• Tidak ada hasil yang ditemukan

Similarity Report

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Similarity Report"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

Kuatnya konservatisme kebijakan diskriminatif terhadap perempuan memunculkan praktik politik identitas dalam peraturan, termasuk UU No.1/1974 tentang Perkawinan. Imam Musthofa, Wildani Hefni, Mufliha Wijayati: Diskriminasi Persaingan Perempuan: Reformasi Hukum Keluarga dalam Narasi Hukum Mahkamah Konstitusi. Peraturan yang bertentangan dengan nilai keadilan mengenai status keperdataan anak yang lahir dari perkawinan tidak dicatatkan dan perbedaan batas minimal usia perkawinan merupakan dua peraturan perundang-undangan yang dinyatakan batal oleh Mahkamah Konstitusi melalui putusan Mahkamah Konstitusi No.

6 Imam Mustofa, “Dampak Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang Pasal 43 Ayat (1) UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Hukum Keluarga di Indonesia,” Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam 6, no. 5 Mahkamah Konstitusi merupakan pintu gerbang menuju reformasi hukum keluarga berkelanjutan yang menempatkan perempuan secara adil dan setara. Kajian ini menggambarkan bagaimana perempuan menentang peraturan yang diskriminatif sebagaimana tercermin dalam dua putusan Mahkamah Konstitusi.

Sumber utama penelitian ini adalah Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46./PUU-XIII/2010 dan Putusan Nomor 2. Kedua, analisis terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi tentang upaya penyetaraan perempuan dengan laki-laki dan haknya atas perlindungan. Kedua, ketentuan Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 telah menciptakan diskriminasi terhadap anak perempuan dalam pelayanan kesehatan.

Oleh karena itu, kedua putusan MK tersebut juga menekankan pentingnya reformasi hukum perkawinan Indonesia yang lebih berorientasi pada keadilan.

Tabel  di  atas  menunjukkan  bahwa  hanya  8,  88  %  anak  perempuan  Indonesia  yang  menyelesaikan  pendidikan  tingkat  menengah  atas
Tabel di atas menunjukkan bahwa hanya 8, 88 % anak perempuan Indonesia yang menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas

STATUS PEREMPUAN DAN URGENSI PEMBARUAN HUKUM PERKAWINAN MELALUI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI

Penghapusan Diskriminasi Status Perempuan dalam Putusan Mahkamah Konstitusi

Putusan Mahkamah Konstitusi ini berdampak pada penerapan hukum substantif yang dijadikan acuan dalam peradilan agama.33 Perempuan yang menikah, walaupun tidak terdaftar, mempunyai status yang sama dengan perempuan yang menikah dan terdaftar. Kantor Urusan Agama. Sedangkan terkait dengan peningkatan kedudukan perempuan berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi, aspek lainnya meliputi kewajiban nafkah anak dan hubungan keperdataan anak hasil perkawinan di luar nikah atau lahir di luar nikah. 32 Mustofa, “Dampak Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang Pasal 43 Ayat (1) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Hukum Keluarga di Indonesia,” 288.

Kewajiban tersebut juga harus ditanggung oleh laki-laki.38 Anak mendapat jaminan, perlindungan dan kepastian hukum dari negara.39. Putusan Mahkamah Konstitusi ini mengukuhkan ketentuan pemenuhan hak-hak anak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-undang Nomor. 38 Mustofa, “Dampak Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang Pasal 43 Ayat (1) UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Hukum Keluarga di Indonesia,” 291–99.

Sebelum adanya putusan Mahkamah Konstitusi, batasan usia minimal menikah bagi perempuan adalah 16 tahun sebagaimana diatur dalam pasal 7 ayat (1) UU No. 44 Xavier Nugraha, Risdiana Izzaty dan Annida Aqiila Putri, “Rekonstruksi batasan usia minimal menikah sebagai bentuk perlindungan hukum bagi perempuan (analisis putusan Mahkamah Konstitusi No. 22/Puu-Xv/2017)” 3, no. 19 Konsekuensi lebih lanjut dari putusan Mahkamah Konstitusi adalah terbukanya kesempatan atau hak memperoleh pendidikan yang layak bagi perempuan, karena batas usia menikah bertambah 3 tahun, dari 16 menjadi 19 tahun.

47 Nugraha, Izzaty dan Putri, “Rekonstruksi Batas Usia Minimal Perkawinan Sebagai Bentuk Perlindungan Hukum Bagi Perempuan (Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi No. 22/Puu-Xv/2017)” 47. Selain Jaminan dan perlindungan persamaan di depan hukum, persamaan hak memperoleh pendidikan dan kesehatan, putusan Mahkamah Konstitusi juga menjamin perlindungan perempuan dari eksploitasi. Kematangan emosi seseorang akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia, sehingga batasan usia menikah bagi perempuan sebagaimana tertuang dalam putusan Mahkamah Konstitusi menghindarkan seseorang dari permasalahan rumah tangga yang timbul karena kurangnya kematangan emosi.

Sebelum adanya putusan Mahkamah Konstitusi ini, perlindungan terhadap perempuan yang menikah pada usia yang disyaratkan untuk menikah tidak sama dengan perlindungan terhadap laki-laki. Batasan usia dalam putusan MK setidaknya menjamin perlindungan perempuan terhadap kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Putusan Mahkamah Konstitusi yang diuraikan di atas jelas menjamin perlindungan yang memadai terhadap perempuan sebagai warga negara.

Cita Pembaruan Hukum Keluarga Berkeadilan Gender dalam Narasi Yuridis Putusan Mahkamah Konstitusi

Oleh karena itu, kesetaraan gender merupakan penilaian masyarakat terhadap persamaan dan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, serta peran yang mereka mainkan. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa perempuan dan laki-laki adalah mitra penuh dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat mereka.57. Ada banyak perdebatan mengenai apa arti (dan bukan arti) kesetaraan dalam praktiknya dan bagaimana mencapainya.58 Kesetaraan gender sebagai sebuah konsep filosofis adalah kondisi dimana laki-laki dan perempuan dapat menikmati status yang setara dan setara serta mempunyai kondisi yang sama. untuk mewujudkan hak asasi manusia dan mengembangkan potensinya masing-masing.

Dalam beberapa dekade terakhir, negara-negara Muslim telah memberikan perhatian serius terhadap kesetaraan gender dalam undang-undang. Mereka menandatangani CEDAW (Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan).59 Hal ini merupakan sikap dan perkembangan yang sangat menggembirakan dalam menjamin kesetaraan perempuan dalam peraturan perundang-undangan, termasuk hukum keluarga Islam.60. Konvensi CEDAW merupakan konvensi internasional yang secara khusus membahas hak asasi perempuan dengan pendekatan kesetaraan substantif, non-diskriminasi dan kewajiban negara.

Kesetaraan dalam perkawinan dan keluarga (Pasal 16). Kedua, untuk memperjuangkan hak dan kesetaraan perempuan, Konvensi CEDAW didasarkan pada tiga prinsip utama, yaitu: 1) Prinsip kesetaraan substantif; 2) Prinsip non-diskriminasi; dan 3) Asas kewajiban negara. Di dalam ketiga prinsip tersebut terdapat “prisma hak asasi perempuan” yang menjadi lensa untuk menyelidiki, mengoreksi dan menghilangkan segala bentuk diskriminasi gender. Negara tidak hanya harus bertanggung jawab dan mengatur di ranah publik, tetapi juga di ranah privat (keluarga) dan sektor swasta.”61.

Terkait dengan peningkatan status dan perlindungan perempuan serta kesetaraan gender, isu ini menjadi perhatian serius dalam reformasi hukum keluarga di dunia Islam. Secara umum terdapat tiga poin penting dalam rangka reformasi hukum keluarga, (1) Unifikasi hukum; (2) Peningkatan derajat perempuan dan; (3) Menanggapi perkembangan dan tuntutan zaman, karena doktrin fiqih tradisional dinilai kurang mampu menjawab permasalahan yang berkembang di masyarakat. perempuan, dari hubungan subordinat menuju kesetaraan.63 Untuk mencapai tujuan ini, unsur-unsur dari luar Islam dan penafsiran baru terhadap teks, seperti sekularisme dan.

61 Indonesia dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Parameter Kesetaraan Gender dalam Pembentukan Peraturan Hukum., 2012, 25. Undang-undang perkawinan yang dibayangkan adalah undang-undang yang mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan, bukan atas dasar bawahan, hubungan dikotomis. melainkan hubungan kesetaraan yang sinergis.66 Pasal-pasal yang terkesan memposisikan perempuan sebagai pihak yang ‘di bawah kendali’ laki-laki patut dimaknai sebagai pola pembagian dan diferensiasi peran yang sinergis dan saling melengkapi. Paradoks kesetaraan adalah bahwa, sebagai sebuah prinsip keadilan, prinsip ini mengakui bahwa kesetaraan bukan hanya tentang perlakuan yang sama.

KESIMPULAN

Mahkamah Konstitusi mengawali proses perubahan UU Perkawinan dengan dua putusan yang erat kaitannya dengan kedudukan dan status perempuan di hadapan hukum. Putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana dijelaskan di atas, berdampak signifikan terhadap status dan kedudukan perempuan Indonesia dalam bidang perkawinan. Hal penting dalam hal ini berkaitan dengan kenyataan hukum bahwa putusan Mahkamah Konstitusi tidak dapat dilaksanakan dengan segera, namun memerlukan tanggapan dan tindakan lebih lanjut dari lembaga legislatif dan/atau eksekutif terkait, yang menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi dengan perubahannya. Dengan demikian, putusan Mahkamah Konstitusi mengenai pengujian pasal-pasal yang bersifat diskriminatif merupakan titik awal yang nyata untuk mendorong reformasi hukum keluarga Indonesia yang adil dan merata serta menguntungkan laki-laki dan perempuan.

Model one stop review peraturan perundang-undangan oleh mahkamah konstitusi.” Jurnal Ilmiah Hukum LEGALITAS 25, no. Kekerasan dalam rumah tangga dan konflik tingkat tinggi tidaklah sama: Analisis gender." Jurnal Kesejahteraan Sosial dan Hukum Keluarga 40, no. Anak-anak dan perempuan dalam perlindungan terhadap kekerasan dalam rumah tangga." Raheema : Jurnal Studi Gender dan Anak 6, no.

Setahun peninjauan kembali hukum keluarga: Masalah anak-anak tetap menjadi fokus.” Hukum Keluarga Triwulanan 37, no. UU Perkawinan Indonesia yang Baru: Tinjauan Sistem Politik, Budaya, dan Hukum Indonesia. Jurnal Hukum Perbandingan Amerika 23, no. Hak Anak yang Dirampas: Studi Kasus Perdagangan dan Eksploitasi Anak dari Perspektif Hak Asasi Manusia dan Islam." Raheema: Jurnal Studi Gender dan Anak 4, no.

Perlindungan Perempuan dalam Hukum Perkawinan di Indonesia.” Yinyang: Jurnal Kajian Islam tentang Gender dan Anak 14, no. Gender dan Kesetaraan dalam Hukum Keluarga Islam: Keadilan dan Etika dalam Tradisi Hukum Islam. “Dampak Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang Pasal 43 Ayat (1) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Hukum Keluarga di Indonesia.” Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam 6, no.

Status Perempuan di Asia Tenggara: Kajian Perundang-undangan Pernikahan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia. “Rekonstruksi Batas Usia Minimal Perkawinan Sebagai Bentuk Perlindungan Hukum Bagi Perempuan (Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi No. 22/Puu-Xv/2017)”. Reformasi Hukum Keluarga, Kesetaraan Gender dan Pernikahan Anak: Pandangan dari Maroko dan Yordania.” Tinjauan Iman & Hubungan Internasional 13, no.

Perlindungan Perempuan dan Anak: Mengkaji Akibat Hukum dari Pengabaian Pencatatan Pernikahan.” Kesetaraan Gender: Jurnal Internasional Studi Anak dan Gender 6, no. Analisis Peristiwa Pernikahan Dini di Desa Kawat Kecamatan Tayan Hilir Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimamtan Barat. Raheema: Jurnal Studi Gender dan Anak 5, no.

Referensi

Dokumen terkait