• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hal-hal yang Paling di Senangi Anak kelas 1 sd 3 SD

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Hal-hal yang Paling di Senangi Anak kelas 1 sd 3 SD "

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MENCIPTAKAN IKLIM KELAS YANG KONDUSIF MELALUI SISTEM PENGAJARAN BERBASIS DATA

(Studi Kasus Kelas Rendah di MI Annur)

Septiyati Purwandari1, Nur Cholimah2, Agrissto Bintang Aji Pradana1

1Jurusan Penddkan Guru Sekolah Dasar, FKIP, Unvervtas Muhammadyah Magelang

2Jurusan Penddkan Anak Usa Dn, FIP, Unverstas Neger Yogyakarta Emal: [email protected]

Abstract

Getting to know students became a crucial in teaching that teachers often did not consider about. This study aimed at collecting information related to early-elementary grade students experiencing a data-based learning. Then, teachers were expected to know the characteristics of their students as a reference to improve the quality of teaching and learning. The subjects of the study were 50 students. They were all early-elementary grade students of MI Annur from first up to third grades. Data triangulation was employed for assuring the validity. The technique of data analysis was qualitative descriptive explaining three components, including (1) awareness of learning; (2) awaereness of feelings; (3) and visionary thinking. The results revealed that on the first components most of the students prefered to play and learn as easy activities. They learned better when they were pleased.

On the second components they were able to manage their socio-emotional condition seen from the answers related to their likes and dislikes, interests, and from their ability to express a happiness as the one they needed during their learning. On the third components, the results revealed that most of them had goals achieved in learning. Besides, they were able to appropriately choose the TV programs well-suited to their developmental levels. The results led us to have deeper understanding that knowing our students really matters for building a conducive classroom climate.

Keywords: Conducive Classroom Climate, Awareness of Learning, Awareness of Feelings, Visionary Thinking.

PENDAHULUAN

Apapun metode yang dterapkan oleh guru dkelas tdak akan pernah berhasl apabla guru belum memaham peserta ddknya. Hal n serng terjad pada sswa kelas awal dsekolah dasar. Proses transs seorang anak dar pra sekolah memasuk sekolah dasar merupakan fase yang unk dan jarang dlakukan kajan mendalam.

Rentang anak usa pra sekolah yatu antara 4-6 tahun (Zan, 2015:119), yang merupakan masa peka bag anak. Pada masa n anak akan mengalam perkembangan kecerdasaran hngga 50%, serta merupakan masa untuk menentukan dasar pertama dalam pengembangan kemampuannya, bak kogntf, pskomotor, afektf dan emosnya.

Menurut Paget, masa pra sekolah merupakan masa menuju pada tahap berpkr operasonal konkret, d mana anak memasuk tahap perkembangan ntelektual (Nurgyantoro, 2005:200). Perkembangan ntelektual pada anak n dbedakan menjad empat tahap (Budnngsh,

2005:37), yatu tahap sensor-motor (pada usa 0-2 tahun), tahap praoperasonal (2-7 tahun), tahap operasonal konkret (7-11 tahun), dan tahap operas formal (11 atau 12 tahun ke atas). Anak usa pra sekolah berada pada tahap praoperasonal, yatu mula mengoperaskan sesuatu yang mencermnkan aktvtas mental dan tidak lagi semata-mata bersifat fisik. Pada tahap n anak mula mengaktualsaskan dr melalu bahasa, berman dan menggambar. Selan tu, anak juga menempatkan dr sebaga pusat duna dan belum dapat menempatkan dr d antara orang lan atau belum dapat melhat sesuatu dar sudut pandang orang lan. Anak menggunakan smbol melalu gerakan tertentu dan bahasa dalam pembcaraan. Pada masa n anak sedang dalam proses untuk membangun pengetahuan secara logs (Yusuf, 2009:165).

Setelah tahap pra operasonal, anak akan memasuk tahap operasonal konkret (7-11

(2)

tahun), yatu anak mula menggunakan aturan- aturan yang jelas dan logs (Budnngsh, 2005:39).

Pada tahap n, anak mula masuk usa sekolah dasar, d mana anak telah memlk kecakapan berpkr logs namun hanya pada benda yang bersfat konkret. Meskpun demkan, anak tetap memerlukan seorang pembmbng yang dapat membantunya dalam belajar karena mash dalam masa transs dar usa pra sekolah ke sekolah dasar. Oleh karena tu, dperlukan seorang guru yang dapat membantu dan membmbng anak dalam membangun pengetahuan.

Guru menurut Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, merupakan penddk profesonal yang bertugas untuk menddk, mengajar, membmbng, mengarahkan, melath, menla dan mengevaluas sswa pada penddkan anak usa dn formal, penddkan dasar dan penddkan menengah.

Guru memlk peran dan fungs dalam kegatan pembelajaran. Suparlan (2008:29) menyebutkan bahwa peran guru dalam pembelajaran yatu sebaga educator, manager, administrator, supervisor, leader, innovator, motivator, dinamisator, evaluator dan facilitator. Oleh karena tu, guru yang bak adalah guru yang dapat menjalankan peran- perannya tersebut sehngga sswa dapat aktf dan mengkut setap pembelajaran dengan bak.

Namun sayangnya proses pembelajaran yang terjad selama n mash cenderung satu arah, kurang memperhatkan partspas aktf sswa dalam proses pembelajaran. Guru cenderung belum menempatkan drnya sebaga fasltator, motvator, dan dnamsator dalam suatu proses pembelajaran yang lebh menempatkan sswa sebaga subjek belajar. Guru lebh cenderung menempatkan drnya sebaga satu-satunya sumber belajar, sehngga sswa selama n lebh cenderung dnggap sebaga objek belajar yang harus menerma segala sesuatu yang akan dberkan oleh guru.

Berdasarkan hasl observas pra peneltan d MI Anuur, konds d atas sejalan dengan hasl evaluas yang dselenggarakan oleh phak yayasan.

Semua guru mash menggunakan otortasnya sebaga pengendal kelas. Metode pembelajaran yang bertujuan untuk project kelas jarang dlakukan. Motvas yang dlakukan oleh guru lebh cenderung sebaga kalmat ancaman agar

anak mengkut pembelajaran dengan tertb. Peran guru sebaga fasltator belum dlakukan dengan sepenuhnya, yatu member tugas kepada sswa, sharing certa bersama tentang suatu perstwa, mendengarkan keluh kesah anak belum dberkan ses khusus dalam kegatan pembelajaran haran.

Peran guru sebaga motvator belum nampak pada sebagan guru MI Annuur. Guru belum maksmal dalam mengemas pembelajaran sebaga bagan motvas untuk berperlaku lebh bak. Orentas yang djadkan motvas kepada anak adalah semangat nla belajar yang tngg. Peran guru sebaga dnamsator hampr semua guru belum melaksanakan peran n dengan bak. Guru belum sepenuhnya fleksibel dalam menghadapi kondisi sosalemosonal sswanya. Perlaku bully belum sepenuhnya dtangan dengan bak. Hal tersebut dapat dsebabkan karena guru belum memlk kemampuan untuk mencptakan lngkungan belajar dengan klm yang kondusf, sehngga pembelajaran tdak berjalan dengan maksmal.

Guru yang bak merupakan guru yang dapat mencptakan klm belajar yang menark, aman, nyaman dan kondusf d kelas (Yamn, 2007:95).

Iklm yang kondusf dalam pembelajaran dapat menngkatkan motvas belajar sswa, karena sswa akan merasa nyaman dan fokus dalam mengkut kegatan pembelajaran. Sebalknya, jka klm yang tercpta tdak kondusf maka sswa dapat merasa gelsah, bosan dan jenuh, sehngga sswa tdak dapat mengkut pembelajaran dengan bak.

Iklm kelas yang bak dapat dcptakan jka guru dapat mengelola kelas dengan bak. Pengelolaan kelas merupakan kegatan yang dlakukan guru dengan tujuan untuk mencptakan konds kelas yang memungknkan berlangsungnya proses pembelajaran dengan kondusf (Almastoh, 2012:88). Pengelolaan kelas pentng dlakukan sebelum kegatan pembelajaran dmula (Fndley dan Varble, 2006:5), agar guru mengidentifikasi norma-norma yang dapat membantu sswa berhasl dalam lngkungan belajarnya. Iklm kelas merupakan suasana yang dtanda oleh adanya pola nteraks atau komunkas antara guru dengan sswa, sswa dengan guru dan sswa dengan sswa (Muhtad, 2005:201). Kondusf berart konds yang benar-benar sesua dan mendukung keberlangsungan proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan nteraks belajar antara

(3)

sswa dengan guru dan antara sswa dengan sswa yang lan, sehngga pada dr sswa terjad proses pengolahan nformas menjad pengetahuan, keteramplan dan skap sebaga hasl dar proses belajar. Iklm yang kondusf d suatu sekolah tulah yang dapat memberkan kontrbus yang signifikan terhadap proses kegiatan belajar mengajar yang efektf.

Berdasarkan observas yang dlakukan melalu wawancara langsung dengan guru kelas rendah d MI Annuur tentang permasalahan mencptakan klm belajar yang kondusf dapat dsmpulkan bahwa permasalahan yang terjad dakbatkan dar dua faktor. Faktor yang pertama adalah dukungan keluarga dalam bentuk pendampngan belajar drumah, komunkas dengan phak sekolah serta frekuens kekutsertaan orangtua dalam mengkut kegatan parentng. Sedangkan faktor yang kedua adalah dalam guru tu sendr sebaga fasltator. Guru dalam menjalankan perannya mengalam kendala yang utama yatu penguasaan kelas. Dalam pelaksanaan pembelajaran banyak masalah yang muncul. Masalah yang serng muncul sepert bully antar teman baik dalam bentuk fisik maupun pskologs, malas belajar, tngkat pemahaman belajar, perlaku mengantuk dan tdak bergarah mengkut pembelajaran. Masalah masalah tersebut serng terjad d kelas dan menganggu klm belajar yang kondusf. Efek dar perlaku tersebut muncul dalam bentuk kerbutan d kelas, salng menganggu dan gangguan sosal emosonal pada anak. Maka dar tu mencptakan suasana klm belajar yang kondusf merupakan kebutuhan utama dar semua permasalahan yang dhadap guru dalam menjalankan perannya.

Iklm sekolah yang postf dbangun melalu menghormat vs bersama dan keterlbatan seluruh sstem penddkan (O’Brennan dan Branshaw, 2013:1). Iklm sekolah yang kondusf memlk peran pentng dalam memperbak sekolah dan menngkatkan perlaku, prestas akademk dan kesehatan mental sswa (Thapa, et al., 2013:359). Banyaknya peneltan yang dlakukan terkat dengan klm sekolah menunjukkan bahwa peneltan terkat dengan klm sekolah pentng untuk terus dkembangkan.

Hal tersebut dkarenakan klm sekolah yang bak dapat mencptakan lngkungan sosal, emos

yang bak, serta perkembangan ntelektual yang dapat memengaruh prestas akademknya.

Menurut Stol dalam Supard (2013:52), bahwa

“klm sekolah yang postf dan kondusf dapat membentuk sswa berkelakuan bak dan prestas akademnya menngkat”. Horst B yrne, Hartte dan raser d New South Wales, Australa mendapat lngkungan atau suasana sekolah yang bak dapat menggerakkan pembelajaran dan pencapaan yang maksmum. Tunney dan Jenkns juga menympulkan bahwa klm sekolah merupakan faktor terpentng untuk menentukan mutu pembelajaran sswa d sekolah dan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan efektifitas sekolah.

Salah satu aspek pentng yang mendukung keberhaslan proses pembelajaran adalah klm sekolah. Iklm sekolah merupakan suasana yang terdapat d dalam sekolah, klm sekolah menggambarkan keadaan warga sekolah tersebut dalam keadaan rang dan mesra ataupun kepedulan antara satu sama lannya.

Iklm sekolah yang kondusf adalah klm yang benar-benar sesua dan mendukung kelancaran serta kelangsungan proses pembelajaran yang dlakukan guru (Supard, 2013:20). Iklm sekolah yang postf terjad saat sswa meyakn bahwa sswa berbag tanggung jawab dalam mengembangkan dan memelhara lngkungan yang hangat dan mendukung (Partn, 2012:24).

Lngkungan tersebut dapat memudahkan sswa untuk mengkut kegatan pembelajaran dengan bak.

Kegatan pembelajaran dapat berjalan dengan bak jka guru dapat memaham karakterstk sswa yang akan dajarnya. Memaham karakterstk sswa n pentng dlakukan untuk dapat mencptakan hubungan yang bak dengan sswa, terutama sswa baru. Menjaln hubungan akan membantu membangun rasa salng mengharga, memnmalsas masalah-masalah perlaku dan tngkah laku sswa d dalam kelas (Partn, 2012:15). Guru yang dapat menjaln hubungan dengan sswanya melalu pemahaman karakterstk sswa terkat dengan kebutuhan sswa, masalah dan mnat sswa. Pemahaman terkat dengan karakterstk sswa tersebut dapat dgunakan guru untuk menentukan langkah atau metode yang tepat untuk menyampakan mater

(4)

pelajaran yang mudah dterma sswa. Namun demkan, tdak semua guru memula kegatan pembelajaran pertamanya dengan memaham karakterstk sswa terlebh dahulu yang dapat memungknkan ketdaktepatan metode pembelajaran yang dgunakan sehngga sswa tdak dapat menerma mater pembelajaran yang dberkan dengan bak.

Pemahaman karakterstk sswa n dapat dlakukan dengan beberapa cara (Partn, 2012:15), salah satunya berkenalan dengan sswa. Perkenalan n dapat dlakukan dengan menanyakan hal yang dsuka, sepert hob, acara televs, cta-cta dan sebaganya. Hal n pentng karena dengan memaham karakterstk sswa, guru dapat menentukan strateg pembelajaran yang efektf. Maka dar tu perlu ada upaya menggal nformas mendalam yang dlakukan kepada sswa sebelum membuat program program kegatan. Berdasarkan uraan d atas penelt tertark untuk melakukan peneltan dengan judul

“Stud Deskrptf Membangun Iklm Belajar Kondusf Melalu Sstem Pengajaran Berbass Data Pada Kelas Awal MI Annur “.

METODE

Peneltan n merupakan peneltan deskrptf. Peneltan deskrptf yatu peneltan yang dlakukan untuk menyeldk keadaan, konds atau hal lan mengena suatu perstwa yang haslnya dsajkan dalam bentuk laporan peneltan (Arkunto, 2010: 3). Subjek yang dgunakan dalam peneltan yatu sswa kelas 1- 3 d MI Annuur, yang berjumlah 50 sswa. Data peneltan dkumpulkan dengan menggunakan kuesoner yang dberkan kepada sswa.

Teknk analss yang dgunakan yatu analss deskrptf. Analss deskrptf dgunakan untuk mendeskrpskan data yang dperoleh, sepert kesadaran belajar, memaham perasaan dan berpkr vsoner.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemahaman karakterstk perkembangan anak dperlukan guru sebaga dasar dalam menentukan strateg pembelajaran. Model pengajaran berbass data merupakan model pembelajaran yang melakukan need assement terlebh dahulu sebelum menentukan program dan metode kegatan belajar mengajar.

Implementas metode n dlakukan dalam bentuk angket yang ds sswa dengan pendekatan humans. Pendekatan humans dharapkan dalam menjawab pertanyaan setap sswa dalam konds santa, tdak dalam konds tertekan dan dapat dbacakan atau dtuls sesua dengan pola bahasa setap sswa tu sendr.

Pada angket tersebut dkategorkan dalam tga hal yatu kesadaran belajar, memaham perasaan dan berpkr vsoner. Tga komponen n pentng untuk nformas berkatan kesuksesan kegatan belajar mengajar, penggalan nformas n yang dsebut sebaga pengajaran berbass data.

Dar nformas yang dperoleh akan dgunakan oleh phak penyelenggara sekolah untuk djadkan dasar penentuan metode pembelajaran yang akan dterapkan.

Informas kesadaran belajar dperlukan bertujuan untuk mengetahu sejauh mana sswa kelas 1 sampa dengan kelas 3 memaham kebutuhan belajar. Pont pertanyaan yang dberkan kepada sswa adalah untuk menggal nformas kesadaran belajaran adalah hal apa saja yang dlakukan dengan bak, hal apa saja yang bsa mendukung untuk mampu belajar (bsa belajar bak jka), hal apa yang ngn dlakukan dengan bak dan harapan kegatan yang dpkrkan oleh sswa. Adapun hasl angket untuk komponen kesadaran belajar adalah sebaga berkut:

(5)

a. Hal apa saja yang bsa dlakukan dengan bak.

Gambar 1. Hal yang Dapat Dlakukan dengan Bak

Berdasarkan data d atas menunjukkan bahwa berman menjad jawaban anak palng tngg dantara yang lan. Sejumlah 11 responden menjawab berman, 9 responden menjawab belajar dan 7 responden menjawab membantu orangtua. Tga jawaban dengan jumlah tertngg yatu berman, belajar dan membantu orangtua. Berman tetap menjad plhan para sswa. Konds n drekomendaskan akan menjad dasar metode yang dlakukan kelas harus bersfat active learning. Hal tersebut dkarenakan, sswa yang aktf akan mudah bosan jka kegatan pembelajaran yang dlaksanakan hanya menggunakan metode ceramah atau berpusat pada guru, sehngga akan lebh tepat jka sswa yang aktf menggunakan metode

pembelajaran yang menuntut sswa untuk turut aktf selama kegatan pembelajaran berlangsung, sepert menggunakan metode berman peran, dskus atau praktek.

Snger et al (2009:284) menyebutkan bahwa berman peran merupakan salah satu cara untuk menyampakan atau mengajarkan kepada sswa terkat dengan mater- mater pelajaran, d mana dalam berman tersebut anak akan menggunakan semua panca ndera dalam mengeskperskan kreatvtasnya melalu drama, musk, sen, tar, olah raga dan sebaganya. Anak akan memperoleh pengalaman secara alam dar kegatan berman tersebut, sehngga mater yang dajarkan dapat drasakan langsung dan dpaham oleh anak tersebut dengan bak.

(6)

b. Hal apa saja yang dapat mendukung belajar (belajar bak jka)

10 5 4 4 1 2 1 1 9 1 4 2 1 1 1 1 1 1 50 100

2030 4050 60

bahagia disekolah dibantu ujian sungguh sungguh mudah dimengerti pelajaran… gampang bersama/didamp… bisa fokus tenang menulis beljr stlh itu… diajari utadzah belajar iqro ada pr Hari sore Perut Kenyang Jumlah

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

Belajar Baik Jika

Kelas 3 Kelas 2 Kelas 1 Jumlah

Gambar 2. Hal yang Dapat Mendukung Belajar

Dar data datas 3 hal yang dplh para sswa kelas 1 sd kelas 3 bahwa sswa akan mampu belajar bak jka bahaga, belajar ddampng dan belajar d sekolah. Sejumlah 10 responden menjawab bahaga, 9 responden menjawab apabla ddampng dan 5 responden menjawab sekolah sebaga plhan.

Meskpun kata bahaga adalah kata abstrak namun dplh mayortas semua sswa. Hal n menunjukkan bahwa pembelajaran hendaknya menyenangkan, berbass kebutuhan anak dan memfasltas keanekaragaman gaya belajar sswa. Pembelajaran yang menyenangkan merupakan salah satu model dalam pembelajaran yang mendukung pengembangan berpkr

kreatf dan mencptakan suasana belajar yang menyenangkan (Trnova, 2012:212).

Perasaan bahaga atau senang dengan sekolah sangat pentng untuk dmlk sswa (Sngh, 2014:389). Sswa yang merasa senang perg ke sekolah dapat dmungknkan bahwa sekolah menyedakan lngkungan yang dapat merangsang perasaan senang sswa untuk ke sekolah. Pembelajaran yang menyenangkan dan berkesan akan menark mnat sswa untuk terlbat secara aktf dalam setap kegatan pembelajaran. Sswa yang dengan aktf mengkut kegatan pembalajaran akan dapat memaham mater yang dajarkan sehngga tujuan pembelajaran dapat tercapa.

(7)

c. Hal yang akan dapat dlakukan dengan bak

Gambar 3. Hal yang Dapat Dlakukan dengan Bak oleh Anak

Sswa kelas 1 sampa dengan kelas 3 memlh ops belajar sebaga plhan palng tngg atas hal yang dapat dlakukan dengan bak. Sejumlah 25 anak dar 50 responden menjawab belajar. Data n menunjukkan bahwa 50% anak memlk kesadaran bahwa belajar adalah kebutuhan. Beberapa jawaban yang lan juga menunjukkan ndkator kesadaran belajar walaupun secara jumlah rerata menyebar, sepert membantu orangtua, menuls, membaca baca qro dan sebaganya. Banyaknya responden yang menyatakan belajar merupakan hal yang akan dlakukan dengan bak harus ddukung oleh guru yang dapat membuat sswa untuk terlbat aktf dalam proses pembelajaran agar tetap tertanam pada dr sswa bahwa belajar tu sesuatu yang pentng dan bermanfaat bag drnya dan orang lan dkemudan har.

Keterlbatan n dapat dlakukan dengan memunculkan rasa ngn tahu sswa, mnat dan kegembraan, serta cenderung ngn mencapa tujuan penddkan yang dngnkan (Jablon dan Wlknson, 2006:1), sehngga sswa tdak akan mudah bosan belajar karena telah dtanamkan padanya bahwa belajar adalah aktvtas yang menyenangkan.

Dar data datas dapat dsmpulkan bah- wa sswa kelas 1 sd kelas 3 MI Annuur mash memlk kesadaran bahwa belajar adalah hal yang pentng dalam kegatan pembelajaran.

Belajar adalah proses usaha yang dlakukan untuk memperoleh suatu perubahan tngkah laku yang baru secara keseluruhan sebaga hasl pengalamannya sendr dalam nteraks dengan lngkungannya (Slameto, 2013:2). Seseorang akan mendapatkan pengetahuan dan keteramplan baru setelah mengalam proses pembelajaran. Selan tu, seseorang yang memlk kesadaran untuk belajar akan senantasa untuk membasakan dr belajar. Kebasaan belajar n dapat dbentuk menggunakan perntah yang dberkan orang tua atau guru, sur teladan, pengalaman khusus, dan pemberan hukuman (Muhbbnsyah, 2008:123). Jka sswa memlk kebasaan untuk belajar, maka sswa akan merasakan haslnya pada prestas belajar yang dperoleh.

Proses pembelajaran yang efektf dapat dlakukan dengan membangun klm belajar yang kondusf. Iklm belajar yang kondusf dapat dbangun dengan mencptakan suatu hubungan. Hubungan yang bak

(8)

antar prbad (hubungan nterpersonal) tersebut yang mampu mempengaruh klm pembelajaran efektf. Hubungan antar prbad (nterpersonal) yang bak yang terjaln pada saat pembelajaran menjad motvas bag sswa untuk salng bekerja sama secara produkf. Sswa salng membantu dalam belajar, sehngga pemahaman sswa terhadap mater pelajaran akan semakn cepat.

Terbnanya hubungan nterpersonal yang baik dapat meminimalisir terjadinya konflik antar sswa, ketka terjad masalah dantara sswa dapat dselesakan secara kekeluargaan, dantara sswa salng mengharga dan percaya, sehngga suasana belajar dlput oleh suasana santa dan penuh keakraban.

Kunc utama dalam membangun hubungan adalah salng memaham atau mengenal karakterstk ndvdu (Partn, 2012:14). Sswa kelas rendah yang memlk usa sektar 6/7 sd 8/9 tahun memlk karakterstk yang unk karena masuk dalam masa peralhan tahapan praoperasonal saat usa pra sekolah ke tahapan konkret ketka memasuk usa sekolah dasar (Budnngash, 2005:38). Pada rentang usa n tngkah laku anak yang tampak yatu: (1) anak mula memandang duna secara objektf, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur - unsur secara serentak, (2) anak mula berpkr secara operasonal, (3) anak mampu mempergunakan cara berpkr operasional untuk mengklasifikasikan benda - benda, (4) anak dapat membentuk dan menggunakan keterhubungan aturan - aturan, prnsp lmah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akbat, dan (5) anak dapat memaham konsep substans, panjang, lebar, luas, tngg, rendah, rngan dan berat (Rusman, 2013: 251).

Sswa SD kelas rendah berada pada rentang usa 7 sampa 9 tahun. Dengan terus bertambahnya berat dan kekuatan badan, perkembangan motork menjad lebh halus dan terkoordinasi. Pada masa ini, pertumbuhan fisik cenderung lebh stabl sebelum memasuk remaja.

Usa n berada pada tahap operasonal konkret, dmana anak sudah mampu menggunakan pkrannya untuk berpkr logs walaupun mash terbatas. Anak pada usa 6 atau 7 tahun mampu

menemukan jalan dar dan ke sekolah karena anak pada tahap n dapat memaham cara yang lebh bak yang berhubungan dengan ruang.

Anak sudah mampu mengelompokkan dan mengurutkan benda sesua cr-crnya. Anak juga sudah dapat memecahlan masalah yang bersfat konkret (Rta Eka Izzaty dkk, 2008:106).

MI Annuur memiliki potensi fisik yang baik, terletak ddaerah yang tenang dan sumber alam yang menark untuk sumber belajar, sehngga sangat memungknkan anak anak memlk kesempatan konsentras belajar yang bak.

Namun pada kenyataannya dukungan lngkungan fisik bukan faktor penentu membangun iklim belajar yang kondusf. Khususnya untuk sswa kelas rendah memlk karakterstk yang unk.

Pada usa n anak sedang berusaha memaham tugas belajar. Upaya - upaya yang dlakukan MI Annur sebaga sebuah lembaga penddkan yang menyelenggarakan sekolah dasar slam memlk berusaha menggunakan berbaga strateg dalam membangun klm belajar yang menyenangkan. Selan tu juga guru harus mampu menggembangkan kreatifitas para siswa melalui kecakapannya memotvas dengan klm kelas yang kondusf. Guru yang memlk keteramplan nterpersonal dapat memengaruh klm kelas, d mana hal tersebut memlk dampak besar pada hasl akadems sswa (Barr, 2016:5). Hal tersebut juga sejalan dengan pendapat Wentzel (1997) mengungkapkan bahwa “klm sekolah memlk hubungan yang postf dengan motvas belajar sswa”.

Thapa et al (2012:3) juga menyebutkan bahwa secara keseluruhan klm sekolah yang postf memlk pengaruh yang kuat pada motvas belajar, yang berart bahwa klm kelas yang kondusf atau nyaman maka dapat menngkatkan motvas belajar sswa. Selan tu, klm kelas yang kondusf dapat mengurang dampak negatf dar konteks sosal ekonom pada keberhaslan akadems, karena keberhaslan akadems seseorang tdak sepenuhnya bergantung keadaan sosal ekonomnya. Iklm kelas yang kondusf dapat mengurang tndakan kasar atau membuat gaduh kelas, ngobrol dengan teman dan sebaganya karena sswa merasa nyaman untuk mengkut pembelajaran. Iklm kelas yang kondusf juga dapat memberkan pengaruh yang

(9)

postf bag perkembangan sswa dalam belajar karena sswa akan merasa bahwa belajar tu pentng.

Iklm sekolah yang postf dapat dbangun dengan memperbak hubungan sswa dengan guru. Guru akan dapat memlk kemampuan menajemen kelas yang bak jka berhasl memaham karakterstk sswanya. Sebelum melaksanakan kegatan pembelajaran, guru melakukan screenng data mengenal sswa. Hal n dsebut sebaga pengajaran berbass data. Tujuan dar kegatan n adalah untuk mendapatkan nformas mendalam dar sswa, sehngga menjad dasar bag guru untuk melaksanakan strateg pembelajaran yang efektf agar tujuan pembelajaran tercapa.

Karakterstk sosal emosonal anak usa 6 sd 8 th yang palng menonjol adalah kematangan dalam hubungan sosal dan kemampuan dalam mengendalkan emos (Yusuf, 2009:180-181).

Anak dengan rentang usa tersebut mash belum dapat mengendalkan emosnya sehngga

terkadang pengungkapan emosnya dlakukan dengan kasar, sepert berterak, memukul, berkata dan berskap kasar. Karakterstk sosal ekonom yang dmaksud dalam peneltan n bertujuan untuk melhat sejauh mana sswa kelas 1 sd kelas 3 MI Anuur dapat mengelola kecerdasan sosal emosnya. Hal n dbutuhkan untuk mengurangi konflik sosial yang sering terjadi di kelas. Dapat diketahui bersama, bully baik fisik maupun pskologs memlk urutan tertngg kenakan d masa usa n. Dengan menggal data mengena konds sosal emosonal n dharapkan dapat membantu menentukan guru dalam menentukan strateg pembelajaran dan mengurangi konflik sosial disekolah. Adapun nformas yang dgal dar komponen n adalah Kegatan apa yang palng dsuka, kegatan apa saja yang dapat menmbulkan perasaan bahaga ,olah raga yang palng dsuka, sesuatu yang palng dsuka dsekolah dan sesuatu yang tdak dsuka dsekolah. Adapaun hasl peneltan adalah sebaga berkut :

a. Kegatan yang palng dsuka

16 12 1 1 8 5 1 1 3 2

50 100

2030 4050 60

bermain olah raga berbuat baik Kegiatan belajar/… pekerjaan… kegiatan jalan jalan sekolah menggambar Jumlah

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Hal-hal yang Paling di Senangi Anak kelas 1 sd 3 SD

Kelas 3 Kelas 2 Kelas 1 Jumlah

Gambar 4. Hal yang Palng Dsenang Anak Kelas 1-3 SD Kegatan berman adalah hal yang palng

dsenang sswa kelas 1 sd kelas 3. Dua kegatan selanjutnya yang palng dsuka anak

adalah olahraga dan belajar. Ketga jawaban tertngg n menunjukkan bahwa anak membutuhkan suasana pembelajaran yang

(10)

bersfat active learning. Melbatkan seluruh pancandera anak untuk belajar dan suasana yang pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada anak. Hal tersebut dkarenakan sswa pada usa tersebut merupakan peralhan dar tahap praoperasonal menjad tahap operasonal konkret, sehngga anak- anak mash senang untuk berman. Oleh karena tu, untuk membentuk kesadaran belajar anak, kegatan belajar mengajar dapat dlakukan dengan sebuah permanan yang dapat menark mnat dan motvas anak untuk belajar. Hasl n sejalan dengan kesadaran belajar bahwa berman adalah kegatan yang dsuka anak anak.

Hasl peneltan n sejalan dengan yang peneltan yang dlakukan oleh Smatupang (2005:23) yang menyatakan bahwa berman dapat dgunakan untuk menanamkan aspek sosal bag sswa sekolah dasar. Berman merupakan hal yang sangat dgemar oleh anak, karena anak dapat mengekspreskan drnya dengan berman. Berman merupakan tuntutan dan kebutuhan anak usa pra sekolah, karena anak adalah duna berman (Marjun dan Sodq, 2001:63).

Guru dapat melaksanakan kegatan

pembelajaran bag sswa usa 6-8 tahun dengan menggunakan suatu permanan.

Permanan dapat dgunakan sebaga meda untuk menyampakan mater yang hendak dajarkan guru pada sswa, khususnya pada sswa usa 6-8 tahun yang mash dalam masa transs dar usa pra sekolah ke usa sekolah dasar, d mana pada masa tersebut anak mash senang untuk berman. Paget (Budnngsh, 2005: 37) dalam teornya menjelaskan bahwa anak pada usa tersebut telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak, d mana anak serng mengungkapkan s hatnya bukan dengan kata-kata, namun lebh secara smbolk. Nurgyantoro (2005:201) menyebutkan bahwa pada usa tersebut anak mengaktualsaskan dr melalu bahasa, berman dan menggambar. Oleh karena tu, kegatan pembelajaran dapat dlakukan dengan penggunaan bahasa yang mudah dpaham, menggunakan meda gambar, dan juga menggunakan suatu permanan yang tentunya dsesuakan dengan mater yang hendak dajarkan, agar pesan atau mater yang dberkan dapat tersampakan dan dpaham dengan bak oleh sswa.

b. Kegatan yang dapat menmbulkan perasaan bahaga

12 4 11 11 2 4 1 1 2 1 1

50 100

2030 4050 60

mendapat nilai… ulang tahun bermain bersama keluarga olah raga belajar membantu orang… rekreasi lagi senang beribadah di sekolah Jumlah

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

ANAK PALING BAHAGIA SAAT

Kelas 3 Kelas 2 Kelas 1 Jumlah

Gambar 5. Kegatan yang Dapat Menmbulkan Perasaan Bahaga

(11)

Mendapatkan nla tngg adalah jawaban mayortas dar seluruh responden sejumlah 12 sswa, kemudan berman dan bersama keluarga memlk urutan tertngg selanjutnya. Hal n menunjukkan bahwa anak mampu mendenifisikan rasa bahagia dalam kegatan yang postf. Hal n sejalan dengan hasl angket pada komponen sebelumnya bahwa sswa memlk kesadaran belajar yang wajar sswa kelas 1 sd kelas 3.

Pon n cukup menark karena mendapat nla tngg berman yatu 12 responden dan bersama keluarga juga sebaga angka tertngg selanjutnya yatu 11 responden.

Phak sekolah memlk tantangan untuk menyelenggarakan kegatan yang tdak membosankan karena jka membosankan

“bersama kelurga d rumah” menjad plhan pada seluruh responden menunjukkan bahwa responden lebh senang untuk tdak sekolah.

Smoes et al (2010:1181) dalam pene- ltannya menjelaskan bahwa sswa yang menyuka sekolah adalah sswa yang memlk skor tngg dalam prestas akademknya. Hal tersebut dkarenakan sswa yang menyuka sekolah cenderung juga menyuka aktvtas pembelajaran d sekolah, sehngga sswa akan terus belajar dengan bak untuk mendapatkan nla yang tngg. Oleh karena tu, phak sekolah harus mencptakan suasana belajar d sekolah yang menyenangkan agar sswa senang ke sekolah untuk belajar agar prestas akademk yang dperoleh juga tngg.

c. Olahraga yang menjad favort

5 14 3 3 2 11 2 4 3 1 1 1

50

0 10 20 30 40 50 60

voly berenang bulu tangkis bersepeda senam sepak bola gobak sodor kasti jalan jalan lari takewondow basket Jumlah

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

OLAH RAGA VAFORIT

Kelas 3 Kelas 2 Kelas 1 Jumlah

Gambar 6. Olahraga Favort

Perkembangan pertumbuhan fisik baik kasar maupun halus pada usa n, memlk perkembangan golden period dar seluruh masa perkembangan. Sswa kelas 1-3 SD kebutuhan akan kegiatan fisik mengalami puncaknya.

Oleh karena tu dbutuhkan data mengena olahraga favort. Olahraga bermanfaat

untuk menyalurkan energ emosanal negatf sekalgus membangun sosal antar teman sebaya. Pada pon n responden menjawab berenang sejumlah 14 sebaga olahraga favort, kemudan dsusul dengan sepakbola sejumlah 11 responden. Informas n pentng bag phak sekolah agar memfasltas

(12)

sswa untuk kedua olahraga n dan sesekal untuk olahraga yang lan. Kegatan olahraga menjad plhan utama anak untuk merefresh kembal kegatan belajar yang selalu dadakan d dalam kelas. Hal terpentng dar olahraga yatu bermanfaat untuk menetralkan konds fisik dan psikologis siswa sehingga memiliki kecerdasan sosal emosonal yang bak.

Olahraga secara rutn dapat menyehatkan tubuh dan mencegah tmbulnya berbaga

penyakt (Taylor, et al, 2015:31), karena badan yang sehat memudahkan sswa untuk berpkr dan mengkut kegatan pembelajaran dengan bak. Selan tu, dengan berolahraga juga dapat menngkatkan nteraks sosal dengan orang lan, sehngga selan mendapatkan badan yang sehat dan pkran yang jernh, sswa juga dapat membangun hubungan yang bak atau bernteraks dengan orang lan.

d. Sesuatu yang dsuka dsekolah

Gambar 7. Hal yang Dsuka d Sekolah Anak Kelas 1-3 SD MI Annuur

Salah satu ndkator seorang sswa menjad senang bersekolah karena memlk hal yang dsenang d sekolah. Sebanyak 14 responden menjawab belajar, 8 responden berman dan 7 responden menjawab olah raga. Belajar sebaga jawaban mayortas dar responden sejalan dengan komponen kesadaran belajar dan memaham perasaan.

Dalam pemetaan jawaban belajar banyak

djawab oleh sswa kelas 3 dan berman oleh sswa kelas 1 dan 2. Dapat dsmpulkan pada kelas tngg anak memlk kesadaran belajar yang penuh untuk memula cta cta yang akan drah. Sejalan dar hasl n menunjukkan bahwa belajar yang bagamana, yang menyenangkan bag anak, melbatkan semua pancandera untuk aktf dan berpusat pada anak.

(13)

e. Sesuatu yang tidak disukai dari sekolah.

Gambar 8. Hal yang Tdak Dsuka dar Sekolah

Sebanyak 26 responden menjawab sakt adalah alasan yang wajar untuk tdak suka saat sekolah. Mayortas responden menjawab sakt. Hal n menunjukkan bahwa anak mampu menginternalisi kondisi fisik dan pskologs yang bagamana sehngga dapat mengganggu kelancaran belajar dsekolah. Sekalgus jawaban responden n member masukan kepada phak sekolah untuk menyedakan tempat yang nyaman jka sswa sedang mengalam sakt, dapat terawat dengan bak. 6 responden menjawab dpukul atau dsakt adalah sesuatu yang tdak dsuka dsekolah. Angka n cukup sedikit, hal ini menunjukkan bahwa konfilik antara teman mash wajar. Sekolah perlu memelhara keamanan dan kenyamanan stuas kegatan belajar mengajar sehngga meminimlisir konflik yang ada. Kegiatan

upacara responden menjawab 5. Hal n juga menjad masukan sekolah untuk melakukan pendekatan dan varas model upacara yang dapat memberkan kenyamanan kepada sswa.

Berpkr vsoner untuk sswa kelas 1- 3 SD dartkan sebaga pemahaman sswa akan tujuan sederhana dar sekolah. Sswa kelas 1 sd kelas 3 memlk karakterstk unk.

terutama kelas 1, proses transs dar duna prasekolah menuju duna sekolah jarang dlakukan kajan mendalam. Berpkr vsoner mash cukup abstrak bag anak anak, untuk tu dalam peneltan n berpkr vsoner dgal nformas melalu tanyangan program TV yang dsuka anak dan bla dewasa ngn menjad apa. Berkut hasl rekaptulas jawaban responden.

(14)

a. Program TV yang dsuka anak

Gambar 9. Program Televs yang Dsuka

Data d atas menunjukkan bahwa mayortas sswa senang menonton acara televs upn pn, yatu sebanyak 23 responden.

Diurutan kedua yaitu film kartun, sebanyak 16 responden. Hal tersebut berart bahwa sswa lebh menyuka acara kartun. Televs memlk peranan pada perkembangan anak yang menonton (Dest, 2005:6). Program acara d televs dapat memberkan hburan, pengetahuan dan keteramplan yang sesua dengan kebutuhan masyarakat. Namun, tdak semua acara televs boleh dtonton oleh anak. Acara upn-pn yang dplh oleh mayortas responden memlk unsur penddkan, karena certa yang dtayangkan

merupakan kehdupan keseharan dan mencertakan mana yang boleh dlakukan dan yang tdak boleh dlakukan. Selan tu, film kartun juga dapat memberikan hiburan dar certanya yang lucu, gambar dan warna serta certa yang menark. Anmas kartun maupun penggunaan warna yang bervaras n dapat dterapkan dalam kegatan pembelajaran. Namun penggunaannya juga harus dsesuakan dengan mater yang hendak dberkan. Penggunaan anmas kartun dan penggunaan warna yang bervaras n dapat menark perhatan sswa untuk mengkut kegatan pembelajaran dengan bak.

(15)

b. Cita cita

Gambar 7. Cta-cta

Data d atas menunjukkan bahwa dokter mash menjad mayortas plhan responden, selanjutnya pols dan pemansepakbola menjad prortas sswa kelas 1 sd kelas 3. Pertanyaan cta-cta adalah pertanyaan yang lazm dlakukan dmasyarakat, bahkan pertanyaaan n adalah hal yang basa. Namun ketka sswa menjawab pertanyaan n dan mampu mengungkapkan apa yang dngnkan merupakan bagan dar mampu berpkr vsoner. Informas yang dgal dar responden tersebut akan member masukan kepada sekolah untuk memperdalam pemahaman atas semua profes yang dngnkan oleh anak yang terntergras kedalam pembelajaran tematk. Dengan terntegras secara tematk maka pembelajaran bermakna akan dapat tercapa.

SIMPULAN

Iklm yang kondusf dalam pembelajaran dapat menngkatkan motvas belajar sswa, karena sswa akan merasa nyaman dan fokus dalam mengkut kegatan pembelajaran. Iklm yang kondusf tersebut dapat dcptakan jka

guru dapat memaham karakterstk sswanya.

Pemahaman karakterstk sswa dapat membantu guru dalam memaham sswa serta dapat membantu guru dalam mencptakan klm belajar yang kondusf, karena guru dapat menentukan metode yang tepat untuk menyampakan mater pelajaran. Pemahaman terhadap karakterstk sswa dapat dlhat dar tga hal yatu kesadaran belajar, memaham perasaan dan berpkr vsoner. Berdasarkan hasl peneltan dapat dsmpulkan bahwa model pembelajaran yang tepat dgunakan pada anak kelas 1-3 d MI Annuur yatu active learning. Hal tersebut dkarenakan pada komponen kesadaran belajar, mayortas sswa memlh berman sebaga hal yang dapat dlakukan dengan bak, yang menunjukkan bahwa sswa termasuk dalam kategor aktf. Sswa dapat belajar dengan bak jka memlk perasaan yang bahaga, sehngga sswa dapat mengkut kegatan pembelajaran dengan bak.

Pada komponen memaham perasaan, mayortas sswa menyuka aktvtas berman, olah raga dan belajar. Selan tu, sswa akan merasa sangat bahaga jka mendapatkan nla yang tngg.

Sswa juga menyuka olahraga, khusunya berenang dan sepak bola. Hal yang dsuka oleh sswa dar sekolahnya yatu belajar, yang berart bahwa sswa

(16)

senang belajar d sekolah. Namun, ketka sakt sswa tdak menyuka sekolah, karena sswa tdak dapat fokus mengkut kegatan pembelajaran d kelas. Komponen n menunjukkan hal-hal yang dsuka oleh sswa, dan guru dapat mengkatkan mater-mater yang hendak dajarkan dengan hal- hal yang dsuka tersebut, serta memperhatkan

konds kesehatan sswa. Pada komponen berpkr vsoner, mayortas sswa menyuka acara televs upn-pn dan kartun. Selan tu mayortas sswa bercta-cta menjad dokter. Hal tersebut menunjukkan bahwa sswa telah dapat mengungkapkan apa yang dngnkan.

DAFTAR PUSTAKA

Almastoh, U.H. (2012). Mencptakan lngkungan yang postf untuk pembelajaran. Magistra, no.79 tahun XXIV, pp. 87-100.

Arkunto, S. (2010). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rneka Cpta.

Barr, J.J. (2016). Developng a postve classroom clmate. IDEA Paper, no.61, pp. 1-9.

Budnngsh, C.A. (2005). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rneka Cpta.

Desti, S. (2005). Dampak tayangan film di televisi terhadap perilaku anak. Jurnal Komunikologi, vol. 2, no. 1, pp. 1-7.

Fndley, B., & Varble, D. (2006). Creatng a conducve classroom envronment: classroom management s the key. College Teaching Methods & Styles Journal, vol. 2, no. 3, pp. 1-6.

Jablon, J.R., & Wlknson, M. (2006). Usng engagement strateges to facltate chldren’s learnng and success.

Beyond the Journal – Young Children on the Web, pp. 1-5.

Marjun & Sodq AK. (2001). Pola pembnaan anak usa prasekolah melalu prnsp-prnsp berman sambl belajar. Jurnal Penelitian dan Evaluasi, no. 4, tahun III, pp. 62-79.

Muhbbn Syah. (2008). Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muhtad, A. (2005). Mencptakan klm kelas (classroom climate) yang kondusf dan berkualtas dalam proses pembelajaran. Majalah Ilmiah Pembelajaran, vol. 1, no.2, pp. 199-209.

Nurgyantoro, B. (2005). Tahapan perkembangan anak dan pemlhan bacaan sastra anak. Cakrawala Pendidikan, th.XXIV, no.2, pp. 197-222.

O’Brennan, L., & Bradshaw, C. (2013). Importance of School Clmate. National Education Association Research Bried.

Partn, R.L. (2012). Kiat nyaman mengajar di dalam kelas: strategi praktis, teknik manajemen dan bahan pengajaran yang dapat diproduksi ulang bagi para guru baru maupun guru berpengalaman. Jakarta: Indeks.

Presden RI. (2005). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Rta Eka Izzaty, dkk. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.

Rusman. (2013). Model-model pembelajaran: mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta: Rajawal.

Smatupang, N. (2005). Berman sebaga upaya dn menanamkan aspek sosal bag sswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia, vol. 3, no. 1, pp. 23-32.

(17)

Smoes, C., et al. (2010). School satsfacton and academc achevement: the effect of school and nternal assets as moderators of ths relaton n adolescents wth specal needs. Procedia Social and Behavioral Sciences, vol.9, pp.1177-1181.

Snger, D.G., Snger, J.L., D’Agostno, H., & Delong, R. (2009). Chldren’s pastmes and play n sxteen natons: s free-play declnng?. American Journal of Play, Wnter, pp. 283-312.

Sngh, A. (2014). Conducve classroom envronment n schools. International Journal of Science and Research (IJSR), vol. 3, ssue 1, pp. 387-392.

Slameto. (2013). Belajar dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Jakarta: Rneka Cpta.

Supard. (2013). Sekolah efektif konsep dasar dan praktek. Jakarta: Rajawal Pers.

Suparlan. (2008). Menjadi guru efektif. Yogyakarta: Hkayat Publshng.

Taylor, P., et al. (2015). A review of the social impacts of culture and sport. Sheffield: CASE.

Thapa, A., Cohen, J., D’Alessandro, A.H., & Guffey, S. (2012). School clmate research summary. National School Climate Center, School Climate Brief, no. 3, pp. 1-21.

Thapa, A., Cohen, J., Guffey, S., & D’Alessandro, A.H. (2013). A Revew of School Clmate Research. Review of Educational Research, vol. 83, no. 3, pp. 357-385.

Trnova, Z. (2012). Hakkat Belajar dan Berman Menyenangkan bag Peserta Ddk. Jurnal Al-Ta’lim, jld 1, no. 3, pp. 209-215.

Yamn, M. (2007). Profesionalisasi guru dan implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada Press.

Yusuf, S. (2009). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Zan, A. (2015). Berman sebaga metode pembelajaran bag anak usa dn. ThufuLA, vol. 3, no.1, pp. 118- 134.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Pengaruh Profitabilitas, Kebijakan Dividen, Kebijakan Utang, Dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di

THE YOUNG CITIZEN December~ 1940 CHRISTMAS SPIRIT THE SPIRIT OF CHRIST- THE WIFE OF RIZAL Continued from page 458 MAS: I mean just this?. Continued from page 469 lowly I