• Tidak ada hasil yang ditemukan

RUMAH TRADIONAL BATAK MANDAILING dan PAKPAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "RUMAH TRADIONAL BATAK MANDAILING dan PAKPAK"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

RUMAH TRADIONAL

LOMBOK

PERTEMUAN 11

MK.ARS. LOKAL - ISTP

(2)
(3)
(4)

1. Asal-Usul

 Suku Sasak adalah penduduk asli dan suku mayoritas di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Sebagai penduduk asli, suku Sasak telah mempunyai sistem budaya sebagaimana terekam dalam kitab Nagara Kartha Gama

karangan Empu Nala dari Majapahit. Dalam

kitab tersebut, suku Sasak disebut “Lomboq

Mirah Sak-Sak Adhi.

(5)
(6)

Rumah adat suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Atap rumah Sasak terbuat dari jerami dan

berdinding anyaman bambu (bedek). Lantainya dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami. Campuran

tanah liat dan kotoran kerbau membuat lantai

tanah mengeras, sekeras semen. Pengetahuan

membuat lantai dengan cara tersebut diwarisi

dari nenek moyang mereka.

(7)

 Seluruh bahan bangunan (seperti kayu dan bambu) untuk membuat rumah adat Sasak didapatkan dari lingkungan sekitar mereka, bahkan untuk menyambung bagian-bagian kayu tersebut, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu.  Rumah adat suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, dan tidak memiliki jendela.  

 Dalam masyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi

sakral (suci) dan profan duniawi) secara bersamaan. Artinya, rumah adat Sasak disamping sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat

dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan

manifestasi dari keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek

moyang (papuk baluk), epen bale (penunggu rumah), dan

sebaginya.

(8)
(9)

Pola penataan massa-massa bangunan secara umum di desa ini memiliki tipologi linier. Memanjang dan selalu berpasangan, berhadapan dan saling membelakangi, seluruh rumah yang ada terpola menghadap barat dan timur.

Ini mengacu pada petunjuk dan adat istiadat yang berlaku.

Dalam hal menentukan letak dan pengaturan massa bangunan, memiliki persyaratan mutlak dalam penempatannya. Bagi rumah yang menempati posisi paling selatan dimana bagian depan rumah menghadap barat (kiblat) menjadi keharusan untuk di tempati oleh saudara tertua, mengikuti garis

keturunan, Di sisi yang berhadapan dengan rumah paling selatan menghadap ke timur ditempati oleh saudara berikutnya.

Secara adat pola tatanan massa ini menyimbolkan saudara tertua yang dapat mengayomi, menjaga dan melindungi saudara-saudara lainnya.

(10)

2. Peralatan, Waktu dan Pemilihan Tempat

a. Peralatan untuk Membangun Rumah

 Peralatan yang harus dipersiapkan untuk membangun rumah, diantaranya adalah:

 Kayu-kayu penyangga.

 Bambu.

Bedek, anyaman dari bambu untuk dinding.

 Jerami dan alang-alang, digunakan untuk membuat atap.

 Kotaran kerbau atau kuda, sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai.

 Getah pohon kayu banten dan bajur.

 Abu jerami, digunakan sebagai bahan campuran untuk

mengeraskan lantai.

(11)

b. Waktu Pembangunan Rumah

 Rumah mempunyai fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Sasak, oleh karena itu perlu perhitungan yang cermat tentang waktu, hari, tanggal dan bulan yang baik untuk memulai pembangunannya. Untuk mencari waktu yang tepat,  mereka berpedoman pada papan warige yang berasal dari Primbon Tapel Adam dan Tajul Muluq. Oleh karena tidak semua orang

mempunyai kemampuan untuk menentukan hari baik, biasanya orang yang hendak membangun rumah bertanya kepada pemimpin adat.

 Orang Sasak di Lombok meyakini bahwa waktu yang baik untuk memulai membangun rumah adalah pada bulan ketiga dan bulan kedua belas

penanggalan Sasak, yaitu bulan Rabiul Awal dan bulan Zulhijjah pada kalender Islam. Ada juga yang menentukan hari baik berdasarkan nama

orang yang akan membangun rumah. Sedangkan bulan yang paling dihindari (pantangan) untuk membangun rumah adalah pada bulan Muharram dan bulan Ramadlan. Pada kedua bulan ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat, rumah yang dibangun cenderung mengundang malapetaka, seperti penyakit, kebakaran, sulit rizqi, dan sebagainya. 

(12)

c. Pemilihan Tempat

Mereka tidak akan membangun tumah di atas bekas perapian, bekas tempat

pembuangan sampah, bekas sumur, dan pada posisi jalan tusuk sate atau susur gubug.

Selain itu, orang Sasak tidak akan

membangun rumah berlawanan arah dan

ukurannya berbeda dengan rumah yang lebih dahulu ada. Menurut mereka, melanggar

konsep tersebut merupakan perbuatan

melawan tabu (maliq-lenget).

(13)

3. Bangunan Rumah Adat Suku Sasak

Rumah adat Sasak pada bagian atapnya berbentuk seperti gunungan, menukik ke bawah dengan jarak sekitar 1,5 sampai 2 meter dari

permukaan tanah (fondasi). Atap dan bubungannya (bungus) terbuat dari

alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu (bedek), hanya mempunyai

satu berukuran kecil dan tidak ada jendelanya. Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk) meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale

dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan

sekaligus ruang disemayamkannya jenazah sebelum dimakamkan.

Ruangan bale dalem dilengkapi amben, dapur, dan sempare (tempat menyimpan makanan dan peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang.

Kemudian ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem

sorong (geser). Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga

(tiga anak tangga) dan lantainya berupa campuran tanah dengan kotoran

kerbau/kuda, getah, dan abu jerami.

(14)

Bangunan rumah dalam komplek

perumahan Sasak terdiri dari beberapa

macam, diantaranya adalah: Bale Tani, Bale Jajar, Berugaq/Sekepat, Sekenam, Bale

Bonter, Bale Beleq Bencingah, dan Bale

Tajuk. Nama bangunan tersebut disesuaikan

dengan fungsi dari masing-masing tempat.

(15)

a. Bale Tani

Bale Tani adalah bangunan rumah untuk tempat tinggal masyarakat Sasak yang berprofesi sebagai petani. Bale Tani berlantaikan tanah dan terdiri dari beberapa ruangan, yaitu: satu ruang untuk serambi (sesangkok) dan satu ruang untuk kamar (dalem bale). Walaupun dalem bale merupakan ruangan untuk tempat tidur, tetapi kamar tersebut tidak digunakan sebagai tempat tidur. Dalem bale digunakan sebagai tempat menyimpan barang (harta benda) yang dimilikinya atau tempat tidur anak perempuannya, sedangkan anggota keluarga yang lain tidur di serambi. Untuk keperluan memasak (dapur), keluarga Sasak membuat tempat khusus yang disebut pawon.

 Fondasi bale tani terbuat dari tanah, Design atapnya dengan sistem jurai yang terbuat dari alang-alang di mana ujung atap bagian serambi (sesangkok)

sangat rendah, tingginya sekitar kening orang dewasa. Dinding rumah bale tani pada bagian dalem bale terbuat dari bedek, sedangkan pada sesangkok tidak menggunakan dinding.  Posisi dalem bale lebih tinggi dari pada

sesangkok oleh karena itu untuk masuk dalem bale dibuatkan tangga (undak- undak) yang biasanya dibuat tiga trap dengan pintu yang dinamakan lawang kuri.

(16)

b. Bale Jajar

Bale jajar merupakan bangunan rumah tinggal orang Sasak golongan ekonomi menengah ke atas. Bentuk bale jajar hampir sama dengan bale tani, yang

membedakan adalah jumlah dalem balenya. Bale jajar mempunyai dua kamar (dalem bale) dan satu serambi (sesangkok), kedua kamar tersebut dipisah oleh lorong/koridor dari sesangkok menuju dapur di bagian belakang. Ukuran

kedua dalem bale tersebut tidak sama, posisi tangga/pintu koridornya terletak pada sepertiga dari panjang bangunan bale jajar.

 Bahan yang dibutuhkan untuk membuat bale jajar adalah tiang kayu, dinding bedek dan alang-alang untuk membuat atap. Penggunaan alang-alang, saat ini, sudah mulai diganti dengan menggunakan genteng tetapi dengan tidak

merubah tata ruang dan ornamennya. Bangunan bale jajar biasanya berada dikomplek pemukiman yang luas dan ditandai oleh keberadaan sambi yang menjulang tinggi sebagai tempat penyimpanan kebutuhan rumah tangga atau keluarga lainnya. Bagian depan bale jajar ini bertengger sebuah bangunan kecil (disebut berugaq atau sekepat) dan pada bagian belakangnya terdapat sebuah bangunan yang dinamakan sekenam, bangunan seperti berugaq

dengan tiang berjumlah enam.

(17)

c. Berugaq / Sekepat

Berugaq/sekepat mempunyai bentuk segi empat sama sisi (bujur sangkar) tanpa dinding, penyangganya terbuat dari kayu, bambu dan alang-alang sebagai atapnya.  Berugaq atau sekepat biasanya terdapat di depan samping kiri atau kanan bale jajar atau bale

tani. Berugaq/sekepat ini didirikan setelah dibuatkan pondasi terlebih dahulu kemudian didirikan tiangnya. Di antara keempat tiang tersebut, dibuat lantai dari papan kayu atau bilah bambu

yang dianyam dengan tali pintal (Peppit) dengan ketinggian 40–50 cm di atas permukaan tanah.

 Fungsi dan kegunaan berugaq/sekepat adalah sebagai tempat menerima tamu, karena menurut kebiasaan orang Sasak, tidak semua orang boleh masuk rumah.  Berugaq/sekepat juga

digunakan pemilik rumah yang memiliki gadis untuk menerima

pemuda yang datang midang (melamar).

(18)

d. Sekenam

Sekenam bentuknya sama dengan

berugaq/sekepat, hanya saja sekenam mempunyai mempunyai tiang sebanyak

enam buah dan berada di bagian belakang rumah. Sekenam biasanya digunakan

sebagai tempat kegiatan belajar mengajar

tata krama, penanaman nilai-nilai budaya

dan sebagai tempat pertemuan internal

keluarga.

(19)

e. Bale Bonter  

Bale bonter merupakan bangunan tradisional Sasak yang umumnya dimiliki oleh para perkanggo/Pejabat Desa, Dusun/kampong. Bale bonter biasanya dibangun di tengah-tengah pemukiman dan atau di pusat pemerintahan Desa/kampung. Bale bonter dipergunakan

sebagai temopat pesangkepan/persidangan adat, seperti: tempat penyelesaian masalah pelanggaran hukum adat, dan sebagainya.

Bale bonter juga disebut gedeng pengukuhan dan tempat menyimpanan benda-benda bersejarah atau pusaka warisan

keluarga. Bale bonter berbentuk segi empat bujur sangkar, memiliki tiang paling sedikit 9 buah dan paling banyak 18 buah. Bangunan ini dikelilingi dinding bedek sehingga jika masuk ke dalamnya

seperti aula, atapnya tidak memakai nock/sun, hanya pada puncak

atapnya menggunakan tutup berbentuk kopyah berwarna hitam.

(20)

f. Bale Beleq Bencingah

Bale beleq adalah salah satu sarana penting bagi sebuah

Kerajaan. Bale beleq diperuntukkan sebagai tempat kegiatan besar Kerajaan sehingga sering juga disebut “Bencingah.

Adapun upacara kerajaan yang biasa dilakukan di bale beleq diantaranya adalah:

 Pelantikan pejabat kerajaan

 Penobatan Putra Mahkota Kerajaan

 Pengukuhan/penobatan para Kiai Penghulu (Pendita) Kerajaan

 Sebagai tempat penyimpanan benda-benda Pusaka Kerajaan seperti persenjataan dan benda pusaka lainnya seperti

pustaka/dokumen-dokumen Kerajaan

 Dan sebagainya.

(21)

g. Bale Tajuk

Bale tajuk merupakan salah satu sarana

pendukung bagi bangunan rumah tinggal yang memiliki keluarga besar. Bale tajuk berbentuk segi lima dengan tiang berjumlah lima buah dan biasanya berada di tengah lingkungan keluarga Santana. Tempat ini dipergunakan

sebagai tempat pertemuan keluarga besar dan

pelatihan macapat takepan, untuk menambah

wawasan dan tata krama.

(22)

h. Bale Gunung Rate dan Bale Balaq

 Selain jenis bangunan yang telah disebut di atas, adapula jenis bangunan lain yang

dibangun berdasarkan kondisi-kondisi khusus, seperti bale gunung rate dan bale balaq. Bale gunung rate biasanya dibangun oleh

masyarakat yang tinggal di lereng

pegunungan, sedangkan bale balaq dibangun

dengan tujuan untuk menghindari bencana

banjir, oleh karena itu biasanya berbentuk

rumah panggung.

(23)

4. Bangunan Pendukung

Selain bangunan-bangunan yang telah disebut di atas, masyarakat sasak membuat bangunan-bangunan pendukung lainnya seperti: sambi, alang, dan lombung.

a. Sambi

Sambi merupakan tempat menyimpan hasil pertanian masyarakat. Ada

beberapa macam bentuk sambi, antara lain sambi sejenis lumbung berbentuk rumah panggung. Bagian atas sambi ini  dipergunakan sebagai tempat

menyimpan hasil pertanian, sedangkan bagian bawahnya dipergunakan sebagai tempat tidur atau tempat menerima tamu. Ada juga sambi yang atapnya

diperlebar sehingga pada bagian bawahnya dapat digunakan sebagai tempat menumbuk padi (lilih) dan juga tempat duduk-duduk, berupa bale-bale yang alas duduknya dibuat dari bilah bambu dan papan kayu.

 Pada umumnya, sambi mempunyai empat, enam atau delapan tiang kayu. Sambi dengan enam tiang seringkali disebut ayung, karena pada bagian atasnya sering digunakan untuk tempat tidur. Bangunan sambi yang bertiang delapan

terkadang disebut sambi jajar karena berbentuk memanjang. Semua sambi selalu dilengkapi dengan tangga untuk naik dan didalamnya juga memiliki tangga untuk turun ke dalam.

(24)

b. Alang

Alang sama dengan lumbung, berfungsi untuk menyimpan hasil pertanian. Hanya saja alang

mempunyai bentuk yang khas, yaitu beratapkan alang- alang dengan lengkungan kira-kira ¾ lingkaran namun lonjong dan ujungnya tajam ke atas. Konstruksi

bawahnya menggunakan empat tiang yang ujung tiang bagian atasnya dipadu dengan jelepeng (diikat

menjadi satu). Bagian bawah bangunan alang biasanya digunakan sebagai tempat beristirahat baik siang atau malam hari. Alang biasanya diletakkan di halaman

belakang rumah atau dekat dengan kandang hewan.

(25)

c. Lumbung

Lumbung adalah tempat untuk menyimpan segala kebutuhan.

Lumbung tidak sama dengan sambi dan alang, karena

lumbung biasanya diletakkan di dalam rumah/kamar atau di tempat khusus diluar bangunan rumah. Lumbung berbentuk bulat, dibuat dari gulungan bedek kulitan dengan diameter 1,5 meter untuk lumbung yang ditempatkan di dalam rumah dan berdiameter 3 meter jika diletakkan di luar rumah.

 Bahan untuk membuat lumbung adalah bambu, bedek, dan papan kayu sebagai lantai. Di bawah papan lantainya

dibuatkan pondasi dari tanah dan batu pada empat sudutnya.

Atapnya disangga dengan tiang kayu atau bambu berbentuk

seperti atap rumah tinggal.

(26)

Nilai-Nilai

Atap rumah dengan design sangat rendah dengan pintu berukuran kecil bertujuan agar tamu yang datang harus merunduk bila

memasuki pintu rumah yang relatif pendek.

Sikap merunduk merupakan sikap saling

hormat menghormati dan saling menghargai

antara tamu dengan tuan rumah.

(27)

 Pembangunan rumah dengan arah dan ukuran yang sama menunjukkan bahwa

masyarakat hidup harmonis. Oleh karena itu, jika ada yang membangun rumah yang

arahnya tidak sama dengan bangunan rumah

yang sudah ada, maka itu menandakan bahwa

penghuni kampung tersebut tidak harmonis.

(28)

Undak-undakan (tangga) tingkat tiga mempunyai pesan bahwa tingkat ketaqwaan ilmu

pengetahuan dan kekayaan tiap-tiap manusia tidak akan sama. Oleh karena itu, diharapkan semua manusia senantiasa menyadari bahwa kekurangan dan kelebihan yang dimiliki

merupakan rahmat Tuhan. Ada juga yang

menganggap bahwa anak tangga sebanyak tiga

buah menunjukkan simbol daur hidup manusia,

yaitu lahir, berkembang, dan mati, atau simbol

keluarga batih (ayah, ibu, dan anak).

(29)

 Empat tiang penyangga berugaq/sekepat mempunyai pengertian: Kebenaran yang harus diutamakan;

Kepercayaan diri dalam memegang amanah; dalam

menyampaikan sesuatu hendaknya berlaku jujur dan polos;

dan sebagai orang yang beriman hendaknya pandai/cerdas dalam menyikapi masah (tanggap). Sedangkan atapnya

menggambarkan keyakian bahwa Tuhan Maha tahu atas segalanya, baik yang tersirat maupun yang tersurat. Ada juga yang beranggapan bahwa pesan dari berugak bertiang empat adalah simbol syariat Islam: Quran, Hadis, Ijma‘,

Qiyas. Disamping itu, berugak yang ada di depan rumah

merupakan bentuk rasa syukur terhadap rezeki yang

diberikan Tuhan, dan juga sebagai tempat berinteraksi

dengan masyarakat lainnya.

(30)

Bale tajuk, pada umumnya, berbentuk segi lima dengan tiang berjumlah lima

melambangkan bahwa masyarakat Sasak adalah masyarakat yang religius yang

menurut keyakinan mereka, setiap mahluk

hidup pasti akan mati dan setiap sesuatu

yang lahir maka pasti akan berakhir.

(31)

 Keberadaan lumbung menunjukkan bahwa warga sasak harus hidup hemat dan tidak boros. Bahan-bahan yang disimpan di

dalamnya, hanya bisa diambil pada waktu tertentu, misalnya sekali sebulan sebagai persiapan untuk keperluan mendadak,

misalnya karena gagal panen atau karena ada

salah satu anggota keluarga meninggal.

Referensi

Dokumen terkait