Planning
Inventory
ITSP atau inventarisasi tegakan sebelum penebangan merupakan kegiatan pencatatan, pengukuran, dan penandaan pohon (marking) dalam areal blok kerja tahunan untuk mengetahui data pohon inti berupa jumlah jenis dan diameter
Penentuan lokasi PU untuk dilakukan ITSP menggunakan rancangan plot ukur yang dibuat secara random per stand. Intensitas sampling yang digunakan ada dua, yaitu 1% dan 5%.
- PU dengan intensitas 1% menggunakan plot berbentuk bujur sangkar dengan ukuran panjang diagonal 20 m dan sisinya 14,14 m. 1 PU akan mewakili 2 ha
- Pu dengan intensitas 5% menggunakan plot berbentuk persegi panjang dengan ukuran 20 x 25 meter. 1 PU akan mewakili 1 ha
1. Pembuatan PU dilakukan dengan penentuan pohon pusat bverdasarkan titik pusat yang telah direncanakan melalui GPS
2. Titik pusat dapat digeser disesuaikan dengan kondisi lapangan dan pergeserannya harus ditulis dalam android atau tally sheet
3. Membuat diagonal PU berdasarkan pohon pusat yang masing-masing diagonalnya dibuat 20 meter
4. Membuat sisi miring PU sepanjang 14,14 m
5. Pengukuran dilakukan pada pohon yang masuk di dalam PU, apabila pohon berada di garis PU, dapat ikut dihitung apabila >50% batangnya dinyatakan masuk dalam plot 6. Pohon yang diukur diberi tanda dengan pita
Dalam ITSP yang dicatat meliputi jarak, diameter, sudut atas, sudut bawah, kondisi gulma, topografi, dan kondisi pohon.
1. Pohon yang diukur meliputi semua pohon yang masuk dalam plot
2. Pengukuran yang dilakukan pertama adalah pengukuran diameter menggunakan pita meter 3. Pengukuran diameter batang diukur pada ketinggian pohon 1,3 meter dari permukaan tanah
menggunakan stick
4. Kemudian dilihat kondisi pohon apakah pohon normal atau cacat
5. Pengukuran tinggi pohon menggunakan clinometer. Pengukuran tinggi pohon diukur dari pangkal batang hingga ujung tajuk pohon. Caranya dengan menjumlahkan tinggi bidikan atas dan tinggi bidikan bawah. Pengukuran tinggi pohon perlu mencari posisi yang paling datar untuk memperkecil eror
6. Derajat bidikan memiliki toleransi maksimal, yaitu derajat bidikan atas 90° dan bidikan bawah -5°. Apabila dalam pengukuran, hasil bidikan lebih dari 90° maka jarak harus ditambah, tetapi apabila hasil bidikan kurang dari 50° maka jarak harus dikurangi
7. Pohon yang diukur tinggi sebanyak 7 dalam PU, dimana 4 pohon diameter besar, 1 pohon diameter sedang, dan 2 pohon diameter kecil. tinggi pohon yang tidak diukur akan dipakai hasil perhitungan regresi
Sistem dalam ITSP yang digunakan yaitu sistem Atlas Acquire untuk menghitung potensi volume kayu secara realt time sesuai rencana bulan tebang, nantinya hasil perhitungan tersebut menjadid asar untuk penyusunan target tebang dalam RKT dan budget
Microplanning
Kegiatan microplanning bertujuan untuk menyediakan informasi yang akurat, detail dan terbaru tentang kondisi cpt/stand sebelum dilakukan penebangan. Hasil microplanning akan menjadi panduan divisi produksi dalam merencakan dan melaksanakan kegiatan penebangan dan penyaradan kayu
Kegiatan microplanning yang dilakukan di PT. MHP dibagi menjadi dua, yaitu boundry dan pengambilan sampel tanah
Boundry dilakukan dengan menandai batas luar lokasi penebangan sehingga akan menjadi pemandu dalam melakukan penebangan kayu. Kegiatan boundry dilakukan dengan menyusuri petak tebang dari batas luarnya sambil memberikan tanda dengan menggunakan pita zebra. Hasil boundry dapat kadaluarsa apabila melebihi 6 bulan, sehingga perlu dilakukan boundry lagi apabila sudah melebihi waktu. Hasil boundry nantinya akan memberikan hasil berupa penentuan lokasi TPn Dimana TPn berada pada lebih dari 1 titik dan arah sarad. Arah sarad ditentukan berdasarkan kelerengan lokasi, apabila kemiringan 0-25% maka arah sarad memotong garis kontur langsung menuju TPn terdekat, jika kemiringan >25% regu survey harus mengidentifikasi jalur sarad yang memungkinkan untuk menuju TPn terdekat
Pengambilan sampel tanah dilakukan pada titik yang telah ditentukan di dalam petak tebangan.
Pengambilan sampel tanah diambil dengan cara membuat lubang tanah berukuran 20 x 20 x 20 cm. Kemudian, tanah diambil dari salah satu sisi lubang tanah dari ketinggian 0 sampai 20 cm.
Titik lokasi pengambilan tanah minimal 30 meter dari jalan. Selain itu, pengambilan sampel tanah diambil berdasarkan kelas tanah, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Jumlah sampel tanah yang diambil dari lokasi sebanyak 500 – 100 gr. Sampel tanah yang telah diambil akan diberikan ke RnD bagian tanah untuk nantinya diteliti. Jumlah sampel yang dikirim ke RnD minimal 50 sampel dengan estimasi waktu pengeringan sekitar 1 – 2 minggu, tergantung kondisi cuaca dan kapasitas ruangan. Nantinya hasil analisa dari RnD dirilis maksimal ± 45 hari setelah sampel diterima. Hasil dari tanah yang telah diteliti dapat digunakan sebagai rekomendasi divisi Plantation, bagaimana penanaman yang baik untuk kedepannya
Perlu diperhatikan bahwa :
1. Pengambilan sampel tanah dilaur bekas alat berat, selokan, tanah tererosi sekitar jalan, bekas pembakaran sampah, bekas timbunan pupuk, dan bekas penggembalaan ternak
2. Permukaan tanah perlu dibersihkan daro sisa tanaman, rerumputan, bahan organik, dan batuan kerikil
3. Alat yang digunakan bersih dari kotoran dan tidak berkarat, serta menggunakan kantong plastik yang baru karena hal ini akan meningkatkan eror pada pengujian di RnD
Kegiatan microplanning dilakukan paling lambat 3 bulan sebelum penebangan. Jadwal microplanning disusun berdasarkan daftar compartment dna stand yang tercantum dalam RKT berjalan atau Rencana 3 bulanan
Hasil dari microplanning menjadid asar untuk merevisi peta dan database stand yang bersangkutan sehingga diperoleh peta kerja tebangan dan data terkini yang akurat sebagai panduan untuk divisi produksi dalam merencanakan dan melaksanakan penebangan
Plot Ukur Permanen (PUP)
Dalam dunia kehutanan, kegiatan inventarisasi tegakan meliputi inventarisasi statis dan inventarisasi dinamis. Inventarisasi statis ditujukan untuk mengethaui potensi tegakan pada suatu waktu tertentu dengan menggunakan petak ukur temporer (PUT), sedangkan inventarisasi
dinamis yang ditujukan untuk mengumpulkan informasi pertumbuhan tegakan dilakukan dengan pembuatan pengukuran PUP. Pohon dalam PUP merupakan pohon yang mampu mewakili tegakannya sehingga ukuran PUP sangat berperan terhadap representatif-tidaknya PUP tersebut mencerminkan kondisi tegakan dalam areal yang luas
Plot ukur permanen adalah plot tertentu yang telah ditetapkan dalam suatu hutan atau lahan untuk melakukan pengukuran dan pemantauan secara berkala terhadap parameter ekologi yang relevan. PUP secara umum digunakan untuk pemantauan dan pengumpulan data pertumbuhan dan hasil tegakan. PUP di PT. MHP dilakukan dengan tujuan untuk menyediakan data parameter pertumbuhan dimensi (diameter dan tinggi) pohon yang akurat sebagai dasar untuk pembuatan model pertumbuhan (growth dan yield), juga untuk menyusun rencana pengaturan hasil dan penyusunan management plan.
PUP dibagi menjadi dua , yaitu
- PUP biasa : intensitas 1 PUP mewakili 100 ha, pengukuran pertama pada umur 1 tahun dan selanjutnya diukur setiap 6 bulan, serta ditebang pada akhir daur
- Pup penelitian : intensitas 1 PUP mewakili 400 ha, pengukuran pertama pada umur 1 tahun dan diukur setiap 6 bulan , dipertahankan sampai 3 daur
Pembuatan PUP :
1. Pembuatan PUP dilakukan dengan penentuan titik pusat plot sesuai lokasi PUP yang direncanakan dalam peta, jika titik berada di jalan atau lokasi yang tidak memungkinkan, dapat digeser maksimal sejauh 30 meter untuk mendapatkan area tanaman yang normal/penuh dengan ketentuan titik plot kurang lebih berada pada posisi tengah grid.
2. PUP dibuat dengan bentuk bujur sangkar berukuran panjang diagonalnya 31,6 dan panjang sisinya 22,4 meter sehingga luas plot adalah 0,05 ha
3. Disetiap sudut plot dipasang pal kayu, ujungnya dicat warna biru
4. Pohon yang diukur adalah pohon di dalam PUP, apabila sebuah pohon berada di garis >50%
masih dianggap masuk dalam plot
5. PUP tanpa perlakuan khusus untuk mencerminkan kondisi tegakan di sekelilingnya
6. Batang pohon ditandai dengan pita dan dicat warna biru, kemudian dinomori dengan membentuk spiral yang menuju ke arah kiri dahulu
7. Pengukuran yang dilakukan meliputi diameter tinggi. Pengukuran diameter sama seperti inventarisasi, sedangkan pengukuran tinggi diambil 14 pohon peninggi yaitu 8 pohon diameter besar, 2 pohon diameter sedang, dan 4 pohon diameter kecil. Supaya peninggi tersebar merata, maka PUP dibagi dalam 2 bagian sehingga masing-masing bagian harus diukur 7 pohon di bagian a dan 7 pohon di bagian b
Data hasil pengukuran PUP akan diolah dalam sistem Atlas PSP untuk menghitung CAI (current annual increament) yaitu pertambahan volume tahun berjalan, MAI (mean annual increament) yaitu rerata pertambahan volume per tahun. Nantinya akan dibuat grafik pertumbuhan tinggi, diameter, volume/ha, MAI, dan CAI untuk keperluan analisis
Untuk kepentingan analisis data, setiap PUP perlu melengkapi data sekunder, meliputi - Asal bibit : benih atau klon provenans
- Kondisi tapak : kelerengan kelas tanah, kandungan C-organik
- Cuaca (curah hujan, kelembaban udara, suhu) berdasarkan AWS terdekat
- Sejarah perlakuan silvikultur : persiapan laha dengan bajak, jenis pupuk, intensitas perawatan, dll.
- Pertumbuhan dan hasil pada daur sebelumnya : diameter dan tinggi pada umur tertentu, MAI, m3/ha yang dipanen
Penataan Batas
Penataan batas kawasan hutan merupakan proses penentuan dan peninjauan kembali batas-batas wilayah hutan yang dimaksudkan untuk melindungi, mengelola, dan memanfaatkan sumber daya hutan secara berkelanjutan. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan, melindungi keanekargaman hayati, serta mengelola hutan secara berkelanjutan
Berikut adalah beberapa langkah umum dalam penataan batas kehutanan:
- Identifikasi Tujuan :
Menentukan tujuan utama dari penataan batas kehutanan, seperti perlindungan lingkungan, pelestarian keanekaragaman hayati, atau pemanfaatan sumber daya hutan.
- Pemetaan dan Inventarisasi Sumber Daya :
Melakukan pemetaan wilayah hutan yang melibatkan pengumpulan data geospasial dan inventarisasi sumber daya alam seperti jenis pohon, flora, fauna, dan kondisi tanah.
- Studi Ekologi :
Melakukan studi ekologi untuk memahami dinamika ekosistem hutan, pola migrasi satwa liar, dan proses alam yang terjadi di dalam hutan.
- Konsultasi dengan Pihak Terkait :
Melibatkan masyarakat lokal, pemangku kepentingan, dan pihak terkait lainnya dalam proses penataan batas kehutanan untuk memastikan bahwa berbagai kepentingan dipertimbangkan.
- Penetapan Batas :
Menetapkan batas-batas wilayah hutan berdasarkan data dan informasi yang dikumpulkan selama proses pemetaan dan studi ekologi.
- Peninjauan dan Pembaruan Periodik :
Melakukan peninjauan dan pembaruan batas kehutanan secara berkala sesuai dengan perubahan kondisi alam, kebijakan lingkungan, atau perubahan kebutuhan masyarakat.
- Penegakan Hukum :
Menerapkan mekanisme penegakan hukum untuk melindungi batas kehutanan dari aktivitas yang merugikan lingkungan.
- Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat :
Melakukan program pendidikan dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga dan mengelola hutan dengan baik.
Penataan batas kehutanan memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait untuk mencapai tujuan pelestarian dan pemanfaatan hutan secara berkelanjutan.
Penataan batas di PT MHP bertujuan untuk memastikan batas areal sesuai dengan areal kerja, tata ruang yang disahkan dan rencana penataan areal yang telah ditetapkan, memberikan bukti mengenai batas areal yang dikelola perusahaan, dan memberikan tanda batas unit teritorial pengelolaan hutan untuk keperluan penegasan batas kegiatan operasional, administrasi, pencatatan asset, maupun pencatatan biaya/keuangan
Kegiatan penataan batas, meliputi : - Perencanaan tata batas
- Pembuatan pal batas
- Pemasangan pal di lapangan - Pemeliharaan tanda batas
- Pembuatan dan penandatanganan berita acara kegiatan penataan batas
Penataan batas dibagi menjadi 3, yaitu a. Penataan batas luar areal kerja
b. Penataan batas unit territorial pengelolaan hutan, yaitu batas wilayah, batas unit, batas blok, batas compartment, dan batas stand
c. Pemantauan terhadap batas areal IPPKH maupun penggunaan lahan diluwar sektor kehutanan lainnya
Rencana penataan batas (RPB) merupakan dokumen yang merinci langkah dan strategi untuk menetapkan dan menjaga batas areal kerja. Pembuatan instruksi kerja penataan batas berdasarkan RPB yang disahkan.
- Pal batas luar areal kerja berupa pal beton berukuran 10 x 10 x 130 cm yang ditanam 30 cm.
Pal di cat warna putih dengan tulisan warna hitam. Tulisan berisikan : kode trayek/MHP (kode Perusahaan)/nomor Pal
- Pal batas areal enclave pemukiman dan lahan usaha Masyarakat berupa pipa PVC diameter 4 inch dan panjang 130 cm yang diisi cor beton terbulang, bagian atas dicat warna putihdan ujungnya dipotong miring sebagai tempat untuk menuliskan nomor pal. Tulisan pada pal meliputi : no. pal (ditulis menghadap ke atas)/kode trayek/MHP
- Pal batas unit teritorial (wilayah, unit, blok, dan compartment berupa pipa PVc ukuran diameter 3 inch dengan panjang 0,8 meter yang didalamnya diisi cor beton. Identitas ditulis dengan warna biru, logo MHP, dan identitas wilayah dengan kode romawi (I, II, III), identitas unit dengan huruf U dan dua angka dibelakangnya , identitas blok diberi kode singkatan blok dalam 3 huruf, identitas compartment diberi kode dengan dua angka. Semakin kecil Tingkat area, semakin kompleks penulisan identitasnya
- Pal batas stand berupa kayu berdiameter ± 5 cm dengan panjang ± 150 cm, bagian atas dikupas kulit dan sebagian kayu serta dicat warna merah untuk tulisan yang meliputi : MHP/inisial blok/nomor compartment/stand/Wa
Pemasangan pal pada kedalaman ± 30 cm dengan jarak antar pal ± 100 meter. setelah dipasang, diambil koordinat.
- Pemasangan pal batas wilayah, unit, dan blok dipasang pada tempat yang strategis, seperti simpang jalan, jembatan, dsb.
- Pal batas compartment dipasang di sudut polygon terluar pada compartment yang bersangkutan, dan diusahakan dipasang pada titik yang mudah dijangkau
- Dalam batas compartment adalah Sungai yang terdapat HCV, maka pal batas dipasang pada tepi Sungai
- Pal batas stand dipasang dipinggir jalan, sedangkan batas kedalamnya mengikuti batas alam berupa jalan, alur Sungai, maupun rawa
Pengukuran Land Clearing
Land clearing merujuk pada suatu proses yang dilakukan untuk menghilangkan vegetasi atau penebangan hutan untuk berbagai tujuan. Ini melibatkan pembukaan hutan secara keseluruhan atau sebagian, tergantung pada kebutuhan dan tujuan pengelolaan. Land clearing atau
pembukaan lahan termasuk dalam pengembangan areal tanaman, karena pengembangan areal tanaman dapat dilakukan melalui 3 macam kegiatan, yaitu :
- Membuka areal potensial yang teridentifikasi
- Mengambil alih areal yang telah dirambah dengan mengikuti prinsip padiatapa
- Rehabilitasi tanaman yang rusak, seperti terbakar, hama/penyakit, bencana, atau tanaman gagal
Rencana pembukaan lahan dibuat atas beberapa pertimbangan, yaitu
a. Areal yang dibuka harus mengelompok dan membetuk sebuah luasan yang besar sehingga pengelolaan areal menjadi lebih efisien
b. Meminimalkan konflik, jika terjadi konflik, perusahaan pasti bisa mengendalikan eskalasi konflik
Dalam tahap perencanaan untuk mendapatkan areal yang sesuai dengan rencana, melalui cara sebagai berikut :
1. Seluruh areal yang dibuka harus dipetakan
2. Pembuatan klaster yang merupakan kombinasi 2 atau 3 macam kegiatan pengembangan areal tanaman
3. Melakukan survey dengan melibatkan PHS dan Unit termasuk pendekatan kepada tokoh masyarakat untuk menetapkan tingkat kerawanan klaster
4. Klaster yang telah dibuat kemudian dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu rendah, sedang, dan tinggi
5. Penjadwaan land clearing disusun dengan mendahulukan klister dengan kerawanan rendah 6. khusus untuk areal target yang mengelompok dengan lokasi RKT tebang, pembukaan lahan
bisa dijadwalkan bersamaan waktu dengan kegiatan penebangan
7. pendekatan kepada tokoh Masyarakat sebaiknya terus dilakukan pada klaster dengan kerawanan sedang dan tinggi agar tidak terjadi konflik pada saat pelaksanaan land clearing
Penjadwalan tebang
Penjadwalan tebang secara umum merupakan sebuah proses perencanaan dan pengaturan waktu yang dilakukan dalam kegiatan kehutanan komersial untuk menentukan kapan dan Dimana penebangan pohon akan dilakukan dengan tujuan untuk mencapai hasil ekonomi dan ekologis yang optimal dari sumber daya hutan.
Penjadwalan tebang berupa bulanan dan triwulan merupakan kegiatan mengatur lokasi, luas, dan volume tebang dengan mempertimbangkan berbagai aspek, yaitu :
- Rencana awal/original
Penjadwalan tebang yang diupayakan sesuai rencana awal untuk memperoleh volume yang sesuai dengan target RKT dan budget, tidak menutup kemungkinan dilakukan penyesuian karena faktor cuaca sampai areal
- Cuaca
Musim hujan diupayakan semua kegiatan pemanenan dekat dengan jalan utama atau logging supaya suplai logistic untuk pekerja/operator tidak terhambat dan menjamin kelancaran angkut kayu. Di lokasi tanah dengan tekstur liat atau liat berdebu kegiatan penebangan hanya bisa dilakukan pada musim kering
- Jumlah kontraktor
Lokasi kerja untuk setiap kontraktor harus diatur agar lokasi tebangan berdekatan atau dapat dijangkau dari camp kontraktor sehingga mereka tidak berpindah-pindah. Ini karena
pemindahan camp memerlukan waktu dan sumber daya sehingga mengurangi produktivitas alat/mesin produksi
- Kapasitas kontraktor
Jumlah dan kondisi alat/mesin yang dimiliki oleh kontraktor menentukan kapasitas produksi dan menjadi dasar dalam penetapan lokasi, luas, dan volume tebang per bulan
- Kemampuan tanam unit
Rencana tebang harus mempertimbangkan kemampuan unit untuk menanam kembali lahan yang telah HOA, sehingga dapat menghindari keterlambatan penanaman yang berakibat erosi tanah berlebihan dan Perusahaan kehilangan potensi riap
- Potensi konflik
Areal konflik atau yang berpotensi konflik diupayakan penebangan tidak dilakukan pada puncak musim kemarau
- Areal yang tidak boleh ditebang
Aktivitas penebangan tidak boleh dilakukan pada areal yang ditetapkan sebagai kawasan lindung/HCV dan areal konflik yang belum disepakati penyelesaiannya
Pada penjadwalan tebang, langkah selanjutnya adalah memastikan seluruh stand telah dilakukan boundary kawasan lindung/HCV dan microplanning. Jika semua proses sudah diselesaikan, GIS dapat melakukan perbaikan peta kerja dan penyiapan peta SPK produksi
Pengolahan sampah domestik
Sampah rumah tangga (domestic) adalah sampah berasal dari kegiatan sehari dalam rumah tangga yang tidak termasuk tinja dan sampah spesifik.
- Tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) atau TPS 3R adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan pemilahan, penggunaan ulang dan pendaur ulang skala kawasan
- Tempat pemrosesan akhir (TPA) adalah tempat untuk memproses dan engembalikan sampah ke media lingkungan
- Bank sampah adalah tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang atau diguna ulang yang memiliki ekonomi
- Kompos berupa jenis pupuk yang berasal dari hasil akhir penguraian sisa hewan maupun tumbuhan yang berfungsi sebagai penyuplai unsur hara tanah sehingga dapat memperbaiki tanah secara fisik, kimia, dan biologis
Pengolahan sampah rumah tangga atau domestik memiliki tujuan untuk menjamin pengelolaan sampah sesuai peraturan perundang-undangan, mewujudkan budaya hidup bersih, dan
menjadikan sampah sebagai sumber daya yang bermanfaat Manfaat pengelolaan sampah rumah tangga (domestik) yaitu :
- Manfaat langsung yang dapat diukur dengan nilai (tangible) berupa pemanfaatan kompos sebagai pupuk organik dan menjadikan sampah sebagai sumber daya bermanfaat
- Manfaat yang tidak dapat diukur dengan nilai uang (intangible) berupa pengurangan Tingkat pencemaran sampah dan terjaganya kelestarian sumber daya air
Prosedur yang dilakukan dalam limbah rumah tangga, yaitu :
1. Identifikasi timbulan sampah – yang dilakukan departemen environment bekerjasama dengan divisi terkait
2. Pengumpulan sampah – pengumpulan sampah dilakukan oleh setiap wilayah, unit, dan kontraktor, sampah yang dikumpulkan tidak tercampur, jika sampah penuh dapat dibungkus dengan karung jumbo dan dikirim ke TPS 3R
3. Penerimaan sampah – TPS 3R menerima sampah dari setiap lokasi, sampah baru
ditempatkan di bak paling besar (bak pengumpul) sekaligus wadahnya, kemudian sampah yang diterima ditimbang dan dicatat dengan diberi keterangan nama penyerah, asal sumber sampah, jenis sampah tercampur atau terpisah sampah organik dan sampah anorganik, serta ditandatangani oleh penyerah sampah
4. Pemilahan sampah – sampah yang diterima akan dilakukan pemisahan yang dibgai menjadi 5 jenis sampah, yaitu ;
- Sampah organik atau sampah yang mudah terurai, seperti sayur, nasi bekas, dedaunan, serpihan kayu, dll. Setiap hari dilakukan penimbangan sampah dan dicatat
- Sampah guna ulang yang dapat digunakan Kembali, seperti kertas kering, kardus, dll.
- Sampah daur ulang atau sampah yang dapat di daur ulang seperti kertas, botol, cup plastic - Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya dan
beracun seperti jerigen bekas pestisida, botolo bekas pestisida, dll,
- Sampah residu atau sampah yang tidak bisa dimanfaatkan lagi, seperti bekas popok bayi, pembalut, dll.
Sampah lainnya setiap hari dicatat jumlah sampah yang diterima 5. Pengolahan sampah
Pengolahan sampah organik
- Sampah organik yang dapat dicacah dan dijadikan kompos
- Sampah organik yang tidak dapat dicacah dan tidak dijadikan kompos, seperti yoghurt, tumbuhan berpenyakit, dll.
- Bahan kompos tidak tercampur atau terkontaminasi dengan logam berat B3, pestisida dll.
- Hasil pemilahan sampah organik yang dapat dibuat kompos, dimasukkan ke dalam mesin pencacah secara bertahap sesuai kapasatias mesin
- Hasil pencacahan ditampung ke wadah dan dimasukkan ke dalam bak pengomposan sampai bak cukup penuh untuk proses lanjutan
Pengomposan bak terbuka
- Bahan kompos dimasukkan dalam bak kompos setinggi 1/4 bak lalu diberi cairan bio activator pengomposan sejenis mikroba alami atau EM4, lalu aduk merata
- Bahan kompos dimasukkan lagi ke dalam bak, diberi cairan aktivator dan diaduk merata, terus dilakukan hingga kompos cukup penuh di bak sampah
- Bahan kompos diaduk minimal seminggu sekali agar aerasi aliran udara dalam wadah berlangsung baik dan cek suhu kompos
- Masuk minggu ke-2, pengomposan selesai, suhu dalam wadah normal kembali
- Ciri kompos jadi adalah kandungan C/Nrasio 10-20 : 1, berwarna cokla kehitaman, bau seperti tanah. Suhu sesuai dengan suhu air tanah (<30’), menggumpal tapi remah atau lebih lunak
- Produk kompos digunakan untuk pemupukan di areal tanaman (produksi dan NKT) dan di lingkungan sekitar camp
- Permasalahan sering muncul : muncul bau perlu ditambah cairan bio activator, ada belatung diberi cairan bio activator dan pengomposan tetap dijalankan, terlalu basah diberi cairan bio aktivator, terlalu kering ditambahkan air
6. Pengangkutan sampah
- pengangkutan sampah residu : sampah residu penuh, pengangkutan sampah ke TPA
kabupaten, sampah residu yang diangkut ditimbang dicatat dan dibuat berita acara atau surat pengantar pengeluaran sampah residu
- pengangkutan hasil pengolahan sampah : kompos organik dilakukan pengangkutan ke lokasi pemupukan tanaman atau penanaman di lingkungan sekitar, dibuat berita acara atau surat pengantar pengeluaran produk kompos
- sampah guna ulang dilakukan pengangkutan produk ke bank sampah atau pihak ketiga yang bekerja sama sesuai perjanjian kontrak, dibuat surat pengantar pengeluaran
7. penyerahan sampah
- penyerahan sampah ke petugas TPA kabupaten
- penyerahan sampah guna ulang dan daur ulang ke bank sampah - penyerahan sampah dicatat dan ditandatangani kedua pihak
- sampah B3 dan limbah B3 diserahkan logistic wilayah untuk disimpan di TPS limbah B3, penyerahan limbah B3 ke logistik wilayah tidak lebih dari 24 jam
Pengolahan Limbah Workshop
Pengolahan limbah workshop bertujuan untuk menjaga kualitas lingkungan dan tidak terjadi pencemaran lingkungan dari pembuangan air limbah workshop serta menjaga kualitas air baku dari pengolahan air limbah workshop
Air limbah workshop adalah air limbah dari aktivitas bengkel atau workshop seperti pencucian komponen mesin, pencucian bekas tumpahan BBM, dan oli di area servis
Oil catcher adalah infrastruktur yang dibangun untuk mengolah air limbah workshop sehingga memenuhi baku mutu air limbah
Titik penataan merupakan lokasi yang dijadikan acuan pemantauan untuk penataan baku mutur Izin pembuangan air limbah adalah izin kepada setiap usaha atau kegiatan untuk melakukan pembuangan dan pemanfaatan air limbah ke media lingkungan
1. identifikasi limbah B3 workshop – yang terdiri dari
- air limbah kegiatan pencucian komponen mesin atau peralatan bengkel, ceceran oli, BBM, dan Air yang terkontaminasi
- limbah B3 padat berupa aki bekas, kemasan bekas air aki, drum bekas, dsb, 2. proses perizinan pembuangan air limbah workshop
- proses perizinan pembuangan air limbah workshop ikut peraturan MenLHK RI No.
P.102/MENLHK/SETJEN/KUM.1/11/2018 tentang tata cara perizinnan pembuangan air limbah melalui pelayanan perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik
- proses perizinan : Pembangunan instalasi pengelolaan air limbah, surat permohonan kepada Bupati/Walikota Dinas Penanam Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu dan DLHK - surat permohonan disertai Nomor Induk Berusaha, Izin Lingkungan atau SK AMDAL, izin
IUPHHK-HTI, dan pernyataan pemenuhan komitmen yang disertai dokumen teknis kegiatan pembuangan air limbah
- dokumen teknis berisi kajian pembuangan air limbah, tata letak lokasi usaha, neraca air dan air limbah, informasi sistem IPAL, informasi upaya pengelolaan air limbah, informasi penanganan kondisi darurat pencemaran air, prosedur operasional standar tanggap darurat IPAL, dan pakta integritas
- dinas PM dan PTSP mengeluarkan surat permohonan rekomendasi teknis ke DLHK
- DLHK melakukan validasi kelengkapan dokumen dan verifikasi lapangan, dituangkan dalam berita acara
- Jika hasil verifikasi sudah lengkap dan benar, DLHK akan menerbitkan Surat Rekomendasi teknis komitemn terpenuhi ke Dinas PM dan PTSP
- Dinas PM dan PTSP mengeluarkan izin pembuangan air limbah workshop setelah menerima surat rekomendasi teknis
- Validasi dokumen dengan penerbitan izin pembuanga nair limbah paling lama 25 hari kerja sejak permohonan diterima
- Lembaga OSS menerbitkan penyataan definitif izin pembuangan air limbah - Izin pembuangan air limbah workshop berlaku 5 tahun dan dapat diperpanjang
- Perpanjangan izin wajib diajukan paling lambat 6- hari kerja sebelum masa berlaku akhir
Rehabilitasi Kawasan Lindung
Rehabilitasi kawasan lindung adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memulihkan, memperbaiki, atau meningkatkan kondisi ekosistem di kawasan lindung yang mungkin telah mengalami kerusakan atau degradasi. Tujuan dari rehabilitasi kawasan lindung adalah untuk menjaga keanekaragaman hayati, menjaga fungsi ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan lingkungan sekitar.
Lokasi rehabilitasi kawasan lindung diprioritaskan di areal terbuka, bekas lahan terbakar, semak belukar, tertanam tanaman pokok
Identifikasi teknik rehabilitasi dilakukan dengan inventarisasi flora pada plot 20 x 20 m, menghitung dan memverifikasi jumlah tumbuhan berkayu jenis lokal di kawasan lindung, Dimana satu plot dengan luas 0,04 ha (1%) mewakili <4%
Teknik rehabilitasi sesuai dengan hasil identifikasi dan verifikasi jumlah tumbuhan berkayu di lapangan :
- Suksesi alam (pembelukaran)
Pembuatan plot sampling verifikasi jumlah tumbuhan berkayu 20 x 20 m (nama lokal, nama ilmiah, jumlah tumbuhan), kemudian melakukan track batas sebagai dasar pembuatan peta rehabilitasi. Pemasangan papan nama pola suskesi alam (pembelukaran) sesuai dengan jumlah tumbuhan berkayu dalam kompartmen
- Pengkayaan tanaman
Melakukan sama seperti suksesi alam, jika hasil verifikasi jenis lokal 200 – 600 batang per ha maka dilakukan pengkayaan tanaman
- Penanaman HCV
Sama seperti pengkayaan tanaman, ditambah jika hasil verifikasi tumbuhan berkayu jenis tanmaan lokal <200 batang per ha maka dilakukan penanaman
Persiapan lahan dengan tebas jalur
- Tebas manual di setiap jalur tanam dengan lebar 2 meter sesuai dengan jalur yang telah ditandai dengan pita, jarak antar jalur 6 meter
- Jenis tumbuhan yang ditebas adalah alang-alang, gulma, santet, pembelit, dll. Tanaman eksotik seperti akasia ditebas di seluruh areal pada tanaman yang berdiaeter <10 cm, jika berdiameter >10 cm dilakukan peneresan
Penanaman HCV
- Jarak tanam jenis lokal adalah 4 x 4 m
- Setiap titik tanam diberi ajir dan jumlah tanam per ha adalah 625 batang, bila titik tanam di dekat batu atau tanggul dan tidak memungkinkan dapat digeser maksimal 30 cm
- Lubang tanam ukurannya 20 x 20 x 30 cm
- Pengangkutan bibit harus tertutup dan disertai surat permintaan bibit dan trip tiket pengiriman bibit
- Pemupukan dengan TSP 46 dosisnya 45 g/batang dimasukkan ke dalam lubang pupuk yang dibuat di samping lubang tanam ukuran 10 x 10 x 15 cm. jarak antar lubang tanam dan lubang pupuk adalah 10 cm di samping kanan
Pengkayaan tanaman
- Jarak tanam pengkayaan jenis lokal adalah 6 x 5 m, jumlah titik tanam per ha adalah 334 batag
- Tanaman yang mati harus disulam hingga persen hidup 93% atau 310 batang per ha
Pasca penanaman dan pemeliharaan
- Melakukan perhitungan bibit dan pupuk tersisa. Bibit tersisa dikembalikan ke persemaian paling lambat 3 hari setelah selesai tanam. Kemasan pupuk yang telah kosong dikembalikan ke TPS Limbah B3 dengan form pengiriman limbah B3
- Limbah domestik harus dikumpulkan dan dikembalikan ke GA wilayah untuk diolah
- Kegiatan pemeliharaan : penyiangan gulma baik dalam jalur tanam atau jalur kotor hasil tebasan atau sama dengan penyiangan semak belukar/gulma di seluruh areal rehabilitasi, pengkayaan, dan pembelukaran, pembebasan dari liana
Inventarisasi Flora dan Fauna
Inventarisasi flora dan fauna adalah proses pengumpulan, pencatatan, dan analisis data mengenai keberadaan dan distribusi spesies tumbuhan dan hewan di suatu daerah tertentu. Tujuan dari inventarisasi ini adalah untuk memahami keanekaragaman hayati, mengidentifikasi spesies yang ada, dan menyediakan dasar informasi bagi pengelolaan konservasi dan pengambilan keputusan terkait lingkungan.
Inventarisasi Flora :
- Pembuatan PU – PU secara purposive sampling dengan metode jalur berpetak yang arah jalur nya disesuaikan dengan kondisi lapangan dan mengikuti arah mata angin
- Jumlah plot dengan IS yang digunakan <2% dari luas kawasan lindung, makin luas area yang diamati, IS semakin kecil, berdasarkan kawasan hutan IS KH Benakat (0,02%, jadai jumlah plot 162), Subanjeriji (0,04%, jadi jumlah plot 100), Martapura (0,1% jadi jumlah plot 41) - Jarak antar jalur 100-200 m, jarak antar plot berdekatan dalam satu jallur 40-100 m, luas plot
seperti praktek ekologi pohon (semai, pancang, tiang, pohon) - Untuk mendapatkan nilai INP = KR + FR + DR
- LBDS = ¼ pi D2
- Analisa lain dengan indeks keragaman jenis, indeks morishita
Inventarisasi Fauna
Metode pengamatan satwa ada beberapa, yaitu
1. Metode transect jalur (satwa mamalia) – metode sepanjang 1 km dengan lebar 1 jalur 100 m (50 m kanan kiri) : IS KH Benakat 0,05% jadi jalur 16, Subanjeriji 0,05% jadi 8 jalur, Martapura 1 % jadi 2 jalur
2. Metode IPA (satwa burung) – membuat titik pengamatan stasioner sejumlah 10 titik dalam satu jalur dengan jarak antar titik 100 m, pengamatan dilakukan 15 menit
3. Pengamatan tidak langsung (jejak) – pada satwa yang biasa meniggalkan jejak aktivitas, kelembaban tanah menentukan ketepatan hasil, jejak setiap aktivitas dicatat posisi
Analisa data Satwa
- Kelimpahan jenis relatif – KR = jumlah individu spesies ke-i/jumlah total individu suatu jenis
- Tingkat keanekaragaman jenis Shanon index – H = - pi piln¿
¿¿
∑
¿, >3 tinggi, 1-3 sedang, <1
rendah
Pengelompokan flora dan fauna berdasarkan kriteria dalam Redlist IUCN CITIES Appendix dan PP No. 7 Tahun 1999
Pemantauan Debit Sedimentasi Air Sungai
Pemantauan debit sedimentasi air dan sungai adalah proses pengukuran dan pemantauan jumlah sedimen yang terbawa oleh aliran sungai atau air permukaan. Debit sedimentasi merupakan parameter penting dalam pengelolaan sumber daya air dan lingkungan sungai, karena dapat memberikan informasi tentang erosi tanah, perubahan geomorfologi sungai, dan kualitas air.
Prosedurnya Debit sungai :
1. Penetapan lokasi pengamatan : tepi sungai lurus dan sejajar terhadap arus sungai, dasar sungai stabil, tidak terdapat batu besar, bendungan, dsb. Yang membuat arus turbulen, airan air sungai tidak terganggu sampah, penampang dasar saluran rata agar arus sedikit turbulen 2. Pengukuran debit air sungai : dengan metode apung, mengukur lebar Sungai, kedalaman
Sungai per segmen, panjang lintasan sepanjang 10 m, waktu pelampung untuk menempuh jarak, pengulangan sebanyak 3 kali
3. Analisis data dengan V = s/t ; luas penampang segmen I III V VI A = (a x t )/2, segmen II IV A = p x l sehingga luas penampang sungan A total ; Debit Sungai Q = V x A
Prosedur sedimentasi sungai :
1. Pengambilan contoh air – sebanyak 1 liter pada setiap bagian tepi kiri, Tengah, dan kanan Sungai dengan cara melawan arah aliran, kemudian dibawa ke lab dan diendapkan 1 x 24 jam 2. Pengukuran sedimen di lab – saring sedimen dengan kertas saring, cawan dioven dulu +- 60’C 2 jam, trus ditimbang, sedimen masuk dalam cawan dioven +- 105’C selama 2 jam, didiamkan sesaat dan sedimen ditimbang
3. Analisis data
Pemantauan Cuaca dan Erosi Tanah
Pemantauan cuaca dan erosi tanah merupakan praktik yang penting dalam manajemen lingkungan dan pertanian. Informasi mengenai kondisi cuaca dan tingkat erosi tanah dapat membantu dalam pengambilan keputusan untuk mengelola tanah dan sumber daya alam dengan lebih baik
Penetapan lokasi stasiun : bebas halangan pada jarak 4 kali tinggi objek penghalang, alat penakar hujan harus dipasang tegak lurus dan tinggi permukaan antara 90 – 120 cm dari atas tanah, bebas angin baik, menghindari kerikil atau jalan aspal yang dapat memantukan panas
Pengamatan Cuaca :
a. Pengukuran curah hujan : setiap jam 7 setelah kejadian hujan (pengukuran jumlah air hujan tertampung dengan gelas ukur 50 ml) – CH = Jumlah air tertampung/luas penakr hujan b. Pemantauan suhu : menggunakan termometer maksimum (diamati puku 5 sore) dan
minimum (7 pagi)
c. Pemantauan kelembaban : termometer bola kering bola basah, dilakukan pada puku 7, 12, 5 sore, data dikonversikan ke RH
Pengamatan plot erosi
a. Lokasi pengamatan ada di lahan datar (0-8%) tertutup terbuka, landai (8-15%) tertutup terbuka, miring (15-40%) tertutup terbuka, lahan TPK, kawasan lindung
b. Metode pengamatan bak erosi : plot ukuran 22 x 4 m dilengkapi bak penampung run off dan sedimen, dilakukan setiap 1 bulan sekali, ukur volume air di bak, bawa contoh suspensi 600 ml ke lab, lalu dilakukan seperti pada pengamata sedimen Sungai
c. Metode tongkat stick : menggunakan tongkat atau stick dengan panjang 100 cm, buat plot erosi ukuran 9 x 3 m di lokasi terpilih, setiap 1,5 x 3 m tongkat dibenamkan sehingga terdapat 12 tongkat, lalu ukur besar perubahan tinggi permukaan yang hilang