BAB III PEMBAHASAN
A. Perlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata Internasional a.Konflik South Sundan
Konflik yang memicu terjadinya peperangan memang tidak jarang memakan banyak korban dan menimbulkan banyaknya efek kerugian akibat perang. Salah satu dari sekian banyak yang terkena efek perang adalah anak-anak. Anak-anak seringkali tidak mengetahui mengapa perang tersebut terjadi dan tidak mengetahui sebab terjadinya perang itu sendiri. Namun meskipun demikian, tidak jarang beberapa dari antara mereka tidak hanya menjadi korban dari pihak-pihak yang berkonflik, melainkan malah menjadi pelaku perang itu sendiri.
Fenomena tersebut dikenal dengan nama Child Soldier (tentara anak) yang kerap kali tidak menjadi fokus utama pemerintah ketika terjadinya perang.
Sebagaimana dalam kasus tentara anak di Sudan Selatan, dimana konflik yang baru terjadi pada tahun 2013, tidak dipungkiri bahwa penggunaan tentara anak semasa perang ini telah banyak terjadi. Baik oleh pemerintah Sudan Selatan maupun pihak pemberontak.
Pada malam tanggal 15 Desember 2013, sebuah baku tembak di Ibu Kota Sudan Selatan Juba antara penjaga Presiden yang setia kepada Presiden Salva Kiir
di satu sisi, dan di sisi lain tentara yang setia kepada mantan wakil presiden, Riek Machar, memicu sebuah konflik nasional yang sejak saat itu telah membunuh ribuan warga sipil, memaksa 2,2 juta orang dari rumah mereka dan membuat banyak Negara menjadi krisis kemanusiaan. Ratusan anak telah terbunuh, ribuan orang telah terlibat dalam konflik tersebut dan ratusan ribu lainnya telah mengungsi. Konflik telah menghancurkan sektor pendidikan, yang menyebabkan penutupan sekitar 70 persen sekolah di daerah dimana sebagian besar pertempuran telah terjadi. Sekitar 400.000 anak dipaksa keluar dari sekolah.
Telah disebutkan dalam Global Report on Childs Soldier 2001, lebih dari 300.000 anak dibawah usia 18 tahun baik laki-laki maupun perempuan direkrut oleh angkatan bersenjata pemerintah, milisi ataupun kelompok bersenjata bukan Negara dan mereka dijadikan sebagai tentara, mata-mata atau pekerjaan lain yang terlibat secara langsung konflik bersenjata
Human Rights Watch mencatat diperkirakan ada belasan ribu anak berusia di bawah 18 tahun yang berada di Sudan Selatan telah dilatih untuk menjadi tentara yang akan menjadi bagian digaris depan pertempuran. Lain hal untuk anak perempuan, mereka dijadikan budak nafsu bagi tentara dari kedua belah pihak.
Untuk anak yang berusia dibawah 14 tahun mereka belum ikut berperang tetapi lebih ditempatkan menjadi juru masak untuk mempersiapkan kebutuhan makanan bagi tentara. Tidak jarang anak-anak yang mengalami luka dari peperangan tidak diberikan obat-obatan dan banyak dari mereka yang meninggal di medan
pertempuran. Diperkirakan 15.000 sampai 16.000 tentara anak ditempatkan di garis depan untuk melakukan pertempuran yang terjadi diantara suku Dinka dengan suku Nuer.
Perekrutan dan penggunaan tentara anak telah terjadi dalam konteks perang dimana kedua tentara, Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA) dan Pasukan Pembebasan Rakyat Sudan dalam pasukan Oposisi dan sekutu mereka melakukan tindakan yang luar biasa. Kekejaman terhadap warga sipil, Dari jam-jam pertama konflik, warga sipil menjadi sasaran dan terbunuh karena etnis mereka. Di Juba, pada bulan Desember 2013, pasukan Dinka bersekutu dengan Kiir menembak, membunuh, mengumpulkan dan membantai ratusan pria Nuer (suku yang sama dengan Riek Machar) dan menahan, menyiksa dan memukul yang lain.
Kekerasan, kejahatan, pelecehan dan balas dendam, terutama untuk anak laki- laki adalah bagian dari pertumbuhan bahkan sebelum konflik dimulai. Kehidupan bagi banyak orang di daerah Dinka dan Nuer dan komunitas penggarap ternak lainnya sejak tahun 2011 telah dirusak oleh konflik antar komunal yang meningkat dalam bentuk serangan ternak yang kejam dan serangan balas dendam ke desa- desa. Banyak pemberontakan bersenjata oleh milisi berbasis etnis juga telah terjadi dan anak laki-laki juga terlibat dalam pertempuran ini. Pemberontak dan pasukan
pemerintah dalam upaya pemberontakan kontra mereka telah melakukan kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia.1
b.Konflik Uganda
Konflik yang terjadi di Uganda diawali pada tahun 1987 tepatnya pada 1 April 1987, Joseph Kony mendirikan satu kelompok pemberontakan bernama Lord Resistance Army (LRA/Tentara Perlawanan Tuhan). LRA pada awalnya memiliki dua tujuan utama pertama menjadikan negara Uganda sebagai negara Teologi yang berlandaskan pada ajaran agama Kristen, berbasis pada Ten Commandement / 10 ketentuan dan yang kedua untuk melindungi etnis Acholi yang berada di Uganda.
Dalam menjalankan misinya, kelompok LRA melakukan perekrutan anggota anak–
anak dengan melakukan penculikan terhadap Anak–anak. Mereka dipaksa untuk menjadi anggota LRA, kelompok LRA sendiri tidak segan–segan membunuh siapa saja yang menentang mereka. Dalam suatu statistik diketahui jumlah warga yang meninggal akibat konflik di Uganda di tahun 2008-2011 sebanyak 2.400 orang.
Akibat dari tindakan LRA banyak anak–anak dari pedesaan Uganda yang setiap malam hari pergi meninggalkan desanya untuk tidur bersama di pusat–pusat
1http://repository.unpas.ac.id/31380/1/BAB%20I.docx di akses pada tanggal 11 januari 2021,06.25 WIT
keramaian di perkotaan agar terhindar dari tangkapan LRA yang disebut sebagai Night Commuters.2
Fenomena Night Commuters dimulai pada tahun 2003 dimana anak–anak terpaksa meninggalkan rumah mereka pada malam hari dan pergi ke tempat pemukiman atau ke pusat keramaian serta ke kamp IDP tujuannya adalah untuk melarikan diri dari serangan dan ancaman penculikan yang dilakukan oleh LRA.3
Pola penyerangan LRA lebih menghindari kontak langsung dengan warga sipil dengan cara melakukan teror seperti pembakaran desa-desa, pembunuhan, penculikan, pemerkosaan mutilasi dan kejahatan lainnya.4
Dalam melakukan rekrutan anggota LRA, LRA mendapatkannya dengan menculik anak dan menjadikannya tentara anak. Kony memerintah pasukan LRA untuk menculik anak berusia 5 sampai 9 tahun untuk dijadikan tentara LRA, mereka dilatih untuk memegang senjata, berperang bahkan sampai membunuh kerabat mereka sendiri, sedangkan anak perempuan mereka dipaksa menjadi budak seks.
Menurut Branch Adam, LRA telah menculik sekitar 30.000 anak selama menjalankan
2In pictures:night commuters diakses dari situs:
http://news.bbc.co.uk/2/shared/spl/hi/pictures_gallery/05/africa_night_commuters/html/1.stm diakses pada 22 januari 2021
3 Amnesty International, Uganda: Child “Night Commuters” Diakses melalui situs http://www.amnestyusa.org/reports/uganda-child-night-commuters/&hl=nid-ID
4 4. No.1 Enough Project. "Roots of The Crisis: The LRA in the Congo and South Sudan." Diakses dari situs http://www.enoughproject.org/conflict_areas/lra/roots-crisis diakses 22 januari 2021
operasinya. LRA bertanggung jawab atas lebih dari 100.000 korban selama konflik yang terjadi Uganda.5
Aktivitas LRA telah menyebabkan puluhan ribu orang telah terbunuh dan dimutilasi, ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal, aktivitas pertanian dan persediaan makanan telah hancur. Aktivitas penculikan anak dilakukan oleh LRA dan sekitar 90% dari rekrutan anggota LRA adalah anak–anak.10 Selama menjadi rekrutan anggota LRA anak–anak mengalami kejahatan dan kekerasan, seperti yang diperlihatkan tabel berikut
Tabel 1.1 Kekerasan Yang Dialami Anak dalam LRA6
Persentase Kekerasan yang dialami anak
77% Anak – anak melakukan pembunuhan
39% Anak – anak membunuh lebih dari satu orang
63% Telah merampas dan membakar rumah penduduk sipil 52% Pernah dipukul secara serius selama di culik
48% Mendapat luka – luka
39% Pernah menculik anak – anak lain
65% Dipaksa untuk mengikuti pelatihan militer 55% Membawa beban yang berat
61% Harus tinggal di Sudan 64% Harus bertarung
35% Mengalami kekerasan sexual 27% Pernah meminum urin
18% Harus melahirkan satu kali bahkan lebih selama di culik
5 York: Oxford Univers Branch, Adam. Displacing Human Rights; War and Intervention in Northern Ugandaity Press Inc., 2011.
6Lancet Medical Journal, Post- Traumatic Stress in Former Uganda Child Soldiers, 2004
Sumber: the lancet. Post–Traumatic Stress in FormerUgandan Child Soldiers. The Lancet vol 363. 2004. Hal 862.
Berdasarkan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh Echo Factsheet European Commission Humanitarian Aid and Civil Protection, menyatakan terdapat enam pelanggaran berat terhadap anak dalam situasi konflik yaitu: membunuh atau melukai anak-anak, rekrutmen atau penggunaan tentara anak-anak, perkosaan dan bentuk- bentuk kekerasan seksual terhadap anak-anak, penculikan anak-anak, serangan terhadap sekolah atau rumah sakit, serta penolakan akses kemanusiaan bagi anak–
anak.
B. Perlindungan Hukum Bagi Anak Yang Terlibat Dalam Konflik Senjata
Anak anak dapat dikategorikan sebagai orang-orang sipil yang tidak mengambil bagian dalam permusuhan. Anak-anak mendapatkan perlindungan berkenaan dengan penghormatan pribadi, hak kekeluargaan, kekayaan, dan praktek keagamaan (Pasal 27 Konvensi Jenewa IV tahun 1949).
Anak tidak boleh dilakukan tindakan-tindakan yang disebutkan dalam Pasal 27 sampai Pasal 34 Konvensi Jenewa IV sebagai berikut.
1) Melakukan pemaksaan jasmani maupun rohani untuk memperoleh keterangan;
2) Melakukan tindakan yang menimbulkan penderitaan jasmani;
3) Menjatuhkan hukuman kolektif;
4) Melakukan tindakan intimidasi, terorisme dan perampokan;
5) Melakukan tindakan pembalasan;
6) Menjadikan mereka sebagai sandera;
7) Melakukan tindakan yang menimbulkan penderitaan jasmani atau permusuhan terhadap orang yang dilindungi.
Bilamana terjadi suatu sengketa bersenjata, anak-anak dapat dikategorikan sebagai makhluk yang mudah diserang. Perlindungan terhadap anak-anak diatur dalam hukum internasional mengenai sengketa bersenjata, khususnya Konvensi Jenewa dan Protokol Tambahan tahun 1977 yang meliputi :
1) Hak-hak anak untuk pemeliharaan dan bantuan;
2) Penempatan anak-anak di bawah usia 15 tahun dalam daerah-daerah dan zona keselamatan (safety zone) dan rumah sakit;
3) Penyatuan kembali keluarga tercerai berai oleh sengketa bersenjata internasional atau internal;
4) Pemindahan sementara anak-anak berdasarkan alasan keselamatan mereka, khususnya dari kepungan atau daerah kepungan;
5) Perlindungan lingkungan budaya anak dan pendidikannya;
6) Perlindungan yatim piatu atau anak-anak yang terpisah dari orang tuanya.7
1. Konvensi Jenewa 1949
7 Konvensi Jenewa dan Protokol Tambahan 1977
Dalam Konvensi-konvensi Jenewa 1949 tidak ditemukan definisi tentang siapa saja yang dikategorikan sebagai anak. Konvensi Jenewa 1949 hanya mengatur persoalan pemberian perlindungan terhadap anak dari akibat pertempuran. Hal ini bisa dikatakan bahwa Konvensi Jenewa tidak pernah melarang anak untuk ikut secara aktif dalam pertempuran.8
Konvensi Jenewa III tentang Perlakuan Tawanan Perang mengatur persoalan yang berkaitan dengan anak hanya dalam 2 (dua) pasal saja, yaitu pasal 16 dan 49.
Ketentuan pasal 16 ini berkaitan dengan pasal 4A dari Konvensi yang sama, yang 5mengatur tentang siapa saja yang berhak untuk mendapat status dan dapat diperlakukan sebagai tawanan perang. Apabila orang- orang yang disebutkan dalam pasal 4A tersebut berusia di bawah 18 tahun maka ketentuan pasal 16 berlaku terhadapnya.
Pasal 49 Konvensi Jenewa III mengatakan bahwa Negara Penahan dapat menggunakan tenaga kerja tawanan perang yang sehat jasmaninya, dengan memper- hatikan umur, jenis kelamin, pangkat dan pembawaan jasmani mereka, dan dengan maksud terutama memelihara mereka dalam keadaan jasmani dan rohani yang baik.
menjadi tanggung jawab dari negara kewarga-negaraannya.
Sekalipun hukuman disiplin boleh diterapkan pada orang-orang yang diinternir, tetapi umur, jenis kelamin dan kondisi kesehatan mereka harus ikut dipertimbangkan dalam penerapan hukuman tersebut. Hukuman disiplin yang
8 https://id.wikipedia.org/wiki/Konvensi_Jenewa, diakses pada Selasa, 08 September 2020
diterapkan tidak boleh melanggar perikemanusiaan, ganas atau berbahaya bagi kesehatan orang-orang yang diinternir.
2. Protokol Tambahan Tahun 1977
Protokol Tambahan I tahun 1977 merupakan sumber Hukum Humaniter utama yang menyesuaikan dengan perkembangan pengertian sengketa bersenjata, pentingnya perlindungan yang lebih lengkap bagi mereka yang luka, sakit dan korban kapal karam dalam suatu peperangan, serta antisipasi terhadap perkembangan mengenai alat dan cara berperang. Protokol tambahan ini menambah dan menyempurnakan isi dari Konvensi Jenewa, tidak menghapus atau meniadakan Konvensi yang mengatur konflik bersenjata. 9
Sebagai salah satu sumber hukum utama, Protokol Tambahan I memuat beberapa ketentuan tentang keterlibatan anak secara langsung dalam suatu konflik bersenjata. Pasal 77 ayat (2) meletakkan kewajiban bagi negara peserta agar tidak mengikutsertakan anak-anak yang belum mencapai usia 15 tahun untuk ikut ambil bagian secara langsung dalam permusuhan. Dalam melatih anak-anak yang telah mencapai usia 15 tahun tetapi yang belum mencapai usia 18 tahun, maka para pihak harus berusaha memberikan pengutamaan kepada yang lebih tua. Dari ketentuan tersebut dapat dikatakan bahwa sebenarnya Protokol Tambahan I lebih mengutamakan mereka yang berusia di atas 18 tahun, dan apabila mereka melakukan suatu pelanggaran dalam hubungannya dengan permusuhan tersebut, maka hukuman
9 Protokol Tambahan I dan II tahun 1977
mati hanya boleh dijatuhkan bagi mereka yang telah mencapai usia 18 tahun pada saat pelanggaran itu dilakukan.10 Dalam hal suatu pengecualian, anak- anak yang belum mencapai usia 15 tahun harus ikut terlibat secara langsung dalam permusuhan, maka apabila anak-anak ini kemudian jatuh ke pihak lawan, mereka harus mendapatkan manfaat dari perlindungan istimewa yang diberikan oleh Protokol Tambahan ini, baik mereka menjadi tawanan perang atau tidak. Bagi anak-anak yang ikut serta dalam permusuhan tetapi tidak mendapatkan status khusus, mereka harus, dalam segala keadaan, berdasarkan pasal 45 ayat (3) Protokol ini, diberikan perlindungan secara umum seperti diatur dalam pasal 75.
Protokol Tambahan II tahun 1977 merupakan satu kesatuan Protokol Tambahan I tahun 1977, hanya saja Protokol Tambahan II tahun 1977 ini berlaku dalam situasi konflik bersenjata yang tidak bersifat internasional atau non- internasional. Perlindungan terhadap anak- anak yang terlibat langsung dalam suatu koflik bersenjata yang bersifat non- internasional diatur dalam pasal 4 ayat (3) c, d;
dan juga dalam pasal 6 ayat (4).
Pasal 4 ayat (3) huruf c sudah memberikan ketentuan secara tegas dalam hal pelibatan anak dalam konflik bersenjata, yaitu adanya larangan mutlak yang mencakup partisipasi langsung maupun tidak langsung dalam suatu permusuhan.
Tetapi jika dilihat dari batasan usia bagi mereka yang diperbolehkan untuk terlibat dalam suatu permusuhan, kiranya Protokol Tambahan II tahun 1977 ini memberikan
10 Ibid
pengaturan yang lebih longgar jika dibandingkan dengan Protokol Tambahan I pasal 77 ayat (2) yang memberikan pengutamaan mereka yang berusia di bawah 18 tahun.
Pasal 4 ayat (3) huruf d memberikan perlindungan secara istiwema bagi anak- anak yang belum mencapai usia 15 tahun tapi mereka ikut secara langsung dalam suatu permusuhan apabila mereka tertangkap dan kemudian menjadi tawanan perang.
Pasal 6 ayat (4) mengatur tentang larangan penjatuhan hukuman mati yang dijatuhkan pada anak-anak yang belum berusia 18 tahun pada saat pelanggaran dilakukan, dan juga larangan itu berlaku bagi wanita yang sedang hamil atau para ibu yang mempunyai anak yang masih kecil.
3. Konvensi Hak Anak 1989
Aturan mengenai perekrutan tentara anak juga terdapat dalam International Convention on the Right of the Child (Konvensi Hak Anak) yang ditandangani pada 20 Nopember 1989, dan mulai berlaku sejak 2 September 1990. 11Ketentuan hukum yang mengatur mengenai keterlibatan anak dalam konflik bersenjata hanya terdapat dalam satu pasal saja, yaitu pasal 38 yang memuat berbagai kewajiban negara untuk tidak merekrut anak di bawah usia 15 tahun dan memberikan perlindungan bagi anak yang terkena dampak konflik bersenjata. Pasal ini tidak memberikan pengaturan yang baru dalam hal pelibatan anak dalam konflik bersenjata, tetapi hanya merupakan pengulangan dari pasal 77 ayat (2) Protokol Tambahan I tahun 1977.
11 https://id.wikipedia.org/wiki/Konvensi_Hak-Hak_Anak di akses pada tanggal 26 oktober 2020, pukul 14.00
Konvensi ini hanya melarang partisipasi langsung anak di bawah 15 tahun dalam suatu permusuhan. Pengaturan ini lebih longgar jika dibandingkan dengan hukum humaniter yang mengatur tentang konflik bersenjata non-internasional, yang dengan tegas melarang partisipasi anak baik langsung maupun tidak langsung dalam permusuhan. Tetapi, ayat 1 pasal 38 ini merujuk kepada hukum humaniter internasional yang relevan tentang perlindungan kepada anak-anak, oleh karena itu apabila terdapat keraguan- keraguan hukum mana yang akan diterapkan dalam suatu situasi, maka berdasarkan asas lex specialis yang berlaku adalah hukum humaniter internasional.
4. Protokol Tambahan Tahun 2000
Konvensi Hak Anak 1989 dilengkapi dengan Optional Protocol on the Involvement in Armed Conflict to the Convention on the Right of the Child atau disebut dengan Protokol Tambahan Tahun 2000, yang ditandatangani pada tanggal 25 Mei 2000. Protokol ini berisi 13 pasal, dan sesuai dengan namanya, Protokol ini khusus berlaku bagi anak-anak yang terlibat dalam konflik bersenjata. Protokol ini juga melengkapi dan memjelas norma yang mengatur tentang pelibatan anak dalam konflik bersenjata.
Diantara ketiga belas pasal yang penting untuk dibicarakan adalah pasal- pasal 1, 2, 3, 4 dan 6. Pasal-pasal tersebut mengatur tentang kewajiban negara untuk memastikan bahwa anak-anak yang berusia 18 tahun tidak terlibatan secara langsung dalam suatu permusuhan. Protokol ini juga meletakkan kewajiban kepada negara
peserta untuk tidak merekrut secara wajib orang-orang yang belum mencapai usia 18 tahun ke dalam angkatan bersenjata mereka. Ketentuan ini merupakan perbaikan dari Konvensi Hak Anak 1989 yang menyatakan bahwa batas usia minimum anak untuk dapat direkrut adalah 15 tahun.12
Mengenai rekrutment secara sukarela, negara peserta terikat dengan usia minimum ini. Ketentuan selanjutnya mengatakan bahwa rekrutment tersebut telah mendapatkan persetujuan dari orang tua atau walinya. Tetapi, yang perlu mendapat perhatian adalah pengaturan tentang rekrutment sukarela tersebut tidak berlaku kalangan akademi militer. Larangan ini tidak hanya berlaku bagi angkatan bersenjata negara peserta saja, tetapi juga berlaku bagi kelompok- kelompok bersenjata yang lain dan juga berlaku dalam segala situasi, Pasal 6 mengatur tentang kewajiban negara peserta untuk memastikan bahwa ketentuan–ketentuan dalam Protokol ini dilaksanakan secara efektif dan mempunyai kekuatan mengikat di bawah yurisdiksinya. Negara juga diwajibkan untuk memberikan semua bantuan yang tepat untuk pemulihan fisik dan psikologis serta penyatuan kembali kehidupan sosial anak- anak yang telah direkrut dan terlibat dalam permusuhan.
5. Statuta International Criminal Court (ICC)
Statuta dari International Criminal Court (ICC), yang diadopsi di Roma pada 17 Juli 1998. Statuta ini memberikan pengertian tentang war crimes sebagaimana yang diatur dalam pasal 8 ayat (2) huruf b [XXVI]. Sedangkan keterlibatan anak
12 Protokol Tambahan Tahun 2000
dalam situasi konflik bersenjata yang bersifat non- internasional diatur dalam pasal 8 ayat (2) huruf e [VII].13
6. Konvensi Jenewa 1949
Perlindungan hukum yang diberikan kepada anak lebih tertuju pada akibat sengketa bersenjata yang akan menimpa atau berdampak pada anak. Sebagai bagian dari penduduk sipil, anak-anak yang tidak turut serta dalam suatu permusuhan mendapatkan perlindungan umum tanpa perbedaan yang merugikan apapun yang didasarkan atas suku, kewarganegaraan, agama atau pendapat politik, dan dimaksudkan untuk meringankan penderitaan yang disebabkan oleh perang. Selain penduduk sipil secara umum yang harus mendapatkan perlindungan, terdapat beberapa kategori yang juga perlu mendapatkan perlindungan, yaitu orang asing, termasuk juga anak-anak di wilayah pendudukan. Selain orang asing maka kategori penduduk sipil yang lain adalah mereka yang tinggal di wilayah pendudukan.
Kategori terakhir adalah mereka yang termasuk dalam interniran sipil.
7. Protokol Tambahan I dan II tahun 1977
Protokol Tambahan I tahun 1977 merupakan penyempurnaan dari Konvensi Jenewa 1949 yang berlaku pada situasi konflik bersenjata yang bersifat internasional.
Pengaturan mengenai perlindungan terhadap anak sebagai akibat terjadinya konflik
13 Statuta dari International Criminal Court (ICC) Tahun 1998
bersenjata pada dasarnya juga mengacu pada Konvensi Jenewa 1949, hanya saja di dalam Protokol Tambahan I lebih diperluas lagi. Beberapa pasal dalam
Protokol Tambahan I tahun 1977 memberikan pengaturan yang spesifik tentang perlindungan terhadap anak dalam konflik bersenjata, yaitu pasal-pasal 8, 52,
70, 74, 75, 76, 94, 119, 127, 132, 136, 140.
Protokol Tambahan II tahun mengatur mengenai pertikaian bersenjata yang tidak bersifat internasional. Protokol ini memberikan jaminan findamental terhadap anak-anak dalam konflik bersenjata yang tidak bersifat internasional. Jaminan tersebut meliputi hak atas perawatan dan bantuan; jaminan dalam bidang pendidikan, termasuk pendidikan agama dan kesusilaan; penyatuan kembali keluarga yang terpisah.
pasal 60 yang meliputi : a) anak yang menjadi pengungsi; b) anak korban kerusuhan; dan c) anak dalam situasi konflik bersenjata. Pasal 62 mengatakan:
Perlindungan khusus bagi anak korban kerusuhan, korban bencana alam dan anak dalam situasi konflik bersenjata dapat dilaksanakan melalui :
a) pemenuhan kebutuhan dasar yang terdiri atas pangan, sandang, pemu- kiman, pendidikan, kesehatan, belajar dan rekreasi, jaminan keamanan, persamaan perlakuan;
b) pemenuhan kebutuhan khusus bagi anak yang menyandang cacat dan anak yang mengalami gangguan psiko- sosial.”
Selanjutnya pasal Pasal 63 mengatakan bahwa: “Setiap orang dilarang merekrut atau memperalat anak untuk kepentingan militer dan/atau lainnya dan membiarkan anak tanpa perlindungan jiwa.”
Apabila dilihat berbagai peraturan yang mengatur tentang perlindungan anak maka hanya terdapat beberapa pasal yang menyangkut tentang pelibatan anak dalam konflik bersenjata, baik mengenai rekrut- men anak dalam angkatan bersenjata atau bentuk partisipasi lain dalam konflik bersenjata maupun perlindungan hukum terhadap anak sebagai akibat adanya konflik bersenjata, baik yang bersifat internasional maupun yang tidak bersifat internasional. Perlindungan yang ada sebagian besar meliputi perlindungan yang terjadi pada situasi yang normal. Dalam Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Keterlibatan Anak Dalam Konflik Bersenjata Tahun 2000. Ketentuan pasal 78 Protokol Tambahan I menyebutkan bahwa setiap pihak yang bersengketa harus membawa anak-anak ke tempat pengungsian dan setiap pihak harus menjamin bahwa di tempat pengungsian tersebut mereka akan aman dan jauh dari ancaman dampak konflik yang terjadi dan juga mereka harus menerima pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan baik pendidikan agama dan pendidikan susila. Selain itu juga setiap camp pengungsian harus mendapat penjagaan dari pihak yang memiliki kewenangan untuk melakukan perlindungan.14
14 https://www.google.com/url?q=https://media.neliti.com/media/publications/35134-ID-
perlindungan-hukum-terhadap-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-camp-pengungsian- su.pdf&usg=AFQjCNHYBntKr0WgZuaAvCDJ5XXvifqRrA
Problematika pelanggaran HAM bagi anak yang terlibat dalam konflik bersenjata apabila dikaitkan dengan hukum internasioanal, terkait hak hak yang tercantum dalam pasal pasal konvensi hak anak serta hukum internasional lain yang relevan, seperti Konvensi Pekerja Anak ILO 182, yang merupakan hukum pekerja internasional tentang larangan merekrut wajib militer anak dalam konflik bersenjata karena merupakan bentuk terburuk dari pekerja anak, serta Statuta Roma yang menrupakan kejahatan internasional.15
Berkaca dari banyaknya keterlibatan anak dalam konflik bersenjata tidak dapat dibenarkan karena ini bertentangan dengan hukum internasional yang di atur dalam Protocol Tambahan tahun 1977, Konvensi Hak Anak Tahun 1989 dan Protocol Opsional Konvensi Hak Anak mengenai Larangan Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata Tahun 2000, lebih jau lagi adalah merupakan satu kesalahan yang fatal bagi suatu bangsa jika membiarkan anak anak yang merupakan kunci takdir keberadaan suatu bangsa di masa depan, tewas sia sia di medan perang atau cacat lahir dan batinnya.16
Fenomena keterlibatan anak dalam konflik bersenjata menyebabkan berbagai implikasi apabila ditinjau dari sisi kemanusiaan. Fenomena ini menunjukan bahwa hak hak anak anak itu telah di langgar, hak tersebut dapat dikaitan dengan hukum internasional karena merupakan hukum legal yang melindungi dan memperjuangkan hak hak anak yang terisolasi, ketika anak terlibat dalam konflik bersenjata anak anak
15 Tempo.co.Den Haag.perekrutan tentara anak .
16 Lex et societatis,Vol.II/No.8/sep-Nov/2014.hal 40
tersebut akan kehilangan hak haknya terutama hak atas kelangsungan hidup ( hak atas kehidupan yang layak dan pelayanan kesehatan), hak untuk berkembang serta hak perlindungan.