• Tidak ada hasil yang ditemukan

RYAN ERLANGGA

N/A
N/A
Bung Faqqo

Academic year: 2025

Membagikan "RYAN ERLANGGA"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

1

REDESAIN PASAR SENTRAL DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN DI KABUPATEN BONE

SKRIPSI

Di Susun Sebagai Syarat Dalam Rangka Menyelesaikan Studi Pada Program Sarjana ArsitekturPada Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Sains dan

Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

OLEH :

MUH RYAN ERLANGGA 60100118075

Tim Pembimbing : Eka Oktawati, S.T., M.Ars

Muhammad Ajwad Muzdar. S.T., M.T

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2025

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Menurut Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2007, pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plaza, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya. Seperti yang dinyatakan oleh Basu Swasta dalam Kholis, dkk (1995: 20) bahwa pasar adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk puas, uang untuk belanja, dan kemauan untuk membelanjakannya.

Pasar tradisional termasuk salah satu elemen penting dalam perekonomian daerah yang berfungsi sebagai pusat perdagangan dan interaksi sosial. Pasar Sentral Kabupaten Bone, sebagai pasar utama di wilayah tersebut, memiliki peran strategis dalam menunjang aktivitas ekonomi masyarakat (Chandra & Hantono, 2021). Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kondisi pasar ini mengalami berbagai tantangan, seperti penurunan kualitas infrastruktur, tata kelola yang kurang optimal, serta kurangnya penerapan prinsip-prinsip arsitektur berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan redesain pasar yang mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat serta mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam perencanaannya (Hardiana et al., 2021).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Sudi Fahmi et al., 2021), pasar tradisional di Indonesia menghadapi tantangan dalam hal daya saing dengan pasar modern. Salah satu solusi yang diusulkan adalah perancangan ulang dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan guna meningkatkan e isiensi

(3)

energi dan kenyamanan bagi pedagang serta pengunjung. Di sisi lain, penelitian dari (Kim et al., 2023), di Korea Selatan menyoroti pentingnya penggunaan material ramah lingkungan dalam desain ulang pasar untuk mengurangi dampak lingkungan serta meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Permasalahan utama yang dihadapi Pasar Sentral Kabupaten Bone meliputi keterbatasan sirkulasi udara, kurangnya pencahayaan alami, serta sistem pengelolaan limbah yang belum optimal. Penelitian dari (Chen &

Winata, 2023), menegaskan bahwa salah satu prinsip utama arsitektur berkelanjutan adalah penerapan konsep ventilasi silang dan pencahayaan alami guna mengurangi konsumsi energi listrik. Sementara itu, studi dari (Bao

& Lu, 2020), di Tiongkok menunjukkan bahwa pengelolaan limbah yang berbasis konsep ekonomi sirkular dapat meningkatkan e isiensi dalam pemanfaatan sumber daya serta mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekitar.

Kepala Dinas Perdagangan Bone, Hamza Sanusi, menekankan perlunya pembenahan pasar dan penataan pedagang yang berjualan di pinggir jalan.

Namun, hingga saat ini, belum ada anggaran yang diajukan untuk pembenahan tersebut. Pemerintah Kabupaten Bone telah mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah pusat untuk renovasi pasar ini, terutama setelah kunjungan Presiden dan Menteri PUPR ke Bone (Dandi et al., 2023).

Pj Bupati Bone, Andi Islamuddin, menyatakan bahwa Presiden menyatakan untuk membenahi pasar tersebut. Selain itu, kondisi pasar yang buruk juga menimbulkan masalah sosial, seperti rawannya kawasan tersebut menjadi area kriminal pada malam hari. Beberapa temuan menunjukkan bahwa area tersebut disinyalir menjadi salah satu lokasi prostitusi di Bone.

(4)

Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa beberapa jalan di pasar dipenuhi oleh genangan lumpur, sehingga kendaraan kesulitan mengakses area tersebut.

Salah seorang pedagang buah, Atirah, mengungkapkan bahwa kondisi jalan tidak pernah bagus; saat musim kemarau, jalan kerap dilanda debu akibat aspal yang rusak parah (Dandi et al., 2023).

Selain aspek lingkungan, keberlanjutan dalam desain pasar juga harus mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi. Studi yang dilakukan oleh (Wismoyo et al., 2023), mengungkapkan bahwa pasar tradisional yang didesain dengan mempertimbangkan aspek inklusivitas sosial memiliki dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar. Sebagai perbandingan, penelitian oleh (Abernethy et al., 2007), di Spanyol

`meningkatkan interaksi sosial serta memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas lokal.

Pasar tradisional yang didesain ulang dengan mempertimbangkan e isiensi tata ruang dan manajemen distribusi dapat meningkatkan daya saingnya terhadap pasar modern. Menurut (Fuadi et al., 2021), desain pasar yang mengadopsi pendekatan smart market dengan penggunaan teknologi berbasis digital dapat memperbaiki sistem manajemen logistik serta meningkatkan kesejahteraan pedagang. Hal ini sejalan dengan temuan dari (saeed farahat et al., 2022), yang menekankan pentingnya integrasi teknologi dalam pengelolaan pasar tradisional guna meningkatkan daya saingnya di era digital.

Faktor keberlanjutan dalam desain pasar juga perlu mempertimbangkan ketahanan terhadap bencana. Studi yang dilakukan oleh (Rachman & Hidayati, 2022), menunjukkan bahwa penerapan desain berbasis mitigasi bencana, seperti penggunaan struktur tahan gempa dan sistem

(5)

drainase yang baik, dapat meningkatkan ketahanan pasar terhadap risiko bencana alam. Hal ini diperkuat oleh penelitian dari (Bhoge, 2019), Amerika Serikat yang menyoroti pentingnya desain berbasis resilience untuk menciptakan pasar yang dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan sosial.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa redesain Pasar Sentral Kabupaten Bone dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan tidak hanya penting untuk meningkatkan kualitas lingkungan isik pasar, tetapi juga untuk memperkuat daya saing ekonomi dan menciptakan ruang yang lebih inklusif secara sosial. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan konsep desain yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi guna menciptakan pasar yang lebih modern, e isien, dan berdaya saing tinggi (Tonote et al., 2021).

Pendekatan yang digunakan akan mengadopsi berbagai teori dan praktik terbaik yang telah diterapkan dalam desain pasar berkelanjutan di berbagai negara. Dengan demikian, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan dan strategi perancangan pasar tradisional di Indonesia, khususnya dalam konteks Kabupaten Bone (Laune et al., 2022).

Berdasarkan mempertimbangkan berbagai aspek yang telah diuraikan, penelitian ini akan berfokus pada perancangan ulang Pasar Sentral Kabupaten Bone dengan prinsip-prinsip arsitektur berkelanjutan guna menciptakan pasar yang tidak hanya nyaman dan e isien, tetapi juga ramah lingkungan dan berdaya saing di era globalisasi.

(6)

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah Bagaimana Meredesain Pasar Sentral Kabupaten Bone menggunakan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan?

C. Tujuan Dan Sasaran

1. Tujuan Pembahasan

Untuk mendapatkan Redesain Pasar Sentral Dengan Konsep Arsitektur Berkelanjutan di Kabupaten Bone.

2. Sasaran Pembahasan

Sasaran yang ingin dicapai oleh penulis pada perencanaan Redesain Pasar Sentral Dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan Di Kabupaten Bone, yaitu sebagai berikut:

a. Pengolahan tapak yang baik dan benar untuk menghasilkan siteplan.

b. Pemprograman ruang dalam site yang sesuai dengan kelompok kegiatan yang dapat menghasilkan denah.

c. Pengolahan kembali bentuk bangunan pasar sentral berdasarkan konsep desain arsitektur.

d. Pengolahan sarana penunjang dan kelengkapan pasar.

e. Pengolahan fasad bangunan sesuai berdasarkan fungsinya dengan konsep Arsitektur Berkelanjutan.

D. Ruang Lingkup dan Batasan masalah

1. Ruang lingkup pada penelitian ini, antara lain:

a. Ruang Lingkup lokasi: Penelitian dilakukan di Pasar Sentral Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

(7)

b. Perancangan: Penerapan prinsip arsitektur berkelanjutan, yang meliputi e isiensi energi, pengelolaan air dan limbah, pemanfaatan material ramah lingkungan, serta peningkatan kualitas lingkungan pasar.

c. Teknis dan struktural: Evaluasi struktur eksisting dan kebutuhan perbaikan guna meningkatkan keamanan serta ketahanan terhadap bencana.

Pengembangan desain yang mempertimbangkan aspek ergonomi, sirkulasi udara, dan pencahayaan alami untuk menciptakan pasar yang lebih sehat dan nyaman.

d. Lingkungan dan Keberlanjutan: Kajian sistem drainase dan pengelolaan air hujan untuk mengatasi masalah banjir dan genangan di sekitar pasar.

Penerapan sistem pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular guna meminimalkan dampak lingkungan. Pemanfaatan energi terbarukan seperti penerapan teknologi hijau dalam desain pasar.

1. Batasan Masalah

Adapun batasan masalah lebih difokuskan pada hal-hal, sebagai berikut:

a. Me-Redesain Pasar Sentral Di Kabupaten Bone dengan menerapkan konsep Arsitektur Berkelanjutan pada bangunan utama dengan melakukan beberapa penyesuaian berdasarkan e isiensi energi, penggunaan material ramah lingkungan, kualitas udara dalam ruangan, serta dampak sosial dan ekonomi dari bangunan tersebut.

b. Fungsi pasar sebagai pusat interaksi publik.

E. Metode Pembahasan

Adapun metode pembahasan yang digunakan dalam penulisan ini, yaitu sebagai berikut:

1. Metode Pengumpulan Data

(8)

a. Survey lapangan dengan mengumpulkan informasi

mengenai potensi-potensi sosial ekonomi dan lingkungan isik yang mampu mendukung konsep perancangan Pasar Sentral Bone.

b. Studi literatur yaitu berupa pengumpulan data terkait Redesain Pasar Sentral Bone.

c. Studi banding yaitu dengan menganalisis beberapa contoh bangunan sejenis sebagai suatu bahan perbandingan untuk mendaptkan konsep rancangan dan pemahaman tentang faktor pendukung teknis bangunan.

2. Metode Analisis Data

Metode analisis data merupakan proses pengelolaan dan mengatur data-data yang telah diperoleh dengan cara deskriptif untuk menjadi pedoman perencanaan dan perancangan yang disajikan dalam bentuk gambar dan maket.

3. Hasil Pembahasan

Hasil dari analisis data yang kemudian diaplikasikan ke dalam desain, berupa acuan perancangan, gambar, maket, dan laporan perancangan Pasar Sentral Bone.

F. Sistematika Pembahasan

Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan sesuai denga tuntutan permasalahan yang ada, maka pembahasan ini dijabarkan dalam beberapa tahap dengan sistematika pembahasan sebagai berikut:

BAB I : merupakan uraian tentang pembahasan latar belakang, rumusan

masalah, tujuan dan sasaran pembahasan, metode pembahasan,

dan sistematika pembahasan.

BAB II : merupakan uraian tentang tinjauan pustaka yang bersifat umum

(9)

hingga khusus berkaitan dengan judul, analisis beberapa studi banding, dan integritas keislaman.

BAB III : merupakan uraian tentang tinjuan khusus yang menganalisis

secara jelas kondisi lokasi secara umum yang dikhususkan pada lokasi, dan menganalisis pelaku, kegiatan serta kebutuhan ruang.

BAB IV : merupakan uraian tentang pendekatan konsep perancangan yakni analisis tapak denga menerepakan arsitektur vernakuler pada Redesain Pasar Sentral pada kabupaten Bone.

BAB V : merupakan uraian tentang transformasi konsep yakni transformasi konsep tapak, massa bangunan, bentuk struktur, dan elemen-elemennya.

BAB VI : merupakan uraian tentang aplikasi desain yaitu kesimpulan dari seluruh proses pendekatan idel desain yang meliputi desain tapak, bentuk, dokumentasi, dan desain banner.

(10)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Judul

Berikut ini penjelasan mengenai de inisi dan kajian pustaka mengenai Redesain Pasar Sentral Bone.

1. Redesain

Devinisi Redesain adalah kegiatan perencanaan dan perancangan kembali suatu perubahan sehingga terjadi perubahan isik tanpa merubah fungsinya melalui perluasan maupun pemindahan lokasi.

Menurut Depdikbud,1996, redesign terdiri dari 2 kata, yaitu re dan design. Dalam bahasa inggris, penggunaan kata re mengacu pada pengulangan atau melakukan kembali, sehingga redesain dapat diartikan sebagai mendesain ulang.

Menurut Churchman and Ackolt dalam Irfan Redesain adalah suatu proses untuk menentukan tindakan- tindakan di masa depan yang sesuai, melalui suatu tahapan pemilihan.

Dari de inisi di atas dapat ditarik kesimpulkan bahwa redesain mengandung pengertian merancang kembali suatu objek yang telah ada, sehingga terjadi perubahan penampilan pada objek tersebut.

2. Pasar Sentral

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Tahun 1995 (KBBI, 1995), pasar adalah tempat orang berjual beli. Sedangkan, de inisi lain menurut KBBI Pasar adalah kekuatan penawaran dan permintaan, tempat penjual yang ingin menukar barang atau jasa dengan uang dan pembeli yang ingin menukar uang denga barang atau jasa.

(11)

Sedangkan menurut Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor : 53/M-DAG/PER/12/2008 Pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu. Juga dijelaskan bahwa Pasar adalah tempat yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar. . Sedangkan menurut (KBBI,2008), defenisi kata sentral adalah pusat dari suatu tempat maupun wilayah. Jadi, defenisi dari Pasar Sentral adalah area pusat jual beli dengan beberapa penjual dan pembeli di suatu wilayah.

3. Pendekatan

Pendekatan adalah proses,perbuatan,atau cara mendekati (KBBI,1995).

4. Arsitektur Berkelanjutan

arsitektur berkelanjutan adalah salah satu strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan dan ekosistem, direncanakan dan dibangun dengan menggunakan inovasi ekonomi dan kerangka energy yang tepat, bahan struktur yang dapat dikelola, dan bahan struktur yang tidak membebani generasi mendatang.( Gitra Febriadi,2023)

5. Bone

salah satu Daerah otonom di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia yang pada awalnya Ibu kota kabupaten ini terletak di Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang. Berdasarkan data Kabupaten Bone Dalam Angka Tahun 2021 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone,

(12)

jumlah penduduk kabupaten Bone tahun 2021 adalah 801.775 jiwa, terdiri atas 391.682 laki-laki dan 410.093 perempuan. Dengan luas wilayah Kabupaten Bone sekitar 4.559,00 km², rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Bone adalah 162 jiwa/km². (wikipedia,2025)

B. Tinjauan Umum Terhadap Pasar

1. Pembagian jenis pasar antara lain : a. Klasi ikasi Pasar

1) Pasar Tradisional

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari.

2) Pasar Modern

Pasar modern tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar jenis ini penjual dan pembeli tidak bertransakasi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga.

b. Pasar Menurut Luas Jangkauan 1) Pasar Daerah

Pasar Daerah membeli dan menjual produk dalam satu daerah produk itu dihasilkan. Bisa juga dikatakan pasar daerah melayani permintaan dan penawaran dalam satu daerah

2) Pasar Lokal

(13)

Pasar lokal adalah pasar yang membeli dan menjual produk dalam satu kota tempat produk itu dihasilkan. Bisa juga dikatakan pasar lokal melayani permintaan dan penawaran dalam satu kota.

3) Pasar Nasional

Pasar nasional adalah pasar yang membeli dan menjual produk dalam satu negara tempat produk itu dihasilkan. Bisa juga dikatakan pasar nasional melayani permintaan dan penjualan dari dalam negeri.

4) Pasar Internasional

Pasar internasional adalah pasar yang membeli dan menjual produk dari beberapa negara.Bisa juga dikatakan luas jangkauannya di seluruh dunia.

c. Pasar Menurut Barang Yang Diperjual belikan 1) Pasar Barang Konsumsi

Pasar barang konsumsi adalah pasar yang menjual barang-barang yang dapat langsung dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Misalnya, pasar yang memperjualbelikan beras, ikan, sayursayuran, buah-buahan, alat-alat rumah tangga, pakaian, dan lain sebagainya.

2) Pasar Barang Produksi

Pasar barang produksi adalah pasar yang memperjualbelikan faktorfaktor produksi. Dalam pasar ini diperjualbelikan sumber daya produksi.

Misalnya, pasar mesin-mesin, pasar tenaga kerja, dan pasar uang.

d. Pasar Menurut Wujud 1) Pasar Konkret

Pasar Konkret adalah tempat pertemuan antara penjual dan pembeli yang dilakukan secara langsung. Misalnya ada los-los, toko-toko dan lain- lain.Di pasar konkret, produk yang dijual dan dibeli juga dapat dilihat dengan

(14)

kasat mata.Konsumen dan produsen juga dapat dengan mudah dibedakan.contohnya adalah: pasar sayuran, pasar daging, pasar tradisional, dan lain sebagainya,

2) Pasar Abstrak

Pasar Abstrak adalah pasar yang lokasinya tidak dapat dilihat dengan kasat mata.konsumen dan produsen tidak bertemu secara langsung. Biasanya dapat melalui internet, pemesanan telepon dan lain-lain.Barang yang diperjual belikan tidak dapat dilihat dengan kasat mata, tapi pada umumnya melalui brosur, rekomendasi dan lain-lain.Kita juga tidak dapat melihat konsumen dan produsen bersamaan, atau bisa dikatakan sulit membedakan produsen dan konsumen sekaligus. Contoh : Pasar Modal, Bursa Saham, Telemarket, dan lain- lain.

e. Pasar Menurut Waktu Penyelenggaraan 1) Pasar Harian

Pasar harian adalah pasar yang kegiatan jual belinya dilakukan tiap hari. Pasar harian ini umumnya terdapat di desa dan kota.

2) Pasar Mingguan

Pasar mingguan adalah pasar yang kegiatan jual belinya hanya satu kali dalam seminggu. Pasar mingguan ini terdapat di daerah-daerah pedesaan.

3) Pasar Bulanan

Pasar bulanan adalah pasar yang kegiatan jual belinya dilakukan setiap sebulan sekali.

4) Pasar Tahunan

Pasar tahunan adalah pasar yang kegiatan jual belinya dilakukan setiap setahun sekali.

(15)

2. Kriteria pasar sesuai dengan jenis dagangannya a. Golongan A

Barang yang diperjual belikan berupa logam mulia, batu mulia, permata, tekstil, kendaraan bermotor, kebutuhan sehari-hari dan yang dipersamakan. Jasa: penukaran uang (money changer), perbankan dan yang dipersamakan.

b. Golongan B

Barang yang diperjual belikan berupa pakaian/sandang, pakaian tradisional, pakaian pengantin, aksesoris pengantin, sepatum sandal, tas, kacamata, arloji, aksesoris, souvenir, kelontong, barang pecah belah, barang plastik, obat- obatan, bahan kimia, bahan bangunan bekas/baru, dos, alat tulis, daging, bumbu, ikan basah, ikan asin, dan yang dipersamakan. Jasa: wartel, titipan kilat, salon, kemasan, agen tiket, koperasi, penitipan barang, jasa timbang, dan yang dipersamakan.

c. Golongan C

Barang yang dijual berupa beras, ketan, palawija, jagung, ketela, terigu, gula, telur, minyak goreng, susu, garam, bumbu, berbagai jenis maknan, melinjo, kripik emping, kering-keringan mentah, mie, minuman, teh, kopi, buah-buahan, kolang kaling, sayur mayur, kentang, jajanan, bahan jamu tradisonal, tembakau, bumbu rokok, kembang, daun, unggas hidup, hewan peliharaan, makanan hewan, sangkar, obat-obatan hewan, tanaman hias, pupuk, obat tanaman, pot, ikan hias, akuarium, elektronik baru/bekas, onderdil baru/bekasalat pertukangan baru/bekas, alat pertanian baru/bekas, kerajinan anyaman,gerabah, ember, seng, kompor minyak, sepeda baru/bekas, goni, karung gandum, majalah baru/bekas, koran, arang, dan yang

(16)

dipersamakan. Jasa penjahit, tukang cukur, sablon, gilingan dan yang dipersamakan.

d. Golongan D

Barang yang diperjual belikan berupa rombengan, rongsokan, kertas bekas, koran bekas, dan yang dipersamakan. Jasa: sol sepatu, jasa patri, dan yang dipersamakan.

1. Kegiatan Pasar

a. Kegiatan penyaluran materi perdagangan.

1) Sirkulasi, transportasi, dan dropping barang.

2) Distribusi barang dagangan ke setiap unit penjualan di pasar.

b. Kegiatan pelayanan jual-beli meliputi :

1) Kegiatan jual-beli antara pedagang dengan konsumen.

2) Kegiatan penyimpanan barang dagangan

c. Kegiatan pergerakan dan perpindahan penghujung : 1) Dari luar lingkungan ke dalam bangunan pasar

2) Dari unit penjualan ke unit penjualan

d. Kegiatan pelayanan servis atau penunjang : 1) Pelayanan bank

2) Pelayanan pembersihan 3) Pelayanan pemeliharaan

2. Komponen Pasar (Pelaku Kegiatan) a. Pedagang

(17)

Pedagang pasar adalah pihak ketiga yang melakukan kegiatan dengan menjual atau membeli barang dan atau jasa yang menggunakan pasar sebagai tempat kegiatannya.

b. Pembeli

Pembeli atau konsumen pasar adalah semua golongan yang datang dengan tujuan untuk mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya dengan harga murah dan dengan pelayanan langsung.

c. Penunjang-Penunjang pasar yaitu

Pemerintah sebagai pemberi izin berdirinya dan beroperasinya pasar, Swasta pedagang penyewa tempat, pekaksana pembangunan pasar, Pengelola melaksanakan pembangunan, pengelola pemasaran tempat, dan pengelola kebersihan.

3. Elemen-Elemen Pasar

Penampilan dan nuansa keseluruhan dari pusat perbelanjaan dapat membuat pasar tersebut menonjol di antara pesaingnya. Adapun elemen- elemen pasar adalah sebagai berikut ini :

a. Ruang dagang

1) Toko/kios dibuat tidak menutupi arah angin.

2) Los harus dibuat modular.

3) Jongko/konter/pelataran berada pada area yang sudah ditentukan yang tidak mengganggu akses keluar masuk pasar dan tidak menutupi pandangan toko/kios atau los.

b. Aksesibilitas

(18)

1) Seluruh fasilitas harus bisa diakses dan dimanfaatkan oleh semua orang, termasuk penyandang cacat, dan lansia.

2) Akses kendaraan bongkar muat barang, harus berada di lokasi yang tidak menimbulkan kemacetan.

3) Pintu masuk dan sirkulasi harus disediakan untuk menjamin ketercapaian semua fasilitas di dalam pasar, baik ruang dagang maupun fasilitas umum, termasuk untuk menanggulangi bahaya kebakaran.

c. Zonasi

Penataan zonasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) Dikelompokkan secara terpisah untuk bahan pangan basah, bahan pangan kering, siap saji, non pangan, dan tempat pemotongan unggas hidup.

2) Memiliki jalur yang mudah diakses untuk seluruh konsumen dan tidak menimbulkan penumpukan orang pada satu lokasi tertentu.

3) Tersedia papan nama yang menunjukkan keterangan lokasi zonasi.

d. Area parkir

1) Tersedia area parkir yang proporsional dengan area pasar.

2) Tersedia pemisah yang jelas antara area parkir dengan wilayah ruang dagang.

3) Memiliki tanda masuk dan keluar kendaraan yang jelas dan dibedakan antara jalur masuk dan keluar.

4) Area parkir dipisahkan berdasarkan jenis alat angkut, seperti: mobil, motor, sepeda, dan becak.

(19)

5) Memiliki area yang rata, tidak menyebabkan genangan air dan mudah dibersihkan.

e. Area bongkar muat

1) Area bongkar muat sebaiknya terpisah dari tempat parkir pengunjung.

Khusus setelah digunakan untuk kegiatan bongkar muat hewan hidup, area yang digunakan harus dibersihkan dengan metode tertentu.

2) Akses area bongkar muat harus berbeda di lokasi yang tidak menimbulkan kemacetan.

f. Koridor/gangway

Koridor/gangway dapat memberikan kemudahan untuk sirkulasi pedagang dan pembeli, termasuk penyandang cacat, dalam melakukan kegiatan transaksi dan keluar masuk barang dari area bongkar muat ke toko/kios, los, maupun /konter/pelataran.

g. Pos ukur ulang dan sidang tera

1) Tersedia alat ukur, takar, dan timbang yang sudah ditera/ tera ulang dan masih berlaku, serta ada penandaan untuk digunakan konsumen dan/atau pedagang secara mandiri guna memeriksa barang yang dibeli dan/atau diperdagangkan.

2) Tersedia ruangan permanen atau menggunakan fasilitas lainnya yang memiliki lantai datar dan terlindung dari hujan untuk menyelenggarakan kegiatan sidang tera/ tera ulang.

h. Kantor pengelola

1) Merupakan ruangan tetap yang dapat berada di area pasar atau di luar area pasar.

(20)

2) Lokasi kantor pengelola harus mudah dicapai oleh pengunjung maupung pedagang.

3) Tersedia Standard Operating Procedures (SOP) yang mendeskripsikan tugas, cara kerja dan alur kerja setiap jabatan. SOP terdokumentasi dengan baik dan mudah diakses oleh pihak yang berwenang.

i. Toilet/kamar mandi

1) Tersedia toilet laki-laki dan perempuan yang terpisah dilengkapi tanda atausimbol.

2) Toilet terjaga kebersihannya dan letaknya terpisah dari tempat penjualan.

3) Pada toilet tersedia jamban leher angsa dilengkapi dengan tempat penampungan air.

4) Tersedia ventilasi dan pencahayaan yang memadai.

5) Penampungan air yang disediakan harus bersih dan bebas jentik.

6) Tersedia tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun dan air mengalir.

7) Limbah toilet/kamar mandi dibuang ke septic tank atau lubang peresapan yang tidak mencemari air tanah.

8) Lantai dibuat tidak licin dan mudah dibersihkan.

9) Tersedia tempat sampah yang kedap air, tertutup dan mudah diangkat.

j. Ruang menyusui

Ruang menyusui harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) Tersedia ruangan tersendiri yang nyaman dan tertutup.

(21)

2) Tersedia fasilitas untuk menyimpan ASI.

3) Tersedia wastafel dengan air mengalir untuk cuci tangan dan mencuci peralatan.

4) Lantai ruangan memiliki permukaan yang rata, tidak licin, tidak mudah retak, mudah dibersihkan dan terbuat dari bahan yang kedap air.

5) Memiliki ventilasi dan sirkulasi udara.

6) Penerangan dalam ruangan cukup dan tidak menyilaukan.

k. CCTV

1) Ditempatkan di lokasi yang dapat memantau seluruh kegiatan pasar.

2) Pemantauan CCTV hanya dapat diakses oleh pengelola pasar.

3) Tidak ditempatkan pada wilayah yang bersifat pribadi misalnya toilet, kamar mandi, dan ruang menyusui.

l. Ruang peribadatan

Tersedia ruang untuk melakukan ibadah yang memadai pada area pasar.

m. Ruang bersama

Tersedia ruang bersama yang digunakan untuk kegiatan komunitas pasar.

n. Pos kesehatan

Tersedia fasilitas pelayanan kesehatan untuk pengguna pasar dalam menanggulangi keadaan darurat, minimal Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).

o. Pos keamanan

(22)

Tersedia pos keamanan yang memadai pada area pasar.

p. Area merokok

Tersedia ruang untuk merokok yang memenuhi syarat kesehatan.

q. Area penghijauan

Area penghijauan yang memadai harus tersedia pada area pasar.

r. Keselamatan dalam bangunan

1) Memiliki prosedur keselamatan pengguna bangunan dari kondisi darurat.

2) Tersedia jalur-jalur evakuasi dan titik kumpul (assembly point) untuk kondisi darurat sesuai standar keselamatan pada bangunan.

3) Tersedia sistem pencegahan bahaya kebakaran.

4) Perencanaan bangunan harus mengakomodasi kemungkinan metradisionalisasi bagian bangunan yang terbakar untuk melindungi bagian bangunan lainnya.

s. Pencahayaan

Bangunan harus memiliki pencahayaan alami atau pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya dengan persyaratan tertentu untuk pencahayaan umum.

t. Sirkulasi udara

Sistem sirkulasi udara harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) Bangunan harus mempunyai ventilasi alami atau buatan sesuai dengan fungsinya.

2) Bukaan saluran ventilasi harus dirancang untuk menghindari gangguan hewan.

(23)

3) Teknis sistem ventilasi harus terdiri dari bukaan permanen, seperti jendela, pintu atau sarana lain yang dapat dibuka.

u. Drainase

Drainase harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) Ditutup dengan kisi sehingga saluran mudah dibersihkan.

2) Memiliki kemiringan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sehingga mencegah genangan air.

3) Tidak ada bangunan los/kios di atas saluran drainase.

v. Ketersediaan air bersih

Penyediaan air bersih harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a) Jaringan air bersih harus disediakan untuk melayani kebutuhan pengguna dan kapasitasnya harus dihitung menurut jenis dan jumlah pengguna.

b) Tersedia air bersih yang ditempatkan penampungan air dilengkapi dengan kran supaya air bisa mengalir.

c) Tersedia instalasi air bersih pada area bahan pangan basah.

d) Pemeriksaan kualitas air bersih dilakukan melalui pengujian secara berkala.

w. Pengelolaan air limbah

1) Direncanakan dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya serta memisahkan pembuangan air limbah yang mengandung bahan beracun dan berbahaya dengan air limbah domestik.

(24)

2) Limbah cair harus diolah terlebih dahulu dengan persyaratan tertentu sebelum dibuang ke saluran pembuangan umum.

3) Tersedia saluran pembuangan limbah tertutup yang tidak melewati area penjualan.

x. Pengelolaan sampah

Terjadinya pewadahan sampah sementara agar tidak menumpuk di dalam area pasar.

y. Sarana telekomunikasi

Sarana telekomunikasi berfungsi sebagai penunjang ketersediaan informasi harus tersedia di kantor pengelola.

C. Tinjauan Umum Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan (Sustainable)

1. Pengertian Arsitektur Berkelanjutan

Arsitektur berkelanjutan atau sustainable architecture adalah konsep perancangan bangunan yang bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, mengoptimalkan e isiensi energi, dan menciptakan ruang yang nyaman serta sehat bagi penghuninya. Konsep ini berkembang sebagai respons terhadap perubahan iklim, konsumsi sumber daya yang berlebihan, serta kebutuhan akan lingkungan binaan yang lebih ramah lingkungan. Arsitektur berkelanjutan tidak hanya memperhatikan aspek isik bangunan, tetapi juga mencakup strategi dalam perencanaan kota, pengelolaan sumber daya, dan keterlibatan komunitas dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik (De Gregorio et al., 2023).

Prinsip utama arsitektur berkelanjutan mencakup e isiensi energi, penggunaan material ramah lingkungan, pengelolaan limbah yang baik, serta desain yang adaptif terhadap kondisi iklim setempat. Salah satu pendekatan

(25)

yang sering diterapkan adalah penggunaan ventilasi alami dan pencahayaan pasif untuk mengurangi ketergantungan pada energi listrik. Selain itu, pemanfaatan teknologi energi terbarukan seperti panel surya, sistem pengolahan air hujan, serta vegetasi hijau pada bangunan juga menjadi bagian penting dari arsitektur berkelanjutan. Dengan penerapan prinsip-prinsip ini, sebuah bangunan dapat berfungsi secara optimal dengan konsumsi energi yang lebih rendah (Mu’min, 2020).

Selain aspek lingkungan, arsitektur berkelanjutan juga mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi. Bangunan yang dirancang dengan konsep ini diharapkan dapat menciptakan ruang yang inklusif, nyaman, dan sehat bagi penggunanya. Dalam konteks ekonomi, arsitektur berkelanjutan dapat membantu mengurangi biaya operasional bangunan dalam jangka panjang melalui e isiensi energi dan pemanfaatan material lokal yang lebih murah serta tahan lama. Selain itu, pembangunan berkelanjutan juga membuka peluang bagi industri lokal dalam penyediaan bahan bangunan yang ramah lingkungan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pembangunan yang berkelanjutan (Noviana, 2020).

Dalam perkembangannya, berbagai standar dan serti ikasi telah dikembangkan untuk mengukur tingkat keberlanjutan sebuah bangunan.

Beberapa serti ikasi internasional yang umum digunakan adalah LEED (Leadership in Energy and Environmental Design), BREEAM (Building Research Establishment Environmental Assessment Method), dan Green Building Council Indonesia (GBCI) dengan standar Greenship untuk bangunan di Indonesia.

Standar ini menilai bangunan berdasarkan e isiensi energi, penggunaan

(26)

material ramah lingkungan, kualitas udara dalam ruangan, serta dampak sosial dan ekonomi dari bangunan tersebut (Lee, 2020).

Dengan meningkatnya kesadaran global terhadap isu lingkungan, penerapan arsitektur berkelanjutan semakin menjadi prioritas dalam industri konstruksi dan perencanaan kota. Banyak kota di dunia telah mengadopsi kebijakan pembangunan hijau guna mengurangi emisi karbon serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi penduduknya. Di Indonesia, konsep ini mulai diterapkan dalam berbagai proyek infrastruktur publik, termasuk gedung perkantoran, perumahan, dan pasar tradisional. Dengan terus berkembangnya inovasi dan teknologi dalam bidang ini, arsitektur berkelanjutan akan semakin menjadi standar utama dalam menciptakan lingkungan binaan yang lebih baik bagi generasi mendatang (Lami & Mecca, 2021).

2. Karakteristik Arsitektur Berkelanjutan a. Dalam e isiensi penggunaan energi:

1) Memanfaatkan sinar matahari untuk pencahayaan alami secara maksimal pada siang hari, untuk mengurangi penggunaan energi listrik 2) Memanfaatkan penghawaan alami sebagai ganti pengkondisian udara

buatan (air conditioner)

3) Menggunakan ventilasi dan bukaan, penghawaan silang, dan caracara inovatif lainnya

4) Memanfaatkan air hujan dalam cara-cara inovatif untuk menampung dan mengolah air hujan untuk keperluan domestic

5) Memanfaatkan air hujan dalam cara-cara inovatif untuk menampung dan mengolah air hujan untuk keperluan domestic

(27)

6) Konsep efisiensi penggunaan energi seperti pencahayaan dan penghawaanalami merupakan konsep spesifik untuk wilayah dengan iklim tropis.

b. Dalam e isiensi penggunaan lahan

1) Menggunakan seperlunya lahan yang ada, tidak semua lahan harus dijadikan bangunan, atau ditutupi dengan bangunan, karena dengan demikian lahan yang ada tidak memiliki cukup lahan hijau dan taman.

Menggunakan lahan secara efisien, kompak dan terpadu

2) Menggunakan seperlunya lahan yang ada, tidak semua lahan harus dijadikan bangunan, atau ditutupi dengan bangunan, karena dengan demikian lahan yang ada tidak memiliki cukup lahan hijau dan taman.

Menggunakan lahan secara efisien, kompak dan terpadu

3) Menggunakan seperlunya lahan yang ada, tidak semua lahan harus dijadikan bangunan, atau ditutupi dengan bangunan, karena dengan demikian lahan yang ada tidak memiliki cukup lahan hijau dan taman.

Menggunakan lahan secara efisien, kompak dan terpadu

4) Menghargai kehadiran tanaman yang ada di lahan, dengan tidak mudah menebang pohon-pohon, sehingga tumbuhan yang ada dapat menjadi bagianuntuk berbagi dengan bangunan

5) Dalam perencanaan desain, pertimbangkan berbagai hal yang dapat menjadi tolak ukur dalam menggunakan berbagai potensi lahan, misalnya; daerah peruntukan lokasi bangunan berada yang harus sesuai dengan RTRK/RTRW rencana tata ruang kota.

(28)

c. Dalam e isiensi penggunaan material

1) Memanfaatkan material sisa untuk digunakan juga dalam pembangunan,sehingga tidak membuang material, misalnya kayu sisa, botol plastik dan material lainya dapat digunakan untuk bagian lain bangunan

2) Memanfaatkan material bekas untuk bangunan, dengan metode daur ulang agar dapat digunakan kembali.

d. Dalam penggunaan teknologi dan material baru

1) Memanfaatkan potensi energi terbarukan seperti energi angin, cahaya matahari dan air untuk menghasilkan energi listrik domestik untuk rumah tangga dan bangunan lain secara independen

2) Memanfaatkan material baru melalui penemuan baru yang secara global dapat membuka kesempatan menggunakan material terbarukan yang cepat diproduksi, murah dan terbuka terhadap inovasi, misalnya bambu

e. Dalam e isiensi penggunaan material

1) Memanfaatkan material sisa untuk digunakan juga dalam pembangunan,sehingga tidak membuang material, misalnya kayu sisa, botol plastik dan material lainya dapat digunakan untuk bagian lain bangunan

2) Memanfaatkan material bekas untuk bangunan, dengan metode daur ulang agar dapat digunakan kembali.

f. Dalam manajemen limbah

(29)

1) Membuat sistem pengolahan limbah domestik seperti air kotor (black water,grey water) yang mandiri dan tidak membebani sistem aliran air kota

2) Cara-cara inovatif yang patut dicoba seperti membuat sistem dekomposisilimbah organik agar terurai secara alami dalam lahan, membuat benda-bendayang biasa menjadi limbah atau sampah domestik dari bahan-bahan yang dapatdidaur ulang atau dapat dengan mudah terdekomposisi secara alami.

D. Studi Preseden

Berikut adalah contoh pasar yang berada di Indonesia yang menerapkan konsep tradisional, dengan sistem pengelolan yang lebih baik dari beberapa pasar lainnya. Adapun pasar yang dimaksud sebagai berikut:

1. Pasar Sindhu di Denpasar

Pasar Sindhu terletak di Jalan Danau Tamblingan, Sanur, Denpasar.

Pasar ini telah ditata secara modern dan rapi untuk mampu bersaing dengan pasar-pasar modern.

Gambar 2.1 Pasar sindhu bali Sumber : Detitravel.com

(30)

Pasar Sindhu sudah menjadi roda perekonomian warga Sanur dari dahulu dan menjadi identitas kehidupan masyarakan Sanur. Dengan alasan sudah tua, pasar ini kemudian diredesain dan diresmikan pada tanggal 4 Agustus 2010 oleh menteri perdagangan RI Mari Elka Pangestu.

a. Fasilitas Pasar Sindhu

Pasar Sindhu dibangun di atas tanah seluas 5.200 m2 yang terbagi atas fasilitas bangunan utama dan fasilitas bangunan penunjang. Bangunan utama memiliki luas 3700 m2 dan sisanya difungsikan sebagai penunjang bangunan pasar tersebut.

Gambar 2.1 layout pasar sindu Sumber : gita,2019

Adapun fasilitas utama dan fasilitas penunjang pasar ini adalah sebagai berikut:

1) Fasilitas Utama

Fasilitas Utama pasar ini terbagi atas 80 unit toko dan 150 unit los.

Pedagang yang menggunakan toko memiliki komoditas barang berbeda-beda seperti toko dupa, makanan, sarana upacara, makanan kecil/snack, busana maupun kosmetik. Pedagang pada los pasar ini dikelompokkan sesuai dengan jenis dagangannya.

(31)

2) Fasilitas Penunjang

Fasilitas penunjang dari pasar terdiri dari toilet, pos satpam, kantor pengelola, areal parkir motor maupun mobil, pura melanting, pos keamanan, CCTV, alat pemadam api ringan (APAR), tempat penampungan sementara (TPS), loading dock dan pengolahan limbah terpadu.

a) Fasilitas Toilet

Fasilitas toilet pada pasar ini terdapat pada 2 tempat, yaitu toilet yang berada di luar pasar, dan toilet pada dalam pasar.

b) Fasilitas Pos Satpam

Pos satpam ini ditempatkan ditengah-tengah dari gate pasar ini.

c) Entrance

Pada Pasar Sindhu menggunakan konsep 2 pintu yaitu pintu masuk dan pintu keluar. Tidak ada side entrance pada pasar ini sehingga semua akses keluar masuk barang dan manusia melalui entrance ini.

d) Kantor Pengelola Pasar

Kantor pengelola tersebut merupakan suatu ruangan yang difungsikan untuk mengurus administrasi pada pasar ini, dilengkapi dengan ruang kepala pasar dan ruang staff.

e) Parkir dan Bongkar Muat

Parkir pada pasar ini terbagi menjadi parkir mobil dan parkir sepeda motor. Untuk parkir mobil pada pasar ini adalah area yang ditutupi dengan atap baja sedangkan area parkir sepeda motor adalah pada halaman depan pasar.

b. Elemen-Elemen Pasar Shindu 1) Sistem Konstruksi

(32)

Sistem konstruksi yang digunakan pada Pasar Sindhu adalah menggunakan sistem kerangka baja. Bentang bangunan yang dijadikan los pada pasar ini adalah 24 m.

2) Sistem Pengelolahan Limbah dan Sampah Terpadu

a) Sistem pengolahan limbah pada pasar ini dibagi menjadi 2 yaitu air limbah toilet dan air limbah dari pedagang los basah. Air limbah toilet disalurkan ke saluran septiktank dari pasar, sedangkan air limbah dari pedagang los basah disalurkan melalui jaringan IPAL pada pasar. Setelah diolah pada IPAL menjadi air bersih, limbah tesebut dibuang ke got yang terdapat di depan pasar.

b) Sistem pengolahan sampah organik pada pasar ini menggunakan sistem daur ulang sampah, dengan hasil akhir berupa pupuk kompos dan gas yang akan dimanfaatkan oleh pengelola dari pasar ini.

2. Pasar Bumi Serpong Damai Tangerang

Pasar yang berlokasi di Jl. Letnan Sutopo, Bumi Serpong Damai, Tangerang dibangun di atas lahan seluas 2,4 hektar. Lokasi pasar ini sangat strategis, karena terletak di antara dua jalan sekaligus, sehingga memudahkan akses dan pencapaian bagi pengunjung menuju ke dalam pasar.

a. Fasilitas Pasar

Terdapat fasilitas yaitu 320 kios dan 100 toko yang mengitari tapak, sedangkan posisi 300 lapak berada di tengah-tengahnya. Selain itu, area parkir pada pasar ini mampu menampung 360 mobil dan 150 motor dengan sistem penjagaan petugas keamanan, ditambah dengan tersedianya fasilitas ATM center, toilet dan musholla.

(33)

gambar 2.3 layout pasar bumi serpong sumber : andi,2019

Rancangan arsitektur pasar ini dibuat sederhana, yaitu memakai sistem law maintenance dengan material tradisional namun tetap memiliki ekspresi modern. Selain itu, tampak dari depan Pasar Bumi Serpong Damai tidak terlihat seperti pasar tradisional, dari luar terlihat jajaran rumah toko dengan desain klasik dan berwarna-warni cerah. Sistem penghawaan, pencahayaan, sirkulasi udaranya yang alami.

b. Elemen-Elemen Pasar 1) Sistem Konstruksi Bangunan

Konstruksi bangunan yang dipergunakan adalah sistem kerangka,mengingat luasnya bidang. Maka sistem konstruksi didukung dengan balok-balok bentang panjang serta tiang-tiang penyangga atap yang tinggi.

2) Pola Tata Ruang dan Sirkulasi a) Memiliki 296 lapak berukuran 2 x 2 m.

b) 320 kios berukuran 3 x 3 m sampai 3 x 5 m.

c) Ruko berukuran 4 x 10 m sampai 5,5 x 10 m.

d) Aneka macam kebutuhan pokok.

kios

ruko

lapak

(34)

Barang dagangan ini tertata rapi di sepanjang lorong yang dilengkapi papan penunjuk (signage) dari masing-masing jenis dagangan layaknya berbelanja di pasar modern, sehingga memudahkan pembeli dalam mencari kebutuhannya. Walaupun tradisional, pada pasar ini tidak terdapat kesan becek atau kumuh (bau), hal ini (kenyamanan) diperoleh karena adanya pengaturan jarak kios yang membuat pembeli merasa leluasa pada area sirkulasinya. Selain itu, kebersihan di dalam pasar juga tercapai dengan baik, karena setiap jam sekali petugas menyapu dan mengepel lantai.

E. Resume Studi Preseden

Adapun data studi yang didapatkan dan disatukan sesuai dengan perancangannya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Analisis Studi Preseden Pada Beberapa Pasar No Pasar sindhu bali Pasar bumi serpong

damai tangerang Gagasan Aplikasi Pada Desain

1 Pengelohan tapak

Pasar Sindhu terletak di Jalan Danau

Tamblingan, Sanur, Denpasar.

Dengan luas sebesar 5.200 m2.

Pasar yang berlokasi di Jl. Letnan Sutopo, Bumi Serpong Damai, Tangerang dibangun di atas lahan seluas 2,4 hektar.

Dari data

kesimpulan untuk pengaplikasian desain pengolah tapak terletak di pusat kota dengan luas lahan yang cukup besar.

Seperti pada Pasar Bumi Serpong Damai

Kesimpulan:

Pada kedua pasar ini masing-masing berada di pusat kota, sehingga lokasinya strategis dan mudah di jangkau. Pengelolaan tapak pada masing-masing pasar sehingga menghasilkan sebuah siteplan.

2 Fungsi, Besaran, dan Kebutuhan Ruang Pasar Shindu,

mempunyai Pasar Bumi Serpong

Damai, mempunyai Dari data kesimpulan untuk

(35)

fasilitas utama yaitu los, kios, dan fasilitas

penunjang yaitu toilet, pos satpam, entrance, kantor pengelola, serta parkir dan bongkar muat

fasilitas utama yaitu kios, toko, dan lapak.

Sedangkan fasilitas penunjang yaitu area , ATM center, toilet dan musholla.

pengaplikasian desain

pemprograman ruang seperti Pasar Shindu

Kesimpulan:

Pada kedua pasar ini dilengkapi oleh fasilitas utama dan fasilitas penunjang yang ditata berdasarkan jenis jualan. Sehingga pasar lebih bersih,nyaman dan aman serta sesuai dengan standar perancangan sebuah pasar yang berada di Indonesa.

3 Pengolahan Bentuk Desain Pasar Shindu, dapat dilihat pada hal.

30

Desain Pasar Bumi Serpong, dilihat pada hal. 33

Dari data

kesimpulan untuk pengaplikasian desain

pengolahan

bentuk bangunan seperti Pasar Shindu

Kesimpulan:

Pada kedua pasar ini masing-masing mempunyai desain yang berbeda-beda. Ketiga pasar ini dirancang melalui metode-metode perancangan arsitektur sehingga menghasilkan sebuah desain yang sesuai dengan fungsi bangunannya sebagai pasar.

4 Struktur dan Material Desain Pasar Shindu

menggunakan sistem konstruksi bentang lebar dan rangka baja.

Desain Pasar Bumi Serpong menggunakan sistem konstruksi yaitu bentang lebar dengan material balok

Dari data

kesimpulan untuk pengaplikasian desain pengolahan struktur pada bangunan pasar mengikuti konsep

Pasar Bumi

Serpong yang lebih modern pada penambahan ruang, serta penggunaan material pada bangunan.

(36)

Kesimpulan:

Pada kedua pasar ini menggunakan sistem konstruksi bentang lebar dan bangunan berlantai sesuai dengan fungsi bangunannya sebagai pasar

5 Landscape

Desain Landscape Pasar Shindu, dipergunakan sebaik mungkin pada lahan yang sangat luas.

Desain Landscape Pasar Bumi Serpong, diolah berdasarkan

konsep ramah

lingkungan.

Dari data

kesimpulan untuk pengaplikasian desain pengolahan landscape pasar mengikuti konsep

Pasar Bumi

Serpong yang lebih ramah lingkungan dan tradisional.

Kesimpulan:

Pada ketiga pasar ini menggunakan desain landscape yang ramah lingkungan, lahan yang luas, dan tradisional.

6 Utilitas

Desain Pasar Shindu,

menggunakan sistem

pembuangan air limbah dari pedagang dialiri ke jaringan IPAL dan sistem daur ulang sampah.

Desain Pasar Bumi Serpong,

menggunakan sistem

yang menjaga

kebersihan di dalam pasar juga tercapai dengan baik

Dari data

kesimpulan untuk pengaplikasian desain utilitas pasar mengikuti konsep Pasar Shindu menggunakan sistem yang lebih

modern dan

terencana dengan baik

Kesimpulan:

Sistem utilitas yang digunakan pada masing-masing pasar adalah diolah terlebih dahulu lalu dibuang ke drainase agar lingkungan sekitar terjaga. Sehingga tidak menimbulkan kerusakan dan kesehatan pengguna pasar juga terjamin.

7 Kelengkapan Bangunan

Desain Pasar Shindu, memiliki fasilitas utama dan penunjang, Pada bangunan megandalkan

Desain Pasar Bumi Serpong, memiliki fasilitas utama dan penunjang. Dan lahan yang luas untuk parkir dan landscape

Dari data

kesimpulan untuk kelengkapan

bangunan

mengikuti desain

Pasar Bumi

Serpong

(37)

penghawaan alami.

Kesimpulan:

Sistem kelengkapan bangunan yang digunakan pada masing- masing pasar adalah sesuai dengan fungsinya sebagai pasar.

Sumber : hasil analisa,2025 F. Integrasi Keislaman

1. Kajian Integrasi

Di dalam perancangan Pasar Sentral Bone Dengan Pendekatan Arsitektur berkelanjutan. Dalam memperbaiki suatu bangunan perlu dikaitkan terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an mengajarkan kebaikan terhadap umat manusia dalam segala hal sehingga jika diterapkan pada perancangan maka hasil rancangan akan dapat mewadahi pengguna dengan sebaik-baiknya (As-Suyuti & Al-Mahalli, 2016).

Jika berbicara tentang bentuk dan penciptaan, maka tidak lain manusia adalah hasil bentuk yang sempurna dari Sang Pencipta. Hal ini pula dijelaskan pada Q.S. At-Tiin [95]: 4.

ْﺪَﻘَﻟ ﺎَﻨْﻘَﻠ َﺧ َنﺎَسْن ِ ْﻹا ﻲِﻓ ِﻦَس ْحَأ ٍمي ِوْﻘَت Terjemahnya:

"Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (Kementerian Agama RI, 2020).

Kata "taqwim" diartikan sebagai menjadikan sesuatu memiliki "qiyam", yakni bentuk isik yang pas dengan fungsinya. Jadi, kalimat "ahsan taqwim"

bentuk isik dan psikis yang sebaik-baiknya, yang menyebabkan manusia dapat melaksanakan fungsinya sebaik mungkin (Muhammad al-Shawi, 2016).

Ayat ini menerangkan bahwa bentuk yang sebaik-baiknya tidak hanya terbatas hanya isik semata, tetapi juga baik dalam fungsi. Maka dalam

(38)

perancangan ini ingin menerapkan bentuk-bentuk yang estetik dalam isik dan juga memiliki fungsi (Al-Mahalli & As-Suyuthi, 2021).

Ada juga Ayat lain juga menjelaskan bentuk manusia sebagai ciptaan yang sempurna, yaitu dalam Q.S. Al-In ithaar [82]: 7.

Terjemahnya :

"Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang."

(Kementerian Agama RI, 2020).

Kata "fa' adalaka" terambil dari kata "adl" yang antara lain berarti seimbang. Kata ini, di samping dapat berarti menjadikan anggota tubuh manusia seimbang, serasi, sehingga tampak harmonis, dapat juga berarti menjadikanmu memiliki kecenderungan untuk bersikap adil (Muhammad al- Shawi, 2016).

Dalam ayat tersebut secara jelas menerangkan, bahwa salah satu bentuk sempurna dari penciptaan manusia adalah keseimbangan susunan tubuhnya.

Hal ini pula yang akan diterapkan di dalam pengolohan bentuk bangunan, yaitu keseimbangan (Al-Mahalli & As-Suyuthi, 2021).

(39)

DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’anul Qarim

Abernethy, M. A., Chua, W.-F. F., Grafton, J., Mahama, H., Adler, P. S., Borys, B., Adner, R., Kapoor, R., Agndal, H., Nilsson, U., Ahrens, T., Chapman, C. S., Aidemark, L.-G., Lindkvist, L., Akerlof, G. A., Shiller, R. J., Akrich, M., Callon, M., Latour, B., … Mouritsen, J. A. N. (2007). Accounting and Control in Health Care: Behavioural, Organisational, Sociological and Critical Perspectives. Accounting, Organizations and Society.

Agnusia, N. A. (2021). Konsep Pasar Dan Pemasaran. Pasar Dan Pemasaran.

Aisyah, S., & Qadri, M. Z. (2019). Pengaruh Modal, Lokasi, dan Jam Berdagang Terhadap Pendapatan Pedagang Pasar. EcceS (Economics, Social, and Development Studies), 6(1). https://doi.org/10.24252/ecc.v6i1.9541 Al-Mahalli, I., & As-Suyuthi, I. (2021). Tafsir Jalalain (Terj). In Paper Knowledge

. Toward a Media History of Documents.

Amaliah, T. (2023). Edukasi Penanganan Sampah di Pantai Wisata Desa Botutonuo. Mopolayio : Jurnal Pengabdian Ekonomi, 2(2).

https://doi.org/10.37479/mopolayio.v2i2.61

As-Suyuti, I. J., & Al-Mahalli, I. J. (2016). Tafsir Jalalain - Jilid 2. In Sinar Baru Algensindo.

Bao, Z., & Lu, W. (2020). Developing ef icient circularity for construction and demolition waste management in fast emerging economies: Lessons learned from Shenzhen, China. Science of the Total Environment, 724.

https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2020.138264

Bhoge, R. (2019). Climate sensitive urban design: A comparison between Brisbane (Australia) and Nagpur (India). Sustainability (Switzerland), 11(1).

Ceminta wawan. (2023). Konsep Perancangan Pasar Wae Kesambi Sebagai Pasar Tradisional Modern. Jurnal Anala, 11(1).

https://doi.org/10.46650/anala.11.1.1398.9-18

Chandra, A. W., & Hantono, D. (2021). Kajian Arsitektur Etnik Pada Bangunan Pasar Tradisional (Studi Kasus: Pasar Badung Di Bali). MODUL, 21(1).

https://doi.org/10.14710/mdl.21.1.2021.1-9

Chen, M. B., & Winata, T. (2023). Redesain Pasar Modern Santa Menjadi Pasar Berkelanjutan Yang Inklusif Di Petogogan, Jakarta Selatan. Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa), 4(2).

https://doi.org/10.24912/stupa.v4i2.21710

Dandi, D., Mursak, M., & Sani, K. R. (2023). Efektivitas Relokasi Perdagang Kaki Lima (PKL) Di Pasar Sentral Palakka Kabupaten Bone. Jurnal Administrasi Dan Kebijakan Publik, 8(2). https://doi.org/10.25077/jakp.8.2.172- 185.2023

(40)

De Gregorio, S., Di Domenico, G., & De Berardinis, P. (2023). Sustainable Architecture in Developing Countries: Harvest Map of the Lusaka Territory, Zambia. Sustainability (Switzerland), 15(8).

https://doi.org/10.3390/su15086710

Fuadi, D. S., Akhyadi, A. S., & Saripah, I. (2021). Systematic Review: Strategi Pemberdayaan Pelaku UMKM Menuju Ekonomi Digital Melalui Aksi Sosial.

Diklus: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, 5(1).

https://doi.org/10.21831/diklus.v5i1.37122

Hantari, A. N., & Triguna, M. I. (2023). Konsep Penataan Pasar Wonokriyo Sebagai Citra Kawasan JL. Yosudarso, Kebumen. Jurnal Konstruksi, 20(2).

https://doi.org/10.33364/konstruksi/v.20-2.1284

Hardiana, A., Purwani, O., & Febriyani, A. (2021). Standar Arsitektur Pasar Tradisional Pasca Pandemi. Arsitektura, 19(2).

https://doi.org/10.20961/arst.v19i2.52505

Herlinda, S., Sulaiman, S., & Aminah, S. (2021). Strategi Kebijakan Pemasaran terhadap Perilaku Pedagang Pasar Tradisional dalam Menghadapi Covid- 19 di Pasar Sentral Palakka Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone. Jurnal Ada Na Gau: Public Administration, 2(2).

Kementerian Agama RI. (2020). Rencana Strategis Kementerian Agama Tahun 2020-2024. Menteri Agama Republik Indonesia.

Khatimah, A. H., Mulyadi, L., & Ujianto, B. T. (2022). Perancangan pasar ikan dan sayur modern di Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan dengan pendekatan neo-vernakular. Pengilon, 6(2).

Kim, Y., On, Y., So, J., Kim, S., & Kim, S. (2023). A Decision Support Software Application for the Design of Agrophotovoltaic Systems in Republic of Korea. Sustainability (Switzerland), 15(11).

https://doi.org/10.3390/su15118830

Lami, I. M., & Mecca, B. (2021). Assessing social sustainability for achieving sustainable architecture. Sustainability (Switzerland), 13(1).

https://doi.org/10.3390/su13010142

Laune, R. J., Mannan, A., & Eka, R. (2022). Redesain Pasar Sentral Di Kota Ampana dengan Pendekatan Arsitektur Modern. Venustas, 2(1).

https://doi.org/10.37195/venustashome.v2i1.195

Lee, J. H. (2020). Reinterpreting sustainable architecture: What does it mean syntactically? Sustainability (Switzerland), 12(16).

https://doi.org/10.3390/su12166566

Mu’min, P. A. (2020). Kajian Arsitektur Berkelanjutan Pada Bangunan Pusat Perbelanjaan : Mal Cilandak Town Square. Jurnal Arsitektur ZONASI, 3(2).

https://doi.org/10.17509/jaz.v3i2.25000

Muhammad al-Shawi. (2016). Hasiyah Al-Shawi Ala Tafsir Jalalain. In Dar Al- Kutub al-Ilmiah (Vol. 1, Issue 1).

(41)

Muin, A., Rahmat, A. R., Amaliah, R., Dipraja, A. I. F., Novliana, A., & Rasyid, M. H.

N. (2021). Upaya Pemutusan Rantai Penularan Covid-19 Di Masyarakat Pasar Sentral Laman Kabupaten Bone. Lepa-Lepa Open, 1(1).

Noviana, M. (2020). Konsep Arsitektur Berkelanjutan Arsitektur Vernakular Rumah Lamin Suku Dayak Kenyah. Jurnal Kreatif : Desain Produk Industri Dan Arsitektur, 1(1). https://doi.org/10.46964/jkdpia.v1i1.112

Rachman, N. M., & Hidayati, R. (2022). Desain Berkelanjutan Dan Peluang Pasar Ekspor Produk Home Dècor Indonesia Di Jerman. Niagawan, 11(1).

https://doi.org/10.24114/niaga.v11i1.32779

Rohman, A., & Larasati, D. C. (2023). Revitalisasi Pasar Rakyat Sebagai Upaya Menjaga Eksistensi Pasar Tradisional. Anterior Jurnal, 22(2).

https://doi.org/10.33084/anterior.v22i2.4597

saeed farahat, eman, Ezzat, M., & Al-Romeedy, bassam. (2022). The Mediating Role of Marketing Effectiveness in the Relationship between Arti icial Intelligence and Destination Competitiveness. Minia Journal of Tourism

and Hospitality Research MJTHR, 14(1).

https://doi.org/10.21608/mjthr.2022.148266.1044

Sudi Fahmi, Ardiansah, & APRIALDI, D. (2021). Model Pengaturan Yang Efektif Terkait Pengelolaan Pasar Tradisional Di Indonesia. Jurnal Hukum Samudra Keadilan, 16(2). https://doi.org/10.33059/jhsk.v16i2.4311 Tonote, F. W., Eka, R., & Antu, E. S. (2021). Redesain Pasar Rakyat Boroko

Sebagai Pasar Sentral Di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan. Venustas, 1(1).

https://doi.org/10.37195/venustashome.v1i1.68

Wismoyo, E. A., Hadiansyah, M. N., Muarrafah, A., Kurnia, D. A., Nursetyo, R. S.,

& Nursa’adah, S. A. (2023). Upaya Keberlanjutan Desain Pada Rak Pajang Menggunakan Metode Atumics. Waca Cipta Ruang, 9(2).

https://doi.org/10.34010/wcr.v9i2.10929

Referensi

Dokumen terkait