SARANA & PRASARANA WILAYAH PESISIR WISATA HIU PAUS DI TAMAN NASIONAL TELUK CENDERAWASIH
Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara dengan kekayaan Maritim yang sangat indah, Kekayaan maritim inilah yang membuat potensi wisata bahari Indonesia sangat luas dengan keindahan dan keunikannya masing-masing. Potensi wisata bahari Indonesia tersebar dari Sabang hingga Merauke. Wisata Bahari di Indonesia menyuguhkan panorama bawah laut yang indah dan menakjubkan. Tak hanya hamparan megah terumbu karang dan luasnya bibir pantai. Tempat wisata bahari di Indonesia memiliki segudang spesies laut yang memesona. Wisata bahari adalah salah satu wisata unggulan yang dimiliki tanah air. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia mempunyai 20,87 juta Ha kawasan konservasi perairan, pesisir dan berbagai pulau kecil. Garis pantai Indonesia membentang hingga 99.093 km dengan luas laut 3,257 juta km persegi. Dan Taman Nasional Teluk Cenderawasih merupakan salah satu destinasi Wisata Bahari yang memiliki segudang spesies laut yang memesona termasuk spesies Hiu Paus.
Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) sebagai kawasan perairan laut terbesar di Papua memiliki spesifikasi biota yang termasuk jenis-jenis yang dilindungi juga keunikan tersendiri. Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih telah ditetapkan sebagai kawasan perlindungan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor 472/Kpts-II/93 tanggal 2 September 1993 dengan luas kawasan secara keseluruhan adalah 1.453.500 ha. Kawasan TNTC yang berada pada Kabupaten Nabire, memiliki luas hanya 380.930 ha atau 26% dari luas secara keseluruhan. Bentuk keunikan TNTC pada beberapa tahun terakhir ini adalah muculnya Hiu Paus pada perairan Kwatisore. Kwatisore adalah nama kampung/desa yang berada pada Distrik/Kecamatan Yaur, yang termasuk dalam Kabupaten Nabire. Taman Nasional Teluk Cenderawasih secara adminsitrasi pemerintahan berada pada Kabupaten Wondama dan Kabupaten Nabire, sedangkan
munculnya hiu paus hanya pada perairan Kwatisore dan kehadiran hiu paus ini sepanjang tahun. Dibeberapa tempat di Indonesia hiu paus hanya muncul pada bulan-bulan tertentu, seperti pada perairan Pangandaran hanya muncul pada bulan Agustus – September dan pada perairan NTT hanya muncul pada bulan Agustus – November.
Secara taxonomi, Hiu paus termasuk dalam Kelas Chondrichthyes, Order Orectolobiformes, Family Rhincodontidae, Genus/Spesies Rhincodon typus, dimana dengan bahasa lokal setempat dikenal dengan nama Hiniotanibre sedangkan untuk masyarakat pesisir Papua disebut Gorano Bintang. Hiu Paus termasuk spesies ikan yang terbesar dan diduga dapat mencapai panjang 18 – 20 m. Beberapa ahli berpendapat bahwa Hiu Paus berumur panjang , yaitu sekitar 60 – 100 tahun.
Bentuk tubuh yang panjang tersebut dan termasuk sebagai hiu tetapi hiu paus cenderung jinak dan tidak berbahaya untuk manusia sehingga hiu paus dijadikan sebagai objek wisata bahari untuk turis lokal dan turis mancanegara, karena tidak berbahaya maka terkadang beberapa para turis seenaknya memegang bagian-bagian tubuh hiu paus. Kehadiran hiu paus sepanjang tahun (tidak mengenal waktu) di perairan Kwatisore merupakan suatu fenomena yang memberikan nilai keunikan tersendiri.
Hiu Paus sebagai salah satu objek wisata yang dapat mengundang begitu banyak wisatawan. Jumlah wisatawan yang mengunjungi Taman Nasional Teluk Cenderawasih meningkat tajam beberapa tahun belakangan ini. Disisi lain, informasi mengenai mamalia laut ini masih sangat minim, Potensi keberadaan Hiu Paus perlu mendapat perlindungan agar kelestariannya tetap terjaga sehingga dapat dimanfaatkan pada sektor pariwisata dan ilmu pengetahuan. Hiu Paus merupakan salah satu jenis Hiu yang berukuran terbesar yang ada di dunia dan sudah masuk dalam daftar merah (Red List) untuk spesies terancam yaitu berstatus terancam punah. Untuk menjaga agar sumber daya Hiu Paus tetap terjamin populasinya, maka perlu adanya upaya pengelolaan untuk mendukung pelestarian spesies ini.
Dalam menjaga nilai kekayaan objek wisata Bahari secara khusus kehadiran Hiu Paus maka diperlukan sarana dan prasarana yang dapat mendukung perlindungan dan pengelolaan terhadap Hiu Paus pada Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Di harapkan dengan adanya Prasarana Terapung Pusat Penelitian Hiu Paus ini, maka dapat memberikan perlindungan terhadap Hiu Paus serta dapat berkontribusi dalam pengembangan wisata Bahari kedepannya, dan mendukung peningkatan ekonomi daerah terutama kesejahteraan masyarakat setempat.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana tingkat ketersediaan sarana dan prasarana di wilayah pesisir Taman Nasional Teluk Cenderawasih?
2. Bagaimana kebutuhan sarana dan prasarana dasar di wilayah pesisir Taman Nasional Teluk Cenderawasih?
3. Bagaimana kondisi sarana dan prasarana di wilayah pesisir Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang telah ada sekarang?
Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui bagaimana tingkat ketersediaan sarana dan prasarana di wilayah pesisir Taman Nasional Teluk Cenderawasih
2. Untuk mengetahui bagaimana kebutuhan sarana dan prasarana dasar di wilayah pesisir Taman Nasional Teluk Cenderawasih
3. Untuk mengetahui bagaimana kondisi sarana dan prasarana di wilayah pesisir Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang telah ada sekarang
Tinjauan Pustaka 1. Wilayah Pesisir
Sesuai kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah daerah Pertemuan antara darat dan laut, ke arah darat meliputi daratan baik kering maupun terendam air yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin. Kearah laut mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan kegiatan manusia seperti pertanian dan pencemaran (Brahtz 1972; Soegiarto 1976 dalam Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau Kecil, 2003). Menurut Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, pengertian wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan didarat dan laut.
Karakteristik Wilayah Pesisir merupakan wilayah percampuran pengaruh antara laut, darat, dan udara; bentuk wilayah ini merupakan hasil keseimbangan dinamis dari suatu proses penghancuran dan pembangunan dari ketiga unsur tersebut. Hal ini terlihat dari adanya gradasi butiran sedimen sebagai hasil pengikisan batuan padat dan keras oleh unsur alam.
Wilayah pesisir berfungsi sebagai zona penyangga (buffer zone) dan merupakan habitat dari berbagai jenis ikan.
Secara geografis wilayah pesisir terbentuk dari pertemuan antara daratan dan lautan dimana di dalamnya terjadi proses-proses fisik dan biologi yang kompleks. Secara ekologis wilayah pesisir terdiri atas sejumlah habitat daratan dan perairan yang rentan, dengan ekosistem pesisir yang unik, yang memiliki sumberdaya alam yang berharga. Ekosistem ini juga sangat terkait dengan sistem sosial ekonomi yang membentuk sistem sumberdaya (Scura, 1992).
Dalam pengembangan wilayah pesisir tentu harus diperhatikan hal - hal yang berpengaruh dalam pelaksanaannya. Prasarana wilayah pesisir adalah semua fasilitas yang memungkinkan agar sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang, sehingga dapat memberikan pelayanan untuk memuaskan kebutuhan wisatawan yang beraneka ragam. Prasarana tersebut antara lain:
Perhubungan: jalan raya, rel kereta api, pelabuhan udara dan laut, terminal.
Instalasi pembangkit listrik dan instalasi air bersih.
Sistem telekomunikasi, baik itu telepon, telegraf, radio, televisi, kantor pos, dan lain-lain.
Pelayanan kesehatan, baik puskesmas atau rumah sakit.
Pelayanan keamanan, baik pos satpam penjaga objek wisata maupun pos- pos polisi untuk menjaga keamanan di sekitar objek wisata.
Pelayanan wisatawan, baik berupa pusat informasi atau kantor pemandu wisata.
Pom bensin.
Dan lain-lain.
2. Teluk Cendrawasih
Teluk Cenderawasih atau Teluk Sarera, atau dahulu disebut Teluk Geelvink (Belanda: Geelvinkbaai) adalah salah satu ciri fisiografi Papua utara. Teluk ini merupakan teluk besar di Provinsi Papua dan Papua Barat bagian utara, Indonesia, pada koordinat 2,5 ° S 135,3 ° E: 2,5 ° S 135,3 ° E. Bagian barat teluk berbatasan dengan semenanjung Wandaman dan Lengguru Fold- Thrust-Belt. Di sebelah selatan, Weyland Overthrust, kumpulan batuan metamorf dan plutonik yang ditambatkan ke selatan di atas ruang bawah tanah kontinental. Di sebelah timur, dataran pantai meliputi palung sedimen yang sangat dalam dan sempit (Waipogah Trough) terbatas di sebelah timur oleh NE-SW yang trending Waipogah Fold-Thrust-Belt (Sapiie dkk. 2010).
Teluk Cenderawasih yang menjadi bagian dari geografi Papua merupakan kawasan terbesar yang menjadi prioritas konservasi utama di Indonesia (Huffard dkk. 2012). Terletak di wilayah Papua, teluk ini tergolong memiliki potensi sumberdaya perairan yang kaya. Berdasarkan beberapa penelitian diketahui bahwa Teluk Cenderawasih memiliki paling sedikit 5.000 spesies karang, lebih dari 1.000 spesies ikan dan terdapat berbagai jenis moluska, penyu, mamalia laut dan biota laut lain (Allen &
Erdmann, 2009).
Teluk Cenderawasih yang menjadi bagian dari geografi Papua merupakan kawasan terbesar yang menjadi prioritas konservasi utama di Indonesia (Huffard dkk. 2012). Terletak di wilayah Papua, teluk ini tergolong memiliki potensi sumberdaya perairan yang kaya. Berdasarkan beberapa penelitian diketahui bahwa Teluk Cenderawasih memiliki paling sedikit 5.000 spesies karang, lebih dari 1.000 spesies ikan dan terdapat berbagai jenis moluska, penyu, mamalia laut dan biota laut lain (Allen & Erdmann, 2009).
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, taman nasional memiliki peran yang sangat penting. Peran tersebut antara lain:
a) Sebagai wahana pengembangan ilmu pengetahuan, yaitu wahana kegiatan penelitian biologi dan konservasi in-situ;
b) Sebagai wahana pendidikan lingkungan, yaitu wahana untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat di sekitar kawasan taman nasional dan pengunjung atau masyarakat luas tentang konservasi;
c) Mendukung pengembangan budidaya tumbuhan dan penangkaran satwa dalam rangka mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar;
d) Sebagai wahana kegiatan wisata alam dalam rangka mendukung pertumbuhan industri pariwisata alam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
e) Sumber plasma nutfah dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa sekaligus untuk mendukung upaya pelestarian kekayaan keanekaragaman hayati asli; dan
f) Untuk melestarikan ekosistem hutan sebagai pengatur tata air dan iklim mikro serta sumber mata air bagi masyarakat di sekitar taman nasional.
Sebagian wilayah Teluk Cenderawasih ditetapkan sebagai taman nasional.
Taman ini terletak di bagian barat teluk dan dinyatakan sebagai taman nasional laut sejak tahun 2002. Taman tersebut dinamakan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC).
3. Hiu Paus Teluk Cendrawasih
Kemunculan hiu paus di Teluk Cenderawasih merupakan hal yang rutin.
Berdasarkan beberapa penelitian yang dihimpun, hiu paus melakukan agregasi di Teluk Cenderawasih sepanjang tahun. Berikut adalah peta kemunculan hiu paus di Perairan Kwatisore periode Juni 2013 hingga Maret 2015.
Hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Kwatisore, Kabupaten Nabire, Papua, harus dilestarikan dengan mengategorikan sebagai satwa dilindungi.
Pemerintah jangan terlambat mengantisipasi punahnya hiu paus yang terlihat sepanjang tahun di Taman Nasional Teluk Cendrawasih.
Menurut Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) Djati Witjaksono Hadi, hiu paus atau biasa disebut gurano bintang oleh masyarakat lokal termasuk satwa air yang hanya ditemui di perairan Papua, Filipina, Australia, dan Afrika Selatan. Hiu ini beberapa kali terlihat di Sabang, dan Selat Madura, tetapi tak sepanjang tahun.
Hiu paus diperkirakan ada sejak 60 juta tahun lalu. Ia mampu hidup sampai umur 150 tahun dengan panjang hingga 14 meter. Hiu yang dijuluki hiu bodoh, karena jinak dan tidak agresif, memasuki usia subur pada umur 30 tahun.
Reproduksinya relatif lambat dibandingkan dengan ikan lain. TNTC mencatat, tahun 2011, ada sekitar 40 hiu paus di perairan Teluk Cendrawasih. Pemerintah perlu meningkatkan status perlindungan hiu paus. Saat ini, perlindungan hanya mengacu International Union for the Conservation of Nature dan Resources bahwa hiu paus adalah satwa yang rentan.
4. Sarana dan Prasarana Wilayah Pesisir Taman Nasional Cendrawasih Ketersediaan kelengkapan sarana dan prasaran Taman Nasional Cendrawasih
Akomodasi
Pada kawasan pesisir Taman Nasional Cendrawasih akomodasi yang ada pada kawasan masih sangat kurang. Karena akomodasi yang ada berada cukup jauh dengan tempat wisata yang disediakan. Walaupun beberapa tempat akomodasi sudah bisa dikatakan layak dengan fasilitas yang
diberikan. Hal ini juga merupakan faktor penting jika kawasan ini akan melakukan pembangunan, sebab pada dasarnya wisatawan akan memerlukan tempat tinggal untuk sementara waktu selama dalam perjalanan untuk dapat beristirahat. Dengan adanya sarana ini, maka akan mendorong wisatawan untuk berkunjung dan menikmati objek dan daya Tarik wisata dengan waktu yang relatif lebih lama. Informasi mengenai akomodasi ini mempengaruhi penilaian wisatawan pilihan jenis akomodasi yang dipilih, seperti jenis fasilitas dan pelayanan yang diberikan, tingkat harga, jumlah kamar yang tersedia dan sebagainya.
Tempat makan dan minum
Pada dasarnya wisatawan yang datang berkunjung ke suatu objek wisata tentunya ingin menikmati perjalanan wisatanya, sehingga pelayanan makanan dan minuman harus mendukung hal tersebut bagi wisatawan yang tidak membawa bekal. Bahkan apabila suatu daerah tujuan wisata mempunyai makanan yang khas, wisatawan yang datang disamping menikmati atraksi wisata juga menikmati makanan khas tersebut. Begitu pula yang ada pada kawasan Taman Nasional Cendrawasih masyarakat yang datang tidak hanya menikmati atraksi yang ada. Rata-rata yang datang sambil menikmati atraksi yang ada wisatawan pun ikut menikmati makanan yang di jual atau yang mereka bawa sendiri dari rumah. Untuk fasilitas makanan dan minuman yang ada pada kawasan ini masih kurang baik dari segi jenis dan variasi makanan yang ditawarkan, tingkat kualitas makanan dan minuman, pelayanan yang diberikan, tingkat harga, tingkat higienis, dan hal-hal lain yang dapat menambah selera makan seseorang serta lokasi tempat makannya. Memang makanan yang sudah ada mulai dari makanan berat seperti makanan pokok (nasi dan lauk pauk) sampai dengan makanan ringan (jajanan) tetapi masih dikatakan kurang jika direncanakan secara berkelanjutan. Selain fasilitasnya yang masih kurang, pembuangan limbah tersebut juga belum terkelola dengan baik dan benar sehingga bisa menimbulkan pencemaran lingkungan jika dibiarkan berlarut-larut.
Tempat belanja
Berbelanja merupakan salah satu aktivitas kegiatan wisata dan sebagian pengeluaran wisatawan didistribusikan untuk berbelanja. Berbelanja dalam konteks ini bukan merupakan tempat makanan dan minuman melainkan tempat wisatawan membeli oleh-oleh khas kawasan wisata untuk menandakan bahwa wisatawan pernah datang berkunjung ke wisata ini. Di kawasan pesisir Taman Nasional Cendrawasih masih kurang tempat khusus yang menjajakan oleh-oleh khas daerah sehingga wiasatawan yang datang tidak bisa membelanjakan uang mereka. Padahal tersedia barang- barang untuk dijual seperti kerajinan kerang atau makanan olahan khas kawasan pesisir Taman Nasional Cendrawasih. Secara ekonomi hal ini bisa membantu perekonomian daerah, dimana uang yang beredar tidak keluar tetapi tetap berputar di dalam daerah dan bahkan dapat meningkatkan pendapatan daerah. Hal ini juga dapat menjadi alternatif bagi para wisatawan dalam membelanjakan uangnya. Wisatawan bisa berbelanja barang kenangkenangan berupa barang bukan hanya ikan di TPI.
Fasilitas umum di lokasi objek wisata
Tidak beda jauh dengan fasilitas yang lainnya fasilitas umum yang ada di kawasan pesisir Taman Nasional Cendrawasih juga belum semuanya tersedia dan kalaupun ada masih jauh dari kata layak, seperti:
a. Tempat parkir b. Tempat MCK umum c. Sarana Peribadatan
d. Sarana penggerak di lokasi obyek wisata e. Sarana informasi dan papan petunjuk f. Sarana rekreasi dan taman bermain g. Jaringan Listrik dan Telekomunikasi
5. Keberlanjutan Penatakelolaan Zona Pemanfaatan Tradisional dalam Kawasan Konservasi LautTaman Nasional Teluk Cenderawasih Papua Barat
Dalam sistem penatakelolaan, zona pemanfaatan tradisional dalam kawasan konservasi (ZPT-KKL) dipandang sebagai subjek tatakelola yang menghasilkan instrument manajemen dan sistem sosial-ekologis sebagai objek tata kelola dalam mencapai tujuan manajemen. KawasanTaman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) dikelola secara zonasi berdasarkan Rencana Pengelolaan Tahun 2010–2029berdasar pada Surat Keputusan Dirjen Perlindungan Hutandan Konservasi Alam Nomor 121/IV-KK/2009 . TNTC memiliki460 jenis karang yang terdiri dari 67 genus dan 260 subgenusdari jenis karang Scleractinia tersebar pada tepi pulau-pulau(TNC, WWF, Unipa, CII, BBTNTC 2006). Kekayaan lainberupa 836 jenis ikan yang terdiri dari jenis ikan estuari, ikanpenghuni daerah mangrove, ikan karang dan ikan pelagis,dan dicatat pula 201 spesies moluska. Keragaman flora-faunadaratan terdiri atas 17 jenis vegetasi mangrove, 9 jenis vegetasihutan pantai, 35 jenis vegetasi hutan daratan, 7 jenis lamun,184 jenis burung, 14 jenis mamalia, dan 17 jenis reptilia.Perubahan orientasi pemanfaatan sumber daya TNTCnyata terjadi pada saat Kabupaten Teluk Wondama menjadikabupaten baru tahun 2002.
Pengembangan pembangunandilaksanakan oleh Pemda Kabupaten Teluk Wondama danBalai Besar (BB) TNTC berdampak pada beragamnyakepentingan memanfaatkan sumber daya.
Pertambahanpenduduk, perluasan permukiman, perkembangan kegiatanperikanan, dan meningkatnya kegiatan transportasi lautmenyebabkan kawasan TNTC mendapat tekanan ekologis dan munculnya konflik kepentingan (conflict of interest).BBTNTC sebagai pemegang mandat pengelolaan masih dihadapkan pada berbagai keterbatasan dan masalah koordinasi kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Program yang dikerjakan dari berbagai stakeholders seringtidak sinkron sehingga terjadi tumpang tindih dan acapkalimembingungkan masyarakat. ZPT-KKL merupakan perairansejauh 4 mil dari pasang surut terendah ke arah laut (BBTNTC& WWF 2009). Pada zona ini bertumpu kegiatan ekonomi masyarakat dan secara ekonomi dan sosial mereka berinteraksidengan sumber daya dan ekosistemnya.
Indeks dan status keberlanjutan dapat menjadi acuan gunamencapai tatakelola yang efektif. Status keberlanjutanpenatakelolaan mengindikasikan bahwa pengelolaan ZPT-KKL saat ini kurang efektif. Upaya perbaikan dapat dilakukandengan cara pengembangan kegiatan perikanan karang,penyediaan akses data dan informasi, penegakan dankepatuhan aturan, dan adaptif manajemen yang menyediakanproses umpan balik dari kegiatan pengelolaan. Perbaikan padaatribut tersebut dapat meningkatkan kinerja ekonomi rumahtangga nelayan sekaligus mendorong kinerja ekologis yanglebih baik
Daftar Pustaka
Yan Maruanaya., Beny A. Noor., dan Casandra Tania., (2019). Tingkah Laku Hiu Paus (Rhincodon typus) Di perairan Kwatisore, Distrik Yaur dalam Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih Papua. Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan.
Budi Nugraha., Dharmadi., Ngurah N. Wiadnyana., (2020). Status Pemanfaatan dan Upaya Penanganan Hiu Paus (Rhincodon typus) Terdampar di Perairan Indonesia.
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia.
http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/jkpi/article/view/8389
Amaleo Woha., (2022, Juni). Mengulik Potensi Wisata Bahari Indonesia yang Sangat Kaya.
https://eticon.co.id/potensi-wisata-bahari-indonesia/
Laudya Tysara., (2021, Agustus). 20 Wisata Bahari di Indonesia yang Populer, Keindahan Bawah Lautnya Memesona.
https://www.liputan6.com/hot/read/4641438/20-wisata-bahari-di-indonesia-yang- populer-keindahan-bawah-lautnya-memesona
Syarifah Dina Fajriah1, Mussadun2 (2014) Pengembangan Sarana dan Prasarana untuk Mendukung Pariwisata Pantai yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kawasan Pesisir Pantai Wonokerto Kabupaten Pekalongan), Jurnal Pembangunan wilayah dan Kota
Yosef Abdul Ghani, (2014) Pengembangan Sarana Prasarana Destinasi Pariwisata Berbasis Budaya di Jawa Barat, Jurnal Pariwisata, Vol. IV No. 1 April 2017
Riki Kurniawana , Renni Anggrainib , Irin Caisarinac (2019) Evaluasi sarana dan prasarana pariwisata pantai pasir putih desa lamreh kecamatan mesjid raya kabupaten aceh besar, Jurnal Arsip Rekayasa Sipil dan Perencanaan (JARSP)
Eko Prihartanto,(2020), Identifikasi Sarana dan Prasarana Sebagai Proses Pengembangan Wilayah Pesisir Barat Kota Tarakan, Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil.
Danial, Lalu Ahmad . (2021). “Analisis Prasarana dan sarana kebutuhan wisata sebagai penunjang pariwisata di kawasan pantai tanjung aan desa sengkol dan desa kuta, kabupaten lombok tengah”.
Zaenal Akhmad, Ambo Tuwo, Ria Wikantari. (2015). “ Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Takabonerate Di Kabupaten Kepulauan Selayar”.
Azzahra Putri Utami, Windy Mononimbar, Rachmat Prijadi. (2022).” Analisis Kebutuhan Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum Permukiman Pesisir di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara”.
Ni Nyoman Putriana, Piesesa. (2021).” Kepuasan Wisatawan Terhadap Sarana dan Prasarana Wisata di Pantai Tanjung Setia, Kabupaten Pesisir Barat”.
Sari Ristianti, Novia. (2015).” Pengembangan Konsep Wisata Apung Kampung Nelayan Pesisir Balikpapan”.
Suranny Eka Lilyk.(2021, November). Pengembangan Potensi Desa Wisata dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Perdesaan di Kabupaten Wonogiri. Litbang Sukowati, Vol.5, Nomor 1.
Budiani, S.R, dkk. (2018). Analisis Potensi dan Strategi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Komunitas di Desa Sembungan, Wonosobo, Jawa Tengah.
Majalah Geografi Indonesia Vol. 32 No.2. Hal 170-176.
K. H. Ekosafitri, E. Rustiadi & F.Yulianda. (2017, Juni ). Pengembangan Wilayah Pesisir Pantai Utara Jawa Tengah Berdasarkan Infrastruktur Daerah: Studi Kasusu Kabupaten Jepara. Journal of Regional and Rural Development Planning.
Bawole et al. (2011). Keberlanjutan Penatakelolaan Zona Pemanfaatan Tradisional dalam Kawasan Konservasi LautTaman Nasional Teluk Cenderawasih Papua Barat.
ISSN: 2087 – 0469.
Novriadi et al. (2022). Analisis Kerentanan Pesisir di Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat. P-ISSN 1693-2862 E-ISSN 2776-3080.
Lampiran 1
No Indeks Judul Sumber Ruang Lingkup Tahun
1 Scholar Jurnal Pembangunan wilayah
dan Kota
Pembangunan wilayah dan Kota 2014
2 Scholar Jurnal Arsip Rekayasa Sipil
dan Perencanaan (JARSP
Sarana dan Prasarana 2019
3 Scholar Jurnal Pariwisata, Vol. IV Sarana dan Prasarana 2017
4 Scholar Borneo Engineering: Jurnal
Teknik Sipil
Sarana dan Prasarana 2020
Lampiran 2 N
o Penulis Sumber Judul Tahu
n Tema Temuan Metodologi
1 Lalu Ahmad Danial
Repository.unissula.ac.i d
Analisis Prasarana dan sarana
kebutuhan wisata sebagai penunjang pariwisata di kawasan pantai tanjung aan desa sengkol dan desa kuta, kabupaten lombok tengah
2021 Sarana Dan Prasarana Pesisir
Perencanaan yang terdiri dari atraksi wisata, pembangunan prasarana dan sarana hingga aksebilitas, dan
memperkenalkan, berperan dalam pembuatan peraturan pariwisatayan dimana peraturan tersebut diserahkan ke masyarakat
Pendekatan Deskriptif Kualitatif
2 Zaenal Akhmad*, Ambo Tuwo,
Jurnal FISIP- UNASMAN
STRATEGI PENGEMBANGA N KAWASAN
2015 Pengembanga n Wisata Pesisir
Faktor-faktor internal yang mendukung (kekuatan) pengembangan
Penelitian Ini Bersifat Deskriptif
N
o Penulis Sumber Judul Tahu
n Tema Temuan Metodologi
Ria Wikantari
WISATA
TAKABONERATE DI KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR
pariwisata di Kawasan Takabonerate adalah:
Potensi kawasan yang besarserta
ekosistem pulau-pulau kecil yang khas, budaya lokal di kawasan yang masih ,tingginya partisipasi masyarakat terkait pengembangan wisata di kawasan.trasnportasi yang memadai permasalahan saat ini adalah ketidaksediaan transportasi public yang membuat masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi
Kuantitatif
3 Azzahra Putri Utami Windy Mononimbar Rachmat Prijadi
Ejournal.unsrat Analisis Kebutuhan Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum Permukiman Pesisir di Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara
2022 Lingkungan Binaan Dan Arsitektur
Dari hasil analisis
kebutuhan prasarana sarana dan utilitas umum maka sampai dengan tahun 2040 terdapat prasarana yang perlu ditambahkan agar bisa memenuhi Standar Pelayanan Minimal seperti jaringan drainase, jaringan persampahan dan jaringan air minum
Analisis Deskriptif Kualitatif, Analisis Spasial Dan Analisis Kuantitatif
4 Ni Nyoman Repo.Itera Kepuasan 2021 Sarana Dan Hasil penelitian Kuantitatif
N
o Penulis Sumber Judul Tahu
n Tema Temuan Metodologi
Putriana, Piesesa
Wisatawan Terhadap Sarana dan Prasarana Wisata di Pantai Tanjung Setia, Kabupaten Pesisir Barat
Prasaran Pesisir
menunjukkan bahwa wisatawan cenderung merasa cukup puas terhadap sarana dan prasarana wisata yang tersedia. Kepuasan yang dirasakan wisatawan dilihat dari kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana wisata yang tersedia, didukung dengan data kebutuhan wisatawan terhadap sarana dan prasarana wisata dan kesesuaian sarana dan prasarana wisata yang tersedia dengan standar
Deskriptif Dengan Menggunakan Analisis Statistik Deskriptif Dan Analisis Asosiasi Korelatif Berdasarkan Kuesioner Dan Observasi Lapangan
5 Novia Sari Ristianti
Ejournal2.undip Pengembangan Konsep Wisata Apung Kampung Nelayan Pesisir Balikpapan
2015 Sarana Dan Prasarana
penataan kegiatan
permukiman yang bersifat berkelanjutan baik dari segi ekonomi, lingkungan maupun sosial masyarakat pesisir melalui perwujudan SMART ECO-VILLAGE.
Konsep ini mengusung asas keberlanjutan dari segi ekonomi, lingkungan dan sosial namun tetap mengadopsi budaya dan adat masyarakat nelayan
Deskrptif
N
o Penulis Sumber Judul Tahu
n Tema Temuan Metodologi
yang kemudian dikemas dalam penataan
permukiman melalui konsep pengembangan desa wisata
6 Suranny, L.
E.
Jurnal Litbang
Sukowati, Vol. 5, No. 1, November 2021, Hal 49-62
Pengembangan Potensi Desa Wisata Dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Perdesaan di Kabupaten Wonogiri
2021 Earth and Environmental Science
Dalam penelitian ini menjelaskan Rencana pengembangan Desa Wisata Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri antara lain:
Pengembangan atraksi melalui pembuatan paket wisata yang dikemas secara menarik dan terstruktur;
pengembangan aksesibilitas melalui penyediaan fasilitas infrastruktur yang
memadai; pengembangan amenitas melalui
peningkatan daya dukung fasilitas penunjang wisata, dan pengembangan aktivitas wisata baik dari masyarakat maupun dari pengelola Desa Wisata Conto untuk mewujudkan pengembangan wisata yang berkelanjutan.
penelitian deskriptif yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif.
Sesuai dengan pendekatan yang digunakan maka
pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam/ in depth interview, observasi dan studi dokumen
N
o Penulis Sumber Judul Tahu
n Tema Temuan Metodologi
7 Budiani, S.R, dkk.
ISSN 0125 - 1790 Analisis Potensi dan Strategi
Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Komunitas di Desa Sembungan, Wonosobo, Jawa Tengah
2018 Transportasi Karakteristik Pariwisata berkelanjutan diantaranya dapat dilihat dari segi atraksi wisata dan keunikan wisata, serta sumberdaya manusia.
Metode Kualitatif
8 K. H.
Ekosafitri, E.
Rustiadi &
F.Yulianda
ISSN 2549 – 3922 EISSN 2549 - 3930
Pengembangan Wilayah Pesisir Pantai Utara Jawa Tengah Berdasarkan Infrastruktur Daerah: Studi Kasusu Kabupaten Jepara
2019 Infrastruktur Dari penelitian ini Pengembangan kawasan pesisir ke depan
dititikberatkan pada pengembangan kegiatan potensial berdasarkan potensi lokal yang dimiliki.
Data yang digunakan dalam penelitian berupa data primer dan data sekunder
9 Bawole et al. ISSN: 2087 - 0469 Keberlanjutan Penatakelolaan Zona Pemanfaatan Tradisional dalam Kawasan
Konservasi LautTaman Nasional Teluk Cenderawasih Papua Barat
2011 Transportasi Indeks dan status keberlanjutan dapat menjadi acuan
gunamencapai tatakelola yang efektif. Status keberlanjutanpenatakelolaa n mengindikasikan bahwa pengelolaan ZPT-KKL saat ini kurang efektif.
Data primerdi kumpulkan melalui metode observasi, pengukuran langsung terhadap objek penelitian, FGD (focus group discussion), dan kuesioner.
N
o Penulis Sumber Judul Tahu
n Tema Temuan Metodologi
10 Novriadi et al.
P-ISSN 1693-2862 E-ISSN 2776-3080
Analisis Kerentanan Pesisir di
Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat
2022 Transportasi Secara umum Kabupaten Pesisir Selatan
didominasi oleh material soft sediment dengan geomorfologi berbentuk beach, namun
Kabupaten Pesisir Selatan tidak memiliki
ombak dan tunggang pasang surut yang terlalu tinggi sehingga menjadikan wilayah pesisir
tidak terlalu rentan dan berada di tingkat
kerentanan sangat rendah.
Smartline dan analisis data menggunakan rumus CVI
11 Abdul Hamid A. Toha, Ambariyanto, Saiful Anwar, Juswono B.
Setiawan, Roni Bawole
Perpustakaan Nasional:
Katalog dalam terbitan (KDT)
Hiu Paus Teluk Cenderawasih: Riset dan Monitoring
2019 mengupas ide- ide
pengelolaan kawasan konservasi dengan menjadikan masyarakat menjadi subyek dalam aktivitas pengelolaan kawasan konservasi
”. Buku ini merupakan sebuah terobosan dalam pengelolaan kawasan konservasi khususnya Taman Nasional yang dikelola dengan sistem zonasi yang melibatkan masyarakat sebagai subyek pengelolaan kawasan melalui aktivitas pariwisata.
N
o Penulis Sumber Judul Tahu
n Tema Temuan Metodologi
khususnya dalam bidang aktivitas ekowisata tanpa
meninggalkan aspek-aspek konservasi seperti perlindungan, pengawetan dan
pemanfaatan 12 Syarifah
Dina Fajriah1, Mussadun2
Jurnal Pembangunan wilayah dan Kota
Pengembangan Sarana dan Prasarana untuk Mendukung Pariwisata Pantai yang Berkelanjutan (Studi Kasus:
Kawasan Pesisir Pantai Wonokerto Kabupaten Pekalongan).
JURNAL
PEMBANGUNAN WILAYAH &
KOTA,
2014 Transportasi mengkaji pengembanga n sarana dan prasarana untuk Fajriah Pengembanga n Sarana dan Prasarana untuk mendukung pariwisata pantai yang berkelanjutan
pengembangan wilayah pesisir yang berkelanjutan.
Untuk menunjang hal tersebut dibutuhkan sarana dan prasarana yang
mendukung guna mencapai semua kebutuhan dalam mengoptimalkan kawasan pariwisata
metode komparatif digunakan dalam analisis jumlah sarana dan prasarana pariwisata pesisir yang ada di Pantai Wonokerto Kabupaten Pekalongan, metode analisis deskriptif kualitatif digunakan
N
o Penulis Sumber Judul Tahu
n Tema Temuan Metodologi
untuk
mendeskripsika n kondisi eksisting sarana dan prasarana yang akan dianalisis yang meliputi daya tarik/atraksi, aksesibilitas, transportasi, pelayanan, informasi, kenyamanan dan keamanan 13 Riki
Kurniawana,
* , Renni Anggrainib , Irin
Caisarinac
Jurnal Arsip Rekayasa Sipil dan Perencanaan (JARSP)
Evaluasi sarana dan prasarana pariwisata pantai pasir putih desa lamreh kecamatan mesjid raya kabupaten aceh besar
2019 Sarana dan Prasarana
asilitas wisata dan
infrastruktur di Pantai Pasir Putih sebagian besar sebesar 12 indikator (52,17%). Dalam perkembangan wisata Pantai Pasir Putih, tingkat partisipasi masyarakat masih rendah, 72,95%
masyarakat sudah
tidak pernah berpartisipasi
Teknik
sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling.
Pengambilan sampel ini dilakukan secara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada
N
o Penulis Sumber Judul Tahu
n Tema Temuan Metodologi
pada pengunjung 14 Yosef Abdul
Ghani
Jurnal Pariwisata, Vol.
IV
Pengembangan Sarana Prasarana Destinasi Pariwisata Berbasis Budaya di Jawa Barat
2017 Sarana dan Prasarana
Hasil penelitian ditemukan bahwa Salah satu cara untuk meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan mancanegara adalah dengan membangun dan memperbaiki sarana prasarana Pariwisata yang sudah ada melalui Inovasi dengan mengkombinasi unsur budaya dengan sarana prasarana pariwisata yang sudah ada atau belum terbangun
Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif dengan menggunakan pendekatan Inquiry Filosofi
15 Eko Prihartanto
Borneo Engineering:
Jurnal Teknik Sipil
Identifikasi Sarana dan Prasarana Sebagai Proses Pengembangan Wilayah Pesisir Barat Kota Tarakan
2020 i Sarana dan Prasarana
Hasil yang diperoleh adalah kategori yang masuk dalam hirarki atas ketersediaan sarana dan prasarana seperti Terdapat tiga hirarki di Kelurahan Selumit Pantai berdasarkan analisis skalogram
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analisis data dan kualitatif deskriptif dengan menggunakan analisis skalogram untuk mengetahui lokasi pusat
N
o Penulis Sumber Judul Tahu
n Tema Temuan Metodologi
pusat
pertumbuhan berdasarkan ketersediaan sarana dan prasarana tiap wilayah RT yang ada di wilayah pesisir kelurahan Selumit Pantai Kota Tarakan.