KAITAN OBSERVASI
DAN WAWANCARA
KELOMPOK 5
1. Achyar Setiawan 188600180 2. Elvina Damayanti 188600156
3. Nofria Dita Nasution 188600143
4. Rizky Wulandari Simanjuntak 188600147 5. Shafrina Eka Putri Harahap 188600111
6. Suci Ridhona Astrani 188600168
7. Sri Ariani 158600147
3
Sejarah
ο± Dalam bidang penelitian, baik yang bersifat formal maupun nonformal, observasi dan wawancara merupakan dua metode assesmen yang paling tua.jauh sebelum penemuan tulisan , orang membuat penelitian dan evaluasi terhadap orang lain dengan mengobservasi perilaku mereka.
ο± sebagai contoh,ujian lisan digunakan untuk mengevaluasi pegawai negri di cina dan untuk menguji mahasiswa pada Abad pertengahan di lembaga-lembaga seperti Universitas opxford dan bologna.Namun sampai saat ini observasi dan wawancara tetap populer dalam bidang pendidikan, pekerjaan dan situasi-situasi klinis (Arken,1996).
ο± observasi maupun wawancara sebaiknya digunakan
secara bersamaan
Apek-aspek Nonverbal Selama Wawancara
Ada beberapa jenis perilaku yang dikategorikan sebagai komunikasi nonverbal.
Contohnya, bahasa tubuh seringkali dikaitkan dengan komunikasi
nonverbal. Unsur - unsur cara berbicara selain kata-kata juga
merupakan suatu komunikasi nonverbal, seperti intonasi, kecepatan
berbicara, jeda saat berbicara, dan ekspresi wajah, postur tubuh, kontak
mata, dan tingkat level suara. Penampilan dan pakaian juga termasuk
komunikasi nonverbal saat melakukan wawancara kerja.
5
Poin-poin penting untuk observasi dalam wawan cara :
1. Purpose
2. Story Line
3. Attentive
4. Accurate &
Objective
5. Timing 6. Debrief &
Analysis
6
DISKUSI KELOMPOK
1. Leaderless Grup Discussion (LGD)
β’ Variasi menarik dari pengujian situasi adalah pengujian Leaderless Grup Discussion (LGD), yang secara ekstensif telah digunakan pada assesment center untuk menyeleksi personil eksekutif pada jabatan tertentu, LGD, sebuah kelompok kecil (biasanya kurang dari 12 orang) diminta untuk mendiskusikan suatu topik katakanlah masalah politik, administasi atau sosial dalam waktu 30 menit sampai 1 jam.
β’ Leaderless Group Discussion (LGD) juga memiliki beberapa poin penting yang akan dinilai oleh para assessor tentang diri kita.
Sederhananya, beberapa karakteristik kepribadian kita terutama yang dibutuhkan oleh assessor untuk memilih kita sebagai kandidat yang diinginkan. Misalnya cara kita berkomunikasi, persepsi atau pandangan kita, sikap dalam pengambilan suatu keputusan, dan lain sebagainya.
7
2 . Focus Group Discussion (FGD)
β’ Focus Group Discussion (FGD) atau disebut juga Diskusi Kelomok Terpada (DKT) banyak digunakan dalam bidang Psikologi Klinis dan Sosial. Berbeda dengan Leaderless Group Discussion, pada Focus Group Discussion (FGD) peran moderator sangat besar dalam mempengaruhi dan mengarahkan jalannya diskusi.
β’ Ekowarni (2002) memberikan contoh dari model Focus Group Discussion (FGD), dengan memperhatikan hal di bawah ini :
I. Kapan digunakan ?
III. Apakah harus ada topik khusus?
IV. Peran Moderator V. Perlukah asisten
Moderator?
II. Bagaimana memilih partisipan ?
β’ LGD (Leaderless Group Discussion), seluruh proses diskusi diserahkan kepada kelompok. Sesuai dengan namanya, tidak ada penunjukkan pemimpin kelompok dalam teknik ini. Setiap anggota tim memiliki kebebasan yang sama untuk mengutarakan pendapat maupun ide- ide yang mereka miliki.
β’ Pada FGD, seorang asesor berperan sebagai fasilitator kelompok. Ia yang akan menentukan alur diskusi yang
berlangsung. Seorang fasilitator memiliki hak untuk mendorong
peserta yang dianggap pasif untuk lebih
mengungkapkan
pendapat yang mereka miliki. Selain itu, ia pun dapat menghentikan para peserta yang dianggap terlalu dominan di dalam kelompok.
8
Perbedaan antara LGD (Leaderless Group
Discussion) dan FGD (Focus Group Discussion)
β’ Pada LGD, Asesor tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam diskusi yang dilakukan oleh kelompok. Teknik LGD ini yang biasanya
digunakan dalam proses seleksi kerja
β’ Pada FGD,
diskusiΒ terfokusΒ bukan
diskusi bebas. Prinsip ini melengkapi prinsip diskusi.
Diingatkan bahwa jangan hanya mengejar interaksi dan dinamika kelompok, kalau hanya mengejar hal tersebut diskusi bisa berjalan ngawur. Selama diskusi berlangsung moderator harus fokus pada tujuan diskusi, sehingga moderator akan selalu berusaha mengembalikan diskusi ke βjalan yang benarβ.
9
Perbedaan antara LGD (Leaderless Group
Discussion) dan FGD (Focus Group Discussion)
10
KESIMPULAN
Observasi dan wawancara pada hakekatnya adalah sama. Keduanya melibatkan perhatian yang mendalam dan mendengarkan perilaku- perilaku nonverbal maupun verbal serta menarik kesimpulan berdasarkan penemuan-penemuan tersebut. Namun seorang pewawancara yang berinteraksi dengan orang yang diwawancarainya,pertama-tama memfokuskan pada respon-respon verbal yang dibuat oleh interview terhadap serangkaian pertanyaan. Akan tetapi pada wawancara biasanya interview menyadari bahwa dirinya diamati.
Hal ini menyebabkan interview mungkin berprilaku kurang alami.
Namun disisi lain,wawancara memberikan kesempatan yang lebih besar dibandingkan observasi dalam mendapatkan detail dari pikiran- pikiran,aspirasi-aspirasi dan kondisi dalam diri seseorang,seprti halnya informasi mengenai perilaku seseorang di masalalu.dengan demikian,keduanya baik observasi maupun wawancara sebaiknya digunakan secara bersamaan.