REVIEW JURNAL NASIONAL
Judul Jurnal Efektivitas Terapi Antituberkulosis Empirik pada Pasien dengan Penyakit HIV Stadium Lanjut
Nama Penulis Natasha Chandra, Dina Elita, and Evy Yunihastuti.
Nama Jurnal Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Tahun & Halaman Volume 11, No 1, Maret 2024
Reviewer Irna Dwiyanti
Tanggal 16 Apri 2024
Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian yang disajikan dalam jurnal
"Efektivitas Terapi Antituberkulosis Empirik pada Pasien dengan Penyakit HIV Stadium Lanjut: Sebuah Laporan Kasus Berbasis Bukti" adalah untuk mengevaluasi efektivitas terapi antituberkulosis empirik pada pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan berbasis bukti terkait pengobatan tuberkulosis pada individu dengan infeksi HIV yang sudah mencapai tahap lanjut.
Populasi Dan Sampel Studi ini melibatkan populasi pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut yang belum pernah mendapatkan terapi antiretroviral (ARV) dan tidak memiliki bukti tuberkulosis (TB) aktif.
Sampel penelitian terdiri dari 850 orang pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut berusia ≥ 13 tahun, dengan jumlah CD4 <50 sel/mm3. Pasien dalam studi ini memiliki karakteristik serupa dengan populasi dalam studi yang lebih luas yang dilakukan di 10 negara, namun terdapat perbedaan dalam jumlah CD4 yang dimiliki oleh pasien dalam ilustrasi
Metode Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan melalui uji klinis acak terbuka. Sampel penelitian terdiri dari pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut berusia ≥ 13 tahun, dengan jumlah CD4
<50 sel/mm3, yang belum pernah mendapatkan terapi ARV dan tidak memiliki bukti TB aktif. Pasien-pasien ini kemudian dibagi secara acak ke dalam dua kelompok: kelompok yang menerima terapi antituberkulosis empirik dan kelompok yang menerima terapi profilaksis isoniazid. Setelah itu, efek dari kedua jenis terapi tersebut dievaluasi dalam hal mortalitas, insiden TB, dan kepatuhan pengobatan TB pada minggu-minggu tertentu setelah randomisasi.
Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam jurnal ini adalah studi kasus berbasis bukti. Penelitian ini didasarkan pada pertanyaan klinis mengenai efektivitas terapi antituberkulosis empirik pada pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut. Penelitian ini menggunakan pendekatan PICO (Patient, Intervention, Comparison, Outcome) dengan pasien sebagai subjek, intervensi berupa terapi antituberkulosis empirik, perbandingan dengan terapi profilaksis, dan outcome berupa mortalitas. Pencarian literatur dilakukan di lima database dan studi-studi yang memenuhi kriteria eligibilitas kemudian dipilih untuk dilakukan analisis.
Hasil dan Pembahasan Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terapi antituberkulosis empirik pada pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut dapat menjadi strategi yang efektif dalam mengurangi mortalitas. Pemberian terapi ini didasarkan pada asumsi bahwa pasien dengan kondisi tersebut memiliki risiko tinggi terhadap TB yang tidak terdiagnosis. Meskipun strategi ini belum didukung oleh bukti yang kuat, hasil dari dua studi yang dipilih untuk analisis menunjukkan validitas yang cukup baik dengan desain studi uji klinis acak terbuka .
Diskusi dalam jurnal tersebut menekankan pentingnya konfirmasi diagnosis TB setelah pemberian terapi antituberkulosis empirik. Jika terdapat bukti yang kuat mengindikasikan diagnosis alternatif selain TB, terapi tersebut dapat dihentikan. Studi-studi yang dipilih untuk analisis memiliki desain uji klinis acak terbuka dan menunjukkan hasil yang relevan terkait mortalitas pada pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut.
Pada akhirnya, penelitian ini memberikan wawasan yang berharga terkait efektivitas terapi antituberkulosis empirik pada pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut, meskipun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat temuan ini.
Kesimpulan
Berdasarkan jurnal yang disajikan, dapat disimpulkan bahwa terapi antituberkulosis empirik pada pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut tidak terbukti efektif dalam menurunkan mortalitas secara signifikan dibandingkan dengan terapi profilaksis isoniazid.
Meskipun terapi ini dapat menjadi strategi untuk mengurangi risiko TB yang tidak terdiagnosis pada pasien dengan kondisi tersebut, hasil dari analisis studi-studi yang dilakukan
menunjukkan bahwa belum ada perbedaan signifikan dalam mortalitas antara kedua jenis terapi tersebut.
Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih dalam
mengenai pengelolaan pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut dan pentingnya konfirmasi diagnosis TB setelah pemberian terapi antituberkulosis empirik. Meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat temuan ini, kesimpulan dari jurnal ini memberikan panduan penting dalam pengambilan keputusan terkait terapi pada populasi pasien yang rentan ini.
Keunggulan Keunggulan jurnal ini meliputi:
1. Pendekatan Metodologi: Jurnal ini menggunakan metode studi kasus berbasis bukti yang memungkinkan analisis yang mendalam terhadap efektivitas terapi antituberkulosis empirik pada pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut. Pendekatan PICO digunakan untuk merumuskan pertanyaan penelitian yang spesifik.
2. Telaah Kritis: Studi-studi yang dipilih untuk analisis menjalani telaah kritis menggunakan panduan dari Oxford Centre for Evidence-Based Medicine Critical Appraisal Worksheet. Hal ini memastikan validitas dan kualitas penelitian yang dipilih.
3. Relevansi Klinis: Hasil penelitian memberikan wawasan yang relevan terkait pengelolaan pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut, terutama dalam konteks pemberian terapi antituberkulosis empirik.
4. Kontribusi Ilmiah: Jurnal ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang efektivitas terapi antituberkulosis pada populasi pasien yang rentan, serta menyoroti pentingnya konfirmasi diagnosis TB dalam pengambilan keputusan terapi.
Dengan keunggulan-keunggulan tersebut, jurnal ini memberikan informasi yang berharga bagi praktisi kesehatan dalam
pengambilan keputusan terkait pengelolaan pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut.
Kekurangan Kekurangan jurnal ini meliputi:
1. Keterbatasan Data: Jumlah studi yang dipilih untuk analisis terbatas hanya pada dua studi dengan desain uji klinis acak terbuka. Hal ini dapat mempengaruhi generalisasi temuan penelitian.
2. Kekurangan Bukti yang Kuat: Meskipun hasil dari dua studi yang dianalisis menunjukkan validitas yang cukup baik, penelitian ini mencatat bahwa strategi terapi antituberkulosis empirik pada pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut belum didukung oleh bukti yang kuat.
3. Keterbatasan Kesimpulan: Kesimpulan yang diambil dari penelitian ini didasarkan pada hasil analisis dua studi tertentu, sehingga dapat terjadi bias dalam interpretasi hasil.
4. Keterbatasan Umum: Jurnal ini mungkin memiliki keterbatasan dalam hal generalisasi temuan karena fokus pada populasi pasien dengan kondisi spesifik (penyakit HIV stadium lanjut).
Dengan mempertimbangkan kekurangan-kekurangan tersebut, penting untuk melihat hasil penelitian ini sebagai bagian dari literatur yang lebih luas dan mempertimbangkan kebutuhan akan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat temuan yang ada.