PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Hukum waris adat adalah hukum yang memuat garis-garis ketentuan mengenai sistem dan asas-asas pewarisan. Pengambilan keputusan perimbangan untuk menyelesaikan sengketa waris bagi masyarakat adat Pepadun Lampung belum tentu sesuai dengan pembagian hukum waris Islam.
Identifikasi Masalah
Kajian Hukum Islam Terhadap Penetapan Sengketa Warisan Adat Lampung Pepadun (Studi Kasus Desa Rajabasa Lama Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur).
Rumusan Masalah
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Secara teoritis, diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat dalam memberikan kontribusi untuk memperkaya khazanah ilmu, dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan dapat membawa manfaat berupa kontribusi bagi perkembangan ilmu fikih khususnya yang berkaitan dengan pewarisan Islam. hukum dan hukum adat. Dalam pelaksanaannya yaitu untuk melengkapi sebagai bahan informasi dan bahan bacaan yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang ingin mengetahui lebih jauh tentang penetapan penyelesaian sengketa waris masyarakat adat Lampung Pepadun ditinjau dari hukum Islam.
Penelitian Relevan
- Dasar Hukum
- Wewenang Penyelesaian Sengketa Waris
Sesuai dengan landasan hukum dalam UU No. 30 Tahun 1999, terdapat dua prosedur penyelesaian sengketa, yaitu dengan cara yudisial (litigasi) dan dapat juga dilakukan di luar pengadilan (no. Prosedur penyelesaian sengketa yang tertua adalah prosedur yudisial (pengadilan).), yang kemudian berkembang menjadi koperasi. proses penyelesaian sengketa (kolaborasi) di luar pengadilan (prosedur non litigasi), biasa disebut sebagai Alternative Dispute Resolution (ADR).
Konsep Kewarisan Bilateral
- Pengertian Kewarisan Bilateral
- Kewarisan Bilateral Menurut Hazairin
Maka Hazairin memberanikan diri untuk menyimpulkan bahwa sistem kekeluargaan dalam al-Qur'an adalah sistem bilateral, bukan sistem patrilineal. Inilah obsesi Hzairin memikirkan sistem pewarisan yang sebenarnya diinginkan Al-Qur'an.
Konsep Hukum Waris Adat
- Pengertian Hukum Waris Adat
- Sistem Pewarisan Adat
- Asas-Asas Hukum Waris Adat
Harta pusaka atau harta peninggalan, iaitu harta yang ditinggalkan, dibahagikan dan dipindahkan sekali kepada ahli waris. Dalam sistem ini, hanya anak lelaki sahaja yang menjadi pewaris kerana anak perempuan yang telah berkahwin secara "perkahwinan yang jujur" dan kemudiannya menjadi ahli keluarga suami bukanlah waris kepada ibu bapa yang telah meninggal dunia. Dalam sistem ini, kedudukan anak lelaki dan perempuan dalam undang-undang pewarisan adalah sama dan sama.
Artinya baik anak laki-laki maupun anak perempuan adalah pewaris harta peninggalan orang tuanya. Oleh karena itu, untuk mewujudkan keridhaan Allah, jika seseorang meninggal dunia dan meninggalkan harta peninggalan, maka para ahli waris mengetahui dan menggunakan hukum untuk membagi harta peninggalannya agar tidak terjadi perselisihan dan pertengkaran mengenai harta peninggalan tersebut karena perselisihan antar ahli waris akan membebani perjalanan. ahli waris roh untuk bertemu Tuhan. Oleh karena itu, tujuannya bukan untuk berbagi atau tidak berbagi harta warisan, tetapi yang terpenting adalah menjaga keharmonisan antara ahli waris dengan seluruh keturunannya.
Setiap ahli waris mempunyai kedudukan yang sama dengan orang yang berhak mewarisi harta peninggalan ahli warisnya, adanya keseimbangan hak dan kewajiban bagi setiap ahli waris untuk memperoleh harta warisannya. Para ahli waris menjaga hubungan kekerabatan yang damai dan tenteram baik dalam kenikmatan maupun. Para ahli waris membagi harta peninggalannya melalui musyawarah mufakat yang dipimpin oleh para ahli waris yang dianggap lebih tua, dan apabila terjadi kesepakatan dalam pembagian harta peninggalan tersebut maka kesepakatan tersebut adalah ikhlas, yang diungkapkan dengan kata-kata baik yang berasal dari hati nurani masing-masing yang datang. ahli waris. .
METODE PENELITIAN
- Jenis dan Sifat Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengambilan Sampel
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Seperti diketahui, mayoritas penduduk Desa Rajabasa Lama bermata pencaharian sebagai petani yaitu petani padi dan singkong. Dasar Penetapan Ganti Rugi Sengketa Warisan Adat Pepadun Lampung di Desa Rajabasa Lama Pepadun di Desa Rajabasa Lama. Berikut hasil wawancara dengan berbagai perimbangan adat terkait kasus penetapan sengketa waris dimana keputusan sengketa waris ditentukan sendiri oleh perimbangan adat melalui musyawarah mufakat di Desa Rajabasa Lama Kecamatan Labuhan Ratu Timur -Lampung.
Di Desa Rajabasa Lama pernah terjadi sengketa waris yaitu pada tahun 2008 diselesaikan melalui musyawarah adat yang diminta oleh keluarga yang bertikai. Di Desa Rajabasa Lama sendiri pernah terjadi sengketa waris yang diselesaikan melalui musyawarah adat oleh beberapa perimbangan adat setempat, namun mereka masih kerabat perimbangan tersebut. Seperti halnya tahkim/hakam dalam Islam, kasus-kasus yang timbul di kalangan masyarakat adat Lampung Pepadun di Desa Rajabasa Lama diselesaikan melalui musyawarah adat oleh perimbangan adat.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti telah mendapatkan poin-poin sebagai bahan untuk dianalisis dari putusan konflik pewarisan yang terjadi di Desa Rajabasa Lama. Dasar ketentuan imbangan tentang sengketa waris di Desa Rajabasa Lama didasarkan atas asas kekeluargaan dan kekerabatan. Tinjauan hukum Islam terhadap putusan sengketa waris adat Lampung Pepadun di Desa Rajabasa Lama Kecamatan Labuhan Ratu Lampung Timur perimbangan antara kedua belah pihak berbeda dan tidak sesuai dengan hukum Islam karena sebagaimana Tahkim/Hakam dalam Islam memiliki beberapa kriteria yang telah dijelaskan untuk menyelesaikan sengketa, salah satunya adalah bertindak adil.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Desa Rajabasa Lama
Desa Raja Basa Lama adalah sebuah desa yang terletak di Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Dalam monograf Desa Raja Basa Lama Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur yang dipersiapkan untuk mengikuti Lomba Desa Tingkat Kabupaten Lampung Timur Tahun 2008 disebutkan bahwa Desa Raja Basa Lama berdiri pada tahun 802 H atau bertepatan dengan tahun 1402 Masehi. oleh Minak Pemuko Ratu Di bumi. Kampung Raja Basa pertama kali berdiri di Way Terusan, Kecamatan Seputih Mataram, Kabupaten Lampung Tengah.
Namun pada masa Pengiran Dalem Mangkurat atau lebih dikenal dengan Minak Gedi (1852 M) Desa Raja Basa berpindah ke Way Pegadungan di wilayah Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur lalu. Seluruh masyarakat pindah ke Way Bagul karena sebagian besar rekannya berada di Way Bagul, sehingga yang tadinya bernama Kampung Raja Basa diganti dengan nama Kampung Raja Basa Lama. Berdasarkan Monografi Desa Rajabasa Lama Tahun 2019, jumlah penduduk Desa Rajabasa Lama sebanyak 12.848 jiwa dengan jumlah 3.189 kepala keluarga.
Penduduk Desa Rajabasa Lama terdiri dari berbagai suku/suku yang terdiri dari suku Jawa, Padang, Sunda, Bali, dan sebagian besar penduduk asli Desa Rajabasa Lama adalah Lampung. Walaupun terdiri dari suku yang berbeda, masyarakat desa Rajabasa Lama selalu hidup rukun dan damai, bahkan sebagian besar masyarakat Jawa dan lainnya dapat berbahasa Lampung karena sudah terbiasa dan sudah lama tinggal di lingkungan sekitarnya. Desa Rajabasa Lama merupakan daerah dataran yang subur, terbukti dari hasil pertanian yang ada.
Latarbelakang Penyimbang Desa Rajabasa Lama
Hal di atas dapat dijelaskan, bahwa dalam satu kota terdapat kepemimpinan adat yang dipimpin oleh seorang pemimpin. Seperti halnya kepala desa yang memiliki kepala dusun, di desa Rajabasa Lama pemimpin tertinggi dan pengatur semua urusan adat dan acara begawi adalah satu, yaitu Suttan Puset Mergo Subing. Perbedaan kamar penyeimbang/sukeu dengan 24 buah penyeimbang adalah bahwa gubuk tersebut merupakan marga yang dipimpin oleh seorang kepala marga dalam adat yang terbagi menjadi beberapa marga, sedangkan ke 24 buah penyeimbang semuanya adalah tokoh adat di desa Rajabasa Lama.
Adapun siapapun yang mendapat posisi penyeimbang adalah seseorang yang mampu melakukan prosesi adat begawi. Selain kriteria di atas, untuk mendapatkan posisi penyeimbang, tidak ada kriteria lain dalam hal ini, tetapi ketika ada masalah biasa, penyeimbang mengambil bagian dalam masalah dan penyeimbang yang terlibat harus fasih/terampil berbicara, mengetahui persoalan, dan bijaksana dalam mengambil keputusan.89. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dijelaskan kembali bahwa untuk menjadi penyeimbang atau mendapat gelar adat tidak ada kriteria khusus, kecuali yang ingin begawi harus mampu secara finansial dan mempunyai kedudukan dalam marga sebelumnya. atau keturunan sebelumnya.
Dasar Penetapan Penyimbang tentang Sengketa Waris Adat
Pembagian waris dalam adat Lampung Pepadun sendiri menggunakan sistem garis keturunan dari bapak, artinya laki-lakilah yang berhak mewarisi harta peninggalan tersebut. Selain itu menurut Bpk. Ahmad Nurfiah (Pengiran Sirah), dasar penentuan sengketa waris sebenarnya penyeimbang tidak berhak menentukan atau mengambil keputusan, tetapi jika ada pertimbangan-pertimbangan tertentu, seperti penyeimbang masih anggota keluarga. atau keluarga yang bersengketa dan ditunjuk oleh para pihak untuk menyelesaikan dan menyelesaikan sengketa, maka tidak ada masalah sepanjang para pihak yang berkepentingan menyetujui dan menyetujui keputusan yang diambil. Dalam pembagian waris, hukum adat Lampung Pepadun mengutamakan keturunan laki-laki/paternal, yang disebut dengan sistem patrilineal.
Dapat dipahami dari penalaran beberapa pihak penyeimbang bahwa dalam kasus sengketa waris yang terjadi, para pihak mempercayakan permasalahannya kepada tokoh adat. Setelah melakukan wawancara dengan beberapa loket adat/penanggung jawab terkait, memang benar adanya permasalahan sengketa waris yang diselesaikan melalui musyawarah adat pada tahun 2008. Selain itu, peneliti melihat bahwa kasus sengketa waris adat masih belum sesuai dengan hukum Islam. berdasarkan teori kriteria hakam (pembawa damai) antara pihak yang bertikai.
Pemilihan dan penunjukan juru damai (hakam) dilakukan secara sukarela oleh kedua belah pihak yang bersengketa. Berdasarkan penjelasan paragrap di atas dan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti mendapatkan beberapa poin penting mengenai penetapan sengketa waris dengan pemberat, bahwa pemberat yang menentukan/memutuskan diselesaikan dan ditentukan sepenuhnya. menjadi penengah bagi kedua belah pihak yang bersengketa. Masyarakat Lampung khususnya Lampung Pepadun di desa Rajabasa Lama menganut sistem kekerabatan dalam pembagian harta peninggalannya, dan menurut beberapa hasil wawancara ternyata pihak imbangan tidak berhak memutuskan pembagian harta peninggalan keluarga. Namun ada beberapa hal yang mendasari imbangan untuk dipilih sebagai juru damai dalam masalah sengketa waris, yaitu imbangan terkait adalah orang-orang yang paling tua dalam keluarga, imbangan tersebut masih merupakan anggota kerabat dari pihak-pihak yang terhubung.
Menurut peneliti, keseimbangan tersebut harus dilihat dari segi asas ini, sehingga pertimbangan dalam menentukan sengketa waris adat adalah tepat dan setara. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh pihak penyeimbang dalam menentukan sengketa waris yang terjadi memberikan pelajaran bahwa ketika dipercaya dan diserahkan sepenuhnya untuk menjadi Tahkim/Hakam dalam penyelesaian masalah, khususnya masalah waris, perlu diperhatikan dan dicermati. sehingga pertimbangan menghasilkan suatu penetapan yang benar, adil bagi kedua belah pihak, tidak hanya salah satu. Berdasarkan kesimpulan Kajian Hukum Islam Penetapan Sengketa Warisan Adat Pepadun Lampung, maka saran yang dapat peneliti kemukakan adalah sebagai berikut.
Adapun penyelesaian sengketa waris yang jarang terjadi, ada baiknya penyeimbang dalam pengambilan keputusan lebih memperhatikan dan mempertimbangkan hukum Islam selain hukum adat.