• Tidak ada hasil yang ditemukan

RL Stine: Gadis Pecinta Monster (Goosebumps # 8)

N/A
N/A
M R M S (Sergei Rizky Nikolai)

Academic year: 2024

Membagikan "RL Stine: Gadis Pecinta Monster (Goosebumps # 8) "

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

RL Stine:

Gadis Pecinta Monster (Goosebumps # 8)

Novel Goosebump ke-8 ini judul aslinya adalah The Girl Who Cried Monster (Gadis Yang Berteriak Monster) yang dalam terbitan novel Indonesianya berjudul Gadis Pecinta Monster. Saya mohon maaf, penerjemahannya agak lama, karena

ditengah-tengah prosesnya saya sibuk mengedit ebook Trio Detektif, Twilight dan ebook lainnya.

Cerita dalam novel ini juga tentang seorang gadis yang senang bercerita tentang monster dan menakut-nakuti orang lain dengannya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan monster yang asli. Kisahnya cukup menegangkan dan dengan akhir yang cerita yang sangat tak terduga. Bagaimana kisahnya, saya persilahkan membaca sendiri dan menikmati ketegangannya.

Cepu, 9 Februari 2013

Farid ZE

Blog Pecinta Buku – PP Assalam Cepu

(2)

RL Stine:

Gadis Pecinta Monster (Goosebumps # 8)

1

Aku suka menakut-nakuti adikku, Randy. Aku menceritakan kepadanya kisah yang menakutkan tentang monster sampai ia memohonku untuk berhenti. Dan aku selalu menggodanya dengan berpura-pura melihat monster-monster di mana- mana.

Kurasa itulah sebabnya tak ada yang percaya padaku pada hari aku melihat monster asli.

Kurasa itulah sebabnya tak ada yang percaya padaku sampai sudah terlambat, dan monster itu tepat di rumahku sendiri.

Tapi lebih baik aku tak menceritakan akhir dari kisahku di permulaan.

Namaku Lucy Dark. Aku berumur dua belas tahun. Aku tinggal dengan adikku, Randy, enam tahun, dan orang tuaku di sebuah rumah menengah di sebuah kota berukuran sedang yang disebut Timberland Falls.

(Timberland=tanah kayu, Land = daratan,tanah atau negeri Falls=jatuh)

Aku tak tahu mengapa kota ini disebut Timberland Falls. Ada beberapa hutan di luar kota, tapi tak ada yang menebang pohon-pohon untuk kayu. Dan di sana tak ada yang jatuh.

Jadi, mengapa (namanya) Timberland Falls?

Ini misteri.

Kami memiliki sebuah rumah dari bata merah di ujung jalan kami. Ada pagar tanaman yang tumbuh tinggi berbaris di sepanjang sisi rumah kami dan

(3)

memisahkan halaman kami dari halaman Killeens tetangga sebelah. Ayah selalu berbicara tentang bagaimana ia harus memangkas pagar itu, tapi dia tak pernah mengerjakannya.

Kami memiliki halaman depan kecil dan halaman belakang yang cukup besar dengan banyak pohon-pohon tua yang tinggi di dalamnya. Ada sebuah pohon sassafras tua di tengah halaman. Dingin dan teduh di bawah pohon itu. Di situlah aku suka duduk dengan Randy saat tak ada yang lebih baik lagi untuk dilakukan, dan melihat apa aku dapat benar-benar menakut-nakutinya!

(Sassafras= pohon kayu kuning dengan kayu yang rapuh, dedaunan dan kulit kayu yang beraroma)

Hal ini tak terlalu sulit. Randy gampang takut.

Dia kelihatan banyak sepertiku, meskipun dia anak laki-laki. Dia punya rambut lurus hitam sepertiku, hanya punyaku lebih panjang. Dia pendek untuk anak seusianya, seperti aku, dan sedikit agak gemuk.

Dia berwajah bulat, lebih bulat dariku, dan mata hitam besar, yang benar-benar menonjol karena kami berdua memiliki kulit yang benar-benar putih pucat.

Kata Ibu, Randy punya bulu mata lebih panjang dariku, yang membuatku

semacam cemburu. Tetapi hidungku tegak, dan gigiku tak menonjol banyak saat aku tersenyum. Jadi kurasa aku seharusnya tak mengeluh.

Bagaimanapun, pada suatu siang yang panas beberapa minggu lalu, Randy dan aku duduk di bawah pohon sassafras tua itu, dan aku sedang bersiap-siap untuk menakut-nakutinya sampai mati.

Aku benar-benar tak punya apa-apa yang lebih baik untuk dilakukan. Begitu musim panas tahun ini datang mendekat dan sekolah libur, sebagian besar teman-temaku yang benar-benar baik pergi untuk musim panas. Aku terjebak di rumah, dan jadi aku cukup kesepian.

Randy biasanya benar-benar menyedihkan. Tapi setidaknya dia adalah seseorang untuk diajak bicara. Dan seseorang bisa aku takut-takuti.

(4)

Aku punya imajinasi yang benar-benar menggairahkan. Aku bisa menciptakan monster yang paling menakjubkan. Dan aku bisa membuat suara mereka benar- benar nyata.

Ibu berkata dengan imajinasiku, mungkin aku akan menjadi penulis saat aku dewasa.

Aku benar-benar tak tahu tentang itu.

Yang aku tahu bahwa itu tak perlu banyak imajinasi untuk menakut-nakuti Randy.

Biasanya yang kulakukan adalah memberitahu dia ada raksasa mencoba pakaiannya di atas, di lemarinya, dan Randy jadi lebih putih dari biasanya dan seluruh tubuhnya mulai gemetar.

Anak malang. Aku bahkan bisa membuat giginya menggigil. Sulit dipercaya.

Aku menyandarkan punggungku pada bagian yang halus dari batang pohon dan meletakkan tangantu di atas rumput, dan memejamkan mata. Aku membuat sebuah cerita yang bagus untuk memberitahu saudaraku.

Rumput terasa lembut dan lembab pada kakiku yang telanjang. Aku menusukkan jari-jari kakiku ke dalam tanah.

Randy mengenakan celana pendek denim dan kaos putih polos tanpa lengan-. Dia berbaring miring, memetik sehelai rumput dengan satu tangan.

"Apakah kau pernah mendengar tentang Si Penggigit Jari Kaki Timberland Falls?"

tanyaku padanya, menyikat seekor laba-laba dari celana tenis putihku.

"Hah?" Dia terus menarik sampai sebilah rumput satu per satu, membuat gundukan kecil.

"Ada monster yang disebut Penggigit Jari Kaki Timberland Falls," kataku pada Randy.

"Ah, tolong, Lucy," rengeknya. "Kau bilang kau tak akan membuat cerita monster lagi."

(5)

"Tidak, aku tidak!" Aku mengatakan padanya. "Cerita ini tak dikarang. Ini sungguhan."

Dia menatapku dan nyengir. "Ya. Tentu."

"Tidak. Sungguh," aku bersikeras, menatap tajam ke mata hitam bundarnya, sehingga dia tahu aku bersungguh-sungguh. "Ini adalah kisah nyata. Ini benar- benar terjadi. Di sini. Di Timberland Falls."

Randy menarik dirinya ke posisi duduk. "Kupikir aku akan masuk dan membaca buku komik," katanya, melempar ke bawah segenggam rumput.

Randy memiliki koleksi besar buku komik. Tapi semuanya itu komik Disney dan komik Archie karena komik superhero terlalu menakutkan baginya.

"Si Penggigit Jari Kaki muncul suatu hari tepat di tetangga sebelah," kataku pada Randy. Aku tahu begitu aku mulai cerita, ia tak akan pergi.

"Keluarga Killeens?" tanyanya, matanya semakin lebar.

"Ya. Dia tiba di tengah siang hari. Si Penggigit Kaki bukan monster malam, kau lihat. Dia monster sepanjang hari. Dia menyerang ketika matahari tinggi di langit.

Persis seperti sekarang."

Aku menunjuk ke atas melalui dedaunan pohon yang berkilauan dengan matahari, di atas kepala yang tinggi di langit biru musim panas yang cerah.

"Monster se-sepanjang hari?" tanya Randy. Dia memutar kepalanya untuk melihat rumah keluarga Killeens menjulang tinggi di sisi lain dari pagar.

"Jangan takut. Ini terjadi beberapa musim panas lalu," lanjutku. "Becky dan Lilah di atas sana. Mereka berenang. Kau tahu. Dalam kolam renang plastik yang ibu mereka memompanya untuk mereka. Salah satu yang separuh airnya yang selalu tumpah keluar."

"Dan satu monster datang?" tanya Randy.

(6)

"Si Penggigit Jari Kaki," kataku, menjaga ekspresiku sangat serius dan menurunkan suaraku nyaris menjadi bisikan. "Si Penggigit Jari Kaki datang merangkak di

halaman belakang mereka."

"Dari mana asalnya?" tanya Randy, bersandar ke depan.

Aku mengangkat bahu. "Tak ada yang tahu. Kau lihat, satu hal tentang Penggigit Kaki adalah mereka sangat sulit untuk dilihat saat mereka merangkak di rumput.

Karena mereka membuat dirinya sama persis sama dengan warna rumput."

"Maksudmu mereka hijau?" tanya Randy, mengusap hidung gemuknya.

Aku menggeleng. "Mereka hanya hijau saat mereka merayap dan merangkak di atas rumput," jawabku. "Mereka merubah warna mereka untuk mencocokkan dengan apa yang mereka berjalan di atasnya. Jadi kau tak dapat melihat mereka."

"Nah, seberapa besar itu?" Randy bertanya serius.

"Besar," kataku. "Lebih besar dari seekor anjing." Aku melihat semut merangkak naik ke kakiku, lalu menjentikkannya mati. "Tak ada yang benar-benar tahu seberapa besarnya karena monster ini menyatu dengan baik."

"Jadi apa yang terjadi?" tanya Randy, terdengar sedikit terengah-engah.

"Maksudku untuk Becky dan Lilah." Sekali lagi ia melirik ke arah atap sirap abu- abu rumah Killeens '.

"Yah, mereka berada di kolam kecil plastik mereka," aku melanjutkan. "Kau tahu.

Cebar cebur. Dan kurasa Becky berbaring telentang dan kakinya menggantung di sisi kolam renang. Dan monster yang berlari di atas rumput itu hampir-hampir tak terlihat Dan ia melihat jari-jari kaki Becky tergantung di udara."

"Dan - dan Becky tak melihat monster itu?" tanya Randy.

Aku bisa melihat dia mulai jadi benar-benar pucat dan gemetar.

"Penggigit Jari Kaki benar-benar begitu sulit untuk dilihat," kataku, menjaga mataku terkunci pada Randy, menjaga wajahku sangat bersungguh-sungguh dan serius.

(7)

Aku menarik napas dalam-dalam dan membiarkan keluar perlahan-lahan. Hanya untuk membangun ketegangan. Lalu aku melanjutkan cerita.

"Becky tak melihat apa-apa pada awalnya. Lalu ia merasakan tanah

menggelitiknya. Dia pikir itu anjing menjilati kakinya. Dia menendang sedikit dan berkata kepada anjing untuk pergi.

"Tapi kemudian itu tak menggelitik begitu banyak. Itu mulai sakit. Becky berteriak pada anjing untuk berhenti. Tapi rasa sakit itu bertambah buruk. Rasanya

sepertinya anjing itu mengunyah jari-jari kakinya, dengan gigi yang sangat tajam.

"Ini mulai sakit seluruhnya. Jadi, Becky duduk dan menarik kakinya ke kolam..

Dan... Ketika ia menunduk menatap kaki kirinya, ia melihat hal itu."

Aku berhenti dan menunggu Randy bertanya.

"A-apa?" akhirnya ia bertanya dengan suara gemetar. "Apa yang dia lihat?"

Aku membungkuk dan membawa mulutku dekat ke telinganya. "Semua jari-jari kaki kirinya hilang," bisikku.

"Tidak!" jerit Randy. Dia melompat berdiri. Dia sepucat hantu, dan ia tampak benar-benar ketakutan. "Itu tak benar!"

Aku menggeleng serius. Aku memaksa diri untuk tak tersenyum. "Mintalah Becky melepas sepatu kirinya," kataku. "Kau akan melihat."

"Tidak! Kau bohong!" Randy meratap.

"Tanya dia," kataku pelan.

Dan kemudian aku melirik ke kakiku, dan mataku melebar muncul dengan kengerian. "R-R-Randy - lihat!" Aku tergagap dan menunjuk dengan tangan gemetar ke kakiku.

Randy menjerit memekakkan telinga saat ia melihat apa yang kutunjuk.

Semua jari kaki pada kaki kiriku hilang.

(8)

2

"Aaaaa!"

Randy mengeluarkan raungan ketakutan lagi. Lalu ia pergi, berjalan dengan kecepatan penuh ke rumah, menangis pada Ibu.

Aku mengejarnya. Aku tak ingin mendapat kesulitan karena menakut-nakutinya lagi.

"Randy - tunggu! Tunggu! Aku baik-baik saja!" teriakku, tertawa.

Tentu saja aku membenamkan jari-jariku di tanah.

Dia seharusnya sudah bisa mengetahuinya. Tapi ia terlalu takut untuk berpikir jernih.

"Tunggu!" Aku memanggilnya. "Aku belum menunjukkan padamu monster di pohon!"

Dia mendengarnya. Dia berhenti dan berbalik, wajahnya masih tegang ketakutan.

"Hah?"

"Ada monster di pohon," kataku, menunjuk ke pohon sassafras dimana kami baru saja duduk di bawahnya.

"Satu monster pohon. Aku melihatnya!."

"Tak mungkin!" teriaknya, dan mulai berjalan lagi ke rumah.

"Aku akan menunjukkan kepadamu!" Aku memanggil, menangkupkan tangan di sekitar mulutku jadi dia akan mendengarku.

Dia tak melihat ke belakang. Aku melihatnya tersandung menaiki tangga ke

beranda belakang dan menghilang ke dalam rumah. Pintu kasa terbanting keras di belakangnya.

(9)

Aku berdiri menatap bagian belakang rumah, menunggu Randy melongokkan kepala ketakutannya keluar lagi. Tapi dia tak melakukannya.

Aku tertawa terbahak-bahak. Maksudku, penggigit jari kaki adalah salah satu ciptaan terbaikku. Dan kemudian jari kakiku menggali ke dalam tanah dan juga berpura-pura monster itu mendapatkanku - lelucon yang lucu sekali!

Randy yang malang. Dia benar-benar terlalu mudah jadi korban.

Dan sekarang ia mungkin di dapur, menjerit mengadukanku pada Ibu. Itu berarti dalam waktu dekat aku akan dapat kuliah lain tentang bagaimana hal itu tak bagus untuk menakut-nakuti adikku dan memenuhinya dengan cerita-cerita monster yang menakutkan.

Tapi apa lagi yang bisa dilakukan?

Aku berdiri di sana menatap rumah, menunggu salah satu dari mereka untuk memanggilku masuk. Tiba-tiba satu tangan meraih bahuku keras dari belakang.

"Kena kau!" satu suara menggeram.

"Oh!" Aku menjerit dan hampir melompat keluar dari kulitku (maksudnya sangat kaget-pen).

Monster!

Aku berbalik - dan menatap wajah tertawa dari temanku Aaron Messer.

Aaron tertawa terkikik bernada tinggi sampai dia meneteskan air matanya.

Aku menggelengkan kepala, mengerutkan kening. "Kau tak membuatku takut,"

aku bersikeras.

"Oh. Tentu," jawabnya sambil memutar bola mata birunya. "Itu sebabnya kau berteriak minta tolong!"

"Aku tak berteriak minta tolong," protesku. "Aku hanya sedikit berteriak. Terkejut.

Itu saja."

(10)

Aaron terkekeh. "Kau pikir itu adalah monster. Akuilah."

"Monster?" kataku, mencibir. "Mengapa aku berpikir begitu?"

"Karena itu yang kaupikirkan," katanya puas. "Kau terobsesi."

"Oooh. Omong kosong!." Aku menggodanya.

Aaron adalah satu-satunya temanku yang terjebak di sekitar musim panas ini (dalam ebook inggrisnya rammer, mungkin yang benar summer, karena rammer adalah nama peralatan hidrolis -pen) . Orang tuanya akan membawanya di suatu tempat ke barat dalam beberapa bulan. Tapi sementara ini dia terjebak seperti aku, cuma nongkrong, mencoba untuk mengisi waktu.

Aaron sekitar satu kaki lebih tinggi dariku. Dia memiliki rambut merah keriting dan bintik-bintik di seluruh wajahnya. Dia sangat kurus, dan ia memakai celana kolor longgar panjang yang membuatnya tampak lebih kurus.

"Aku baru saja melihat Randy lari ke rumah. Mengapa dia menangis seperti itu?"

tanya Harun, melirik ke rumah.

Aku bisa melihat Randy di jendela dapur, menatap kami.

"Kupikir dia melihat monster," kataku pada Harun.

"Hah? Jangan monster lagi!" teriak Aaron. Dia memberiku dorongan main-main.

"Pergi dari sini, Lucy!"

"Ada satu di atas pohon itu," kataku serius, menunjuk.

Aaron berbalik untuk melihat. "Kau begitu dungu," katanya, sambil menyeringai.

"Tidak. Sungguh," aku bersikeras. "Ada satu monster asli yang jelek. Kurasa ia terjebak di sana di pohon itu."

"Lucy, hentikanlah," kata Aaron.

"Itulah yang Randy lihat," aku lanjutkan. "Itulah yang membuatnya lari berteriak ke dalam rumah."

(11)

"Kau melihat monster di mana-mana," kata Aaron. "Apakah kau tak pernah lelah akan itu?"

"Aku tak bercanda kali ini," kataku.

Daguku gemetar, dan ekspresi wajahku berubah menjadi rasa takut saat aku menatap langsung melewati bahu Aaron di pohon sassafras besar berdaun itu.

"Aku akan membuktikan kepadamu."

"Ya. Tentu," jawab Harun dengan kesinisan yang biasa.

"Sungguh. Ambillah sapu." Aku menunjuk ke sapu yang bersandar di belakang rumah.

"Hah? Apa?" tanya Aaron.

"Ambillah sapu," aku bersikeras. "Kita akan melihat apakah kita bisa membuat monster itu turun dari pohon."

"Eh.. Mengapa kita perlu melakukan itu?" tanya Aaron. Dia terdengar sangat ragu- ragu. Aku bisa melihat bahwa ia mulai bertanya-tanya apakah aku sedang serius atau tidak.

"Jadi kau akan percaya padaku," kataku serius.

"Aku tak percaya pada monster," jawab Aaron. "Kau tahu itu, Lucy. Simpan cerita monstermu untuk Randy Dia cuma anak-anak."

"Apakah kau percaya padaku jika salah satunya jatuh keluar dari pohon itu?"

tanyaku.

"Tak ada yang akan jatuh keluar dari pohon itu. Kecuali mungkin beberapa daun,"

kata Aaron.

"Pergilah ambil sapu dan kita akan lihat," kataku.

"Oke. Baik." Ia pergi berlari menuju rumah.

(12)

Aku meraih sapu keluar dari tangannya ketika ia membawanya di atas. "Ayo,"

kataku, memimpin jalan ke pohon. "Kuharap monster itu belum naik lagi."

Aaron memutar matanya. "Aku tak percaya aku akan sejauh ini, Lucy. Aku pasti benar-benar bosan!."

"Kau tak akan bosan dalam satu detik," aku berjanji. "Jika monster pohon itu masih di atas sana."

Kami melangkah ke bayangan pohon. Aku bergerak mendekat ke batang pohon dan mendongak menatap cabang-cabang berdaun yang hijau. "Wah. Masih di sana." Aku meletakkan tanganku di dada Harun, menahannya. "Ini bisa

berbahaya."

"Yang benar saja," gumamnya pelan.

"Aku akan mencoba mengguncang cabang itu dan membawanya turun," kataku.

"Ayo kita luruskan ini," kata Aaron. "Kau berharap aku untuk percaya bahwa kau akan mengambil sapu, mengguncang cabang pohon, dan monster itu akan jatuh dari atas sana?"

"He-eh." Aku bisa melihat bahwa gagang sapu itu tak cukup panjang untuk mencapai. "Aku harus memanjat sedikit," kataku Harun.

"Cuma hati-hati, oke?"

"Ooh, aku gemetar. Aku begitu takut.!" teriak Aaron, mengolok-olokku.

Aku menggesek atas batang pohon dan menarik diriku ke dahan terendah. Butuh waktu karena aku membawa sapu di satu tangan.

"Kau lihat ada monster menakutkan di atas sana?" tanya Harun dengan puas.

"Itu di sana," aku turun, ketakutan merayap ke dalam suaraku. "Itu terjebak di sana. Ia.... kurasa sangat marah."

Aaron mencibir. "Kau begitu bodoh."

(13)

Aku menarik diri ke posisi berlutut di ujung dahan. Lalu aku mengangkat sapu di depanku.

Aku mengangkatnya ke cabang berikutnya. Lebih tinggi. Lebih tinggi.

Kemudian, sambil memegang erat-erat pada batang dengan tangan yang bebas, aku mengangkat sapu sejauh-jauhny - dan mendorongnya ke dahan pohon.

Sukses!

Aku menurunkan mataku segera untuk menonton Aaron.

Dia menjerit memekakkan telinga ngeri saat monster itu jatuh dari pohon dan mendarat tepat di dadanya.

3

Yah, sebenarnya itu bukan monster yang mendarat dengan suara berdebum, gemeretak lembut di dada Aaron.

Itu adalah sarang burung tua lusuh yang dibuat burung jay biru dua musim semi yang lalu.

(burung jay = burung kecil berjambul dengan warna bulu yang terang. Habitatnya daerah pepohonan. Termasuk hewan omnivora, memakan biji-bijian, amfibi kecil, serangga, dan terkadang memakan telur dan anak burung lainnya)

Tapi Aaron tak menduganya. Jadi membuatnya benar-benar ketakutan.

"Kena kau!" Aku memproklamirkan setelah turun dari pohon.

Dia merengut padaku. Wajahnya berwarna agak ungu, yang membuat bintik- bintiknya itu terlihat benar-benar aneh. "Kau dan monstermu," gumamnya.

Itulah persisnya yang dikatakan ibuku sekitar sepuluh menit kemudian. Aaron sudah pulang, dan aku datang ke dapur dan menarik kotak jus keluar dari kulkas.

(14)

Benar saja, Ibu muncul di ambang pintu, matanya tajam dan dingin, ekspresi wajahnya cemberut. Aku bisa melihat langsung bahwa ia siap untuk memberikan ceramah "Jangan Menakuti Randy".

Aku bersandar meja dan pura-pura mendengarkan. Ide dasar dari ceramah itu adalah bahwa cerita-ceritaku membuat gangguan permanen pada adik kecilku yang lembut. Bahwa aku harusnya mendorong Randy jadi pemberani, bukan membuatnya takut bahwa monster mengintai di setiap sudut.

"Tapi, Bu - aku melihat monster asli di bawah pagar pagi ini!" Kataku.

Aku benar-benar tak tahu mengapa aku mengatakan itu. Kurasa aku hanya ingin mengganggu ceramahnya.

Ibu jadi benar-benar jengkel. Dia mengangkat tangannya dan mendesah. Dia memiliki rambut hitam mengilap lurus, seperti Randy dan aku, dan dia memiliki mata hijau, mata kucing, dan hidung kecil kucing. Setiap kali Ibu mulai padaku dengan salah satu ceramahnya, aku selalu membayangkannya dengan kucing menerkam.

Jangan salah. Dia sangat cantik. Dan dia juga ibu yang baik.

"Aku akan membicarakan hal ini dengan ayahmu malam ini," katanya. "Ayahmu berpikir obsesi monster ini hanya satu tahap yang sedang kau alami. Tapi aku tak begitu yakin."

"Hidup hanyalah satu tahap yang kualami," kataku pelan.

Kurasa itu cukup pintar. Tapi dia hanya menatapku.

Lalu dia mengingatkanku bahwa jika aku tak terburu-buru, aku akan terlambat untuk pertemuan Reading Rangers-ku.

Aku melirik jam. Dia benar. Janjiku adalah jam 04:00.

Reading Rangers adalah program membaca musim panas di perpustakaan kota yang Ibu dan Ayah membuatku masuk mendaftarkan diri. Mereka mengatakan bahwa mereka tak ingin aku menyia-nyiakan seluruh musim panas. Dan jika aku

(15)

bergabung dengan hal ini di perpustakaan, setidaknya aku pernah membaca beberapa buku bagus.

Cara kerja Reading Rangers adalah aku harus pergi menemui Pak Mortman, pustakawan, seminggu sekali. Dan aku harus memberikan laporan singkat dan menjawab beberapa pertanyaan tentang buku yang kubaca minggu itu. Aku mendapat satu bintang emas untuk setiap buku yang kulaporkan.

Jika aku mendapatkan enam bintang emas, aku mendapatkan hadiah. Kupikir hadiahnya adalah sebuah buku. Hebat, kan? Tapi itu cuma cara untuk

membuatmu membaca.

Kupikir aku akan membaca beberapa novel misteri menakutkan yang dibaca semua teman-temanku. Tapi tidak. Pak Mortman menekankan pada semua orang membaca buku "klasik." Maksudnya buku-buku lama.

"Aku akan meluncur ke atas," kataku pada ibuku, dan bergegas ke kamarku untuk mengambil sepatu rodaku.

"Sebaiknya kau terbang di atas!" teriak ibuku padaku. "Hei," ia menambahkan beberapa detik kemudian, " Tampaknya seperti hujan!"

Dia selalu memberiku laporan cuaca.

Aku melewati kamar Randy. Dia di sana dalam kegelapan, tanpa cahaya, bayangan-bayangan yang tertarik. Bermain Super Nintendo, seperti biasa.

Pada saat aku memasang sepatu roda dan mengikatnya, aku hanya punya waktu lima menit untuk sampai ke perpustakaan itu. Untungnya, itu hanya enam atau tujuh blok jauhnya

Bagaimanapun juga aku berada dalam kesulitan besar. Aku hanya berhasil

membaca empat bab dari Huckleberry Finn, bukuku selama seminggu. Itu berarti aku harus menipu Pak Mortman.

Aku mengambil buku itu dari rakku. Buku ini bersampulkan kertas tipis yang baru.

Aku mengusutkan beberapa halaman dekat bagian belakang agar terlihat seolah- olah aku membaca sejauh itu. Aku memasukkannya ke dalam ranselku, bersama

(16)

dengan sepasang sepatu kets. Lalu aku berjalan menuruni tangga - tak mudah dengan bersepatu roda - dan menuju ke perpustakaan kota Timberland Falls.

Perpustakaan berada di rumah tua bobrok di tepi hutan Timberland. Rumah itu milik salah seorang pertapa tua yang eksentrik. Dan saat dia meninggal, dia tak punya keluarga, jadi dia menyumbangkan rumah itu ke kota. Mereka merubahnya jadi perpustakaan.

Beberapa anak mengatakan rumah itu berhantu. Tapi anak-anak mengatakan hal itu hampir pada setiap rumah tua yang menyeramkan. Perpustakaan itu memang lebih tampak seperti rumah berhantu yang sempurna.

Rumah itu bertingkat tiga tinggi, bersirap gelap, dengan atap gelap runcing di antara dua menara batu kecil. Rumah itu terletak dibelakang pepohonan, seolah- olah bersembunyi di sana. Selalu di tempat teduh, selalu gelap dan dingin.

Di dalam, papan lantai tua berderit di bawah karpet tipis yang telah diletakkan (pegawai) kota. Jendela-jendela yang tinggi membiarkan cahaya yang masuk sangat sedikit. Dan lemari-lemari buku kayu tua mencapai hampir ke langit-langit.

Ketika aku berjalan melalui gang-gang sempit di antara, rak-rak tinggi gelap, aku selalu merasa seolah-olah mereka akan menyelimutiku.

Aku punya perasaan menakutkan bahwa rak-rak itu akan bersandar padaku, menutupi tubuhku, dan aku akan terkubur di sana dalam kegelapan selamanya.

Terkubur di bawah seribu pon debu buku-buku tua yang berjamur.

Tapi tentu saja itu konyol.

Ini hanya satu rumah yang sangat tua. Sangat gelap dan lembab. Sangat berderit- derit. Tak sebersih seperti perpustakaan yang seharusnya. Banyak sarang laba- laba dan debu.

Mr Mortman melakukan yang terbaik yang ia bisa, kurasa. Tapi dia agak menyeramkan juga.

Hal yang paling dibenci kami semua -anak-anak- tentangnya adalah tangannya yang selalu tampak basah. Dia akan tersenyum padamu dengan mata bulat hitam

(17)

kecil di kepala botak gemuknya yang mengkilap. Dia akan mengulurkan tangan dan menjabat tanganmu. Dan tangannya selalu basah!

Ketika ia membalik halaman-halaman buku, dia akan meninggalkan sidik jari basah di sudut-sudutnya. Mejanya selalu memiliki genangan air kecil di atasnya, cetakan-cetakan tangan basah di atas pelindung meja kulitnya.

Tubuhnya pendek dan bulat. Dengan kepala botak mengkilap dan mata hitam kecil, ia tampak sangat mirip tikus mondok. Seekor tikus mondok basah-

mencakar.

Dia berbicara dengan suara tinggi kasar. Hampir selalu berbisik. Dia bukanlah orang jahat, sungguh. Dia tampaknya menyukai anak-anak. Dia tak buruk atau apa pun. Dan dia benar-benar menyukai buku.

Dia hanya aneh, itu saja. Dia duduk di bangku kayu tinggi yang membuatnya melayang-layang di atas meja yang besarnya. Dia menyimpan satu panci aluminium yang dalam di samping mejanya. Di dalam panci itu beberapa kura- kura kecil, bergerak berputar-putar dalam air yang kira-kira seinci. "Teman- temanku yang pemalu," kudengar dia memanggil mereka suatu kali.

Terkadang ia akan mengambil salah satu dari mereka dan menahannya di jari-jari gemuk, tinggi di udara, sampai kura-kura itu memasukkan dirinya ke

cangkangnya. Lalu ia dengan lembut akan meletakkannya, tersenyum senang di wajah pucatnya yang kendur.

Dia begitu mencintai kura-kuranya. Kukira mereka baik-baik saja sebagai hewan peliharaan. Tapi mereka adalah jenis yang berbau. Aku selalu berusaha untuk duduk di sisi lain meja, sejauh mungkin yang aku bisa dari panci kura-kuranya.

Yah, aku meluncur ke perpustakaan secepat yang aku bisa. Aku hanya terlambat beberapa menit aku aku meluncur ke bayangan jalanan masuk perpustakaan yang dingin. Langit berawan. Aku duduk di tangga batu dan melepas sepatu roda. Lalu aku cepat-cepat memasang sepatuku dan membawa sepatu rodaku, aku berjalan melalui pintu depan.

(18)

Berjalan melalui tumpukan-tumpukan rak tinggi yang sempit di bagian belakang ruang baca utama - Aku menjatuhkan sepatu luncur ke dinding. Lalu dengan cepat aku berjalan melalui gang ke meja Mr Mortman di dinding belakang.

Ia mendengar langkah-langkah kakiku dan segera mendongak dari tumpukan buku yang dia cap dengan cap besar. Lampu langit-langit membuat kepalanya yang botak bersinar seperti lampu. Dia tersenyum.

"Hai, Lucy," katanya dengan suara melengking itu. "Jadi benar kau."

Aku menyapanya dan duduk di kursi lipat di depan mejanya. Aku mengawasinya mencap buku-buku itu. Ia memakai sweater abu-abu berleher kura-kura yang membuatnya terlihat sangat mirip kura-kura peliharaannya.

Akhirnya, setelah melirik jam besar yang berdetak keras di dinding, dia berbalik ke arahku.

"Dan apa yang kau baca untuk Reading Rangers minggu ini, Lucy?" Dia bersandar di atas meja itu ke arahku. Aku bisa melihat sidik jari basah pada meja gelap itu.

"Eh... Huckleberry Finn." Aku menarik buku itu dari ranselku dan menjatuhkannya ke pangkuanku.

"Ya, ya. Satu buku yang indah," kata Mr Mortman, sambil melirik buku bersampul kertas tipis di pangkuanku. "Apakah kau tak setuju?"

"Ya," kataku cepat. "Saya benar-benar menikmatinya aku.... Tidak bisa meletakkannya."

Itu semacam kebenaran. Aku tak pernah mengangkatnya - jadi bagaimana aku bisa meletakkannya?

"Apa yang kau sukai tentang Huckleberry Finn?" Mr Mortman bertanya, tersenyum menatapku penuh harap.

"Eh... deskripsinya (penggambarannya)," kataku.

(19)

Aku mendapat bintang emas Reader Rangers bintang emas di saku bajuku. Dan aku punya sebuah buku baru dalam ranselku - Frankenstein, oleh Mary Shelley.

Mungkin aku akan membaca Frankenstein dengan lantang untuk Randy, pikirku keji.

Itu mungkin akan membuat giginya gemeretak selamanya!

Matahari sore tersembunyi di balik awan-awan hujan menyebar. Aku telah berjalan hampir sepanjang perjalanan pulang saat aku sadar bahwa aku telah melupakan sepatu rodaku.

Maka aku pun berbalik dan kembali. Aku tak yakin berapa lama perpustakaan tetap buka. Mr Mortman tampaknya sepenuhnya sendirian di sana, aku berharap dia tak memutuskan untuk menutup toko lebih awal. Aku benar-benar tak ingin meninggalkan sepatu roda baruku di sana semalaman.

Aku berhenti dan menatap perpustakaan tua itu. Jauh dalam gelapnya malam, rumah itu tampaknya menatap kembali ke arahku, jendela-jendela gelapnya seperti mata-mata hitam tak berkedip.

Aku menaiki tangga batu, kemudian ragu-ragu dengan tanganku di pintu. Aku tiba-tiba kedinginan.

Apa itu hanya karena melangkah ke kegelapan malam?

Tidak. Ini sesuatu yang lain.

Aku punya perasaan aneh. Perasaan buruk.

Aku kadang-kadang mendapatkan itu. Satu sinyal. Saat gelisah.

Sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi.

Menghilangkan perasaan itu, aku membuka pintu tua yang berderit dan melangkah ke dalam kegelapan perpustakaan yang pengap.

(20)

4

Bayangan menari-nari di dinding saat aku berjalan menuju ruang utama. Satu cabang pohon membentur berisik pada kaca yang tertutup debu dari jendela yang tinggi.

Perpustakaan ini sunyi kecuali deritan papan lantai di bawah sepatuku. Saat aku memasuki ruang utama, aku bisa mendengar (bunyi) tetap tik-tik-tik dari jam dinding.

Semua lampu telah dipadamkan.

Kupikir aku merasakan sesuatu yang berlari cepat di sepatuku.

Seekor tikus?

Aku berhenti dan melirik ke bawah.

Hanya bola debu yang menempel ke dasar rak buku.

Wah, Lucy, aku memarahi diriku sendiri. Ini hanya perpustakaan tua berdebu. Tak ada yang aneh tentangnya. Jangan biarkan imajinasi liarmu mengambil alih dan membawamu ke dalam kesulitan

Masalah?

Aku masih punya perasaan aneh. Setahap demi setahap tetapi terus-menerus membuat perih perut. Satu sentakan di dadaku.

Ada sesuatu yang tak benar. Sesuatu yang buruk akan terjadi.

Orang-orang menyebutnya firasat. Itu satu kosa kata yang pas untuk apa yang kurasakan saat ini.

Aku menemukan sepatu rodaku tempat dimana kutinggalkan, pada dinding belakang dalam tumpukan-tumpukan. Aku menyambarnya, ingin segera keluar dari tempat gelap menyeramkan itu.

(21)

Aku melangkah cepat-cepat kembali ke arah pintu masuk, berjingkat untuk suatu alasan. Tapi suatu suara membuatku berhenti.

Aku menahan napasku. Dan mendengarkan.

Itu hanya batuk.

Mengintip menyusuri gang sempit itu, aku bisa melihat Mr Mortman melayang di atas mejanya. Yah, sebenarnya, aku hanya bisa melihat bagian dari dirinya - satu lengan, dan sebagian wajahnya saat ia membungkuk ke kiri.

Aku masih menahan napasku.

Tik-tik tik, jam berdetak ribut dari seberang ruangan. Di belakang mejanya, dari wajah Mr Mortman bergerak-gerak masuk dan keluar bayangan biru-ungu.

Sepatu roda ini tiba-tiba terasa berat. Aku pelan-pelan menurunkannya ke lantai.

Lalu rasa ingin tahuku mengalahkanku, dan aku mengambil beberapa langkah ke arah depan.

Mr Mortman mulai bersenandung untuk dirinya sendiri. Aku tak mengenali lagu itu.

Bayang-bayang jadi lebih dalam saat aku mendekat. Mengintip lorong gelap, aku melihatnya memegang stoples kaca besar antara tangan-tangannya yang gemuk.

Aku cukup dekat untuk melihat bahwa wajahnya tersenyum senang.

Menjaga dalam bayang-bayang, aku begerak lebih dekat.

Aku suka memata-matai orang. Itu menggairahkan, bahkan saat mereka tak melakukan sesuatu yang sangat menarik.

Hanya mengetahui bahwa kau sedang melihat mereka dan mereka tak tahu bahwa mereka sedang diawasi itu menarik.

Bersenandung pada dirinya sendiri, Mr Mortman menahan stoples itu di depan dadanya dan mulai membuka tutup atas. "Lalat-lalat buah, teman-teman

pemaluku," katanya dalam nada tinggi suaranya.

(22)

Jadi. Toples itu penuh dengan lalat.

Tiba-tiba, ruangan itu jadi lebih gelap saat awan bergulung di atas matahari sore.

Cahaya dari jendela meredup. Bayangan-bayangan abu-abu berputar di atas Mr Mortman dan meja besarnya, seolah-olah menyelimuti dirinya dalam kegelapan.

Dari tempat persembunyianku di antara rak-rak, aku melihat dia mempersiapkan untuk memberi makan kura-kura itu.

Tapi tunggu dulu.

Ada sesuatu yang salah.

Firasatku jadi nyata.

Sesuatu yang aneh sedang terjadi!

Saat dia berusaha untuk membuka tutup stoples, wajah Mr Mortman mulai

berubah. Kepalanya melayang naik dari kerah bajunya yang melipat ke bawah dan mulai mengembang, seperti balon yang digelembungkan.

Aku mengeluarkan satu hembusan napas pelan saat aku melihat matanya yang kecil mencuat dari kepalanya. Mata menonjol membesar dan lebih besar, sampai sebesar gagang pintu.

Cahaya dari jendela jadi lebih redup.

Seluruh ruangan memproyeksikan dalam bayang-bayang tebal. Bayang-bayang itu berayun dan bergeser.

Aku tak bisa melihat dengan baik. Rasanya aku seperti melihat segala sesuatu melalui kabut gelap.

Mr Mortman terus bersenandung, bahkan saat kepalanya bergerak-gerak dan berdenyut-denyut di atas bahunya dan matanya menonjol keluar seperti pada tangkai (bunga), mengulur ke atas seperti antena serangga.

Dan kemudian mulutnya mulai berputar dan tumbuh. Terbuka lebar, seperti sebuah lubang hitam menganga di kepala besar yang mengangguk-angguk.

(23)

Mr Mortman sekarang bernyanyi lebih keras. Satu suara ngeri yang menakutkan, lebih mirip lolongan binatang daripada nyanyian.

Dia melepas tutup stoples dan membiarkannya jatuh ke meja. Stoples itu berdentang keras saat membentur bagian atas meja.

Aku mencondongkan tubuh ke depan, berusah untuk melihat. (Dengan) menyipitkan mata tajam, aku melihat Mr Mortman memasukkan tangan

gemuknya ke dalam botol itu. Aku bisa mendengar dengungan keras dari botol itu. Dia mengeluarkan beberapa lalat.

Aku bisa melihat mata menonjolnya jadi lebih lebar.

Aku bisa melihat lubang hitam menganga yang mulutnya.

Dia menahan tangannya sebentar di kandang kura-kura kecil. Aku bisa melihat lalat-lalat itu, titik-titik hitam di seluruh tangannya. Di telapak tangannya. Pada jari-jari gemuknya yang pendek .

Kupikir dia akan menurunkan tangannya ke lubang aluminium itu. Kupikir dia akan memberi makan kura-kura.

Tapi, sebaliknya, ia menjejalkan lalat-lalat itu ke mulutnya sendiri.

Aku menutup mata dan menahan tanganku ke mulutku untuk menahan muntah.

Atau teriakan.

Aku menahan napas, tapi hatiku terus berpacu.

Bayang-bayang itu bergerak tiba-tiba dan melompat. Kegelapan seolah-olah mengapung di sekelilingku.

Aku membuka mataku. Dia sedang makan segenggam lalat lainnya,

mendorongnya ke dalam mulut menganganya dengan jari-jarinya, menelan mereka semuanya.

Aku ingin berteriak.

(24)

Aku ingin lari.

Mr Mortman, kusadari, adalah monster.

5

Bayang-bayang itu tampak menarik diri. Langit di luar jendela cerah, dan segitiga abu-abu cahaya jatuh di atas meja Mr Mortman itu.

Membuka mataku, aku menyadari bahwa aku telah menahan napas. Dadaku terasa seolah-olah akan meledak. Aku membiarkan udara keluar perlahan dan menarik napas dalam-dalam lainnya.

Kemudian, tanpa melirik lagi ke depan ruangan, aku berbalik dan berlari.

Sepatuku berdebam di lantai berderit, tapi aku tak peduli.

Aku harus keluar dari sini secepat yang aku bisa.

Aku meloncat keluar pintu depan perpustakaan ke tangga batu, kemudian menyusuri jalan kerikil. Aku berlari secepat aku bisa, lenganku terbang liar di pinggangku, rambut hitamku bertiup di belakangku.

Aku tak berhenti sampai aku satu blok jauhnya.

Lalu aku jatuh ke tepi jalan dan menunggu hatiku untuk berhenti berdebar seperti genderang .

Awan hujan padat menggulung matahari lagi. Langit menjadi menakutkan kuning- hitam. Sebuah mobil station wagon bergemuruh lewat. Beberapa anak-anak di belakang itu memanggilku, tapi aku tak mengangkat kepalaku.

Aku terus melihat adegan bayangan itu di perpustakaan lagi dan lagi.

Mr Mortman adalah monster.

Kata-kata berulang-ulang tanpa henti dalam pikiranku.

(25)

Ini tak bisa, pikirku, menatap awan hitam yang sangat rendah di atas kepala.

Aku telah melihat benda-benda. Pasti itu.

Semua bayangan di perpustakaan gelap itu. Semua kegelapan yang berputar- putar.

Itu adalah ilusi optik.

Itu adalah imajinasi liarku.

Itu adalah lamunan, satu fantasi konyol.

Tidak! Teriak satu suara yang nyaring di kepalaku.

Tidak, Lucy, kau melihat kepala Mr Mortman yang menonjol itu. Kau melihat matanya menonjol keluar dan tumbuh seperti jamur payung mengerikan di wajah balonnya.

Kau melihatnya meraih lalat dalam stoples. Kau mendengarnya bersenandung begitu bahagia, begitu. . . lapar.

Kau melihatnya menjejalkan lalat-lalat itu ke dalam mulutnya. Tidak segenggam penuh, tapi dua genggam.

Dan mungkin dia masih di sana, makan kenyang.

Saat itu gelap, Lucy. Di sana ada bayangan-bayangan. Tapi kau melihat apa yang kau lihat. Kau melihat semua itu.

Mr Mortman adalah monster.

Aku berdiri. Aku merasa setetes hujan dingin di atas kepalaku.

"Mr Mortman itu monster." Aku berkata dengan keras.

Aku tahu aku harus memberitahu Ibu dan Ayah secepat yang aku bisa.

"Pustakawan itu monster." Itulah yang akan aku beritahukan pada mereka.

Tentu saja, mereka akan terkejut. Siapa yang tidak?

(26)

Merasa tetesan hujan lain di kepalaku, lalu satu lagi di bahuku, aku mulai berlari- lari kecil ke rumah. Aku sudah berlari sekitar setengah blok saat aku berhenti.

Sepatu roda bodoh itu! Aku telah meninggalkannya di perpustakaan lagi.

Aku berputar kembali. Hembusan angin keras meniup rambutku di depan wajahku. Aku mendorongnya kebelakang dengan kedua tangan. Aku berpikir keras, mencoba untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan.

Hujan berderai-derai lembut di trotoar jalan. Air hujan yang dingin terasa nyaman di dahiku yang panas.

Kuputuskan untuk kembali ke perpustakaan dan mengambil sepatu rodaku. Kali ini, aku akan membuat banyak suara. Memastikan Mr Mortman tahu ada orang di sana.

Jika ia mendengar aku datang, aku yakin ia akan bersikap normal. Dia tak akan makan lalat di depanku. Dia tak akan membiarkan matanya menonjol dan kepalanya tumbuh seperti itu.

Dia akan begitu kan?

Aku berhenti saat perpustakaan kembali lagi ke tampak. Aku ragu-ragu, menatap melalui hujan gerimis di gedung tua itu.

Mungkin aku seharusnya menunggu dan kembali besok dengan ayahku.

Bukankah itu lebih pintar?

Tidak, aku memutuskan aku ingin sepatu rodaku. Dan aku akan mendapatkannya.

Aku selalu cukup berani.

Waktu itu seekor kelelawar terbang masuk ke dalam rumah kami, akulah orang yang memekik, berteriak dan mengejar keluar dengan jaring kupu-kupu.

Aku tak takut kelelawar. Atau ular. Atau serangga.

"Atau monster," kataku keras-keras.

(27)

Saat aku berjalan ke bagian depan perpustakaan, hujan berderai-derai lembut di sekelilingku, aku terus berkata pada diriku sendiri untuk membuat banyak suara.

Memastikan Mr Mortman tahu kau ada di sana, Lucy. Memanggilnya. Katakan padanya kau datang kembali karena kau meninggalkan sepatu rodamu.

Ia tak akan membiarkanmu melihat bahwa dia monster jika dia tahu kau berada di sana.

Dia tak akan menyakitimu atau apa pun jika kau memberinya beberapa peringatan.

Aku terus meyakinkan diriku sendiri sepanjang jalan sampai ke gedung, gelap tua itu. Aku menaiki tangga batu ragu-ragu.

Lalu, sambil mengambil napas dalam-dalam, aku meraih pegangan pintu dan mulai masuk.

6

Aku memutar kenop dan mendorong, tapi pintu tak mau terbuka. Aku mencoba lagi. Aku perlu waktu beberapa saat untuk menyadari bahwa pintu itu terkunci.

Perpustakaan telah tutup.

Hujan berderai lembut di rumput saat aku berjalan ke jendela depan. Jendela itu tinggi dari tanah. Aku harus menarik diriku di kusen jendela untuk melihat ke dalam.

Gelap. Benar-benar gelap.

Aku merasa lega dan kecewa pada saat yang sama.

Aku ingin sepatu rodaku, tetapi aku benar-benar tak ingin kembali di sana.

"Aku akan mengambilnya besok," kataku keras-keras.

(28)

Aku merendahkan diri ke tanah. Hujan mulai turun semakin deras, dan angin beliung meniup hujan dalam lembaran-lembaran.

Aku mulai berlari, sepatuku berlumpur di atas rumput basah. Aku berlari sepanjang perjalanan pulang. Aku benar-benar basah kuyup saat aku berjalan melalui pintu depan.

Rambutku jadi kusut di atas kepalaku. Bajuku basah kuyup.

"Ibu! Ayah?! Apa kalian di rumah?" teriakku.

Aku berlari melalui lorong, hampir tergelincir di lantai halus, dan mendadak muncul ke dapur.

"Monster!" teriakku.

"Hah?" Randy duduk di atas meja dapur, memisah-misahkan tumpukan besar kacang panjang untuk Ibu. Dia satu-satunya yang mendongak.

Ibu dan Ayah sedang berdiri di meja, menggulung bakso-bakso kecil di tangan mereka. Mereka bahkan tak berbalik.

"Monster!" Aku menjerit lagi.

"Dimana?" teriak Randy.

"Apa kehujanan?" tanya Ibu.

"Bukankah kau (seharusnya) berkata: hai?" tanya Ayah. "Apa kau pantas meledak ke satu ruangan berteriak-teriak? Bukankah aku (harusnya) mendapatkan 'Hai, Ayah," atau apa? "

"Hai, Ayah," teriakku terengah-engah. "Ada monster di perpustakaan!"

"Lucy, tolong -" Ibu mulai tak sabar.

"Monster macam apa ?" tanya Randy. Dia berhenti memisahkan-misahkan ujung kacang dan menatap tajam ke arahku.

(29)

Ibu akhirnya berbalik. "Kau basah kuyup!" teriaknya. "Kau membanjiri seluruh lantai. Naiklah dan ganti dengan pakaian kering."

Ayah berbalik, juga, wajahnya berkerut. "Ibumu baru saja mengepel lantai,''gumamnya.

"Aku coba untuk memberitahu kalian sesuatu!" jeritku, mengacungkan kepalan tanganku di udara.

"Tak perlu berteriak," hardik Ibu. "Ganti baju. Lalu katakan pada kami."

"Tapi Mr Mortman itu monster!" teriakku.

"Tak bisakah kau simpan masalah monster sampai nanti? Aku baru pulang, dan aku punya sakit kepala yang paling buruk," keluh Ayah. Matanya menatap lantai dapur. Genangan air kecil yang terbentuk sekitarku di lantai linoleum putih.

"Aku serius!" Aku bersikeras. "Mr Mortman - dia benar-benar monster!"

Randy tertawa. "Dia kelihatan lucu."

"Randy, tak bagus mengolok-olok penampilan orang," kata Ibu dengan jengkel.

Dia berbalik padaku. "Lihat apa yang kau ajarkan pada adik kecilmu? Tak bisakah kau memberi contoh yang baik?"

"Tapi, Bu!"

"Lucy, silakan ganti pakaian kering," pinta Ayah. "Lalu turun dan mengatur meja, oke?"

Aku sangat frustrasi! Aku memiringkan kepalaku ke belakang dan mengeluarkan geraman marah.

"Apa tak ada orang di sini yang percaya padaku?" teriakku.

"Ini benar-benar bukan waktunya untuk cerita monstermu," kata Ibu, berbalik kembali ke baksonya.

(30)

"Larry, kamu membuatnya terlalu besar," tegurnya pada ayahku. "Itu seharusnya kecil dan halus."

"Tapi aku suka bakso besar," Ayah bersikeras.

Tak ada yang menaruh perhatian kepadaku. Aku berbalik dan berjalan marah keluar dari dapur.

"Apakah Mr Mortman benar-benar monster?" panggil Randy setelahku.

"Aku tak tahu, dan aku tak peduli - tentang apa pun!" jeritku kembali. Aku begitu marah dan kesal.

Mereka tak seharusnya mengabaikanku seperti itu. Yang mereka pedulikan hanyalah bakso-bakso bodoh mereka.

Sampai di kamarku, aku melepas pakaianku yang basah dan melemparkannya ke lantai. Aku ganti dengan celana jeans dan kaos ketat.

Apa Mr Mortman itu benar-benar monster?

Pertanyaan terulang dalam kepalaku.

Apa aku membayangkan semuanya?

Apa aku hanya memiliki monster di pikiran?

Begitu gelap dan remang-remang di perpustakaan dengan semua lampu

dimatikan. Mungkin Mr Mortman tak makan lalat. Mungkin ia menariknya keluar dari toples dan menjadikannya makanan untuk kura-kura peliharaannya.

Mungkin aku membayangkan bahwa ia memakannya.

Mungkin kepalanya tak mengembang seperti balon. Mungkin matanya tak menonjol. Mungkin itu hanya tipuan kegelapan, bayang-bayang yang menari, lampu abu-abu yang redup.

Mungkin aku perlu kacamata.

Mungkin aku gila dan aneh.

(31)

"Lucy - segera turun dan atur meja," panggil ayahku menaiki tangga.

"Oke. Segera datang." Saat aku berjalan ke lantai bawah, aku merasa campur aduk semua.

Aku tak menyebut Mr Mortman saat makan malam. Sebenarnya, Ibu yang mengajukannya. "Buku apa yang kau memilih untuk dibaca minggu ini?" dia tanyanya.

"Frankenstein," kataku.

Ayah mengerang. "Monster lagi!" serunya, sambil menggeleng. "Apa kau tak pernah cukup dengan monster? Kau melihat mereka di mana pun kau pergi! Apa kau harus membaca tentang monster, juga?"

Ayah punya suara menggelegar besar. Segala sesuatu tentang ayahku adalah besar. Dia terlihat sangat tangguh, dengan dada yang luas dan lengan yang terlihat kuat. Saat dia berteriak, seluruh rumah bergetar.

"Randy, kau melakukan pekerjaan bagus dengan buncis," kata Ibu, cepat mengubah topik pembicaraan.

Setelah makan malam, aku membantu Ayah (mencuci) piring. Lalu aku naik ke kamarku untuk mulai membaca Frankenstein. Aku pernah melihat film

Frankenstein lama di TV, jadi aku tahu tentang apa itu. Ini tentang seorang ilmuwan yang membuat monster, dan monster itu jadi hidup.

Ini kedengarannya seperti semacam ceritaku.

Aku bertanya-tanya apakah itu benar.

Mengejutkan, aku mendapati Randy di kamarku, duduk di tempat tidur, menungguku.

"Apa yang kau inginkan?" tanyaku. Aku benar-benar tidak menyukai dia bermain- main di kamarku.

(32)

"Ceritakan tentang Mr Mortman," katanya. Aku bisa tahu dari wajahnya bahwa dia ketakutan dan bersemangat pada saat yang bersamaan.

Aku duduk di tepi tempat tidur. Aku sadar aku ingin mengatakan kepada seseorang tentang apa yang terjadi di perpustakaan. Jadi, aku bercerita pada Randy seluruh kisah itu, dimulai dengan bagaimana aku harus kembali ke sana karena aku meninggalkan sepatu rodaku.

Randy meremas bantal ke dadanya dan bernapas benar-benar keras. Kurasa, cerita itu membuatnya sangat ketakutan.

Aku baru saja menyelesaikan bagian mana Mr Mortman menjejalkan segenggam lalat ke dalam mulutnya. Randy terkesiap. Dia tampak sakit.

"Lucy!" Ayahku tiba-tiba muncul dengan marah ke dalam ruangan. "Apa masalahmu?"

"Tak ada, Yah, aku -"

"Berapa kali kami harus memberitahumu untuk tak menakut-nakuti Randy dengan cerita konyol monstermu?"

"Konyol?" jeritku. "Tapi, Ayah - yang satu ini benar!"

Dia membuat wajah jijik dan berdiri di sana memelototiku. Aku berharap api terlepas keluar dari lubang hidungnya setiap saat.

"Aku - aku tak takut. Sungguh!" protes Randy, membelaku. Tapi adikku yang malang itu (wajahnya) seputih bantal yang dipegangnya, dan (tubuhnya) gemetaran semua.

"Ini peringatan terakhirmu," kata Ayah. "Maksudku, Lucy, aku benar-benar marah.." Dia menghilang kembali ke bawah.

Aku menatap pintu tempat ia berdiri.

Aku benar-benar marah, pikirku.

(33)

Aku benar-benar marah bahwa tak ada seorang pun di keluarga ini percayaku saat aku sedang serius.

Aku tahu saat itu bahwa aku tak punya pilihan.

Aku harus membuktikan bahwa aku bukan pembohong. Aku harus membuktikan bahwa aku tidak gila.

Aku harus membuktikan kepada Ibu dan Ayah bahwa Mr Mortman adalah monster.

7

"Apa itu?" Aku bertanya pada Aaron.

Ini adalah seminggu kemudian. Aku harus melewati rumahnya untuk sampai ke perpustakaan untuk pertemuan Reading Rangers-ku. Aku berhenti saat melihat Aaron di halaman depan. Dia melemparkan sebuah cakram biru, lalu

menangkapnya saat benda itu bergerak dengan bersuara ke arahnya.

"Ini semacam Frisbee pada karet gelang panjang," katanya. Dia melemparkan cakram itu dan langsung kembali dengan cepat. Dia meleset dan cakram itu terbang di belakangnya, lalu bergerak kembali lagi - dan memukul bagian belakang kepalanya.

"Ini tak persis sebagaimana harusnya bekerja," katanya, tersipu. Dia mulai melepaskan simpul pada pita karet tebal itu.

"Bisakah aku bermain denganmu?" tanyaku.

Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ini untuk satu orang, lihat."

"Ini Frisbee untuk satu orang?" tanyaku.

"Ya. Apa kau tak melihat iklan di TV? Kau memainkannya sendiri. Kau melemparnya dan lalu kau menangkapnya."

(34)

"Tapi bagaimana jika seseorang ingin bermain denganmu?" tuntutku.

"Kau tak bisa," jawab Aaron. "Ini tak bekerja seperti itu."

Kupikir itu cukup bodoh. Tapi Aaron tampaknya bersenang-senang. Jadi aku mengucapkan selamat tinggal dan melanjutkan perjalanan ke perpustakaan.

Ini adalah hari yang cerah yang indah. Semuanya tampak terang dan ceria, keemasan dan hijau musim panas.

Perpustakaan, seperti biasa, bermandikan bayang-bayang biru. Aku cuma pernah kembali sekali sejak hari itu. Sekali dengan sangat cepat, untuk mengambil sepatu rodaku. Aku berhenti di pinggir jalan, menatapnya. Aku tiba-tiba merasa

kedinginan.

Seluruh dunia tampaknya jadi lebih gelap di sini. Lebih gelap dan lebih dingin.

Cuma imajinasiku?

Kita akan lihat, pikirku. Kita akan lihat hari ini, apa yang nyata dan apa yang tidak.

Aku menarik ranselku dari bahuku, dan berayun di talinya, berjalan ke pintu depan. Sambil mengambil napas dalam-dalam, aku membuka pintu dan melangkah masuk.

Bertengger di atas meja di ruang baca utama, Mr Mortman baru saja selesai dengan anggota Reading Rangers lainnya. Itu gadis yang kukenal di sekolah, Ellen Borders.

Aku menyaksikan dari ujung deretan panjang buku. Mr Mortman mengatakan selamat tinggal. Dia menyerahkan sebuah bintang emas. Lalu ia menjabat tangan Ellen, dan aku bisa melihat Ellen mencoba untuk tak membuat wajah jijik.

Tangannya mungkin basah kuyup, seperti biasa.

Ellen mengatakan sesuatu, dan mereka berdua tertawa. Sangat gembira.

Ellen berkata selamat tinggal dan menuju pintu. Aku melangkah keluar untuk menyambutnya.

(35)

"Buku apa yang kau dapatkan?" Tanyaku setelah kami telah saling menyapa.

Dia mengangkatnya untukku. "Ini disebut White Fang," katanya.

"Ini tentang monster?" tebakku.

Dia tertawa. "Tidak, Lucy. Ini tentang anjing."

Kupikir aku melihat kepala Mr Mortman terangkat ketika aku mengatakan kata monster.

Tapi mungkin aku hanya membayangkannya.

Aku mengobrol sebentar lagi dengan Ellen, yang telah (membaca) tiga buku lebih banyak dariku di musim panas ini. Dia hanya perlu satu buku lagi yang dibaca untuk mendapatkan hadiahnya. Pamer sekali.

Aku mendengar pintu depan ditutup di belakangnya saat aku duduk di samping meja Mr Mortman dan menariknya buku Frankenstein dari kantong bukuku.

"Apakah kau menikmatinya?" tanya Mr Mortman. Dia sedang mempelajari kura- kuranya, tapi ia berbalik ke arahku, wajahnya tersenyum ramah.

Dia mengenakan baju berkerah lainnya, kuning cerah saat ini. Aku melihat bahwa ia mengenakan cincin besar ungu di salah satu jari gemuknya yang berwarna merah jambu. Dia memutar-mutar cincin itu saat ia tersenyum padaku.

"Ini agak sulit," kataku. "Tapi aku berkorban (untuk) itu."

Aku telah membaca lebih dari setengah yang satu ini. Aku akan menyelesaikannya jika ia tak punya tipe kecil yang serupa.

"Apakah kau menikmati deskripsi dalam buku ini, juga?" tanya Mr Mortman, mendekatiku di atas meja.

Mataku menangkap stoples besar lalat di rak di belakangnya. Stoples itu sangat penuh.

"Well, ya," kataku. "Aku agak mengharapkan lebih banyak aksi."

(36)

"Apa bagian favoritmu dari buku itu?" tanya Mr Mortman.

"Monster!" Aku langsung menjawab.

Aku mengamati wajahnya untuk melihat apakah ia bereaksi terhadap kata itu.

Tapi dia bahkan tak berkedip. Mata yang kecil hitam tetap terkunci padaku.

"Monster itu benar-benar hebat," kataku. Aku putuskan untuk mengujinya.

"Bukankah akan sangat bagus jika ada monster yang asli, Mr Mortman?"

Sekali lagi dia tak berkedip.

"Kebanyakan orang tak akan terlalu senang tentang itu," katanya pelan, memutar- mutar cincin ungunya. "Kebanyakan orang suka mendapatkan ketakutan mereka dalam buku atau di film Mereka tak ingin mereka menjadi takut dalam kehidupan nyata.." Dia terkekeh.

Aku memaksakan diri untuk tertawa juga.

Aku menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan tes kecilku. Aku mencoba untuk membuatnya berbuat satu kesalahan, untuk mengungkapkan bahwa ia bukan manusia asli.

"Apakah Anda percaya bahwa monster asli itu ada?" tanyaku.

Tak sangat halus. Aku akui. Tapi dia tak memperhatikannya.

"Apakah aku percaya bahwa seorang ilmuwan seperti Dr Frankenstein bisa membuat monster hidup?" tanya Mr Mortman. Ia menggelengkan kepala botak bulatnya. "Kita bisa membuat robot, namun bukan hidup makhluk."

Itu bukan apa yang kumaksud.

Beberapa orang lain datang ke perpustakaan. Seorang gadis kecil dengan neneknya yang berambut putih. Gadis kecil pergi melompat-lompat ke bagian buku anak-anak. Nenek itu mengambil koran dan membawanya ke kursi berlengan di seberang ruangan.

(37)

Aku sangat senang melihat mereka. Aku tahu bahwa pustakawan ini tak akan berubah menjadi monster sementara mereka ada di sini. Aku yakin ia hanya makan lalat ketika perpustakaan ini kosong. Aku harus bersembunyi di suatu tempat dan menunggu mereka untuk pergi.

Mr Mortman merogoh laci mejanya, mengeluarkan sebuah bintang emas, dan menyerahkannya padaku. Kupikir dia akan menjabat tanganku, tapi dia tidak.

"Apakah kau membaca Anne dari Green Gables?" tanyanya, sambil mengambil sebuah buku dari tumpukan di mejanya.

"Tidak," kataku. "Apakah ada monster di dalamnya?"

Dia menggerakkan kepalanya ke belakang dan tertawa, dagunya bergetar.

Kupikir aku menangkap kilatan pengakuan di matanya. Suatu pertanyaan. Sesaat singkat keragu-raguan.

Kupikir pertanyaanku membawa sesuatu yang aneh di matanya.

Tapi, tentu saja, sekali lagi itu bisa saja imajinasiku.

"Aku tak berpikir kau akan menemukan monster dalam yang satu ini," katanya, masih terkekeh. Dia mencapnya dengan stempel karet dan menyerahkannya padaku. Sampulnya lembab di tempat jari-jarinya (memegang).

Aku membuat janji untuk waktu yang sama minggu depan. Lalu aku berjalan keluar dari ruang baca utama dan berpura-pura meninggalkan perpustakaan.

Aku membuka pintu depan dan biarkan membanting, tapi aku tak pergi keluar.

Sebaliknya, aku bergerak pelan-pelan kembali, tetap berada dalam bayang-

bayang. Aku berhenti di dinding belakang, tersembunyi oleh deretan panjang rak- rak buku.

Di mana tempat bersembunyi?

(38)

Aku harus menemukan tempat persembunyian yang aman. Aman dari matanya Mr Mortman yang bulat itu. Dan aman dari orang lain yang mungkin masuk ke perpustakaan.

Apa rencanaku?

Yah, aku sudah memikirkannya sepanjang minggu. Tapi aku benar-benar tak memiliki banyak rencana. Aku hanya ingin menangkapnya beraksi, itu saja.

Aku ingin melihat dengan jelas. Aku ingin menghapus semua keraguan dari pikiranku.

Rencanaku adalah untuk bersembunyi sampai perpustakaan kosong, untuk memata-matai Mr Mortman, untuk melihatnya berubah menjadi monster dan makan lalat lagi.

Lalu aku tahu aku tak gila. Lalu aku akan tahu mataku tidak menipuku.

Di sisi lain ruangan, aku bisa mendengar nenek gadis kecil itu memanggil Mr Mortman.

"Apakah Anda punya buku ejaan? Samantha hanya menyukai buku bergambar.

Tapi aku ingin dia belajar mengeja."

"Nenek, berbisiklah!" Samantha disebut kasar. "Ini adalah perpustakaan, ingat.

Berbisik!"

Mataku mencari-cari, rak panjang dan gelap untuk tempat bersembunyi. Dan ada itu. Satu rak buku rendah sepanjang lantai dekat belakang itu kosong. Itu

membentuk sebuah gua sempit yang aku bisa merangkak ke dalamnya.

Mencoba untuk menjadi setenang yang aku bisa, aku berlutut, duduk di rak, berputar, tubuhku meluncur kembali, dan terselip masuk sendiri.

Ini tak benar-benar cukup besar untuk berbaring. Aku harus menjaga kakiku terlipat. Kepalaku tertekan keras pada papan atas. Sangat tak nyaman. Aku tahu aku tak bisa tinggal seperti ini selamanya.

(39)

Tapi itu sore hari. Mungkin Samantha dan neneknya akan segera pergi. Mungkin aku tak akan tinggal terselip di rak seperti buku tua berjamur untuk waktu yang lama.

Jantungku berdebar-debar. Aku bisa mendengar Mr Mortman berbicara dengan pelan pada Samantha. Aku bisa mendengar gemerisik koran wanita tua itu. Aku bisa mendengar tik-tik-tik dari jam dinding besar di dinding depan.

Aku bisa mendengar setiap suara, setiap deritan dan erangan.

Aku tiba-tiba harus bersin. Hidungku tergelitik seperti gila! Ada begitu banyak debu ke sini.

Aku mengulurkan tangan dan meremas hidung dengan keras antara ibu jari dan telunjuk. Entah bagaimana aku berhasil untuk melenyapkan bersin itu.

Jantungku berdebar lebih keras. Aku bisa mendengarnya melalui tik-tik tik-jam.

Ayo pergi, pikirku, berharap Samantha dan neneknya keluar dari sana.

Ayo pergi. Ayo pergi. Ayo pergi.

Aku tak tahu berapa lama aku bisa tetap terselip di rak berdebu ini.

Leherku sudah mulai sakit dari tekanan rak. Dan aku merasa bersin lainnya akan datang.

"Buku ini terlalu sulit. Aku perlu yang lebih mudah," kata Samantha pada Mr Mortman.

Aku mendengar Mr Mortman menggumamkan sesuatu. Aku mendengar seretan kaki. Langkah-langkah kaki.

Apakah mereka datang dengan cara ini?

Apakah mereka akan melihatku?

Tidak. Mereka berbalik dan kembali ke bagian anak-anak di samping.

"Aku sudah membaca yang satu ini," aku dengar Samantha mengeluh.

(40)

Ayo pergi. Ayo pergi. Ayo pergi.

Ini pasti hanya beberapa menit sesudahnya, saat Samantha dan neneknya pergi, tapi sepertinya berjam-jam untukku.

Leherku kaku. Punggungku sakit. Kakiku gatal, keduanya kesemutan.

Aku mendengar pintu depan tertutup di belakang mereka.

Perpustakaan ini kosong sekarang. Kecuali Mr Mortman dan aku.

Aku menunggu. Dan mendengarkan.

Aku mendengar derit bangku tinggi di lantai. Lalu aku mendengar langkah kakinya. Dia terbatuk.

Tiba-tiba perpustakaan jadi lebih gelap. Dia mematikan lampu.

Inilah saatnya! Pikirku.

Dia menutup (perpustakaan). Sekarang saatnya. Sekarang adalah waktu neraka itu berubah menjadi monster di depan mataku.

Aku berguling diam-diam dari rak, ke lantai. Lalu aku menarik diriku ke posisi berdiri. Berpegangan pada rak yang lebih tinggi, aku mengangkat satu kaki, lalu kaki lainnya, mencoba untuk mendapatkan sirkulasi (darahku) kembali.

Saat lampu di atas kepala padam, sebagian besar perpustakaan itu diselimuti kegelapan. Satu-satunya cahaya berasal dari sinar matahari sore yang membanjir melalui jendela di bagian depan ruangan.

Di mana Mr Mortman?

Aku mendengarnya batuk lagi. Lalu dia mulai bersenandung untuk dirinya sendiri.

Dia menutup (perpustakaan).

Sambil menahan napas, aku berjingkat-jingkat mendekati mejanya. Aku

menyandarkan pinggangku pada rak saat aku bergerak, menjaga dalam bayang- bayang.

(41)

Wah.

Aku tiba-tiba menyadari Mr Mortman tak berada di mejanya.

Aku mendengar langkah kaki di belakangku, di bagian belakang ruang baca utama.

Lalu aku mendengar suara gedebak gedebuk sepatunya di lantai pintu masuk depan.

Aku membeku di tempat, mendengar dengan sungguh-sungguh, masih menahan napas.

Apakah dia pergi?

Tidak.

Aku mendengar suara klik keras. Suara putaran kunci.

Dia telah mengunci pintu depan!

Aku tak merencanakan ini. Tidak. Ini jelas bukan bagian dari rencanaku.

Membeku di lorong gelap, aku menyadari bahwa aku terkunci dengannya!

Sekarang apa?

8

Mungkin rencanaku tepatnya bukan rencana terbaik di dunia.

Mungkin ini gagasan bodoh.

Kau bisa bertaruh aku punya banyak keraguan berpacu dalam pikiranku saat aku mendengar Mr Mortman kembali ke ruang baca utama.

Rencanaku, tentu saja, adalah untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku benar, bahwa ia monster. Dan lalu - lari dari perpustakaan!

(42)

Rencananya adalah untuk tak terkunci di gedung gelap menyeramkan dengannya, tak bisa melarikan diri.

Tapi di sinilah aku.

Sejauh ini, aku baik-baik saja. Dia tak tahu bahwa ada orang lain di sini dengan dia. Tak tahu bahwa ia sedang dimata-matai.

Menempel pada rak tinggi itu, aku merangkak di sepanjang gang sempit sampai aku sedekat yang aku berani. Aku bisa melihat seluruh meja, terperangkap dalam cahaya persegi panjang oranye gelap dari jendela tinggi.

Mr Mortman melangkah ke belakang mejanya, bersenandung pelan pada dirinya sendiri. Dia membereskan tumpukan buku, lalu memasukkannya ke sudut meja.

Dia membuka laci mejanya dan mengocok benda-benda di sekitarnya, mencari sesuatu di sana.

Aku merangkak lebih dekat. Aku bisa melihat dengan sangat jelas sekarang. Sinar matahari sore membuat segalanya oranye-merah.

Mr Mortman menarik-narik leher kerah bajunya. Dia menggulingkan beberapa pensil dari bagian atas meja ke dalam laci meja terbuka. Lalu ia menutup laci.

Ini membosankan, pikirku.

Ini sangat membosankan. Dan normal.

Aku pasti salah minggu lalu. Aku pasti membayangkan itu semuanya.

Mr Mortman hanya pria kecil yang lucu. Dia sama sekali bukan monster.

Aku merosot dari rak tinggi itu, kecewa.

Aku telah menyia-nyiakan semua waktu ini, bersembunyi di rak kotor ini - tidak untuk apa pun.

Dan sekarang di sinilah aku, terkunci di perpustakaan setelah waktu tutup, melihat pustakawan membersihkan mejanya.

(43)

Gairah apa ini!

Aku harus keluar dari sini, pikirku. Aku sudah benar-benar bodoh.

Tapi kemudian aku melihat Mr Mortman meraih stoples terbang di rak di belakangnya.

Aku menelan ludah. Hatiku tiba-tiba tersentak.

Suatu senyum terlintas di wajah gemuk Mr Mortman saat ia mengatur stoples kaca besar di depannya. Lalu ia sampai ke seberang meja dan dengan kedua tangan, menarik panci kura-kura persegi panjang mendekat.

"Waktunya makan malam, teman-teman pemaluku," katanya dengan suaranya yang tinggi, serak. Dia menyeringai ke bawah pada kura-kura itu. Dia meraih ke dalam panci dan memercikkan sedikit air. "Waktunya makan malam, teman- teman," ulangnya.

Dan, lalu, saat aku menatap tanpa berkedip, menatap dengan rahangku jatuh menurun dan lebih turun tak percaya, wajahnya mulai berubah lagi.

Kepala bulatnya mulai membengkak.

Matanya yang hitam menonjol.

Mulutnya berkembang sampai menjadi satu lubang hitam terbuka.

Kepala besar mengapung-apung di atas kerah leher kuning. Mata-mata itu berenang di depan kepala. Mulut itu memutar, membuka dan menutup seperti mulut ikan besar.

Aku benar! Aku sadar.

Mr Mortman adalah monster!

Aku tahu aku benar! Tapi tak ada yang akan percaya padaku.

Mereka harus percaya padaku sekarang, aku berkata pada diriku sendiri. Aku melihat ini begitu jelas. Semuanya begitu cerah di lampu merah-oranye.

(44)

Aku melihatnya. Aku tak membayangkan hal itu.

Mereka harus percaya padaku sekarang.

Dan saat aku terkesiap dengan mulut ternganga pada makhluk kotor jelmaan pustakawan itu, ia sampai ke dalam stoples lalat, mengeluarkan segengam penuh lalat, dan mendorongnya dengan lahap ke dalam mulutnya.

"Waktunya makan malam," sergahnya, berbicara sambil mengunyah.

Aku bisa mendengar dengungan lalat di dalam stoples itu.

Mereka hidup! Lalat masih hidup, dan ia melahap mereka seolah-olah mereka permen.

Aku mengangkat tanganku dan menekannya pada sisi wajahku saat aku menatap.

"Waktunya makan malam!"

Segenggam lalat lagi.

Beberapa dari mereka telah melarikan diri. Mereka berdengung keras di sekitar kepala bengkaknya yang mengangguk-angguk.

Saat ia mengunyah dan menelan, Mr Mortman menyambar lalat di udara, tangan mungilnya kecepatannya mengherankan. Dia menarik lalat-lalat dari udara - satu, yang lain, yang lain - dan memasukkan mereka ke dalam jurang yang sangat besar di mulutnya.

Mata Mr Mortman berenang-renang di depan wajahnya.

Untuk sesaat singkat yang menakutkan, mata-mata itu berhenti. Menatap tepat ke arahku!

Aku sadar telah bersandar terlalu jauh ke lorong.

Apakah ia melihatku?

Aku melompat mundur dengan terkesiap panik.

(45)

Mata-mata hitam menonjol itu, seperti jamur payung bergelombang, tetap di tempat untuk satu atau dua detik. Kemudian terus berputar-putar dan berenang- renang di sekitarnya.

Setelah genggaman lalat ketiga, Mr Mortman menutup stoples itu, menjilati bibir hitamnya dengan lidah pensil tipis seperti ular.

Suara dengungan berhenti.

Ruangan itu sunyi lagi kecuali untuk jam dan gemuruh detak jantungku.

Sekarang apa? Pikirku.

Apa itu?

Tidak.

"Waktunya makan malam, teman-teman pemaluku," kata pustakawan itu dengan suara gemetar lemah, suara sepertinya bergerak bersama dengan kepala besar itu.

Dia mengulurkan tangan ke dalam panci dan mengambil salah satu kura-kura hijau kecil bertempurung itu . Aku bisa melihat kaki kura-kura itu bergerak-gerak maju.

Apakah dia akan memberi makan beberapa lalat itu untuk kura-kura itu sekarang?

Aku bertanya-tanya.

Mr Mortman memegang kura-kura lebih tinggi, mempelajarinya dengan mata menonjol berputarnya itu. Dia mengangkatnya ke sinar matahari. Kaki kura-kura itu terus bergerak.

Kemudian dia menyorongkan kura-kura itu ke dalam mulutnya.

Aku mendengar gemeretak tempurung saat Mr Mortman menggigit.

Dia mengunyah dengan ribut, beberapa kali, membuat derakan keras di setiap kunyahan. Lalu aku melihat dia menelan sekali, dua kali, sampai ia menurunkan (panci) itu..

(46)

Aku sudah cukup melihat.

Lebih dari cukup.

Aku berbalik. Aku mulai untuk berjalan membabi buta kembali melalui lorong gelap. Aku berlari dengan cepat. Aku benar-benar tak peduli jika dia mendengarku atau tidak.

Aku hanya harus keluar dari sini.

Keluar ke cahaya matahari dan udara segar.

Menjauh dari suara berderak yang terus berulang-ulang di telingaku. Derakan dari tempurung kura-kura saat Mr Mortman mengunyahnya dan mengunyahnya.

Mengunyahnya hidup-hidup.

Aku berlari dari ruang baca utama, hatiku berdebar-debar, kakiku terasa berat seperti batu.

Aku bernapas terengah-engah saat aku mencapai pintu masuk depan. Aku berlari ke pintu dan meraih pegangan pintu.

Dan lalu teringat.

Pintu itu terkunci.

Aku tak bisa keluar.

Aku terkunci di dalam.

Dan, kemudian, saat aku berdiri menatap lurus ke depan pintu yang tertutup, tanganku mencengkeram erat kenop kuningan, aku mendengar langkah-langkah kaki. Di belakangku. Langkah-langkah kaki yang cepat.

Mr Mortman telah mendengarku.

Aku terjebak.

(47)

9

Aku membeku panik, menatap pintu itu sampai jadi kabur-gelap di depanku.

Langkah-langkah Mr Mortman semakin keras di belakangku.

Tolong! Aku mengucapkan permohonan pelan. Seseorang - tolong aku!

Pustakawan itu akan muncul mendadak di pintu masuk depan setiap saat. Dan ada aku akan ada di sini. Terjebak di pintu.

Terjebak seperti tikus. Atau seperti kura-kura!

Dan lalu apa?

Apa dia akan meraihku ke atas seperti salah satu hewan peliharaannya?

Apa dia mengunyahku di antara gigi-giginya?

Harus ada jalan keluar dari sini. Harus ada!

Dan, lalu, menatap pintu yang kabur itu, tiba-tiba jadi jelas bagiku.

Semuanya kembali dalam fokus. Dan aku menyadari bahwa mungkin - mungkin saja - aku tak terjebak sama sekali.

Mr Mortman telah mengunci pintu dari dalam.

Dari dalam.

Itu berarti bahwa mungkin aku bisa membuka kuncinya dan membuka pintu.

Jika pintu itu terkunci dengan sebuah kunci, lalu aku terjebak.

Tetapi jika itu hanya kunci biasa yang kau putar. . .

"Hei, ada seseorang di luar sana?" Suara serak Mr Mortman itu mendadak muncul dalam pikiranku.

(48)

Mataku panik mencari pintu. Aku menemukan kunci di bawah kenop kuningan itu.

Aku meraihnya.

Ayo berputar. Ayo berputar. Ayo berputar.

Kunci itu berputar di tanganku dengan klik pelan. Suara termerdu yang pernah kudengar!

Dalam sedetik, aku membuka pintu.

Dalam detik lainnya, aku keluar di tangga batu. Kemudian, aku berlari secepat aku bisa, berlari menyeberangi halaman depan, memotong melalui beberapa semak- semak, menyelam melalui pagar - berlari untuk hidupku!

Dengab megap-megap, aku berbalik (setelah) setengah blok. Aku bisa melihat Mr Mortman, sesosok bayangan di pintu perpustakaan. Dia sedang berdiri di ambang pintu, menatap keluar, tak bergerak. Hanya berdiri di sana.

Apakah dia melihatku?

Apakah dia tahu ini aku memata-matainya?

Aku tak ingin tahu. Aku hanya ingin pergi.

Matahari sore merunduk di balik pepohonan, membuat bayang-bayang

menyendiri dan gelap. Aku menunduk dan berlari ke dalam bayangan panjang biru, sepatu ketsku berbunyi keras di trotoar.

Aku sudah keluar. Aku baik-baik saja. Aku telah melihat monster, tetapi dia tak melihatku. Aku harap.

Aku berlari sampai aku sampai di rumah Aaron. Dia masih di halaman depan. Dia duduk di tunggul pohon tua orang tuanya telah lenyap. Aku bisa melihat benda semacam Frisbee biru di pangkuannya. Dia berusaha untuk melepaskan pita karet panjang itu.

(49)

Aaron menunduk, berkonsentrasi menguraikan simpul (tali)nya, dan tak melihatku pada awalnya.

"Aaron - Mr Mortman itu monster!" teriakku terengah-engah.

"Hah?" Dia mendongak, kaget.

"Mr Mortman - dia itu monster!" ulangku, terengah-engah seperti anjing. Aku meletakkan tanganku di lututku dan membungkuk ke depan, mencoba untuk bernapas.

"Lucy, apa masalahmu?" gumam Aaron, kembali perhatiannya ke pita karet itu.

"Dengarkan aku!" jeritku tak sabar. Aku tak terdengar seperti diriku. Aku tak mengenali suara panik melengkingku.

"Benda ini mutunya rendah," gumam Harun. "Ini benar-benar kusut."

"Aaron, tolong!" Aku memohon. "Aku berada di perpustakaan. Aku melihatnya.

Dia berubah jadi monster. Dia memakan salah satu kura-kura itu!"

Aaron tertawa. "Lezat!" katanya. "Apa kau membawakanku satu?"

"Aaron, itu tak lucu!" teriakku, masih terengah-engah. "Aku - Aku sangat takut.

Dia itu monster. Dia benar-benar monster. Kupikir aku terkunci di dalam dengannya. Kupikir -"

"Begini saja," kata Aaron, masih membuka simpul di pita karet itu. Dia memegang cakram plastik biru terus kepadaku. "Jika kau bisa melepaskan simpul besar ini, aku akan membiarkanmu bermain dengan ini."

"Aaaaaagh!" Aku mengeluarkan teriakan marah. "Mengapa kau tak mendengarkanku?"

"Lucy, yang benar saja," kata Aaron, masih memegang cakram itu terus kepadaku. "Aku tak ingin bicara tentang monster sekarang. Ini agak kekanak- kanakan,

Referensi

Dokumen terkait