Restorasi ekosistem dianggap sebagai langkah efektif untuk memitigasi perubahan iklim, serta meningkatkan ketahanan pangan, menjaga pasokan air, dan melindungi keanekaragaman hayati. Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen serius terhadap upaya restorasi ekosistem melalui berbagai regulasi terkait restorasi ekosistem di kawasan hutan. Restorasi ekosistem tidak hanya mengembalikan fungsi ekologi, namun juga mengembalikan fungsi hutan sebagai sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat.
Dengan pengelolaan yang tepat, restorasi ekosistem dapat mendukung pemulihan fungsi hutan sebagai penyedia manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat. IUPHHK HA Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam IUPHHK HT Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman IUPHHK RE Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem Jenis Bukan Asli Spesies/spesies yang hidup di luar habitatnya distribusi alami.
PENDAHULUAN
Hutan Dataran Rendah Lahan Kering
Sebuah Pendahuluan
Buku ini memberikan pemahaman dasar dan teknis mengenai restorasi ekosistem hutan dataran rendah kering yang melimpah di Indonesia. Keberagaman tipe ekosistem di Indonesia menjadi pertimbangan mengapa strategi dan teknik restorasi ekosistem yang dibahas dalam buku ini berfokus pada ekosistem hutan dataran rendah kering. Bagian ketiga merupakan arahan teknis restorasi ekosistem hutan dataran rendah dan bagian keempat merupakan penutup.
Pertimbangan pemilihan strategi restorasi pada ekosistem hutan dataran rendah lahan kering disajikan pada akhir bab ini. Bab ini menyajikan beberapa tipe utama dan keseluruhan yang dapat diprioritaskan untuk restorasi ekosistem hutan dataran rendah lahan kering.
EKOSISTEM HUTAN DATARAN RENDAH LAHAN KERING DAN URGENSI RESTORASI
Dataran Rendah Lahan Kering
Hutan dataran rendah yang kering mempunyai beragam manfaat yang dapat dirasakan, baik secara langsung (tangible) maupun tidak langsung (intangible). Selain podsolik merah-kuning, inceptisol merupakan jenis tanah lain yang terdapat di hutan dataran rendah. Di hutan dataran rendah Haya, Mamberamo, Papua, ditemukan total 123 spesies (40 famili) tumbuhan, dengan jumlah spesies terbanyak adalah Arecaceae dan Moraceae (Jitmau & Rumbino, 2018).
Sementara itu, lapisan atas yang tumbuh paling tinggi di hutan dataran rendah Kalimantan (Kalimantan) sebagian besar terdiri dari Dipterocarpaceae dan Leguminosae (MacKinnon et al., 2000). Penopang pohon juga merupakan ciri umum pohon yang tumbuh di hutan dataran rendah (Anwar dkk., 1987).
Urgensi Restorasi Ekosistem Hutan Dataran Rendah Lahan Kering3
18 Tahun 2004 tentang Kriteria Hutan Produksi yang dapat diberikan izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan alam dengan kegiatan restorasi ekosistem. 8 Tahun 2014 tentang Pembatasan Areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) pada hutan alam, hutan tanaman industri, dan restorasi ekosistem pada hutan produksi. 64 Tahun 2014 tentang Penerapan Kehutanan pada Wilayah Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem pada Hutan Produksi.
Beberapa pemegang IUPHHK-HTI menaruh perhatian besar pada upaya restorasi ekosistem di kawasan HTI, khususnya kawasan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) dan Stok Karbon Tinggi (NKT). Restorasi ekosistem hutan dataran rendah yang kering dapat menjadi solusi berbasis alam untuk mengatasi berbagai permasalahan lingkungan, terutama untuk mencegah bencana alam terkait perubahan iklim seperti banjir, kebakaran, atau tanah longsor. Restorasi ekosistem hutan dataran rendah kering juga dapat menjadi solusi berbasis alam dalam upaya revitalisasi perekonomian nasional, khususnya dengan meningkatkan ketersediaan sumber daya hutan untuk mendukung pengembangan industri perkayuan dan jasa lingkungan.
Restorasi ekosistem hutan kering dataran rendah merupakan penerapan intervensi rekayasa ekologi yang bertujuan untuk melindungi dan memulihkan sistem ekologi ekosistem hutan sehingga dapat meningkatkan kuantitas, kualitas, dan keberlanjutan produk dan jasa ekosistem hutan. Selain mendukung pemulihan ekonomi hutan di tingkat lokal dan nasional serta mengurangi bencana ekologi, pemulihan ekosistem hutan dataran rendah yang kering dapat mempercepat upaya pencapaian NDC Indonesia. Restorasi ekosistem hutan dataran rendah kering berkontribusi positif terhadap penyerapan karbon melalui pertumbuhan vegetasi dan peningkatan tutupan lahan dari kawasan terdegradasi menjadi hutan dengan biaya yang relatif wajar.
Hasil dari berbagai praktik restorasi ekosistem menunjukkan bahwa dengan teknik restorasi yang tepat, ekosistem dapat dikembalikan ke kondisi aslinya (Mursia et al., 2014). Modal sosial juga dipengaruhi oleh pengetahuan teknis terkait pengelolaan hutan, dalam hal ini kegiatan restorasi ekosistem hutan. Lembaga restorasi ekosistem hutan dapat mengacu pada pola penggunaan lahan tradisional, sistem penguasaan lahan, sistem produksi dan ritual yang sudah ada sebelumnya.
Perencanaan pemulihan ekosistem hutan dataran rendah lahan kering dengan demikian dilakukan bersama dengan unsur-unsur lain yaitu: sosial, ekonomi, biologi, dan lanskap. Dengan mempertimbangkan pertimbangan umum, perspektif strategi restorasi ekosistem menurut IUCN & WRI (2014), JICA (2014) dan Suryadiputra dkk. 2018) seperti yang dijelaskan, berikut empat.
Pembuatan bibit kayu ulin dari biji diawali dengan membuang kulitnya dengan cara dikupas atau didiamkan selama beberapa minggu. Pembuatan bibit kayu ulin dari tanaman yang dipetik dilakukan dengan cara mencungkil (jangan mencabut) tunas alami setinggi kurang lebih 30 cm dan memastikan bibit tidak rontok (Effendi, 2009). Menurut Effendi (2009), kayu ulin sebaiknya ditanam pada hutan sekunder yang masih ada naungan atau pada hutan tanaman campuran bersama dengan jenis lain seperti meranti, kapur, keruing dan medang, tergantung habitat aslinya.
Lubang tanaman dibuat secara konsisten di depan atau di belakang tiang agar tanaman tetap lurus. Penanaman meranti sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan dan dilakukan paling cepat 7 hari setelah lubang tanam dibuat dan diisi. Dalam kegiatan ini yang perlu diperhatikan adalah bibit ditanam sampai ke leher akar dan tumpukan tanah pada permukaan lubang tanam harus dipadatkan agar tidak terjadi banjir.
Penyiangan pada tahun pertama dapat dilakukan hingga dua kali, tergantung kondisi gulma yang tumbuh di jalur tersebut. Disarankan menanam pada musim hujan yang sering turun hujan (1-2 hari bila hujan). Dengan demikian, bibit biasanya sudah siap dipindahkan ke lapangan pada umur ±4 bulan ketika tinggi bibit mencapai 25-30 cm.
Pupuk yang diberikan kurang lebih 1 kg per lubang tanam, agar pertumbuhan awal tanaman bisa maksimal. Perawatan bibit tengkawang dapat berupa penyiangan, penyulaman, pemupukan, dan pengendalian hama, penyakit, dan gulma (Tata et al., 2008). Pemupukan dapat dilakukan setahun sekali pada tahun pertama dengan pupuk dasar NPK sebanyak 100 gr/tanaman.
ARAHAN STRATEGI DAN TEKNIK RESTORASI DI HUTAN DATARAN RENDAH
Ekosistem Hutan Dataran Rendah Lahan Kering: Pembelajaran dari Riau,
Hutan alam dataran rendah yang tersisa di wilayah kerja PT BPP merupakan hutan mineral dataran rendah dengan kondisi cukup parah. Pemulihan ekosistem hutan dataran rendah kering di wilayah konsesi pemasok kayu APP Sinar Mas harus disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi ekologi aktual di tingkat lokasi, seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Tabel 13 mencantumkan beberapa faktor ekologi yang mempengaruhi pemilihan strategi dan teknik restorasi ekosistem hutan dataran rendah kering.
Oleh karena itu, kedekatan lokasi restorasi ekosistem dengan pemukiman penduduk dan tingginya tingkat ketergantungan masyarakat lokal terhadap hutan dataran rendah kering di wilayah konsesi pemasok kayu APP Sinar Mas. Dalam menentukan strategi restorasi ekosistem hutan dataran rendah lahan kering di wilayah konsesi APP Sinar Mas, pertama kali dikembangkan tipologi lanskap berdasarkan pertimbangan kondisi ekologi di tingkat tapak. Penyusunan tipologi lanskap hutan dataran rendah lahan kering difokuskan pada wilayah konsesi PT PSPI, PT BPP dan PT FI, khususnya pada kawasan lindung dalam konsesi hutan tanaman IUPHHK-HT sebagai wilayah sasaran restorasi ekosistem.
Pada dasarnya ciri-ciri bentang alam ekosistem hutan dataran rendah lahan kering mempunyai keanekaragaman yang tinggi. Menghilangkan spesies invasif di sekitar vegetasi, terutama bibit dan anakan, yang merupakan spesies asli ekosistem hutan dataran rendah kering. Penanaman diawali dengan tipe pionir, dilanjutkan dengan tipe asli ekosistem lahan kering-dataran rendah-hutan sesuai dengan ekosistem acuannya.
Oleh karena itu, untuk membantu memastikan keberhasilannya, diperlukan perencanaan langkah demi langkah untuk restorasi ekosistem hutan dataran rendah kering. Biaya restorasi yang disajikan pada bagian ini merupakan perkiraan biaya restorasi yang diperlukan untuk ekosistem hutan dataran rendah kering. Biaya restorasi hutan dataran rendah di daerah kering dapat diperkirakan berdasarkan standar biaya tertentu.
Oleh karena itu, diperlukan pendekatan berbeda untuk memperkirakan biaya restorasi ekosistem hutan kering dataran rendah. Perkiraan biaya restorasi hutan dataran rendah di daerah kering dengan menggunakan empat strategi berbeda ditunjukkan pada Tabel 23 hingga 26.
PENUTUP
Restorasi di Indonesia
Ketiga, restorasi ekosistem tidak hanya menjadi tugas pemerintah atau hanya pada kawasan restorasi ekosistem yang ditetapkan pemerintah, namun akan dan dapat diperluas ke kawasan hutan lindung lainnya yang diperuntukkan bagi aktor non-pemerintah. Komitmen yang dapat diperhitungkan kontribusinya terhadap pemulihan ekosistem adalah komitmen yang berada di luar kewajiban esensial konservasi dan perlindungan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan sebagai kewajiban lingkungan dan sosial. Keempat, keterlibatan aktor non-pemerintah dalam pelaksanaan restorasi ekosistem di hutan dataran rendah kering telah memenuhi prinsip penambahan serapan karbon hutan.
Selain melestarikan keanekaragaman hayati dan memberikan keberlanjutan usaha jangka panjang, restorasi ekosistem hutan dataran rendah kering yang dilakukan perusahaan swasta dapat berkontribusi terhadap pencapaian NDC Indonesia dari sektor berbasis lahan. Dalam satu dekade terakhir, pendekatan terhadap kegiatan restorasi ekosistem juga mengalami perkembangan, mulai dari pendekatan daerah aliran sungai (DAS), pendekatan ekosistem, hingga pendekatan bentang alam atau lanskap yang sedang tren di berbagai belahan dunia dalam upaya pemulihan suatu ekosistem. Pendekatan lanskap terhadap restorasi ekosistem telah diprakarsai dan dipromosikan oleh berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, mitra pembangunan, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan sektor swasta.
Dengan inisiatif-inisiatif tersebut, diharapkan dapat tercipta sebuah forum dimana aktor non-pemerintah dapat berpartisipasi aktif dalam upaya restorasi hutan yang terdegradasi. Selain itu, ada pula upaya restorasi global seperti Bonn Challenge yang dicanangkan IUCN bersama dengan Global Partnership for Forest/Landscape Restoration dengan target restorasi seluas 350 juta hektar pada tahun 2030, serta Dekade Restorasi Ekosistem PBB 2021-2030. , salah satu tujuannya adalah mengundang pemangku kepentingan. Pemilihan tindakan operasional pada tingkat tapak dapat dilakukan dengan mengacu pada strategi ini, namun hal ini tidak membatasi penerapan opsi tindakan lain yang tidak tersedia dalam buku ini sebagai pengembangan strategi jika ditemukan kondisi tertentu yang belum teridentifikasi. . .
Mengingat kegiatan restorasi ekosistem sangat “site-spesifik”, terutama yang melibatkan masyarakat lokal sebagai salah satu aktor utamanya, maka perbedaan bentuk pelaksanaan tindakan operasional tersebut bukan merupakan penyimpangan dari strategi, melainkan merupakan inovasi dalam strategi restorasi yang dijadikan sebagai acuan. bahan untuk menyempurnakan dan mengembangkan strategi pemulihan di Indonesia. Buku Strategi Restorasi Ekosistem Hutan Lahan Kering Dataran Rendah terus memberikan peluang inovasi lapangan apabila ditemukan kondisi khusus yang belum teridentifikasi pada penelitian-penelitian sebelumnya.