PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Definisi Operasional
Massuro mabbaca adalah kegiatan dengan menyiapkan makanan khusus kemudian mengundang pabbaca (doa), biasanya tokoh masyarakat atau pendeta di desa. Pabbaca ini akan membacakan doa sebelum makanan yang disiapkan oleh tuan rumah melakukan tradisi mabbaca massuro.
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
Penelitian yang Relevan
Tinjauan Pustaka
Hal yang paling mendasar tentang tradisi adalah adanya informasi yang diwariskan secara turun-temurun, baik tertulis maupun lisan. Tradisi yang dimiliki masyarakat bertujuan agar kehidupan manusia kaya akan budaya dan nilai sejarah. Dari pengertian tersebut, apapun yang dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun dalam segala aspek kehidupannya, yang merupakan upaya untuk meringankan kehidupan manusia, dapat dikatakan sebagai “tradisi”, artinya merupakan bagian dari kebudayaan. Pentingnya menghormati atau menerima sesuatu yang secara sosial didefinisikan sebagai tradisi menjelaskan betapa menariknya fenomena tradisi ini.
Dengan memperhatikan masalah yang tersirat dalam kerangka penulisan (bab dan sub bab), peneliti akan menemukan sumber yang belum ditemukan. b) Dalam mencari sumber di perpustakaan, peneliti harus memahami sistem katalog perpustakaan yang bersangkutan. Menurut Shadily (1983: 1) sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan bersama dalam masyarakat dan menyelidiki hubungan antara orang-orang yang mendominasi kehidupan mereka. Seperti diketahui bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari gejala-gejala masyarakat dan tindakan sosial dalam masyarakat untuk merumuskan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.
Kekuasaan bukan hanya sesuatu yang langka dan tidak merata, sehingga menjadi sumber konflik, tetapi juga kekuasaan itu pada dasarnya koersif. Menurut Koentjaraningrat, antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia secara umum dengan mempelajari perbedaan warna, bentuk fisik masyarakat dan kebudayaan yang dihasilkan. Adapun pengertian pendekatan, dalam dunia ilmu pengetahuan pengertian istilah pendekatan sama dengan metodologi, yaitu sudut pandang atau cara memandang dan menghadapi sesuatu yang menjadi perhatian atau masalah yang dipelajari.
Seperti yang kita ketahui, kebudayaan merupakan sesuatu yang memiliki ruang lingkup yang sangat luas, mulai dari lingkungan sosial, lingkungan alam, tingkah laku dan kebiasaan yang sering dilakukan seseorang. Di antara tanda-tanda yang ditandakan terdapat hubungan representasi yang akan mengarah pada interpretasi tanda yang diciptakan oleh penerima (Ratna, 2004: 65). Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang, berdasarkan konvensi sosial yang telah mapan sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain.
Legisign adalah tanda yang menjadi tanda berdasarkan aturan yang berlaku umum, konvensi, kode. Ikon adalah tanda yang menyerupai objek yang diwakilinya, atau tanda yang menggunakan kemiripan atau sifat yang sama dengan yang ditandakannya.
Kerangka Pikir
Prinsip dasarnya adalah tanda bersifat representatif, yaitu tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain. R adalah bagian tanda yang terlihat (fisik atau mental) yang mengacu pada hal yang diwakilinya [O].
METODE PENELITIAN
Definisi Fokus
Data dan Sumber Data
Tradisi massuro mabbaca merupakan tradisi masyarakat Sawaru yang dilakukan dengan maksud berdoa kepada Tuhan sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang dihibahkan dan mendoakan kerabat yang telah meninggal dunia dan dimaknai oleh masyarakat sebagai musibah yang menjijikkan. Prosesi tradisi mabbaca massuro diawali dengan seseorang yang hendak melakukan suatu peristiwa, misalnya dengan menolak bala. Sebagian besar masyarakat masih mempraktekannya karena tidak bertentangan dengan kepercayaannya, namun tidak sedikit pula yang meninggalkan tradisi mabbaca massuro.
Bau harum kemenyan memiliki arti makna hidup bagi masyarakat yang menjalankan tradisi massuro mabbaca. Karena itu, air putih dimaknai sebagai simbol kejernihan yang menyucikan kehidupan masyarakat yang menjalankan tradisi mabbaca massuro. Songkolok merupakan makanan yang hampir selalu ada dalam tradisi masyarakat Bugis, bahkan dalam mabbaca massura.
Pisang manurung atau dalam bahasa Indonesia disebut pisang kepok merupakan salah satu dari dua buah pisang yang biasa digunakan dalam tradisi mabbaca massuro. Sehingga kemungkinan tradisi massuro mabbaca memiliki makna yang berbeda-beda di setiap daerah yang melakukan tradisi ini. Prinsip Peirce ini sesuai dengan makna-makna yang digunakan masyarakat Sawaru terhadap tanda-tanda yang terkandung dalam tradisi massuro mabbaca.
Mereka menganggap makna tradisi massuro mabbaca sebagai mitos yang jika tidak dilaksanakan akan mendatangkan masalah bagi mereka. Harina menjelaskan, tradisi massuro mabbaca merupakan tradisi turun temurun yang sudah dilakukannya sejak lama. Perubahan keyakinan masyarakat yang meninggalkan tradisi massuro mabbaca termasuk pertimbangan bahwa keadaan yang ada tidak lagi menawarkan sesuatu yang berharga.
Mereka memandang tradisi mabbaca massuro sebagai disfungsional karena tidak sesuai dengan keyakinan, karsa dan pola hidup masyarakat. 3 Air Putih Air putih memiliki arti kejernihan yaitu mensucikan kehidupan orang-orang yang menjalankan tradisi Massuro Mabbaca.
Insrtumen Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Observasi, yaitu penulis secara langsung melihat dan melakukan penelitian serta melakukan pengamatan terhadap tempat yang dijadikan obyek penelitian. Catatan lapangan digunakan dalam penelitian ini dengan tujuan untuk mengumpulkan data yang seobjektif mungkin langsung dari sumber data dan informan (Field Research). Metode dokumentasi digunakan peneliti sebagai sumber data yang dapat digunakan untuk menguji, menginterpretasi bahkan memprediksi.
Dalam pengujian, interpretasi, dan prediksi digunakan teknik penelitian isi, yaitu teknik apa saja yang digunakan untuk menarik kesimpulan dengan mencoba menemukan ciri-ciri pesan, dilakukan secara objektif dan sistematis.
Teknik Analisis Data
Penulis memaparkan hasil analisis data yang menitikberatkan pada analisis semiotik pada Tradisi Massuro Mabbaca Masyarakat Desa Sawaru Kecamatan Camba Kabupaten Maros. Salah satu kepercayaan lokal yang sangat mengakar di masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Bugis adalah massuro mabbaca. Massuro mabbaca merupakan upaya yang dilakukan oleh masyarakat desa Sawaru dengan menghadirkan tokoh agama atau tokoh adat.
Massuro mabbaca dilakukan setelah magrib, sholat maghrib dilakukan di rumah pelaku. Prosesi mabbaca massuro sebagai rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan lebih mudah dilakukan. Buras dan gogo diartikan sebagai makanan khas yang disajikan hanya saat mabbaca massuro menyambut hari raya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa massuro mabbaca memiliki makna berdoa kepada Tuhan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan dan mendoakan sanak saudara yang telah meninggal dunia dan dimaknai oleh masyarakat sebagai penangkal musibah. Makanan ini hanya disajikan saat massuro mabbaca menyambut hari raya dan menggantikan peran . nasi dan songkolok. Dalam wawancara yang dilakukan peneliti, Harina, salah seorang anggota komunitas Sawaru, mengatakan bahwa ia melakukan tradisi mabbaca massuro karena orang tuanya juga mempraktekkannya.
Berdasarkan hasil analisis data penelitian pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa makna tradisi masuro mabbaka adalah berdoa kepada Tuhan sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan dan berdoa untuk kebaikan. keluarga. anggota yang telah meninggal dan dimaknai oleh masyarakat sebagai bala yang menjijikkan. Arti dari semua tanda-tanda ini memiliki tujuan yang baik, yaitu mencegah datangnya bencana dan membawa berkah bagi kehidupan masyarakat yang mengikuti tradisi masuro mabbaca. Massuro mabbaca dalam perkembangannya sampai saat ini masih berkembang, namun dalam prakteknya mengalami perlakuan yang berbeda di masyarakat.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan Hasil Penelitian
Pada umumnya mabbaca massuro hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu, ketika seseorang menganggap dirinya mampu secara materi untuk menyajikan menu-menu yang biasa ditawarkan, kemudian mengajak penonton untuk berkumpul berteman. Acara mabbaca massuro bisa meriah asalkan pemilik acara berkenan dan sebaliknya tidak ada larangan jika sederhana karena dalam melaksanakan tradisi ini tidak perlu menyiapkan makanan yang banyak, perlu yang banyak. tamu tetapi dasar dari tradisi ini adalah niat untuk berdoa kepada Tuhan. Massuro mabbaca dalam perkembangannya masih dilakukan hingga saat ini, namun pada prakteknya telah mengalami perlakuan yang berbeda di masyarakat, misalnya penggunaan kemenyan.
Ada dua jenis kemenyan yang biasa digunakan dalam tradisi mabbaca massuro, yaitu kemenyan batang dan kemenyan serbuk kayu wangi khusus. Dari penjelasan objeknya, onde-onde dimaknai memiliki dua makna yaitu .. lambang manisnya kehidupan karena rasanya dan gelindingan datangnya kemalangan karena bentuknya yang bulat.. onde biasanya dihidangkan saat massuro acara mabbaca untuk menolak bala. Hal ini terlihat pada interpretasi tanda tradisi massuro mabbaca yang membuat masyarakat melakukan tradisi tersebut dengan harapan sesuai dengan makna tanda yang diyakini oleh masyarakat Sawaru.
Tradisi massuro mabbaca yang telah mengalami penafsir dalam kognisi manusia, sehingga berkembang menjadi perwakilan baru, misalnya menjadi tanda kewajiban, yang mengacu pada sanksi ketika kewajiban tidak dilakukan, sehingga menimbulkan interpretasi kewajiban yang harus dilakukan. keluar. Hal ini mereka lakukan berulang kali hingga mereka percaya bahwa massuro mabbaca adalah tradisi yang harus dijalankan. Makna massuro mabbaca adalah berdoa kepada Tuhan sebagai bentuk rasa syukur atas rejeki yang telah dilimpahkan, dan mendoakan keluarga yang telah meninggal serta memohon doa agar terhindar dari bahaya merupakan hal yang diterima masyarakat sebagai realitas sosial.
Karena semiotika sosial inilah masyarakat Sawaru masih mempraktekkan tradisi massuro mabbaca, namun tidak sedikit pula yang meninggalkan tradisi ini. Berbeda dengan masyarakat yang masih menjalankan tradisi massuro mabbaca, mereka meyakini bahwa tradisi ini memiliki nilai fungsional berdasarkan makna yang diyakininya. Dari segi pementasan biasanya disiapkan beberapa hal seperti dupa, dupa, baki, air, siomay, kue apang, kue lapis, nasi, songkolok, kampalo, kaddoq massingkuluk, bure, gogos, lauk pauk, pisang ambon, pisang manurung, bennoq dan kobokan , tergantung pada apa yang ingin dilakukan massuro mabbaca.
SIMPULAN DAN SARAN
Saran
Representasi nilai toleransi antar umat beragama dalam film “Aisyah Let Us Be Brothers” (Analisis semiotik oleh Charles Sanders Pierce. Perkembangan hukum modern dan rasional: Sosiologi Hukum Max Weber dalam Hukum dan Pembangunan Sosial, Buku Teks Sosiologi Hukum 4 Onde-onde Onde-onde memiliki dua arti yaitu melambangkan kehidupan yang manis karena rasanya dan menggulung datangnya bencana karena bentuknya yang bulat.
Kue Lapis 6 Kue Lapis merupakan kue yang memiliki bentuk berlapis-lapis, hal ini dilambangkan sebagai bentuk ikhtiar, agar kekayaan yang diperoleh pemilik acara ditaburkan jika sudah berdoa dan berusaha. 9 Kampalo Kampalo memiliki bentuk yang berlipat ganda, sehingga orang mengartikannya sebagai melipatgandakan musibah yang akan terjadi dan juga melipatgandakan kekayaan pemilik acara. 14 Pisang Ambon Pisang Ambon dari bentuknya yang panjang, masyarakat mengartikan bahwa orang yang mengikuti tradisi ini akan berumur panjang.