TAFSIR AYAT AHKAM
DIRASAH TAHLILIYAH TENTANG HAK ISTRI YANG TERABAIKAN:
STUDI TENTANG ILA’ DAN KHULU’
RISALAH QASHIRAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salahsatu Syarat KelulusanTamhiedul Mubalighat Oleh:
HANY HANIFAH Dra.
NIP : 2223002
TAMHIEDUL MUBALIGHAT PC. PERSISTRI BOJONGSOANG
KABUPATEN BANDUNG 1446/2025
LEMBAR PENGESAHAN Judul :
DIRASAH TAHLILIYAH TENTANG
(HAK ISTRI YANG TERABAIKAN: STUDI TENTANG ILA’ DAN KHULU’)
Risalah Qashirah ini telah disetujui dan siap dimunaqosyahkan
… Mei 2025
H.M RAHMAT NAJIEB, S. Pd NIAT : 01.02.17.342.018
Mengetahui :
Mudirah Tamhiedul Mubalighat
AAM MARYAM NPA.18477
Ketua PC.Persistri Bojongsoang
DEDEH FARIDAH S. Th.I NPA. 14969
LEMBAR MUNAQASYAH Judul :
TAFSIR AYAT AHKAM DIRASAH TAHLILIYAH TENTANG HAK ISTRI YANG TERABAIKAN: STUDI TENTANG ILA’ DAN
KHULU’
Risalah Qashirah ini telah memenuhi syarat kelulusan dan telah dimunaqasyahkan oleh penguji
… Mei 2025 Penguji :
H.M RAHMAT NAJIEB, S.Pd.
NIAT : 01.02.17.342.018 Mengetahui :
Mudirah Tamhiedul Mubalighat
AAM MARYAM NPA: 18477
Ketua PC. Persistri Bojongsoang
DEDEH FARIDAH, S.Th.I.
NPA: 1496
MOTTO HIDUP
ِﻊَﻓ ْﺮَﯾ
ُ ﱠ ٱ
َﻦﯾِﺬﱠﻟٱ
۟اﻮُﻨَﻣآ
ْﻢُﻜﻨِﻣ
َﻦﯾِﺬﱠﻟٱَو
۟اﻮُﺗوُأ
َﻢْﻠِﻌْﻟٱ
ٍﺖٰـَﺟَرَد
ُ ﱠ ٱَو ۚ ﺎَﻤِﺑ
َنﻮُﻠَﻤْﻌَﺗ
ٌﺮﯿِﺒَﺧ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Allah will raise those who have believed among you and those who were given knowledge, by degrees. And Allah is Acquainted with what
you do.
pasangan paling bahagia di dunia ini tidak mesti mempunyai sifat yang sama. mereka hanya saling memahami dengan baik mengenai
perbedaan yang mereka miliki
Happiest couples in the world never have the same nature. they just have the best understanding of their differenc
KATA PENGANTAR
ِﻢْﺴِﺑ
ِ ّٰ ٱ
ِﻦ َٰﻤ ْﺣﱠﺮﻟٱ
ِﻢﯿِﺣﱠﺮﻟٱ
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT. Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehungga Risalah qashirah ini dapat disususn dengan baik, dan dapat menyelesaikan Risalah qashirah ini tepat waktu.
Dengan izin Allah , penulis dapat menyelesaikan Rusalah Qashirah ini yang berjudul ' Hak Istri Yang Terabaikan ': Studi tentang Ila dan Khulu sebagai salah satu syarat kelulusan Tamhiedul Mubalighat II.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusuna Risalah Qashirah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun penyampaian.Okeh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai phak, demi kesempurnaan Risalah Qashirah ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih khususnya kepada :
1. Kepada kedua Orangtuaku yang tercinta, almarhumah Ibu Hj. Dede Rukmini dan almarhum Bapak Haji Nawawi, yang sepanjang hidupnya telah mencurahkan segala daya, upaya, dan kasih sayang kepada kami.
2. Berkat bimbingan, didikan, dan perhatian mereka, kami bisa menjadi seperti sekarang ini. Mereka tidak hanya menjadi figur orangtua yang penuh kasih, tetapi juga telah mengajarkan kami untuk tidak malas dan bekerja keras dalam menjalani kehidupan. Semoga segala amal ibadah mereka diterima di sisi Allah SWT, dan kami bisa menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah, seperti yang mereka harapkan. maka pantas kiranya penulis mengucapkan Jazakumullah khair, teriring do’a Allahumagfirlii Waliwaalidayya Warhamhumaa Kamaa Raabbayaanii Shaghiiraa.
3. Teruntuk suami dan anak-anak tercinta yang telah memberikan support dan motivasinya serta keluangan waktu, sehingga penulis dapat mengikuti Tamhiedul Mubalighat dan dapat menyelesaikan tugas akhir Risalah Qashirah ini.
4. Al-Ustadz H.M.Rahmat Najieb, S.Pd. sebagai musyrif yang telah memberikan banyak ilmu yang berharga bagi penulis, yang terus-menerus memberikan motivasi, arahan, dan masukan, membimbing penulis baik dalam pembelajaran ataupun dalam menyelesaikan Risalah Qashirah ini. Serta memberikan bimbingan sepenuhnya dari awal, sampai akhir kepada penulis dalam menyelesaikan Risalah Qashirah ini.
5. Seluruh Assatidzah Tamhiedul Mubalighat yang telah memberikan ilmunya kepada penulis sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan tentang agama islam yang lebih luas lagi.
6. Terimakasih kepada Mudirah Ibu Hj. Aam Maryam, dan staff penyelenggara Ibu Hj Eka Nurrahmatika S.Pd., Ibu Hj. Rabi’ah
Adawiyah S.Pd yang selalu dan senantiasa hadir untuk memotivasi kami dalam setiap KBM di Tamhiedul Mubalighat..
7. Seluruh pembelajaran dan pembekalan ilmu agama dari Asatidzah yang telah memberikan ilmu dan bimbingannya kepada kami selaku peserta Tamhiedul Mubalighat.
8. Ketua PC Persistri Bojongsoang Ibu Dede Faridah S.Th.I. yang telah membimbing dan memberikan nasihat, semangat, serta motivasi kepada penulis.
9. Terima kasih juga kepada teman-teman se-angkatan yang senantiasa memberikan motivasi kepada penulis untuk konsisten dalam mengerjakan Risalah Qashirah ini.
Dan untuk semua pihak yang penulis tidak dapat menyebutkan seluruhnya, semoga menjadi amal jariyah bagi kalian semua. Terimakasih serta teriring do’a Jazakumullah Khair
Bandung, … April 2024
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN...2
LEMBAR MUNAQASYAH... 3
MOTTO HIDUP...4
KATA PENGANTAR...5
DAFTAR ISI... 8
BAB I MUQODIMAH...1
A. Latar Belakang Masalah...1
B. Rumusan Masalah... 5
C. Tujuan Pembahasan...6
D. Manfaat Pembahasan... 6
BAB II METODE DAN TEKNIK PENELITIAN...7
A. Metode Penelitian... 7
B. Jenis Data... 7
C. Teknik Pengumpulan Data... 7
D. Teknik Analisis Data...7
BAB III PEMBAHASAN... 9
A. Pengertian Tafsir... 9
B. Pengertian Ayat Ahkam...37
C. Hak dan Kewajiban Suami Isteri...43
D. Hakikat Ila’... 64
E. Hakikat Khulu’... 68
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN...70
A. Kesimpulan... 70
B. Saran...71
DAFTAR PUSTAKA... 73
Buku...73
Internet... 73
BIOGRAFI PENULIS...75
BAB I MUQODIMAH
ﱠنِإ
َﺪْﻤَﺤْﻟا
،ِ ﱠ ِ
ُهُﺪَﻤ ْﺤَﻧ
ُﮫُﻨﯿِﻌَﺘْﺴَﻧَو
،ُهُﺮِﻔْﻐَﺘْﺴَﻧَو
ُذﻮُﻌَﻧَو
ِ ﱠ ﺎِﺑ
ِروُﺮُﺷ ْﻦِﻣ
،ﺎَﻨِﺴُﻔْﻧَأ
ْﻦِﻣَو
ِتﺎَﺌﱢﯿَﺳ
،ﺎَﻨِﻟﺎَﻤْﻋَأ
ْﻦَﻣ
ِهِﺪْﮭَﯾ
َﻼَﻓُ ﱠﷲ ﱠﻞِﻀُﻣ
،ُﮫَﻟ
ْﻦَﻣَو
ْﻞِﻠ ْﻀُﯾ
َيِدﺎَھ َﻼَﻓ
،ُﮫَﻟ
ُﺪَﮭْﺷَأَو
ْنَأ َ
َﮫٰـَﻟِإﻻ ﱠﻻِإ
،ُ ﱠﷲ
ُهَﺪ ْﺣَو َ
َﻚْﯾِﺮَﺷ ﻻ
،ُﮫَﻟ
ُﺪَﮭْﺷَأَو اًﺪﱠﻤَﺤُﻣ ﱠنَأ
ُهُﺪْﺒَﻋ
ُﮫُﻟﻮُﺳَرَو
Segala puji bagi Allah yang maha pengasih, maha penyayang. puji serta syukur dipanjatkan kepada Allah Swt, Tuhan pemilik dan penguasa alam semesta ini, yang telah memberikan kenikmatan serta hidayah agama islam yang dijaga oleh-Nya, seperti firman Allah Swt.
َم ْﻮَﯿْﻟٱ…
ُﺖْﻠَﻤْﻛَأ
ْﻢُﻜَﻟ
ْﻢُﻜَﻨﯾِد
ُﺖْﻤَﻤْﺗَأَو
ْﻢُﻜْﯿَﻠَﻋ ﻲِﺘَﻤْﻌِﻧ
ُﺖﯿِﺿَرَو
ُﻢُﻜَﻟ
َم َﻼْﺳِ ْﻹٱ
…ﺎًﻨﯾِد
Artinya :
“... Hari ini telah aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah aku cukupkan nikmatku bagimu, dan telah aku ridhai Islam sebagai agamamu…”(QS. Al-Maidah [5]: 3)
A. Latar Belakang Masalah
Islam merupakan agama yang telah disempurnakan oleh Allah Swt.
agama yang telah Allah Swt. turunkan, ridhoi untuk menjadi agama yang dianut oleh seluruh umat manusia.
Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun, seperti mendahulukan kaki kanan saat memakai alas kaki dan mendahulukan kaki kiri ketika melepaskannya.
Semua masalah kehidupan manusia telah diatur dengan rinci dan jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, terlebih untuk perkara rumah tangga yang menjadi pondasi utama dalam membangun rumah tangga yg Samawa.
Pernikahan adalah sebuah momen yang sangat penting dan sakral dalam kehidupan manusia. Semua yang telah menjalani pernikahan haruslah memang orang-orang yang sudah siap untuk mengarunginya, bukan hanya kesiapan lahir tapi juga kesiapan batin. Semua yang akan berhadapan dengan pernikahan ini mempersiapkan diri sedini mungkin, dan diniatkan segala sesuatunya untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan menjalankan sunnah Rasulullah
ﷺ
. Dengan niat karena mencari ridha Allah akan menyelaraskan kehidupan suami istri tersebut dalam mengarungi rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah. Pernikahan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologi semata tapi juga sebagai jalan hidup seseorang dalam kehidupan ini. Juga memanfaatkan usia yang telah Allah berikan untuk meningkatkan nilai ibadah dan memperkuat nilai keimanan dan ketakwaan kita.Pernikahan adalah ikatan suci yang didasarkan pada kasih sayang, tanggung jawab, dan keadilan antara suami dan istri. Suami memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak istrinya sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Qur'an dan hadis. Namun, dalam praktiknya, masih banyak kasus di mana hak-hak istri sering diabaikan oleh suami, baik secara sengaja maupun karena kurangnya pemahaman tentang tanggung jawab dalam rumah tangga.
Pengabaian ini dapat menimbulkan ketidakharmonisan dalam keluarga,
bahkan berujung pada perceraian.
Mengarungi rumah tangga tidak semudah yang kita bayangkan, selalu akan dihadapkan dengan berbagai persoalan dan permasalahan hidup yang harus dengan bijak untuk mengambil solusinya. Dilatarbelakangi oleh sebuah kasus permasalahan rumah tangga dimana hubungan suami-istrinya tidak berjalan harmonis disebabkan salah satu alasan suami yang tidak memenuhi kebutuhan batin istrinya yang berlangsung bertahun-tahun dan sama sekali istri tidak menuntut adanya perceraian karena pertimbangannya untuk keharmonisan hubungan antara anak dan orangtua. Apakah semua itu bisa dikategorikan sebagai bentuk pengorbanan istri demi keutuhan keluarga, atau justru merupakan bentuk ketidakadilan yang dibiarkan terus berlangsung tanpa penyelesaian yang sehat?Di dalam Al-Qur' an suami diwajibkan untuk memenuhi semua kebutuhan lahir dan batin istrinya, sebagaimana terdapat dalam surat Al- Baqarah ayat 233
ﻰَﻠَﻋَو
ِدﻮُﻟ ْﻮَﻤْﻟٱ ۥُﮫَﻟ
ﱠﻦُﮭُﻗ ْزِر ﱠﻦُﮭُﺗَﻮْﺴِﻛَو
ِفوُﺮْﻌَﻤْﻟﭑِﺑ ۚ ۗ
Artinya :
“Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang patut.”
Islam telah memberikan pedoman yang jelas dalam membangun rumah tangga. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
ْﻦِﻣَو
ِﮫِﺗﺎَﯾآ
ْنَأ
َﻖَﻠَﺧ ﻢُﻜَﻟ
ْﻦﱢﻣ
ْﻢُﻜِﺴُﻔﻧَأ ﺎًﺟاَو ْزَأ اﻮُﻨُﻜْﺴَﺘﱢﻟ ﺎَﮭْﯿَﻟِإ
َﻞَﻌَﺟَو ﻢُﻜَﻨْﯿَﺑ
ًةﱠدَﻮﱠﻣ
ًﺔَﻤْﺣَرَو ﱠنِإ ۚ
ﻲِﻓ
َﻚِﻟ َٰذ
ٍتﺎَﯾ َﻵ
ٍم ْﻮَﻘﱢﻟ
َنوُﺮﱠﻜَﻔَﺘَﯾ
Artinya : "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk menciptakan ketenteraman, kasih sayang, dan cinta di antara suami istri. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami prinsip-prinsip rumah tangga Islami sebagai upaya membentuk keluarga yang harmonis dan diridhai oleh Allah SWT. Permasalahan dalam rumah tangga seringkali muncul karena kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang mengatur tentang hak dan kewajiban suami istri, etika berinteraksi, serta pentingnya membina hubungan yang dilandasi iman dan takwa.
Islam menjadikan pernikahan sebagai sunnah yang dianjurkan guna menjaga fitrah manusia, membentengi diri dari perbuatan dosa, dan menciptakan generasi yang saleh. Rasulullah SAW bersabda:
ُحﺎَﻜﱢﻨﻟا
ْﻦِﻣ
،ﻲِﺘﱠﻨُﺳ
ْﻦَﻤَﻓ
َﺐِﻏَر ﻲِﺘﱠﻨُﺳ ْﻦَﻋ
َﺲْﯿَﻠَﻓ ﻲﱢﻨِﻣ
"Nikah itu termasuk sunnahku. Barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka ia bukan dari golonganku."(HR. Ibnu Majah)
Prinsip dalam rumah tangga Islami mengacu pada nilai-nilai keimanan, tanggung jawab, komunikasi yang baik, serta kasih sayang antara suami dan istri. Allah SWT telah menetapkan hak dan kewajiban masing-masing pasangan agar tercipta keadilan dan keharmonisan.
Firman-Nya:
ُلﺎَﺟﱢﺮﻟا
َنﻮُﻣاﱠﻮَﻗ ﻰَﻠَﻋ
ِءﺎَﺴﱢﻨﻟا
"...Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita..." (QS. An-Nisa:
34)
Ini menunjukkan bahwa suami memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin yang melindungi, membimbing, dan memenuhi kebutuhan keluarganya, sementara istri memiliki peran besar dalam mendukung dan menjaga keutuhan rumah tangga.
Dengan demikian, pemahaman dan pelaksanaan hak serta kewajiban antara suami dan istri merupakan fondasi utama dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. ketika masing-masing pihak menjalankan perannya secara seimbang. Yaitu suami sebagai pemimpin dan pencari nafkah, serta istri sebagai pendamping dan pengelola rumah tangga, maka keharmonisan dan keberkahan dalam kehidupan berumah tangga akan lebih mudah tercapai, sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad
ﷺ
.B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Tafsir Ayat Ahkam?
2. Apa saja hak dan Kewajiban Suami Istri?
3. Apa saja ayat-ayat tentang Hak dan kewajiban Suami Istri ? 4. Bagaimana bila hak dan Kewajiban Suami Istri tidak seimbang?
5. Apakah cerai merupakan jalan terakhir masalah rumah tangga?
6. Apa yang dimaksud dengan hakikat Ila?
7. Apa yang dimaksud dengan hakikat Khulu’?
C. Tujuan Pembahasan
1. Mengetahui apa itu Tafsir Ayat Ahkam 2. Menjelaskan Hak dan Kewajiban Suami Istri
3. Mengetahui ayat-ayat tentang Hak dan kewajiban Suami Istri 4. Menguraikani bila hak dan Kewajiban Suami Istri tidak
seimbang
5. Memberikan solusi bahwa cerai merupakan jalan terakhir masalah rumah tangga
6. Mengetahui Hakikat Ila’
7. Mengetauhi Hakikat Khulu D. Manfaat Pembahasan
1. Menambah Pemahaman Tentang Hak dan Kewajiban dalam Rumah Tangga Islam
2. Meningkatkan Kesadaran Mengenai Pentingnya Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga
3. Memberikan Solusi terhadap Ketidakseimbangan dalam Hak dan Kewajiban Suami Istri
4. Mengurangi Kasus Perceraian dengan Memberikan Solusi Alternatif 5. Memberikan Pemahaman tentang Proses Ila dan Khulu’ dalam Hukum
Islam
6. Membantu Menjaga Keimanan dan Ketakwaan dalam Menjalani Rumah Tangga
BAB II
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN A. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penulisan Risalah Qashirah ini adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan mengumpulkan dan mengolah data berupa teori-teori, dan mengolah data berupa teori-tepori, dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits, serta pendapat para ulama dan tokoh-tokoh Islam yang relevan. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai konsep hak dan kewajiban suami istri dalam Islam.
B. Jenis Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian merupakan jawaban atas pertanyaan penelitian terhadap masalah yang telah dirumuskan dan tujuan yang telah ditetapkan, yaitu ayat yang berkaitan dengan diskursus.
C. Teknik Pengumpulan Data
Data dalam makalah ini dikumpulkan melalui studi kepustakaan (library research), yaitu dengan menelaah berbagai sumber primer dan sekunder seperti; Al-Qur’an dan terjemahannya; Kitab-kitab tafsir;Hadits-hadits shahih; Buku-buku fikih, jurnal ilmiah, dan artikel keislaman yang relevan.
D. Teknik Analisis Data
Analisis data menggunakan teknik content analysis, yang diperoleh
analisis data, yaitu : (1) Reduksi data, (2) Penyajian data (display), dan (3) Penarikan kesimpulan. reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi yang muncul dari catatan-catatan penulis. Pada waktu pengumpulan data, peneliti menelusuri penafsiran beberapa kitab tafsir terhadap berbagai ayat tentang Hak Istri yang Terabaikan: Studi Tentang Ila dan Khulu’
Setelah itu, dilakukan pengonstruksian sajian data yang berupa deskripsi sistematis. Penyajian data disajikan dengan melibatkan aspek kekayaan data.
Setelah penyajian data berakhir, peneliti selanjutnya menarik suatu kesimpulan dengan memverifikasi berdasarkan sistematis yang terdapat dalam reduksi sajian data
BAB III PEMBAHASAN
A. Pengertian Tafsir 1. Tafsir
Tafsir menurut bahasa berasal dari kata "fassara-yufassiru-tafsiran", artinya penjelasan atau keterangan, seperti yang bisa dipahami dari QS. Alfurqan ayat 33:
Artinya:
ﻻو ﻚﻧﻮﺗﺄﯾ ﻞﺜﻤﺑ ﻻإ ﻚﺘﻨﺟ ﻖﺤﻟﺎﺑ
َﻦَﺴ ْﺣاو
اًﺮﯿِﺴْﻔَﺗ
"Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu perumpamaan, melainkan kami datang kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya" (QS Alfurqan[25]:33)
Kalimat wa ahsana tafsiiraa yang ada di akhir ayat tersebut di atas bermakna, 'Pasti kami datangkan kepadamu sesuatu kebenaran dengan lafazh (kata-kata) yang lebih baik dan lebih jelas daripada yang mereka datangkan kepadamu.
Menurut istilah, pengertian tafsir adalah ilmu yang mempelajari kandungan kitab Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
Adapun pengertian tafsir menurut istilah, para ulama banyak memberikan komentar, antara lain sebagai berikut.
- Abu Hayyan menuturkan, bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas tata cara pengucapan kata-kata Alquran, maknanya hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, baik perkata maupun rangkaian kata dan kelengkapannya, seperti pengetahuan tentang nasakh, ashbabun nuzul, dan lain-lain.
memahami kitab Allah Swt yang di turunkan kepada Nabi Muhammad Saw, menjelaskan makna-maknanya dan mengeluarkan hukum-hukum dan hikmah- hikmahnya di dalamnya, baik perkata maupun rangkaian kata dan kelengkapannya, seperti pengetahuan tentang nasakh, ashbabun nuzul, dan lain-lain.
Ulama yang lain juga mendefinisikan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas tentang hal-ihwal al-kitab al-aziz dari segi penurunannya, sanad-nya, penyampainnya, kata-katanya dan makna-maknanya yang berkaitan dengan hukum.
2. Macam-macam Tafsir a. Tafsir bil Ma'tsur
Kata tafsir berasal dari kata al-fasr yang berarti penjelasan atau keterangan, sedangkan al-ma'tsur berasal dari akar kata atsara yang berarti mengutip.
Sedangkan menurut pengertian terminologi, Tafsir bil Ma'tsur iala sebagai rangkaian keterangan yang terdapat dalam Alquran, Assunnah atau kata-kata sahabat sebagai penjelasan terhadap firman Allah Swt.
Sebagaimana diketahui, bahwa Alquran itu sebagian ayatnya merupakan penjelas terhadap sebagian ayat yang lain, hanya Allah saja yang Maha Mengetahui apa yang di kehendaki dengan firman-nya.
Dalam ayat lain pun Allah Swt berfirman:
ﺎَﮭﱡﯾَﺄَﯾ
َﻦْﯾِﺬﱠﻟا اﻮُﻨَﻣآ اﻮُﻓ ْوَأ
ِدﻮُﻘُﻌْﻟﺎِﺑ
ْﺖﱠﻠِﺣأُ
ْﻢُﻜَﻟ
ُﺔَﻤﯿِﮭَﺑ
ِمﺎَﻌْﻧﻻا ﱠﻻِإ ﺎَﻣ ﻰَﻠْﺘُﯾ
ْﻢُﻜْﯿَﻠَﻋ
َﺮْﯿَﻏ ﻰﱠﻠِﺤُﻣ
ِﺪْﯿﱠﺼﻟا اَو
ْﻢُﺘُﻧ
ٌمُﺮُﺣ ﱠنِإ
َ ﱠﷲ
Artinya :"Hai orang-orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang
mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-nya". (QS Al Maidah [5]: 1)
Penggalan ayat illaa maa yutlaa 'alaikum dijelaskan oleh Allah dalam firman-nya yang lain.
ْﺖَﻣﱢﺮُﺣ
ُﻢُﻜْﯿَﻠَﻋ
ُﺔَﺘْﯿَﻤْﻟا
ُمﱠﺪﻟاَو
ُﻢ ْﺤَﻟَو
ِﺮﯾِﺰْﻨِﺨْﻟا ﺎَﻣَو
ﱠﻞِھُأ
ِﺮْﯿَﻐِﻟ
ﷲ
....Artinya :
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah...". (QS Almaidah [5] : 3)
1) Perkembangan Tafsir bil Ma'tsur
Tafsir bil Ma'tsur telah ada sejak zaman sahabat. Pada zaman ini Tafsir bil Ma'tsur dilakukan dengan cara menukil penafsiran dari Rasulullah Saw, atau dari sahabat oleh sahabat, serta dari sahabat oleh tabi'in dengan tata cara yang jelas periwayatannya, cara seperti ini biasanya dilakukan secara lisan. Setelah itu ada periode dimana penukilannya menggunakan penukilan pada zaman sahabat yang telah dibukukan dan dikodifikasikan. Pada awalnya, kodifikasi ini dimasukkan dalam kitab-kitab hadits, namun setelah tafsir menjadi disiplin ilmu tersendiri, maka ditulis dan terbitlah buku-buku yang memuat khusus Tafsir bil Ma'tsur, lengkap dengan jalur sanad kepada Nabi Muhammad Saw, para sahabat, tabi'in.
Sesungguhnya para sahabat telah menyaksikan secara langsung ketika Nabi Saw menerima wahyu. Oleh karena itu, tafsir para sahabat memiliki hukum marfu', artinya bahwa tafsir para sahabat mempunyai
kedudukan hukum yang sama dengan Hadits Nabawi yang di angkat dari Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, tafsir sahabat itu termasuk ma'tsur.
Adapun tafsir para tabi'in dan tabi'ut tabi'in ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat, tafsir itu termasuk ma'tsur, karena tabi'in itu berjumpa dengan sahabat. Ada pula ulama yang berpendapat tafsir itu sama saja dengan Tafsir bi ra'yi (penafsiran dengan pendapat). Artinya, para tabi'in dan tabi'ut tabi'in itu mempunyai kedudukan yang sama dengan Mufasyir yang hanya menafsirkan berdasarkan kaidah bahasa Arab.
b. Tafsir bil Ra'yi
Tafsir bil Ra'yi menafsirkan Alquran dengan ijtihad setelah mufassir memahami bahasa Arab, menguasai makna-maknanya, pola-pola bahasa Arab, metode bangsa Arab dalam mengungkapkan kalimat dan menguasai berbagai sarana dan ilmu yang diperlukan. Dalam menafsirkan ayat, mereka bertumpu kepada pemahamannya terhadap hal-ihwal bangsa Arab, ilmu-ilmu dan syarat-syarat penafsiran, jenis tafsir ini ada yang maqbul (diterima) dan mahmud (terpuji), ada yang mardud (ditolak), dan madzum (tercela).
1) Perkembangan Tafsir bil Ra'yi
Sebagaimana telah dikemukakan pada pendahuluan, Tafsir bil Ra'yi mulai berkembang sekitar abad ke-3 H. Corak penafsiran sesuai dengan sudut pandang mereka masing-masing. Kaum Fuqaha (ahli fiqih) menafsirkannya dari sudut hukum fikih, seperti yang dilakukan oleh
Jashshash, AlQurthubi, dan lain-lain. Kaum teolog menafsirkannya dari sudut pandang teologis seperti AlKasysyaf karangan al-Zamakhsyari. Dan kaum Sufi juga menafsirkan Alquran menurut pemahaman dan pengalaman bathin mereka seperti Tafsir Alquran al-'Azhim oleh al-Tustari, Futuhat Makkiyat oleh Ibnu Arabi, dan lain-lain. Singkat cerita, corak Tafsir bil Ra'yi ini muncul dari kalangan ulama-ulama mutakhirin sehingga di abad modern lahir lagi tafsir menurut tinjauan sosiologis dan sastra Arab seperti Tafsur Al-Manar; dan dalam bidang sains muncul pula karya Jawahir Thanthawi dengan judul Tafsir Al-Jawahir. Melihat perkembangan Tafsir bil Ra'yi yang demikian pesat, maka tetaplah apa yang dikatakan Manna' al-Qaththan bahwa Tafsir bi Al-Ra'yi mengalahkan perkembangan Al-Ma'tsur.
Meskipun Tafsir bil Ra'yi berkembang dengan pesat, namun dalam menerimanya para ulama terbagi kepada 2, ada yang membolehkan dan ada yang melarangnya. Tetapi setelah diteliti, ternyata kedua pendapat yang bertentangan itu hanya bersifat lafzhi - readksional. Maksudnya, kedua belah pihak sama-sama mencela penafsiran berdasarkan ra'yu - pemikiran - semata tanpa mengindahkan kaidah-kaidah dan kriteria yang berlaku. Penafsiran yang serupa, inilah yang diharamkan Ibnu Taimiyyah, bahakn Imam Ahmad bin Hanbal menyatakannya sebagai tidak berdasar.
Sebaliknya, keduanya sepakat membolehkan penafsiran Alquran dengan sunah Rasul serta dengan kaidah-kaidah yang mu'tabarah di akui sah secara bersama.
c. Tafsir Isyari
Tafsir Isyari adalah mentakwilkan Alquran dengan makna yang bukan makna lahiriahnya, karena ada nya isyarat samar yang diketahui oleh para penempuh jalan spiritual dan tasawuf dan mampu menundukkan antara makna-makna itu dengan makna lahiriah yang juga dikehendaki oleh ayat yang bersangkutan, tafsir jenis ini dinobatkan, ada ulama yang membolehkan dan ada juga ulama yang melarangnya.
3. Metode Penafsiran
Metodologi tafsir adalah ilmu tentang metode penafsiran al-Qur'an.
Dapat dibedakan antara metode tafsir dan metodologi tafsir. Metode tafsir adalah cara-cara menafsirkan al-Qur'an. Sedangkan metodologi tafsir adalah ilmu tentang cara penafsiran al-Qur'an. Pembahasan secara teoritis dan ilmiah mengenai metode muqarin (perbandingan), upamanya disebut analisis metodologis. Namun jika pembahasan itu berkaitan dengan cara penerapan metode itu terhadap ayat-ayat al-Qur'an, hal itu disebut pembahasan metode. Adapun cara penyajian atau memformulasikan tafsir-tafsir tersebut disebut teknik atau seni menafsirkan. Jadi, metode tafsir merupakan kerangka atau kaidah yang digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an. Sedangkan seni atau tekniknya adalah cara yang dipakai ketika menerapkan kaidah yang tertuang di dalam metode. Adapun metodologi tafsir adalah pembahasan tentang metode-metode penafsiran.
4. Perkembangan Metodologi Tafsir
Sejarah mencatat, penafsiran al-Qur'an telah tumbuh dan
berkembang sejak masa- masa awal pertumbuhan dan perkembangan Islam. Hal ini didukung oleh adanya fakta sejarah yang menyebutkan bahwa Nabi pernah melakukannya. Pada saat sahabat beliau tidak memahami maksud dan kandungan salah satu isi kitab suci al-Qur'an, mereka menanyakan kepada Nabi. Dalam konteks ini, Nabi memang berposisi sebagai mubayyin (penjelas terhadap segala persoalan umat).
Penafsiran-penafsiran yang dilakukan Nabi ini memiliki sifat-sifat dan karakteristik tertentu, diantaranya penegasan makna (bayan al- ta'kid);
perincian makna (bayan tafshil), perluasan dan penyempitan makna;
kualifikasi makna, serta pemberian contoh. Sedangkan dari segi motifnya, penafsiran Nabi SAW terhadap ayat-ayat al-Qur'an mempunyai tujuan-tujuan: pengarahan (bayan Irsyad), peragaan (tathbiq), pembetulan (bayan tashhih) atau koreksi.
Sepeninggal Nabi, kegiatan penafsiran al-Qur'an tidak berhenti, malah boleh jadi semakin meningkat. Munculnya persoalan-persoalan baru seiring dengan dinamika masyarakat yang progresif mendorong uimat Islam generasi awal mencurahkan perhatian yang besar dalam menjawab problematika umat. Perhatian utama mereka tertuju kepada al-Qur'an sebagai sumber ajaran Islam, maka upaya-upaya penafsiran terus dilakukan. Dalam penafsiran pada masa itu, pegangan mereka adalah riwayat-riwayat yang dinukilkan dari Nabi.
Penafsiran-penafsiran yang dilakukan para sahabat di atas, pada pembahasan selanjutnya nanti dikenal dengan tafsir bi al-ma'tsur. Tafsir yang disebut terakhir ini mendasarkan pembahasan dan sumbernya pada
riwayat. Cara ini kemudian dikenal sebagai sebuah metode penafsiran al-Qur'an yang disebut dengan metode riwayah. Sebagai perimbangana dari metode ini timbullah metode lainnya, yaitu tafsir bi al-ra'yi yang mendasarkan sumbernya pada penalaran ijtihadi. Dari dua metode ini, nantinya lahir metode-metode lain yang menyebabkan metodologi penfsiran al-Qur'an berkembang. Metode-metode yang dimaksud adalah metode tahlili, metode ijmali, metode muqaran, dan metode maudhu'i. Hal yang perlu dicatat ialah pada masa Nabi dan sahabat, tafsir al- Qur'an masih menggunakan metode ijmali (global). Hal tersebut menunjukkan bahwa metode yang paling awal digunakan adalah metode ijmali, sebab pada waktu itu, Nabi dan Sahabat belum memberikan tentang ayat secara rinci dan mendetail.
a. Metode Tahlili (Analisis)
Metode tahlili adalah menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam al-Qur'an yang ditafsirkan itu, serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya, sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat tersebut. Tafsir tahlili ialah mengkaji ayat-ayat al-Qur'an dari segala segi dan maknanya, ayat demi ayat, dan surat demi surat sesuai dengan urutan dalam mushaf Utsmani. Untuk itu, pengkajian metode ini, kosa kata dan lafadz, menjelaskan arti yang dikehendaki. Sasaran yang dituju dan kandungan ayat menjelaskan apa yang dapat diistinbatkan dan serta mengemukakan kaitan ayat-ayat dan relevansinya, dengan surat sebelum dan sesudahnya. Untuk itu, ia merujuk kepada sebab-sebab turun
ayat, hadits-hadits Rasulullah saw dan riwayat dari para sahabat dan tabi'in. Tujuan utama ulama menafsirkan Al-Qur'an dengan metode ini adalah untuk meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemukzizatan Al-Qur'an, sesuatu yang dirasa bukan menjadi kebutuhan mendesak bagi umat Islam dewasa ini.
Dari segi bentuknya, tafsir tahlili bisa dibagi ke dalam dua pembagian:
1) Tafsir bi al-Ma'tsur
Tafsir bi al-Ma'tsur yaitu menafsirkan al-Qur'an dengan al-Qur'an, al-Qur'an dengan sunnah, al-Qu'an dengan pendapat sahabat Nabi SAW, dan al-Qur'an dengan perkataan tabi'in.
Contoh kitab-kitab tafsir yang tergolong tafsir jenis ini adalah:
a) Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an (30 juz ) karya Ibn Jarir al-Thabari (w.310
b) Bahr al-Ulum (3 Jilid) Karya Abu Lais al-Samarkandi (w.373/378 H).
c) Al-Kasyaf wa al-Bayan 'an Tafsir al-Qur'an (hanya ditemukan 4 jilid dari surah al-Fatihah sampai al-Furqan), karya Abu Ishaq al-Tsa'labi (w.427H).
d) Ma'alim al-Tanzil karya al-Baghawi (w.516H).
e) Tafsir al-Qur'an al-'Adzim (4 Jilid) karya Abu al-Fida' al Hafidz Ibn Katsir (w.774 H).
f) Al-Jawahir al-Hisan fi Tafsir al-Qur'an karya Abdurrahman al-Sa'labi. (w.876H).
g) Al-Dur al-Mantsur fi Tafsir bi al-Matsur (4 jilid) karya Jalal al-din
al-Suyuthi. (w.991H).
2) Tafsir bi al-Ra'yi
Tafsir bi al-Ra'yi yaitu penafsiran al-Qur'an dengan ijtihad terutama setelah seorang mufasir itu betul-betul mengetahui perihal bahasa Arab, asbab al-nuzul, nasikh mansukh dan hal-hal yang lain yang lazim diperlukan oleh seorang mufasir. Ulama salaf berkeberatan menerima status penafsiran model ini, kalau tidak ada dasar yang shahih.
Tafsir bi al-Ra'yi dapat diterima apabila:
a) Menjauhi sikap yang terlalu berani menduga-duga kehendak Allah di dalam kalam-Nya tanpa memiliki persyaratan sebagai seorang mufassir.
b) Memaksakan diri memahami sesuatu yang hanya wewenang Allah c) Menghindari dorongan dan kepentingan hawa nafsu
d) Menghindari tafsir yang ditulis untuk kepentingan madzhab semata.
e) Menghindari penafsiran pasti (qath'i) di mana seorang mufasir tanpa alasan mengklaim bahwa itulah yang dimaksudkan Allah.
Diantara kitab-kitab tafsir bi al-Ra'yi ini adalah:
a) Mafatih al-Ghaib karya Fakhr al-Razi (w.606 H).
b) Anwar al-Tanzil wa asrari al-Ta'wil karya al-Baidhawi (w.691 H) c) Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta'wil karya al-Nasafi (w.701 H).
d) Nadm al-Durar fi Tanasub al-ayat wa al-Suwar karya al-Biqa'i Dari segi coraknya, tafsir tahlili dapat dibagi menjadi 5 sedikitnya, diantaranya:
- Tafsir Shufi
Penafsiran yang dilakukan oleh kaum sufi pada umumnya dikuasai oleh ungkapan mistik. Ungkapan-ungkapan tersebut tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang sufi dan orang yang melatih diri untuk menghayati ajaran tasawuf.
Diantara kitab tafsir sufi ini adalah kitab tafsir al-Qur'an al-'Adzim karangan imam al-Tusturi.
- Tafsir Fiqih
Penafsiran al-Qur'an yang dilakukan (tokoh) suatu madzhab untuk dapat dijadikan sebagai dalil atas kebenaran madzhabnya. Tafsir fiqih ini banyak ditemukan dalam kitab- kitab fiqih karangan imam-imam dari berbagai madzhab yang berbeda, sebagaimana kita temukan sebagian ulama yang mengarang kitab tafsir fiqih adalah kitab ahkam al-Qur'an karangan al-Jasshash.
- Tafsir Falsafi
Penafsiran ayat-ayat al-Qur'an dengan menggunakan teori-teori filsafat.
Contoh kitab ini adalah kitab mafatih al-Ghaib yang dikarang oleh Fakhr al-Razi.
Dalam kitab tersebut ia menempuh cara ahli filsafat dalam mengemukakan dalil-dalil yang didasarkan pada ilmu-ilmu kalam dan semantik (logika).
- Tafsir Ilmi
Penafsiran ayat-ayat kauniyah yang terdapat dalam al-Qur'an dengan mengaitkan dengan ilmu-ilmu pengetahuan modern yang timbul pada masa sekarang. Diantara kitab tafsir ini adalah kitab al-Islam Yata'adda, karangan al-'Alamah Wahid al-Din Khan
- Tafsir Adabi
Penafsiran ayat-ayat al-Qur'an dengan mengungkapkan segi balaghah
al-Qur'an dan kemu'jizatannya, menjelaskan makna-makna dan sasaran-sasaran yang dituju al- Qur'an, mengungkapkan hukum-hukum alam dan tatanan-tatanan kemasyarakatan yang dikandungnya. Tafsir adabi merupakan corak baru yang menarik pembaca dan menumbuhkan kecintaan kepada al-Qur'an serta memotivasi untuk menggali makna- makna dan rahasia-rahasia al-Qur'an.
Diantara kitab tafsir adabi adalah kitab tafsir al- Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.
b. Metode Ijmali (Global)
Metode ijmali adalah metode tafsir yang menafsirkan ayat al-Qur'an dengan cara mengemukakan makna global. Metode ijmali (Global) menjelaskan ayat-ayat al-Qur'an secara ringkas tapi mencakup, dengan bahasa yang populer, mudah dimengerti dan enak dibaca. Sistematika penulisannya mengikuti susunan ayat-ayat di dalam mushaf. Penyajiannya tidak terlalu jauh dari gaya bahasa al-Qur'an. Dengan demikian ciri dan jenis tafsir ijmali ini mengikuti urutan ayat menurut tertib mushaf seperti halnya tafsir tahlili. Perbedaannya dengan tafsir tahlili adalah dalam tafsir ijmali makna ayatnya diungkapkan secara ringkas dan global tetapi cukup jelas, sedangkan tafsir tahlili, makna ayatnya diuraikan secara terperinci dengan tinjauan dari berbagai segi dan aspek yang diulas secara panjang lebar.
Keistimewaan tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh lapisan dan tingkatan kaum muslimin secara merata. Sedangkan kelemahannya ada pada penjelasannya yang terlalu ringkas sehingga tidak dapat menguak makna ayat yang luas dan tidak dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.
Sebagai contoh adalah penafsiran yang dilakukan oleh Jalalain dalam tafsirnya terhadap 5 ayat pertama surat al-Baqarah, tampak tafsirnya sangat ringkas dan global hingga tidak diberi rincian atau penjelasan yang memadai.
Penafsiran alif lam mim misalnya hanya ditafsiri dengan Allah Maha Tahu maksudnya. Demikian pula kata al-kitab hanya ditafsiri dengan yang dibacakan oleh Muhammad. Dan begitu seterusnya, tanpa ada rincian sehingga penafsiran 5 ayat selesai hanya dalam beberapa baris saja. Sedangkan tafsir tahlili untuk menjelaskan 5 ayat membutuhkan 7 halaman.
c. Metode Muqaran (Perbandingan)
Metode tafsir ini menekankan kajiannya pada aspek perbandingan (komparasi) tafsir al-Qur'an. Tafsir al-Muqaran adalah suatu metode tafsir al-Qur'an yang membandingkan ayat al-Qur'an satu dengan yang lainnya, serta membandngkan segi-segi dan kecenderungan masing-masing yang berbeda dalam menafsirkan al-Qur'an. Kemudian ia menjelaskan bahwa diantara mereka ada yang corak penafsirannya ditentukan oleh disiplin ilmu yang dikuasainya, ada diantara mereka yang menitikberatkan pada bidang nahwu yakni, segi-segi i'rab seperti imam al-Zarkasyi. Ada corak penafsirannya ditentukan oleh kecenderungan pada bidang balaghah, seperti Abd al-Qahhar al-Jurjani dalam kitab tafsirnya I'jaz al-Qur'an, dan Ubaidah Ma'mur ibn al-Mutsanna dalam kitab tafsirnya al-Majaz, dimana ia memberi perhatian pada penjelasan ilmu ma'ani, bayan, badi', haqiqat, dan majaz, dimana ia memberi perhatian pada penjelasan ilmu ma'ani, bayan, badi', haqiqat dan majaz.
Seorang mufassir dengan metode muqaran dituntut harus mampu menganalisis pendapat-pendapat para ulama tafsir yang ia kemukakan, lalu ia
harus mengambil sikap menerima penafsiran yang dinilai benar dan menolak penafsiran yang tidak dapat diterima oleh rasionya, serta menjelaskan kepada pembaca alasan dari sikap yang diambilnya, sehingga pembaca merasa puas.
Selain rumusan yang dikemukakan di atas, metode tafsir muqaran juga mempunyai pengertian dan lapangan yang luas, yaitu membandingkan ayat- ayat al-Qur'an yang berbicara tentang satu masalah (kasus) atau ayat-ayat al-Qur'an dengan hadits Nabi yang tampaknya (lahiriyahnya) berbeda serta mengkompromikan dan menghilangkan dugaan adanya pertentangan antara hadits-hadits Nabi tersebut dan kajian- kajian ilmu yang sangat berharga yang dengan itu akan tampak jelas kelebihan dan profesionalisme seorang mufassir pada bidangnya dengan kemampuan menggali makna- makna al-Qur'an yang belum berhasil diungkapkan penafsir lainnya.
d. Metode Maudhu'i (Tematik)
Di samping tafsir dengan pola umum, tafsir yang mengkaji masalah-masalah khusus secara tematik juga berjalan. Ibn al-Qayyim menulis kitab al-Tibyan fi aqsam al- Qur'an, Abu Ubaidah menulis kitab tentang majaz al-Qur'an, al-Raghib al-Asfahani melahirkan Mufradat al-Qur'an, Abu Ja'far al-Nahas menulis kitab al-Nasikh wa al- Mansukh, Abu Hasan al-Wahidi menulis asbab al-Nuzul dan Abu al-Jashash menulis Ahkam al-Qur'an. Dalam konteks modern, studi al-Qur'an semakin meluas dan kompleks, sehingga tidak satupun ayat-ayat al-Qur'an yang terlepas dari penafsiran dengan pola tematiknya.
Metode tematik ialah metode yang membahas ayat-ayat al-Qur'an sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan dihimpun, kemudian dikaji secara tuntas dari berbagai aspek yang terkait
dengannya, seperti Asbab al-Nuzul, kosa kata dan sebagainya. Semua dijelaskan dengan rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil atau fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik argumen yang berasal dari al-Qur'an, hadits maupun pemikiran rasional.
Jadi dalam metode ini, tafsir al-Qur'an tidak dilakukan ayat demi ayat. Ia mencoba mengkaji al-Qur'an dengan mengambil sebuah tema khusus dari berbagai macam tema doktrinal, sosial, dan kosmologis yang dibahas dalam al-Qur'an, misalnya ia mengkaji dan membahas doktrin tauhid di dalam al-Qur'an, pendekatan al-Qur'an terhadap ekonomi, ayat-ayat pendidikan, manajemen dan kepemimpinan dalam al-Qur'an bahkan spirit culture kepemimpinan yang ada dalam al-Qur'an yang itu semua bisa menjadi bahan tesis atau bahkan disertasi.
Quraish Shihab mengatakan bahwa metode maudhu'i mempunyai dua pengertian, pertama, penafsiran menyangkut satu surat dalam al-Qur'an dengan menjelaskan tujuan- tujuannya secara umum dan yang merupakan tema ragam dalam surat tersebut antara satu dengan yang lainnya dan juga dengan tema tersebut. Sehingga satu surat tersebut dengan berbagai masalahnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kedua, penafsiran yang bermula dari menghimpun ayat-ayat al-Qur'an yang dibahas satu masalah tertentu dari berbagai ayat atau surat dalam al-Qur'an dan sedapat mungkin diurut sesuai dengan urutan turunnya, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh ayat-ayat tersebut, guna menarik petunjuk al-Qur'an secara utuh tentang masalah yang dibahas itu. Lebih lanjut, Quraish Shihab menjelaskan bahwa dalam perkembangan metode maudhu'i ada dua bentuk penyajian. Pertama, menyajikan kotak berisi pesan-pesan al-Qur'an yang terdapat dalam ayat-ayat yang terangkum dalam satu surat saja.
Biasanya kandungan pesan tersebut diisyaratkan oleh nama surat yang dirangkum padanya selama nama tersebut bersumber dari informasi rasul. Kedua, metode maudhu'i mulai berkembang tahun 60-an. Bentuk kedua ini menghimpun pesan-pesan al-Qur’an yang terdapat tidak hanya dalam satu surat saja.
Ciri metode ini ialah menonjolkan tema, judul atau topik pembahasan, sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa metode ini juga disebut metode topikal.
Jadi mufassir mencari tema-tema atau topik-topik yang ada di tengah masyarakat atau berasal dari al-Qur’an itu sendiri, atau lain-lain. Kemudian tema-tema yang sudah dipilih itu dikaji secara tuntas dan menyeluruh dari berbagai aspeknya sesuai dengan kapasitas atau petunjuk yang termuat dalam ayat yang ditafsirkan tersebut
5. Corak Penafsiran a. Tafsir bi al-Ma’stur
Tafsir jenis ini biasa disebut dengan tafsir bi al-riwayah atau tafsir bi al-manqul. Para ulama telah membuat definisi yang beraneka ragam tentang pengertian tafsir jenis ini, yang secara redaksional memiliki perbedaan, namun dari masing-masing definisi tersebut memiliki pengertian yang sama
Menurut Abdul Azhim az-Zarqani, tafsir bi al-Ma’stur ialah:“Sesuatu yang terdapat dalam nash al-Qur’an, sunnah Rasulullah SAW, atau kalam Sahabat sebagai penjelasan terhadap apa yang dikehendaki Allah SWT dari kitab-Nya.”
Sedangkan menurut al-Zarkasyi: “Sesuatu yang bersumber dari nash al-Qur’an sendiri yang berfungsi menjelaskan. Memerinci terhadap sebagian ayat lainnya dan yang bersumber dari apa yang diriwayatkan oleh Rasulullah, para sahabat,
dan para tabi’in; semua itu merupakan penjelasan terhadap nash-nash al-Qur’an sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah.”
dari definisi ini dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan tafsir bi al-Ma’stur adalah cara menafsirkan ayat Al-quran dengan ayat Al-quran, menafsirkan ayat al-Quran dengan sunnah, menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan pendapat sahabat, dan menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan perkataan tabi’in. Tipe penafsiran yang pertama dan kedua tidak ada keraguan bagi kita untuk menerimanya. Sedangkan yang ketiga dapat dihukumi dengan hal sebagai berikut:
1) Apabila tafsir sahabat tersebut merujuk kepada asbabun nuzul dan tidak ada indikasi nalar (ar-ra’yu) mereka didalamnya, maka hukumnya adalah Marfu’ kepada Rasulullah SAW. Dan ia wajib untuk diambil dan tidak boleh ditolak.
2) Apabila ada indikasi nalar (ar-ra’yu) mereka didalamnya walaupun sedikit, maka hukumnya Mauquf selama ia tidak mensanadkannya kepada Rasulullah
Dalam menghukumi ini, para ulama’ berbeda pendapat, sebagian kelompok berpendapat “tafsir ini tidak boleh diambil, karena tidak marfu’.” Dan sahabat apabila berijtihad, ia sama seperti mujtahid yang lain, terkadang ijtihad mereka benar dan kadangkala ijtihad mereka salah.
Sebagian lagi berpendapat “tafsir ini wajib untuk diambil, dikarenakan mungkin mereka pernah mendengar hal tersebut dari Rasulullah, dan walaupun mereka menafsirkan dengan nalar (ar-ra’yu) mereka, maka itu dihukumi dengan
dan pengertian yang lebih tentang kitabullah dibandingkan dengan manusia lainnya.
Corak tafsir bi al-ma’tsur ini merupakan corak tafsir yang terbaik. Sebab dalam prosesnya para mufassir mendasarkannya pada ayat Al-Qur’an dan Riwayat dari Rasulullah. Sedangkan riwayat sahabat dan tabi’in, harus diadakan penelitian terhadap keshahihan dan kedhoifannya tersebut. Di antara sebab-sebab kedhoifan suatu riwayat dan dapat menyebabkan kedhoifan tafsir bi al-ma’tsur antara lain:
Pertama, banyaknya pemalsuan hadis (katsrah al-wadhu’ fi al-hadis).
Perkembangan pemalsuan dalam tafsir bi al-ma’tsur bersamaan dengan perkembangan pemalsuan dalam hadis, karena pada awalnya keduanya, pada masa awal perkembangannya masih bercampuk aduk antara yang satu dengan yang lainnya dan belum menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri.
Pemalsuan yang terjadi baik dalam bidang tafsir maupun bidang hadis nampak pertama kali pada tahun 41 H, yaitu ketika kaum muslimin berbeda pendapat sekitar masalah politik yang mengakibatkan perpecahan belah menjadi beberapa golongan seperti Syi’ah, Khawarij, dan Jumhur serta ahli bid’ah, masing-masing kelompok saling mempertahankan eksistensinya dengan cara membuat riwayat-riwayat hadis yang dipalsukan guna mendukung madzhabnya masing-masing.
Kedua, masuknya cerita israiliyyat Menurut az-Dzahabi, masuknya cerita israiliyyat ini sebenarnya sudah ada sejak zaman sahabat. Meskipun demikian, usaha mereka dalam proses tersebut masih dalam taraf kewajaran dan sangat hati-hati. Cerita
israiliyyat yang diambil oleh para mufassir dan dimasukkannya ke dalam tafsir bi al-ma’tsur memiliki pengaruh negatif, karena keadaan yang demikian tidak hanya terbatas pada masa sahabat saja, tapi juga berlanjut dari masa ke masa, yang pada akhirnya menjadi cerita-cerita khayal yang dibuat-buat.
Ketiga, pembuangan sanad Para sahabat selalu berhati-hati dan sangat ketat dalam meriwayatkan suatu hadis yang akan mereka gunakan sebagai sumber penafsiran al-Qur’an. Pada masa tabi’in mulai tampak adanya pemalsuan dan kedustaan. Oleh karena itu mereka tidak mau menerima suatu riwayat apabila tidak disertai dengan isnadnya. Namun generasi setelahnya tidak lagi memperhatikannya dan tidak pula mengadakan penyeleksian terhadap keshahihan suatu hadis.
Di antara beberapa kitab tafsir bi al-ma'tsur yang telah dibukukan dan sangat terkenal adalah: Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Quran karya Ibnu Jarir al-Thabari, Bahru al-Ulum karya Abi Laits al-Samargandiy, Al-Kasyaf wa al-Bayan 'an Tafsir al-Quran karya Abu Ishaq as-Tsa'labi, Ma'alimu al-Tanzil karya abi Muhammad al-Husaini al-Baghawiy, al-Muharar al-Wajiz Tafsir al-Kitab al-'Aziz karya Ibnu 'Atiyyah al-Andalusiy, Tafsir Al-Quran al-'Adzim karya Abi al-Fida' al-hafidh Ibnu Katsir, al-Jawahiru al-Hasan fi Tafsir al-Quran karya Abd al-Rahman al-Tsa'labi, Asbab al-Nuzul karya Imam al-wahidiy, al-Nasikh wa al-Mansukh karya Abi Ja'far al-Nuhas, dan lain-lainnya.
b. Tafsir bi al-Ra'yi
Secara terminoligis pengertian tafsir bi al-ra'yi sebagaimana yang didefinisikan oleh al-Dzhabi: "suatu hasil penafsiran al-Quran dengan
menggunakan ijtihad setelah seorang mufassir memahami terhadap gaya bahasa arab beserta aspek-aspeknya, memahami lafazh-lafazh bahasa Arab dari segi dalalahnya, termasuk di dalamnya memahami syiair orang Arab Jahiliyah, asbab an-nuzuk, nasikh-mansukh, dan perang-perangkat lainnya." dari difinisi ini dapat dipahami bahwa yang di maksud dengan tafsir bi al-ra'yi adalah suatu metode penafsiran alquran yang pola pemahamannya dilakukan melalui ijtihad setelah seorang mufassir mengetahui beberapa sayrat.
Berdasarkan beberapa hal diatas, maka dalam corak tafsir bi al-ra'yi muncul dua macam tafsir, yaitu tafsir terpuji (Mahmud) dan tafsir tercela (madzmum). Tafsir terpuji (Mahmud), yaitu apabila seorang mufssir dalam penafsirannya telah memenuhi syarat-syarat dimaksud. Sedangkan tafsir tercela (madzmum), yaitu menafdirkan ayat-ayat al-Quran yang tidak dilandasi oleh ilmu pengetahuan dan berdasarkan hawa nafsu
Dalam corak ini ada dua kelompok yang berbeda pendapat yang kedua-duanya mempunyai argument yang kuat. Pertama, kelompok yang secara tegas menolak keberadaan tafsir bi al-ra'yi, dengan mengemukakan argument sebagai berikut:
1) Tafsir jenis ini merupakan perkataan yang tentang Allah yang tidak didasari ilmu pengetahuan, dan perkataan yang tentang Allah yang tidak didasari ilmu pengetahuan adalah dilarang
2) Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh imam al-turmudzi " barang siapa yang mengatakan sesuatu tentangal-Quran dengan berdasarkan ra'yunya sendiri, dan ternyata benar, maka yang demikian itu tetap
merupakan kesalahn (HR. Turmudzi).
3) Ada beberapa riwayat yang datangnya dari salaf saleh, baik para sahabat maupun tabi'in yang bersikap membatasi diri dalam menafsirkan al-Quran dengan ra'yu.
Kedua, kelompok yang membolehkan tafsir bi al-ra'yi, dengan mengemukakan argument sebagai berikut:
1) Dalam al-Quran banyak dijumpai beberapa ayat, baik secara langsung maupun tidak langsung menganjurkan untuk menggunakan kekuatan akal guna melakukan intidhar, tafakkur, tadzabbur, dan lain sebagainya. Hai ini diantaranya disinyalir dalam ayat berikut Qs. Muhammad[47]:24 dil.
2) Kedua bahwa Rasulullah SAW pernah mendo'akan kepada Ibnu Abbas sebagai berikut: "Ya Alllah, berilah pehaman yang mendalam mengenai agama kepada Ibnu Abbas, dan ajarkanlah Ta'wil.
3) Kalan seandainya tafsir bi al-ra'yi tidak diperbolehkan, mengapa ijtihad diperbolehkan? Disisi lain, kalau tafsir bi al-ra'yi tidak diperbolehkan pasti banyak sekali hokum-hukum yang terdapat dalam al-Quran yang tidak tergali, karena Rasulullah Saw sendiri tidak menafsirkan setiap ayat yang terdapat dalam al-Quran. Demikian juga, seorang mujtahid akan diberi pahala meskipun salah.
4) Bahwa para sahabat sendiri menafsirkan al-Quran dengan penafsiran yang berbeda, dan tidak semua yang mereka katakan bersumber dari nabi SAW, karena nabi sendiri tidak menjelaskan semua makana yang terkandung dalam al-Quran.
Dintara kitab tafsir bi al-ra'yi al-mahmud: Mafatihu al-gaybi karya Fahkru ar-Razi, Anwaru al-Tanzil wa Asrari al-Ta'wil karya al-Qadhi al-Baydhawi, al-Bahru al-Muhitt karya Abu Hayyan al-Aluysi, Ghraaibu al-Quran karya wa Raghaaibu al-Furqan karya Nizamu alDin al-Niisabury, Tafsiru al-Jalailaini karya Jalaluddin al-Mahalli wa Jalaluddin al-Syauti, Ruuhu al-Ma'ani karya Syihabu al-Din al-Alusyi.
Sedangkan kitab tafsir bi al-ra'yi al- madzmum dibagi menjadi emt:
Pertama, Tafsir Mu'tazilah: Tanziihu al-Quran 'an al-Ma'taa'in karya al-Qadhi abdu al-Jabbar, al-Kasyaf an haqaiqi al-Tanzil karya al-zhanmahsyari. Kedua, tafsir Syiah Imam 12 belas: Majma'l al-Bayan li 'Ulumi al-Quran karya al-Fadhil bin al-Hasan at-Tharbusyi, al-Syafi fi Tafsiri al-Quran karya Malla mahsan al-Kasyi.
Ketiga Tafsir Syi'ah Zindiyyah: Fathu al-Qadhir karya Muhammad Syaukani, Tafsir Atiyyah bin Muhammad an-Nijrani al-ziidyy. Keempat Tafsir Khawarij:
Hamyan al-Zaadi 'ila Daari al-Ma'arif karya Muhammad Yusuf Itfayas, Tafsir Hud bin Muhkam al-Hawary salah satu Ulama abad ketiga.
c. Tafsir Falsafi
Corak tafsir sufi dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu tafsir sufi al-nazhari dan tafsri sufi al-isyari, yang keduanya mempunyai karakteristik sendiri.
Untuk tafsir yang pertama banyak digeluti oleh para penganut tasawuf teoritis (at-tasawuf an-nazhari) yang didasarkan kepada atas hasil pembahasan dan studi, serta mencoba meneliti dan mengkaji al-Quran berdasarkan teori madzhab dan untuk melegimitasi terhadap kebenaran ajaran mereka. Dalam tafsirnya tampak sekali pengaruh-pengaruh tasawuf teoritis yang didasarkan
pemikiran-pemikiran ilmiyah para tokoh sufi dan kemudian dicarikan justifikasinya.
Mereka berusaha menta'wilkan ayat-ayat al-Quran dengan pendekatan batini semata, dan mengabaikan terhadap makna tekstualnya. Metode penafsiran yang demikian ini tidak dapat dibenarkan, karena ibarat orang mengaku sudah sampai didalam rumah sementara ia tidak melewati pintunya.
Muhy al-Din Ibn Arabi merupakan salah seorang yang dianggap sebagai guru besar dalam aliran tafsir al-sufi an-nazhari, berikut contoh penafsirannya dalam ayat QS. Al-Isra[17]:23, yang mana ia mengabaikan segi tektual ayat, dan lebih mementingkan segi batiniyahnya, yaitu penafsiran yang berkaitan dengan paham Wihdat al-Wujud:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan (qadha) supaya kamu jangan menyembah selain Dia.
Ibnu Arabi mengatakan bahwa para ulma'a yang cenderung melihat pernyataan tekstual dalam al-Quran memberikan arti lafaz qadha dengan
"memerintahkan" tetapi saya mengartikan dengan "memutuskan untuk membuka".
Lebih lanjut, ketika ia menafsirkan ayat-ayat tersebut mengatakan bahwa orang-orang musyrik yang menyembah berhala dan patung-patung merupakan cara mereka untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dan karena itulah Allah menjadikan benda-benda yang terlihat itu sebagai ganti-Nya. Menurut mereka patung-patung sesembahan itu dimaksudkan sebagai penjelmaan "bentuk" Tuhan.
Karena itu Allah memenuhi kebutuhan mereka pada saat mereka menggunakan
Sedangkan yang kedua, disandarkan kepada para penganut tasawwuf praktis (al-tashawwuf al-'amali), dimana para tokoh ini menamakan corak tafsirnya dengan tafsir al-Isyari, atau disebut juga denga tafsir al-Faidhi. Menurut kaum sufi bahwa hakikat al-Quran tidak hanya terbatas dengan pengertian bersifat lahiriyah saja, tetapi tersirat pula makna batin, yang justru merupakan makna terpenting.
Dari pemaparan tersebut dapat sipahami bahwa al-Quran mengandung kandungan lahir dan batin. Kandungan lahir adalah yang bisa dipahami berdasarkan aturan bahasa arab semata-mata, sedangkan kandungan batin adalah apa yang dikehandaki oleh Allah dibalik lafaz-lafaz dan susunan kalimat bahasa arab itu.
Para ulama berselilih dengan keberadaan tafsir ini. Ada yang melarang seperti Imam Al-Zarkasti dan Imam al-Suyuthi, dan ada pula yang memperbolehkannya seperti al-Taftazani dan Mahmud Basuni. Para jumhur ulama telah menentukan beberapa syarat untuk diterimanya tafsir al-Isyari:
1) Tidak boleh bertentangan dengan makna dzahir dari susunan kalimat ayat-ayat al-Quran.
2) Harus didukung dengan kesyaksian syara yang menguatkan.
3) Tidak bertentangan dengan syara' dan akal.
4) Tidak mengandung penyelewengan dari susunan kalimat.
5) Tidak dikatakan secara pasti, bahwa makna itulah yang dimaksud oleh Allah dalam ayat itu.
Dintara kitab tafsir al-Isyari: Tafsir al-Quran al-'adzim karya Sahlu al-tastari, haqaiqu al-Tafsir karya Abu Abdi al-Rahman al-Salma, "Araisu al-Bayan fi Haqaiqi al-Quran karya karya Abu Muhammad al-Syirazi.
d. Tafsir 'limi
Maksud dari tafsir ilmy adalah suatu jihad atau usaha keras seorang mufassir dalam mengungkapkan hubungan ayat-ayat kauniyyah (al-ayat al-kauniyyah) dalam al-Quran dengan sains modern yang bertujuan memperliahatkan kemukjizatan al-Quran. Alasan utama yang mendorong para mufassir menulis tafsirnya dengan corak ini, disamping banyaknya ayat-ayat al-Quran yang secara eksplisit maupun implicit yang memerintah manusia untuk menggali ilmu pengetahuan, juga ingin mengetahui dimensi kemukjizatan dalam al-Quran dalam sains modern, penafsiran al-Quran tradisional kurang mampu memberikan pemahaman yang memuaskan terhadap pesan tuhan yang saintifik.
Corak tafsir inipun tidak luput dari berdebatan para ulama. Ada yang menolak dan yang memperbolehkannya. Pada dasarnya penolakan terhadap tafsir ini, lebih dilatarbelakangi olch kenyataan bahwa kitab suci al-Quran diturunkan oleh Allah kepada Muhammad, bukanlah untuk menerangkankan tentang teori-teori ilmiyah, problem-problem seni serta aneka ragam ilmu pengetahuan, tetapi diturunkan kepada ummat manusi lebih berfungsi sebagai kitab hidayah, islah, dan tasyri".
e. Tafsir Fiqhi
Tafsir fiqh adalah corak penafsiran al-Quran yang menitik beratkan bahasanya dan tinjauannya pada aspek hokum dari al-Quran. Corak ini muncul bersamaan dengan munculnya tafsir bilmat'sur, dan keberadaannya pun sudah ada sejak zaman nabi Muhammad Saw
Semasa zaman nabi, ketika mereka menghadapi kesulitan dengan permasalahan yang mereka hadapi, khususnya masalah hokum, mereka langsung menanyakannya kepada rasulullah dan beliaupun langsung menjawabnya. Jawaban Rasulullah ini disatu pihak merupakan tafsir bi al-ma'tsur, dan dilain pihak merupakan tafsir al-fiqh.
Namun setelah Rasulullah wafat, ternyata banyak persoalan baru yang muncul dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Sementara itu, kalau mereka tidak menemukan jawaban dalam al-Quran atas persoalan tersebut, mereka juga melakukan ijtihad sendiri untuk menetapkan hokum-hukum yang berkaitan dengan hal tersebut. Dan hasil ijtihad ini yang kemudian disebut tafsir fiqh. Dan diantara mereka jarang sekali terjadi perbedaan pendapat ketika menghadapi persoalan hokum yang sifatnya kontradiktif.
Hukum islam yang mereka gali (istinbat) dari al-Quran itu akhirnya tersebar dan berkembang, serta dihafal olch generasi berikutnya secara terus menerus sampai datangnya era penghimpunan dan penyusunan. Pada era inilah lahirlah orang yang memperhatikan dan mengkaji produk-produk istinbath itu. Dan dari sinilah pula lahir madzhab-madzhab yang berbeda dikalangan islam. Dan mereka membuat dasar hukum masing-masing dalam mazdhabaya, ini bukan karna fanatic dengan madzhab teti karena setiap ahli fiqh berpegang pada apa yang dipandangnya benar.
Dan diantara kitab tafsir fiqh yang lahir dari mu'tazilah al-kasysaf karya al-zamakhsyari, dari Hanafiyyah Ruh al-ma'aniy karya alAlusy, dari Malikiyyah al-Jami' li Ahkam al-Quran karya al-Qurthubi, dan dari Syafi'iah al-Tafsir al-Kabir
(mafatih al-Ghaib) karya al-Fakır al-Din al-Raziy.
f. Tafsir al-Falsafy
Tafsir al-Falsafy adalah penafsiran ayat-ayat al-Quran berdasarkan pendekatan-pendekatan filsofis, baik yang berusaha untuk mengadakan sintesis dan sinkretisasi antara teori-teori filsafat dan ayat-ayat al-Quran maupun berusaha menolak teori-teori filsafat yang bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran, Corak tafsir ini muncul sebagai akibat dari kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaaan, dan adanya gerakan penerjemahan buku-buku asing kedalam bahasa arab pada masa khalifah Abasiyyah.
Dalam menghadapi ini kaum muslimin terbagi menjadi dua kelompok:
1) Kelompok yang menolak ilmu-ilmu yang bersumber dari buku-buku yang bersal dari filosof tersebut. Hal ini dikarenakan ada sebagian yang bertentang dengan agama. Diantaranya Hujjah al-Islam, Imam Hamid al-Gzhali, Imam Fakhru al-Din al-Razi yang menulis tafsir untuk menolak paham mereka, yaitu Mafatihul al-Ghaib.
2) Kelompok yang menerima filsafat bahkan mengaguminya. Menurut mereka, selama filsafat tidak bertentangan dengan agama Islam, maka tidak ada larangan menerimanya. Dan mereka berusaha memadukan antara al-Quran dan Filsafat serta menghilangkan pertentangan diantara mereka.
Diantaranya Filsuf Ibnu Rusyd yang menulis buku Tahafut al-tahafut sebagai sangahan dari buku Tahafut al-falasifah karya al-Ghazali.
Berkaitan dengan golongan ini Imam al-Dzhabi menanggapinya dengan
berikut ini: "kami tidak pernah mendengar seorang filosof yang mengagung-agungkan filsafat mengarang sebuah kitab tafsir al-Quran yang lengkap. Yang kami temukan dari mereka tidak lebih hanya sebagian dari pemahaman-pemahaman mereka terhadap al-Quran yang berpencar-pencar dikemukakan dalam buku filsafat mereka".
g. Tafsir al-Adabi al-Ijtima'iy
Tafsir al-Adabi al-ljtima'iy (sastra) adalah suatu cabang yang muncul mada masa modern ini, yaitu corak tafsir yang berusaha memahami nash-nash al-Quran dengan cara
yang pertama dan utama mengungkapkan ungkapan-ungkapan al-Quran secara teliti, selanjutnya menjelaskan makna-makna yang dimaksud oleh al-Quran tersebut senga gaya bahasa yang indah dan menarik. Kemidaian seorang mufassir berusaha menghubungkan nash-nash al-Quran yang dikaji dengan kenyataan social dan system budaya yang ada.
Jenis tafsir ini muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan para mufassir yang memandang bahwa selama ini penafsiran al-Quran hanya didominasi oleh tafsir yang berorientasi pada nahwu, bahasa, san perbedaan madzhab dan lain sebagainya, sehingga jarang sekali menyentuh inti dari al-Quran sebagai sasaran dan tujuan akhir.
Secara operasinal seorang mufassir jenis ini tidak mau terjebak pada kajian pengertian bahasa yang rumit, istilah-istilah ilmu teknologi, kecuali jika dirasakan sangat dibutuhkan. Bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana dapat
menyajikan misi al-Quran kepada pembaca, dan mereka berusaha mengaitkan nash-nash dengan realitas kehidupan masyrakat tradisional dan system peradaban yang secara fungsional dapat memevahkan persoalan ummat.
Dintara kitab dengan corak ini: Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh yang dihimpun oleh muridnya Muhammad Rasyid Ridho, Tafsir al-Quran karya Syekh Ahmad al Maraghi, Tafsir al-Quran al-Karim karya Syekh Mahmud Syaltut, Tafsir al-Wadhih karya Mahmud Hijazy.
B. Pengertian Ayat Ahkam 1. Pengertian ayat ahkam
Ayat-ayat Alquran yang secara jelas dan transparan menjelaskan mengenai hukum syar'i atau darinya hukum syar'i dapat diambil dan ditetapkan disebut dengan ayatul ahkam [Mu'ini, Ayatul Ahkam, hlm. 1) atau dengan istilah lain, Fiqhul Quran, [Fakir Maibodi Dar Amadi bar Ayatul Ahkam, him. 41]. Yang dimaksud dengan hukum syar'i adalah
hukum-hukum amali (hukum-hukum amalan praktis) seperti lukum salat, puasa, jihad dan zakat, bukan hukum-hukum akhlak ataupun aqidah. (Fakhla'i, Justari dar Tarikh Tafsir Ayatul Ahkam, him. 348] Dikatakan istilah ayatul ahkam banyak digunakan sebagai judul kitab yang berisi mengenai pembahasan tentang ayatul ahkam. [Lih. Aqa Buzurg Tehrani, al-Dzari'ah, jld. 1, hlm. 42-44)
Salah satu contoh dari ayatul ahkam Alquran yang terkenal adalah ayat wudhu, sebagaimana firman Allah
ْﻢُﻜِﺳوُءُﺮِﺑ
ْﻢُﻜَﻠُﺟ ْرَأَو ﻰَﻟِإ
ِﻦْﯿَﺒْﻌَﻜْﻟا
ۚArtinya:
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kama hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan riku, dan sapulah kepalamu dan (basuli) kakimu sampai dengan kedua mata kaki." (QS. Al-Maidah [6]: 6)
Ayat al-Ahkam (bahasa Arab: )مﺎﻜﺣﻷا تﺎﯾآ atau Fiqhul Qur'an ) نآﺮﻘﻟا ﮫﻘﻓ( adalah ayat-ayat dari Alquran yang didalamnya menjelaskan mengenai hukum syar'i atau istinbat hukum syar'i berasal dari ayat-ayat tersebut. Maksud dari hukum syar'i adalah ahkam amali (seperti hukum salat, zakat dan jihad) bukan hukum yang berkenaan dengan i'tiqad (akidah) dan juga bukan mengenai akhlak.
Dikenal terdapat 500 ayat dari Alquran yang termasuk ayatul ahkam dan menjelaskan mengenai tema-tema fikih.
Alquran adalah sumber yang pertama dan utama dari hukum-hukum fikih.
Di samping riwayat, dari periode Nabi Muhammad saw ahkam diambil oleh sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw dan Aimmah as dari ayat-ayat Alquran.
Demikian pula Aimmah as menjelaskan hukum syar'i kepada umat dengan bersumber dan bersandar pada ayat-ayat Alquran. Kitab pertama yang ditulis mengenai ayatul ahkam adalah karya Muhammad bin al-Saib al-Kalbi (W. 146 H/763) salah seorang sahabat Imam Baqir as dan Imam Shadiq 25.
Telah banyak kitab yang ditulis mengenai ayatul ahkam dan kebanyakan diberi judul Ayat al-Ahkam. Para penulis dari kitab-kitab tersebut mengelompokkan ayat-ayat ahkam berdasarkan kekhususannya masing-masing.
Seperti misalnya ayat-ayat ahkam yang memiliki beberapa hukum dikumpulkan dalam satu kelompok dan ayat-ayat yang hanya memiliki satu hukudikelompokkan pada kelompok yang lain. Dikatakan sebagian dari ayatul ahkam telah dihapus (mansukh) dan hukum yang baru didatangkan sebagai pengganti, seperti ayat Najwa.
2. Macam-macam ayat ahkam
Fukaha Syiah berdasar pada kekhususan ayatul ahkam, mereka membagi ayatul ahkam menjadi beberapa kategori. Contohnya mereka membagi ayatul ahkam sesuai dengan jenis hukum menjadi 4 kelompok:
a. Ayat-ayat yang menjelaskan hukum khusus Contoh ayat:
ﷲو ﻰﻠﻋ سﺎﻨﻟا ﺞﺣ ﺖﯿﺒﻟا ﻦﻣ عﺎﻄﺘﺳا ﮫﯿﻟإ
ﻼﯿﺒﺳ ﻦﻣو ﺮﻔﻛ نﺎﻓ ﷲ ﻲﻠﻋ ﻦﻋ ﻦﯿﻤﻠﻌﻟا
Artinya:"mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah." (Qs. Ali Imran[3]: 97)
Ayat ini khusus mengenai wajibnya haji dan syarat pelaksanannya.
b. Ayat-ayat yang menjelaskan hukum unum Contoh ayat:
اﻮﻧوﺎﻌﺗو ﻰﻠﻋ
ﺮﺒﻟا
ىﻮﻘﺘﻟاو
Artinya:
"...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa."
(Qs. Al-Maidah [5]: 2)
Ayat ini menjelaskan mengenai hukum umum yang dapat digunakan untuk menghukumi barang yang hilang untuk diberikan kembali kepada pemiliknya, sebagai bentuk aplikasi dari tolong menolong.
c. Ayat-ayat yang darinya fukaha mengambil kaidah-kaidah fikih Contoh ayat:
ُ ﱠﷲ ﺪﯾﺮﯾ