• Tidak ada hasil yang ditemukan

RUMAH TRADISIONAL BALI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "RUMAH TRADISIONAL BALI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PERTEMUAN 13

MK.ARS.LOKAL - ISTP

RUMAH TRADISIONAL

BALI

(2)
(3)
(4)

 Arsitektur Tradisional Bali merupakan suatu karya arsitektur yang lahir dari suatu

tradisi, kepercayaan dan aktifitas spiritual masyarakat Bali yang diwujudkan dalam berbagai bentuk fisik. Seperti rumah adat, tempat suci (tempat pemujaan yang

disebut pura), balai pertemuan, dan lain- lain. Lahirnya berbagai perwujudan fisik

juga disebabkan oleh beberapa faktor yaitu keadaan geografi, budaya, adat-istiadat,

dan sosial ekonomi masyarakat.

(5)
(6)

Ditinjau dari aspek geografi terdapatlah Arsitektur Tradisional Bali dataran tinggi (daerah pegunungan) dan Arsitektur Tradisional Bali dataran rendah. Untuk daerah dataran tinggi pada umunya bangunannya kecil-kecil dan tertutup untuk menyesuaikan keadaan lingkungannya yang cenderung dingin. Tinggi dinding relatif pendek untuk menghindari sirkulasi udara yang terlalu sering. Satu bangunan bisa digunakan untuk berbagai aktifitas mulai aktifitas sehari-hari seperti tidur, memasak dan untuk hari-hari tertentu juga digunakan untuk upacara. Luas dan bentuk

pekarangan relatif sempit dan tidak beraturan

disesuaikan dengan topografi tempat tinggalnya.

(7)

 Untuk daerah dataran rendah, pekarangannya relatif luas dan datar sehingga bisa menampung beberapa massa dengan pola komunikatif, umumnya berdinding terbuka, yang masing-

masing mempunyai fungsi tersendiri. Seperti bale daja untuk ruang tidur dan menerima tamu penting, bale dauh untuk ruang tidur dan menerima tamu dari kalangan biasa, bale dangin untuk upacara, dapur untuk memasak, jineng untuk lumbung padi, dan tempat suci untuk pemujaan. Untuk

keluarga raja dan brahmana pekarangnnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu jaba sisi (pekarangan depan), jaba tengah

(pekarangan tengah) dan jero (pekarangan untuk tempat tinggal). Bahan bangungan juga mencerminkan status sosial pemiliknya. Masyarakat biasa menggunakan popolan (speci yang terbuat dari lumpur tanah liat) untuk dinding bangunan, sedangkan golongan raja dan brahmana menggunakan

tumpukan bata-bata.

(8)
(9)

Untuk tempat suci/tempat pemujaan baik milik satu keluarga maupun milik suatu kumpulan kekerabatan menggunakan bahan sesuai kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.

Seperti untuk bahan atap menggunakan ijuk bagi

yang ekonominya mampu sedangkan bagi yang

ekonominya kurang mampu bisa menggunakan

alang-alang atau genteng.

(10)

 Dalam proses pembangunan, diawali dengan pengukuran tapak yang disebut dengan nyikut karang. Dilanjutkan dengan caru pengeruak karang yaitu ritual persembahan kurban dan mohon izin untuk membangun. Setelah izin didapat barulah dilakukan peletakan batu pertama yang disebut nasarin. Ini bertujuan untuk mohon kekuatan pada ibu pertiwi agar kelak bangunan menjadi kuat dan kokoh.

Untuk pekerjanya termasuk ahli bangunanya dilakukan upacara prayascita untuk memohon bimbingan dan keselamatan dalam bekerja. Jika semua ritual sudah dilaksanakan barulah pembangunan dimulai. Setelah bangunan berdiri dan sebelum digunakan dilakukan

upacara syukuran yang disebut melaspas dan pengurip. Ini bertujuan membersihkan bangunan dari energi-energi

negatif dan menghidupkan aura bangunan tersebut.

(11)

TEMBOK panyengker merupakan bagian dari elemen arsitektur.

Mewujudkan panyengker adalah dengan melakukan pengukuran sebelumnya. Ukuran atau sikut memiliki pengertian volume, bobot dan nilai dari satuan panjang, lebar, tebal, tinggi, atau garis-garis ukur lainnya. Satuan ukuran dalam pengukuran arsitektur Bali-tradisional

diperoleh dari bagian-bagian tubuh manusia selaku pemilik.

Pada bangunan Bali tradisional, mengukur panjang atau

lebar pekarangan dengan ukuran depa agung, depa madya

dan depa alit.

(12)

Menurut Ir. I Wayan Gomudha, M.T., panyengker berasal dari kata sengker yang artinya "kurung".

Kurung itu sendiri memiliki pengertian (1) sebagai tanda untuk mengumpulkan beberapa unsur

menjadi satu kelompok yang membentuk satu unit hunian; (2) mengkonotasikan suatu

keberadaan di dalam rumah,

kamar/bilik/sangkar; dan (3) melindungi dan

mewadahi segala sesuatu yang ada dalam

kurungan. ("Pernik Manik Spasial Hunian

Arsitektur Tradisional Bali, 1999). Sementara

dalam "Kamus Bali Indonesia" (Ida Bagus Nyoman

Jiwa, 1992), panyengker disebut sebagai batas

pekarangan pada keempat sisi, bisa dengan pagar

hidup atau tembok pasangan.

(13)

Puri adalah center point suatu wilayah kekuasaan raja. Makanya Puri pada pada umumnya terletak di suatu perempatan (catuspatha). Secara harfiah perempatan sebagai titik yang mempertemukan empat ruas jalan raya yang letaknya di pusat kerajaan. Perempatan inilah yang menghubungkan ke beberapa wilayah kekuasaan. Mulai dari tingkat desa, banjar dan komplek perumahan (tempekan). Perempatan juga merupakan titik keberangkatan

sekaligus arah. Arah kangin-kauh adalah dualisme teresterial manusia. Dimana

kangin adalah kelahiran dan kauh adalah kematian. Sedangkan arah kaja-kelod

adalah dualisme celestial (surgawi). Dimana kaja sebagai dunia atas dan kelod

sebagai dunia bawah. Dua pasangan dualistik tersebut bertemu di pusat, yakni

di catuspatha.

(14)
(15)

 Arsitektur tradisional Bali yang kita kenal, mempunyai konsep-konsep dasar yang

mempengaruhi tata nilai ruangnya. Konsep dasar tersebut adalah:

Konsep hirarki ruang, Tri Loka atau Tri Angga

Konsep orientasi kosmologi, Nawa Sanga atau Sanga Mandala

Konsep keseimbangan kosmologi, Manik Ring Cucupu

Konsep proporsi dan skala manusia

Konsep court, Open air

Konsep kejujuran bahan bangunan

(16)

Tri Angga adalah konsep dasar yang erat hubungannya dengan perencanaan

arsitektur, yang merupakan asal-usul Tri Hita Kirana. Konsep Tri Angga membagi segala sesuatu menjadi tiga komponen atau zone:

1. Nista (bawah, kotor, kaki),

2. Madya (tengah, netral, badan) dan

3. Utama (atas, murni, kepala)

(17)

Ada tiga buah sumbu yang digunakan sebagai pedoman penataan bangunan di Bali, sumbu-sumbu itu antara lain:

1. Sumbu kosmos Bhur, Bhuwah dan Swah (hidrosfir, litosfir dan atmosfir)

2. Sumbu ritual kangin-kauh (terbit dan terbenamnya matahari)

3. Sumbu natural Kaja-Kelod (gunung dan laut)

Dari sumbu-sumbu tersebut, masyarakat Bali mengenal konsep orientasi kosmologikal, Nawa Sanga atau Sanga Mandala. Transformasi fisik dari konsep ini pada

perancangan arsitektur, merupakan acuan pada

penataan ruang hunian tipikal di Bali

(18)

Bangunan Hunian

1. Hunian pada masyarakat Bali, ditata menurut konsep Tri Hita Karana. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas.

• Sudut utara - timur adalah tempat yang suci, digunakan sebagai tempat pemujaan, Pamerajan (sebagai pura keluarga).

• Sudut barat - selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah, merupakan arah masuk ke hunian.

2. Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan aling-aling, yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi), tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Pada bagian ini terdapat

bangunan Jineng (lumbung padi) dan Paon (dapur).

3. Berturut-turut terdapat bangunan-bangunan Bale Tiang Sanga, Bale Sikepat/Semanggen dan Umah Meten. Tiga bangunan (bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam) merupakan

bangunan terbuka.

4. Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan pusat dari hunian.

5. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga atau anak gadis. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding, sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga).

6. Hunian tipikal pada masyarakat Bali ini, biasanya mempunyai pembatas yang berupa pagar yang mengelilingi bangunan/ruang-ruang tersebut diatas.

Referensi

Dokumen terkait

0.48 I was asking for help from my caregivers during pain 0.46 Labor pain becomes more intense 0.46 The severity of my labor pain was less than I had heard 0.45 I had enough

Summary:InaChief’sCourt plaintiffsueddefendantforlobolo in respect of his sister, defendant resisted the claim and sought to set off cattle due by plaintiff to him; the hearing was