RUMAH TRADIONAL
LOMBOK
PERTEMUAN 11
MK.ARS. LOKAL - ISTP
1. Asal-Usul
Suku Sasak adalah penduduk asli dan suku mayoritas di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Sebagai penduduk asli, suku Sasak telah mempunyai sistem budaya sebagaimana terekam dalam kitab Nagara Kartha Gama
karangan Empu Nala dari Majapahit. Dalam
kitab tersebut, suku Sasak disebut “Lomboq
Mirah Sak-Sak Adhi.”
Rumah adat suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Atap rumah Sasak terbuat dari jerami dan
berdinding anyaman bambu (bedek). Lantainya dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami. Campuran
tanah liat dan kotoran kerbau membuat lantai
tanah mengeras, sekeras semen. Pengetahuan
membuat lantai dengan cara tersebut diwarisi
dari nenek moyang mereka.
Seluruh bahan bangunan (seperti kayu dan bambu) untuk membuat rumah adat Sasak didapatkan dari lingkungan sekitar mereka, bahkan untuk menyambung bagian-bagian kayu tersebut, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Rumah adat suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, dan tidak memiliki jendela.
Dalam masyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi
sakral (suci) dan profan duniawi) secara bersamaan. Artinya, rumah adat Sasak disamping sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat
dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan
manifestasi dari keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek
moyang (papuk baluk), epen bale (penunggu rumah), dan
sebaginya.
Pola penataan massa-massa bangunan secara umum di desa ini memiliki tipologi linier. Memanjang dan selalu berpasangan, berhadapan dan saling membelakangi, seluruh rumah yang ada terpola menghadap barat dan timur.
Ini mengacu pada petunjuk dan adat istiadat yang berlaku.
Dalam hal menentukan letak dan pengaturan massa bangunan, memiliki persyaratan mutlak dalam penempatannya. Bagi rumah yang menempati posisi paling selatan dimana bagian depan rumah menghadap barat (kiblat) menjadi keharusan untuk di tempati oleh saudara tertua, mengikuti garis
keturunan, Di sisi yang berhadapan dengan rumah paling selatan menghadap ke timur ditempati oleh saudara berikutnya.
Secara adat pola tatanan massa ini menyimbolkan saudara tertua yang dapat mengayomi, menjaga dan melindungi saudara-saudara lainnya.
2. Peralatan, Waktu dan Pemilihan Tempat
a. Peralatan untuk Membangun Rumah
Peralatan yang harus dipersiapkan untuk membangun rumah, diantaranya adalah:
Kayu-kayu penyangga.
Bambu.
Bedek, anyaman dari bambu untuk dinding.
Jerami dan alang-alang, digunakan untuk membuat atap.
Kotaran kerbau atau kuda, sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai.
Getah pohon kayu banten dan bajur.
Abu jerami, digunakan sebagai bahan campuran untuk
mengeraskan lantai.
b. Waktu Pembangunan Rumah
Rumah mempunyai fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Sasak, oleh karena itu perlu perhitungan yang cermat tentang waktu, hari, tanggal dan bulan yang baik untuk memulai pembangunannya. Untuk mencari waktu yang tepat, mereka berpedoman pada papan warige yang berasal dari Primbon Tapel Adam dan Tajul Muluq. Oleh karena tidak semua orang
mempunyai kemampuan untuk menentukan hari baik, biasanya orang yang hendak membangun rumah bertanya kepada pemimpin adat.
Orang Sasak di Lombok meyakini bahwa waktu yang baik untuk memulai membangun rumah adalah pada bulan ketiga dan bulan kedua belas
penanggalan Sasak, yaitu bulan Rabiul Awal dan bulan Zulhijjah pada kalender Islam. Ada juga yang menentukan hari baik berdasarkan nama
orang yang akan membangun rumah. Sedangkan bulan yang paling dihindari (pantangan) untuk membangun rumah adalah pada bulan Muharram dan bulan Ramadlan. Pada kedua bulan ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat, rumah yang dibangun cenderung mengundang malapetaka, seperti penyakit, kebakaran, sulit rizqi, dan sebagainya.
c. Pemilihan Tempat
Mereka tidak akan membangun tumah di atas bekas perapian, bekas tempat
pembuangan sampah, bekas sumur, dan pada posisi jalan tusuk sate atau susur gubug.
Selain itu, orang Sasak tidak akan
membangun rumah berlawanan arah dan
ukurannya berbeda dengan rumah yang lebih dahulu ada. Menurut mereka, melanggar
konsep tersebut merupakan perbuatan
melawan tabu (maliq-lenget).
3. Bangunan Rumah Adat Suku Sasak
Rumah adat Sasak pada bagian atapnya berbentuk seperti gunungan, menukik ke bawah dengan jarak sekitar 1,5 sampai 2 meter dari
permukaan tanah (fondasi). Atap dan bubungannya (bungus) terbuat dari
alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu (bedek), hanya mempunyaisatu berukuran kecil dan tidak ada jendelanya. Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk) meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale
dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkansekaligus ruang disemayamkannya jenazah sebelum dimakamkan.
Ruangan bale dalem dilengkapi amben, dapur, dan sempare (tempat menyimpan makanan dan peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang.
Kemudian ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem
sorong (geser). Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga(tiga anak tangga) dan lantainya berupa campuran tanah dengan kotoran
kerbau/kuda, getah, dan abu jerami.
Bangunan rumah dalam komplek
perumahan Sasak terdiri dari beberapa
macam, diantaranya adalah: Bale Tani, Bale Jajar, Berugaq/Sekepat, Sekenam, Bale
Bonter, Bale Beleq Bencingah, dan Bale
Tajuk. Nama bangunan tersebut disesuaikan
dengan fungsi dari masing-masing tempat.
a. Bale Tani
Bale Tani adalah bangunan rumah untuk tempat tinggal masyarakat Sasak yang berprofesi sebagai petani. Bale Tani berlantaikan tanah dan terdiri dari beberapa ruangan, yaitu: satu ruang untuk serambi (sesangkok) dan satu ruang untuk kamar (dalem bale). Walaupun dalem bale merupakan ruangan untuk tempat tidur, tetapi kamar tersebut tidak digunakan sebagai tempat tidur. Dalem bale digunakan sebagai tempat menyimpan barang (harta benda) yang dimilikinya atau tempat tidur anak perempuannya, sedangkan anggota keluarga yang lain tidur di serambi. Untuk keperluan memasak (dapur), keluarga Sasak membuat tempat khusus yang disebut pawon.
Fondasi bale tani terbuat dari tanah, Design atapnya dengan sistem jurai yang terbuat dari alang-alang di mana ujung atap bagian serambi (sesangkok)
sangat rendah, tingginya sekitar kening orang dewasa. Dinding rumah bale tani pada bagian dalem bale terbuat dari bedek, sedangkan pada sesangkok tidak menggunakan dinding. Posisi dalem bale lebih tinggi dari pada
sesangkok oleh karena itu untuk masuk dalem bale dibuatkan tangga (undak- undak) yang biasanya dibuat tiga trap dengan pintu yang dinamakan lawang kuri.
b. Bale Jajar
Bale jajar merupakan bangunan rumah tinggal orang Sasak golongan ekonomi menengah ke atas. Bentuk bale jajar hampir sama dengan bale tani, yang
membedakan adalah jumlah dalem balenya. Bale jajar mempunyai dua kamar (dalem bale) dan satu serambi (sesangkok), kedua kamar tersebut dipisah oleh lorong/koridor dari sesangkok menuju dapur di bagian belakang. Ukuran
kedua dalem bale tersebut tidak sama, posisi tangga/pintu koridornya terletak pada sepertiga dari panjang bangunan bale jajar.
Bahan yang dibutuhkan untuk membuat bale jajar adalah tiang kayu, dinding bedek dan alang-alang untuk membuat atap. Penggunaan alang-alang, saat ini, sudah mulai diganti dengan menggunakan genteng tetapi dengan tidak
merubah tata ruang dan ornamennya. Bangunan bale jajar biasanya berada dikomplek pemukiman yang luas dan ditandai oleh keberadaan sambi yang menjulang tinggi sebagai tempat penyimpanan kebutuhan rumah tangga atau keluarga lainnya. Bagian depan bale jajar ini bertengger sebuah bangunan kecil (disebut berugaq atau sekepat) dan pada bagian belakangnya terdapat sebuah bangunan yang dinamakan sekenam, bangunan seperti berugaq
dengan tiang berjumlah enam.
c. Berugaq / Sekepat
Berugaq/sekepat mempunyai bentuk segi empat sama sisi (bujur sangkar) tanpa dinding, penyangganya terbuat dari kayu, bambu dan alang-alang sebagai atapnya. Berugaq atau sekepat biasanya terdapat di depan samping kiri atau kanan bale jajar atau bale
tani. Berugaq/sekepat ini didirikan setelah dibuatkan pondasi terlebih dahulu kemudian didirikan tiangnya. Di antara keempat tiang tersebut, dibuat lantai dari papan kayu atau bilah bambu
yang dianyam dengan tali pintal (Peppit) dengan ketinggian 40–50 cm di atas permukaan tanah.
Fungsi dan kegunaan berugaq/sekepat adalah sebagai tempat menerima tamu, karena menurut kebiasaan orang Sasak, tidak semua orang boleh masuk rumah. Berugaq/sekepat juga
digunakan pemilik rumah yang memiliki gadis untuk menerima
pemuda yang datang midang (melamar).
d. Sekenam
Sekenam bentuknya sama dengan
berugaq/sekepat, hanya saja sekenam mempunyai mempunyai tiang sebanyak
enam buah dan berada di bagian belakang rumah. Sekenam biasanya digunakan
sebagai tempat kegiatan belajar mengajar
tata krama, penanaman nilai-nilai budaya
dan sebagai tempat pertemuan internal
keluarga.
e. Bale Bonter
Bale bonter merupakan bangunan tradisional Sasak yang umumnya dimiliki oleh para perkanggo/Pejabat Desa, Dusun/kampong. Bale bonter biasanya dibangun di tengah-tengah pemukiman dan atau di pusat pemerintahan Desa/kampung. Bale bonter dipergunakan
sebagai temopat pesangkepan/persidangan adat, seperti: tempat penyelesaian masalah pelanggaran hukum adat, dan sebagainya.
Bale bonter juga disebut gedeng pengukuhan dan tempat menyimpanan benda-benda bersejarah atau pusaka warisan
keluarga. Bale bonter berbentuk segi empat bujur sangkar, memiliki tiang paling sedikit 9 buah dan paling banyak 18 buah. Bangunan ini dikelilingi dinding bedek sehingga jika masuk ke dalamnya
seperti aula, atapnya tidak memakai nock/sun, hanya pada puncak
atapnya menggunakan tutup berbentuk kopyah berwarna hitam.
f. Bale Beleq Bencingah
Bale beleq adalah salah satu sarana penting bagi sebuah
Kerajaan. Bale beleq diperuntukkan sebagai tempat kegiatan besar Kerajaan sehingga sering juga disebut “Bencingah.”
Adapun upacara kerajaan yang biasa dilakukan di bale beleq diantaranya adalah:
Pelantikan pejabat kerajaan
Penobatan Putra Mahkota Kerajaan
Pengukuhan/penobatan para Kiai Penghulu (Pendita) Kerajaan
Sebagai tempat penyimpanan benda-benda Pusaka Kerajaan seperti persenjataan dan benda pusaka lainnya seperti
pustaka/dokumen-dokumen Kerajaan
Dan sebagainya.
g. Bale Tajuk
Bale tajuk merupakan salah satu sarana
pendukung bagi bangunan rumah tinggal yang memiliki keluarga besar. Bale tajuk berbentuk segi lima dengan tiang berjumlah lima buah dan biasanya berada di tengah lingkungan keluarga Santana. Tempat ini dipergunakan
sebagai tempat pertemuan keluarga besar dan
pelatihan macapat takepan, untuk menambah
wawasan dan tata krama.
h. Bale Gunung Rate dan Bale Balaq
Selain jenis bangunan yang telah disebut di atas, adapula jenis bangunan lain yang
dibangun berdasarkan kondisi-kondisi khusus, seperti bale gunung rate dan bale balaq. Bale gunung rate biasanya dibangun oleh
masyarakat yang tinggal di lereng
pegunungan, sedangkan bale balaq dibangun
dengan tujuan untuk menghindari bencana
banjir, oleh karena itu biasanya berbentuk
rumah panggung.
4. Bangunan Pendukung
Selain bangunan-bangunan yang telah disebut di atas, masyarakat sasak membuat bangunan-bangunan pendukung lainnya seperti: sambi, alang, dan lombung.
a. Sambi
Sambi merupakan tempat menyimpan hasil pertanian masyarakat. Ada
beberapa macam bentuk sambi, antara lain sambi sejenis lumbung berbentuk rumah panggung. Bagian atas sambi ini dipergunakan sebagai tempat
menyimpan hasil pertanian, sedangkan bagian bawahnya dipergunakan sebagai tempat tidur atau tempat menerima tamu. Ada juga sambi yang atapnya
diperlebar sehingga pada bagian bawahnya dapat digunakan sebagai tempat menumbuk padi (lilih) dan juga tempat duduk-duduk, berupa bale-bale yang alas duduknya dibuat dari bilah bambu dan papan kayu.
Pada umumnya, sambi mempunyai empat, enam atau delapan tiang kayu. Sambi dengan enam tiang seringkali disebut ayung, karena pada bagian atasnya sering digunakan untuk tempat tidur. Bangunan sambi yang bertiang delapan
terkadang disebut sambi jajar karena berbentuk memanjang. Semua sambi selalu dilengkapi dengan tangga untuk naik dan didalamnya juga memiliki tangga untuk turun ke dalam.