X a
z
a
z
-
zFI
q
zrl
ta, EI
.
zw
€ r€
f-F
€.
€:FL
€- s g
F}
-U
m z
Q..,,.,,rr,'r
' '
.l:,..,,1m
,,1
,F
,',, If Tl
".,.'.
,(-.
',,> 7,
a2A O
yEq H- - sEg
* == l)> I
SHdtr 0 =A;
14,EI = =d) ti<
u2e17 =z n>u,
*exE * B g=d
o2Z17 E lqD;U SaI17' 0 mPa'a-
razl? $ l' ESE
fr-|
=
C x
C
"',2
x o
C
o)
-, ,o, X
F
TD:!t r$ll,
'tl).,
s),
_:ti.,
.6!
I ..'.r.'..rI$,:
,,:,i'l .. ia,
.,','.1.,,,..,.,$),, ,1,,,,r1',,E,,
:,i.:':'...[
.,.,. {D
.,
,',
o,r :',t.,3
,.,,,,,,. il(}' t'.',,C.
P
o- x
0) q)
o)
:laili+
lGlr', 'm
o-
Orr, (0,,, :Ur:,.
i$l:
I
C n
o)
oq =
N) F
(-n
oi
^-l ol
i
l I
I 1
il'l:rl o)l<l
o, I
dl
-l
I
I
I
-+-
-I,l;l li
a)
='lol ,]
I,i
I
I
---1
izl ol cl
6l f,l-l
I II
-ozl/}
a Am
5gF lmul -!O 9tp AO
ultJo
-v2lo
^ Am
iEf; !?s>
+fC) lmu)
!rp oc) 9rr o
T,zl
^ ^m
8gF
IlI(^, r.-.F o I
r.r+o
(n;ro
-ozo a ^t'n
Fi<E
Q
3-- -@N Imto
!'r.,l sF ocl 9ro o
azo
^ AIrt
3x= e 3-<
uEltrt
r.F rmio 9xr AO
Ln l-
"c,
o,::.
q) 5 0a0!
0.,
!o,
o5
a-8
f-3&
6. ps
Qa
o<d(DJ
L-.1.
6.P
OJo,:t
='15
>o
2X>aD J. I
o)i
=o !!! oJ
=a-
oit6
o,::'(D
J ->
o L ..
Id
1' C O-Or3oJd.
oJ=5O ET(D=i
ui
xl rf cl
(Dx--l=l dolrorl :fI
-u -o (Do)a-
(DoJ
3ro
E; o,"
J-O 1(D
o,i
OJ --
tnA
rJCA'I 6'E
k6
J\ilnil
-:fl -loJl
rl
oJl :fiortr-o a'-q
3ilE o Sd * Fau
=dg
OJ :J- X
=Fx
(rL-o)=--
=lor o
-:
(/)-
P ff;
E.= gl o,
or.lI
I i
r-o
-OJ5oifo
o
-ool (-oo
oJ
3o,}
f-ol rDlrl o-lol
=t
.IJ JI
I
(oiJ oJr
-l
-t
o 3o) E,o,=o
(, l6t
fi le
l__t< I II(DI
oJlit
alq
iojl I
-<l I
ojl I
f.l
Iz.
l.oJ
z.
c
a
-
OJo
:,
=
OJ:l
aa cc =o)
=- orl or=
-L(()cf:
-
a c
6 o€*.
oJ a.OJ
df
o
fo_
of
da.
o,l
ili;
sd
I' rl, *
*",'-l + t" r- :--la
gcTfis.siqgl gBi5i
=Ed=F:EE$;Al e3 iifl
E+_EH'=;Esl F aqi 3 I 3i
: :i"
w r.,rle :- +
SAIqIr,Elf54S
^=
alE g,= Gl* TE
oosglt5#+l-aiE -i0E* le3
tJ-' I C16 lH
F<t lor I
1i i=l
,___----.
-
7< -ol
Ol -l
x-l o i l)-c
5
7 C
OJ
f
gq N) O
o (Il
I
-oNzUl a Cr^m
rEHI a 3y
v
I m(,
:rt
Fo
.A(n
i-oNzUl t!a Crl.rnI o..ts>l-
=E'EF
U
I mw
FO
-oNzut a O/rm
s5=E 8 I
m(r,EF
o ,o
:trut
P!NZU) Pa Cr.rm
FsEff;
b 3-'
U
EENI mct
v
H-ONZU}
9a O.rm +^H>z
!460;=
b 3f o Exl
I lll rl,
v
oI
-
o)
J
oa0q o)
1C 0)
=o
2S- :t -O (Dnoi
8_5d E B'O
- =.u -.-
o,).-l-s oQ Ato
lC='E^o)
=-<
rdd =o)
aro_J
oJ=JC
3
oJf (o
Eq 0&
tr..
o)@ca
f(D6
_o_(o-f,o) Eo)ca
E3 do) dE
fO;-o)
[BEgq
qJo) :id.!
o_ -g oJoJ
qil
J.D
#o
foJ -o
=(Do)=
f(oo,
d
3o)
=-0
(D
-
(D
a
3CoJ
=
o-If, o)oJ
Ed
5rD
=P
i(-
=d
=Eri
)c
6a 9o- tss
x-oJ (ro f(Dx-a
Co) Fi:
6OJ
:f
-urOJ
aor
foP
x-a oln -o
(D
-
(Df EE
o.J:f
-
o
-
f- o)o_
Eo, (D
3o)
Eo)
ao
a
o*l
ool
=
oa
o
=
(o:f,
i.
z
E
-
trr
OJ
=
=
o,
f
= a
=.
a
EC o)
=
7. Z.
Oi-
tsE pq
tod:l-x--
oi =-
:
oJ=
oJf.
CN
=='
o,a
=-
o
oJ
o
)
o
i!riwr rn<FLn
;;c c
o o,*. 3:..
Iay# :<or
-{ ='=
o
ooJca
rD l-=' ro
L,.lA('NJts
=k=lq
d :
ZS cL,gLE. c) 6 r(,
+,i P
f:.
i*orlXr)oj -'-#c)l
a Pg=' - dq
,3
.-
\,*
f\+!^,lef
<4->
df o q :r-=-' x- :!-'< N
o3 <9
J--ooi_
e3d o=d'
CO,
)
(no,l-
+LrJuH
r=d'5
t'd='
5
dal0ef
^-=.f = or
d<'
il3
+!-r>,-
"a"3US erid 9'a9
6 qh
=3
(ofu)-
lr
'o
OJ J
g
6'
-<l o-.i
=lo-I
,l
l
I
I
7<
ox- o
f
o)x
oCr
-l
z
otc
6-
J
{t 0
/l \) KoNFERENSI NASIoNAL
HUKUM DAN PENGHUKUMAN
28 Novernber s/d Rabu. 1 Desember 2010
Pusat Studi Jepang, Universitas lndonesia. Karnpus Depok
No
:3/KN-1/X12070Lamp
: Form Informed ConsentHat
: Permohonan petrggutraan naskah panelisJakarta, 1 Oktober 2010 KepadaYth:
Ibu/Bapak Panelis Konferensi di tempat
Dengan Hormat,
Melalui surat
ini
kami menyampaikan selamat karena makalah Ibu/Bapak akan masuk dalam Konferensi Nasional 'Hukum dan Penghukuman'yang diselenggarakan oleh Komnas Perempuan bekerjasama dengan Program Studi Kajian Wanita Program Pascasarjana Universitas Indonesia, padaMinggu,28
November sld Rabu,l
Desember 2010 di KampusUI
Depok.Sehubungan hal di atas, kami memohon kesediaan Ibu/Bapak untuk menandatangani surat
pemetujtlrh*$ampir
sebagai bentuk izin bagi panitia untuk menggunakan, baik itu menerbitkan atau mengutipllaskah yang telahdikirim
kepada kami.Mohon untuk membaca dengan seksama formulir terlampir. Mohon agar formulir tersebut dikirimkan kembali ke panitia paling lambat pada hari Rabu, tanggal 6 Oktober 2010.
Atas dukungan dan kerjasamanya, kami sampaikan terima kasih.
qW76;';;;r "
Atas nama panitia peugarah
q$L_
/4t71J U\U
i/F"
E.
Kristi
Poerwandarii;l;'i tt, i :1,'.T;:1,[,..:
ffi
(ifsi 5l NisiirA \. &!-, !:&:&.rt,r.N r: [.r-^t
^] [ntM, -.(ri
ll 1 -r,,h--h5ri I ll M-^r-n^ lrLaa: Dlc*r llltlfi eaJ.ra^ Dol,r^.or t t lV ll Cal6mh. Dln rl lale:*! lnl,'ln
I fF
INFOTAINMENT: PEMICU VIKTIMISASI PEREMPUAN
(Observasi atas kasus Video Asusila Cut Tari-Ariel-Luna Maya).Oleh: R. Diah Imaningrum, SH.,M.Hum.,M.Pd.t)
Sejak dekade 1970-an, sejumlah tokoh feminis Barat telah mengamati serius kekuatan
televisi
dan menyadariindustri ini
sebagai kekuatan amat penting yang harus diperhitungkan dalam pet'uangan mereka. Lndustritelevisi
yang padat modaltidak mungkin
diharapkanuntuk
menyetop siaranatau iklan yang
menyudutkan perempuan (Iswara dan Pratiwi, 2003). Jikakita
bicara tentang media penyiaran, takpelak masih
kentara adanya bias dalam menampilkan representasi perempuan didalam
media.Ini bisa terlihat dalam
berbagai pemberitaan,iklan,
sinetron, dan sebagainya.Yang tampil di sini tidak
jauh-jauh bagaimana perempuan umumnya ditampilkan oleh media sebagai objek, apakahitu tampil
dengan sosok yang seksi, seronok,lulgar, dan lainnya yang
sejenis,atau
sebagai sosokkorban
kekerasan, pekerja seks komersial, dsb."
"T;ulisanini menguraikan
penyiaran infotainmentdari
segi peraturan yangberlaku di
Indonesia, khususnyaUU Nomor
3212002tentang
Penyiaran, danbagaimana isi
infotainmentyang memicu viktimisasi
perempuan, dengan lebih mendalami kasus video asusila yang diperani olehCut Tari,
Luna Maya, danAriel
Peterpan.
1. Penyiaran dan Pemicu
viktimisasi
1.1. UU PenyiaranPasal 2 UU Nomor 3212002 tentang Penyiaran menyebutkan bahwa Penyiaran diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Repubik Indonesia
Tahun
1945 dengan azas manfaat,adil
dan merata, kepastianhukum,
keamanan, keberagaman, kemitraan, etika, kemandirian, kebebasan, dan tanggungjawab.
Kecenderungan saat
ini,
tanpa disadari, yangte{adi
adalahtrial
by the press.Sehingga, apabila orang bersalah,
ia
mengakudi
depan pers, meminta maafnya pun harus melalui media, karena secara publik ia sudah bersalah. Kesalahan dihakimi olehpublik
melalui media. Jadi pengobatannya juga harus melaluimedia.
Tanpa disadari pula, media telah melakukan pembunuhan karakter.Menurut
UU
Penyiaran,isi
siaranjuga dilarang
menimbulkan rasa tidak aman, keresahan, permusuhan,SARA, tidak
aman (one-sidedpolicy),
selain jugaif
l
menurjukkan
keberagaman.Hal ini berarti isi
siaran haruslah mewadahi semuakultur,
bahasa,jender,
agaffiadan
kepercayaan(dalam koridor
negara hukum Indonesia).Kebebasan dan tanggung
jawab dalam
siaranperlu
dipertanyakan: apakah bebas untuk menyiarkan siaran? Kebebasan untuk menentukanisi
siaran? Kebebasanisi
siaran (mau mewartakan apa?) dapat disusupi denganisi yang
sesuai dengan kepentingan. Misalnya fakta tentang kecelakaan kereta api bisa diisi/disusupi dengan pernyataan menteri perhubungan harus turun karenadi
luar negeri sepertiitu
harus turun. Bisa juga disusupi isi yang bersifat teknis: misalnya mesin harus diganti.Dalam suatu siaran, sebuah peristiwa yang disiarkan tidak pernah bebas
nilai,
selalu ditumpangi dengannilai. Video
asusila yang beredar akhir-akhirini
pun bisa ditafsirkanitu
sebagai tindakan yang menyalahiKUHP, IIU Pornografi,
bisa jugaditumpangi dengan nilai-nilai agamis, politis, dan ekonomis.
Pemberitaan infotainment yang akhir-akhirini
lebih banyak mengumbar sensasi, mengedepankan"catatar.
pinggit''
daripada substansi,opini/tafsiran
daripadafakta, akan
memicu pengorbanan perempwill di ranah publik.1".2
Infotainment
sebagai PemicuViktimisasi
Tak ada lembaga penyiaran yang objektif, murni bebas dari kepentingan.
Kita
bisa menyaksikan dua stasiun televisi yangdimiliki
dua orang berbeda danmemiliki
kepentingan berbeda akan menyiarkan secara berbeda dan tendensius atas satu isu yang sama. Namun yang pasti, media massa selalu punya satu tujuan, mendapatkan pemirsa sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, supaya pemberitaan atar tayangannya laku keras, ia akan memperhatikan tingkah laku pemirsanya.Hal ini
memungkinkan bahwa demi mencapai tujuan itu, isi penyiaran dibuat "se-tidak-subyektif-mungkin".Tujuan meraih pemirsa sebanyak-banyaknya yang
berakibat ketidakseimbangan pemberitaanini
berdampak pada pengungkitan kecenderunganpublik
akan seks dan memicu pandangan atau tafsiranterkait
dengan pornografi.Tanpa disadari, pada gilirannya
hal ini
berdampak pada viktimisasi perempuan. Halini
menjadi nyata dalam kasus video asusila yang diduga diperani olehAriel
Peterpan,Luna
Maya, danCut Tari
yang telah menghebohkan masyarakat sejak bulan Juni 2010lalu.Sebenamya,
jika
kasus video asusila ditelaah secaraobjektif,
faktanya adalah sebagaiberikut:
(1) telah beredar video asusila, yang berisi hubungan seksual antaradua orang
figur publik; (2) video ini
disebarkanmelalui
internetoleh
orang yangsampai
sekarangmasih diselidiki; (3) video ini diunduh melalui internet
lalu disebarluaskan; (4) pelaku video, terutama perempuan, sampai tulisanini
dilalcukan,tidak
tahu menahu tentang siapa penyebar, siapa pengunduhnya. Dapat disimpulkanbahwa si pelaku tidak
menghendakiatau tidak ada usaha
mempublikasikan tindakannyaitu. Namun
tayanganyang
adajustru lebih
pada tafsiran atas fakta, padahal tafsir itu sendiri bersifat multidimensional.Tafsiran yang berdimensi politis nampak ketika beberapa
kelompok menyatakanbahwa UU Pomografi menjadi amat penting untuk
diberlalrukan.Tafsiran yang berdimensi agarna nampak dalam usulan bahwa hukum rajam perlu
diberlakukan pada pelaku video porno (yang dalam hukum positif;
justrupenyebarnyalah yang dapat dihukum).
Tafsiran yang berdimensi ekonomi, yang
justru
mengeruk keuntungan besardari viktimisasi perempuan justru tak diberitakan, walaupun kita
bisamembayangkan betapa besarnya keuntungan
yang
diraupnya.Jika
pertamakali
muncul video itu terjual 15 ribu,kini
sudah mencapai 400 ribu rupiah.Tafsiran yang bias
jender muncul
dalam trngkapan bahwavideo itu
sangatmenggoda kaum pria, sehingga memicu perkosaan. Tafsiran ini
sungguhmenggunakan ukuran yang dipakai
laki-laki.
Ukuran menggoda dan tidak menggoda adalah ukuranlaki-laki
yang merasa tergoda, padahalsi
pelaku (perempuan) tidak bermaksud menggoda.Bahkan,
tafsiran yang illegal- keblinger mulai
bermunculandari
pejabat sampaitokoh publik,
antaralain
menghimbau supaya pelakutidak
mengeluarkan album rekaman (padahal menyanyi adalah salah satu pekerjaannya), mencabut KTPpelaku, dsb.
Penghimbau(untuk tidak terlalu keras jika dikatakan
sebagai 'openindas")ini,
sesungguhnya tidak memahami bahwa mereka tidak punya hak untuk melarang. Larangan sepertiini
adalah melanggarhak
azasi manusia,hak
untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.Bungin (2001) mengatakan bahwa pemberitaan infotainment
yang mengeksploitasi pomografi dan gambar erotika digambarkan sebagai daya tarik untuk meningkatkan daya saing.Abrar
(1997) menyatakan bahwa seks merupakan bumbu paling tua untuk membuat hidangan media massa menjadi tampil menarik. Berkaitan denganitu,
mediatelevisi melalui
infotainment telah menggunakan segala sesuatuyang
berhubungan denganseks atau pun perilaku
seksual (kasusvideo
porno,3
misalnya), dikemas sedemikian rupa sehingga memenuhi rasa
ingin
tahu yang begitu besar dari pemirsanya. Infotainment telah berusaha merebut perhatian pemirsa atau menstimulasi keingintahuan pengguna media dengan penggunaan seks (serta berbagai inovasinya) agarlaku di
pasaran.Dalam hal ini,
aspek sensasi, danbukan
fakta,menjadi
semakinditonjol-tonjolkan
sehingga mengaburkanfakta atau
substansi peristiwa yang sebenarnya. Halini
mengalihkan perhatian pemirsa dari aspek utama pemberitaan, sehingga kesan yang muncul banyak menyudutkan perempuan, sehingga seakan-akan dialah yang bermasalah, bukan si penyebar video. Akibatnya, perempuantidak
hanya terkorbankan oleh tindak pidanaitu
sendiri (apa pun dakwaan sebagai dasar hukumnya), melainkanjuga oleh teks yang
diberitakanoleh media
yang bersangkutan.Hal ini menjadi ber'hilai jual tinggi" untuk
dihadirkandi
tengah masyarakat yang konsumtif dan belum cerdas memilih dan memilah.Nilai jual
tinggiini
terbukti dengan semakin banyaknya iklan masuk pada siaran-siaran infotainment.Pemberitaan infotainment yang berkaitan dengan perempuan,
video
porno, terkesan lebih memperhatikan "nilaijual"
tubuh perempuan sehingga unsur-unsur lain (ketidakberpihakan/keadilanjender,
empati,dan lainlain)
terabaikan. Pemberitaandengan
penggunaantubuh perempuan di televisi (khususnya
infotainment) menggambarkan apa yang disebut Piliang (2000) sebagai masalahpolitical
economyof
the body, yakl.rj. perempuan dijadikankomoditi
untuk kepentingan ekonomi yang didasarkan pada konstruksi sosial dan ideologi tertentu.Artinya,
penggunaan tubuh perempuandi
media sebagai salah satu ajang berita mengenai pornografi merupakan sesuatu yang"ditimpai"
makna-maknatertentu
untuk tujuan-tujuan ekonomis.2.
Korban
dan"Imam Agung"
dalam PengakuanExtrujadicial CfiTart
Pada awal
Juli
2010 CutTari
mengakui bahwa dirinyalah pemeran perempuan dalam video asusila bersamaAriel.
Berbeda dengan CutTari,
Luna Maya membuat pengakuan"implisit"
dan meminta maaf kepadapublik
akibat perbuatannya yangdianggap
meresahkanpublik.
Pengakuandi hadapan publik melalui
mediainfotainment
ini
menimbulkan keheranan, bahwa adayang
salah kaprahdari
segi hukum.Pengakuan, adalah salah satu bentuk keterangan terdakwa yang bisa menjadi alat
bukti
menurut pasal 184 KUHPidana. Dalam hukum pidana, pengakuanitu
sendiri adalah pernyataan sukarela yang dilakukan oleh seseorang yang didakwa melakukan suatu tindak pidana, mengkomunikasikannya kepada pihak lain,di
manaia mengakuibahwa
dirinya
bersalah atastindak
pidanayang
dituduhkan dan mengungkapkan keadaan yang terjadi pada perbuatanitu
atau penyampaian dan partisipasi bahwa iamelakukannya.
Pengakuanbisa
dilakukandi
depan pengadilan, maupundi
luar pengadilan. Merupakan pengakuandi
dalam pengadilan, ketika pengakuanitu
dibuatoleh terdakwa
sebagaisalah satu alat bukti yang termasuk dalam
keteranganterdakwa.
Pengakuan yang dilakukantidak di
depan pengadilan adalah pengakuan extrajudicial (Eldefonso, 1981 : 1 10)Ada
dua unsur penting dalam pengakuan,yakni: (1)
substansi pengakuan dan(2)
cara melakukan pengakuan. Substansi pengakuanadalah
dengan sukarela mengakui bahwa tindakan yang dilalrukan adalah salah karena (1) kesalahan itu sudah dilakukannya terhadap pihak yangmemiliki memiliki
wewenang untuk menentukandia
bersalah atau(2)
kesalahanitu
dilakukannyaterhadap pihak
yang berwenanguntuk
memberi pertimbanganuntuk
meringankan atau memberatkan hukuman atas kesalahanitu,
atau(3)
kesalahanitu
sudah dilakukan terhadappihak yang
sudah dirugikan.Subtansi pengakuan berkaitan erat dengan cara melakukan pengakuan. Seorang manusia yang bersalah (berdosa) kepada Tuhan akan meminta maaf kepada Tuhan, atau
dalam
agamaKatolik melalui
pengakuan dosadi
hadapan pastor yang diberi wewenang gerejauntuk
menerima pengakuan. Seorangistri
yang bersalah kepada suami akan mengakui kesalahannya kepada suami yang mungkin dirugikan akibat tindakannya. Seorang terdakwa yang mengakui bersalah akan meminta keringanan hukuman pada lembag pengadilan yang memang berwenang memutuskan seberapa berat kesalahannya itu harus dihukum.Bagaimana dengan Cut Tari?
Ia
mengakuidi
depanpublik
bahwa ia bersalah,telah menjadi
pemerandalam video
asusila bersamaAriel
Peterpan.Di
depan"pengadilan"
publik,
melalui media infotainment ia meminta maaf sambil menangis.Dengan alur
pikir
substansi dan cara membuat pengakuan sebagaimana diuraikan di atas, pertanyaan di bawah ini perlu dianalisis.Pertamao bersalahkah
dia? Telanjang di depan publik sehingga publik
mengetahuiketelanjangannya,
merupakantindak pidana dalam UU
Pornografi.Tetapi apakah ia mempertontonkan ketelanjangan
di
depan umum? Dengan kata lain, apakahia
menyebarluaskan ketelanjangannyadi
depan umum?Hal ini
yang harusdibuktikan di pengadilan, karena sampai saat ini belum terbukti bahwa
iamengedarkan (mempertontonkan) ketelanjangannya di depan umum.
Kedua,
Cut Tari
mengakui dan memintamaaf
kepadapublik melalui
media (televisi). Menjadi pertanyaan: apakah CutTari
bersalah kepadapublik,
sehingga ia mengakuidi
hadapanpublik,
dan meminta maaf kepada publik? Kesalahan Cut Tari adalah telanjang, bermain serong, dengan zuami orang, sementara pada saatitu
ia masih berstatus sebagaiistri
sah Yohannes Yusuf Subrata. Kesalahan Cut Tari adalah tidakjujur
kepada Tuhan, karenaia
sudah mengkhianatijanji
perkawinannya. Kalaulogika
pengakuandi awal
subbabini
menjadi acuan, seharusnyaia
meminta maaf kepada Tuhan, karenaia
sudah berdosa betzinah. Iajuga
seharusnya meminta maaf kepada suaminya, karena ia sudah berzinah.Tapi kepada publik? Bersalah apakah Cut Tari kepada publik? Tidak. Pertama, dia tidak mempertontonkan ketelanjangannya, dia bukan penyebar video itu,
jadi
diatidak
bersalah kepadapublik.
Kedua, apakahpublik
adalahpihak
yang dirugikan dengan tindakan asusilaCut
Tari? Berbagai argumen dikemukakan, bahwa banyak anak remaja melakukan perkosaan setelah menontonvideo itu.
MengapaCut
Tari yang menjadi kambing hitam? Bukan orang tua anak yang memperkosa? Bukan si pemerkosa itu sendiri?Di sini, ideologi jender yang menimpakan
kesalahanpada
perempuan mengemukajelas.
Perempuan,Cut Tari,
saatini menjadi kambing hitam
dariperilaku asusila para remaja yang
memperkosa.Padahal tak semudah itu
menyimpulkan. Seorang remaja yang mendapatkan bekal seksualitas yangbaik
dan berbudi tidak akan terpengaruh dengan menonton video itu. Jadi, begitu gampangnya budaya kambing hitamini
merasukijiwa
para tokoh sehingga Cut Tari, yang lagi-lagi perempuan, harus meminta maaf dengan nelangsa di depan publik.Cut Tari mengaku
di
depanpublik
(melalui media massa yang menjadi pemicu viktimisasi dirinya!). Menjadi perd'nyaan: apakahpublik
dirugikan dengan video CutTari
sehinggaia
harus meminta maaf kepadapublik? Publik
siapa?Publik
yang mana? Pengedar? Jujur saja, video Cut Tari sudah terjual sebanyak ratusan ribu kopi, danitu
berarti pihak pengedar yang mengambil keuntungan. Apakah dia dirugikan?Tidak, malah meraup keuntungan.
Lalu,
siapa yang dirugikan?Televisi,
yang menyiarkannya?Jujur
saja, pasti tidak, karena pada saat infotainment menyiarkan berita tentargCut Tari,
seringkali selalu diawali dengan: "sebelumkita
menyaksikan beritanya,kita
tunggu yang satuini..."
(dan banyak iklan bermunculan). Jadi, televisi pun meraup keuntungan besar dari pengkambinghitaman ini.Apakah masyarakat dirugikan?
Sebagian masyarakatdewasa
menikmati tontonanini. Buktinya,
videonyalaris
manis.Ini artinya, publik pun
menikmati.Publik, televisi,
masyarakat,industri,
menikmativideo ini. Lalu,
mengapa harus meminta maaf kepadapublik? Publik tidak memiliki
wewenanguntuk
memaafkan, karenapublik juga tidak
dirugikan, malah sebagian besarmenikmati
daa meraup keuntungan. Permintaanmaaf
kepadapublik
malahan membuat kasusini
salahkaprah.
Kalau
maufoir,
imbang,publik pun
harusminta maaf
kepadaCut
Tari, karenapublik
menikmati keuntungan dari kesalahan pribadi yangdia
tidak niatkanuntuk
mempertontonkandi depan umum. Imbang kan? Jadi,
mengapa saling menghakimi?Kalau
media infotainment adalah pemicuviktimisasi
perempuan, dan yang menjadi korban(victim)
adalah perempuan pelakuvideo,
siapakahyang
menjadi"imam agung", yang mempersembahkan korban di altar persembahan itu?
Pertama-tama, dapat
dilihat,
bahwapubliklah yang
tanpa disadari sebagai penjagal yang mengorbankan perempuan pelakudi
atas altar berhiaskan"nilai-nilai
moralitas, kepentingan generasi muda", dan sebagainya. Lalu, mengapapublik
yang menjadi pihak yang mengorbankan?Ada dua hal. Pertama, mentalitas bangsa Indonesia adalah
mentalitas pascakolonial.Mentalitas
masyarakatyang
beradadi bawah
penjajahan adalah mentalitas tertindas (repressed). Seorang yang ditindas,di
bawah sadamyaia
akan menjadi penindasitu
sendiri, terhadap orang-orangdi
sekitarnya. Bersamaan denganitu, ia
akan bertingkah laku seperti orang yang tertindas. Jadi, ada dialektika antara penindas dan yang tertindas. Halini
bisa dicermati apabila kita berintrospeksi bahwakita
selalu meniru Eropa a[au Negara-negara barat lainnya.Kita
selalu menciptakandiri
sebagai orangyang dijajah,
selalu kalah. Karenakita tak
mampu membalas penindasan dari orang yang menindas kita, represi bawah sadaritu
menjadi dialihkanke
orang-orangdi
sekitarkita sendiri. Kita
menjadi penjajahkaum kita
sendiri.Mentalitas menikmati menjajah bangsa sendiri adalah mentalitas pascakolonial. Hal
ini
merupakan bentuk sublimasi atas pengalaman ketertindasan di masa lalu masa lalu (Freud, dalamHumm,2003)
menikmati ketertindasan orang lain.Publik
menimpakan kesalahan, menghujat,pada pelaku video,
padahal sebetulnyadi bawah
sadarpublik
senangdan menikmati
perbuatan asusilaitu
(terbukti
dengan banyaknya pengunduhanvideo
tersebut),tapi hal itu tidak
bisa diungkapkan karena pandangan agamq aturan, dsb.Di
sinilahterjadi ironi.
Publikmenyukai dan menikmati, namun sekaligus menghujat dan menimpakan kesalahan pada
pelaku video. Nilah hipokrisi publik.
Sebenarnya, penghujatanpublik
atasmereka adalah penghujatan terhadap
diri publik itu sendiri, yang
diproyeksikan kepada tokoh-tokoh pelaku video.Kedua,
teori "Kambing Hitam'. Teori ini
dikemukakanoleh
salah seorangpemikir
besar abadXX,
ReneGirard. "Kambing Hitam". Ia
menyatakan bahwa sebenarnya masyarakat membutuhkan penyaluran kekerasan. Kekerasan apa yang terjadi di masyarakat sehingga butuh untuk disalurkan?Kekerasan masyarakat
dalam hal ini adalah
usahauntuk
"membunuh"hipokrisinya sendiri, yang sebenaffiya melekat pada
dirinya sendiri.
Kekerasanini
membutuhkan penyaluran, yang disebut sebagai kambing
hitam.
Harus ada korban untuk dijadikan penyaluran kekerasan. Maka menurut Girard, orang tak perlu bicara tentangkualitas
kesucianatau
ketakbersalahankorban.
Sebabkorban itu
hanyadiperlukan tempat penyaluran kekerasan. Korban dijalankan supaya semua ekspresi kekerasan
seperti
ketegangan, persaingan,dan
permusuhandalam
masyarakat ditimpakan dan menghilang dalamdiri
korban. Korbanitu
merupakan substitusi bagiseluruh
masyarakat.Tujuannya melindungi seluruh
masyarakatdari
amukan kekerasan, dan dengan demikian masyarakat dapat hidup dengan tenang karena telah dikosongkan dari amukan kekerasan (Sindhunata, 2006).Kekerasan akan meledak dan menjangkiti orang-orang sekitar
jika
tidak cepat- cepat ditemukan korban untuk pengosongannya.Lalu
mengapa harusfigur
publik?Mengapa perempuan? Menurut Girard, dalam suatu
ritus
korban, perbedaan korban binatang dan manusia tidak relevan. Pelaksanaan ritus korban tidak bertolak dari suatu pandangannilai, tapi
bertolakdari
kenyataan adanya kekerasan yang menjangkiti masyarakat. Jadi soalnya bukan apakah manusia tidak layak dikorbankan, dan hanya binatang yang layak, ata,u apakah binatang lebih layak dikorbankan daripada manusia, tapi bagaimana kekerusan itu dapat dikosongkan.Pelaku
kekerasantidak
menyadaribahwa
mereka sebenamya melakukan kekerasan. Mengapa demikian? Karena tindak kekerasanitu
disembunyikan dalam alasan-alasan religius-teologis, yakni bahwa tindakan itu dikehendaki oleh moral. Jadi tindakan kekerasanitu
disembunyrkan dalam rangka statu pietas,bakti
suci. Tapi penyembunyiandiri
ataulebih
tepat penipuandiri ini mutlak perlu. Kalau
tidak, korban tidak bisa efektiq dan kekerasan akan merajalela.Makq
semua oranglalu
mengarahkan permusuhannya dan kekerasan pada kambing hitam, yangdipilih
mereka secara sewenang-wenang. Sekarang kesalahan apa padapihak
kambinghitam, bukan
pada mereka.Itulah
mekanisme kambinghitam. Dengan cara itu, agresi internal
dikosongkanke lara, dan
masyarakat dipulihkan dari kehancuran diri.Mekanisme kambing hitam adalah mekanisme yang
menyembunyikan kekerasan yurrg nyata.Itu
harus demikian, supaya mekanismeitu
bisaefektif.
Jadi dengan menjalankan ritus kroban, orang-orang mengiyakan, bahwa kambing hitamitu
menyebab kekerasan, bukan masyarakat.Kedua hal
tersebut, mentalitas ketertindasandan
"pengkambinghitaman"adalah ibarat dua
sisi
mata uang.Sisi
yang satu melengkapisisi lain.
Dan reaksi publik, kita bisa melihatnya. Bak *tuan" yang luluh hati setelah "hamba"nya meminta maafo bak "imam agung" yang jatuh iba setelah korban bersimpuh memohon ampun,bak "hakim" yang
menerima permintaanmaaf
"terdakwa"nya,reaksi
kemarahan publik pun mereda.3. Penyiaran yang Peka dan
AdiI
JenderPenimpaan tafsiran yang bias jender memerlukan pemirsa yang cerdas agar
bisa berpikir dan bersikap adil
terhadap perempuankorban
kekerasan. Perlu"pencerdasan" masyarakat
untuk memilih dan memilah tontonan yang
perlu dinikmati. Bentuk-bentuk pencerdasan masyarakatini
bisa berbentuk promosi, iklan,atau
pemberdayaanmasyarakat boikot
tayanganyang hanya
mengeksploitasi perempuan dan mengorbankan perempuan.Media penyiaran perlu mengapresiasi isu-isu, atau isu perempuan yang selama
ini
tidak diapresiasi secara pas dalam media penyiaran, khususnya infotainment. Halini
berartiperlu
model penyiaran yang adiljender,
menginformasikan atau bahkan mempermasalahkandan
menggugat secara terus menerus adanya hubungan yangtidak
setara atau ketimpangan relasi antaralelaki
dan perempuan, keyakinan jender yang menyudutkan perempuan atau representasi perempuan yang sangat bias jender.Tujuan peliputan harus pada
keberpihakandan
pemberdayaanpada
kelompok- kelompok marjinal, terutama perempurn. Maka, infotainment yang banyak ditontonpublik perlu
memperkenalkanide-ide keadilan jender, bukan malah
memicu viktimisasi perempuan yang pada kenyataannya terpinggirkan dalam budaya patriarki.Hal ini berarti para pekerja pers, idealnya
memiliki
kepekaan jender yang tinggi.Di lain pihak,
hukum (dalamhal ini UU Nomor
3212002 tentang Penyiaran)perlu lebih
menunjukkan fungsinya sebagaikontrol
sosial sehingga dapat dicegah kemungkinan pelanggarandiskriminatif yang dapat menimbulkan
ketidakadilan jender(Widanti,
2005: 254). Sebagai rekayasa sosial, perangkat hukum penyiaran (Komisi Penyiaran Indonesia, misalnya)perlu
mendorong pola hubungan sosial yang mengandung kesetaraan jender antar-pihak dalam hubungan industrial. Dalam halini, KPI
harus menampilkan perannyayang
berpersepektifjender, lebih aktif
dalammencermati siaran-siaran yang
mengkambinghitamkanperempuan,
sementaf,a perempuan sendiri bukan sebagai pelaku atas tindak pidana yang disangkakan.*)
Penulis, adalah dosendi
Fakultas Hukum Unika Widya Karya Malang, dosen Bahasa krggnsdi
Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi "Widya Sasana" Malang, anggota Mitra Bestari,Aditf
Wacana, Pusat Pengkajian Aganr,a dan Kebudayaan, Malang.RUJUKAN
Abrar, Ana Nadhya.
1997. Pelecehandan
Kekerasan Sel<sual:Analisis Isi
Surat Kabar Indonesia. Yogyakarta: PPK-UGM and the Ford Foundation.Bungin, 2001. Erotika Media Massa. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Eldefonso, Edward, and
Alan R.
Coffey. 1981.Criminal
Law,,History,
Philosophy, Enforcernenf. New York: Harper and Row Publisher.Humm, Maggie.200 2. E ns ikl o p e d ia F em ini sme. Y ogyakarta : Faj ar Pustaka Baru.
Iswara, Dana, dan Yosepin
T. Pratiwi.
2003. Perspektif Perempuan pada ProgramTelevis i. Jurnal PerempuanN . 2812003.
Piliang, Yasraf
A.
2000. Perempuan dan MesinHasrat
Kapitalisme: Komodifikasi Perempuan dalam Program Hlburan Media Televisi dalam Ashadi Siregar, Rondang Pasaribu, dan Ismay Prihastuti (Eds.), Eksplorasi Jenderdi
Ranah Jurnalisme dan Hiburan, hal. I 05- I 34, Yogyakarta: Yayasan Galang.Sindhunata. 2006.
Kanbing Hitam, Teori
Rene Girard. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Widanti, Agnes. 2005. Hukum Berkeadilan Jender. Iakarta, Kompas
MediaNusantara.
10