• Tidak ada hasil yang ditemukan

Serangan penyakit ice ice terhadap rumput laut mengalami peningkatan seiring dengan infeksi bakteri pathogen terhadap thallus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Serangan penyakit ice ice terhadap rumput laut mengalami peningkatan seiring dengan infeksi bakteri pathogen terhadap thallus"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT ICE ICE PADA BUDIDAYA RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii

DI TELUK PALU PROVINSI SULAWESI TENGAH

ISOLATION AND IDENTIFICATION PATHOGENIC BACTERIA CAUSING ICE-ICE DISEASE ON CULTURED SEAWEED KAPPAPHYCUS ALVAREZII IN PALU BAY, CENTRAL SULAWESI PROVINCE

Nasmia*1, Zakirah R Ya’la*

*Faculty of Animal Husbandry and Fisheries, Tadulako University, Palu, Central Sulawesi E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Penurunan produksi rumput laut terjadi di beberapa pusat kawasan pengembangan budidaya akibat serangan penyakit ice ice. Serangan penyakit ice ice terhadap rumput laut mengalami peningkatan seiring dengan infeksi bakteri pathogen terhadap thallus. Kondisi tersebut disebabkan antara lain menurunnya kualitas perairan yang bisa menyebabkan meningkatnya aktivitas bakteri pathogen dalam mensekresikan faktor-faktor virulensinya, sehingga menghambat pertumbuhan rumput laut yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas dan produksi rumput laut.

Penelitian dan pengambilan sampel rumput laut dilakukan di perairan Teluk Palu, analisis kualitas air dan isolasi bakteri di laboratorium Perikanan dan laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) Universitas Tadulako serta identifikasi bakteri dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan Maros, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri pada rumput laut Kappaphycus alvarezii yang terserang ice-ice dan kualitas air tempat budidaya rumput laut tersebut. Bakteri yang telah diisolasi ditumbuhkan pada media agar Tryptic Soy Agar (TSA) dan Thiosulphate Citrate Bile Salt Sucrose (TCBS).

Berdasarkan hasil uji secara morfologi dan biokimia dari isolat bakteri tersebut, didapatkan 4 jenis bakteri yang terdiri dari 2 golongan, yaitu bakteri gram negatif yaitu Flavocytofaga, Enterobactericeae, Acinotebacter, Vibrio sp. dan golongan gram positif yaitu Bacillus. Bakteri tersebut juga didapatkan pada air laut, sehingga ada kecenderungan bahwa bakteri yang terdapat pada air laut menginfeksi rumput laut yang menyebabkan penyakit ice ice.

Kata Kunci : Rumput laut Kappaphycus alvarezii, Ice ice, Bakteri pathogen, Isolat ABSTRACT

Production of seaweed in the centre development of seaweed culture was hampered by ice-ice disease.

The emerging of ice-ice infection may be caused by pathogenic bacteria infected the thallus as the water quality deteriorate. Changes in the water quality could increase the activity of pathogenic bacteria to secrete their virulent substances. This will inhibit the growth of seaweed and in turn it may affect the quantity and the quality of the seaweed productions.

Cultured seaweed Kappaphycus alvarezii was sampled in Palu Bay, analysis of water quality and bacterial isolation were carried out in Fisheries Laboratory and Pest and Plant Disease Laboratory, Tadulako University, respectively. Identification of bacteria was done in Institute of Research and Development of Brackishwater Culture in Maros, South Sulawesi Province. This study was aimed to isolate and identify bacteria on seaweed infected with ice-ice and to analyze the water quality. Isolated bacteria were inoculated in Tryptic Soy Agar (TSA) and Thiosulphate Citrate Bile Salt Sucrose (TCBS).

Based on the morphological and biochemical characterization, four bacteria that can be divided into two groups, Gram negatif bacteria: Enterobacteriaceae, Acinetobacter and Vibrio, and Gram positif bacteria:

Bacillus, were identified. Those bacteria were also isolated from the seawater suggesting that the bacteria in the seawater infected the seaweed causing the ice-ice disease.

Key words: Seaweed, Kappaphycus alvarezii, Ice-ice, Pathogenic bacteria, Isolate.

8

(2)

PENDAHULUAN

Usaha rumput laut memiliki peranan penting dalam usaha meningkatkan produksi perikanan seperti untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi, memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun luar negeri. Mengingat kegunaan rumput laut yang begitu besar dan berprospek cerah sebagai satu komoditas perdagangan, maka usaha rumput laut sudah mulai dikembangkan di Provinsi Sulawesi Tengah. Hal ini dikarenakan daerah ini memiliki wilayah perairan laut yang cukup luas yaitu sebesar 193.923,75 km2 (tiga kali lipat luasnya dibandingkan dengan wilayah darat) dan memiliki panjang garis pantai sekitar 4.013 km.

Potensi tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin guna mewujudkan Provinsi Sulawesi Tengah sebagai Provinsi rumput laut di masa akan datang (Diskanlut Provinsi Sulawesi Tengah, 2009)

Produksi rumput laut menurun disebabkan karena pemanfaatan lahan untuk budidaya belum optimal dan pemanfaatan sumberdaya pesisir yang tidak ramah lingkungan akan menyebabkan menurunnya kondisi ekologis perairan dapat menimbulkan penyakit yang menghambat pertumbuhan rumput laut serta akan berpengaruh terhadap mutu akhir dari rumput laut. Kendala yang sering dihadapi oleh pembudidaya rumput laut adalah adanya penyakit ice-ice yang menyebabkan thallus memutih dan akhirnya membusuk dan patah-patah sehingga pertumbuhan rumput laut yang dibudidaya tidak optimal yang menyebabkan kualitas rumput laut menurun.

Perubahan kondisi perairan pada lokasi budidaya selain dapat berpengaruh langsung terhadap rumput laut juga meningkatkan jumlah dan aktivitas virulensi dari bakteri patogen. Penurunan parameter kualitas air seperti oksigen, suhu, kecerahan, arus, salinitas, nitrat dan fosfat dapat memicu timbulnya penyakit ice-ice pada budidaya rumput laut. Largo et al. (2003), mengidentifikasi bakteri patogen penyebab penyakit ice-ice pada Kappaphycus alvarezii yaitu bakteri Vibrio sp., sedangkan Yulianto (2002) mendapatkan lima jenis bakteri yang menyebabkan penyakit ice-ice yakni Pseudomonas fluorescens, Pseudomonas nigricaciens, Bacilllus cercus, Vibrio agarliquefaciens dan Vibrio granii.

Penyakit ice-ice memiliki gejala klinis seperti timbulnya bercak putih pada sebagian thallus kemudian thallus tersebut menjadi pucat dan mengkropos hingga patah. Secara faktual menunjukkan bahwa kajian yang mengarah tentang penyakit ice–ice sangat minim, hanya sebagian yang mengarah pada faktor lingkungan (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2004). Namun demikian penelitian tentang mekanisme transmisi bakteri secara spesifik terhadap thallus rumput laut

K. alvarezii sehingga penyakit ice-ice dan interaksi antara berbagai jenis bakteri yang terdapat pada thallus rumput laut K. alvarezii dengan waktu transmisi secara spesifik belum dilakukan. Oleh karena itu penelitian sangat penting untuk dilakukan sehingga dapat memperkaya khasanah pengembangan pencarian solusi tentang pengendalian penyakit ice-ice.

MATERI DAN METODE Lokasi Penelitian

Penelitian atau pengambilan sampel rumput laut dilakukan di perairan Teluk Palu. Analisis parameter kualitas air dilakukan di Laboratorium Perikanan Universitas Tadulako dan isolasi dan identifikasi bakteri dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) Fakultas Pertanian Universitas Tadulako serta identifikasi bakteri dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan Maros.

Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan pada saat terinfeksi penyakit ice ice. Pengambilan sampel untuk isolasi dan identifikasi bakteri pada thallus Kappaphycus alvarezii yang terserang ice-ice dan air laut di lokasi budidaya. Sampel thallus yang terserang ice ice diambil dari beberapa rumpun secara acak. Thallus dibersihkan dan dicuci dengan air laut steril. Setelah itu, thallus dimasukkan ke dalam botol kaca yang telah berisi air laut steril.

Untuk isolasi dan identifikasi bakteri pada air budidaya rumput laut, sampel air diambil dan dimasukkan kedalam botol steril. Seluruh sampel dimasukkan kedalam ice box yang telah ditambahkan es batu dan selanjutnya di analisis di laboratorium.

Teknik Isolasi Bakteri

Thallus yang terserang penyakit ice-ice diambil sampel sebanyak 1 g kemudian digerus.

Dari cairan hasil gerusan tersebut diambil 0,1 ml dan disebar pada cawan petri yang berisi media agar Tryptic Soy Agar (TSA) Agar dan TCBS (Thiosulphate Citrate Bile Salt Sucrose) Agar.

Teknik Identifikasi Bakteri

Hasil isolasi bakteri kemudian digores ulang beberapa kali untuk memperoleh isolat murni.

Setelah isolat murni bakteri diperoleh, lalu dievaluasi tipe koloninya dan dilanjutkan dengan identifikasi bakteri berdasarkan karakterisasi fisiologi dan biokimia.

Kualitas Lingkungan Perairan

Parameter kualitas lingkungan yang diamati meliputi parameter fisika perairan secara in situ,

(3)

parameter kimia perairan. Kelangsungan hidup rumput laut di perairan sangat terkait erat dengan kondisi kualitas lingkungan perairan (fisika, kimia dan biologi). Gambaran tentang kondisi biofisik habitat perairan rumput laut penting diketahui oleh karena sangat menentukan siklus perkembangan rumput laut.

Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara deksriptif yang dibuat dalam bentuk tabel dan gambar.

HASIL DAN

PEMBAHASAN Hasil

a. Isolasi Bakteri dari Thalus Rumput Laut yang Terserang Penyakit Ice ice

Bakteri diisolasi dari thallus rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di perairan Teluk Palu Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan gejala penyakit ice-ice yang ditandai dengan gejala klinis yaitu timbulnya bercak putih pada sebagai thallus (Gambar 1). Bakteri ditumbuhkan pada media Tryptic Soy Agar (TSA) Agar dan TCBS (Thiosulphate Citrate Bile Salt Sucrose) (Gambar 2).

Koloni bakteri tunggal didapatkan setelah dilakukan penggoresan secara berulang-ulang dengan ciri-ciri koloni seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Morfologi koloni bakteri hasil isolas dari talus Kappaphycus alvarezii

Isolat Bentuk Koloni

bentuk Tepi Elevasi Warna

R1 Tidak beraturan Bergerigi Cembung Kuning

R2 Bulat Rata Cembung Putih susu

R3 Tidak beraturan Bergerigi Datar Krem R4 Tidak beraturan Rata Cembung Kuning

R5 Bulat Rata Cembung Krem

R6 Bulat Rata Datar Krem

R7 Bulat Rata Cembung Putih

R8 Bulat Rata Datar Putih

R9 Bulat Rata Cembung Kuning

R10 Bulat Rata Cembung Krem

R11 Tdk Beraturan Bergerigi Cembung Krem

R12 Bulat Bergerigi Cembung Kuning

A1 Bulat Bergerigi Cembung Putih susu

A2 Bulat Rata Cembung Putih

A3 Bulat Rata Datar Putih

A4 Tdk beraturan Bergerigi Datar Putih Susu A5 Tdk beraturan Bergerigi Datar Putih Susu A6 Tdk beraturan Bergerigi Cembung Putih Susu

A7 Bulat Rata Cembung Krem

b. Hasil Uji Biokimia

Pengujian meliputi uji pewarnaan Gram, uji indol, uji motilitas, uji TSIA, uji katalase, uji urease, uji gas, uji H2S, dan uji TCBSA (Tabel 2, 3 dan 4) . Tabel 2. Hasil Uji Biokimiawi pada Isolat Rumput Laut

Gambar 1. Penyakit ice ice sampel rumput laut Kappaphycus alvarezii

1 2

Karakter

Pewarnaan Gram OF

Oksidasi Katalase

Indol Motil

SIM Gas

H2S Butt Slant TSIA H2S

Gas MR

VP King A King B

R R R R R R R R R R10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 + - + + + + + - + + - F F - - - F - - - - - - - - - + - + + + + + + + + + +

+ + - - - + - + + + - - - - - - - - - - - - - - - - - + + + - - - - - - - - - - R R R R R R R - - - R R R R R R R Y Y Y - - - - - - - R R R - - - - - - - - - - - - - - - - + - - - - - - - - - - - - - + + + - - + + - - - + + + - - - + - + +

R 11 +

- +

- - - - R R - - - - - +

Gambar 2. Goresan bakteri yang berhasil ditumbuhkan pada media Agar; 1 = TCBS (Thiosulphate Citrate Bile Salt Sucrose) Agar, 2 = TSA (Tryptic Soy Agar)

10

(4)

Tabel 3. Hasil Uji Biokimiawi pada Isolat Air Laut A6 sedangkan tepinya atau margin beregerigi dan Karakter

Pewarnaan Gram OF Oksidasi Katalase

Indol Motil SI Gas

M H2S Butt T slant SI H2S

A Gas

MR VP King A King B

A1 +

- + + + - - - R R - - - - + +

A2 -

- + + - - - - R R - - + - + +

A3 +

- - + - + - - R R - - - - - -

A4 +

- + + - + - - Y/R

R - - - - + +

A5 +

F + + - + - - Y R - - - - + +

A6 +

- + + - + - - Y R - - - - + +

rata, margin bergerigi pada hasil isolat R1, R3, R11, R12, A4, A5, A6 dan margin rata terdapat pada isolat R2, R4, R5, R6, R7, R8, R9, R10, A2, A3, A7 untuk elevasi datar pada hasil isolat R3, R6, R8, A3, A4, A5 dan elevasi cembung pada R1, R2, R4, R5, R7, R9, R10, R11, R12, A1, A2, A6, A7. Warna dari morfologi koloninya ada kuning, putih susu, krem dan putih. Hasil pengamatan morfolgi koloni bakteri sesuai dengan pernyataan Cappucino and Sherman (2005) menyatakan pada umumya koloni bakteri berbentuk circular, irreguler, filamentous, rhizoid, Elevasinya berbentuk raised, convex, flat, umbonate, crateriform. Margin berbentuk entire, undulute, filiform, curled dan lobate.

Hasil identifikasi koloni bakteri pada media TSA yang dianalisis secara karakterisasi dan uji biokimia didapatkan bakteri jenis Bacillus sp (R1, R3, R4, R5, R6, R7, R9, R10, R11) Enterobactericeae (R2) dan Acinetobacter sp (R8), serta Vibrio sp. (R12, A7) (Tabel 1). Hasil isolasi dan identifikasi

Tabel 4. Hasil Uji Biokimiawi Bakteri Vibrio

Karakter R12 A7

Swarming - -

Luminescence - -

VP Test - -

Arginin Dihydrolase - -

Gas From Glucose - -

Growth at 400C - -

Lysine Decarboxylase + +

Pigmentation - -

Amylase + +

Sucrose - -

Indole - -

Ornithin Decarboxylase + +

Putrescine - -

Ethanol - -

Serine - -

Heptaniate - -

Xantine - -

Aminobutirate - -

Arabinose - -

Cellubiose - -

Glucuronate - -

Ketoglutarate - -

L-Alanine - +

Leucine - -

Propionate - -

Genus Vibrio sp Vibrio sp

Pembahasan

Hasil pengamatan didapatkan beberapa bentuk morfologi koloni dari isolat bakteri yaitu bulat yang terdapat pada hasil isolat R2, R5, R6, R7, R8, R9, R10, R12, A1, A2, A3, A7 dan tidak beraturan terdapat pada hasil isolat R1, R3, R4, R11, A4, A5,

bakteri heterotrofik pada perairan air pantai yang dilakukan Irianto (2003) ditemukan beberapa jenis bakteri yaitu Bacillus yang pada dasarnya merupakan bakteri tanah, tetapi juga dijumpai diperairan tawar dan payau (kosmopolit).

Selanjutnya (Pelczar et al. 1975) melaporkan bahwa Bacillus merupakan bakteri yang berbentuk batang dapat dijumpai di tanah dan air termasuk pada air laut. Beberapa jenis menghasil enzim ekstraseluler yang dapat menghidrolisis protein dan polisakarida kompleks. Bacillus sp. termasuk bakteri gram negatif yang membentuk endospore dan bergerak dengan adanya flagel, bersifat aerobik atau fakultatif anaerobik serta bersifat katalase positif. Bakteri Acinetobacter termasuk gram negatif yang berbentuk batang, pendek, gemuk, dengan ukuran biasanya 1,0-1,5 dengan 1,5 sampai 2,5 mm, fase pertumbuhan logaritmik tetapi sering menjadi lebih coccoid dalam fase stasioner. Acinetobacter sp.

biasanya bentuk halus, kadang-kadang berlendir, kuning pucat keabu-abuan putih koloni pada media padat, meskipun beberapa strain lingkungan yang menghasilkan pigmen coklat diffusible.

Hasil isolasi dan identifikasi pada penelitian ini didapatkan bakteri Vibrio sp. Hasil ini sesuai yang diperoleh oleh Largo et al. (2003) bahwa beberapa jenis bakteri pathogen yang menyebabkan penyakit ice-ice pada budidaya rumput laut antara lain bakteri Vibrio sp. Bakteri Vibrio termasuk bakteri gram negative, bersifat aerob tetapi ada pula yang bersifat anaerob fakultatif, motil karena pergerakannya dikendalikan oleh flagela polar (Choopun et al., 2002).

Semua anggota jenis ini adalah bergerak dan mempunyai kutub flagella dengan sarung pelindung (Austin and Austin, 1993). Hal ini didukung oleh Hanna et al. (2000) bahwa Vibrio alginolyticus

(5)

merupakan bakteri berbentuk basil (batang) dan bersifat motil dan bakteri Vibrio dapat menyebabkan penyakit pathogen rumput laut yaitu penyakit ice ice.

Kualitas Air

Faktor yang menentukan keberhasilan dalam budidaya rumput laut adalah kualitas air.

Pertumbuhan rumput laut di perairan sangat erat dengan kondisi kualitas lingkungan perairan.

Gambaran tentang kondisi habitat perairan rumput laut perlu diketahui karena sangat menentukan pertumbuhan rumput laut. Berdasarkan hal tersebut dilakukan pengamatan kualitas air di lokasi budidaya yaitu di perairan Teluk Palu Sulawesi Tengah dan didapatkan hasil parameter kualitas air, yang dapat dilihat pada (Tabel 5).

Tabel 5. Parameter Kualitas Air

No. Parameter Kualitas Air Nilai

1. Salinitas 28 ppt

2. pH 8

3. DO (oksigen terlarut) 6,4 ppm

4. Kecepatan arus 16 cm/det

5. Kedalaman 9,76 m

6. Kecerahan 6

7. Nitrat 0,07 mg/L

8. Fosfat 0.013 mg/L

9. Padatan Terlarut (TDS) 60,896 mg/L 10. Padatan Tersupensi (TSS) 19,38 mg/L

Hasil pengukuran kualitas air (Tabel 5) menunjukan bahwa salinitas pada lokasi budidaya yaitu sebesar 28 ppt. Hasil ini layak sesuai dengan pendapat Patang (2010) bahwa salinitas perairan untuk budidaya rumput laut berkisar antara 28-34 ppt (yang optimal sekitar 33 ppt). Salinitas dapat berpengaruh terhadap proses osmoregulasi pada tumbuhan rumput laut. Hasil derajat keasaman(pH) pada lokasi budidaya penelitian yaitu 8. Hal ini sejalan yang dilaporkan oleh Lundsor (2002), bahwa kisaran pH yang baik bagi pertumbuhan rumput laut jenis K.

alvarezii yaitu 7–9 dengan kisaran optimum adalah 7,3–8,2. Oksigen terlarut (DO) di lokasi budidaya yaitu 6,4 ppm. Kebutuhan oksigen terlarut untuk rumput laut adalah lebih dari 5 mg/l, hal ini berarti jika oksigen terlarut dalam perairan mencapai 5 mg/l maka metabolisme rumput laut dapat berjalan dengan optimal Mamang (2008).

Menurut Atmadja et al. (1996) bahwa kecepatan arus yang baik untuk budidaya K.

alvarezii adalah 20–30 cm/detik. Kecepatan arus pada lokasi budidaya termasuk rendah dan kurang baik untuk budidaya rumput laut yaitu 16 cm/detik, karena kecepatan arus yang relatif pelan menyebabkan partikel-partikel lumpur dan pasir tidak teraduk sempurna. Pergerakan air dianggap sebagai kunci

diantara faktor-faktor oceanografi dalam budidaya rumput laut. Ombak dan arus menyebabkan pergerakan massa air secara horizontal dan vertikal yang mengakibatkan terjadinya percampuran secara homogen, sehingga memudahkan transportasi nutrien dan bahan tersuspensi lainnya dalam perairan (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2005).

Kedalaman merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam pertumbuhan rumput laut.

Kedalaman lokasi penelitian didapatkan sebesar 9,76 m. Hasil ini sesuai yang dilaporkan Poncomulyo et al. (2006), bahwa kedalaman untuk budidaya rumput laut diperairan pantai berkisar antara 4-17 m. Kondisi ini diharapkan untuk menghindari rumput laut agar tidak mengalami kekeringan dan mengoptimalkan perolehan sinar matahari. Niai kecerahan yang didapatkan pada lokasi penelitian yaitu 6 m. Hasil tersebut masih layak untuk kegiatan budidaya.

Rumput laut memerlukan adanya unsur hara, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro.

Alamsjah et al. (2010) mengemukakan bahwa selama pertumbuhan, rumput laut memerlukan unsur hara esensial (makro dan mikro). Menurut Aslan (1998), untuk pertumbuhan dan perkembangan rumput laut sangat diperlukan kualitas cahaya serta zat hara yang cukup seperti nitrat (NO3) dan fosfat (PO4). Kandungan Nitrat yang didapatkan pada lokasi budidaya yaitu berkisar antara 0,07 mg/L, kandungan nitrat di perairan untuk lokasi budidaya rumput laut sebaiknya antara 0,1 – 0,7 mg/l sedangkan untuk kandungan fosfat didapatkan 0,013 mg/l (Aslan, 1988).

Lanjut Anggorowati (2004) yang menyatakan apabila tanaman tidak mendapat hara yang cukup, maka pertumbuhan dan perkembangannya akan terhambat, demikian sebaliknya, apabila tanaman mendapat hara yang berlebih, maka pertumbuhan dan perkembangannya juga akan terhambat.

Hasil padatan tersuspensi (TSS) yang diperoleh pada lokasi penelitian adalah 19,38 mg/L dan padatan terlarut (TDS) adalah 60,896 mg/L.

Hasil yang didapatkan masih dalam kisaran yang layak untuk pertumbuhan rumput laut. Kandungan TSS berkisar < 25 ppm dan TDS < 80 ppm (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2005).

Padatan tersupensi adalah semua zat padat berupa pasir, lumpur dan tanah liat atau partikel-partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti phytoplankton, zooplankton, bakteri ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikel-partikel anorganik (Tarigan dan Edward, 2003). Kandungan zat tersuspensi yang tinggi dapat mengurangi penetrasi cahaya matahari, sehingga panas yang

12

(6)

diterima permukaan laut tidak cukup efektif untuk proses fotosintesis.

KESIMPULAN DAN SARAN

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa rumput laut yang dibudidayakan di perairan Teluk Palu memperlihatkan gejala-gejala klinis yaitu adanya bercak putih yang terdapat pada thallus rumput laut disebabkan oleh bakteri dengan adanya bakteri yang tumbuh pada media Tryptic Soy Agar (TSA) Agar dan TCBS (Thiosulphate Citrate Bile Salt Sucrose). Berdasarkan hasil uji secara morfologi dan biokimia dari isolat bakteri tersebut, didapatkan 4 jenis bakteri yang terdiri dari 2 golongan, yaitu bakteri gram negatif yaitu Enterobactericeae, Acinotebacter, Vibrio sp. dan golongan gram positif yaitu Bacillus. Bakteri tersebut didapatkan pada rumput laut juga didapatkan pada air laut, sehingga ada kecenderungan bahwa bakteri yang terdapat pada air laut juga menginfeksi rumput laut yang menyebabkan penyakit ice ice.

UCAPAN TERIMA KASIH

Kami ucapkan banyak terima kasih Kepada Rektor Universitas Tadulako, Dekan Fakultas Peternakan dan Perikanan, serta pihak yang telah membantu dalam kegiatan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Alamsjah, M. A., Ayuningtiaz, N. A., dan Subekti, S.

2010. Pengaruh Lama Penyinaran terhadap Pertumbuhan dan Klorofil-a Gracilaria verrucosa pada Sistem Budidaya Indoor.

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan.

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Surabaya. Vol. 2(1):

21-31.

Anggorowati, D.A. 2004. Bioeliminasi Nitrat oleh Gracilaria salicornia pada Kegiatan Marikultur. UPT Loka Pengembangan Bio- Industri Mataram-Puslit Oseanografi. 297 – 303 Hlm.

Aslan, L. M. 1998. Budidaya Rumput Laut. PT.

Kanisius. Jakarta. 97 hlm.

Atmadja, W.S., Kadi, A. Sulistijo, dan Rachmaniar.

1996. Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Jakarta: 120-152.

Austin B and D.A Austin (eds). 1993. Bacterial Fish Pathogen: Disease in Farmed and Will Fish. Departement of Biological Sciences, Heriot-Watt University 3th

Cappuccino, J.G., and Sherman, N. 2005.

Microbiology a Laboratory Manual (edisi ke- 7). San Francisco: The Benjamin/

Cummings Publishing Company, Inc.

Choopun N, Louis V, Huq A, Colwell R.R. 2002.

Simple procedure for rapid identification of Vibrio cholerae from the aquatic environment. Appl Environ Microbiol 68(2):

995-8

Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Tengah.

2009. “Menuju Sulawesi Tengah sebagai Propinsi Rumput Laut Tahun 2011” Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sulawesi Tengah bekerja sama dengan LP3L TALINTI

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2004.

Profil Rumput Laut Indonesia. Jakarta Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2005.

Revitalisasi Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Hanna, P.J, Altmann K., Chen D., Smith A, Cosic S and Moon P, 2000. Development of Monoclonal Antibodies for the Rapid Identification of Epizootic Vibrio species.

Fish Disease 15:63- 69

Irianto, A. 2003. Biodiversity of Aerobic Heterotrophic Bacteria from Baron Beach, Gunung Kidul, Yogyakarta Biodiversitas. Journal of Biological Diversity. 4(2), pp. 80–82.

Largo, D.B., Fukami, K., Adachi, M., Nishijima, T.

2003. Immunofluorescent Detection of ice- ice Disease-Promoting Bacterial Strain Vibrio sp. P11 of the Farmed Macro Alga, Kappaphycus alvarezii of Aquatic Environmental Science (LAQUES), Departement of Aquaculture, Faculty of Agriculture, Kochi University-Japan.

Lundsor, E. 2002. Eucheuma Farming in Zanbibar.

Broadcast System, an Alternative Method for Seaweed Farming. [Thesis]. Candidata Scientiarium in Marine Biology. University of Bergen.

Mamang, R. 2008. Laju Pertumbuhan Bibit Rumput Laut Eucheuma cottonii dengan Perlakuan Asal Thallus Terhadap Bobot Bibit Di Perairan Lakeba, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Patang, 2010. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Produksi Budidaya Rumput Laut K. alvarezii di Kabupaten Pangkep. Jurnal Agrisistem, 6 (1): 8-14.

Pelczar, M.J., Roger,D.R., dan Chan, E.C.S. 1975.

Microbiology. Mc.Graw-Hill. Book Company, New York, USA. 896pp.

Poncomulyo, T., M. Herti dan K. Lusi., 2006.

Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut.

Agro Media Pustaka. Jakarta

Tarigan, M.S dan Edward. 2003. Kandungan Total Zat Padat Tersuspensi (Total Suspended Solid) di Perairan Raha Sulawesi Tenggara.

Jurnal Bidang Dinamika Laut, Pusat

(7)

Penelitian Oseanografi, Makara Sains. 7 (3).

109-119.

Yulianto K. 2002. Pengamatan Penyakit Ice-ice dan Alga Kompetitor Fenomena Penyebab Kegagalan Panen Budidaya Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Prosiding Seminar Riptek Kelautan Nasional. Pusat Penelitian Oceanografi-LIPI. Jakarta.

14

Referensi

Dokumen terkait

pertumbuhan harian 2,36% dan laju pertumbuhan harian terkecil pada perlakuan A dengan komposisi 100% K. alvarezii yang hanya sebesar 2,32%. Akan tetapi hasil sidik ragam

[\Iasyarakat Dalam Pembentukan Pola Pemukiman ORIGINALITY REPORT 4n o/o 4"r, INTERNET SOURCES PUBLICAT IONS o//o STUDENT PAPERS SIMILARITY INDEX PRIN,IARY SOURCES E 2r"