SEROPREVALENSI TUBERKULOSIS PADA SAPI DI BALI
Oleh ::
Hapsari Mahatmi
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS UDAYANA
2020
SEROPREVALENSI TUBERKULOSIS PADA SAPI DI BALI
Hapsari Mahatmi
Email: [email protected] ABSTRAK
Bovine tuberculosis (BTB) merupakan penyakit zoonosis yang sangat penting, yang disebabkan oleh Mycobacterium bovis. BTB merupakan bakteri yang sangat patogen yang mampu menyerang hewan vertebrata, terutama sapi, hewan domestik, dan hewan liar, bahkan manusia atau sebaliknya pada semua umur. Penyebaran penyakit tuberkulosis hampir ke seluruh dunia, baik negara maju seperti Amerika, Eropa, termasuk Inggris, dan frekuensi semakin tinggi pada negara-negara berkembang yang kondisi sanitasi lingkungannya belum menjadi perhatian yang serius dan sedikitnya laporan atau monitoring yang dilakukan terhadap BTB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seroprevalensi BTB di provinsi Bali. Jumlah sampel sapi yang digunakan sebanyak 376 ekor. Metode pemeriksaan sampel serum darah sapi dengan menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi BTB di wilayah provinsi Bali adalah sebesar 0,53% yang didapatkan dari kabupaten Bangli. Sedangkan wilayah kabupaten lain sama sekali tidak ditemukan adanya seropositif. Simpulan penelitian adalah kemungkinan besar BTB sudah ada di provinsi Bali. Untuk mengetahui lebih lanjut, perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam dengan menggunakan whole blood dan organ predeleksi yang diperoleh di rumah potong hewan setempat.
Kata kunci: Bovine Tubercolosis (BTB), seroprevalensi, seropositif, whole blood, ELISA
SEROPREVALENCE OF BOVINE TUBERCULOSIS IN BALI
ABSTRACT
Bovine tuberculosis (BTB) is a very important zoonotic disease, caused by Mycobacterium bovis. BTB is the most universal pathogen among mycobacteria and affects many vertebrate animals of all age groups including humans although, cattle, goats, and pigs are found to be the most susceptible Tuberculosis spread almost to all over the world, both developed countries such as in America, Europe including The United Kingdom, and the higher frequency was found in developing countries where environmental sanitation have not been a serious concern and the lack of reports or monitoring conducted on BTB. This study aimed to determine the seroprevalence BTB in the province of Bali. 376 cows were used as samples. Blood serum was examinated by ELISA method. The results of study showed that the prevalence of BTB in the province of Bali is 0.53 % which was found in Bangli district, whereas in other districts in Bali, no seropositive was found. These results suggested that BTB exists in Bali Province. Further research needs to be done to obtain a BTB agent through examination of whole blood and organs at the local abattoir especially at Bangli regency.
Keywords; Bovine Tubercolosis (BTB), Anigen*, seroprevalence, whole blood, ELISA
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ...………..1
DAFTAR ISI..………...3
KATA PENGANTAR ………... 5
BAB I. PENDAHULUAN……….………... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……….………..8
BAB III. MATERI DAN METODE…..………...18
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.………...19
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……...22
DAFTAR PUSTAKA..………24
KATA PENGANTAR
Telah dilakukan penelitian dengan judul Sroprevalensi Tuberkulosis pada Sapi di Bali merupakan salah satu penelitian yang sangat strategis mengingat bahwa swasembada pangan, khususnya daging sapi merupakan konsentrasi pemerintah saat ini. Peningkatan produksi sapi tidak terlepas dari hambatan penyakit khususnya penyakit yang bersifat zoonis seperti tuberculosis, selain sangat membahayakan masyarakat, juga sangat berpengaruh secara ekonomis dan politis karena tuberculosis merupakan salah satu penyakit yang diatur dalam peraturan pemerintah dan oleh WHO. .
Akhirnya penulis mengucapkan terimaksih kepada semua pihak yang kut berperan dalam penelitian ini dan semoga hasil penelitian ini , dapat bermanfaat bagi kita semua..
Penulis
BAB I. PENDAHULUAN
Bovine tuberculosis (BTB) merupakan penyakit zoonosis yang sangat penting, yang saat ini sudah menyebar ke seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis complex (MTBC). M. tuberculosis umumnya menyerang manusia sebagai inang utamanya sedangkan M. bovis mampu menyerang lebih banyak inang seperti manusia, sapi, hewan domestik, seperti anjing, kucing, dan hewan peliharaan lain, serta hewan liar. Oleh karenanya, deteksi awal adanya titer antibodi terhadap tuberkulosis merupakan suatu indikator terhadap ancaman tuberkulosis baik pada manusia maupun pada hewan, khususnya pada sapi. Penularan umumnya melalui makanan, udara, dan kontak dengan cairan lendir penderita. Baik tuberkulosis yang diakibatkan oleh infeksi M. tuberculosis dan M. bovis sangat sulit dibedakan berdasarkan gejala klinis yang tampak, maupun pemeriksaan patologi, keduanya menunjukkan perubahan yang sangat mirip. Untuk membedakan keduanya, perlu pemeriksaan yang lebih spesifik seperti dengan metode ELISA dan PCR (Gaborick et al., 1996; Hassanain et al., 2009); Wernery et al. (2007). Pada manusia, tuberkulosis merupakan penyakit yang sangat ditakuti karena bersifat persisten dan menahun (Acha dan Syfres, 2001 dan Dharmojono, 2001). Laporan WHO (2009) menyebutkan bahwa penderita TB di wilayah Asia Tenggara mencapai jumlah ke dua terbesar setelah Afrika, yaitu sebesar 30 % dari jumlah total penderita sedunia. Indonesia menduduki peringkat ke-5 dari negara-negara se-Asia Tenggara. Kasus TB pada manusia tidak terlepas dari ledakan kasus HIV dan Bali merupakan wilayah ke dua terbesar jumlah penderita HIV-nya di seluruh Indonesia.
Hal ini juga merupakan suatu kondisi yang diprediksi akan meningkatkan kasus tuberkulosis yang diakibatkan oleh infeksi M. bovis pada manusia (Kantor, et al, 2010).
Provinsi Bali mempunyai jumlah populasi sapi 683.800 ekor (Disnak Prov.Bali, 2010), yang setiap tahunnya mengirimkan rata-rata 75.000 ekor sapi potong ke luar provinsi.
Bali merupakan penghasil ternak sapi yang sangat potensial. Namun, tidak terlepas dari berbagai permasalahan, yang salah satunya adalah kemungkinan terjadinya penyebaran penyakit sapi yaitu tuberkulosis. Perdagangan bebas dan globalisasi berdampak pada penyebaran penyakit yang lebih cepat khususnya pada komoditi ternak, tidak terkecuali di Indonesia, dengan peningkatan kebutuhan protein hewani yang terus meningkat.
Kondisi ini memberi peluang masuk hama penyakit hewan karantina (HPHK), khususnya BTB ke wilayah Bali. Jadi, perlu pengawasan/kontrol terhadap lalu lintas hewan secara intensif di berbagai pintu-pintu pemasukan dan pengeluaran (exit dan entry point). Dalam pelaksanaan kegiatan ini, perlu ada hubungan yang terintegrasi serta koordinasi antar instansi terkait untuk mewujudkan perlindungan terhadap keamanan pangan hewani, sehingga tidak membahayakan kesehatan hewan dan manusia. Selama tahun 1994, TB hanya ditemukan di Propinsi Jawa Barat, yaitu sejumlah 3 kasus (Dharmojono, 2001).
Mahatmi dan Goncales (2011) melaporkan bahwa jumlah seropositif ELISA adalah sebesar 29,3 % pada sapi di Timor Leste. Bali sebagai asal sapi bali berpotensi menjadi pusat pengembangan dan penelitian sapi bali, khususnya di Universitas Udayana. Oleh karenanya, sangat penting dilakukan penelitian tentang berbagai aspek tentang Sapi Bali.
Jadi, perlu dilakukan penelitian tentang seroprevalensi tuberkulosis pada Sapi Bali sebagai dasar pemetaan wilayah lokasi tertular berdasarkan hasil seropositip dari sampel yang diperiksa. Data ini merupakan database yang sangat penting untuk menentukan kebijakan dan langkah selanjutnya mengingat BTB merupakan salah satu penyakit yang masuk dalam undang-undang karantina.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Etiologi Tuberkulosis pada Sapi M. tuberculosis complex
Mycobacterium bovis adalah agen etiologi utama TB sapi walaupun spesies lain dari kompleks M. tuberculosis (MTBC) seperti M. caprae atau M. tuberculosis telah diisolasi dari sapi yang terinfeksi . MTBC dicirikan oleh 99,9% kesamaan pada level nukleotida dan sekuens 16S rRNA yang identik Meskipun kesamaan ini tinggi pada tingkat nukleotida, anggota MTBC dapat dibedakan oleh beberapa penanda molekuler . Saat ini, spesies yang termasuk dalam MTBC adalah M. tuberculosis (sensu stricto), M.
africanum, Dassie bacillus, M. mungi, M. orygis, M. pinnipedii, M. microti, M. caprae, M. bovis dan M. bovis BCG
Sapi terutama terinfeksi oleh M. bovis dan pada tingkat yang lebih rendah oleh M.
caprae. Theobald Smith melaporkan pada tahun 1898 bahwa TB manusia dan sapi adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang berbeda. Beberapa peneliti kontemporer salah memahami hipotesis Smith. Terlebih lagi, dalam sebuah konferensi di London pada tahun 1901, Koch melaporkan bahwa agen etiologi TB pada hewan bukanlah ancaman bagi manusia. Untungnya, hipotesis ini tidak diterima tanpa pertanyaan dan komisi ahli diminta untuk menjelaskan pertanyaan ini. Pada tahun 1911, komisi ini menyimpulkan bahwa TB dapat ditularkan antara hewan dan manusia (zoonosis). Faktanya, meskipun penerimaan umum M. bovis berbeda dari M. tuberculosis, baru pada tahun 1970 M. bovis secara resmi diakui sebagai spesies .
M. bovis
Keseluruhan urutan genom pertama dari strain M. bovis selesai pada tahun 2003 dan hasilnya menunjukkan bahwa itu jauh lebih kecil dari genom M. tuberculosis yang
menunjukkan evolusi dari organisme mirip M. tuberculosis. TB pada sapi telah dilaporkan di seluruh dunia dan pergerakan adalah penyebab yang paling mungkin dari pengenalan dan distribusi penyakit . M. bovis telah diisolasi juga dari beberapa spesies domestik dan satwa lainnya termasuk kambing, domba, anjing, kucing, kuda, unta, babi hutan, rusa merah, rusa fallow, luak, banteng, kuas ekor kuda dan banyak lainnya . Beberapa spesies domestik dan satwa liar dapat bertindak sebagai reservoir infeksi yang sangat penting dalam epidemiologi TB.
Beberapa penulis telah berspekulasi mengenai perbedaan kerentanan terhadap infeksi M. bovis antara spesies yang berbeda dan bahkan subspesies sapi dan jenis produktif (B.
taurus vs B. indicus) . Selanjutnya, genotipe isolat lapangan M. bovis dapat bervariasi dalam virulensi dan patologi pada sapi .
M. caprae
M. caprae sebelumnya diklasifikasikan sebagai M. bovis dan telah diisolasi dari berbagai spesies domestik dan satwa liar. Telah dijelaskan sebagai agen etiologi utama TB pada kambing di Spanyol. Pada tahun-tahun terakhir, patogen ini telah diakui di banyak negara Eropa Tengah dan Barat di mana ia telah diisolasi dari ternak yang menyebabkan penyakit yang tidak dapat dibedakan dari wabah yang disebabkan oleh M.
Bovis. .
M. tuberculosis
M. tuberculosis adalah agen etiologi utama TB pada manusia meskipun beberapa wabah telah dilaporkan pada sapi dan hewan peliharaan dan satwa liar lainnya oleh spesies ini. Namun studi epidemiologi menunjukkan bahwa infeksi M. tuberculosis tidak bertahan pada populasi hewan.
2.2. Penularan dan Gejala Klinis
Tuberkulosis sapi disebarkan melalui tetesan aerosol atau peroral dalam populasi sapi.
Masa inkubasi dapat berkisar dari beberapa bulan sampai bertahun-tahun dengan tingkat keparahan tergantung pada sistem kekebalan masing-masing hewan. Infeksi menyebabkan penyakit kronis; tanda-tanda klinis akan tampak selama masa stres yang meningkat atau seiring bertambahnya usia. Organ-organ yang dapat terkena termasuk paru-paru, hati, limpa, kelenjar getah bening dan usus. Tanda-tanda klinis diantaranya terjadi batuk lembab, dispnea, penurunan berat badan, anoreksia, limfadenopati dan diare.
2.3. Diagnosis Tuberkulosis pada Sapi
Tes TBC intradermal
Tes tuberkulin intradermal telah digunakan untuk diagnosis ante-mortem untuk TB laten dan aktif pada manusia dan hewan selama lebih dari 100 tahun. Tes ini didasarkan pada kapasitas PPD untuk mengungkapkan hipersensitivitas tertunda pada hewan yang terinfeksi sebelumnya ketika mereka diinokulasi secara intradermal. Finlandia adalah negara pertama pada akhir 1890-an yang memulai kampanye pemberantasan TB sapi menggunakan tes tuberkulin . Setelah program TB sapi berdasarkan tes dan kebijakan pemotongan dimulai, kejadian TB klinis menurun sejak sebagian besar sapi yang terinfeksi dipindahkan. Negara-negara lain secara bertahap menerapkan program pemberantasan menggunakan berbagai metodologi tes tuberkulin (tes oftalmik dan palpebra, uji Stormont, uji vulval, dll.) Yang kemudian dibuang. Leher akhirnya dipilih sebagai tempat injeksi tuberculin di MS karena nilai Se dan Sp yang lebih tinggi pada sapi dibandingkan dengan lipatan ekor .
Tes SIT mengukur hipersensitivitas tipe tertunda yang dimediasi sel terhadap PPD sapi yang disuntikkan di daerah pertengahan serviks (Negara Anggota) atau dalam lipatan kulit ekor (Amerika Serikat, Kanada dan Selandia Baru) sedangkan tes SCIT membandingkan respons terhadap PPD sapi dan PPD unggas di daerah serviks dengan tujuan meningkatkan Sp. Menurut protokol (OIE), situs injeksi harus dipotong dan dibersihkan. Menurut Council Directive 64/432 / ECC, situs injeksi harus terletak di perbatasan sepertiga anterior dan tengah leher karena telah diperlihatkan yang memaksimalkan sensitivitas uji . Setelah itu ketebalan lipatan kulit harus diukur menggunakan caliper. TB dapat disuntikkan menggunakan jarum suntik yang berbeda seperti jarum suntik McLintock (Bar Knight McLintock Limited, UK) dan Dermojet (Akra Dermojet, Prancis). Volume maksimum 0,2 ml yang mengandung minimal 2000 IU bovine dan PPD unggas harus disuntikkan di situs serviks. Pembengkakan kecil seperti kacang di setiap lokasi harus dipalpasi oleh dokter hewan untuk memastikan injeksi intradermal yang benar. Ketika PPD unggas dan sapi disuntikkan pada hewan yang sama, lokasi untuk injeksi PPD unggas harus sekitar 10 cm dari puncak leher dan lokasi untuk injeksi PPD sapi dan sekitar 12,5 cm lebih rendah pada garis yang kira-kira sejajar. dengan garis bahu atau di sisi leher yang berbeda. Pada hewan muda di mana tidak ada ruang untuk memisahkan situs pada satu sisi leher, satu suntikan harus dilakukan pada setiap sisi leher pada situs yang identik di tengah sepertiga tengah leher.
Untuk memastikan sensitivitas uji yang setara di kedua situs unggas dan sapi, telah disarankan bahwa kedua PPD harus ditempatkan pada garis yang sejajar dengan sudut bahu . Setelah 72 jam (± 4 jam), ketebalan lipatan kulit pada setiap tempat injeksi harus diukur kembali oleh dokter hewan yang sama dan interpretasi harus dilakukan sesuai dengan Council Directive 64/432 / ECC.
Beberapa faktor yang terkait dengan respons imunologis (infeksi awal, anergi, atau imunosupresi bersamaan), terhadap PPD (produk kadaluarsa, produk yang disimpan dalam kondisi yang tidak sesuai, kesalahan pabrikasi, potensi rendah) atau pada metodologi (dosis, tempat injeksi, kurang pengalaman) mungkin menyebabkan hasil negatif palsu Di sisi lain, koinfeksi atau pra-pajanan terhadap mikobakteri non-TB terkait lainnya telah dilaporkan sebagai penyebab potensial dari hasil positif palsu karena komposisi antigenik yang sama dari bakteri ini.
Potensi biologis tuberkulin sangat penting untuk hasil tes intradermal. Bahkan, perbedaan yang signifikan dalam jumlah reaktor yang terdeteksi menggunakan tuberkulin potensi tinggi dan rendah telah dilaporkan. Produksi tuberkulin PPD distandarisasi dan diatur oleh UE. Pabrikan harus memenuhi ketentuan Praktik Pabrikan yang Baik dan mematuhi persyaratan Farmakope Eropa dan OIE. Kandungan protein tuberkulin tidak berkorelasi dengan aktivitas biologis dan oleh karena itu, uji potensi batch tuberkulin harus dilakukan pada marmut dan sapi. Persyaratan untuk memeriksa potensi dalam uji bio-sapi termasuk dalam Petunjuk Dewan 64/432. / EEC yang asli dan direkomendasikan dalam laporan teknis OIE. Namun, persyaratan ini dimodifikasi terutama karena tingginya biaya dan tuntutan logistik pengujian dan dihapus dari Petunjuk pada tahun 2002 . Saat ini, hanya beberapa laboratorium, termasuk Laboratorium Referensi Eropa untuk Bovine TB yang melakukan tes potensi PPD sapi dari berbagai produsen pada sapi.
Beberapa penelitian telah dilakukan dalam beberapa dekade terakhir untuk mengevaluasi kinerja tes tuberkulin intradermal pada sapi dalam situasi epidemiologi yang berbeda dan menggunakan antigen yang berbeda. Reaktivitas terhadap TB biasanya berkembang antara 3 dan 6 minggu setelah infeksi. Bahkan, beberapa penelitian telah
menyarankan fase pra-alergi sebagai penyebab reaksi negatif palsu dan karena itu, kurangnya Se pada hewan yang baru terinfeksi.
Sensitivitas uji SIT yang dilaporkan pada sapi berkisar antara 80,2% dan 100%
meskipun dievaluasi dalam keadaan epidemiologis tertentu . Baru-baru ini dan menggunakan pendekatan Bayesian, sensitivitas estimasi uji SIT berkisar antara 53%
(27.3-81.5, 95% CI) dan 69.4% (40.1-92.2, 95% CI) tergantung pada kriteria interpretasi yang digunakan . Hasil dari penelitian ini menyoroti sensitivitas yang rendah dari tes intradermal setelah tes pengungkapan. Sp yang dilaporkan dari tes SIT berkisar antara 55,1% dan lebih dari 99% yang menunjukkan nilai median di atas 95% .
Sensitivitas tes SCIT lebih rendah daripada yang dicapai menggunakan tes SIT.
Nilai yang dilaporkan berkisar antara 52% dan 100% . Di hadapan faktor-faktor interferensi (mis. Infeksi oleh mikobakteria envorimental), interpretasi komparatif meningkatkan Sp (median 99,5%) .
Uji interferon-gamma
Uji interferon-gamma (IFN-γ) in-vitro yang dikembangkan di Australia pada akhir 1980-an direkomendasikan oleh OIE sejak tahun 1996 (OIE Terrestrial Manual) sebagai tes berbasis laboratorium tambahan untuk tes intradermal tuberkulin. Sebagian besar program pengendalian TB sapi bergantung pada penggunaan uji IFN-γ sebagai tes paralel terhadap tes intradermal untuk memaksimalkan deteksi hewan yang terinfeksi.
Uji ini diterima untuk digunakan sebagai uji tambahan terhadap uji intradermal di Uni Eropa sejak 2002 [Council Directive 64/432 / EEC, diubah oleh (EC) 1226/2002].
Uji IFN-γ dilakukan dalam dua tahap. Pertama, sampel darah dikumpulkan menggunakan tabung heparinized dan diangkut ke laboratorium di mana mereka
diinkubasi pada suhu 37 ºC dalam suasana lembab setelah stimulasi dengan antigen spesifik seperti PPD atau koktail antigen untuk merangsang pelepasan IFN-γ oleh limfosit T peka. Beberapa parameter inkubasi darah baru-baru ini telah dioptimalkan untuk meningkatkan fleksibilitas dan kemudahan penggunaan pengujian . Pada tahap kedua, sampel disentrifugasi dan plasma yang dihasilkan digunakan untuk mendeteksi IFN-released yang dirilis oleh immunoassay sandwich enzim komersial. Kriteria interpretasi uji IFN-can dapat diadaptasi berdasarkan situasi epidemiologis, prevalensi penyakit dan tahap program pengendalian TB sapi. Selain penggunaan yang disetujui Uni Eropa sebagai tes paralel dengan tes tuberkulin intradermal untuk memaksimalkan sensitivitas, banyak negara telah mengadopsi protokol untuk penggunaan uji IFN-test sebagai uji serial terhadap tes kulit untuk meningkatkan spesifisitas. Tinjauan umum dari berbagai kriteria cut-off untuk pengujian IFN-Union di Uni Eropa baru-baru ini diterbitkan oleh EFSA (2012). Studi lapangan yang dilakukan dalam dua dekade terakhir dengan tujuan membandingkan kinerja diagnostik tes intradermal TB dan uji IFN-γ, menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi dari tes IFN-γ. Namun demikian, spesifisitas yang dicapai adalah serupa atau sedikit lebih rendah dari SIT, dan lebih rendah dari Sp dari tes SCIT. Sebuah meta-analisis dari 15 studi lapangan yang dilakukan antara tahun 1991 dan 2006, menunjukkan median Se diperkirakan sebesar 87,6% dengan kisaran antara 73% dan 100% dan Sp dari 96,6% dengan kisaran 85% dan 99,6% untuk IFN- γ assay. Se tinggi tes IFN-compared dibandingkan dengan tes kulit kemungkinan karena fakta bahwa tes IFN-det mendeteksi hewan yang terinfeksi TB paling cepat 14 hari setelah infeksi dan 60-120 hari lebih awal dari tes SCIT.
Tuberculosis adalah penyakit zoonosis yang dapat menyerang manusia dan berbagai hewan, termasuk ternak dan hewan kesayangan seperti anjing dan kucing (Aranaz et al., 1996; Anonim, 2010). Tuberculosis pada umumnya merupakan penyakit yang
menyerang pada sistem pernafasan, dan organ lainnya seperti ginjal, spinal, dan otak (Anonim, 2010).
Tuberculosis pada masyarakat umum dikenal sebagai penyakit TB, yaitu salah satu penyakit infeksi yang bersifat persisten dan menahun dan merupakan zoonosis penting di Indonesia. Meskipun dikatakan sebagai penyakit menahun (kronik), adakalanya penyakit ini berjalan akut dan progresif, terutama hewan muda (Dharmojono, 2001).
Tuberculosis mempunyai 3 tipe yaitu tipe human, bovine dan Avian (Unggas).
Sampai saat ini tuberculosis masih merupakan masalah besar bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Hassanain, et al.(2009) menyatakan bahwa Bovine Tuberculosis (BTB) merupakan tipe tuberculosis yang mempunyai inang paling banyak dan sering merupakan penyebab tuberculosis pada manusia terutama pada negara berkembang yang umumnya tingkat kesadaran sanitasinya rendah serta ekonomi yang lemah.
Menurut laporan WHO, Indonesia merupakan negara ketiga tertinggi dalam angka kejadian tuberculosis, setelah India dan China, dengan kontribusi jumlah tuberculosis di ketiga negara tersebut lebih dari 50% dari seluruh kasus tuberculosis yang terjadi di 22 negara dengan beban berat tuberculosis (WHO, 2010). Tuberculosis merupakan penyebab kematian nomor dua terbesar setelah penyakit kardiovaskuler, dan merupakan penyebab kematian nomor satu dari kelompok penyakit infeksi (Depkes Republik Indonesia, 2008). Good dan Duignan (2011) menyatakan bahwa sampai saat ini Tuberculosis masih menjadi penyakit zoonosis yang sangat menakutkan di dunia. Hal ini disebabkan BTB hampir tidak menunjukkan gejala yang jelas pada sapi namun sangat fatal pada manusia. Sehingga tindakan kontrol terhadap BTB pada sapi merupakan hal yang sangat penting. Penelitian yang dilakukan oleh Mahatmi (2011) ternyata
ditemukan bahwa 5 dari 90 sampel sapi yang ada di wilayah Negara Timor Leste menunjukkan seropositip BTB dengan pemeriksaan ELISA.
BTB dapat menular pada berbagai spesies hewan dan manusia melalui saluran pernapasan atau saluran pencernaan. Namun penularan melalui pernapasan lebih sering terjadi, baik bersama debu yang terhisap, maupun discharge dari penderita yang mencemari lingkungan. Selain itu penularan dari susu sapi penderita juga sering terjadi terutama pada sapi perah yang di kandangkan selama waktu yang lama. Berbagai penelitian membuktikan bahwa kondisi lingkungan dan sanitasi yang buruk merupakan faktor utama penyebaran Tuberculosis baik pada manusia maupun pada hewan ternak.
Kondisi lingkungan yang buruk, seperti kelembaban yang tinggi, ventilasi kandang yang buruk, dan kondisi pakan yang jelek, merupakan penyebab utama serangan penyakit ini (Soeprapto dan Abidin, 2011; Good dan Duignan (2011)). Penelitian yang dilakukan oleh Domenech (2006) dan Kantor et al (2010) menunjukkan bahwa model peternakan berpengaruh terhadap tingkat seroprevalensi BTB, umumnya frekuensi kejadian lebih besar terjadi pada peternakan tertutup (Etter, et al.,2006)
BTB seringkali secara klinis mirip dengan Actinobacillosis, Pleuro Pneumonia Contagiosa bovum (Anonim, 1981). Tuberculosis harus dibedakan dengan Contagious Bovine Pleuropneumonia, Pneumonia Mikotik (Aspergilus), dan Aktinobasilosis (Akoso, 1996). Secara biokimiawi dan molekuler kekerabatan dalam spesies Mycobacterium tuberculosa sangat dekat seperti dengan Mycobacterium kansaii, Mycobacterium scrofulaceum, Mycobacterium intracellulare, Mycobacterium fortuitum, Pencegahan Tuberculosis bisa dilakukan dengan vaksinasi, memperbaiki kondisi lingkungan yang lebih baik dan nyaman adalah cara terbaik untuk menghindari penyakit ini. Agar tidak menulari sapi yang masih sehat, pemisahan sapi-sapi yang sakit dari yang masih sehat juga perlu dilakukan. Upaya pengobatan membutuhkan waktu yang lama,
sehingga pemusnahan sapi-sapi yang positif terserang lebih dianjurkan. Apabila upaya pemusnahan dilakukan, bangkai sapi tersebut harus dikubur dalam-dalam di luar lokasi peternakan atau dibakar (Soeprapto dan Abidin, 2011).
BAB III. MATERI DAN METODE
Sampling Lapang terhadap Sapi Bali di seluruh provinsi Bali Penelitian difokuskan pada pengamatan seroprevalensi dengan menggunakan Observasional Cross- Sectional Study untuk mengetahui prevalensi tuberkulosis pada sapi bali di Provinsi Bali (Anonim, 103 2011). Sampling dilakukan di seluruh Kabupaten/Kota Provinsi Bali.
Sumber data yang digunakan yaitu data primer dengan pengambilan sampel darah sapi di Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. Sedangkan data sekunder diperoleh dari Dinas Peternakan Provinsi Bali. Pengambilan sampel didasari perhitungan detect disease dengan tingkat konfidensi 95%, prevalensi 2% (Sumiarto, 2009). Pemeriksaan Sampel Serum darah Sapi Bali Setiap ekor sapi terpilih sebagai sampel diambil darahnya dengan mengggunakan vacuntainer 10 ml. Darah diambil dari vena jugularis, kemudian dibiarkan sebentar pada posisi miring. Kemudian disimpan dalam coolbox dan dibawa ke laboratorium untuk dipisahkan serum dan sel darah merahnya. Serum koleksi diberi label dan disimpan dalam freezer sampai saat dilakukan pemeriksaan dengan metode ELISA (Anigen*). Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) merupakan gold standard untuk pemeriksaan seroprevalensi tuberkulosis yang mempunyai akurasi yang sangat tinggi (Lilenbaum dan Fonseca, 2006; Lequin, 2005).
Tabel 1. Jumlah Sampel yang di periksa dari masing-masing kabupaten yang ada di Provinsi
Bali
______________________________________________________________________
No Kabupaten Jumlah Sampel yang Diuji
______________________________________________________________________
1 Bangli 100
2 Buleleng 56
3 Klungkung 50
4 Gianyar 50
5 Negara 40
6 Tabanan 40
7 Badung 40
Jumlah 376
______________________________________________________________________
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil uji serologis ELISA terhadap sampel serum yang berasal dari 376 ekor sapi Bali yang diperoleh dari wilayah provinsi Bali, dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Serologis BTB dengan Uji ELISA
______________________________________________________________________
No Kabupaten Jumlah Sampel Jumlah Sampel Positif Seroprevalensi (%) ______________________________________________________________________
1 Bangli 100 2 2
2 Buleleng 56 0 0
3 Klungkung 50 0 0
4 Gianyar 50 0 0
5 Negara 40 0 0
6 Tabanan 40 0 0
7 Badung 40 0 0
Jumlah 376 2 0,53
______________________________________________________________________
Hasil Pemeriksaan ELISA Sampel serum dari seluruh wilayah di 9 Kabupaten yang ada di Bali sejumlah telah dilakukan pemeriksaan daengan metode ELISA. Hasil pemeriksaan terhadap sampel serum darah dari 376 ekor sapi menunjukkan bahwa
terdapat 3 seropositip BTB pada pemeriksaan pertama. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan ulang, yang benar-benar positif hanya 2 sampel serum yang berasal dari Kabupaten Bangli.
BTB merupakan penyakit zoonosis yang saat ini menjadi perhatian dunia, mengingat BTB ternyata merupakan penyebab utama kasus tuberkulosis pada manusia, khususnya di perdesaan dan pada pekerja rumah potong di banyak negara. Afrika merupakan benua yang mempunyai presentasi BTB yang berkisar antara 5 – 50 %. Di Etiopia, seroprevalensi BTB berkisar 3,5%-5,2%, yang ditemukan di rumah potong hewan (Domenech, 2006; Etter et al., 2006; Han et al., 2013). Sedangkan di Tibet, seroprevalensi BTB yang ditemukan pada hewan liar sebangsa serigala adalah sebesar 2,6 % (Han et al, 2013). BTB merupakan penyakit yang bersifat kronis, lambat, dan sangat sedikit menampakkan gejala klinis, terutama pada sapi. Mengingat dampaknya yang serius, kondisi ini perlu dicermati dan seharusnya mulai mendapat perhatian dari pemerintah. Di banyak negara, status bebas BTB selalu bergerak setiap saat, seperti di beberapa negara bagian di Amerika Serikat, selalu terjadi perubahan status dari tertular menjadi bebas dan dari bebas menjadi tertular. Untuk bisa membebaskan BTB dari suatu negara perlu waktu dan biaya yang sangat besar, seperti yang dilaporkan oleh Center for Food Security and Public Health (2009) dan Good dan Duignan (2011). Program eradikasi di beberapa Negara di Eropa, Jepang, Selandia Baru, Meksiko dan negara bagian tengah Amerika Serikat menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan, Meskipun eradikasi BTB telah dilakukan di sebagian besar negara bagian di Amerika, tetapi masih ada laporan tentang adanya kasus atau seropositip terhadap BTB (Cosivi et al., 2010). Yang juga sering terjadi adalah hilangnya status bebas BTB pada negara yang tidak secara rutin melakukan tindakan pemantauan terhadap BTB. Pemberantasan yang paling sulit dilakukan adalah BTB yang menyerang hewan liar yang ada di negara-negara
tersebut. Faktor Resiko BTB Hasil pengujian dengan metode ELISA menunjukkan bahwa ternyata hanya 2 dari 376 (0,53%) sampel yang menunjukkan reaksi positif BTB, dan 1 sampel diragukan BTB. Sapi yang positip ELISA terhadap BTB merupakan sapi lokal Bali umur 2,5 tahun, jenis kelamin betina, cara pemeliharaannya dikandangkan.
Dari hasil kuisioner dan wawancara dengan pemilik sapi yang terpilih sebagai sampel penelitian, ternyata hampir sebagian besar adalah peternak kecil yang jumlah sapi peliharaannya adalah 2- 5 ekor. Umumnya, sapi dipelihara secara konvensional, dikandangkan, dan diberi pakan hijauan yang tersedia di sekitar lokasi. Tempat tinggal pemilik dan lokasi kandang berjarak relatif dekat. Pengetahuan peternak tentang BTB sangat minim bahkan tidak tahu, meskipun mereka umumnya tahu penyakit TBC pada manusia, tetapi umumnya tidak tahu bahwa sapi penderita dapat menularkan penyakit tersebut kepada manusia. Beberapa petani bahkan tinggal sangat berdekatan dengan kandang sapi untuk menjaga dari adanya encurian. Menurut hasil enelitian yang dila orkan oleh Kang’ethe et al. (2007), jarak 105 antara kandang sapi dan tempat tinggal pemilik sangat berpengaruh terhadap besarnya faktor resiko.
BAB V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa BTB sangat besar kemungkinannya sudah ada di Bali meskipun dengan seroprevalensi yang cukup kecil, tetapi perlu mendapat perhatian serius. Saran yang diberikan adalah perlunya dilakukan penelitian lebih mendalam tentang penelusuran agen BTB pada berbagai sumber yang berasal dari sapi bali di wilayah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Acha P. and B. Szyfres. 2001. Zoonoses and Communicable Diseases Common to Man and Animals. Bacterioses and Mycoses. 3rd edition. Washington, DC: Pan American Health Organization, Scientific and Technical Publication 580: 283–299.
Anonim. 2011. Pedoman Pelaksanaan Pemantauan Penyakit Tuberkulosis di Daerah Sebar Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK). Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Badan Karantina Pertanian. Center For Food Security And Public Health (2009).
Cosivi O., J. M. Grange, C.J. Daborn, M.C. Raviglione, T. Fujikura, D. Cousins, R.A.
Robinson, H.F.A.K. Huchzermeyer, and F.X. Meslin. 2010. Zoonotic Tuberculosis due to Mycobacterium bovis in Developing Countries.Worl. Health Organization, Geneva, Switzerland.
Dharmojono, H. 2001. Penyakit Menular dari Binatang ke Manusia. Dinas Peternakan Provinsi Bali. 2010. Data Populasi Sapi potong dan Sapi Perah pada Tahun 2010.
Domenech, R. D. 2006 Human Mycobacterium bovis infection in the United Kingdom:
Incidence, risks, control measures and review of the zoonotic aspects of bovine tuberculosis. Epub 86(2):77-109.
Etter E, P. Donado, F. Jori, A. Caron, F. Goutard, and F. Roger. 2006. Risk Analysis and Bovine Tuberculosis, a re-Emerging Zoonosis. Ann N Y Acad Sci. 1081:61-73
Gaborick, C M., M. D. Salman, R. P. Ellis, dan J. Triantis. 1996. Evaluation of a five- antigen ELISA for diagnosis of tuberculosis in cattle and Cervidae. J.American Veterinary Medical Association 209(5):962-966.
Good, M. and A. Duignan. 2011. Perspectives on the History of Bovine TB and the Role of Tuberculin in Bovine TB Eradication. Vet. Med. Int. 17: 410470.
Hassanain, N. A., N. A. Hassanain, Y. A. Soliman, A. A. Ghazy, and A. Yasser. 2009 Bovine Tuberculosis in a dairy cattle farm as a threat to public health. Africa Journal of Microbiology Research 3(8): 446-450
Han, C. J., M. Gao, X. Meng, M. Liu, X. Zhang, D. Zhang, A. Guo, and S. Sizhu. 2013.
Seroprevalence of bovine tuberculosis infection in yaks (Bos grunniens) on the Qinghai- Tibetan Plateau of China. Trop. Animal Health Prod. 45 (6). 106
Kang’ethe E. K., C. E. Ekuttan, and V. N. Kimani 2007 Investigation of the prevalence of bovine tuberculosis and risk factors for human infection with bovine tuberculosis among dairy and nondairy farming neighbour households in Dagoretti Division, Nairobi, Kenya. 84 (11 Suppl): S92-5.
Kantor I N., P. A. LoBue, and C.O. Thoen. 2010. Human tuberculosis caused by Mycobacterium bovis in the United States, Latin America and the Caribbean. Int J Tuberc Lung Dis14 (11):1369-73.
Lilenbaum, W and L.S. Fonseca. 2006. The use of Elisa as a complementary tool for bovine tuberculosis control in Brazil Braz. J. Vet. Res. Anim. Sci.43(2). Lequin, R., 2005.
Enzyme Immunoassay (EIA)/ Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). J Chin.
51: 2415-2418.
Mahatmi, H. dan L. Goncales. 2011. Laporan Proyek kerjasama dengan Susu Bean Project for Timor Leste. Sumiarto, B. 2009. Pengambilan Sampel Monitoring HPHK pada Hewan, BAH dan HBAH. Laboratorium Epidemiologi. Bagian Kesmavet FKH.
UGM. Wernery U., J. Kinne, K. L. Jahans, H. M. Vordermeier, J. Esfandiari, R.
Greenwald, B. Johnson , A. UlHaq, and K. P. Lyashchenko. 2007. Tuberculosis outbreak in a dromedary racing herd and rapid