I Nyoman Tri Gusnadi (1404205042)1), Putu Rumawan Salain2), dan I Gusti Bagus Budjana3)–Revitalisasi Tempat Pem-
buangan Akhir Sampah di Temesi Gianyar, Bali
119
REVITALISASI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DI TEMESI GIANYAR, BALI Penerapan Tema Arsitektur Hijau pada TPA Terintegrasi
I Nyoman Tri Gusnadi1), Putu Rumawan Salain2), dan I Gusti Bagus Budjana3)
1)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]
2)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]
3)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]
ABSTRACT
Temesi dumpsite is a garbage processing facility which is located in Gianyar city. This dumpsite has been overloaded so that the revitalization plan is needed as an effort to revitalize the dumpsite's function. The strategy to revitalize the Teme- si dumpsite is implementing the integrated dumpsite concept. The integrated dumpsite is a dumpsite concept that com- bines two activities into one, namely garbage processing and recreation. The integrated dumpsite planning in Temesi, Gianyar is a solution that can be applied to deal with garbage problems in Gianyar regency. In the architectural planning process, there is a theme that can be an element of a building. The theme applied in the integrated dumpsite in Temesi is green architecture. The application of the theme in this planning process is based on the principle of green architecture that involves two main activities such as saving energy and does not damage the environment. In the planning process of this Integrated dumpsite, the application of themes can be divided into two, namely the application to the building and layout arrangement. The application of theme in these two elements can be done by maximizing natural resources, utiliz- ing local materials, and minimizing the use of new resources. The application of the green architectural theme in this in- tegrated dumpsite is expected to minimize the negative impacts caused by garbage and to improve people's views on garbage problems.
Keywords: dumpsite, garbage, integration ABSTRAK
TPA Sampah Temesi merupakan sebuah fasilitas pengolahan sampah yang ada di Kota Gianyar. Namun, keadaan TPA ini sudah mengalami overload, sehingga diperlukan sebuah upaya untuk mengangkat kembali fungsi TPA tersebut dengan mengadakan perencanaan revitalisasi. Strategi dalam melakukan revitalisasi TPA Temesi ini adalah dengan menerapkan konsep TPA terintegrasi. TPA terintegrasi merupakan sebuah konsep TPA yang menggabungkan 2 kegiatan menjadi satu yaitu, pengolahan sampah serta rekreasi.
Dalam proses perencanaan arsitektur terdapat sebuah tema yang dapat menjadi elemen dari suatu bangunan. Tema yang diterapkan dalam TPA terintegrasi di Temesi ini adalah arsitektur hijau. Penerapan tema pada proses perencanaan ini didasari oleh prinsip arsitektur hijau itu sendiri seperti hemat energi dan tidak merusak lingkungan. Dalam proses perencanaan TPA terintegrasi ini, penerapan tema dapat dibagi menjadi 2 yaitu penerapan pada bangunan dan penataan layout. Penerapan tema pada 2 unsur tersebut dapat dilakukan dengan mengefisiensikan energi, efisiensi material, peningkatan mutu lingkungan, dan pengurangan sampah. Penerapan tema arsitektur hijau pada TPA terintegrasi ini diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan dari sampah, serta dapat memperbaiki pandangan masyarakat terhadap masalah persampahan.
Kata Kunci: TPA, sampah, integrasi
PENDAHULUAN
Kabupaten Gianyar merupakan salah satu destinasi pariwisata yang berkembang cukup pesat. Banyaknya jumlah dan kegiatan penduduk di Gianyar memiliki dampak negatif yaitu masalah persampahan. Salah satu fasilitas pengolahan sampah di Gianyar adalah TPA Temesi, namun TPA ini sudah dalam keadaan overload, sehingga dibuat sebuah upaya perencanaan Revitalisasi TPA Temesi terintegrasi. TPA Terintegrasi meru- pakan sebuah konsep TPA yang menggabungkan 2 kegiatan menjadi satu yaitu, pengolahan sampah serta
120
e-Jurnal Arsitektur Universitas Udayana-Volume (7) Nomor (1) Edisi Januari 2019-ISSN No. 9 772338 505117 rekreasi. Dalam proses perencanaan arsitektur, salah satu elemen penting pada perancangan bangunan adalah adanya sebuah tema. Pemilihan tema pada perencanaan harus disesuaikan dengan fungsi dari ban- gunan itu sendiri. Berdasarkan dari fungsi bangunan sebagai pengolahan sampah dan rekreasi maka, tema yang diterapkan adalah arsitektur hijau, dimana prinsip arsitektur hijau yang berusaha untuk meminimalkan pengaruh buruk pada lingkungan merupakan sebuah tema yang tepat untuk menekan dampak negatif yang ditimbulkan dari TPA tersebut. Selain untuk meminimalkan dampak sampah pada lingkungan, tema arsitek- tur hijau juga sebagai cara untuk menarik minat pengunjung pada fasilitas rekreasi TPA yang dimana dapat menjadi media edukasi bagi para pengunjung, sehingga dapat memperbaiki pandangan masyarakat terha- dap masalah persampahan. Dengan adanya Perencanaan Revitalisasi TPA Sampah di Temesi Gianyar ini diharapkan dapat menjadi suatu solusi masalah persampahan di Kabupaten Gianyar.REVITALISASI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DI TEMESI GIANYAR Spesifikasi Fasilitas
Revitalisasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Temesi Gianyar merupakan sebuah tempat pengolahan sampah yang dipadukan dengan tempat rekreasi. Dari fungsi pengolahan sampah terdapat beberapa fasili- tas yaitu tempat pemilahan sampah, tempat pengolahan pupuk, tempat pengolahan sampah plastik, beng- kel, IPAL, garasi, kantor, pengolahan gas metan, landfill, dan gasifikasi. Dari fungsi rekreasi terdapat area pusat pendidikan lingkungan yang merupakan sebagai media pembelajaran bagi pengunjung, selain itu juga terdapat area khusus pengunjung dalam tempat pemilahan sampah, serta pengolahan pupuk sehingga pen- gunjung dapat melihat secara langsung proses pengolahan sampah.
Tema
Perencanaan revitalisasi TPA sampah Temesi ini mengangkat sebuah tema yaitu tema arsitektur hijau. Me- nurut Kusumawanto dan Budi Astuti arsitektur hijau adalah sebagai berikut.
Arsitektur hijau adalah merupakan bagian dari penerapan pembangunan yang berkelanjutan. Berkelanjutan di- tejemahkan bukan hanya berpihak pada kepentingan ekonomi dan social semata, namun peduli terhadap ke- lestarian lingkungan sehingga masih dapat dinikmati oleh generasi mendatang
Pendekatan dalam pemilihan tema pada perencanaan revitalisasi TPA Temesi ini dilakukan berdasarkan da- ri fungsi utama dari TPA Temesi ini adalah sebagai tempat pengolahan sampah yang baik dan tidak meru- sak lingkungan dengan sistem pengolahan pupuk organik sebagai pengolahan sampah utama, dimana dika- renakan oleh komposisi sampah terbanyak di Kabupaten Gianyar adalah sampah organik baik itu sampah dalam rumah tangga maupun sampah non rumah tangga
Gambar 1. Komposisi Sampah di Kabupaten Gianyar Sumber: Laporan Pengelolaan Persampahan Kabupaten Gianyar Tahun 2017
Selain sebagai tempat pengolahan pupuk organik, pada TPA ini juga terdapat fungsi lain yaitu berupa wisata edukasi yang terbuka bagi masyarakat, sehingga diharapkan pengunjung dapat mengetahui bagaimana mengelola sampah dan dapat memperbaiki pandangan buruk masyarakat terhadap masalah persampahan.
Selain itu penentuan tema juga didasari oleh letak dari TPA yang merupakan daerah pertanian yang hijau, sehingga tema diselaraskan dengan keadaan lokasi setempat.
Penerapan Tema
Penerapan tema pada desain perencanaan Revitalisasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Temesi Gia- nyar dapat dibagi menjadi desain perencanaan penataan layout dan bangunan. Pada perencanaan penataan layout penerapan tema arsitektur hijau diimplementasikan pada zoning bangunan. Berdasarkan
I Nyoman Tri Gusnadi (1404205042)1), Putu Rumawan Salain2), dan I Gusti Bagus Budjana3)–Revitalisasi Tempat Pem-
buangan Akhir Sampah di Temesi Gianyar, Bali
121
dari prinsip arsitektur hijau yaitu pemanfaatan keadaan tapak serta untuk efisiensi energi, maka penataan layout untuk area yang dipergunakan sebagai area pengolahan ada pada sekitar landfill, sehingga kegiatan pengolahan sampah menjadi lebih efisien. Penataan letak dari fungsi wisata edukasi dilakukan dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, sehingga area ini ada pada utara site yang bertujuan agar berjauhan dengan lokasi landfill. Selain itu penerapan arsitektur hijau lainnya yaitu dengan meningkatkan mutu lingkungan, yang dilakukan dengan cara menambahkan vegetasi pada sekeliling dari landfill, dan pada se- tiap ruang luar, sehingga dampak negatif dari sampah dapat diminimalisir.
Gambar 2. Penerapan Tema Arsitektur Hijau Pada Perencanaan Site Plan
Bangunan
Pada perencanaan bangunan penerapan tema arsitektur hijau yaitu meliputi penggunaan material, penga- hawaan, dan pencahayaan. Bangunan yang dipergunakan sebagai contoh penerapan tema ini adalah pusat pendidikan lingkungan. Masing-masing aspek tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut.
Material
Material yang digunakan pada bangunan adalah material-material yang ramah lingkungan. Penggunaan material ini dapat dibagi menjadi 3 yaitu elemen bawah, samping, dan atas. Pada elemen bawah menggunakan material keramik dengan motif kayu. Keramik dipergunakan selain dikarenakan pemasangan yang mudah, juga untuk mengurangi pemakaian kayu namun tetap dapat memberikan kesan arsitektur hijau. Pada elemen samping yaitu bagian dinding material yang digunakan adalah batu bata ekspos, dimana batu bata yang dipergunakan adalah batu bata lokal, sehingga dapat menghemat energi dalam pengiriman.
Material batu bata dipilih juga dikarenakan material ini mampu menyerap sinar matahari dengan baik, serta kedap suara. Pada elemen atap, menggunakan material genteng dan kaca. Penggunaan material genteng dikarenakan kelebihan genteng itu sendiri yaitu tahan lama, dan tidak menimbulkan hawa panas pada ruangan. Sedangkan untuk material kaca digunakan untuk meneruskan cahaya matahari kedalam ruangan.
Penghawaan dan Pencahayaan
Penerapan tema pada bangunan adalah pemanfaatan penghawaan dan pencahayaan. Prinsip arsitektur hi- jau adalah efisiensi dalam penggunaan energi, dalam hal ini adalah memaksimalkan penggunaan pencahayaan alami dan penghawaan alami. Dalam memaksimalkan pencahayaan alami penerapannya pada bangunan adalah dengan menggunakaan bukaan-bukaan yang lebar, sehingga sinar matahari dapat masuk kedalam bangunan dengan maksimal. Selain itu pada atap menggunakan material kaca sehingga dapat meminimalkan penggunaan pencahayaan buatan. Penggunaan kaca untuk memaksimalkan pencahayaan buatan ini tentunya memiliki kekurangan yaitu dapat memberikan hawa panas pada ruangan.
Dalam menanggulangi efek hawa panas tersebut maka cara yang digunakan adalah dengan menerapkan sistem cross ventilation serta menambahkan sun shading pada luar bangunan. Sun shading yang digunakan
122
e-Jurnal Arsitektur Universitas Udayana-Volume (7) Nomor (1) Edisi Januari 2019-ISSN No. 9 772338 505117 ditambahkan dengan adanya vertical garden, sehingga udara yang masuk kedalam bangunan difilter menjadi udara yang sejuk. Selain itu sun shading juga untuk mengurangi intensitas sinar matahari masuk ke dalam bangunanGambar 3. Penerapan Pencahayaan dan Penghawaan Alami Pada Bangunan
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan dari penjabaran diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan tema arsitektur hijau pada perencanaan Revitalisasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Temesi Gianyar merupakan solusi yang tepat dalam perencanaan TPA terintegrasi, yang dimana memiliki 2 fungsi yaitu sebagai tempat pengo- lahan sampah dan rekreasi. Dengan penerapan tema arsitektur hijau selain dapat mengurangi dampak ne- gatif, juga dapat memberi kenyamanan pada civitas yang ada di dalamnya
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya. 2015. ‘Penataan dan Revitalisasi Kawasan’.
Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Gianyar. 2017. ‘Laporan Pengelolaan Persampahan di Kabupaten Gianyar’.
Ervianto, Wulfram I. 2012. ‘Selamatkan Bumi Melalui Konstruksi Hijau’. Yogyakarta. CV. Andi Offset
.
Gusnadi, I Nyoman Tri. 2018. Studio Tugas Akhir. ‘Revitalisasi Tempat pembuangan Akhir Sampah di Te-mesi Gianyar’. Teknik Arsitektur Universitas Udayana
Karyono, Tri Harso. 2010. “Green Architecture: Pengantar Pemahaman Arsitektur Hijau di Indonesia”.
Jakarta. PT Rajagrafindo Persada
Kusumawant, Arif. Astuti, Zulaikha Budi. 2014. “Arsitektur Hijau Dalam Inovasi Kota”. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press
Udara masuk mela- lui celah sun shad- ing sehingga mem- berikan udara sejuk pada bangunan Pemanfaatan sun shading untuk men- gurangi intensitas sinar matahari ke dalam bangunan Penggunaan material kaca untuk memaksimalkan pencahayaan alami Penggunaan atap tumpang
untuk memaksimalkan sis- tem cross ventilation
Pemberian ver- tical garden pa- da sunshading sebagai penera- pan tema dan fil- ter udara