Profil Masyarakat Yang Tinggal Di Wilayah Abrasi Rawan Abrasi Pantai ( Studi Kasus Masyarakat Di Pasie Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah) Kota Padang
By
Nopi Busri* Helfia Ideal** Nefilinda**
Email: [email protected]
Students of Geography Education Departement of STKIP PGRI West Sumatera* Lecturer of Department of Geography Education Departement
STKIP PGRI West Sumatra**
ABSTRACT
This research aims to obtain data about the condition of the people living in areas vulnarable to coastal erosion at Pasie Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Discusses 1) The ownership of the land 2) Livelihod 3) Educational level.
This research is classified into descriptive research. Research subjects where heads of families in Pasie Nan Tigo Consisting of 437 headcount. The techniques of data collection used were interviews and observation, data collections tools by using a questionnaire study. Data analysis technique is descriptive in the form of a percentage formula.
The result of study are : 1) The ownership status of land (48,48%) its own, and (12,12%) ride.
Sources for the get land to live (42,42%) purchased, and (13,64%) grants. Sources for get the house (53,03%) built itself and (6,06%) grants. Surface area (59,09%) > 100 – 200 m2, and (4,55%) > 300 m2. The factors driving people living on the coast (45,45%) the elderly, and (3,03%) others. People choose to stay in the beach (51,51%) close to the liverlihood, (7,57%) close to family. Communities remain (4,55%) no place to stay that would be occupied, (54,54%) where survival in coastal areas as fishing. 2) The Former job as fisherman (36,36%) enterpreneurs, and (12,12%) farmers. Part time jobs (1,51%) said civil servants, 40 respondents (60,61%) trade. 3) level of education (42,42%) elementary school and (1,51%) bachelor degree.
Key Word: Community profiles PENDAHULUAN
Kerusakan lingkungan akan semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu.
Contoh yang sering kita jumpai belakangan ini adalah masalah abrasi pantai. Abrasi pantai yang bersifat alamiah adalah proses penggerusan pantai akibat dari hempasan gelombang dan badai dalam jangka waktu lama sehingga menyebabkan perubahan garis pantai menuju ke arah daratan. Selain itu, abrasi pantai dapat pula disebabkan oleh aktifitas manusia yaitu penggalian bahan tambang terutama pasir pantai. Aktifitas ini dapat menyebabkan perubahan garis pantai ke arah daratan secara cepat. Dampak yang ditimbulkan dari abrasi tersebut dari aspek strategis adalah perubahan luas wilayah di suatu kawasan, sedangkan jika dilihat dari aspek lingkungan akan menyebabkan hilangnya habitat dari suatu ekosistem. Abrasi pantai ini terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Abrasi pantai di Indonesia, telah
mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.
Sedikitnya 40 persen dari 81 ribu Km pantai di Indonesia, rusak akibat abrasi. Dalam beberapa tahun terakhir, garis pantai di beberapa daerah di Indonesia mengalami penyempitan yang cukup memprihatinkan.
Abrasi yang terjadi mampu menenggelamkan daratan antara 2 hingga 10 meter pertahun dan kondisi ini sangat memperihatinkan bagi masyarakat, terutama sekali bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan pantai. Kota Padang terletak di pesisir pantai barat pulau Sumatera.
Luas keseluruhan Kota Padang adalah 694,96 Km², dengan garis pantai sepanjang 99,32 Km.
Perairan Kota Padang juga terjadi arus pantai yang diakibatkan oleh gelombang. Arus ini berpengaruh terhadap abrasi dan sedimentasi pantai, sehingga menjadikan tinggi gelombang laut yang terjadi berkisar antara 0,5–2,0 meter.
. (BKMP Propinsi Sumatera Barat)
Salah satu wilayah yang juga berada di pesisir pantai adalah Kelurahan Pasir Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah. Kelurahan Pasir Nan Tigo merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kota Padang dengan laus wilayah mencapai 538 Ha/m2, sebagian wilayah yang terketak di Pasir Nan Tigo berada di pesisir pantai dengan panjang pesisir pantai ±35 Km.
Jumlah masyarakat di Kelurahan Pasir Nan Tigo ± 13.259 jiwa. (BKMP Propinsi Sumatera Barat)
Kelurahan Pasir Nan Tigo terdiri dari 15 RW dan 71 RT. Dari 15 RW ada 5 RW yang sebagian besar permukiman di Kelurahan Pasir Nan Tigo yang tinggal dekat dengan pesisir pantai mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan disebabkan karena abrasi.
Kondisi ini dapat dilihat banyaknya rumah warga yangkehilangan sebagian sisi rumahnya, dengan atap yang telah bolong, dan retaknya bagian lantai dan dinding rumah warga.
Berdasarkan observasi awal penulis di lapangan, pengetahuan tentang dampak lingkungan sosial abrasi menjadi sangat penting diketahui sebagai salah satu cara untuk dapat menjadi arahan penyusunan kebijakan dan strategi mitigasi. Karena dari tahun ketahun perambatan abrasi menjadi ancaman serius dan pasti akan terus merambah ke wilayah daratan. Namun disisi lain masyarakat disana masih banyak yang ingin tetap bertahan. Hal ini disebabkan oleh faktor ekonomi.
Faktor ekonomi merupakan alasan pertama mereka untuktetaptinggal di daerah rawan, karena itu merupakan satu satunya tempat tinggal yang dimiliki.Dimanamereka
tidak ada tempat dan
biayauntukpindahketempat yang lain. Disisi lain, penduduk yang direlokasi bukan ditempat yang permanen dengan status tanah yang jelas namun di bantaran sungai yang juga sudah mulai terkena dampak abrasi. Alasan yang kedua adalah mata pencahariaan. Dengan tingkat pendidikan yang mayoritas rendah maka keahlian mereka yang bermata pencaharian sebagai nelayan akan memilih tetap tinggal. Alasan lain adalah keterikatan dengan tempat tinggal dimana mereka tetap merasa memiliki lahan mereka yang harus dijaga meskipun sudah menjadi laut.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis merasa tertarik dan perlu melakukan penelitian dengan judul “Profil Masyarakat yang Tinggal di Wilayah Abrasi Pantai
(Studi Kasus Masyarakat di Pasie Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah Kota Padang)”.
METODOLOGI PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian maka Jenis peneitian ini termasuk kedalam penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu untuk melihat, menggambarkan serta mengungkapkan sesuatu apa adanya. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan, mencatat, menganalisis dan menginterprestasikan kondisi yang sekarang terjadi menurut Pabundu (2005).
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik propotional random sampling merupakan contoh pengambilan dari sebagian anggota populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata (tingkatan) yang ada dalam populasi tersebut (Riduwan, 2006).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Sesuai dengan permasalahan yang telah diajukan dalam penelitian ini, maka peneliti akan mengadakan pembahasan berdasarkan data yang diperoleh dilapangan.Pembahasan penelitian ini berguna untuk menerangkan dan menginterpretasikan hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang telah diperoleh, untuk lebih jelas hasil penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Pertama, dilihat dari status kepemilikan tanahmasyarakat yang tinggal di daerah rawan abrasi pantai ialah : (48,48%) milik sendiri, (19,7%) sewa atau kontrak, (12,12%) menumpang, (19,7%) milik pemerintah atau adat. Status kepemilikan rumah (48,48%) milik sendiri, (19,7%) sewa atau kontrak, (12,12%) menumpang, dan (19,7%) milik pemerintah atau adat. Sumber untuk mendapatkan tanah tempat tinggal (42,42%) dibeli, (22,73%) warisan, (13,64%) hibah, dan (21,21%) pinjaman. Sumber untuk mendapatkan rumah (53,03%) dibangun sendiri, (16,67%) warisan, (6,06%) hibah, dan (24,24%) pinjaman. Luas tanah (24,24%)
<100m2, (59,09%) >100-200m2, (12,12%)
>200-300m2, dan (4,55%) >300m2.Sesuai dengan Teori Siregar (2008) mengatakan bahwa menurut hukum pertanahan Belanda,
tanah bersama milik adat dan tanah milik adat perorangan adalah dibawah pengusaan Negara.
Hak individu atas tanah seperti hak milik atas tanah diakui terbatas yang tunduk kepada hukum Barat. Hak milik ini umumnya diberikan kepada tanah-tanah diperkotaan dan tanah perkebunan di pedesaan.
Kedua, dilihat dari mata pencaharian, alasan masyarakat untuk tetaptinggal di daerah rawan abrasi pantai ialah : (33,33%) diri sendiri, (45,45%) orang tua, (18,18%) keluarga, dan (3,03%) orang lain. Masyarakat memilih untuk tinggal dilokasi pantai (51,51%) karena dekat dengan mata pencaharian, (7,57%) dekat dengan keluarga, (15,15%) memiliki tanah sendiri, dan 25,76%) tidak ada pilihan lain. Masyarakat tetap bertahan (21,21%) menjawab biaya pindah mahal, 3 orang responden (4,55%) tidak ada tempat tinggal yang akan ditempati, (54,54%) tempat bertahan hidup diareal pantai sebagai nelayan.Sedangkan (19,7%) pekerjaan nelayan yang menjadi suatu kesenangan tersendiri,pekerjaan sebelum bekerja sebagai nelayan (30,30%) pedagang, (36,36%) wiraswasta, (21,21%) tukang bangunan, dan (12,12%) petani. Pekerjaan sampingan (1,51%) menjawab PNS, 40 orang responden (60,61%) berdagang, (19,7%) kuli bangunan, dan (18,18%) tukang ojek.
Sesuai dengan TeoriDaljoeni (2007) mengatakan bahwa mata pencaharian merupakan aktivitas manusia untuk memperoleh taraf hidup yang layak dimana antara daerah yang satu dengan lainnya berbeda sesuai dengan taraf kemampuan penduduk dan keadaan demografinya. Dan faktor mata pencaharianlah yang membuat masyaraka tetap bertahan di daerah rawan abrasi pantai.
Ketiga, profil masyarakat untuk tetap tinggal di daerah rawan abrasi pantai berdasarkan tingkat pendidikan adalah : (42,42%) tamat SD, (33,33%) tamat SLTP, (22,73%) tamat SLTA, dan (1,51%) tamat PT.
Sesuai dengan teori Basrowi (2010) pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber manusia untuk pembangunan.
Tingginya rata-rata tingkat pendidikan masyarakat sangat penting bagi kesiapan bangsa mengahadapi tantangan global dimasa depan. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkanseseorang untuk menyerap informasi dan mengimplementasikannya
dalam prilaku dan gaya hidup sehari-hari khususnya dalam hal kesehatan.
PENUTUP
Berdasarkan temuan dan pembahasan di bagian terdahulu maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Dilihat dari kepemilikan tanah adapun status kepemilikan tanah pada masyarakat yang tinggal di daerah rawan abrasi pantai sebagian besar adalah milik sendiri dan tidak ada tempat tinggal lain yang akan ditempati (48,48%). Sehingga inilah yang menjadi faktor utama masyarakat untuk tetap bertahan di daerah rawan abrasi pantai.
2. Dilihat daridari mata pencaharian, alasan masyarakat untuk tetap tinggal di daerah rawan abrasi adalah karena sebagaian besar dari masyarakat berprofesi sebagai nelayan, wiraswasta, PNS, berdagang dan petani.
3. Dilihat dari dari tingkat pendidikan, profil masyarakat yang tinggal di daerah abrasi pantai adalah tamat SD dan hanya 1,51%
yang tamat PT. Sehingga hal ini dapat mempengaruhi pola piker masyarakat yang belum tau akan bahaya yang mengancam bila mereka tetap bertahan untuk tetap tinggal di daerah rawan abrasi pantai.
Saran:
1. Untuk masyarakat diharapakan untuk lebih mengetahui tentang bahaya tinggal di daerah abrasi pantai, agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
2. Untuk pemerintah diharapkan memeberikan penyuluhan dan bantuan terhadap masyarakat yang ada di areal abrasi pantai.
3. Untuk peneliti lanjutan sebagai pedoman dan arahan dalam penelitian yang sama, agar penelitian bisa di gambarkan sesuai dengan yang ada dilapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Afira, Zafira. 2013. Profil Masyarakat Pesisir Di Indonesia. http: //zafiraafira.
Blogspot.com. Diakses tanggal 21/04/2015 pukul 19.15 WIB.
Anonim. 2012. Masyarakat Pesisir.
http://fdcipb.wordpress.com. Diakses tanggal 21/04/2015pukul 20.00 WIB
Anvina,Ayunita,.2011.Profil Masyarakat Pesisir.
http://anvinaayunita.blogspot.com.
Diakses tanggal 21/04/2015pukul 20.20 WIB.
Bagja, Waluya. 2009. Sosiologi: Menyelami Sosial di Masyarakat, PT. Pribumi Mekar.
Bengen, Dietriech G. 2011. Pelatihan Pengelolaan Wilayah Terpadu. Bogor : ITB
Dahuri, dkk. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta : PT Pradnya Paramita
Famif. 2010. Masyarakat Pesisir.
http://famif08.student.ipb.ac.id.
Diakses tanggal 21/04/2015pukul 20.30 WIB
Kusnadi. 2000. Nelayan:Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial. Bandung: Humaniora Utama Press.
Kusnadi. 2006. Filosofi Pemberdayaan Masyarakat Persisir.
______. 2006. Filosofi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Bandung: Humaniora
Lasiki, Iswan. 2012. Profil Sosial-Ekonomi
Masyarakat Pesisir.
http://iswanlasiki.student.ung.ac.id.
Diakses tanggal 21/04/2015pukul 21.00 WIB
Paulus, Chaterina. 2011. Gambaran Umum Wilayah Pesisir Indonesia.
http://chaterina-paulus.blogspot.com.
Diakses tanggal 21/04/2015pukul 19.30 WIB
A Are, R Ahmad, N Nefilinda – Pendidikan geografi, 2013. Profil Transmigran Di Daerah Panunan Nagari Koto Nan Tigo Utara Surantih Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan - ejournal-s1.stkip-pgri-sumbar.ac.id Me nora, e juita, n nefilinda – pendidikan
geografi, 2013. Kondisi masyarakat yang mengkonversi lahan pertanian di
nagari sungai nanam kecamatan lembah gumanti kabupaten solok - ejournal-s1.stkip-pgri-sumbar.ac.id Riko, B Bakaruddin, N Nefilinda –
Pendidikan geografi, 2013. Profil Tingkat Pendidikan Masyarakat Di Kecamatan Basa Ampek Balai Kabupaten Pesisir Selatan- ejournal-s1.stkip-pgri-sumbar.ac.id