• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEMINAR ARSITEKTUR

N/A
N/A
Isnaini

Academic year: 2024

Membagikan " SEMINAR ARSITEKTUR "

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

SEMINAR ARSITEKTUR

PERANCANGAN PELABUHAN DI KOTA TEMBILAHAN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU

Oleh

ISNAINI NIM. 2007125813

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR JURUSAN ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU

2024

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara kepulauan yang lebih dari 2/3 wilayahnya berupa perairan. Sejak zaman nenek moyang, bangsa Indonesia sudah mengenal dan menggunakan transportasi laut untuk menghubungkan pulau-pulau yang dipisahkan oleh perairan sehingga Indoneisia dikenal sebagai negara maritim. Sebagai negara maritim, keberadaan infrastruktur pelabuhan di Tanah Air berperan penting sebagai pintu masuk orang dan logistik. Pelabuhan juga memiliki peran yang penting untuk kegiatan perdagangan maupun industri. Menurut laporan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jumlah pelabuhan di Indonesia sebanyak 2.439 pelabuhan pada 2020.

Angka tersebut meningkat 38,6% dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 1.760 pelabuhan. Indonesia tentunya memiliki tempat persinggahan transportasi laut yakni pelabuhan. Selain untuk transportasi umum, pelabuhan juga ditujukan untuk tujuan perdagangan dan logistik.

Undang-Undang Republik Indonesia No 17 Tahun 2008 tentang pelayaran dalam melaksanakan kegiatan penyediaan dan/ pelayanan jasa kepelabuhanan sebagaimana yang dimaksud Badan Usaha Pelabuhan berkewajiban menyediakan dan memelihara kelayakan fasilitas pelabuhan, memberikan pelayanan kepada pengguna jasa pelabuhan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah, menjaga keamanan, keselamatan, dan ketertiban pada fasilitas pelabuhan yang dioperasikan, ikut menjaga keselamatan, keamanan, ketertiban yang menyangkut angkutan di perairan, memelihara kelestarian lingkungan, memenuhi kewajiban sesuai dengan konvensi dalam perjanjian dan mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan, baik secara Nasional maupun Internasional.

Salah satu pulau yang berada dalam wilayah Negara Republik Indonesia adalah Kabupaten Indragiri Hilir, Ibu kota kabupaten ini terletak di kecamatan Tembilahan.

Tembilahan memiliki luas wilayah 1.367.551 Ha, dengan jumlah pulau-pulau kecil sebanyak 25 pulau. Panjang garis pantai Kabupaten Indragiri Hilir adalah 339,5 km dan

(3)

luas perairan laut meliputi 6.318 km² atau sekitar 54,43 % dari luas wilayah. Pelabuhan tembilahan berada di Kabupaten Indragiri Hilir, kepulauan Riau. kegiatan utama Pelabuhan ini adalah pelayanan jasa kepelabuhan dan bongkar muat komoditas baik di tingkat domestik maupun internasional. Saat ini pengelolaan Pelabuhan Tembilahan berada di bawah PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, sebelumnya bernama Pelindo I. kondisi eksisting Pelabuhan yang ada belum memiliki kelayakan sebagai tempat pemberhentian dan bersandar sehingga dapat mengganggu kenyamanan pengguna. Baik dari parkiran, transportasi air yang berantakan, kerusakan Pelabuhan setiap tahun, bau yang diakibatkan dari pasar tradisional, dan pembuangan sampah.

Maka dari itu dibutuhkanlah fasilitas yang dapat mendukung aktifitas masyarakat sehingga akses dapat dijangkau dengan baik oleh masyarakat sekitar.

Sarana transportasi laut menjadi hal yang sangat penting bagi masyarakat tembilahan untuk menunjang kegiatan perekonomian khususnya pada sector kelautan.

Aktivitas transfortasi air yang terjadi di pelabuhan antara lain menaik-turunkan penumpang, mengirim dan menerima barang, dan menyemberangkan penumpang.

Kualitas pelabuhan tidak terlepas dari sejauh mana pelabuhan memberikan rasa aman dan nyaman dirasakan pengguna pelabuhan tentunya diiringi dari petugas pemberi pelayanan dan sarana prasarana yang mendukung. kualitas pelayanan pelabuhan yang diberikan terhadap masyarakat pengguna pelabuhan belum memberikan kepuasan sehingga masih banyak pengguna pelabuhan mengeluh dan perlunya dilakukan pembenahan. Tentu adanya penyediaan fasilitas bagi penumpang Salah satunya fasilitas penunjang yang dapat memberikan rasa nyaman pada penumpang yaitu terminal penumpang dengan kapasitas yang besar, aman, nyaman, luas, bersih, sejuk, menarik dan juga fasilitas yang lengkap. Oleh karena itu diperlukan pembangunan Terminal Pelabuhan dengan fasilitas tersebut akan dikembangkan menjadi sebuah wadah yang dapat menampung seluruh kegiatan yang ada di Pelabuhan Tembilahan.

Perancangan terminal Pelabuhan yang terletak di pinggir laut memiliki sumber daya alam yang berlimpah seperti angin, cahaya matahari yang maksimal, dan pergerakan ombak. sehingga Pelabuhan ini didesain menggunakan pendekatan Arsitektur Hijau yang memanfaatkan kondisi sumber daya alam setempat untuk meminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada Kesehatan manusia dan

(4)

lingkungan. Dengan pemanfaatan tema Arsitektur Hijau dalam perancangan Terminal Pelabuhan di anggap dapat menfaatkan kondisi tapak untuk menghemat energi dan memaksimalkan penggunaan sumber daya alam sebagai pembangkit listrik alternatif yang ramah lingkungan dan memberikan kenyamanan bagi pengguna dan lingkungan.

1.2 Identifikasi Masalah

Adapun permasalahan yang akan di kaji dalam Perancangan Pelabuhan di Kota Tembilahan dengan Pendekatan Arsitektur Hijau adalah sebagai berikut :

1.

2.

3.

1.3 Tujuan

Berdasarkan uraian pada identifikasi masalah, maka tujuan pada Perancangan Pelabuhan di Kota Tembilahan dengan Pendekatan Arsitektur Hijau adalah sebagai berikut :

1.

2.

3.

1.4 Lingkup dan Batasan

Berdasarkan uraian pada tujuan, maka ditentukan lingkup dan Batasan agar perancangan Terminal Pelabuhan di Kota Tembilahan lebih terfokus.

1.4.1 Lingkup

A. Lingkup Subtansial

Lingkup subtansial pada perancangan Terminal Pelabuhan di Kota Tembilahan berfungsi sebagai fasilitas yang mewadahi kegiatan pengguna dalam aktivitas pelayaran. Hal tersebut meliputi pembahasan mengenai fungsi, masa bangunan, lansekap, maupun fasilitas pendukung bangunan dengan tema Arsitektur Hijau.

B. Lingkup Wilayah

(5)

Lingkup wilayah perancangan Terminal Pelabuhan mencakup wilayah administratif Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.

1.4.2 Batasan

(6)

1.5 Kerangka Berfikir

(7)

1.6 Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan pada penulisan seminar berjudul Perancangan Pelabuhan di Kota Tembilahan dengan Pendekatan Arsitektur Hijau ini sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini membahas tentang latar belakang, identifikasi masalah, Tujuan, lingkup dan Batasan, kerangka berpikir, sistematika pembahasan, dan keaslian penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi pembahasan yang berkaitan dengan Pelabuhan, serta pembahasan yang berkaitan dengan Arsitektur Hijau.

BAB III METODE PERANCANGAN

Bab ini berisi uraian mengenai pradigma perancangan, Langkah- langkah perancangan, lokasi, dan bagan alur dalam perancangan Pelabuhan di Kota Tembilahan

BAB IV ANALISIS DAN KONSEP PERANCANGAN

Bab ini membahas tentang analisis perancangan meliputi analisis fungsional, analisis kebutuhan ruang, penerapan tema ke dalam bangunan, analisis tampilan fisik bangunan, analisis tapak dan kondisi bangunan, konsep perancangan meliputi perancanaan Pelabuhan di kota Tembilahan dengan Pendekatan Arsitektur Hijau.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi kesimpulan dan saran yang di dapat dari hasil Perancangan Pelabuhan di Kota Tembilahan dengan Pendekatan Arsitektur Hijau.

(8)

1.7 Keaslian Penulisan

Berdasarkan penelusuran tentang judul Perancangan Pelabuhan di Kota Tembilahan dengan Tema Pendekatan Arsitektur Hijau. Terdapat 6 judul yang memiliki keterkaitan, yaitu :

Tabel 1.1 Keaslian Penulisan

No Judul Persamaan perbedaan

1 2 3 4 5 6

Referensi

Dokumen terkait

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 129 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan Pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002

Kewajiban Ombudsman sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia juga meliputi bidang-bidang pelayanan publik yang

Penyidikan tindak pidana pelayaran oleh penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) di tuangkan dalam Undang-Undang Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran kemudian turunan

Dalam rangka penerapan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 dan penyediaan dan pelayanan informasi publik, BPTP Balitbangtan Sumut telah ikut serta melaksanakan sosialisasi/workshop

92 DAFTAR PUSTAKA Undang-Undang Nomor: 17 Tahun 2008Tentang Pelayaran; Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 Tentang Kepelabuhanan sebagaimana telah diubah terakhir dengan

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran LEMBAGA PEMERINTAH/BADAN YANG BERKAITAN DENGAN SEKTOR PERIKANAN Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian

Tanggung Jawab Perdata Perusahaan Pelayaran Terhadap Barang Angkutan Atas Peristiwa Kecelakaan Kapal Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran.. Universitas

Pelayaran rakyat diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, bahwa Angkutan Laut Pelayaran Rakyat adalah usaha rakyat yang bersifat tradisional dan mempunyai