• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rosi Efrianto 243050364 Penerapan School well being

N/A
N/A
NOFRIL

Academic year: 2025

Membagikan "Rosi Efrianto 243050364 Penerapan School well being"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

PENERAPAN SCHOOL WELL-BEING

Disusun Oleh

Nama : ROSI EFRIANTO, S.Pd NIM : 243050364

No UKG : 201501121226

Tugas Jurnal Modul2 Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mengikuti Pendidikan Profesi Guru Bagi Guru Tertentu Tahap I Tahun 2025

PENDIDIKAN PROFESI GURU UNVERSITAS RIAU KEPULAUAN

2025

(2)

School Well-being

Konsep well-being ini kemudian dikonstruksi oleh Konu dan Rimpela (2002) dalam konteks sekolah, terdiri atas empat dimensi yaitu (1) having (kondisi/situasi sekolah), (2) loving (mengarah pada hubungan sosial), (3) being (pemenuhan diri), dan (4) health (kesehatan peserta didik/guru secara umum).

1. Dimensi School well-being Konu dan Rimpela (2002) menjelaskan empat

dimensi school well-being yaitu: having, loving, being dan health. Ada beberapa dimensi dapat menggambarkan kondisi sekolah yang sehat atau sejahtera.

Hascher (dalam Jarvela, 2011) menjelaskan kondisi sekolah yang membahagiakan, yaitu:

1. sikap dan emosi positif terhadap situasi sekolah secara keseluruhan baik dari peserta didik ataupun guru,

2. Peserta didik memiliki konsep diri yang positif dalam hal akademik, 3. Guru dan peserta didik menikmati aktivitas sekolah,

4. guru dan peserta didik bebas dari kecemasan untuk pergi bersekolah, 5. guru dan peserta didik bebas dari berbagai keluhan mengenai kondisi

sekolah, dan

6. tidak ada masalah/konflik yang berat di sekolah.

Faktor yang memengaruhi School well-being adalah 1. stres guru (Anda dapat merujuk pada topik 2), 2. potensi/kemampuan dan motivasi peserta didik, dan

3. kondisi sosial emosional peserta didik dan guru (emotional literacy).

(3)

A. Bagaimana Anda sebagai guru mengelola emosi supaya bisa berpengaruh positif pada lingkungan pembelajaran Anda?

Sebagai seorang pendidik, saya menyadari sepenuhnya bahwa kemampuan dalam mengelola emosi pribadi merupakan kunci utama dalam menciptakan suasana belajar yang sehat dan mendukung kesejahteraan sekolah secara keseluruhan. Emosi memiliki daya sebar yang kuat ketiaka saya mampu mengendalikan perasaan dengan sikap yang tenang dan posistif, hal tersebut akan menciptakan energi yang menular ke seluruh ruang kelas dan membangun atmosfer yang lebih nyaman dan kondusif.

Sebelum memlulai pembelajaran, saya selalu menyempatkan waktu untuk melakuka refleksi terhadap kondisi emosional saya. Saya bertanya pada diri sendiri, apakah hari ini saya merasa letih, penuh semangay, cemaas atau bahkan frustasi ?. menyadari perasaan yang sedang saya alami penting agar saya tidak secara sadar memancarkan emosi negative kepada peserta didik.

Dengan memahami kondisi emosional diri sendiri, saya menjadi lebih mmpu mengontrol respon saya dalam berinteraksi dengan peserta didik. Hal in memungkinkan saya untuk merespon dengan bijak, buka sekadar bereaksi secara spontan terhadap situasi tertentu. Bila saya merasa mulai terttekan atau marah, saya akan mengambil jeda sejenak, menarik nafas dalam-dalam, minum air atau ,mengalihka perhatian sebentar dari pemicunya, sebelum memberikan tanggapan.

Saya juga kerpa menggunakan afrimasi positf untuk mengingatkan Kembali pada tujuan utama saya dalam mendidik dan nilai-nilai positif yang ingin saya tanamkanpada anak-anak.

Ketika menghadapi perilaku peserat didik yang menantang, saya berusaha memandangnya sebaegai bentuk komunikasi akan kebutuhan yang belum terpenuhi, bukan sebagai serangan pribadi. Focus saya adalah mencari pendekatan yang solutif dan membangun. Disamping itu, saya juaga berupaya menjadi contoh dalam mengelola emosi secara sehat. Peserta didik sering kali menyerap Pelajaran dari apa yang mereka lihat secara langsung. Saat saya menunjukkan Bagai mana menghadai situasi sulit dengan kepala dingin atau mengekspresikan perasaan secara tegas namun sopan, saya sedang menyampaikan pembelajaran emosional yang sangat berharga.

Saya berusaha memilih untuk merespon dengan sadar, bukan bereaksi secara impulsive, artinya saya memberi ruang untuk berfikir sebelum bertindak, demi memberikan tanggapan yang edukatif dan penuh makna. Dan jika suatu Ketika saya menunjukkan emosi yang kurang tepat, saya tidak segan untuk meminta maaf kepada peserta didik. Tindakan ini tidak hanya menunjukkan sikap rendah harti hari tapi juga menjadi pembelajaran penting tentang tanggung jawab dan integritas.

(4)

Membangun ikatan yang hangat dan penuh kepercayaan dengan peserta didik juga menjadi focus utama saya. Saya berusaha mengenal mereka secara lebih dekat, menyapa, menanyakan kabar, atau sekadar mendengarkan cerita mereka. Hubungan yang kuat seperti ini mampu menurunkan Tingkat stress dan menciptakan ruang belajar yang lebih mendukung.

Saya pun berkomitmen untuk membentuk kelas sebagai temapat yang aman secara emosional. Saya ingin agar setiap anak merasa nyaman untuk berbicara, bertanya ataupunmenyusun aturan kelas yang jelas dan konsisten, memastikan setiap emosi diakui dan dihargai.

Dengan menerapkan cara-cara pengelolaan emosi yang sehat, sya berharap dapat menjadi sumber ketenangan dan energi positif di ruang kelas. Harapan saya adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dimana setiap individu merasa diterima, memiliki pandangn emosional yang positif terhadap sekolah, serta mampu tumbuh denganrasa percaya diri yang kuat untuk mendukung kesejahteraan seacar menyeluruh.

B. Bagaimana menciptakan lingkungan positif dengan kemampuan peserta didik yang beragam ?

Mewujudkan lingkungan belajar yang positif ditengan keberagaman kemampuan peserta didik memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan berpihak pada semua anak. Hal utama yang perlu disadari bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik dan potensi unik. Perbedaan ini bukanlah hambatan, melainkan kekayaan yang perlu dihargai dan dikelola dengan bijaksana.

Untuk itu saya menerapkan strategi pembelajaran berdiferensiasi, menyesuaikan materi, metode dan evaluasi agar sesuai dengan gaya belajar serta Tingkat kemampuan masing-masing siswa. Saya menyediakan berbagai pilihan media pembelajaran, memberikan kesempatan siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka dengancara yang paling sesuai dan memberikan dukungan tambahan bagi yang memerlukan, tanpa membuat mereka merasa tertinggal atau berbeda.

Selain pendekatan instruksional, saya juga menumbuhkna budaya kelas yang inklusif dan suportif. Saya membiasakan peserta didk untuk saling menghargai, bekerja samadan membantu satu sama lain, bukan bersaug seacar tidak sehat. Klas saya adalah ruang yang aman bagi mereka untuk bertanya, mencoba hal baru, dan belajar dari kesalahan tanpa takut dihakimi. Setiap konstribusi, sekecil apapun, saya hargai sebagai bagian dari proses belajar.

Lebih jauh lagi saya mengintegrasikan pembelajaran sosial dan emosional sebgai bagian dari kegiatan kelas. Anak-anak saya ajak untuk mengenali dan memahami perasaan mereka sendiri serta belajar menghargai emosi dan sudut pandang orang

(5)

lain. Sya juga mendorong mereka membangun empati dan menjalin hubungan sosial yang sehat dengan teman-temannya.

Dengan membuja ruang diskusi mengenai nilai-nilai seperti rasa hormat, toleransi dan kerja sama, saya membantu peserat didik memahami cara berinteraksi secara positif dengan teman-teman yang memiliki latar belakang atau kemampuan berbeda- beda. Dalam lingkungan seperti ini, peran guru sangat penting sebagai teladan , menunjukkan sikap sabar, adil dan penuh pengertian kepada setiap anak, apapun kemampuan akademiknya.

Melalui semua pendekatan ini, saya berusaha menciptakan kelas yang bukan hanya ramah untuk belajar, tetapi juga menjadi tempat tumbuh yang menghargai keberagaman dan memperkuat kebersamaan sebagai satu komunitas pembelajar.

(6)

REFLEKSI

Setelah melakukan refleksi mendalam mengenai pembelajaran sosial emosioan, saya menyadari bahwa keterampilan ini tidak hanya penting bangi peserta didik, tetapu juga sangat vita bagi saya sebagai guru. Kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi pribadi, baik dalam interaksi dengansiswa maupun dengan rekan sejawat disekolah, menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan positif.

Dalam keseharian mengajar, saya berupaya untuk mengimplementasikan prinsip- prinsi PSE secara konsisten. Setiap kali memulai pembelajaran, saya membiasakan diri menyapa peserta didik, menanyakan kabar mereka dan mengajak beberapa anak berbagi kalimat motivasi. Langkah kecil ini terbukti mampu mempererat hubungan emosional antara guru dan peserta didik, serta membangun suasana kelas yang hangat dan penuh perhatian sejak awal pembelajaran.

Saya juga membimbing siswa untuk mengelola emosi mereka dengan menggunakan Teknik Sederhana seperti STOP yaitu sebuah pendekatan yang membantu memerka mengambil jeda sejenak sebelum beraksi terhadap situasi yang menantang. Hal inisangat berguna, terutama saat mereka mengalami konflik atau kesulitan, agar mereka bisa tetap tenang dan Kembali focus pada kegiatan belajar.

Selain didalam kelas. Saya juga mengintegrasikan pembelajaran diluar ruangan sebagai strategi untuk mengurangi kejenuhan dan menjadi semangat belajar anak-anak.

Saya pervaya bahwa PSE bukan hanya membentuk aspek akademik, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan hidup yang penitng, seperti ketahanan diri, kesadaran sosial dan kemampuan membangun hubungan yang sehat. Semua ini sangat berharga, tidaj hanya untuk kesuksesan mereka di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat kelak.

Ketika saya menghadapi tantangan dikelas, seperti siswa yang ramai atau tidak focus saat saya menjelaskan, saya merasa lebih mempu menenangkan diri, menahan reaksi impulsive dan mencari pendekatan yang lebih konstruktif. Saya belajar untuk memandang setiap situasi sebagai peluang untuk menumbuhkan empati, baik pada diri saya sendiri maupun pada siswa.

Penerapan pembelajaran sosial emosional ini adalah proses yang terus berkembang. Sya melihatnya sebagai perjalanan jangka Panjang yang tidak hanya membentuk karakter peserta didik, tetapi juga mengembangkna saya sebagai pendidik yang lebh reflektif, peduli dan mampu membangun iklim pembelajara yang lebih manusiawi dan bermakna.

(7)

UMPAN BALIK DARI REKAN SEJAWAT

Menurut saya penerapan pembelajaran sosial emosional dilingkungan sekolah meberikan dampak yang sangat positif bagi perkembangan peserta didik. Melalui Pse, siswa dibimbing untuk mengelola kecerdasan emosionalnya secara lebih baik. Hal ini berpengaruh langsung terhadap peningkatan prestasi belajar, karena siswa mampu mengendalikan emosi, focus dalam belajar, serta membangun sikap positif terhadap proses pembelajaran.” ELPA YALDI, S.Pd Guru Kelas 6

“Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap kondisi emosional siswa, guru dapat memberikan respon yang tepat, baik melalui variasi metode pembelajaran, pendekatan personal, maupun pemberikan dukungan emosional yang dibutuhkan. Hal ini tentu akan membantu menciptakan proses pembelajaran yang lebih menyenangkan, bermakna dan berpihak pada kebutuhan peserta didik” – WIRNAYATI, S.Pd Guru Kelas 5b

(8)

DOKUMENTASI

Referensi

Dokumen terkait