjukan eksistensi dari komunitas muslim itu sendiri.
Kemudian mulai sekitar tahun 1980- an mulai nampak pergeseran tema yang diangkat dalam pembuatan film bernuansa Islami. Ditandai dengan munculnya film “Sunan Kalijaga”, dunia film Islam Indonesia mulai mencoba hal baru dalam membingkai karyanya. Mereka mencoba untuk mengangkat tema kesejarahan Islam di Indonesia dalam filmnya. dengan mengusung nama-nama yang memiliki pengaruh besar dalam khazanah Islam nusantara yaitu para wali terutama wali Sembilan (Wali Songo) para pembuat film berharap dapat menarik lebih besar minat warga nusantara kedalam dunia film bernuansa Islami. Dan hasilnya pun lumayan film ini masuk kedalam beberapa nominasi film, tokoh dan juga sutra dara terbaik versi FFI (Festival Film Indonesia) atau yang sekarang dikenal dengan piala citra. film ini menjadi film terbaik ke-2 di Jakarta tahun 1982 dengan jumlah penonton sekitar 500-an ribu penonton.11
11 Irwansyah, A, Menengok Wali Songo di Film.
Retrieved from Archive tabloidbintang: https://
archive.tabloidbintang.com/extra/nostalgia/15269-
Sejak kemunculan film “Sunan Kalijaga” ini kemudian beberapa film yang mengangkat tema serupa pun muncul, seperti film “Sunan Gunung Djati” dan film
“Sembilan Wali”. Dari sini dapat kita lihat bahwa pengaruh dari tokoh besar dapat menarik minat masyarakat dalam menonton film bernuansa Islam pada masa itu. Namun di akhir tahun 1990-an angka produksi film di Indonesia menurun drastis. Salah satu penyebab utamanya adalah krisis moneter yang melanda Indonesia pada akhir dekade 90-an. Krisis moneter tersebut menyerang hampir ke semua sendi kehidupan bangsa Indonesia termasuk juga dunia film. Kondisi perekonomian Indonesia pada saat itu benar-benar terpuruk. Sehingga hampir satu dekade lamanya film bernuansa Islam baru diproduksi kembali yaitu; film “Kiamat Sudah Dekat” besutan Deddy Mizwar. Sejak saat itu dimulailah kembali perjalanan film Islami di Indonesia.
Puncaknya pada tahun 2008, Hanung Bramantyo seorang penulis sekaligus sutradara asal Yogyakarta untuk pertama kalinya mencoba menggarap sebuah film Islami yang isi serta alur ceritanya diangkat dari sebuah novel. Di samping karena ingin mencoba hal baru, novel yang diangkat ini juga merupakan novel yang sangat diminati oleh konsumen. Sehingga apabila diangkat ke dalam film, akan menjanjikan nilai komersil yang sangat menggiurkan.
Oleh karena itu, Hanung Bramantyo menggunakan Novel “Ayat-Ayat Cinta”
karangan Habiburrahman El-Shirazy sebagai judul sekaligus alur cerita film yang akan digarapnya. Film ini terbilang sukses besar, sekitar 3,5 juta orang tercatat sebagai penonton film tersebut.12
menengok-wali-songo-di-film.html (Diakses 23 Agustus 2011).
12 Hakim Syah, "Dakwah Dalam Film Islam Di Indonesia. Jurnal Dakwah," (2013) hal. 263-282.
Sejak booming-nya film “Ayat-Ayat Cinta” tersebut banyak dari sutradara dan produser film Indonesia mulai memproduksi film bernuansakan Islami. Baik yang berangkat dari sebuah Novel maupun yang berangkat dari tokoh dan pemuka agama di negeri ini. Film-film yang rilis setelah film “Ayat-Ayat Cinta” ialah seperti film
“Ketika Cinta Bertasbih” tahun 2009 yang di sutradarai Chaerul Umam, film “Dalam Mihrab Cinta” tahun 2010 yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo, sampai pada film
“Mencari Hilal” ini.
C. Potret Film Mencari Hilal
Film “Mencari Hilal” ini menceritakan perjalanan, tokoh utama, seorang pria lanjut usia (Mahmud yang diperankan Deddy Sutomo) yang ditemani oleh anaknya (Heli yang diperankan oleh Oka Antara) untuk melanglang buana mencari hilal dan melihatnya secara mata telanjang.
Perjalanan tersebut dilatar belakangi oleh rasa geram dikarenakan mendengar isu sidang isbat yang menelan dana sampai Sembilan milyar. Hal ini membuat Mahmud ingat akan tradisi mencari hilal yang berlangsung di pondok pesantrennya dulu sehingga ia ingin mengulang tradisi mencari hilal yang sudah lama hilang tersebut. Dalam perjalanan seorang ayah dan anak inilah yang banyak mengandung ajaran-ajaran, gambaran- gambaran, dan nilai-nilai yang bercorak atas Hadis Nabi.
Film yang kental akan nuansa religinya ini merupakan hasil karya sutradara Ismail Basbeth. Film yang dirilis pada 15 Juli 2015 ini juga berhasil menyabet berbagai penghargaan. Adapun para pemain dalam film “Mencari Hilal” yaitu Deddy Sutomo sebagai Mahmud, Oka Antara sebagai Heli, Torro Margens sebagai Arifin, dan Erythrina Baskoro sebagai Halida.
D. Resepsi Hadis dalam film “Mencari
Hilal”
Pada dasarnya, resepsi merupakan teori yang dipakai dalam dunia sastra dalam menganalisis sebuah teks. Menurut Saifuddin resepsi merupakan aliran yang meneliti teks dengan bertolak kepada pembaca yang memberi reaksi atau tanggapan terhadap teks tersebut.13 Dalam kajian living, resepsi dibagi menjadi tiga tipologi, pertama resepsi eksegesis yakni tindakan menafsirkan atau mengamalkan. Kedua, resepsi estetis yaitu menerima teks dari sisi keindahannya.
Yang ketiga, resepsi fungsional ialah memperlakukan teks dengan tujuan praktikal dan manfaat yang akan didapat oleh pembaca (tidak langsung) serta lebih mengunggulkan pada oral aspect dari pembacaan teks.14
Jika dikaitkan dengan film “Mencari Hilal”, yang muncul dalam film ini ialah resepsi eksegesis dan resepsi fungsional. Hal ini bisa dilihat dari teks-teks Hadis Nabi yang muncul di beberapa tempat dalam bentuk dialog dan terkadang juga muncul dari hasil interpretasi tokoh dalam bentuk adegan di dalam film. Dalam penjelasan berikutnya mungkin penulis akan menyajikan teks-teks Hadis yang terkandung dalam film baik yang muncul dari dialog antar tokoh maupun dari adegan tokoh.
1. Hadis Mengenai Larangan Nepotisme Nepotisme adalah perilaku dengan memanfaatkan jabatan atau kedudukan untuk mendapatkan keuntungan bagi pribadi atau kelompok dengan jalan melanggar ketentuan-ketentuan yang ada.15 Nepotisme dalam pandangan penulis ialah perilaku curang yang mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok dengan memanfaatkan jabatan atau kerabat. Dalil yang digunakan
13 Saifuddin Zuhri, Living Hadis ;Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi (Yogyakarta: Q-Media, 2018) 14 A. Rafiq, The Receptionof the Qur'an in Indonesia.
A Case study of the Place of the Qur'an in A Non- Arabic Speaking Community. (Univ Temple, 2014).
15 Kurniati, "Nepotisme dalam Persepektif Hadis,"
al-Daulah, (2015).
untuk kasus seperti nepotisme ialah Hadis Nabi berikut
ِنْب َيَْي ْنَع ٌرْـيَهُز اَنَـثَّدَح َسُنوُي ُنْب ُدَْحَأ اَنَـثَّدَح اَعَد َلاَق ُهْنَع َُّللا َيِضَر اًسَنَأ ُتْعَِس َلاَق ٍديِعَس
ْمَُل َبُتْكَيِل َراَصْنَْلا َمَّلَسَو ِهْيَلَع َُّللا ىَّلَص ُِّبَّنلا
ْنِم اَنِناَوْخِِل َبُتْكَت َّتَح َِّللاَو َل اوُلاَقَـف ِنْيَرْحَبْلِب
َكِلَذ ىَلَع َُّللا َءاَش اَم ْمَُل َكاَذ َلاَقَـف اَهِلْثِِب ٍشْيَرُـق اوُِبْصاَف ًةَرَـثَأ يِدْعَـب َنْوَرَـتَس ْمُكَّنِإَف َلاَق ُهَل َنوُلوُقَـي
ِضْوَْلا ىَلَع ِنْوَقْلَـت َّتَح
“Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Yunus telah bercerita kepada kami Zuhair dari Yahya bin Sa'id be aku mendengar Anas radliallahu 'anhu berkata: Nabi
Percakapan yang jelas terkait dengan nepotisme ialah saat Heli mengatakan
“kalau begitu mbak harus membantu aku mbak, sistuasinya sudah genting banget mbak, aku Cuma punya waktu dua minggu untuk berangkat ke Nikaragua.
Aku mikirnya kalau ada orang dalem prosesnya bakal cepet” setelah itu dipotong oleh kakaknya, Halida “jarene aktivis kok ngajak KKN, aktivis opo”
(katanya aktivis kok ngajak KKN,
shallallahu 'alaihi wasallam memanggil Kaum Anshar untuk menetapkan bagian mereka (harta fa'i) negeri Bahrain, maka mereka berkata; "Tidak, demi Allah, hingga Tuan menetapkan juga (bagian yang sama) buat saudara- saudara kami dari Quraisy". Maka Beliau jawab ucapan mereka sekehendak Allah.
Selanjutnya Beliau bersabda: "Kelak kalian akan melihat setelahku sikap- sikap egoism, maka bersabarlah hingga kalian berjumpa denganku di telaga al- Haudl". (H.R. Bukhari Nomor 2928) Dalam film”Mencari Hilal”, pesan yang berkaitan dengan larangan nepotisme ialah saat Heli meminta tolong kepada kakaknya, Halida, untuk membuatkan paspor lebih cepat, karena akan segera digunakan.
aktivis apa itu). Melalui dialog tersebut, terlihat bahwa Halida tidak mau melakukan KKN. Dalam hal ini termasuk nepotisme, karena Heli ingin memanfaatkan kedudukan kakaknya yang bertugas mengurus paspor untuk membuatkan paspor untuk Heli dengan waktu yang lebih cepat.
2. Hadis Mengenai Toleransi
Toleransi dalam Islam dikenal dengan istilah tasamuh yang artinya bermurah hati. Inti dari toleransi ialah Gambar 1: Adegan Heli meminta tolong pada kakaknya, Halida
mengajarkan untuk bersifat lapang dada, berjiwa besar, memiliki pemahaman yang luas sehingga tidak memaksakan kehendak sendiri, mempersilahkan orang lain untuk berpendapat meski berbeda pendapat. Tujuan toleransi tidak lain untuk kerukunan hidup antara manusia.16
Dalam beragama, setiap insan pasti juga mendambakan hidup damai meskipun multi agama dan keyakinan.
Hal tersebut bisa terwujud apabila setiap umat menghargai toleransi. Tanpa adanya toleransi, antar umat beragama sulit bahkan tidak pernah terjadi.
Karena toleransi dan kerukunan adalah bersifat kausalitatif, sehingga toleransi adalah syarat mutlak bagi terwujudnya kerukunan itu sendiri.17 Selain itu, toleransi merupakan sikap agama yang paling dicintai oleh Allah, seperti penjelasan Nabi SAW dalam sebuah Hadis.
16 Nurliana Damanik, “Toleransi dalam Islam,”
Shahih: Jurnal Ilmu Kewahyuan, 2019.
17 Suryan A. Jamrah, "Toleransi Antar Umat Beragama: Perspektif Islam," Ushuluddin, (2015).
ْنَع َقاَحْسِإ ُنْب ُدَّمَُم َنَرَـبْخَأ َلاَق ُديِزَي ِنَثَّدَح
َلاَق ٍساَّبَع ِنْبا ِنَع َةَمِرْكِع ْنَع ِْيَصُْلا ِنْب َدُواَد
ِنَيْدَْلا ُّيَأ َمَّلَسَو ِهْيَلَع َُّللا ىَّلَص َِّللا ِلوُسَرِل َليِق
ُةَحْمَّسلا ُةَّيِفيِنَْلا َلاَق َِّللا َلِإ ُّبَحَأ
“Telah menceritakan kepada kami Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu 'Abbas, ia berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam; "Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?"
maka beliau bersabda: "Al Hanifiyyah As Samhah (yang lurus lagi toleran) " (H.R Abu Dawud Nomor 2003)
Terkait film “Mencari Hilal”, terdapat gambaran di mana masyarakat desa hidup tanpa adanya toleransi, yang terjadi adalah kerusuhan. Hal tersebut terlihat dalam adegan saat umat Kristiani yang sedang beribadah, kemudian dibubarkan oleh umat Muslim.
Gambar 2. Adegan kerusuhan antar umat beragama
Dalam adegan tersebut, salah satu umat Islam berkata kepada tokoh umat Kristen, yaitu Andi, “Ibadah ini tidak sah secara hukum, saya minta anda-anda semuanya bubar!”. Kemudian tokoh Kristen tersebut memohon maaf “maafkan kami, kalau kami dilarang ibadah di rumah kami
3. Hadis Mengenai Musyawarah
Musyawarah merupakan satu hal penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Karena musyawarah berperan penting dalam menyelesaikan masalah, khususnya permasalahan yang menyangkut orang banyak.18 (Mubarok, 2019) Oleh karena itu, jika ada masalah dalam suatu masyarakat, sebaiknya ada salah satu yang mengajak untuk bermusyawarah agar masalah tersebut dapat ditemukan solusinya. Sehingga nantinya bisa kembali hidup rukun, damai, dan tentram.
18 Ahmad Agnis Mubarok, "Musyawarah dalam Perspektif Al-Qur’an," Al-Qur'an dan Tafsir, (2019).
sendiri, lalu di mana kami harus beribadah”.
Namun, dalam adegan lain terdapat nilai toleransi yang disampaikan. Yaitu dimana Heli ditolong oleh Andi ketika habis dipukulin oleh warga. Andi sebagai umat Kristen menolong Heli tanpa memandang agamanya.
Hal tersebut selaras dengan sabda Nabi berikut:
ِهْيَلَع َّرَسَيْلَـف ُهاَخَأ ْمُكُدَحَأ َراَشَتْسا اَذِإ
“Apabila salah seorang kamu meminta bermusyawarah dengan saudaranya, maka penuhilah”. (HR. Ibnu Majah Nomor 3747)
Dalam film “Mencari Hilal” ini misalnya, musyawarah dapat menjadi solusi masyarakat atas konflik yang terjadi. Masyarakat berkumpul untuk membicarakan persoalan-persoalan yang terjadi, kemudian dicari solusi-solusi untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Gambar 3. Saat Andi sudah menolong Heli dengan membawanya ke tempat saudaranya
Dalam adegan musyawarah ini, masyarakat membahas persoalan ibadah umat Kristen, khususnya mengenai izin peribadahan umat Kristen. Setelah melakukan musyawarah akhirnya ditemukan titik terang atas persoalan yang terjadi. Ternyata yang melatarbelakangi ketidaknyamanan warga mengenai peribadahan umat Kristen adalah soal parkir dan sampah. Oleh karena itu pada adegan tersebut, tokoh umat Kristen, Andi, memohon maaf serta meminta saran mengenai persoalan tersebut. Kemudian pak RT memberikan solusi soal tempat parkir, yaitu dengan menggunakan tanah lapangan sepak bola yang luas.
4. Hadis Mengenai Tolong Menolong
Tolong menolong merupakan buah dari persaudaraan. Karenanya tidak akan berarti sebuah persaudaraan tanpa adanya kepedulian sesama. Untuk mewujudkan sikap tolong menolong tersebut, Rasulullah memberikan sebuah gambaran yang menjelaskan pentingnya ikatan sesama melalui hadis berikut:
ْنَع ٍلْيَقُع ْنَع ُثْيَّللا اَنَـثَّدَح ٍْيَكُب ُنْب َيَْي اَنَـثَّدَح
َرَمُع َنْب َِّللا َدْبَع َّنَأ ُهَرَـبْخَأ اًمِلاَس َّنَأ ٍباَهِش ِنْبا
َُّللا ىَّلَص َِّللا َلوُسَر َّنَأ ُهَرَـبْخَأ اَمُهْـنَع َُّللا َيِضَر
ُهُمِلْظَي َل ِمِلْسُمْلا وُخَأ ُمِلْسُمْلا َلاَق َمَّلَسَو ِهْيَلَع
ِف َُّللا َناَك ِهيِخَأ ِةَجاَح ِف َناَك ْنَمَو ُهُمِلْسُي َلَو
ًةَبْرُك ُهْنَع َُّللا َجَّرَـف ًةَبْرُك ٍمِلْسُم ْنَع َجَّرَـف ْنَمَو ِهِتَجاَح
َُّللا ُهَرَـتَس اًمِلْسُم َرَـتَس ْنَمَو ِةَماَيِقْلا ِمْوَـي ِتَبُرُك ْنِم
ِةَماَيِقْلا َمْوَـي
“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab bahwa Salim mengabarkannya bahwa 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhuma mengabarkannya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya.
Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan- kesusahan hari qiyamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari qiyamat".
(H.R Bukhari Nomor 2262) Gambar 4. Adegan musyawarah masyarakat desa
Dalam film “Mencari Hilal” yang mengandung nilai terkait tolong-menolong terdapat dalam adegan saat Junaidi mengantarkan pak Mahmud dan Heli ke tempat mas Arifin menggunakan mobil.
Selain dalam adegan tersebut, terdapat juga dalam adegan saat Andi menolong Mahmud dan Heli dengan meminjamkan motornya untuk pergi meneruskan pencariannya terhadap hilal.
Gambar 5. Adegan saat Junaidi mengantar Mahmud dan Heli
Gambar 6. Adegan saat Andi meminjamkan motornya untuk Mahmud dan Heli
E. Kesimpulan
Film 'Mencari Hilal' sendiri merupakan film religi yang menceritakan perjalanan seorang pria lanjut usia yang melanglang buana mencari hilal untuk dilihatnya secara langsung. Hal ini dilatar belakangi oleh isu-isu mengenai sidang isbat yang menelan dana hingga 9 M, oleh karena itu tradisi mencari hilal ini ingin dilakukan oleh pria tersebut. Dalam perjalanan ini banyak sekali pesan-pesan yang terkandung didalam film 'Mencari Hilal' ini. Selain itu film ini juga memunculkan beberapa kesalehan sosial, seperti larangan nepotisme, toleransi, musyawarah, dan tolong-menolong.
Pada umumnya, resepsi yang muncul dalam film ini ialah resepsi eksegesis dan fungsional, yaitu terkadang teks Hadis Nabi muncul dalam bentuk dialog dan terkadang dari hasil interpretasi dalam adegan. Resepsi Hadis dalam film 'Mencari Hilal' ini yang terkait dengan Kesalehan Sosial ada 4, yakni larangan nepotisme, toleransi, tolong-menolong, dan musyawarah. Dalam film ini, perilaku nepotisme tidak pantas untuk dilakukan, meski dalam keadaan bagaimanapun.
Kemudian film ini juga menggambarkan bahwa toleransi ialah tidak kaku dalam beragama, saling menghargai, saling menghormati, serta tidak memandang agama dalam hal tolong-menolong.
Selanjutnya film 'Mencari Hilal' ini juga menyampaikan pesan agar saling tolong- menolong sesama manusia, terlebih sesama muslim. Selain itu, pesan yang ingin disampaikan melalui film tersebut adalah menyelesaikan masalah baiknya dengan musyawarah. Yaitu mengambil keputusan bersama secara ramah, sehingga dapat ditemukannya solusi.
Daftar Pustaka
Arovi, E. N. (2018). Tema Islami dalam Genre Film di Indonesia Tahun 1959- 2008. Salatiga.
Damanik, N. (2019). Toleransi dalam Islam.
Shahih: Jurnal Ilmu Kewahyuan.
Fajri, M. (Juli 2020). The Concept of Pious Children in The Movie “Surau dan Silek”: A Living Hadith Study. Jurnal Living Hadis.
Irwansyah, A. (2011, Agustus 23). Menengok Wali Songo di Film. Retrieved from Archive tabloidbintang: https://
archive.tabloidbintang.com/extra/
nostalgia/15269-menengok-wali- songo-di-film.html
Jamrah, S. A. (2015). Toleransi Antar Umat Beragama: Perspektif Islam.
Ushuluddin.
Kurniati. (2015). Nepotisme dalam Persepektif Hadis. al-Daulah.
Miski, M. A. (2020). Film Islami Sebagai Model Interpretasi Atas Al-Qur’an dan Hadis: Kasus Film Ayat Tentang Cinta.
Jurnal Theologia.
Mubarok, A. A. (2019). Musyawarah dalam Perspektif Al-Qur’an. Al-Qur'an dan Tafsir.
Nurmansyah, I. (Desember 2019). Islam dan Media Sosial: Kajian Living Hadis Dalam Film. Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya.
rafiq, A. (2014). The Receptionof the Qur'an in Indonesia. A Case study of the Place of the Qur'an in A Non-Arabic Speaking Community. Univ Temple.
Rohimi, P. (2015). Keberagaman Islam dalam Film Indonesia Bertema Islam . Jurnal Dakwah.
Rohman, N. (2019). Representasi Komunikasi Tepa Selira Dalam Film “Mencari Hilal” Karya Ismail Basbeth. Salatiga:
Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN .
Syah, H. (2013). Dakwah Dalam Film Islam di Indonesia. Jurnal Dakwah, 263-282.
Yusuf, Z. M. (2019). Analisis Semiotika Makna Ikhtiar dalam Film Mencari Hilal. Jakarta: Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah.
Zuhri, S. (April 2018). Living Hadis
;Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi.
Yogyakarta: Q-Media.