Nama : Amelia Safira Kelas : 9-A
Absen : 4
Tugas Bahasa Indonesia membuat cerpen
SELEMBAR KERTAS YANG MEMBUKA LEMBARAN BARU
Setiap makhluk hidup pasti di lahirkan di dunia dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing, termasuk manusia. Albert Einstein pernah berkata “Setiap anak adalah jenius namun jika kamu menilai seekor ikan dari cara ia memanjat, ia akan merasa bodoh seumur hidup”. Itu adalah suatu peristiwa yang pernah aku alami. Orang tuaku menganggap kelebihan yang ku miliki adalah sebuah kekurangan, hingga orang tuaku pernah berkata bahwa mereka telah menyesal melahirkanku. Walaupun yang dilakukan oleh orang tuaku terkadang menyakiti aku, tapi aku tetap bersyukur mereka telah melahirkanku. Karena aku tau melahirkan dan merawat anak bukanlah hal yang mudah.
Namaku... Savina Ariella. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku bernama Leora Gebriella. Usiakuku dan Leora hanya selisih setahun. Leora selalu menjadi kebanggaan papa dan mama karena ia selalu menjadi juara kelas. Berbalik denganku yang hanya berfokus pada impianku.
Saat itu adalah hari pengambilan rapot untuk kelas 10 dan kelas 11. Seperti biasa orang tuaku akan menyempatkan waktunya jika itu berhubungan dengan nilai. Pagi hari aku sekeluarga berangkat bersama untuk pengambilan rapot akhir semester genap. Papa yang mengambil rapotku, dan mama yang mengambil rapot Leora. Kami masing-masing menuju kelas pengambilan rapot untuk kelas 10 dan 11.
Tak jauh dari parkir mobil, langkah kakiku dan papa telah sampai di ruang
pengambilan rapot, aku dan papa pun duduk untuk menunggu namaku dipanggil. Tak lama kemudian namaku terpanggil dengan jelas dari pengeras suara “SAVINA ARIELLA.”
Akhirnya aku dan papa pun maju untuk mengambil rapot. Seperti pada umumnya, guru menjelaskan bagaimana sikapku selama mengikuti KBM dan tentunya guru akan memberi
sedikit saran. Guruku memberi saran kepadaku agar lebih giat belajar. Raut wajah papa seperti tampak curiga dengan nilaiku. Aku dan papa pun keluar dari ruangan itu, menyusuri jalan yang hampir dipenuhi oleh wali murid yang tengah membahas tentang nilai anaknya.
Kami biasanya membahas nilai jika sampai di rumah.
Ketika sampai di rumah papa dan mama langsung membuka rapotku dan rapot Leora.
Ketika mereka membuka rapotku, mereka tercengang danraut wajah mereka memerah.
“Savinaaaa!!!!” teriak papa sambil menghadap ke wajahku.
“Lihat nilai kamu, dari sepuluh mata pelajaran hanya empat yang tidak merah!!” ucap papa.
“Berbeda dengan nilai Leora, dari kecil dia selalu banggain mama papa” timpal mama.
“Kamu mau papa kurung kamu lagi di kamar mandi karna nilai kamu yang merah,”
ujar papa.
Badanku seketika bergetar aku ketakutan, tapi aku mencoba memberankian diri untuk berkata,
“Kenapa sih mama sama papa itu selalu mentingin nilai, memang nilai itu penting tapi mungkin kelebihanku bukan disitu pa ma. Aku emang nggak sepintar Leora, tapi aku punya kelebihan lain. Aku bisa ciptain novel, bahkan banyak novel aku yang udah diterbitin. Tapi kenapa mama sama papa selalu menganggap kelebihanku itu sebagai kekurangan.”
Papa yang tangannya langsung mengambil vas bunga dan melempar ke arah samping aku. “Pyaaaaaarrrrrr!!” suara vas bunga yang dilempar papa.
Badanku seketika mematung, aku benar-benar sangat ketakutan kali ini. Aku sudah tidak bisa menahan air mata ini menetes di pipiku.
“Mama nyesel ngelahirin anak seperti kamu Savina,” cetus mama.
Mama langsung pergi tapi anehnya mama bukan kekamarnya melainkan ke kamarku.
Aku tidak tau apa yang dilakukan mama di kamarku. Tak lama kemudia mama keluar dari kamarku sambil membawa setumpuk buku novelku yang telah diterbitkan. Dan mama menuju halaman samping rumah sambil menyahut korek api di sampingnya. Aku sangat ketakutan akan hal yang ingin dilakukan mamaku.
“Ini yang kamu sebut kelebihan Savina, lihat ini sekarang,” ucap mama sambil memegang korek api.
Aku pun langsung berlari ke arah mama dan berkata, ”Maaa aku mohon jangan bakar novel aku.”
Tiba-tiba papa berada di sampingku dan membawa beberapa buku pelajaran Leora.
“Lihat buku yang dikolesi Leora, ini buku pelajaran yang bermanfaat bukan novel nggak guna kayak gitu,” tegas papa.
“Jangan sentuh buku aku paa!!!” teriak Leora dari ruang tengah sambil berlari ke halaman samping, dan merebut buku pelajaran yang di tangan papa.
Kami semua heran dengan sikap Leora, mengapa ia takut sekali ketika buku itu dipegang oleh papa. Ketika ia merebut buku itu ada selembar kertas dan beberapa foto yang jatuh, tapi sayangnya hanya aku yang mengetahui itu. Aku mengira lembaran itu hanyalah berisi catatan belajar Leora.
“Mama akan bakar semua novel jelek kamu ini!!!” ucap mama sambil tersenyum.
“Jangan maaa aku mohoooonn,” ucapku kepadaa mama. Air mataku semakin menetes di pipiku, aku benar-benar sangat sedih saat ini, karna novel selama ini yang aku buat
sekarang akan dibakar.
Ketika mengambil novelku ada selembar kertas yang terjatuh dari belakang halaman buku itu. Mama langsung berhenti seketika, pandangan mama langsung tertuju pada kertas itu dan menunda membakar novelku. Mama langsung membaca isi yang ada di selembar
kertasku. Kertas itu hanyalah berisi puisi tentang, bahwa aku benar-benar menyayangi kedua orang tuaku. Entah kenapa mama menangis ketika membaca puisi itu, mungkin mama tersentuh dengan kata-kata dalam puisi itu dan sadar bahwa aku benar-benar sangat sayang kepada mama dan papa walaupun mereka sering membuatku ketakutan dan menangis, dan aku ingin sekali membanggakan mereka dengan kelebihan yang ku miliki. Papa dan Leora langsung heran dengan mama. Raut wajah mereka seakan-akan bertanya mengapa mama menangis ketika membuka kertas itu.
Mama yang tadinya ingin membakar kertas langsung menjatuhkan korek api di tangannya dan memelukku sambil menangis. Saat itu aku sangat senang sekali mama
memelukku, pelukan mama terasa sangat hangat dan aku merasa nyaman berada dipelukan itu. Karna jujur saja mama sudah lama sekali tidak memelukku seperti ini.
Papa dengan penasaran sekali langsung merebut kertas itu dari tangan mama dan membacanya.
“Savinaa papa minta maaf selama ini papa kasar sama kamu,” kata papa sambil menundukkan kepala seperti orang yang merasa bersalah.
Dan aku melepaskan pelukan mama hanya untuk menatap wajah papa sambil berkata,
“Papa sama mama nggak perlu ngerasa bersalha karena emang aku mungkin nggak bisa jadi anak yang papa sama mama inginkan, aku juga salah pa ma.”
Mama hyang tidak sengaja melihat selembar kertas dan foto yang terbalik di depan kaki Leora. Mama langsung berusaha mengambil kertas dan foto itu. Seketika wajah Leora tegang, kami pun tak tau apa isi kertas itu sebenarnya.
Mama yang tengah membaca kertas itu dan melihat beeberapa foto itu kembali meneteskan air mata.
“Mama Leora bisa jelasin kertas dan foto itu,” kata Leoran
Tiba-tiba mama memeluk Leora sambil berkata, “Leora mama minta maaf, mama selama ini menuntu kamu untuk mendapat nilai tertinggi di kelas, mama benar-benar minta maaf.”
Aku dan papa langsung membaca sekaligus melihat foto itu. Ternyata di dalam kertas itu adalah keluh kesah Leora akan yang terjadi di keluarga ini papa dan mama yang selalu menuntut nilai, pertengkaran dan orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kurangnya kedekatan antara hubungan orang tua dengan anaknya.
“Savina, Leora, papa sama mama benar-benar minta maaf sama kalian tentang apa yang telah papa sama mama lakukan. Papa janji papa akan berusaha jadi orang tua yang perhatian dan sayang kepada anaknya dan juga papa nggak akan nuntut tentang nilai.
Sekarang papa yakin akan kelebihan yang ada pada diri kalian masing-masing,” ucap papa sambil memeluk aku, Leora dan mama. Kami pun sekarang menjadi keluarga yang harmonis yang saling menyayangi.