Resume Kuliah Umum III Pengelolaan Bencana
Nama : Indira Tomiko
NPM : 2106704635
Mata Kuliah : Pengelolaan Bencana
PJ Mata Kuliah : Dr. Budi Hartono, S.Si, M.K.M
Resume Pharmaceuticals In Disasters (Pembekalan Farmasi dalam Bencana)
Pada saat terjadi bencana, sediaan farmasi merupakan hal yang esensial bagi korban bencana sehingga diperlukan penanganan yang serius. WHO sendiri juga telah menetapkan standar penyediaan farmasi, mulai dari pengembangan, produksi, distribusi, inspeksi, kontrol kualitas, standar regulasi, dan teks spesifik prakualifikasi obat. Dalam pelaksanaannya di lapangan, terdapat masalah yang seringkali muncul, antara lain manajemen dalam donasi ketersediaan farmasi, volume dari bahan-bahan perbekalan farmasi, masalah-masalah terkait obat yang tidak terurut/tersortir, drug dumping (donatur yang membuang obat ke lokasi bencana), permasalahan logistik, pengemasan, penyimpanan, serta identifikasi agen persediaan farmasi.
Berikut ini adalah manajemen pengelolaan donasi farmasi menurut WHO:
1. Tidak ada obat yang boleh dikirim tanpa permintaan khusus atau izin.
2. Tidak ada obat yang dikirim yang tidak termasuk daftar obat esensial nasional atau daftar esensial menurut WHO.
3. Tidak ada obat dengan masa simpan yang kurang dari 1 tahun, karena masa tanggap bencana bisa berlangsung lama, jadi obat tersebut belum tentu habis dalam satu tahun.
4. Pelabelan harus dalam bahasa yang sesuai dan berisi nama generik, kekuatan, nama produsen, dan tanggal kadaluarsa yang jelas. \
5. Label di luar kemasan harus mengandung informasi yang sama terutama jumlah total obat yang ada di dalam kemasan.
Donasi farmasi biasanya datang dalam jumlah besar dan berlebih sehingga membuat relawan kewalahan untuk mengelola obat. Negara-negara donatur kerap kali memiliki pemikiran
“lebih baik mendonasikan apa saja daripada tidak berdonasi sama sekali”. Hal ini juga didukung karena adanya drug dumping, dimana negara donatur mendapat keuntungan, yaitu biaya penyimpanan berkurang, biaya penghancuran, dan memperoleh apresiasi pemerintah berupa
penurunan pajak. Dengan ada pemikiran dan drug dumping membuat negara donatur berlomba-lomba mengirimkan bantuan, membuat bantuan obat melebihi kapasitas. Sebagai contoh, pascagempa Guatemalan terdapat lebih dari 1000 ton donasi obat dalam 7000 karton yang membutuhkan 40 orang dan 1.120 jam untuk menyortir dan mengklasifikasi obat-obat tersebut. Selain itu, pascagempa di Armenia juga mendapatkan lebih dari 5000 ton obat donasi dan suplai medis yang melebihi kapasitas penyimpanan lokal. Selain itu, tidak semua obat memiliki label, sehingga membuang waktu untuk mengidentifikasi obat yang berguna dan tepat dan menjadi sia-sia.
Pengemasan barang farmasi harus dilakukan dengan baik dan benar agar obat tidak rusak dan terkontaminasi. WHO merekomendasikan berat untuk masing-masing karton adalah 50 kilogram dalam kemasan yang dapat diangkut oleh 1-2 orang dan tidak boleh dicampur dengan suplai lain. Pengkodean nasional hijau untuk persediaan medis, merah untuk makanan, dan biru untuk pakaian. Label obat juga harus tahan cuaca, menggunakan bahasa lokal dan generik, menginformasikan dosis, kuantitas, tanggal kadaluarsa, batch number, dan kondisi penyimpanan tertentu. Terkait dengan masa kadaluarsa, jika obat tidak disimpan dalam kondisi yang terkontrol atau direkomendasikan bisa mempercepat kadaluarsa obat tersebut. Kelembaban ekstrim dapat mengubah stabilitas barang farmasi jadi direkomendasikan pengemasan yang kering. Stabilitas farmasi harus dipertimbangkan waktu pengiriman obat harus sama dengan kondisi normal karena bisa berisiko beracun.