• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISAL FIRDIANSYAH - UNISMA Repository

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "RISAL FIRDIANSYAH - UNISMA Repository"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh :

RISAL FIRDIANSYAH N.P.M: 22002021024

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM MALANG MALANG

2022

(2)

v

ILLEGAL LOGING

Kata Kunci: Pertanggungjawaban Hukum, Pembalakan Hutan

Risal Firdiansyah Abdul Wahid Moh. Muhibbin Abstrak

Data Departemen Kehutanan tahun 2006, luas hutan yang rusak dan tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektare kawasan hutan di Indonesia, dengan laju deforestasi dalam lima tahun terakhir mencapai 2,83 juta hektare per tahun. Kejahatan yang berkaitan dengan tindakan pengrusakan atau penebangan kayu hasil hutan telah terbukti mengakibatkan problem yang serius di masyarakat, baik jangka pendek maupun masa mendatang.

Sebagaimana dasar pemikiran penulisan di atas, maka rumusan masalah yang penulis bahas adalah: 1. Apa saja akibat dan upaya penanggulangan terhadap kejahatan pembalakan hutan (

illegal logging

)? 2. Bagaimanakah eksistensi pertanggungjawaban hukum terhadap pelaku kejahatan pembalakan hutan (

illegal logging

) dalam kajian hukum nasional?

Dalam Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Penceahan Dan Pemberantasan Perusakan Hutan disebutkan, bahwa pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan bertujuan: a. menjamin kepastian hukum dan memberikan efek jera bagi pelaku perusakan hutan; b.

menjamin keberadaan hutan secara berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian dan tidak merusak lingkungan serta ekosistem sekitarnya; c.

mengoptimalkan pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan dengan memperhatikan keseimbangan fungsi hutan guna terwujudnya masyarakat sejahtera; dan d. meningkatnya kemampuan dan koordinasi aparat penegak hukum dan pihak-pihak terkait dalam menangani pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian bersifat

deskriptif

. Berdasarkan bahan hukum yang digunakan dalam penelitian, maka penelitian hukum ini menggunakan pendekatan yuridis normatif. Penelitian hukum dengan pendekatan yuridis normatif ini dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder. Berdasarkan dengan hal ini maka dalam menganalisis data yang diperoleh, penulis menggunakan metode atau teknik analisis isi

(content analysis),

yaitu suatu analisis terhadap isi data yang diperoleh.

Kesimpulan dari penelitian ini antara lain: Banyak peristiwa ekologis yang mengerikan akibat pembalakan hutan Kerugian dalam jangka pendek maupun jangka panjang juga tidak sedikit. Salah satu dampak serius yang diakibatkan oleh pembalakan hutan adalah bencana alam di sekitar kawasan hutan maupun yang jauh dari kawasan hutan. Tanah longsor dan bencana banjir di Indonesia, secara umum disebabkan oleh pembalakan hutan yang sulit dikendalikan. kerusakan sumberdaya hutan tersebut merupakan bukti kuat untuk mempertanyakan peran aparat penegak hukum dalam melaksanakan atau menegakkan norma hukum yang mengatur perlindungan hutan.

(3)

vi

Risal Firdiansyah Abdul Wahid Moh. Muhibbin

Abstract

According to the Ministry of Forestry in 2006, the area of forest that is damaged and unable to function optimally has reached 59.6 million hectares of 120.35 million hectares of forest areas in Indonesia, with the rate of deforestation in the last five years reaching 2.83 million hectares per year.

Crimes related to the destruction or logging of forest products have been shown to cause serious problems in the community, both short-term and in the future.

As the basis of the writing above, the formulation of the problem that the author discussed is: 1. What are the consequences and countermeasures to the crime of illegal logging? 2. What is the existence of legal liability for perpetrators of illegal logging crimes in the study of national law?

In Article 3 of the Law of the Republic of Indonesia Number 18 of 2013 concerning The Eradication and Eradication of Forest Destruction, it is stated that the prevention and eradication of forest destruction aims to: a. ensure legal certainty and provide a deterrent effect for forest destruction actors; b. ensuring the existence of forests in a sustainable manner while maintaining sustainability and not damaging the environment and surrounding ecosystems; c. optimizing the management and utilization of forest products by paying attention to the balance of forest functions for the realization of prosperous communities; and d.

increased ability and coordination of law enforcement officials and related parties in handling the prevention and eradication of forest destruction.

This research uses a descriptive type of research. Based on the legal materials used in the research, this legal research uses a normative juridical approach. Legal research with a normative juridical approach is carried out by researching library materials or secondary data. Based on this, in analyzing the data obtained, the author uses a method or technique of content analysis (content analysis), which is an analysis of the contents of the data obtained.

Conclusions of this study include: Many terrible ecological events due to

logging Losses in the short and long term are also not small. One of the serious

impacts caused by logging is natural disasters around forest areas and those far

from forest areas. Landslides and flood disasters in Indonesia, in general, are

caused by logging that is difficult to control. The destruction of forest resources

is strong evidence to question the role of law enforcement officials in

implementing or enforcing legal norms governing forest protection.

(4)

1 A. Latar Belakang Masalah

Hasil analisis

Forest Watch

Indonesia (FWI) dan

Global Forest Watch

(GFW) dalam kurun waktu 50 tahun, luas tutupan hutan Indonesia mengalami penurunan sekitar 40% dari total tutupan hutan di seluruh Indonesia. Sebagian besar, kerusakan hutan (

deforestasi

) di Indonesia akibat dari sistem politik dan ekonomi yang menganggap sumber daya hutan sebagai sumber pendapatan dan bisa dieksploitasi untuk kepentingan politik serta keuntungan pribadi.1

Menurut data Departemen Kehutanan tahun 2006, luas hutan yang rusak dan tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektare kawasan hutan di Indonesia, dengan laju deforestasi dalam lima tahun terakhir mencapai 2,83 juta hektare per tahun. Bila keadaan seperti ini dipertahankan, dimana Sumatera dan Kalimantan sudah kehilangan hutannya, maka hutan di Sulawesi dan Papua akan mengalami hal yang sama. Menurut analisis

World Bank

, hutan di Sulawesi diperkirakan akan hilang tahun 2010. Praktek pembalakan liar dan eksploitasi hutan yang tidak mengindahkan kelestarian, mengakibatkan kehancuran sumber daya hutan yang tidak ternilai harganya, kehancuran kehidupan masyarakat dan kehilangan kayu senilai US$ 5 milyar, diantaranya berupa pendapatan negara kurang lebih US$1.4 milyar setiap tahun. Kerugian tersebut belum

1http://id.wikipedia.org/wiki/Pembalakan_liar, diakses tanggal 12 Agustus 2021.

(5)

menghitung hilangnya nilai keanekaragaman hayati serta jasa-jasa lingkungan yang dapat dihasilkan dari sumber daya hutan.

Dari waktu ke waktu, tindak kejahatan terhadap kawasan hutan dan hasil-hasil hutan membawa akibat negatifnya yang tidak hanya menimpa kawasan hutan itu, tetapi juga dapat mengakibatkan kerusakan terhadap kehidupan masyarakat dan negara di masa kini maupun masa mendatang.

Kasus terjadinya banjir dan tanah longsor adalah disebabkan oleh ulah manusia yang merusak kawasan hutan dengan cara melakukan penebangan.2

Berbagai bentuk problem yang berhubungan dengan hutan dewasa ini semakin memprihatinkan. Warga masyarakat dewasa ini banyak menghadapi permasalahan yang serius sehubungan dengan banyaknya dan maraknya tindak kejahatan yang terjadi yang ditujukan terhadap kawasan hutan.. Masyarakat sudah cukup menderita karena tindak kejahatan yang mengakibatkan kerusakan kawasan hutan sehingga masyarakat yang menerima akibatnya. Masyarakat tiba-tiba dibuat kaget dengan datangnya bencana, yang ternyata sumber bencana ini berasal dari kondisi kerusakan hutan.

Warga masyarakat seringkali dicekam ketakutan ketika musim hujan tiba misalnya akibat tindak kejahatan yang dilakukan selama ini terhadap kawasan hutan. Secara tidak langsung, dalam musim hujan, masyarakat akhirnya sangat rawan sebagai korban bencana alam akibat ulah manusia yang tidak bertanggungjawab ini. Ketika dalam keadaan tidur nyenyak di malam hari, tiba-tiba banjir datang dan menenggelamkan kampungnya.

2 Hamim Ibrahim, Pembalakan Hutan: Mempertaruhkan Indonesia, Pelita, Bandung, hal.

11.

(6)

Banjir ini setelah diselidiki ternyata diakibatkan oleh kawasan hutan yang sudah rusak berat yang tidak mampu mencegah bahaya yang ditimbulkannya.3

Hal itu kemudian menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat menjadi tidak tentram akibat perilaku-perilaku jahat dan melanggar hukum yang dilakukan oleh mereka yang berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara merusak kawasan hutan, seperti menebang kayu hasil hutan dengan dengan cara-cara yang illegal. Masyarakat dirugikan oleh perilaku menyimpang yang dilakukan oleh penjahat yang inginnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara yang serba mudah ini.

Dalam kondisi serba sulit di Indonesia saat ini, memang bukan tidak mungkin ada suatu titik temu antara tindak kejahatan yang terjadi dimasyarakat dengan faktor kesulitan ekonomi yang dialami warga masyarakat. Artinya, kesulitan ekonomi yang menimpa seseorang dapat menjadi faktor yang ikut menentukan terjadinya tindak kejahatan, di samping pengaruh-pengaruh lainnya.

Satu gejala sosial yang biasanya dinamakan kejahatan, sebenarnya merupakan suatu perilaku yang dianggap menyimpang atau membahayakan masyarakat. Namun tidak dapat disangkal, bahwa kejahatan tersebut merupakan realitas yang dikerjakan manusia di dalam proses interaksi sosial yang menjadi inti pergaulan hidup. Juga sulit untuk menyangkal pendapat ahli-ahli ilmu sosial, bahwa kejahatan merupakan suatu perilaku yang relatif dianggap menyimpang.4

3Ibid. Hal. 13.

4Abdurrahman, Op.Cit, hal. 29.

(7)

Di tengah pergaulan hidup manusia tersebut, ada seseorang yang punya ketahanan mentalitas yang tinggi dan stabil, meskipun kondisi ekonominya sulit, sehingga tidak sampai menempuh jalan yang menyimpang dan melanggar hukum untuk menghadapi pergaulan sosialnya, akan tetapi ada yang gagal menyesuaikan diri dengan norma-norma positip, sehingga untuk menyesuaikan dengan pergaulan sosial, digunakanlah cara-cara yang menyimpang dan melanggar hukum. Perbuatan menyimpang ini ada yang merugikan kehidupan masyarakat secara langsung dan jangka pendek, namun ada pula yang secara tidak langsung dan berjangka panjang.

Perusakan terhadap kawasan hutan misalnya seringkali menimbulkan kerugian pada masyarakat tidak secara langsung, tetapi kerugiannya dapat dirasakan belakangan.

Permasalahan lingkungan yang kini dihadapi umat manusia umumnya disebabkan oleh dua hal.

Pertama

, karena kejadian alam sebagai peristiwa yang harus terjadi sebagai sebuah proses dinamika alam itu sendiri.

Kedua

, sebagai akibat dari perbuatan manusia. Dari dua penyebab ini, ternyata manusia merupakan aktor dan kontributor utama dari semua kerusakan alam yang terjadi. Sungguh ironis, perusakan yang dahsyat terhadap lingkungan justru dilakukan oleh makhluk yang seharusnya bertindak sebagai pelindung dan pemelihara planet ini.

Keserakahan dan egoisme seringkali mendorong manusia melakukan hal-hal yang pada akhirnya merusak alam seperti penggundulan hutan, aktivitas penambangan yang melampaui batas, konsumsi energi yang berlebihan dan sebagainya. Banyak dari kita yang hanya memikirkan kenyamanan pribadi tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi pada

(8)

lingkungan di sekitar kita maupun lingkungan global secara keseluruhan.5 Padahal, kita bertanggung jawab sepenuhnya pada apa yang sedang terjadi pada planet ini. Setiap tindakan kita sebagai individu pada akhirnya akan menjadi satu kekuatan dahsyat yang berdampak positif ataupun negatif bagi keutuhan rumah kita satu-satunya ini.

Soerjono Soekanto mengutip pendapat pakar ilmu sosial dan humaniora A. Laccasagne yang berpendapat, bahwa yang terpenting adalah keadaan sosial lingkungan kita, karena lingkungan merupakan suatu wadah pembenihan untuk kejahatan dan kuman adalah penjahatnya. Demikian pula G. Tarde menyatakan bahwa kejahatan bukanlah gejala antropologik, melainkan gejala sosiologik dimana semua perbuatan penting manusia dilakukan karena proses peniruan atau imitasi, dilakukan di bawah kekuasaan contoh sebagaimana kejadian-kejadian di dalam masyarakat yang lain. Karena itu R. Owen juga mengatakan, bahwa lingkungan yang tidak baik membuat kelakuan seseorang menjadi jahat.6

Seseorang dapat melakukan kejahatan karena pengaruh keadaan yang dipandang buruk, tidak menguntungkan dirinya, sehingga cara-cara kriminal terpaksa dilakukannya, atau sehubungan dengan pengaruh kesulitan ekonomi yang menimpanya, maka cara yang melanggar hukum harus dilakukannya, karena cara-cara yang lain tidak ada lagi. Bisa pula disebabkan, bahwa seseorang berbuat jahat karena ingin kaya dengan cara yang gampang, atau kebutuhan ekonominya jauh lebih banyak dibandingkan

5http://green.kompasiana.com/iklim/2010/11/16/pelestarian-lingkungan-dalam- perspektif-islam/, askes 12 Agustus 2021.

6Abdurrahman, Op.Cit.

(9)

kebutuhan pokoknya, sehingga menuntut dan memaksanya untuk memenuhi dengan cara yang salah (jahat).

Kriminalitas atau kejahatan bukanlah merupakan peristiwa hereditir (bawaan sejak lahir, warisan), juga bukan merupakan warisan biologis.

Tingkah laku kriminal itu bisa dilakukan oleh siapapun juga, baik wanita maupun pria, dapat berlangsung pada usia anak, dewasa ataupun lanjut umur. Tindak kejahatan bisa dilakukan secara sadar, yaitu difikirkan, direncanakan dan diarahkan pada suatu maksud tertentu dengan kesengajaan.

Lebih-lebih jika tindak kejahatan itu bukan dilakukan oleh perorangan atau secara individual, tetapi dilakukan secara terorganisir, maka umumnya tindak kejahatan yang terjadi dapat berakibat fatal bagi kehidupan seseorang yang menjadi korbannya atau kehidupan masyarakat. Tindak kejahatan semacam ini biasanya didahului oleh suatu perencanaan yang matang, seperti bagaimana harus menghilangkan jejak dan mendapatkan harta yang diinginkan. Jika ini dilakukan terhadap kawasan hutan, maka bagaimana bisa menghilangkan jejak dari kejaran pihak yang berwajib.

Kalau mereka terus menerus bisa melakukan tindak kejahatan penebangan terhadap kayu hasil hutan, maka jelas sangat membahayakan bagi masa depan bangsa, khususnya yang berkaitan dengan perlindungan kekayaan bangsa.7

Dijelaskan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (yang sekarang sudah diamandemen dengan UU nomor 19 Tahun 2004), huruf a, bahwa hutan, sebagai karunia

7Ibid.

(10)

dan amanah Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia, merupakan kekayaan yang dikuasai oleh Negara, memberikan manfaat serbaguna bagi umat manusia, karenanya wajib disyukuri, diurus, dan dimanfaatkan secara optimal, serta dijaga kelestariannya untuk sebesar- besar kemakmuran rakyat, bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang; Sedangkan pada huruf c disebutkan bahwa pengurusan hutan yang berkelanjutan dan berwawasan mendunia, harus menampung dinamika aspirasi dan peranserta masyarakat, adat dan budaya, serta tata nilai masyarakat yang berdasarkan pada norma hukum nasional;

Kejahatan yang berkaitan dengan tindakan pengrusakan atau penebangan kayu hasil hutan telah terbukti mengakibatkan problem yang serius di masyarakat, baik jangka pendek maupun masa mendatang. Selain itu, dengan memperhatikan demikian besarnya kepentingan hutan sebagaimana diatur dalam norma hukum di Indonesia, maka seharusnya setiap anggota masyarakat berkewajiban untuk menjaga dan melindunginya, dan bukannya merusak kawasan hutan, termasuk asset-aset di dalamnya seperti kayu hasil hutan. Perusakan terhadap hutan salah satunya dilakukan dengan cara yang sering disebut oleh masyarakat sebagai

illegal logging.

Kejahatan ini telah mengakibatkan problem serius di tengah masyarakat.8 Penebangan hutan sudah tidak asing lagi bagi kita, terutama di Indonesia. Indonesia adalah pemilik 126,8 juta hektar hutan. Hutan seluas ini merupakan tempat tinggal dan pendukung kehidupan 46 juta penduduk lingkar hutan. Namun, saat ini, hutan kita berada dalam kondisi kritis. Laju perusakan hutan di Indonesia mencapai 2 juta hektar per tahun. Artinya,

8http://leonitatiruma.blogspot.com/2009/04/penebangan-hutan.html, diakses tanggal 15 September 2021.

(11)

tiap tahun kita kehilangan areal hutan kurang lebih seluas Pulau Bali.

Kerusakan hutan kita dipicu oleh tingginya permintaan pasar dunia terhadap kayu, meluasnya konversi hutan menjadi perkebunan sawit, korupsi dan tidak ada pengakuan terhadap hak rakyat dalam pengelolaan hutan.

Sebenarnya, hutan Indonesia hanya mampu memasok 46,77 juta meter kubik kayu bulat tiap tahunnya. Sayangnya, hal ini tak dipahami secara baik oleh pelaku industri kehutanan. Mereka terus saja menambah kapasitasnya tanpa memperhatikan kemampuan alam. Kapasitas industri kayu Indonesia mencapai 96,19 juta meter kubik, dua kali lipat kemampuan hutan Indonesia. Maraknya pembalakan liar adalah akibat dari ketimpangan permintaan dan ketersediaan kayu yang semakin meluluhlantakkan hutan kita. Tercatat total kayu ilegal untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri mencapai 30,18 juta meter kubik, yang telah menyebabkan kerugian negara sebesar Rp. 36,22 triliun pada tahun 2006.

Ilmuwan di berbagai belahan dunia telah membuktikan hubungan langsung antara kerusakan hutan dengan bencana banjir dan longsor, konflik dengan masyarakat, hilangnya keanekaragaman hayati, timbulnya kebakaran hutan dan juga sebagai salah satu faktor pemicu perubahan iklim global.

Pada tahun 2006 saja, terjadi 59 kali bencana banjir dan longsor yang memakan korban jiwa 1.250 orang, merusak 36 ribu rumah dan menggagalkan panen di 136 ribu hektar lahan pertanian. WALHI mencatat kerugian langsung dan tak langsung yang ditimbulkan dari banjir dan

(12)

longsor rata-rata sebesar Rp. 20,57 triliun setiap tahunnya, atau setara dengan 2,94% dari APBN 2006.9

Selain itu, di sisi lain, pemanfaatan dan pengelolaan sektor kehutanan adalah satu bagian yang penting dalam pengelolaan lingkungan hidup dimana telah menjadi sorotan bukan hanya secara nasional akan tetapi menjadi wacana global. Perhatian dunia internasional terhadap kelestarian hutan nampak dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi yang diadakan oleh PBB di Rio De Jeneiro pada tanggal 3 sampai 14 Juni 1992 yang juga merupakan peringatan 20 tahun Konferensi Stockholm tahun 1972.

Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio De Jeneiro menghasilkan suatu konsesus tentang beberapa bidang penting khususnya tentang prinsip- prinsip kehutanan

(forest principle)

yang dituangkan dalam dokumen dan perjanjian :

“Non-Legally Binding Authorotative Statement of Prinsiple for a Global Consensus on the Management, Conservation and Sustainable Development of all Types of Forest”

dan Bab 11 dari Agenda 21

“Combating Deforestation”.

Kemudian dalam pertemuan ketiga dari Komisi Pembangunan Berkelanjutan

(CSD-Commission of Sustainable Development)

disepakati untuk membentuk

Intergovermental Panel on Forest

(IPF) guna melanjutkan dialog dalam kebijakan kehutanan skala global.10

Prinsip-prinsip tentang Kehutanan tersebut di atas kemudian dijabarkan dalam Undang-Undang Kehutanan Indonesia yaitu UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan seperti yang terlihat dalam konsideran

butir a

UU No. 41/1999 bahwa “hutan wajib disyukuri, diurus dan dimanfaatkan

9http://leonitatiruma.blogspot.com/2009/04/penebangan-hutan.html,

10Mukti Adji, Tinjauan Hukum Illegal Logging, (2008), http://mukti- aji.blogspot.com/2008/05/tinjauan-hukum-illegal-logging.html, diakses tanggal 17 September 2021.

(13)

secara optimal, serta dijaga kelestariannya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan agar dapat dirasakan manfaatnya baik bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.11

Salah satu masalah yang sangat krusial dalam bidang lingkup pada sektor kehutanan ini adalah masalah penebangan liar atau yang dikenal dengan istilah

“illegal logging”

. Stephen Devenish, ketua Misi

Forest Law Enforecment Governance and Trade

dari Uni Eropa, mengatakan bahwa Penebangan Liar adalah penyebab utama kerusakan hutan di Indonesia.12

Penempatan penebangan liar sebagai faktor utama kerusakan hutan di Indonesia memang merupakan kondisi buruk yang sekarang ini sedang terjadi. Penebangan dilakukan oleh seseorang atau sejumlah orang sebagai upaya memenuhi kepentingan secara ekonomi, seperti mendapatkan keuntungan besar dari hasil penjualan kayu hasil hutan.

Mereka yang terlibat dalam kejahatan pembalakan hutan teresbut umumnya hanya sibuk memikirkan diri sendiri dan kroni-kroninya, sementara kepentingan jangka panjang masayarakat dan bangsa tidak diperhatikannya.

Kepentingan jangka panjang yang terabaikan akan membuat bangsa dan masyarakat Indonesia bisa kehabisan sumberdaya yang sebenarnya diharapna untuk memenuhi berbagai kebutuhn vitalnya.13

Data yang dikeluarkan Bank Dunia menunjukkan bahwa sejak tahun 1985-1997 Indonesia telah kehilangan hutan sekitar 1,5 juta hektare setiap tahun dan diperkirakan sekitar 20 juta hutan produksi yang tersisa.

Penebangan liar berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan kayu di pasar

11Ibid.

12 Ibid.

13Muhammad Adib, Kriminaisasi Hutan, Jaringan Pengawasan Kekayaan Bangsa, 2010, hal. 15.

(14)

internasional, besarnya kapasitas terpasang industri kayu dalam negeri, konsumsi lokal, lemahnya penegakan hukum, dan pemutihan kayu yang terjadi di luar kawasan tebangan.

Atas dasar uraian di atas, maka penulis tertarik untuk membahas masalah dalam tesis ini dengan judul “EKSISTENSI PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM TERHADAP PELAKU KEJAHATAN PEMBALAKAN HUTAN (

ILLEGAL LOGING

)”

B. Rumusan Masalah

Sebagaimana dasar pemikiran penulisan di atas, maka rumusan masalah yang penulis bahas adalah sebagaimana berikut:

1. Apa saja akibat dan upaya penanggulangan terhadap kejahatan pembalakan hutan (

illegal logging

)?

2. Bagaimanakah eksistensi pertanggungjawaban hukum terhadap pelaku kejahatan pembalakan hutan (

illegal logging

) dalam kajian hukum nasional?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui dan memahami dampak dan upaya penanggulangan terhadap kejahatan pembalakan hutan (

illegal logging

).

2. Untuk mengetahui dan memahami pertanggungjawaban hukum pidana terhadap pelaku kejahatan pembalakan hutan (

illegal logging

) dalam kajian hukum nasional.

(15)

D. Manfaat Penelitian

1. Dari aspek teoritis, dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis dalam mengaplikasikan ilmu hukum yang pernah penulis pelajari di Program Studi Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma).

2. Dari aspek empirik dan strategis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi kalangan aparat penegak hukum dan masyarakat dalam menanggulangi tindak kejahatan tindak kejahatan penebangan kayu hasil hutan secara ilegal (

illegal logging

).

3. Dari aspek edukatif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sum- bangan pemikiran bagi kalangan akademis atau pembeajar masalah ilmu hukum yang tertarik mempelajari perkembangan upaya-upaya penanggulangan tindak kejahatan penebangan kayu hasil hutan secara ilegal (

illegal logging

).

E. Orisinalitas Penelitian

Berdasarkan hasil studi pelacakan terhadap penelitian terdahulu yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Penelitian dilakukan oleh Muhammad Ansori Lubis Universitas Darma Agung Medan dengan judul: ANALISIS YURIDIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP KORPORASI ATAS PENGRUSAKAN HUTAN. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Pertanggungjawaban korporasi terkait dengan tindak pidana pengrusakan hutan dalam Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 terdapat pada Pasal 78 ayat (14) yang merumuskan bahwa Tindak pidana sebagaimana dimaksud Pasal 50 apabila dilakukan

(16)

oleh dan atau atas nama badan hukum atau badan usaha, tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya, baik sendiri sendiri maupun bersama-sama, dikenakan pidana sesuai dengan ancaman pidana masing-masing ditambah dengan 1/3 (sepertiga) dari pidana yang dijatuhkan”. Tanggung jawab korporasi pada Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

2. Penelitian dilakukan oleh Ramsi Meifati Barus Alvi Syahrin dengan judul penelitian: PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ILLEGAL LOGGING (PEMBALAKAN LIAR) SEBAGAI KEJAHATAN KEHUTANAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN DAN UNDANG-UNDANG NO. 18 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PERUSAKAN HUTAN. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tindak pidana illegal logging dalam Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan terdapat pada Pasal 50 ayat (3) huruf c, e, f, h, j dan huruf k. Tetapi pada Pasal 112 Undang-undang 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dinyatakan Pasal 50 ayat (3) huruf a, f, g, h, j, dan huruf k dihapus. Jadi rumusan tindak pidana illegal logging terdapat pada Undang-undang 18 Tahun 2013 yaitu Pasal 12 huruf a, b, c, d, e, f, dan huruf g; dan Pasal 19 huruf a, b, c, d dan huruf f. 2. Setiap orang dalam Undang-undang No. 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan adalah orang-perorangan dan/atau korporasi. Sanksi pidana yang telah dirumuskan dalam Undang-undang No. 41 Tahun 1999 yang berkaitan dengan illegal logging telah dihapuskan, sehingga digunakan sanksi pidana dalam Undang-undang No. 18 Tahun 2013 yang terkait tentang tindak

(17)

pidana illegal logging terdapat pada pada Pasal 82-85, Pasal 94 dan Pasal 98. Pertanggungjawaban korporasi terhadap kejahatan illegal logging pada Pasal 109 dalam undang-undang ini adalah: 1) tuntutan dan/atau penjatuhan pidana dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya; 2) hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, korporasi tersebut diwakili oleh pengurus; 3) pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi hanya pidana denda; 4) selain pidana pokok, korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa penutupan seluruh atau sebagian perusahaan. 34 Penjelasan Pasal 7 35 “Kelompok terstruktur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak termasuk kelompok masyarakat yang bertempat tinggal di dalam dan/atau di sekitar kawasan hutan yang melakukan perladangan tradisional dan/atau melakukan penebangan kayu di luar kawasan hutan konservasi dan hutan lindung untuk keperluan sendiri dan tidak untuk tujuan komersial. Pertanggungjawaban pidana bagi pengurus korporasi yang berkaitan dengan Pasal 109 ayat (3) dibatasi sepanjang pengurus mempunyai kedudukan fungsional dalam struktur organisasi korporasi yang bersangkutan. 3. Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tidak ada merumuskan alasan penghapus kesalahan. Adapun unsur penghapus kesalahan dalam Undang-undang No. 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan terdapat pada pasal: 1) Pasal 11 ayat (3) Alasan ini dikategorikan sebagai alasan pembenar karena perbuatan itu dibenarkan oleh izin dari pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Perbuatannya telah memenuhi unsur delik tindak pidana, tetapi sifat perbuatan melawan hukumnya dihapuskan, sehingga sifat dapat dipidananya perbuatan telah hilang atau hapus. 2)

(18)

Pasal 13 ayat (2) Alasan ini dikategorikan sebagai alasan pembenar karena perbuatan itu dibenarkan oleh izin khusus dari Menteri. Perbuatannya telah memenuhi unsur delik tindak pidana, tetapi sifat perbuatan melawan hukumnya dihapuskan, sehingga sifat dapat dipidananya perbuatan telah hilang atau hapus.

F. Sistematika Penulisan

Bab I berisi Pendahuluan, yang akan membahas tentang latar belakang terjadinya pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup. Fenomena pencemaran lingkungan hidup merupakan fenomena memprihatinkan di Indonesia. Berpijak pada fenomena ini, dijadikanlah rumusan permasalahan, yang dilanjutkan pembahasannya dalam aspek tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II membahas tentang tinjauan pustaka yang berisi tentang pengertian hukum, kejahatan,

illegal logging

, perkembangan kejahatan pembalakan hutan, kebutuhan manusia terhadap hutan, dan dampak dari praktik pembalakan hutan yang dilakukan secara ilegal.

Bab III membahas metode penelitian yang terdiri dari: jenis dan pendekatan penelitian, sumber bahan hukum, teknik pengumpulan bahan hukum dan teknik analisa bahan hukum

Bab IV berisi hasil penelitian dan pembahasan yang terdiri dari: akibat dan upaya penanggulangan kejahatan pembalakan hutan serta pertanggungjawaban hukum pidana terhadap pembalakan hutan

Bab V berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran

(19)

85 A. Kesimpulan

1. Dari segi akibat atau dampak pembalakan hutan sudah dirasakan secara langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat atau bangsa Indonesia. Banyak peristiwa ekologis yang mengerikan akibat pembalakan hutan Kerugian dalam jangka pendek maupun jangka panjang juga tidak sedikit. Salah satu dampak serius yang diakibatkan oleh pembalakan hutan adalah bencana alam di sekitar kawasan hutan maupun yang jauh dari kawasan hutan. Tanah longsor dan bencana banjir di Indonesia, secara umum disebabkan oleh pembalakan hutan yang sulit dikendalikan.

Adapun beberapa upaya sudah dilakukan diantaranya sebagai berikut, 1) pemberian atau penyebaran informasi dan pemahaman pada masyarakat tentang pentingnya menggalakkan perlindungan kawasan hutan atau kekayaan hasil hutan, 2) menghentikan berbagai bentuk pola penebangan kayu hasil hutan, 3) memberikan hukuman secara maksimal terhadap siapa saja yang melakukan perusakan atau pembalakan/penebangan kayu hasil hutan, 4) melakukan penindakan terhadap siapa saja, khususnya perusahaan atau bahkan kalangan aparat yang melindungi praktik-praktik ilegal ini.

2. Kajian pertanggungjawaban hukum pidananya merupakan norma yuridis yang sedang berlaku di Indonsia yang mengatur masalah kejahatan atau perusakan hutan, diantaranya pembalakan hutan (

illegal logging

) yang sudah terumus dengan jelas dalam Undang-Undang Republik Indonesia

(20)

Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Perusakan Hutan, bahwa setiap bentuk perusakan terhadap sumberdaya hutan atau pembalakan secara ilegal merupakan tindak kejahatan atau tindak pidana. Selain itu, kerusakan sumberdaya hutan tersebut merupakan bukti kuat untuk mempertanyakan peran aparat penegak hukum dalam melaksanakan atau menegakkan norma hukum yang mengatur perlindungan hutan. Norma hukum yang mengatur sanksi terhadap pembalakan hutan secara ilegal sudah terinci dalam UU Kehutanan, khususnya sanksi pidananya. Norma ini dirumuskan dengan pertimbangan, bahwa kerusakan hutan di Indonesia sudah demikian parah, sehingga membutuhkan keberanian aparat penegak hukum untuk mengimplementasikan norma ini. Norma ini dibuat diantaranya guna melindungi kawasan hutan dari ancaman kerusakan dan kehancuran, di samping menjaga kelestariannya. Misi yuridis ini akan kehilangan kemanfaatannya, bilamana aparat tidak berusaha maksimal mewujudkannya. Secara yuridis normatif, norma yuridis yang mengatur mengenai perlindungan hutan dari perbuatan ilegal sudah digariskan dengan tegas atau berkepastian.

B. Saran-saran

1. Sebaiknya aparat penegak hukum punya keberanian dan tidak tebang pilih dalam menindak siapa saja yang melakukan penanggulangan penebangan kayu hasil hutan (

illegal logging

).

(21)

2. Diharapkan pengawasan berlanjut atau terus menerus dari masyarakat terhadap kinerja aparat penegak hukum dan praktik yang diduga sebagai pembalakan hutan.

(22)

88 BUKU

Abdillah , Tohari,

Masih adakah Hutan Pro Rakyat?,

Aksara Bernama, Jakarta, hal. 45.

Abdurrahman, 2009,

Kerusakan Hutan Potensial Menenggelamkan Negeri,

Jakarta: LPKHI,

Adib, Muhammad, 2010,

Kriminaisasi Hutan, Jaringan Pengawasan Kekayaan Bangsa

,

Akbar, Herman, 2010,

Hutan Kita Semakin Merana

, Kumpulan makalah dalam diskusi tentang Indonesia Tanpa Hutan (

Indonesia Without Forest

), diselenggarakan KPHI, Jakarta, 12 Mei 2010

Atnadja, Galih, 2010,

Hutan Di Rimba Mafia

, Kumpulan makalah dalam diskusi tentang Indonesia Tanpa Hutan (Indonesia Without Forest), diselenggarakan KPHI, Jakarta, 12 Mei 2010

CST. Kansil, 2000, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta

Hasan, Mohammad, 2009,

Hukum dalam Diealektika Pakar,

Jakarta: Forum Keadilan dan Kemanusiaan

Ibrahim, Hamim,

Pembalakan Hutan: Mempertaruhkan Indonesia,

Bandung:

Pelita

Jasman, Munadji, 2010,

Hutan: Sumber Sejahtera atau Petaka

, Kumpulan makalah dalam diskusi tentang Indonesia Tanpa Hutan (Indonesia Without Forest), diselenggarakan KPHI, Jakarta, 12 Mei 2010

Kartono, Kartini, 1987,

Patologi Sosial Jilid I,

Jakarta, Rajawali Pres

Khamami , 2010, Ahmad,

Menuju Totalitas Kriss Sumberdaya Alam

, Gerakan Membangun Masyarakat Bebas Bencana, Jakarta, 2010, hal. 28.

Mawardi, Chalid, 2010,

Hukum Untuk Keadilan

, Jakarta: P3HKI Simanjuntak, 1992,

Kriminologi

, Tarsito, Bandung

Soekanto, Soerjono, 1979

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum

, Jakarta: Rajawali

(23)

Saherodji, Hary, 1980, Pokok-pokok Kriminologi, Jakarta : Aksara baru Shihab, Alwi, 1997,

Islam Inklusif

, Bandung: Mizan,

Soekanto, Soerjono, 1986,

Pengantar Penelitian Hukum

, Jakarta: Sinar Grafika Soekanto, Soekanto, Soerjono & Sri Mamudji, 2003

Penelitian Hukum Normatf

,

Jakarta:Rajagrafindo Persada

Syani, Abdul, 1987, Sosiologi Kriminalitas, Bandung: Bina Aksara

Syamsudin, A. Qirom dan E. Sumaryono, 1980, Kejahatan Anak, Suatu Tinjauan Psikologi, Yogyakarta : Liberty

Wahid, Abdul, 2003

, Kriminologi dan Kejahatan Kontemporer

,Malang: Visipres dan Lembaga Penerbitan Fakultas Hukum

UNDANG-UNDANG

UU Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup sudah diubah atau diamandemen dengan UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

INTERNET

Tempo, 41/XXXVI/3-9 Desember 2007, diakses tanggal 16 Juli 2021

Elvin Gunawan, Pengelolaan Hutan dalam Pandangan Islam, http://elvingunawan.multiply.com/journal/item/12/Pengelolaan_Hutan_d alam_Pandangan_Islam?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem, diakses tanggal 12 Agustus 2021.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pembalakan_liar, diakses tanggal 12 Agustus 2021.

http://green.kompasiana.com/iklim/2010/11/16/pelestarian-lingkungan-dalam- perspektif-islam/, askes 12 Agustus 2021.

Usep Zainul Arif, http://zeinyusufofficial.wordpress.com/2010/12/15/kerusakan- hutan-di-indonesia-dalam-perspektif-ekonomi-islam/, diakses tanggal 12 Agustus 2021

http://www.perumperhutani. com/index. php?Itemid=2&id=485 &option=

com_content&task=view , diakses tanggal 12 Agustus 2021.

(24)

Mukti Adji, Deforestasi Indonesia, http://mukti- aji.blogspot.com/2008/05/deforestasi-indonesia.html, diakses tanggal 15 Agustus 2021

http://timpakul.web.id/illog-4.html, diakses tanggal 15 Agustus 2021.

http://www.unp.ac.id/downloads/pkmb08/bab-7.pdf, diakes tanggal 15 September 2021

http://leonitatiruma.blogspot.com/2009/04/penebangan-hutan.html, diakses tanggal 15 September 2021.

Mukti Adji, Tinjauan Hukum

Illegal Logging

, (2008), http://mukti- aji.blogspot.com/2008/05/tinjauan-hukum-illegal-logging.html, diakses tanggal 17 September 2021.

http://leonitatiruma.blogspot.com/2009/04/penebangan-hutan.html,

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis diatas dapat dilihat bahwa nilai adjusted R Square sebesar 0,267 yang memiliki arti partisipasi anggaran, akuntansi pertanggungjawaban dan komitmen