PERTEMUAN 13
MK.ARS.LOKAL - ISTP
RUMAH TRADISIONAL
BALI
Arsitektur Tradisional Bali merupakan suatu karya arsitektur yang lahir dari suatu
tradisi, kepercayaan dan aktifitas spiritual masyarakat Bali yang diwujudkan dalam berbagai bentuk fisik. Seperti rumah adat, tempat suci (tempat pemujaan yang
disebut pura), balai pertemuan, dan lain- lain. Lahirnya berbagai perwujudan fisik
juga disebabkan oleh beberapa faktor yaitu keadaan geografi, budaya, adat-istiadat,
dan sosial ekonomi masyarakat.
Ditinjau dari aspek geografi terdapatlah Arsitektur Tradisional Bali dataran tinggi (daerah pegunungan) dan Arsitektur Tradisional Bali dataran rendah. Untuk daerah dataran tinggi pada umunya bangunannya kecil-kecil dan tertutup untuk menyesuaikan keadaan lingkungannya yang cenderung dingin. Tinggi dinding relatif pendek untuk menghindari sirkulasi udara yang terlalu sering. Satu bangunan bisa digunakan untuk berbagai aktifitas mulai aktifitas sehari-hari seperti tidur, memasak dan untuk hari-hari tertentu juga digunakan untuk upacara. Luas dan bentuk
pekarangan relatif sempit dan tidak beraturan
disesuaikan dengan topografi tempat tinggalnya.
Untuk daerah dataran rendah, pekarangannya relatif luas dan datar sehingga bisa menampung beberapa massa dengan pola komunikatif, umumnya berdinding terbuka, yang masing-
masing mempunyai fungsi tersendiri. Seperti bale daja untuk ruang tidur dan menerima tamu penting, bale dauh untuk ruang tidur dan menerima tamu dari kalangan biasa, bale dangin untuk upacara, dapur untuk memasak, jineng untuk lumbung padi, dan tempat suci untuk pemujaan. Untuk
keluarga raja dan brahmana pekarangnnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu jaba sisi (pekarangan depan), jaba tengah
(pekarangan tengah) dan jero (pekarangan untuk tempat tinggal). Bahan bangungan juga mencerminkan status sosial pemiliknya. Masyarakat biasa menggunakan popolan (speci yang terbuat dari lumpur tanah liat) untuk dinding bangunan, sedangkan golongan raja dan brahmana menggunakan
tumpukan bata-bata.
Untuk tempat suci/tempat pemujaan baik milik satu keluarga maupun milik suatu kumpulan kekerabatan menggunakan bahan sesuai kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.
Seperti untuk bahan atap menggunakan ijuk bagi
yang ekonominya mampu sedangkan bagi yang
ekonominya kurang mampu bisa menggunakan
alang-alang atau genteng.
Dalam proses pembangunan, diawali dengan pengukuran tapak yang disebut dengan nyikut karang. Dilanjutkan dengan caru pengeruak karang yaitu ritual persembahan kurban dan mohon izin untuk membangun. Setelah izin didapat barulah dilakukan peletakan batu pertama yang disebut nasarin. Ini bertujuan untuk mohon kekuatan pada ibu pertiwi agar kelak bangunan menjadi kuat dan kokoh.
Untuk pekerjanya termasuk ahli bangunanya dilakukan upacara prayascita untuk memohon bimbingan dan keselamatan dalam bekerja. Jika semua ritual sudah dilaksanakan barulah pembangunan dimulai. Setelah bangunan berdiri dan sebelum digunakan dilakukan
upacara syukuran yang disebut melaspas dan pengurip. Ini bertujuan membersihkan bangunan dari energi-energi
negatif dan menghidupkan aura bangunan tersebut.
TEMBOK panyengker merupakan bagian dari elemen arsitektur.
Mewujudkan panyengker adalah dengan melakukan pengukuran sebelumnya. Ukuran atau sikut memiliki pengertian volume, bobot dan nilai dari satuan panjang, lebar, tebal, tinggi, atau garis-garis ukur lainnya. Satuan ukuran dalam pengukuran arsitektur Bali-tradisional
diperoleh dari bagian-bagian tubuh manusia selaku pemilik.
Pada bangunan Bali tradisional, mengukur panjang atau
lebar pekarangan dengan ukuran depa agung, depa madya
dan depa alit.
Menurut Ir. I Wayan Gomudha, M.T., panyengker berasal dari kata sengker yang artinya "kurung".
Kurung itu sendiri memiliki pengertian (1) sebagai tanda untuk mengumpulkan beberapa unsur
menjadi satu kelompok yang membentuk satu unit hunian; (2) mengkonotasikan suatu
keberadaan di dalam rumah,
kamar/bilik/sangkar; dan (3) melindungi dan
mewadahi segala sesuatu yang ada dalam
kurungan. ("Pernik Manik Spasial Hunian
Arsitektur Tradisional Bali, 1999). Sementara
dalam "Kamus Bali Indonesia" (Ida Bagus Nyoman
Jiwa, 1992), panyengker disebut sebagai batas
pekarangan pada keempat sisi, bisa dengan pagar
hidup atau tembok pasangan.
Puri adalah center point suatu wilayah kekuasaan raja. Makanya Puri pada pada umumnya terletak di suatu perempatan (catuspatha). Secara harfiah perempatan sebagai titik yang mempertemukan empat ruas jalan raya yang letaknya di pusat kerajaan. Perempatan inilah yang menghubungkan ke beberapa wilayah kekuasaan. Mulai dari tingkat desa, banjar dan komplek perumahan (tempekan). Perempatan juga merupakan titik keberangkatan
sekaligus arah. Arah kangin-kauh adalah dualisme teresterial manusia. Dimana
kangin adalah kelahiran dan kauh adalah kematian. Sedangkan arah kaja-kelod
adalah dualisme celestial (surgawi). Dimana kaja sebagai dunia atas dan kelod
sebagai dunia bawah. Dua pasangan dualistik tersebut bertemu di pusat, yakni
di catuspatha.
Arsitektur tradisional Bali yang kita kenal, mempunyai konsep-konsep dasar yang
mempengaruhi tata nilai ruangnya. Konsep dasar tersebut adalah:
Konsep hirarki ruang, Tri Loka atau Tri Angga
Konsep orientasi kosmologi, Nawa Sanga atau Sanga Mandala
Konsep keseimbangan kosmologi, Manik Ring Cucupu
Konsep proporsi dan skala manusia
Konsep court, Open air
Konsep kejujuran bahan bangunan
Tri Angga adalah konsep dasar yang erat hubungannya dengan perencanaan
arsitektur, yang merupakan asal-usul Tri Hita Kirana. Konsep Tri Angga membagi segala sesuatu menjadi tiga komponen atau zone:
1. Nista (bawah, kotor, kaki),
2. Madya (tengah, netral, badan) dan
3. Utama (atas, murni, kepala)
Ada tiga buah sumbu yang digunakan sebagai pedoman penataan bangunan di Bali, sumbu-sumbu itu antara lain:
1. Sumbu kosmos Bhur, Bhuwah dan Swah (hidrosfir, litosfir dan atmosfir)
2. Sumbu ritual kangin-kauh (terbit dan terbenamnya matahari)
3. Sumbu natural Kaja-Kelod (gunung dan laut)
Dari sumbu-sumbu tersebut, masyarakat Bali mengenal konsep orientasi kosmologikal, Nawa Sanga atau Sanga Mandala. Transformasi fisik dari konsep ini pada
perancangan arsitektur, merupakan acuan pada
penataan ruang hunian tipikal di Bali
Bangunan Hunian
1. Hunian pada masyarakat Bali, ditata menurut konsep Tri Hita Karana. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas.
• Sudut utara - timur adalah tempat yang suci, digunakan sebagai tempat pemujaan, Pamerajan (sebagai pura keluarga).
• Sudut barat - selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah, merupakan arah masuk ke hunian.
2. Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan aling-aling, yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi), tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Pada bagian ini terdapat
bangunan Jineng (lumbung padi) dan Paon (dapur).
3. Berturut-turut terdapat bangunan-bangunan Bale Tiang Sanga, Bale Sikepat/Semanggen dan Umah Meten. Tiga bangunan (bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam) merupakan
bangunan terbuka.
4. Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan pusat dari hunian.
5. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga atau anak gadis. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding, sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga).
6. Hunian tipikal pada masyarakat Bali ini, biasanya mempunyai pembatas yang berupa pagar yang mengelilingi bangunan/ruang-ruang tersebut diatas.