• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESUME JURNAL “MUSHAF BLAWONG GOGODALEM: Interpretasi Sejarah Melalui Pendekatan Kodikologi”

N/A
N/A
depit purnama

Academic year: 2023

Membagikan "RESUME JURNAL “MUSHAF BLAWONG GOGODALEM: Interpretasi Sejarah Melalui Pendekatan Kodikologi”"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

RESUME JURNAL “MUSHAF BLAWONG GOGODALEM: Interpretasi Sejarah Melalui Pendekatan Kodikologi”

Dalam sebuah catatan disebutkan bahwa banyak ditermukan mushaf yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantara mushaf itu ada yang disimpan atau dikoleksi, di katalogisasi dan dikaji. Salah satu dari mushaf itu adalah mushaf yang ada di Dukuh Kauman, Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Mushaf itu berjumlah 4 buah yang disimpan di Masjid At Taqwa, Kauman, biasanya mushaf itu di sebut dengan Qur’an Blawong atau Mushaf Blawong. Mushaf itu dipercaya sebagai tulisan Mbah Jamaluddin, yang merupakan salah satu dari 3 wali yang menjadi cikal bakal masyarakat Gogodalem.

Namun ada penelitian lain yang menunjukkan bahwa ada perbedaan masa ketika mushaf ini ditemukan dengan masa hidup Mbah Jamaluddin. Selain itu penggunaan alas mushaf, watermark dan countermark menunjukkan hal yang berbeda pula. Hal inilah yang kemudian menimbulkan tanda tanya, jika 4 mushaf tersebut bukan tulisan dari Mbah Jamaluddin, lalu berasal dari mana? Sehingga untuk menemukan jawaban ini, penulis menggunakan pendekatan kodikologi dan sejarah mushaf, untuk mengetahui sejarah asal mushaf juga mungkin upaya koreksi terhadap tokoh yang selama ini dipercaya.

Desa Gogodalem merupakan desa yang memiliki wisata cukup beragam seperti makam wali Raden TG. Niti Negoro dan Syekh Jamaluddin, Selo Miring, dan Qur’an Blawong. Ada tiga versi pemaknaan kata blawong. Pertama, blawong berasal dari kata mblawur yang dalam bahasa Jawa yang berarti kabur atau tidak jelas. Pemaknaan ini didasarkan pada keberadaan tulisan teks Al-Qur’an dalam Mushaf Blawong yang dirasa cukup sulit untuk dibaca karena berasal dari tulisan tangan asli sehingga terkesan kabur dan tidak jelas. Kedua, blawong berarti sebuah mushaf yang dianggap menyimpan keramat tertentu, hal ini mengingat kepercayaan yang ada menyebutkan bahwa ia merupakan tulisan tangan asli dari Mbah Jamaluddin. Ketiga, blawong berarti sesuatu yang berbau mistis.

Pemaknaan ini lebih merujuk pada resepsi (penerimaan) fungsional masyarakat terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki konten mistis yang kemudian juga diberlakukan pada pengkultusan Mushaf Blawong.

Menurut Amin Musthofa dahulu Mushaf Blawong berjumlah lima buah, yakni empat buah mushaf yang tersisa saat ini dan satu lagi mushaf yang hilang. Menurut beliau, mushaf yang hilang merupakan mushaf terindah karena disepuh dengan tinta emas. Hilangnya

(2)

mushaf tersebut setelah sebelumnya sempat dibawa ke Istana untuk sebuah penghargaan pada era Presiden Soeharto. Sementara mushaf yang tersisa, tertulis kode pada masing-masing mushaf: BRI 82, BRI 83, BRI 84, dan BRI 85, dengan karakteristik masing-masingnya sebagai berikut:

Mushaf Ukuran Kertas

Bidang Teks

Tebal (hal) Watermark Countermark

BRI 82 33 x 20,2 23,2 x 12,4 701 CONCORDIA

RES. PARVAE CRESCUNT

V D L

BRI 83 32,6 x 19,4

22,8 x 13,7 297 CONCORDIA

RES. PARVAE CRESCUNT, PRO PATRIA EJUSQUE LIBERTATE, PRO PATRIA

E D G & Z

BRI 84 32,8 x 20,4

22,4 x 12,6 540 PRO PATRIA DV

LENHUYSE N ZOON BRI 85 32,8 x

20,3

21,7 x 13,6 418 CONCORDIA

RES. PARVAE CRESCUNT

E D G & Z

Karakteristik Mushaf Blawong:

Mushaf Rasm Kaligrafi Iluminasi Qiraat Kolofon BRI 82 Imla’i Naskhi Awal, tengah dan

akhir

Asim Tidak ada

BRI 83 Imla’i Naskhi Tidak ada Asim Ada

BRI 84 Imla’i Naskhi Tengah Asim Tidak ada

BRI 85 Imla’i Naskhi Tengah Asim Tidak ada

Sejarah Mushaf Blawong

(3)

Masyarakat Desa Gogodalem menyakini bahwa Mushaf Blawong secara kepenulisan, penyalinan atau kepemilihan mushaf merupakan tulisan tangan asli dari Mbah Jamaluddin.

Apabila diyakini demikian, maka Mushaf Blawong seharusnya berusia lebih tua dari usia Mbah Jamaluddin. Jika dilihat dari sejarah, ada dua pendapat; pertama, dihitung dari masa hidup Mbah Niti Negoro yang semasa dengan Mbah Jmaluddin, maka kurang lebih hidup sekitar abad awal ke-17 M atau akhir abad 16 M.

Kedua, dijelaskan bahwa Mbah Jamaluddin yang merupakan penulis Mushaf Blawong merupakan salah satu dari ketiga saudara Mbah Basyaruddin. Jika masa hidup Mbah Basyaruddin kurang lebih 335 tahun atau sekitar setengah abad ke-17 M, maka masa hidup Mbah Jamaluddin juga sama, yaitu di abad 17 M. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Mushaf Blawong berasal dari akhir abad 16 M atau awal abad 17 M.

Jika dilihat dari kertas yang digunakan, dalam mushaf Gogodalem tidak ditemukan gambar yang sama, meskipun ada beberapa kemiripan. Diantara watermark tersebut adalah:

1. VRYHEYT: watermark paling tua yaitu tahun 1654 2. PRO PATRIA: menunjukkan watermark tahun 1799 3. V D L: menunjukkan countermark tahun 1698-1815

Dari sini dapat disimpulkan bahwa ada kemungkinan bahwa Mushaf Gogodalem memang datang dari masa Mbah Jamaluddin hidup, yaitu di abad ke-17 M.

Akan tetapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa watermark dapat digunakan jika dalam kertas mushaf yang tengah ditemukan adanya bayangan atau shadow disepanjang garis tebal kertas. Namun karena kertas yang digunakan dalam Mushaf Gogodalem tidak ditemukan shadow sepanjang garis tebal kertas, maka dapat disimpulkan bahwa kertas yang digunakan dalam Mushaf Gogodalem adalah produksi abad ke-19. Hal ini menunjukkan bahwa Mushaf Gogodalem tidak muncul semasa Mbah Jamaluddin hidup.

Penulisan kaligrafi juga menjadi salah satu penilaian yang digunakan untuk melihat apakah benar Mushaf Gogodalem ditulis oleh Mbah Jamaluddin. Berikut penulisan kaligrafi dalam Mushaf Gogodalem:

Mushaf Alif Ra Kaf Lam I Lam II Mim

(4)

BRI 82 ىَقْشَتِل ِش ْرَعْلا َكْيَلَع ّلِا ًلْيَزْنَت ْمُكْيِتَا BRI 83 ىَقْسُتَل ِش ْرَعْلا َكْيَلَع ّلِا ًلْيَزْنَت ْمُكْيِتَا BRI 84 ا َيَقْشَتِل ْشِرَعِلا َكْيَلَع ّللِا ًللْيَزْنَت ْمُكْيِتَا BRI 85 ا ىَقْشَتِل ِش ْرَعْلا َكْيَلَع ّللِا ًللْيَزْنَت ْمُكْيِتَا

Dari penulisan kaligrafi yang ditelaah diatas, menunjukkan bahwa Mushaf Gogodalem memiliki kemungkinan ditulis oleh lebih dari satu orang. Hal ini ditekankan pada konsistensi bentuk dan model huruf, serta gaya yang digunakan dalam menulis.

Dapat disimpulkan bahwa secara historiografi kepenulisan Mbah Jamaluddin dalam Mushaf Blawong tidak dapat dibenarkan. Sedangkan dari aspek kodikologis, alas mushaf yang digunakan diindikasi berasal dari masa sebelum Mbah Jamaluddin hidup. Selain itu, dari segi gaya kepenulisan juga menunjukkan adanya ketidakkonsistensian dalam penulisan, sehingga dapat diindikasi bahwa Mushaf Blawong ditulis oleh lebih dari satu orang.

Meskipun secara historiografi Mushaf Blawong dapat dinisbatkan kepada Mbah Jamaluddin, namun hal itu masih diperlukan pengkajian lebih mendalam.

Referensi

Dokumen terkait