• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Pendidikan Matematika Universitas Pattimura

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Seminar Nasional Pendidikan Matematika Universitas Pattimura"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

PENINGKATAN HASIL BELAJAR KELAS Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar kelas

Tabel 1. Hasil tes akhir siklus I  KKM  Frekuensi  Persentasi
Tabel 1. Hasil tes akhir siklus I KKM Frekuensi Persentasi

Siklus I

Peningkatan hasil belajar yang terjadi dari Siklus I ke Siklus II dalam penelitian ini disajikan pada grafik berikut.

Siklus II

Berdasarkan hasil yang diperoleh dan perbaikan pada siklus II dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TSTS yang diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas telah terlaksana dengan baik dan pelaksanaan tindakan telah terlaksana dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis tindakan tercapai yaitu terjadi peningkatan hasil belajar di kelas.

Kesimpulan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI ARITMATIKA SOSIAL DENGAN MENGGUNAKAN MODEL

SMP NEGERI 12 AMBON

  • Pendahuluan
  • Metode Penelitian
  • Hasil dan Pembahasan
    • Siklus I Perencanaan
    • Siklus II Perencanaan
  • Ucapan Terima Kasih

Menyiapkan soal tes akhir Siklus I dan menentukan kriteria penilaian yaitu tindakan berhasil jika persentase hasil belajar topik penelitian ditentukan. Hasil tes siklus terakhir menunjukkan pada 6 mata pelajaran persentase hasil belajar tidak memenuhi kriteria yaitu >65%.

Tabel 1. Hasil tes akhir siklus I
Tabel 1. Hasil tes akhir siklus I

KOMPARASI KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY

PADA MATERI PERBANDINGAN TRIGONOMETRI

Hasil dan Pembahasan 1. Hasil

  • Pembahasan

Sedangkan nilai rata-rata keterampilan pemahaman konsep siswa termasuk dalam kategori sedang pada kelas kontrol. Untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemahaman konsep siswa antara kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran Discovery learning dengan model pembelajaran konvensional dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji beda rata-rata atau uji t.

Tabel 3. Hasil belajar siswa  Kategori  Hasil
Tabel 3. Hasil belajar siswa Kategori Hasil

KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM

MENYELESAIKAN SOAL-SOAL HIGHER ORDER THINKING SKILL (HOTS) PADA MATERI BARISAN DAN DERET

Pemilihan materi tersebut dikarenakan siswa kurang berpikir kritis dalam menyelesaikan soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) berbentuk soal cerita dengan benar. Hal ini terlihat dari tidak ada siswa yang memperoleh nilai tinggi atau sangat tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan kritis siswa dalam menyelesaikan soal tes berupa soal HOTS masih sangat rendah. Berdasarkan pengertiannya di atas, dapat dikatakan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS masih dikategorikan sangat rendah.

Keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika menggunakan model JUCAMA di sekolah menengah.

Tabel 1. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis
Tabel 1. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA YANG DIAJARKAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN AIR

PEMBELAJARAN KONVENSIONAL PADA MATERI PERBANDINGAN TRIGONOMETRI DI KELAS X IIS SMA

XAVERIUS AMBON

Hasil Belajar Menggunakan Model Pembelajaran AIR (Auditory,

Pada pertemuan kegiatan pembelajaran, kelas eksperimen mendapat perlakuan yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) Intellectually, Repetition) dan model pembelajaran Konvensional pada materi Perbandingan Trigonometri. Berdasarkan rata-rata skor tes hasil belajar kelas yang menggunakan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR). Kelas eksperimen yang melaksanakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) lebih unggul dibandingkan model pembelajaran konvensional.

Pembelajaran kooperatif tipe AIR merupakan salah satu bentuk pembelajaran kooperatif dimana model pembelajaran ini bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan.

Hasil Belajar Menggunakan Model Pembelajaran Konvensional

Hal ini dikarenakan ketika pembelajaran menggunakan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR), siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan dapat berkomunikasi dengan temannya serta bertukar pikiran saat berdiskusi. Selain itu, siswa dapat belajar tanpa tekanan dan tekanan selama proses pembelajaran dengan bantuan model. dapat merasakan suasananya, bersantai dan bersenang-senang sambil belajar. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Hanbury (Yudhawati) bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan mengintegrasikan ide-ide yang dimilikinya. Meskipun penggunaan model AIR untuk pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa, namun masih terdapat kendala yang kami hadapi selama pembelajaran yaitu dalam diskusi kelompok terdapat beberapa siswa yang diam atau kurang berpartisipasi dan kurang aktif dalam mengerjakan tugas kelompok. .

Hal ini sejalan dengan pandangan Ratumanan bahwa peran guru juga mengorganisir kelompok dalam kegiatan belajar mengajar.

Perbedaan Hasil Belajar Siswa Yang Diajarkan Dengan Menggunakan Model

Hasil belajar matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Perbedaan Hasil Belajar Kelas XII-IPS SMA Kartika Penerapan Model Pembelajaran AIR (Auditory, Intellectually, Repetition) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran dan Pembelajaran.

2018 Perbedaan Hasil Belajar Siswa yang Menggunakan Model Pembelajaran Auditory Intellectual Repetition (AIR) dan Model Pembelajaran Persamaan Linier Satu Variabel Konvensional pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 7 Ambon.

PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH

DAN MODEL PEMBELAJARAN KONVENSIONAL PADA MATERI STATISTIKA

Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 22 Ambon yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif Make A Match dan model pembelajaran konvensional pada materi statistika. Hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 22 Ambon yang diajar menggunakan model pembelajaran Cooperative Type Make A Match Type pada materi Statistika mencapai skor rata-rata 78,41 dengan kualifikasi baik. Terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 22 Ambon pada kelas eksperimen dan kelas kontrol yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match dan model pembelajaran Konvensional pada materi Statistika.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 22 Ambon yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match dan model pembelajaran statistika konvensional.

Tabel 1. Desain penelitian
Tabel 1. Desain penelitian

ANALISIS METAKOGNISI SISWA KELAS X SMA NEGERI 5

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: mereduksi, menyajikan dan menarik kesimpulan tentang metakognisi siswa dalam menyelesaikan sistem persamaan linear tiga variabel. Metakognisi kelas Metakognisi kelas

Metakognisi kelas

Tabel  1.  Pengelompokkan  Kemampuan  Matematika  Siswa
Tabel 1. Pengelompokkan Kemampuan Matematika Siswa

DESAIN LEMBAR KERJA MAHASISWA DENGAN METODE PENEMUAN TERBIMBING UNTUK PEMBELAJARAN SISTEM

PEMBUKTIAN

  • Hasil dan Pembahasan
    • Metode Penemuan Terbimbing
    • Desain Lembar Kerja Mahasiswa Dengan
  • KEMAMPUAN AKHIR (Sub CPMK)
  • INDIKATOR
  • MODEL/METODE PEMBELAJARAN Model : Model Pembelajaran Koooperatif
    • Kesimpulan

Menurut Bruner (Efendi 2012:4), pembelajaran dengan metode penemuan sejalan dengan keaktifan masyarakat mencari pengetahuan. Selanjutnya dirancang lembar kerja siswa dengan metode penemuan untuk satu kelompok membahas materi dengan metode pembuktian langsung saja, sebagai berikut. Perancangan lembar kerja mahasiswa dengan metode penemuan terbimbing pada pembelajaran materi sistem bukti terlihat dari pertanyaan kepada mahasiswa sebagai bahan penyelesaian masalah pembuktian suatu pernyataan yang terdapat pada lembar mahasiswa dan dikendalikan oleh satuan perkuliahan pertemuan pertama.

Pembelajaran matematika menggunakan metode penemuan terbimbing untuk meningkatkan kemampuan representasi matematis dan pemecahan masalah siswa sekolah menengah.

PENERAPAN BACKPROPAGATION UNTUK PREDIKSI DAN ANALISA PENYAKIT DIABETES MELITUS DI KOTA AMBON

THE APPLICATION OF BACKPROPAGATION TO PREDICT AND ANALYZE DIABETES MELLITUS DISEASE IN AMBON

CITY

Pendahuluan Latar Belakang

  • Landasan Teori 1 Backpropagation
    • Algoritma Training Backpropagation Adapun algoritma training

Kota Ambon sendiri merupakan salah satu kota di Indonesia yang mengalami peningkatan jumlah penderita diabetes. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan berusaha menurunkan jumlah penderita diabetes dan sekaligus berusaha memberantas penyakit tersebut, untuk itu diperlukan kemampuan dalam menentukan faktor yang paling dominan dan kedepannya jumlah penderitanya. untuk memprediksi siapa saja yang mengidap penyakit ini sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan dini terhadap penyakit ini dengan menggunakan Algoritma Kecerdasan Buatan, salah satunya adalah Algoritma Artificial Neural Network: Back Propagation untuk memprediksi dan menganalisis apakah seseorang akan menderita diabetes melitus berdasarkan pada faktor yang paling dominan di kota Ambon. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah algoritma pelatihan Backpropagation dengan menggunakan software MATLAB.

Data masukan yang digunakan untuk penelitian ini berasal dari variabel faktor risiko diabetes melitus.

Hasil dan Pembahasan 1 Variabel Penelitian

  • Arsitektur Jaringan
  • Hasil Pengujian Mengguakan Matlab Setelah melakukan proses pengujian

Faktor diabetes melitus dapat dikelompokkan menjadi faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Pasien dengan kriteria aktivitas fisik kurang aktif didominasi oleh berat badan normal kemudian disusul sedikit dengan selisih 1. Dari ketujuh faktor risiko tersebut, dislipidemia merupakan faktor risiko yang tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap diabetes melitus dengan angka sebesar 77,5%.

Setyorogo (2013), Faktor Risiko Penyakit Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat.

Gambar 4.4 Plot Target vs Output  3.4 Hasil Prediksi dan Analisa
Gambar 4.4 Plot Target vs Output 3.4 Hasil Prediksi dan Analisa

KAJIAN STRUKTUR SUPER n-MATRIKS

THE STUDY OF SUPER n-MATRIX STRUCTURE

  • Landasan Teori 1 Supermatriks
    • Superbimatriks Definisi 1.1
  • Definisi 1.5
    • Supertrimatriks Definisi 1.10
  • Definisi 1.14
    • Hasil dan Pembahasan Definisi 1
  • Definisi 3.5

Jika Vi adalah supermatriks persegi dan Vj adalah supermatriks persegi panjang, maka V adalah supermatriks campuran. Jika Vi (bisa lebih dari 1) merupakan supermatriks persegi dan satu lagi (misalnya Vj) merupakan supermatriks persegi panjang, maka V merupakan supertrimatriks campuran. Sebaliknya, jika setiap Vi adalah supermatriks persegi panjang dengan orde berbeda, maka V adalah supermatriks campuran n-persegi panjang.

Jika sebagian Vi merupakan supermatriks persegi dan sebagian Vj merupakan supermatriks persegi panjang, maka V merupakan n-supermatriks campuran.

PEMODELAN LAMA MASA STUDI MAHASISWA FMIPA UNPATTI MENGGUNAKAN REGRESI LOGISTIK ORDINAL

DENGAN EFEK INTERAKSI

MODELING OF STUDY PERIOD OF UNDERGRADUATE STUDENTS IN FMIPA UNPATTI USING ORDINAL LOGISTIC

REGRESSION WITH INTERACTION EFFECTS

Regresi logistik adalah metode statistik yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara variabel respon kategorikal (Y) dan satu atau lebih variabel prediktor kontinu atau kategoris (X). Jika data variabel respon terdiri dari tiga kategori atau lebih, maka regresi logistik yang digunakan adalah regresi logistik ordinal [4]. Jika PY  j

Parameter β pada model regresi logistik ordinal diestimasi menggunakan metode kemungkinan maksimum dengan memaksimalkan fungsi kemungkinan [4].

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi lama masa studi mahasiswa FMIPA Unpatii dan menghitung keakuratan klasifikasi. Regresi logistik ordinal menggunakan model logit kumulatif atau model logit kumulatif dimana sifat ordinal respon Y dinyatakan dalam odds kumulatif, sehingga model logit kumulatif adalah model yang diperoleh dengan membagi odds kurang dari atau sama dengan kategori respon ke-j pada p variabel prediktor dinyatakan dalam vektor X,. Fungsi probabilitas diubah menjadi fungsi probabilitas In dan diturunkan dari parameter yang akan diestimasi.

  • Statistika Deskriptif Variabel Penelitian Pada penelitian ini variabel respon (Y) dibagi
  • Pembentukan Model Regresi Logistik Ordinal
    • Pengujian Multikolinearitas
    • Pengujian Signifikansi Parameter Secara Serentak
    • Pengujian Signifikansi Parameter Secara Parsial
    • Model Terbaik Regresi Logistik Ordinal Untuk mendapatkan model terbaik digunakan
  • Pembentukan Model Regresi Logistik Ordinal dengan Efek Interaksi
    • Pembentukan Interaksi Variabel
    • Pengujian Signifikansi Parameter Secara Serentak
    • Pengujian Signifikansi Parameter Secara Parsial
    • Model Terbaik Regresi Logistik Ordinal dengan Efek Interaksi
  • Kebaikan Model
  • Interpretasi Model Regresi Logistik Ordinal dengan Efek Interaksi

Data tersebut meliputi lama masa studi (Y) dengan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi jenis kelamin (X1), jurusan (X2), jalur masuk (X3) dan IPK (X1). Berdasarkan Tabel 13, model terbaik lama masa studi mahasiswa FMIPA Unpatti menggunakan regresi logistik ordinal dengan efek interaksi masing-masing. Hasil pemodelan lama masa studi mahasiswa FMIPA Unpatti menggunakan regresi logistik ordinal dengan efek interaksi yang diberikan.

Model terbaik lama masa studi mahasiswa FMIPA Unpatti menggunakan regresi logistik ordinal dengan efek interaksi yaitu.

Gambar  1.  Presentase  Kategori  Lama  Masa  Studi  Mahasiswa
Gambar 1. Presentase Kategori Lama Masa Studi Mahasiswa

STRUKTUR DASAR RING REFLEKSIF QUASI 𝜶

BASIC STRUCTURE QUASI 𝜶 REFLEXIVE RINGS

  • Rumusan Masalah
  • Tinjauan Pustaka
  • Tujuan
  • Landasan Teori
    • Grup
    • Grup Abelian
    • Semigrup
    • Ring
    • Contoh
    • Ideal
    • Ideal Kiri dan Ideal Kanan Misalkan R suatu ring dan 𝐼 ⊆ 𝑅
    • Ring Reversibel
    • Elemen Nilpoten
    • Ring Tereduksi
    • Homomorfisma Ring
    • Contoh Diberikan ring
  • Sifat Refleksif
  • Operasi Biner
  • Ring Refleksif Quasi 𝜶
  • Contoh
  • Contoh

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang dibahas dalam makalah ini adalah tentang struktur dasar cincin 𝛼-kuasi-reflektif. Struktur dasar cincin 𝛼-kuasi-reflektif” dengan harapan agar hasil makalah ini mudah dipahami oleh pembaca. Berdasarkan uraian rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan ini adalah untuk menentukan struktur dasar struktur cincin kuasi-reflektif 𝛼.

Berdasarkan definisi di atas, gagasan tentang cincin kuasi-refleksif α diperkenalkan sebagai generalisasi dari cincin kaku α dan sifat refleksif dari endomorfisme cincin.

Referensi

Dokumen terkait