Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku ajar fisika pembelajaran berbasis masalah pada pokok bahasan Elastisitas dan Hukum Hooke yang valid dan praktis. Permasalahan dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana kualitas buku ajar Fisika berbasis Problem Based Learning jika ditinjau dari validitas dan praktikalitasnya, pada kelas XI SMA Negeri 2 Lubuklinggau? 2) Bagaimana merancang dan mengembangkan buku teks Fisika berbasis Problem Based Learning yang memenuhi target validitas dan penerapan praktis pada kelas XI SMA Negeri 2 Lubuklinggau?
Jadi dapat dikatakan buku teks fisika yang dikembangkan berbasis pembelajaran berbasis masalah valid dan praktis.
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA FISIKA BERBASIS SCIENTIFIC PADA MATERI ELASTISITAS DAN HUKUM HOOKE
Lembar kerja siswa yang dikembangkan terdiri dari dua buku yaitu: lembar kerja siswa dan lembar kerja guru. Lembar kerja siswa rancangan akhir ini merupakan lembar kerja siswa yang akan digunakan dalam penelitian di SMA Negeri 4 Lubuklinggau. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan dan agar materi yang ada pada LKS berkembang lebih baik lagi.
Uji praktik dilakukan karena sesuai dengan model pengembangan yang digunakan mengenai LKS siswa fisika berbasis ilmiah tentang elastisitas dan hukum Hooke.
ANALISIS KEMAMPUAN MULTIREPRESENTASI VERBAL DAN GAMBAR PADA MAHASISWA PENDIDIKAN FISIKA DALAM
MEMAHAMI KONSEP REAKSI INTI MATAHARI
Hal inilah yang menjadi salah satu tantangan bagi para pendidik fisika untuk dapat mengubah paradigma atau pemikiran tersebut dengan membuat bahan ajar fisika menjadi lebih menyenangkan sehingga siswa termotivasi untuk mempelajari fisika (Hartini, T.I., & Martin, M, 2020). Sebagaimana dijelaskan oleh penelitian yang dilakukan oleh Fitria (2013), menggunakan pendekatan pembelajaran multirepresentasional dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih memahami konsep fisika melalui berbagai representasi yang berbeda. Terdapat beberapa representasi untuk memahami salah satu konsep fisika, yang diduga dapat membantu siswa dalam memahami konsep yang telah dipelajarinya.
Hal ini juga berkaitan dengan kemampuan spesifik yang dimiliki siswa secara individu, yang lebih terlihat dibandingkan kemampuan siswa pada aspek lainnya. Kompetensi siswa dapat terbentuk apabila siswa terlibat langsung dan aktif dalam kegiatan, baik secara mental, jasmani, dan sosial. Siswa juga akan belajar lebih efektif dan berhasil jika aktif memproses informasi melalui berbagai representasi (David et al, 2013).
Yang pertama adalah media sebagai fungsi stimulasi, dimana media dapat merangsang minat belajar siswa dan pengetahuan yang lebih lengkap terhadap materi yang ada di media. Oleh karena itu, media dapat menjadi jembatan komunikasi antara guru dan siswa. Dengan media siswa dapat menerima penjelasan atau materi yang dibutuhkan siswa dengan harapan dapat lebih memahami materi yang disampaikan guru (Mahnun, 2012).
Penggunaan penyajian yang berbeda-beda untuk menanamkan suatu konsep diyakini akan lebih membantu siswa dalam memahami konsep yang dipelajari. Hal ini disebabkan karena setiap siswa mempunyai kemampuan khusus yang lebih menonjol dibandingkan kemampuan lainnya.
ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP FISIKA PESERTA DIDIK KELAS X IPA DI SMA NEGERI 1 MANOKWARI MELALUI PEMBELAJARAN
ONLINE
Proses A2 (lihat), sebagian besar siswa mempunyai kemampuan pemahaman konsep sangat tinggi dengan persentase siswa sebesar 25,1%. Sebagian besar siswa mempunyai kemampuan pemahaman konsep yang rendah pada proses kognitif A3 (menyortir) dengan persentase siswa sebesar 47,9%. Berdasarkan Gambar 3 terlihat bahwa sebanyak 140 siswa memilih jawaban B sebagai jawaban paling benar yang berarti 63,9% siswa sudah memahami materi terkait soal I3 yang diberikan.
Berdasarkan Gambar 4 diketahui sekitar 141 siswa memilih jawaban C sebagai jawaban paling benar yang berarti 64,4% siswa sudah memahami materi terkait soal I4 yang diberikan. Berdasarkan Gambar 5 diketahui sekitar 93 siswa memilih jawaban B sebagai jawaban paling benar yang berarti 42,5% siswa sudah memahami materi terkait soal I6 yang diberikan. Berdasarkan Gambar 6 diketahui 127 siswa memilih jawaban D sebagai jawaban paling benar yang berarti 58% siswa sudah memahami materi terkait soal I2 yang diberikan.
Berdasarkan Gambar 7 diketahui sebanyak 133 siswa memilih jawaban E sebagai jawaban paling benar yang berarti 60,7% siswa sudah memahami materi terkait soal I5 yang diberikan. Berdasarkan Gambar 8 diketahui sebanyak 142 siswa memilih jawaban B sebagai jawaban paling benar yang berarti 64,8% siswa sudah memahami materi terkait soal I6 yang diberikan. Berdasarkan Gambar 9 diketahui sebanyak 117 siswa memilih jawaban B sebagai jawaban paling benar yang berarti hanya 53,4% siswa yang memahami materi terkait soal I11 yang diberikan.
Berdasarkan Gambar 12 terlihat bahwa sebanyak 96 siswa memilih jawaban B sebagai jawaban yang paling benar, artinya 43,8% siswa sudah memahami materi terkait soal I17 yang diberikan. Berdasarkan Gambar 15 terlihat bahwa sebanyak 138 siswa memilih jawaban C sebagai jawaban paling benar yang berarti 63% siswa sudah memahami materi terkait soal I7 yang diberikan. Berdasarkan Gambar 18 terlihat 103 siswa memilih jawaban E sebagai jawaban paling benar yang berarti 47% siswa sudah memahami materi terkait soal I10 yang diberikan.
Berdasarkan Gambar 19 terlihat bahwa sebanyak 75 siswa memilih jawaban E sebagai jawaban paling benar yang berarti 34,2% siswa sudah memahami materi terkait soal I9 yang diberikan.
ANALISIS MISKONSEPSI SISWA KELAS X PADA MATERI GERAK
Pada soal nomor 1 (konsep jarak dan perpindahan), mean CRI jawaban benar adalah 4,83, dan mean CRI jawaban salah adalah 4,42. Pada soal nomor 4 (konsep persamaan GLB) mean CRI jawaban benar adalah 4,95 dan mean CRI jawaban salah adalah 0,00. Pada soal nomor 6 (konsep persamaan GLBB) mean CRI jawaban benar adalah 4,75 dan mean CRI jawaban salah adalah 4,66.
Sedangkan proporsi siswa yang menjawab benar (0,19 atau 19%) lebih sedikit dibandingkan proporsi siswa yang menjawab salah (0,81 atau 81%). Jadi pada soal ini secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa siswa mengalami kesalahpahaman dengan mean CRI jawaban salah yang tinggi (>2,5). Untuk soal nomor 7 (konsep persamaan GLBB), rata-rata CRI jawaban benar adalah 4,77 dan rata-rata CRI jawaban salah adalah 3,57.
Untuk soal nomor 8 (konsep perbandingan GLBB), rata-rata CRI jawaban benar sebesar 4,67 dan rata-rata CRI jawaban salah sebesar 1,03. Sedangkan persentase siswa yang menjawab benar (0,14 atau 14%) lebih kecil dibandingkan persentase siswa yang menjawab salah (0,86 atau 86%). Hal ini diperkuat dengan persentase siswa yang menjawab salah sebesar 86% dengan rata-rata CRI yang rendah (<2,5).
Secara keseluruhan dapat dikatakan siswa mengalami miskonsepsi dengan rata-rata CRI jawaban salah yang tinggi (>2,5). Hal ini dikarenakan persentase siswa yang menjawab salah (0,86 atau 86%) lebih besar dibandingkan persentase siswa yang menjawab benar (0,14 atau 14%) dengan rata-rata CRI jawaban salah yang tinggi yaitu 4,27.
ANALISIS KEBUTUHAN E-MODUL FISIKA SEBAGAI BAHAN AJAR BERBASIS PBL DI MA MUSLIMAT NU
Hasil dan Pembahasan Kebutuhan Guru
Apakah Anda pernah menggunakan materi pembelajaran berbasis aplikasi sebelumnya atau menggunakan aplikasi pada saat proses pembelajaran? Alasan pemilihan materi pembelajaran tersebut karena setelah penjelasan guru dengan LKS, siswa dapat berlatih menjawab soal dan mendiskusikan soal-soal praktis yang terdapat dalam LKS. Setelah penjelasan biasanya ada sebagian siswa yang paham, selain itu ada sebagian siswa yang memerlukan bimbingan lebih lanjut, karena tidak semua anak dapat menangkap pelajaran fisika dengan cepat.
Hasil dan Pembahasan Kebutuhan Peserta Didik
Dari hasil analisis angket kebutuhan siswa pada Tabel 3 terlihat bahwa siswa mempunyai buku pegangan untuk belajar fisika, namun materi fluida statis yang ada pada buku pegangan tersebut sulit untuk dipahami sehingga buku pegangan yang digunakan tidak mencukupi sebagai sebuah sumber belajar. Siswa memerlukan sumber belajar lain untuk menunjang kegiatan belajar dan memerlukan sumber belajar yang dapat dipahami secara mandiri. Solusi yang juga dapat diambil untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi untuk meningkatkan pemahaman siswa (Irwandani & Rofiah, 2015).
Apabila permasalahan ini terus menerus terjadi maka siswa tidak akan mampu memahami konsep-konsep yang berdampak pada siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan permasalahan sehari-hari (Purnamasari, Yuliati, & Diantoro, 2017). Melalui pengembangan modul elektronik (e-modul) berbasis PBL, diharapkan siswa lebih mandiri dan memahami pelajaran fisika khususnya materi fluida statis. Tujuan dari E-modul adalah agar siswa dapat belajar mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru sehingga paling tidak modul ini memuat komponen dasar bahan ajar yang telah disebutkan sebelumnya (Imaningtyas, Karyanto, Nurmiyati, & Asriani, 2016).
Berdasarkan analisis kebutuhan tersebut, maka diperlukannya materi pembelajaran bagi siswa berupa modul pembelajaran elektronik (e-module) yang disusun menggunakan aplikasi Flip PDF Professional yang berisi materi fluida statis berbasis PBL. Kesimpulan yang dicapai adalah: siswa memerlukan sumber belajar untuk dapat memantapkan pemahaman siswa pada materi fluida statis dan memerlukan sumber belajar yang dapat dipahami secara mandiri. Untuk penelitian selanjutnya berdasarkan analisis kebutuhan terlihat perlunya media berupa bahan ajar bagi siswa agar dapat belajar mandiri, dimana saja dan kapan saja.
Kajian analisis upaya guru akhlak akhlak dalam mengembangkan potensi nilai akhlak peserta didik di MI Kabupaten Demak. Pengaruh model pembelajaran generatif terhadap pemahaman konsep fisika pada mata pelajaran bunyi siswa MTS Al-Hikmah Bandar Lampung.
PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA MELALUI PROBLEM BASED LEARNING DENGAN EVALUASI BERBASIS
PHYSICS PLAYING CARDS
Persyaratan di atas juga berlaku untuk pelajaran fisika; Proses belajar mengajar dengan materi fisika hendaknya mampu meningkatkan keterampilan kognitif siswa. Hasil observasi peneliti di lokasi penelitian menunjukkan bahwa kemampuan kognitif siswa masih belum maksimal, terbukti dari hasil ulangan harian yang masih banyak siswa yang belum memperoleh nilai sesuai KKM. Keterampilan kognitif siswa tercapai bila proses belajar mengajar yang dilaksanakan dapat menghasilkan proses pembelajaran yang bermakna, yaitu siswa mampu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru.
Alternatif pembelajaran yang dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memilih model pembelajaran yang mampu memfasilitasi pertumbuhan keterampilan kognitif siswa. Dalam upaya mencapai kemampuan kognitif yang lebih optimal tentunya diperlukan adanya media pembelajaran yang dapat memudahkan siswa dalam menerima pelajaran fisika. Dengan PBL yang dirancang dengan permasalahan di awal dan permainan PPC sebagai bahan penilaian siswa akan memberikan kontribusi yang baik terhadap keterampilan kognitif siswa.
Setelah memperoleh data pretest dan posttest dilanjutkan dengan menganalisis data pretest dan posttest menggunakan persamaan gain ternormalisasi (N-gain) untuk mengetahui tingkat peningkatan kemampuan kognitif siswa. Kemampuan kognitif awal siswa diperoleh dari hasil pretest dan kemampuan kognitif akhir siswa diperoleh dari hasil posttest yang keduanya diberikan pada masing-masing kelas. Peningkatan kemampuan kognitif siswa pada kelas eksperimen berada pada kategori tinggi, sedangkan peningkatan kemampuan kognitif siswa pada kelas kontrol berada pada kategori sedang.
Hal ini dikarenakan adanya permainan peran PPC yang diberikan dalam PBL sehingga kemampuan kognitif siswa lebih baik. Peningkatan kemampuan kognitif siswa disebabkan oleh pembelajaran menggunakan model PBL berdasarkan peringkat PPC sebesar 0,85 yang tergolong tinggi.