Kualitas penggunaan bahasa Indonesia di berbagai bidang, termasuk urusan pemerintahan, pendidikan, jurnalisme, ekonomi, dan perdagangan, juga kurang mengesankan. Upaya tersebut dilakukan dengan meningkatkan sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia dan meningkatkan kualitas penggunaan bahasa Indonesia di berbagai bidang.
PENDAHULUAN
Pengertian Ejaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ejaan adalah kaidah-kaidah untuk menguraikan bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam tulisan (huruf) serta penggunaan tanda baca (KBBI). Pada slogan di atas terdapat dua hal penting yaitu (1) Bahasa Indonesia yang baik dan (2) Bahasa Indonesia yang benar.
Ejaan yang Pernah Berlaku dalam
Namun tanda apostrof atau singkatan tersebut hanya digunakan untuk penulisan kata dalam bahasa seni atau bukan dalam bahasa tulisan resmi. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada kata baku yang ditulis dengan tanda kutip dalam bahasa Indonesia.
Ejaan dan Transliterasi
Oleh karena itu, kata atau istilah asing yang ditulis dengan huruf latin dalam bahasa Indonesia ditulis miring. Penulisan kata atau istilah yang diperoleh dalam bahasa Indonesia dilakukan sesuai kaidah ejaan bahasa Indonesia, sedangkan kata atau istilah asing ditulis mengikuti kaidah dalam Pedoman Transliterasi Arab-Latin.
PEMAKAIAN HURUF
Pemakaian Huruf dalam Bahasa Indonesia
Dengan kata lain, secara umum dapat dikatakan bahwa tidak ada kata baku bahasa Indonesia yang ditulis dengan huruf q dan x. Misalnya kata qari masih ditulis dengan huruf q karena kalau ditulis dengan k (kari), kata kari sudah ada dalam bahasa Indonesia yang artinya 'sayur gulai yang diberi kunyit, jadi kuning'.
Pemakaian Huruf Kapital
Sebaliknya kata solo pada batik Solo seharusnya menggunakan huruf kapital seperti pada kalimat (7). Oleh karena itu, nama jenisnya ditulis dengan huruf kecil semua meskipun memuat nama geografis.
PENULISAN KATA
Penulisan Gabungan Kata Berimbuhan
Bagaimana pula dengan gabungan kata kerja yang sama seperti dalam ayat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan bahasa) dengan kerjasama Kementerian Luar Negeri di atas. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahawa gabungan kata kerjasama hendaklah ditulis secara berasingan. Di samping itu, peraturan untuk menulis perkataan menetapkan bahawa gabungan perkataan yang ditulis secara berasingan kekal berasingan jika ia hanya diberi akhiran.
Penulisan Kata Depan
Jadi kata keluar yang kedua ini merupakan kata kerja, bukan preposisi atau kelompok preposisi. Kata to pada frasa to side merupakan kata depan karena ditemukan juga di sebelah dan dari samping. Namun setelah mendapat akhiran me-…-kan, kedua kata tersebut ditulis bersamaan karena statusnya berubah menjadi kata kerja dan bukan lagi kata depan.
Penulisan Partikel
Bahkan kata-kata yang ditulis bersama-sama merupakan konjungsi, tetapi secara terpisah bukan merupakan konjungsi. Kata yang merupakan konjungsi pun dapat diganti dengan konjungsi lain, sedangkan kata yang bukan konjungsi juga tidak dapat digantikan oleh konjungsi lain. Kata genap pada kalimat di bawah ini tidak dapat digantikan dengan kata meskipun atau meskipun.
Penulisan Singkatan dan Akronim
Kelompok penulisan singkatan yang kedua adalah penulisan singkatan yang terdiri dari huruf awal dan bukan nama pribadi. SIM (SIM) NIM (Nomor Induk Pelajar) NRP (Nomor Registrasi Utama) NIP (Nomor Induk Pegawai) ABS (Selama puas) ART (Anggaran Rumah Tangga) ATM (Mesin Otomatis) BAP (Berita Pemeriksaan) BBM (BBM) minyak) BP (bimbingan dan nasehat) CBSA (metode pembelajaran mahasiswa aset) DAS (DAS) DIP (daftar pendaftaran proyek) DPO (daftar pencarian orang) HUT (ulang tahun) KKL (kuliah kerja lapangan) Nama pribadi. Kelompok kata benda yang tepat harus ditulis dengan huruf awal huruf besar, sedangkan kata benda yang tidak tepat harus ditulis dengan huruf kecil semua.
Penulisan Angka dan Lambang Bilangan
Pada kalimat (3) lambang bilangan ditulis dengan huruf dan ada pula yang ditulis dengan angka. Simbol angka yang digunakan secara berurutan ditulis dalam angka, meskipun dapat dinyatakan dalam satu atau dua kata. Simbol bilangan pada kalimat (1) dan (2) tidak digunakan secara berurutan, sedangkan pada kalimat (3) dan (4) digunakan secara berurutan.
Penulisan Kata Ganti dan Kata Sandang
Kata ganti kamu- harus ditulis dengan kata yang mengikutinya agar kalimat di atas dapat diperbaiki sehingga berbunyi sebagai berikut. 1a) Wah, tolong ambil buku itu! Pada kalimat (1), kata ganti kamu- berfungsi sebagai bagian dari predikat, sedangkan pada kalimat (2) berfungsi sebagai subjek. Pada kalimat (2), kata ganti kamu- berfungsi sebagai bagian dari predikat, sedangkan pada kalimat (4) kamu berfungsi sebagai subjek.
PEMAKAIAN TANDA BACA
Tanda Titik
2) * Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam pelaksanaan perkemahan adalah sebagai berikut: . satu). tenda,. B). pakaian yang memadai, c). peralatan masak, d). perlengkapan mandi, e). persediaan makanan, dan f). Kesalahan penggunaan titik seperti pada contoh (1) di atas banyak dijumpai pada tulisan-tulisan resmi seperti artikel ilmiah atau laporan kegiatan.
Tanda Koma
Klausa bawahan pada kalimat (5) diawali dengan konjungsi karena, sedangkan klausa bawahan pada kalimat (6) diawali dengan konjungsi jadi. Di atas kita telah membahas aturan penggunaan koma untuk memisahkan klausa bawahan yang berada sebelum klausa utama. Kemudian nama dan singkatan gelar akademik dipisahkan dengan koma, seperti pada kalimat (11).
Tanda Titik Koma
Titik koma pada kalimat (1) digunakan di antara kalimat-kalimat individual yang merupakan bagian dari kalimat majemuk yang setara. Di sini, penggunaan titik koma tidak memperhitungkan apakah detailnya ada dalam satu kalimat atau tidak. Bila menggunakan titik koma dalam peraturan hukum, juga tidak diperhitungkan apakah digunakan koma pada setiap detailnya atau tidak.
Tanda Titik Dua
Hal ini penting karena berkaitan dengan penentuan tanda baca yang digunakan, dalam hal ini titik dua atau titik. Suatu kalimat diikuti titik dua diikuti dengan rincian jika rincian tersebut merupakan bagian dari pernyataan yang lengkap. Setiap detail pada contoh (2) diawali dengan huruf kecil dan diakhiri dengan koma, dan setiap detail pada contoh (3) diawali dengan huruf besar dan diakhiri dengan titik.
Tanda Hubung
Sesuai aturan, semua kata yang diulang, baik kata dasar maupun kata yang diulang dengan sufiks, ditulis dengan tanda hubung. Dalam praktiknya, pengulangan verbal kata-kata seperti makan, awal, besar, atau bagus hampir tidak relevan. Terkadang orang salah menuliskan kata-kata yang dibubuhi, seperti menyia-nyiakan, memata-matai, atau berpura-pura.
Tanda Pisah
Aturan lain untuk tanda hubung adalah menggunakan tanda hubung ketika huruf kecil bertemu dengan huruf besar atau huruf dan angka dalam sebuah kata. Ejaan seperti HUT RI ke-67, DKI Jakarta, atau tahun 50-an merupakan contoh kesalahan ejaan. Ada lagi aturan tanda hubung, yaitu tanda hubung di antara imbuhan bahasa Indonesia yang diikuti dengan kata asing atau daerah.
Tanda Tanya
Perlu diketahui, bahkan singkatan dengan s/d seperti pada spanduk di pusat perbelanjaan merupakan contoh kesalahan yang dilakukan oleh pengelola pusat perbelanjaan tersebut. kalimat meragukan. Dengan demikian, penggunaan tanda tanya pada kedua kalimat tersebut dapat diperbaiki sebagai berikut. 1a) Sang ayah berkata : “Kapan kita harus sampai ke tempat itu nak?”.
Tanda Seru
Kalimat yang menyampaikan ketulusan tersebut sebaiknya juga diakhiri dengan tanda seru, bukan tanda titik. Kalimat seperti itu juga harus diakhiri dengan tanda seru, bukan dengan titik atau tanda tanya. Kalimat (4) boleh saja diakhiri dengan titik, namun pernyataan tersebut hanyalah pernyataan biasa yang tidak terlalu menunjukkan semangat.
Tanda Elipsis
Jika elipsis berada di akhir kalimat, sebaiknya digunakan 4 titik: 3 titik adalah elipsis dan 1 titik adalah akhir kalimat. Pada bagian pertama elipsis digunakan 5 titik diikuti koma dan pada bagian kedua digunakan 7 titik diikuti koma juga. Penggunaan titik pada keempat kalimat di atas perlu diperbaiki menjadi sebagai berikut. 1a) Satu…, dua…, tiga!.
Tanda Petik
Kata bahasa asing atau kata bahasa daerah tidak diberi tanda petik, melainkan ditulis miring. Selain itu, jangan gunakan huruf tebal untuk menulis terjemahannya, melainkan gunakan tanda kutip tunggal. Dengan demikian, penulisan kalimat (6) dan (7) dapat diperbaiki sebagai berikut. 6a) Istilah hand dan hall dipadukan dengan.. hand" dan "hall". 7a) Diperlukan sikap santai dalam menyikapi permasalahan ini.
Tanda Kurung
Dengan demikian, penulisan kalimat (6) dan (7) dapat diperbaiki sebagai berikut. 6a) Istilah hand dan hall digabungkan dengan .. hand" dan "hall". 7a) Sikap santai sangat diperlukan dalam menyikapi permasalahan ini morfologi, 3.* tata bahasa atau sintaksis, dan 4.* tulisan atau ejaan. Seharusnya harus berupa angka-angka yang penomorannya diisi dalam tanda kurung untuk melakukan koreksi. 3a) Setidaknya ada empat kaidah bahasa Indonesia: (1) sistem bunyi atau fonologi, (2) bentuk kata atau morfologi, (3) struktur kalimat atau sintaksis , dan (4) sistem penulisan atau ejaan Jawabannya sama, masih dengan tanda kurung sebagai berikut.3a) Setidaknya ada empat kaidah dalam bahasa Indonesia :.
Tanda Garis Miring
Aturan garis miring lainnya yang perlu diingat adalah bahwa garis miring digunakan sebagai pengganti kata dan, atau, dan masing-masing... contoh masing-masing adalah sebagai berikut. Pada kalimat (3) garis miringnya sama dengan dan; pada kalimat (4) garis miringnya sama dengan atau; pada kalimat (4) garis miringnya sama masing-masing. Tidak tepat jika tanda hubung pada kalimat (3) dimaknai sama atau karena disapa semua orang, tidak hanya Ayah, Ibu, atau Kakak.
Tanda Apostrof
PENULISAN UNSUR SERAPAN
Ketentuan Umum Penulisan Unsur Serapan
Bab tersebut memuat ketentuan umum yang perlu diperhatikan dalam menggunakan kata atau istilah asing, yaitu diusahakan untuk mengasimilasi ejaan agar bila perlu diubah ejaannya agar bentuk bahasa Indonesia dapat dibandingkan dengan bentuk aslinya. Kata bakunya adalah deskripsi, bukan deskripsi, karena suku kata pertama bahasa asing mengandung huruf e, bukan i.
Pengelompokan Unsur Serapan
- Tulisan Tetap, tetapi Ucapan Berubah
- Tulisan dan Lafal Berubah
- Unsur Serapan yang Sudah Lazim
Huruf ayah dalam bahasa Arab menjadi d dalam bahasa Indonesia, bukan dh seperti terlihat pada contoh di atas. Huruf t dalam bahasa arab seperti pada kata di atas menjadi t dalam bahasa indonesia. Pada contoh di atas terlihat huruf qaf dalam bahasa Arab menjadi k dalam bahasa Indonesia.
PENUTUP
Mengapa kesalahan ejaan masih mudah ditemukan padahal aturan ejaan secara umum mudah dikenali? Tampaknya alasan utama mengapa kesalahan begitu mudah ditemukan adalah kurangnya kesadaran di kalangan pengguna bahasa terhadap aturan ejaan. Padahal, jika sedikit kesadaran melihat kaidah ejaan, kesalahan sepele tidak akan terjadi.