Negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan merupakan negara dengan pemeluk agama Islam terbanyak di dunia, namun Indonesia bukan merupakan negara Islam yang dalam penyelenggaraan pemerintahannya berdasarkan pada hukum islam, atau nilai-nilai dan ajaran yang bersumber pada Alquran dan Hadits. Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk Republik, dan menganut sistem Demokrasi berlandaskan Pancasila. Pada sejarah berdirinya Indonesia, terdapat perdebatan dalam penentuan dasar negara, yaitu antara kelompok itelektual Islam reformis yang direpresentasikan oleh Natsir, dengan kelompok nasionalis sekuler Soekarno yang berpegang bahwa urusan bernegara harus dipisahkan dengan urusan beragama. Bagaimanapun dengan realitas Indonesia dihuni mayoritas beragama Islam, tentu ada keinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Hanya saja dalam waktu bersamaan terdapat kelompok nasionalis yang meyakini bahwa akan lebih baik jika Indonesia tidak dijalankan dengan suatu sistem pemerintahan menutut satu agama. Karena masih terdapat agama-agama lain yang dianut oleh masyarakat, yang pada kondisi tersebut harus juga difasilitasi dalam garis sejajar atau setara dengan kelompok mayoritas. Dalam perumusan dasar negara Indonesia, para pemikir Islam modern Indonesia mengupayakan berbagai langkah strategis, salahsatunya adalag mencoba memasukan referensi hukum Islam dalam konstitusi tahun 1945, melalui adendum yang dikenal sebagai “Piagam jakarta”. Meski pada kenyataannya langkah tersebut gagal terwujud karena mendapatkan penentangan dari kelompok Nasionalis sekuler, namun hal tersebut menjadi tonggak pemikiran Islam modern Indonesia pasca era perjuangan. Pada tahun-tahun kemudian, Soekarno melengkapi “kemenangan” kelompok Nasionalis sekuler dengan keputusannya untuk membubarkan partai Islam terbesar saat itu, yakni Partai Masyumi.
Pecahnya revolusi berdarah tahun 1965 menjadi titik awal kejatuhan Rezim Orde Lama Soekarno dari kekuasaan. Kemudian berganti menjadi Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto, yang kekuasaannya berlangsung sampai 32 tahun kemudian. Rezim Orde Baru yang menjalankan kekuasaannya dengan pola otoriter, yang diantaranya dengan tindakan-tindakan represif serta penerapan kontrol ketat terhadap aktivitas rakyat dalam semua elemen, tidak terkecuali dalam konteks beragama. Meski orde baru demikian, namun perkembangan itelektualisme Islam Indonesia tetap bergerak dan sesekali menggeliat, seperti pada dekade 1980-1990an dimana para cendikiawan Islam Indonesia mencurahkan banyak energi dan pemikiran untuk sebuah perjuangan pembaruan pemikiran Islam. Pada konteks ini yang dimaksud pembaruan pemikiran Islam terletak pada relasi Islam dengan kenegaraan juga mengenai Islam dengan keindonesiaan.
Gerakan intelektualisme Islam di Indonesia tidak lepas dari perdebatan dengan topik “lawas” dunia Islam dimanapun, seperti yang terjadi pada para pemikir Islam di Turki, Mesir, Pakistan dan lainnya, yaitu topik tentang sekularisme, pluralisme dan liberalisme serta yang sedikit lebih khas di Indonesia adalah topik nasionalisme. Tema-tema “lawas” yang selalu mengundang perdebatan diantara para pemikir Islam tersebut pada dasarnya dinamis mengikuti perkembangan dunia politik yang terjadi di Indonesia.
Dinamika perdebatan antara para pemikir juga mengalami perubahan seiring waktu, yang paling tampak adalah gaya berdebat yang cenderung keras atau bahkan kasar. Semisal penggunaan dan pengalamatan tuduhan sesat, musyrik, kafir, bid’ah dan lain sebagainya kepada cendikiawan atau organisasi massa keislaman yang memiliki gagasan atau pendapat berlawanan.
Pada masa transisi kekuasaan Orde Baru menuju Orde Reformasi, semangat kebebasan yang merupakan atmosfir dominan Reformasi menjadi hulu ledak bermunculannya organisasi massa keislaman yang coraknya lebih beragam. Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia [ICMI], Hizbut Tahrir Indonesia, Front Pembela Islam dan lain sebagainya adalah contoh beberapa organisasi massa keislaman yang lahir.
Hampir kesemuanya memiliki corak yang cenderung berbeda satu dengan yang lainnya, tentu saja hal tersebut dilatari oleh perbedaan kultur, kemudian perbedaan mazhab yang dipilih, serta perbedaan agenda atau kepentingan yang diperjuangkan. tentu saja selain yang melembagakan secara formil, terdapat juga kelompok-kelompok lain yang memiliki gagasan berbeda, yang mungkin cenderung lebih progresif. Semisal para cendikiawan dan akademisi kampus yang banyak menjadi motor penggerak pemikiran-pemikiran progresif, yang salahsatunya karena dunia kampus memberikan ruang pergulatan pemikiran yang hampir tidak pernah kering oleh kegelisahan dan pertanyaan. Menjadi catatan penting dari dinamika pemikiran dari dunia kampus, adalah bahwa kampus merupakan titik singgung pertemuan berbagai jenis manusia dengan banyak latar belakang berbeda, yang membuatnya semakin kaya dalam perspektif. Poros kampus menjadi titik temu pemikir islam modernis dengan pemikir Islam tradisionalis, yang selain merawat pemikiran-pemikiran dari tokoh Islam generasi sebelumnya, juga melanjutkan dan mengembangkannya. Tidak mengherankan jika kemudian kita bisa menjumpai pemikiran Islam di Indonesia yang beragam coraknya, mulai dari corak yang cenderung pragmatisme, cenderung oportunistik dan corak politis.
Dunia pemikiran Islam di Indonesia generasi baru memiliki kecendrungan yang semakin progresif, sebagai buah dari adaptasi, kritik dan transformasi dari ragam pemikiran yang sudah disampaikan oleh para pemikir Islam Indonesia terdahulu. Pada sebelumnya pengelompokan pemikir-pemikir Islam di Indonesia pada kelompok Modernis dan Tradisionalis, kini masuk pada era neo-modernis dan neo-
tradisionalis, yang keduanya sebagai bukti kritik dan transformasi tersebut. Sekaligus mengkonfirmasi bahwa pemikir-pemikir dan dunia pemikiran Islam di Indonesia memasuki babak baru dengan generasi yang baru juga. Pemikir neo-tradisionalis banyak terinspirasi atau terpengaruh pemikiran tentang Islam yang berkembang di luar Indonesia. Kemunculan wacana neo-tradisionalis tersebut kuat dugaan sebagai lontaran kritik terhadap pemikiran-pemikiran kelompok neo-modernis.
Sampailah pada episode menarik dari gerakan intelektualisme Islam di Indonesia, yaitu pemikiran dan perdebatan mengenai hubungan antara Islam dan Negara serta demokrasi. Hal ini menjadi menarik karena mengingatkan kita pada era kemerdekaan, ketika terjadi perdebatan tokoh-tokoh Islam modern dengan para tokoh nasionalisme sekuler tentang dasar negara Indonesia. Perdebatan tersebut juga menjadi konfirmasi mengenai gerakan pemikiran Islam di Indonesia bergerak dinamis namun pada sisi yang lain cenderung mengalami stagnasi, karena masih “terbelenggu” dalam wacana yang sama dengan beberapa dekade kebelakang. Atau bisa juga sebagai lanjutan dari perjuangan lama, yang saat ini dirasakan mendapatkan angin segar berlandaskan kebebasan berpikir dan berpendapat. Perdebatan tersebut pada dasarnya menghasilkan banyak tawaran konsep tentang relasi agama [Islam] dengan negara. Sebagian tokoh menawarkan pemisahan yang menyeluruh antara keduanya dengan bentuk negara Liberal atau Demokrasi, kemudian tawaran konsep Religius- demokratis, dan bentuk negara Islam/ Syariat.
Jika dilihat dari geliat pemikiran Islam di Indonesia mengenai relasi dengan negara, bisa dipetakan menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok pemikir yang cenderung fokus pada konteks substansial dan kelompok yang cenderung fokus pada konteks formal. Pemikir Islam yang cenderung fokus pada Substansi, lebih menekankan pada implementasi syariat Islam menjadi nafas dan semangat dalam konstitusi. Sedangkan pemikir Islam yang cenderung Formil lebih menginginkan penerapan syariat secara utuh melalui negara Islam. pada perjalanan selanjutnya kedua kelompok tersebut memperoleh
“kemenangan kecil” mereka masing-masing, seperti penerapan hukum syariat di provinsi Aceh dan banyaknya Peraturan Daerah [Kota/Kabupaten] yang bernafaskan syariat Islam. Perdebatan pemikiran Islam di Indonesia kemudian menyentuh aspek-aspek yang sebenarnya lebih substansial, yaitu bagaimana konsep toleransi, hak asasi dan pluralisme dijalankan dengan baik. Hal tersebut dikatakan lebih penting karena tidak sedikit konflik horizontal di masyarakat terjadi karena isu agama, dan bukan konflik antara dua agama yang berbeda, melainkan konflik yang terjadi dalam satu agama yang sama.
Seperti contoh masyarakat [Islam] menolak pembangunan rumah ibadah nasrani, pembubaran acara ibadah atau acara keagamaan serta lain sebagainya. kemudian bagaimana konflik yang terjadi antara
umat islam sendiri, isu Syiah dan Ahmadiyah yang bahkan dibeberapa kejadian sampai terlibat kekerasan fisik. Atau kita lihat contoh yang relatif sering terjadi dan berulang, yaitu kekerasan yang dilakukan Ormas keagamaan dengan melakukan sweeping rumah makan yang beroperasi siang hari di bulan Ramadhan, razia ormamen natal di pusat perbelanjaan saat perayaan natal dan lain-lainnya. Jelas tindakan-tindakan brutal tersebut tidaklah termasuk dalam kategori aktifitas cendikawan Islam, namun harus diakui para martir melakukan hal tersebut karena doktrin-doktrin sesat yang dihembuskan para patron yang pada dasarnya adalah memiliki pemikiran dan gagasan seperti cendikiawan.
Pada spektrum yang lain, gerakan pemikiran Islam di Indonesia juga memiliki relasi yang kental dengan dunia politik. Dari beberapa tahun silam bisa kita rasakan sendiri bagaimana atmosfir politik Indonesia terasa lebih “dinamis” dengan warna agama didalamnya. Bagaimana narasi sentimen agama digunakan dalam Pemilu Presiden, yang seakan-akan disusun narasi bahwa satu calon Presiden merupakan representasi umat Islam, sedangkan calon Presiden yang lain adalah “musuh” umat Islam. yang paling fenomenal dan terlihat sangat kasat mata, adalah pada kontestasi Pemilu Kepala Daerah DKI Jakarta yang terakhir, dimana politik identitas keagamaan digunakan untuk memenangkan salah satu pasangan calon Gubernur-wakil Gubernur. Kemudian meskipun kekuatan agama tidak bertarung secara langsung dalam politik tersebut, namun acap kali kekuatan kelompok agama digunakan untuk menekan pemerintah melalui gerakan massa yang mengusung narasi agama.
Penyebutan kelompok Islam dalam konteks politik Indonesia lebih pada menunjuk kelompok masyarakat beragama Islam, kemudian aktif berpolitik dan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam aktivitas politiknya. Perlu untuk diperjelas demikian, karena jika disebutkan kelompok Islam adalah semua warga negara beragama Islam, sedangkan yang lainnya berarti agama selain Islam.
Hal tersebut tentu tidak berlaku karena pada kelompok lainnya seperti kelompok nasionalis, liberalis dan lainnya tetap didominasi oleh warga negara yang beragama Islam. pada konteks ini penyebutan kelompok Islam lebih pada sudut pandang yang digunakannya, atau akan lebih mudah jika kita lihat dari organisasi massa keislaman tokoh atau kelompok tersebut. Semisal Nadhlatul Ulama, Muhammadiyah, HIzbut Tahrir Indonesia, Persis, LDII, dan lain sebagainya.
Jika kita menilik kembali dalam perjalanan Indonesia dari era kolonial sampai saat ini, pada dasarnya Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas rakyat Indonesia memiliki keinginan untuk mendapatkan “porsi lebih” dalam penentuan arah dan penyelenggaraan negara. Baik itu dalam upaya memasukan nilai-nilai keislaman tanpa merubah fundamental negara, atau pada beberapa kondisi terdapat kelompok-kelompok Islam yang menginginkan diterapkannya hukum syariat dalam negara Islam
Indonesia. Mulai dari bagaimana pengupayaan masuknya hukum Islam dalam konstitusi melalui Piagam Jakarta, namun pada akhirnya gagal karena komitmen tokoh-tokoh Republik dari kelompok Nasionalis sekular untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang mengakomodir segala latar belakang rakyatnya.
Selanjutnya kita bisa telaah kembali Gerakan Darul Islam [DI/TII] pimpinan Karto Suwiryo mencoba mendirikan negara Islam, yang pada akhirnya perjuangan harus patah digagalkan oleh pemerintah.
Meskipun umat Islam terpecah pada berbagai pandangan politik, namun tetap saja kelompok Islam adalah kekuatan besar yang harus selalu diperhitungkan dalam kalkulasi politik. Soekarno mengemukakan konsep Nasakom [Nasionalis, Agamis, Komunis] yang merupakan representasi kekuatan politik era tersebut di Indonesia. Meskipun disebutkan sebagai Agamis, namun frasa ini jelas sekali menunjuk pada satu agama saja yakni Islam. karena bagaiamanpun juga muslim tetap merupakan mayoritas agama di Indonesia.
Pada era Orde Baru, kelompok Islam dianggap sebagai kekuatan yang merupakan ancaman bagi kekuasaan Soeharto. Sehingga perlahan namun pasti kelompok Islam dibelenggu dan dijauhkan dari kekuasaan, atau dengan kata lain negara tidak membangun relasi yang hangat dengan dunia Islam. Ciri khas pemerintahan otoriter yang selain represif juga menerapkan kontrol yang ketat pada tindak tanduk masyarakatnya, tidak terkecuali dalam urusan agama yang apalagi bila ada relasi dengan aspek politik.
Seperti misalnya dengan kebijkan fusi partai, dimana partai politik saat itu yang berjumlah banyak dengan corak yang beragam, kemudian digabungkan menjadi dua partai politik saja. Indonesia mengklaim sebagai negara penganut Dwi Partai, meskipun pada kenyataannya terdapat kejanggalan, dimana terdapat dua partai politik ditambah satu Golongan Karya yang juga ikut sebagai peserta Pemilu.
Parta- partai yang memiliki corak nasionalisme digabungkan menjadi satu partai, yaitu Partai Demokrasi Indonesia [PDI] yang selanjutnya pada masa reformasi mengubah namanya menjadi PDI Perjuangan.
Sedangkan partai-partai berhaluan Islam digabungkan menjadi Partai Persatuan Pembangunan [PPP].
Poin yang menarik tentang PPP adalah saat awal penggabungan, menggunakan ilustrasi ka’bah yang merupakan kiblat umat Islam sedunia. Penggunaan lambang tersebut jelas merepresentasikan bahwa PPP merupakan partai Islam, dan tentu memiliki kekuatan magis dan pengaruh kuat bagi sebagian besar muslim. Rupanya hal tersebut menjadi kekhawatiran pemerintah, bahwa PPP akan mampu mengkonsolidasikan umat Islam menjadi poros kekuatan besar yang mengancam. Sehingga pemerintah Orde Baru membuat peraturan yang pada intinya menginstruksikan agar PPP mengubah lambang partai, yaitu dengan ilustrasi Bintang. Rasionalisasi yang dibangun adalah semua partai menggunakan lambang dari simbol-simbol yang berada di Pancasila.
Selama berkuasa rezim Orde baru bisa dikatakan berhasil menggunakan strategi korporatis, dalam upaya mengendalikan stabilitas politik dengan menjinakan kelompok- kelompok opisisi yang memiliki kemungkinan melakukan perlawanan. Tidak dengan membumi hanguskan gerakan kelompok Islam, namun dengan mengkondisikan berbagai instrumen negara untuk mengkerdilkan mereka. Organisasi atau kelompok Islam yang medapatkan restu Soeharto, memiliki kemungkinan yang sangat besar agenda dan kepentingannya akan terakomodir. Sedangkan kelompok- kelompok yang membangun kekuatan resistensi kepada pemerintah, tentu saja harus membayar harga yang sangat mahal.
Pengendalian Islam oleh Orde Baru pada dasarnya selain menjaga kekuasaan, namun pada ujungnya menjadi duri yang merusak dan membawa pada kejatuhan rezim. Dimulai dengan Soeharto “membuka diri” pada kelompok Islam, dengan memberikan restu pembentukan organisasi massa keislaman yang konsepnya relatif berbeda dengan organisasi massa keislaman yang sudah ada. pada akhir medio 1990an, organisasi bernama ICMI [Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia] berhasil didirikan, yang salahsatu tokoh pembentuknya adalah B.J Habiebie yang saat itu merupakan menteri kabinet Soeharto.
ICMI bisa dikatakan sebagai nafas baru gerakan Islam di Indonesia, karena ICMI berisi para cendikiawan muslim modern. Berbagai macam latar belakang pendidikan dan bisa dikatakan anggotanya berangkat dari kelas menengah atas, yang mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi dengan tetap memiliki nilai keislaman yang tinggi. Tidak butuh waktu yang lama bagi ICMI untuk bisa menjadi organisasi berpengaruh secara politik, dan mampu menembus ring satu kekuasaan yang pada awalnya sudah terbentuk dalam tatanan dengan komposisi yang mapan. Soeharto memiliki kepentingan dan tujuan jelas dengan memasukan ICMI menjadi bagian dari pemerintahan, yaitu untuk membangun transisi pelibatan kelompok Islam dalam bernegara. Yang pada dasarnya tetap untuk menjaga kelanggengan kekuasaan, dengan meminimalisir friksi dan tekanan dari kelompok Islam arus baru tersebut. Kenyataanya bahwa ICMI yang dalam hal ini tokoh-tokoh sentralnya malah menjadi kekuatan baru pemicu konflik dengan elemen-elemen yang sudah memiliki posisi mapan, semisal elit-elit kelompok Islam dan faksi Militer yang ada ditubuh pemerintah. Beberapa waktu menjelang tumbangnya rezim Orde Baru, beberapa tokoh ICMI menjadi motor penggerak demonstrasi besar-besaran berbagai elemen masyarakat yang menuntut lengsernya Soeharto.
Setelah lengsernya Orde Baru dan berganti menjadi era Reformasi, kekuatan kelompok Islam semakin besar dan memiliki daya tawar cukup kuat. Selain dengan bermunculan berbagai organisasi massa keislaman, juga dengan munculnya tokoh-tokoh Islam menjadi pengelola negara. Pertama jelas B.J Habiebie yang merupakan pentolan ICMI menjadi Presiden menggantikan Soeharto. Kemudian
dilanjutkan dengan K.H Abdulrahman Wahid yang merupakan tokoh NU, menjadi presiden setelah B.J Habiebie. Kemudian Amien Rais yang merupakan pentolan Muhammadiyah juga tokoh ICMI, menjadi ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat [MPR] dan tokoh-tokoh lain yang berada di pemerintahan.
Panjangnya perjalanan pemikiran-pemikiran Islam di Indonesia seharusnya sudah mampu merumuskan kebaruan yang selalu dicita-citakan, bukan melakukan pengulangan-pengulangan yang cenderung membuat stagnasi. Kemudian dengan melihat dinamika yang terjadi pada dua dekade terakhir, dimana dunia pemikiran Islam di Indonesia tampak seperti “panas dalam” karena begitu sering konfrontasi terjadi antara mereka sendiri. Dunia pemikiran Islam di Indonesia harus membaca ulang buah-buah pemikiran yang selama ini terpelihara dan berkembang, agar menemukan formulasi gagasan atau konsep yang matang. Dalam konteks ini matang dimaksudkan sebagai terjadinya titik temu antara berbagai kepentingan dan agenda, yang secara khusus adalah dengan tidak mengesampingkan eksistensi kelompok-kelompok minoritas di Indonesia. Gerakan pemikiran Islam di Indonesia sudah seharusnya membangun narasi keislaman yang tanpa harus bersinggungan keras dengan narasi keindonesiaan.
Kemudian yang tidak kalah penting untuk dijadikan kajian dalam pemikiran Islam di Indonesia, adalah bagaimana caranya agar Islam tampil dalam wajah yang ramah dan menyenangkan. Demikian pula pada bidang politik, dimana relasi antara Islam dan negara secara umum tidak pada posisi berseberangan.
Pada prinsipnya negara hadir dalam urusan keagamaan secara khusus Islam, yang setidaknya dalam menjalankan lima perkara dalam rukun iman. Negara tidak melarang umat Islam melakukan peribadahan, negara memfasilitasi pelaksanaan zakat, mengatur perihal kewajiban berpuasa sampai urusan ibadah haji. Negara tidak abai pada kebutuhan umat Islam, yang seharusnya dimaknai sebagai kehadiran fungsi negara. Sehingga pada dasarnya tidak ada kepentingan untuk mendirikan negara Islam, karena nilai-nilai keislaman sudah ada dan dijalankan oleh negara.
Islam dan negara memiliki relasi yang saling mendukung, dan yang seharusnya menjadi pokok pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia adalah mewujudkan kemakmuran dan keadilan bagi umat. Menghindari konflik yang bersifat horizontal untuk isu-isu yang seharusnya diredam, dan terpenting adalah menunjukan wajah Islam yang Rahmatan lil Alamin, atau Islam sebagai rahmat bagi semesta.