• Tidak ada hasil yang ditemukan

sampul isi hukum kepailitan.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "sampul isi hukum kepailitan.pdf"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

SEJARAH HUKUM KEPAILITAN

Sejarah Hukum Undang-Undang Kepailitan

4 Tahun 1998 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1 Tahun 1998 tentang perubahan undang-undang kepailitan. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disebut undang-undang kepailitan) 31 Adapun pengertian kepailitan sendiri tidak terdapat dalam Failissement Verordening atau dalam Undang-undang No.

Syarat-Syarat Permohonan Pernyataan Pailit

  • Syarat adanya dua kreditur atau lebih (Concursus Creditorum)
  • Syarat harus adanya utang
  • Syarat cukup satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih

Apakah pengertian utang hanya terbatas pada utang yang timbul dari perjanjian utang piutang atau perjanjian pinjam meminjam ataukah pengertian utang merupakan suatu pelaksanaan/kewajiban yang tidak hanya timbul dari perjanjian utang piutang saja? Oleh karena itu jelas bahwa utang yang timbul karena kewajiban alam tidak dapat diajukan pailit.

Proses Permohonan dan Putusan Pernyataan Pailit

Permohonan pailit harus disetujui apabila terdapat fakta atau keadaan yang cukup membuktikan bahwa syarat pengajuan pailit telah dipenuhi. Keputusan harus diambil selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal permohonan pailit didaftarkan;

Pihak-Pihak Yang Dapat Mengajukan Pailit

  • Debitur sendiri
  • Seseorang atau beberapa orang kreditur
  • Kejaksaan demi kepentingan umum
  • Bank Indonesia
  • Bank Pengawas pasar modal
  • Menteri keuangan

Sehubungan dengan itu, Undang-Undang Kepailitan seharusnya mengatur dengan jelas syarat-syarat Bank Indonesia dapat mengajukan permohonan Pernyataan Kepailitan kepada Pengadilan Niaga. Terhadap debitur yang merupakan perusahaan sekuritas, bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, permohonan pailit hanya dapat diajukan melalui Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). Badan Pengawas Pasar Modal juga mempunyai kewenangan penuh dalam hal pengajuan permohonan pailit terhadap lembaga yang berada di bawah pengawasannya, sama halnya dengan kewenangan Bank Indonesia terhadap perbankan.

Kewenangan mengajukan permohonan pailit terhadap perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi sepenuhnya berada pada Menteri Keuangan.

TUJUAN, PERKEMBANGAN, DAN AKIBAT KEPAILITAN

Perkembangan Hukum Kepailitan

Akibat dari tekanan yang dilakukan para kreditur adalah lahirnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Penetapan. Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Kepailitan dalam UU. Diumumkannya UU No 4 Tahun 1998 merupakan penyempurnaan dari Faillissementsverordening, hal ini terlihat pada penjelasan UU No 4 Tahun 1998 hal-hal yang sudah sempurna.

Kemudian pada tahun 2004, peraturan kepailitan kembali diganti dengan UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Pembayaran Kewajiban Sebagai Bentuk Penyelesaian Masalah Yang Belum Terselesaikan Ditengah Tekanan Para Kreditur Yang Belum Terselesaikan.

TUJUAN HUKUM KEPAILITAN

Memastikan pembagian harta debitur di antara para kreditur sesuai dengan prinsip Pari Passu Pro Rata Parte (membagi harta debitur secara merata atau proporsional dengan para kreditur berdasarkan sisa jumlah tagihan masing-masing), sebagaimana diatur dalam Pasal 1132 KUH Perdata; Maksud ini dapat disimpulkan dari pengertian kepailitan dalam Memorie van Toelichting yang menyatakan bahwa kepailitan adalah perampasan yang sah atas seluruh harta kekayaan debitur untuk kepentingan bersama para kreditornya. Maksud ini dapat disimpulkan dari pengertian kepailitan dalam Memorie van Toelichting yang menyatakan kebangkrutan adalah perampasan berdasarkan hukum asas seluruh harta kekayaan debitur untuk kepentingan bersama para kreditornya.

Tujuan Levinthal adalah menyita seluruh harta kekayaan Debitor setelah dinyatakan pailit untuk mencegah Debitor melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan kepentingan Kreditornya.

AKIBAT HUKUM KEPAILITAN

Hak fidusia diatur dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, yang barang jaminannya berupa barang-barang yang tidak dapat dijamin dengan gadai, hipotek, dan pembebanan. Namun dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996, ketiga hak atas tanah tersebut tidak hanya tunduk pada hak tanggungan saja, melainkan ditambah dan dilengkapi dengan hak tanggungan lainnya. Menurut Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang Hak Tanggungan, hak tanggungan harus didaftarkan pada Kantor Badan Pertanahan.

Sekalipun hak atas tanah telah hilang, namun penerima hipotek tetap wajib membayar utangnya.

PENGATURAN HUKUM KEPAILITAN

Pengertian dan Pengaturan Kepailitan

Pengertian pailit di Indonesia mengacu pada Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang pada Pasal 2 berbunyi:. Asas hukum UU Kepailitan Indonesia secara umum diatur dalam Pasal 1131 KUH Perdata dan asas khusus tertuang dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Mengenai hal ini, penjelasan umum Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 mengatur berbagai faktor yang memerlukan pengaturan mengenai kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang.

Undang-Undang Kepailitan Indonesia sebagaimana dijabarkan dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 mengatur baik mengenai kepailitan orang perseorangan maupun kepailitan badan hukum.

Pihak Yang Dapat Dinyatakan Pailit

Pihak-Pihak Yang Dapat Mengajukan Permohonan Pailit

Kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap obyek hak tanggungan pada saat pendaftaran hak tanggungan. Pemberian Hak Tanggungan dilakukan dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) oleh Pejabat Pembuat Akta Pengadaan Tanah (PPAT) sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Uraian yang jelas mengenai obyek hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam tulisan ini memuat rincian tentang sertifikat hak milik atas tanah yang bersangkutan atau.

Pemberian hak tanggungan dilakukan dengan dibuatnya akta pemberian hak tanggungan (APHT) oleh PPAT sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DALAM KEPAILITAN

Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan

Selanjutnya yang dimaksud dengan penundaan pembayaran utang (penundaan pembayaran atau surseance van payment) adalah suatu jangka waktu yang diberikan oleh undang-undang melalui penetapan hakim niaga, yang pada saat itu kreditur dan debitur diberi kesempatan untuk membicarakan cara-cara pembayaran utangnya. . menyediakan rencana pembayaran seluruh atau sebagian utang, termasuk bila perlu, restrukturisasi utang. Pihak yang harus berinisiatif untuk mengajukan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang dengan demikian adalah debitur, yaitu debitur yang tidak dapat lagi atau diperkirakan tidak mampu meneruskan pembayaran utangnya, yang mana permohonan itu sendiri harus ditandatangani. oleh debitur atau kreditur bersama-sama dengan seorang pengacara, dalam hal ini adalah pengacara yang mempunyai izin pengacara (lihat Pasal 224 ayat (1), Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU).

Penyelesaian Utang Piutang melalui PKPU

Debitur yang tidak dapat atau memperkirakan tidak akan mampu meneruskan pembayaran utangnya yang telah jatuh tempo, dapat mengajukan penundaan pembayaran kewajibannya dengan mengajukan rencana perdamaian disertai penawaran. Jika rencana perdamaian disetujui, maka berubah menjadi perjanjian damai yang mengikat debitur dan kreditor. Jika rencana perdamaian diterima dan disetujui oleh kreditur, maka debitur akan membayar hutangnya sesuai dengan perjanjian perdamaian yang telah disepakati.

Atas kepailitan yang demikian debitur tidak dapat mengajukan perkara kasasi, sama halnya dengan rencana perdamaian yang ditolak oleh kreditur.

Konsep Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

Menurut Setiawan75, utang dalam PKPU “Utang harus dalam arti luas, baik dalam arti kewajiban membayar sejumlah tertentu yang timbul dari suatu utang maupun perjanjian piutang (dimana debitur menerima sejumlah tertentu dari kreditornya), sebagaimana serta kewajiban membayar sejumlah uang tertentu yang timbul karena suatu perjanjian atau hal-hal lain yang mengakibatkan debitur harus membayar sejumlah uang tertentu. Dengan kata lain yang dimaksud dengan utang bukan hanya kewajiban membayar sejumlah uang tertentu karena debitur telah menerima sejumlah uang tertentu berdasarkan suatu perjanjian kredit, tetapi juga kewajiban membayar debitur yang timbul karena perjanjian-perjanjian lain. Misalnya saja yang timbul jika debitur gagal membayar utangnya karena adanya perjanjian jual beli atau perjanjian lain yang menimbulkan kewajiban bagi debitur untuk membayar sejumlah uang tertentu.

PKPU adalah jangka waktu tertentu yang diberikan oleh pengadilan niaga kepada debitur yang tidak mampu lagi membayar utangnya yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, untuk merundingkan cara melunasi sebagian atau seluruhnya kepada kreditur, termasuk melakukan restrukturisasi jika diperlukan. , dengan mengirimkan rencana.

Yang Berhak Meminta Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

Dalam Pasal 1 ayat (1) UU Hipotek, yang dimaksud dengan UU Hipotek adalah hak tanggungan yang dikenakan atas hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Pokok Pertanian, beserta benda-benda lain yang merupakan bagian integral dari tanah itu, untuk pelunasan hutang debitur. telah dieksekusi terhadap kreditor. Selain benda, hak tanggungan juga mempunyai subjek hukum yang menjadi hak tanggungan yang berkaitan dengan perjanjian pemberian hak tanggungan. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas tanah dan hal-hal yang berhubungan dengan tanah, yang merupakan jaminan atas hak tertentu atas tanah dan hal-hal yang berhubungan dengan tanah.

42 Tahun 1999 tentang Jaminan Perwalian, yang obyeknya adalah agunan berupa benda-benda yang tidak dapat dijamin dengan gadai, gadai, dan agunan.

KEPAILITAN LELANG DAN HAK TANGGUNGAN

Kepailitan Lelang

  • Pengertian dan Dasar Hukum Lelang
  • Asas-Asas Lelang
  • Pejabat yang Berwenang Melakukan Lelang
  • Fungsi dan Klasifikasi Lelang
  • Risalah Lelang

Peraturan teknis terpenting mengenai lelang yang berlaku saat ini adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 27/PMK.06/2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang. Lelang dalam arti jual beli dikenal dengan istilah “pelelangan” yang pengertiannya diatur dalam Peraturan Vendu Pasal 1. Dalam hal ini jika melihat Pasal 200 ayat (1) HIR dan Pasal 215 RBG harus dikaitkan dengan Pasal 1 (a) peraturan lelang Berdasarkan pasal 1 huruf (a) peraturan lelang, penjualan umum (auction sales) hanya dapat dilakukan oleh “juru lelang”.

Hal itu tertuang dalam Pasal 1 Angka 6 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 40/PMK.07/2006 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Lelang.

Ketentuan Umum Tentang Hak Tanggungan

  • Pengertian Hak Tanggungan
  • Asas-Asas Hak Tanggungan
  • Objek dan Subjek Hak Tanggungan
  • Tata Cara Pemberian Hak Tanggungan
  • Hapusnya Hak Tanggungan
  • Eksekusi Hak Tanggungan

Oleh karena itu, apabila obyek hak tanggungan telah berpindah kepemilikan, misalnya dijual kepada pihak ketiga, maka kreditur tetap mempunyai hak untuk itu. Menurut sifat hak tanggungan yang bersifat accecoir, sebelum hak tanggungan dikenakan, dibuat suatu akad yang menimbulkan hubungan hukum utang-piutang, yang dijamin pelunasannya, yang merupakan akad pokok. Dalam penyerahan hak tanggungan di hadapan PPAT, pemberi hak tanggungan dan penerima hak tanggungan harus hadir dengan disaksikan oleh dua orang orang saksi.

Hak untuk menjual bebas objek hak yang dikekalkan adalah salah satu ungkapan kedudukan keutamaan pemegang hak yang dikekalkan.

AKIBAT HUKUM PUTUSAN PAILIT TERHADAP HARTA KEKAYAAN

Akibat Kepailitan Secara Umum

  • Akibat kepailitan terhadap harta debitur
  • Akibat Kepailitan Terhadap Pasangan (Suami Istri) Debitur Pailit
  • Akibat kepailitan terhadap seluruh perikatan yang dibuat debitur pailit
  • Akibat kepailitan terhadap seluruh perbuatan hukum debitur yang dilakukan

Akibat kepailitan bagi segala perbuatan hukum debitur yang dilakukan sebelum putusan pailit, dilaksanakan sebelum putusan pailit diucapkan. Dalam alinea pertama Pasal 41 Undang-Undang Kepailitan dengan tegas diatur bahwa segala perbuatan hukum debitur yang dinyatakan pailit, yang merugikan kepentingan kreditor, dianggap menguntungkan harta pailit. sebelum putusan pailit diumumkan, kreditor dapat meminta pengadilan untuk menghapusnya. Kemudian, Pasal 42 UU Kepailitan mengatur dengan jelas batasan-batasan perbuatan hukum debitur, antara lain: a.

Sebaliknya apabila perbuatan hukum itu dilakukan oleh debitur terhadap pihak ketiga dalam jangka waktu lebih dari 1 tahun sebelum putusan dinyatakan pailit, dan kurator berpendapat bahwa perbuatan hukum itu merugikan kepentingannya. kreditur atau harta pailit, maka kurator wajib membuktikannya.

Akibat Kepailitan Secara Khusus

  • Akibat Kepailitan terhadap Perjanjian Timbal Balik
  • Akibat kepailitan terhadap berbagai jenis perjanjian
  • Akibat kepailitan terhadap hak jaminan dan hak istimewa

Mengenai akibat kepailitan atas perjanjian hibah, hal ini diatur dalam Pasal 43 dan Pasal 44 Undang-Undang Kepailitan. Untuk mengetahui siapa kreditur preferen lihat Pasal dan 1149 KUHPerdata. Dalam Pasal 57 diatur bahwa jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1) berakhir demi hukum pada saat kepailitan berakhir lebih dulu atau pada saat mulainya keadaan kepailitan.

Mengenai harta pailit, Pasal 19 UUK lebih lanjut menjelaskan bahwa harta pailit meliputi seluruh harta debitur yang ada pada saat pernyataan pailit dibuat serta semua harta yang diperoleh pada saat pailit.

Akibat Kepailitan Terhadap Kewenangan Berbuat Debitur Pailit Dalam Bidang

34;Pendahuluan: Memikirkan Kembali Hukum Kepailitan Indonesia” dalam Emmy Yuhassarie dan Tri Harnowo, ed., Hukum Kepailitan dan Perkembangannya: Prosiding Lokakarya Terbatas Permasalahan Kepailitan dan Wawasan Hukum Bisnis Lainnya 2004. Undang-undang Pengganti Pemerintah Nomor 1 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Hukum Tentang Kepailitan Menjadi Undang-undang, Undang-Undang No. Kajian dalam buku hukum kepailitan ini berkaitan dengan kasus penghentian pembayaran utang debitur yang telah jatuh tempo berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang mengatur suatu meminta pembatalan perbuatan hukum debitur pailit yang dilakukan sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan, yang merugikan baik harta pailit secara keseluruhan maupun kreditor konkuren tertentu.

Ketentuan ini merupakan actio pauliana dalam kepailitan yang diatur dalam Pasal 41 sampai dengan 47 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Referensi

Dokumen terkait