• Tidak ada hasil yang ditemukan

RUMAH TRADISIONAL SUMATERA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "RUMAH TRADISIONAL SUMATERA BARAT"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

RUMAH TRADISIONAL SUMATERA BARAT

PETEMUAN 7

MK.ARS.LOKAL - ISTP

(2)
(3)
(4)
(5)

Keterangan Gambar:

A: Rumah Gadang B: Deretan Rangkiang (Lumbung)

C: Lesung

D: Limau Manih Sandaran Alu

E: Kemuniang Hutan Kudo F: Tebat Ikan

G: Tepian Tempat Mandi H: Kebun Bunga

1. Anjung Kiri (Ujung) 2. Anjung Kanan (Pangka) 3. Jenjang

4. Sitinjau Lauik 5. Sibayau-Bayau 6. Sitangka Lapa 7. Jalan Masuk 8. Jalan Besar

9. Puding Perak Paga di Luar

10. Puding Emas Paga di Dalam

11. Jalan Kecil Ketapian Mandi

12. Halaman Pakai Pasir Halus

13. Kepuak Gadang 14. Kapuak Ketek 15. Batu Tapakan

(6)

Gambar 5: Rumah Gadang bergonjong empat

Gambar 6: Rumah Gadang

bergonjong dua

(7)

Gambar 7: Rumah Gadang merupakan rumah

panggung

(8)

 Bentuk Rumah Gadang yang dikenal di Minangkabau dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

pertama, Rumah Gadang Gajah Maharam, Disebut gajah maharam karena keseluruhan bangunan ini menyerupai bentuk gajah yang sedang mendekam (maharam berarti mendekam). Dimana perbandingan panjang, lebar dan tingginya menimbulkan kesan

gemuk. Rumah Gadang Gajah Maharam ini beranjung

kanan dan kiri. Anjungannya mempunyai arti simbolis

dari sistem pemerintahan adat Koto Piliang.

(9)

Kedua, Rumah Gadang Rajo Babandiang.

Arsitekturnya tidak mempunyai banyak perbedaan dengan Rumah Gadang Gajah Maharam. Hanya saja atapnya sedikit

lebih tinggi. Bagian dalamnya tidak

mempunyai lantai kira-kira 20 sampai 30 cm (disebut tingkah). Bagian belakang

belakang rumah sepertiganya ada yang

ditinggikan dsebut bandua

(10)

Ketiga, Rumah Gadang Bapaserek. Bapaserek adalah berpereset, maksudnya adalah mempunyai bagian yang diseret. Bagian yang diseret adalah bagian belakang rumah, yaitu beberapa kamar. Jadi kalau diperhatikan dari belakang nampak lebih keluar dari bagian dinding luar anjungnya. Anjung Rumah Gadang ini hanya ada pada sebelah kirinya dan bila anjung

ditinggikan, akan sama keadaannya dengan anjung

Rumah Gadang Rajo Babandiang. Keistimewaannya

ialah bagian yang ditinggikan merupakan tingkat

ketiga, yaitu bagian tengah dari bangunan menurut

panjangnya.

(11)

Ada tiga tahapan dalam mendirikan Rumah Gadang, yaitu pertama,

mencari tonggak tuo (tiang tua) yaitu mencari kayu ke hutan yang dilepas dengan jamuan makan dan doa

semoga apa yang dimaksud tercapai.

Bila kayu sudah didapat diberi tanda (dikatuah) bahwa kayu sudah ada

yang mempunyai.

(12)

Tahapan kedua adalah menegakkan tonggak tuo. Suatu pengetahuan

yang menjadi kebiasaan bagi orang Minang ialah apabila hendak

menebang kayu, dipilih yang tidak berbunga (jangan pada waktu

berbunga). Karena bagaimanapun

tuanya kayu nanti bila dipilih pada

waktu berbunga pasti akan dimakan

rayap.

(13)

Tahapan ketiga dan terakhir adalah upacara menaikkannya.

Kayu yang sudah ditebang, ditarah dan kemudian

dilakukan upacara gotong-royong. Yang laki-laki menarik bersama-sama, yang wanita menyongsong rombongan dengan makanan. Pada hari pertama tonggak tuo ditarik dari hutan sampai ke kampung. Setelah di kampung,

direndam dalam air beberapa, kemudian diadakan upacara

syukuran. Untuk langkah selanjutnya mencari tiang-tiang

yang tidak lagi disertai oleh upacara-upacara. Untukmulai

mendirikan bangunan, dicari penetapan baik-buruknya

hari (manakok hari), disertai upacara makan bersama.

(14)

ORNAMEN RUMAH GADANG

(15)

Makna dan Perlambangan

Tiap-tiap ukiran mempunyai makna dan maksud tersendiri. Hal itu juga berhubungan dengan tempat diletakkannya ukiran tersebut. Berikut adalah arti dari beberapa buah ukiran:

1. Aka Bapilin (akar berpilin). Artinya bahwa tindakan orang Minangkabau tidak ada yang sia-sia,

semuanya harus ada maksud dan tujuan. Oleh karena itu tidak boleh putus asa, karena manusia sudah dibekali dengan akal pikiran untuk memikirkan segala sesuatu yang berguna untuk hidupnya.

2. Kaluak paku (gulungan pucuk pakis muda). Ukiran ini melambangkan tanggung jawab seorang mamak terhadap kemenakan di rumah orang tua, juga sebagai ayah di rumah isteri.

3. Bungo mantimun (bunga mentimun). Ukiran ini menggambarkan bahwa sesuatunya itu harus dibiarkan berkembang sesuai dengan kodratnya. Manusia hanya memelihara supaya perkembangannya jangan terhalang, bahkan harus dipupuk supaya perkembangan yang sudah ada jangan sampai mundur kembali.

4. Daun kacang goreng. Ukiran ini menggambarkan bahwa segala sesuatu yang terdapat di alam memiliki tanda-tanda yang menunjukkan keadaan alam itu sendiri.

5. Daun sirih. Ukiran ini menggambarkan konsep-konsep dalam sistem sosial orang Minangkabau.

6. Bada mudiak (iringan ikan teri ke hulu sungai). Ukiran ini menggambarkan kehidupan yang seia sekata dalam pergaulan masyarakat, tidak terdapat saling pertentangan.

7. Itiak pulang patang (itik pulang sore). Ukiran ini menggambarkan kehidupan yang santai sesudah berusaha dan

bekerja seharian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bermakna keteraturan, ketertiban dan kedisiplinan.

8. Kuciang lalok (kucing tidur). Ukiran ini menggambarkan keadaan orang yang malas seperti kucing tidur.

9. Limpapeh (lipas besar). Ukiran ini menggambarkan bila dalam sebuah rumah adat terdapat anak gadis yang cantik, maka kepadanya diberi nama julukan limpapeh.

10. Ramo-ramo (kupu-kupu). Ukiran ini menggambarkan tentang pusaka Minangkabau yang tetap, tidak berubah dari dahulu sampai sekarang, walaupun para pendukungnya sudah silih berganti. Pusaka Minangkabau yang dimaksudkan adalah adat Minangkabau.

11. Sikambang manih. Ukiran ini bermakna kemeriahan, keramahan, dan kesopanan.

12. Aka cino. Ukiran ini bermakna kehaluasan dan keserasian.

(16)

CONTOH ORNAMEN UKIRAN:

(17)

Perbedaan bahan untuk

dinding penutup kolong

dan ruang utama

(18)

Rumah Gadang yang besar

hanya memiliki satu tangga

di depan dan satu pintu

Referensi

Dokumen terkait

Setelah tukang muda dianggap telah menguasai teknik pertukangan tradisional dan prinsip-prinsip dasar dari bentuk Rumah Gadang yang sesuai dengan falsafah suku Minangkabau

Rumah Gadang sebagai rumah adat suku Minangkabau memiliki ciri khas yang unik dan mudah dikenali, yang menjadi ciri khas utama dari rumah Gadang adalah bentuk dari atapnya

Perbandingan atap, ornamen, serta gubahan massa di bangunan Rumah Gadang pada umumnya terhadap aplikasi bangunan Pusat Budaya adalah sebagai berikut, bangunan

Ragam Hias Ukiran Minangkabau: Sumber Inovasi Batik Sumatera Barat Ukiran Minangkabau pada umumnya banyak terdapat pada rumah gadang, yang.. menjadi rumah

Di ranah Minangkabau ini, tidak saja di kenal satu jenis kepemimpinan, tetapi tiga jenis yang dikenal dengan konsep kepemimpinan Tungku Tigo Sajarangan (tungku tiga sejarangan)

Rumah gadang yang merupakan warisan budaya etnis Minangkabau di kawasan wisata seribu rumah gadang Solok Selatan mengalami transformasi nilai budaya terhadap etnis

Ruangan dalam Rumah Gadang dibagi atas beberapa bagian yaitu didieh yang menghadap ke depan atau bagian depan yang merupakan ruang terbuka, dan didieh yang arah ke dalam

Kawasan Seribu Rumah Gadang merupakan bentuk perkampungan masyarakat Minangkabau di masa lampau yang memiliki peran penting dalam makna dan simbol sentral budaya masyarakat