• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem panas bumi hipotermal

N/A
N/A
Jiyad Rozin

Academic year: 2023

Membagikan "Sistem panas bumi hipotermal "

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Hipotermal:

Sistem panas bumi hipotermal terletak pada kedalaman yang lebih dalam daripada sistem epitermal dan mesotermal.

Suhu di dalam sistem panas bumi hipotermal relatif tinggi, biasanya berkisar antara 150 hingga 300 derajat Celsius atau lebih.

Air di dalam sistem panas bumi hipotermal dapat mendidih jika terkena tekanan atmosfer karena suhunya yang tinggi, dan ini sering menghasilkan aliran uap dan fluida panas yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik geotermal.

Endapan Hipotermal merupakan berasosiasi dengan dike (korok) atau vein (urat) dengan kedalaman yang besar. Biasanya endapan hipotermal terdapat Wall Rock Alteration, dicirikan oleh adanya replacement yang kuat dengan asosiasi mineral seperti albit, biotit, kalsit, pirit, kalkopirit, kasiterit, emas, hornblende, plagioklas, dan kuarsa.

Endapan ini terdapat juga asosiasi mineral sulfida dan oksida pada intrusi granit sering diikuti pembentukan mineral logam, yakni : Au, Pb, Sn, dan Zn. Endapan ini memiliki tekanan dan temperatur relatif paling tinggi yakni 500°C – 600°C. Endapan hiotermal adalah jebakan hidrotermal paling dalam.

Endapan hipotermal terbentuk pada suhu yang cukup tinggi (300-500 C) biasanya pada kedalam yang cukup dalam pada kerak bumi. Tipe endapan hipotermal adalah Vein tin (cassiterite), tungsten (Scheelite dan wolframite) serta molibdenit.

Batu granit, sekis lava menghasilkan alterasi : Greissen, topaz, mika putih, tourmalin, piroksen dan amphibole.

Mineralisai hipotermal adalah proses pembentukan mineral pada suhu tinggi (300-500) yang berada pada lingkungan jauh dengan permukaan pada kedalaman kurang dari 4-6km

Proses Terbentuknya Mineral Ubahan di Zona Hipotermal:

Mineral ubahan di zona hipotermal terbentuk melalui serangkaian reaksi kimia yang

kompleks antara air panas yang mengandung zat terlarut seperti belerang, logam-logam, dan berbagai senyawa kimia, dengan batuan asal yang mengandung mineral-mineral tertentu.

Air panas bawah tanah ini, yang berasal dari kedalaman dalam kerak bumi, membawa zat terlarut yang dapat bereaksi dengan mineral-mineral dalam batuan asal, mengubah komposisi kimia dan struktur kristal mereka.

(2)

Porses Terbentuknya

 Mineral ubahan di zona hipotermal terbentuk melalui serangkaian reaksi kimia yang kompleks antara air panas yang mengandung zat terlarut seperti belerang, logam- logam, dan berbagai senyawa kimia, dengan batuan asal yang mengandung mineral- mineral tertentu.

 Air panas bawah tanah ini, yang berasal dari kedalaman dalam kerak bumi, membawa zat terlarut yang dapat bereaksi dengan mineral-mineral dalam batuan asal, mengubah komposisi kimia dan struktur kristal mereka.

Mineral Ubahan yang Umum Terbentuk:

Beberapa mineral ubahan yang umum terbentuk di zona hipotermal meliputi:

Serisit: Terbentuk dari alterasi feldspar oleh air panas.

Klorit: Hasil dari interaksi air panas dengan mineral mafik seperti biotit atau hornblende.

Epidot: Terbentuk dalam kondisi hipotermal saat air panas berinteraksi dengan batuan beku atau metamorf yang mengandung mineral seperti plagioklas atau hornblende.

Pirit: Mineral sulfida yang dapat terbentuk dari reaksi antara air panas dan logam seperti besi atau belerang dalam batuan asal.

Batuan asal yang terdapat di zona hipotermal sering mengandung mineral-mineral yang mengandung besi, seperti hornblende atau biotit. Ketika air panas mengalir melalui batuan asal ini, besi dapat bereaksi dengan belerang yang terlarut dalam larutan hidrotermal

Mineral ubahan dalam zona hipotermal terbentuk sebagai hasil dari interaksi kompleks antara berbagai faktor geologi, kimia, dan fisika. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pembentukan mineral ubahan pada zona hipotermal adalah:

1. **Suhu dan Tekanan:** Suhu dan tekanan di zona hipotermal umumnya lebih tinggi daripada di zona epitermal atau mesotermal. Faktor ini sangat penting karena suhu dan tekanan mempengaruhi kelarutan zat padat dalam larutan hidrotermal. Ketika suhu dan tekanan meningkat, mineral-mineral yang awalnya padat dalam batuan asal dapat larut dalam larutan hidrotermal. Ketika larutan tersebut naik ke zona yang lebih dingin dan tekanan yang lebih rendah, mineral-mineral ini akan mengendap kembali dalam bentuk ubahan.

2. **Kandungan Kimia Larutan Hidrotermal:** Komposisi kimia larutan hidrotermal sangat memengaruhi jenis mineral ubahan yang terbentuk. Larutan hidrotermal dapat mengandung berbagai jenis unsur dan senyawa, termasuk logam-logam berharga seperti emas, perak, tembaga, serta belerang, oksigen, dan banyak lainnya. Interaksi antara larutan hidrotermal

(3)

dengan mineral-mineral batuan asal akan mempengaruhi jenis mineral ubahan yang terbentuk.

sifat kelarutan zat padat dalam larutan tergantung pada berbagai faktor, termasuk sifat kimia zat itu sendiri dan kondisi suhu

3. **Kandungan Mineral Batuan Asal:** Jenis mineral yang ada dalam batuan asal di zona hipotermal juga akan memengaruhi jenis mineral ubahan yang terbentuk. Mineral-mineral dalam batuan asal dapat mengalami alterasi kimia dan fisika berdasarkan komposisi dan sifat- sifat mineral tersebut.

4. **Waktu:** Waktu adalah faktor penting dalam pembentukan mineral ubahan. Proses hidrotermal adalah proses yang berlangsung selama jutaan tahun, dan mineral ubahan terbentuk secara bertahap seiring berjalannya waktu. Proses ini dapat melibatkan siklus berulang naik turunnya larutan hidrotermal ke zona yang lebih dalam dan kemudian kembali ke permukaan, yang berkontribusi pada akumulasi mineral ubahan.

5. **Keberadaan Fluida Hidrotermal:** Keberadaan air panas bawah tanah dan fluida hidrotermal lainnya adalah faktor kunci dalam proses hidrotermal. Air panas mengandung mineral-mineral terlarut yang dapat bereaksi dengan batuan asal, mengubahnya menjadi mineral ubahan. Air panas juga berperan dalam transportasi mineral-mineral dan

mengendapkan mereka dalam bentuk vena atau zona alterasi hidrotermal.

6. **Kemampuan Batuan untuk Menerima Alterasi:** Beberapa batuan asal memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menerima alterasi hidrotermal daripada yang lain.

Kehadiran mineral-mineral tertentu dalam batuan asal, seperti feldspar, hornblende, atau biotit, dapat membuat batuan tersebut lebih rentan terhadap perubahan.

Kombinasi dari faktor-faktor ini menghasilkan berbagai jenis mineral ubahan yang dapat ditemukan di zona hipotermal. Sifat-sifat mineral ubahan ini seringkali memberikan petunjuk tentang potensi deposit bijih dan sumber daya mineral di daerah tersebut. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang faktor-faktor ini sangat penting dalam eksplorasi dan penambangan mineral di zona hipotermal.

SLIDE 1

Mineral ubahan pada zona hipotermal adalah hasil dari proses alterasi mineralogis

(interaksi antara fluida dan batuan asal) yang terjadi di zona hipotermal dalam sistem hidrotermal. Zona hipotermal adalah zona dalam kerak bumi yang terletak pada kedalaman yang lebih dalam daripada sistem epitermal dan mesotermal sehingga tekanan dan Suhu di dalam sistem panas bumi hipotermal relatif tinggi, biasanya berkisar antara 300 - 500 derajat

(4)

Celsius atau lebih. Proses hidrotermal yang terjadi di zona hipotermal dapat mengubah mineral-mineral dalam batuan asal menjadi mineral-mineral ubahan baru. Mineral ubahan ini seringkali mengisi celah-celah, rekahan, dan vena-vena dalam batuan asal di zona hipotermal.

Zona hipotermal sering menjadi tempat pembentukan mineral ubahan yang mengandung logam-logam berharga seperti emas, perak, tembaga, dan logam-logam lainnya

Untuk lebih lengkap mengenai proses terbentuknya akan dijelaskan oleh rekan saya sebentar

SLIDE 2

Faktor pembentuk mineral ubahan zona hipotermal

Mineral ubahan dalam zona hipotermal terbentuk sebagai hasil dari interaksi kompleks antara berbagai faktor geologi, kimia, dan fisika. Faktor-faktor pembentuk ini dapat dijelaskan sebagai alasan mengapa mineral ubahan yang terbentuk di zona hipotermal berbeda dari zona lainnya.

Suhu dan Tekanan

Suhu dan tekanan di zona hipotermal umumnya lebih tinggi daripada di zona epitermal atau mesotermal. Faktor ini sangat penting karena suhu dan tekanan mempengaruhi kelarutan zat padat dalam larutan hidrotermal. Ketika suhu dan tekanan meningkat, mineral-mineral yang awalnya padat dalam batuan asal dapat larut dalam larutan hidrotermal. Ketika larutan tersebut naik ke zona yang lebih dingin dan tekanan yang lebih rendah, mineral-mineral ini akan mengendap kembali dalam bentuk ubahan

Kandungan Kimia Larutan

Akibat dari suhu dan tekanan tadi sehingga mempengaruhi kandungan kimia larutan pada zona ini. Komposisi kimia larutan hidrotermal sangat memengaruhi jenis mineral ubahan yang terbentuk. Larutan hidrotermal dapat mengandung berbagai jenis unsur dan senyawa, termasuk logam-logam berharga seperti emas, perak, tembaga, serta belerang, oksigen, dan banyak lainnya.

Kandungan Mineral Batuan

Jenis mineral yang ada dalam batuan asal di zona hipotermal juga akan memengaruhi jenis mineral ubahan yang terbentuk. Mineral-mineral dalam batuan asal dapat mengalami alterasi kimia dan fisika berdasarkan komposisi dan sifat-sifat mineral tersebut. Misalnya, jika batuan asal mengandung mineral silikat yang kaya akan besi (Fe), maka mineral ubahan yang terbentuk dapat mengandung mineral sulfida seperti pirit (FeS2) atau kalkopirit (CuFeS2).

Waktu

Waktu adalah faktor penting dalam pembentukan mineral ubahan. Proses hidrotermal bukan proses yang berlangsung singkat, melainkan mineral ubahan terbentuk secara bertahap seiring berjalannya waktu.

Keberadan fluida hidrotermal

(5)

Merupakan faktor kunci dalam proses hidrotermal. Air panas mengandung mineral-mineral terlarut yang dapat bereaksi dengan batuan asal, mengubahnya menjadi mineral ubahan. Air panas juga berperan dalam transportasi mineral-mineral dan mengendapkan mereka dalam bentuk vena atau zona alterasi hidrotermal.

Kemampuan batuan untuk menerima alterasi

Beberapa batuan asal memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menerima alterasi

hidrotermal daripada yang lain. Kehadiran mineral-mineral tertentu dalam batuan asal, seperti feldspar, hornblende, atau biotit, dapat membuat batuan tersebut lebih rentan terhadap

perubahan.

Dapat dilihat bahwa suhu dan tekanan pada zona hipotermal ini menjadikannya memiliki mineral ubahan yang berbeda dari zona lainnya yaitu epitermal dan mesotermal, sebab suhu dan tekanan dapat mempengaruhi kandungan kimia larutan, kandungan kimia pada batuan dan juga kemampuan batuan untuk menerima laterasi itu sendiri.

Batas – batas peralihan antara batuan – batuan yang terbentuk pada kondisi hypotermal ; mesotermal dan epitermal tidak begitu terlihat, sehingga perlu membandingkan kandungan – kandungan mineralnya pada endapan hypotermal, mesotermal dan epitermal, karena ada mineral yang khas terdapat pada kondisi yang tertentu.

SLIDE 3 Karakteristik

Poin-poin penting mengenai karakteristik batuan hasil mineral ubahan di zona hipotermal adalah:

1. Polimorfisme Mineral: Batuan hasil mineral ubahan dapat mengalami perubahan fase kristalin sebagai akibat dari proses hidrotermal, menghasilkan mineral yang berbeda secara fisik dan kimia.

polimorfisme mineral merujuk pada fenomena di mana satu zat kimia dapat

membentuk lebih dari satu mineral dengan komposisi kimia yang sama tetapi struktur kristal yang berbeda. Dalam istilah sederhana, ini berarti bahwa zat kimia yang sama dapat memiliki beberapa "wujud" mineral yang berbeda dalam hal tata letak atom dan struktur kristalnya. Contoh yang paling terkenal dari polimorfisme mineral adalah karbon. Karbon dapat membentuk beberapa mineral yang berbeda, termasuk berlian dan grafit, yang keduanya memiliki komposisi kimia yang sama (C untuk karbon) tetapi tata letak atom yang berbeda. Dalam berlian, atom karbon membentuk tatanan kristal yang sangat kuat, sehingga berlian adalah salah satu mineral yang paling keras di dunia. Di sisi lain, dalam grafit, atom karbon membentuk lapisan-lapisan yang

(6)

tergelincir satu sama lain, sehingga grafit memiliki sifat seperti pensil yang lembut dan digunakan sebagai bahan dasar pensil.

2. Pola Mineralisasi yang Mencolok: Batuan tersebut seringkali mengandung vena- vena bijih yang mengisi rekahan dalam batuan asal, yang mengandung mineral- mineral khas zona hipotermal seperti pirit, kuarsa hidrotermal, atau mineral sulfida lainnya.

3. Keberadaan Mineral-Logam Berharga: Karakteristik paling penting adalah keberadaan mineral ubahan yang mengandung logam berharga seperti emas, perak, tembaga, timbal, dan seng, yang sering menjadi target utama dalam penambangan di zona hipotermal.

4. Perubahan Warna dan Kilau: Batuan hasil mineral ubahan dapat memiliki warna dan kilau yang berbeda dari batuan asalnya, terutama pada mineral ubahan yang mengandung logam berharga.

5. Konsentrasi Mineral yang Tinggi: Batuan hasil mineral ubahan sering mengandung konsentrasi mineral yang lebih tinggi daripada batuan asalnya, terutama dalam vena- vena bijih. dalam vena-vena bijih di zona hipotermal, mineral-mineral berharga hadir dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan dengan batuan asalnya.

6. Kemagnetan dan Konduktivitas Listrik: Beberapa mineral hasil mineral ubahan di zona hipotermal, seperti pirit, dapat memiliki sifat khusus seperti kemagnetan atau konduktivitas listrik yang dapat digunakan untuk identifikasi.

SLIDE 4

Porses Mineral Ubahan

Mineral ubahan pada zona hipotermal terbentuk melalui serangkaian proses geologis yang kompleks yang terjadi di bawah permukaan bumi. Proses ini terjadi karena interaksi antara larutan hidrotermal (air panas bawah tanah yang mengandung mineral-mineral terlarut) dan batuan asal yang mengandung mineral-mineral tertentu. Berikut adalah langkah-langkah umum dalam pembentukan mineral ubahan pada zona hipotermal:

1. Sirkulasi Air Panas Bawah Tanah: Proses dimulai dengan sirkulasi air panas bawah tanah yang mengandung mineral-mineral terlarut, seperti emas, perak, belerang, dan logam berharga lainnya. Air panas ini seringkali berasal dari kedalaman bumi dan mencapai zona hipotermal melalui celah-celah dan rekahan-rekahan dalam batuan.

2. Interaksi dengan Batuan Asal: Ketika larutan hidrotermal mencapai batuan asal di zona hipotermal, terjadi interaksi antara larutan tersebut dan mineral-mineral dalam batuan asal.

Batuan asal seringkali mengandung mineral-mineral seperti feldspar, biotit, hornblende, dan lainnya.

(7)

3. **Reaksi Kimia:** Interaksi antara larutan hidrotermal dan mineral-mineral dalam batuan asal memicu serangkaian reaksi kimia kompleks. Proses ini melibatkan pertukaran ion-ion dan perubahan kimia yang mengubah mineral-mineral asal menjadi mineral ubahan yang berbeda secara komposisi dan sifat.

4. **Penggantian Mineral Asal:** Salah satu proses yang umum terjadi adalah penggantian mineral asal dengan mineral ubahan. Misalnya, feldspar dalam batuan asal dapat mengalami alterasi menjadi serisit atau kuarsa hidrotermal. Biotit dapat berubah menjadi mineral seperti klorit atau serisit.

5. **Akumulasi Mineral Ubahan:** Mineral ubahan yang terbentuk kemudian mengendap dalam batuan, mengisi celah-celah dan vena-vena, atau membentuk zona alterasi hidrotermal di sekitar daerah interaksi larutan hidrotermal dan batuan asal. Ini dapat mengakibatkan konsentrasi mineral ubahan dalam jumlah yang signifikan.

6. **Deposit Bijih atau Vein Bijih:** Jika mineral ubahan yang terbentuk mengandung mineral berharga seperti emas, perak, atau logam-logam lainnya, mereka dapat mengendap dalam bentuk deposit bijih atau vein bijih yang kaya akan mineral berharga. Ini sering terjadi ketika kondisi kimia atau fisika berubah, seperti penurunan suhu atau tekanan, yang

menyebabkan mineral mengendap dalam bentuk padat.

Proses-proses ini berlangsung selama berjuta-juta tahun dan membentuk deposit bijih mineral berharga yang sering menjadi target pertambangan. Kondisi suhu dan tekanan yang tinggi di zona hipotermal, bersama dengan interaksi yang kompleks antara larutan hidrotermal dan batuan asal, merupakan faktor utama dalam pembentukan mineral ubahan pada zona ini.

Referensi

Dokumen terkait

Saturnus, Uranus, dan Neptunus memiliki jarak yang sangat jauh terhadap matahari, sehingga suhu permukaan yang sangat rendah tidak memungkinkan organisme dapat tumbuh subur.. Hukum

Estimasi Suhu Bawah Permukaan Dan Kedalaman Reservoir Panas Bumi Tiris Berdasarkan Data Gradien Thermal; Reza Sairawan, 081810201023; 2014: 40 halaman; Jurusan Fisika

Pada sistem panas bumi daerah Marana ini, batuan ubahan dicirikan dengan sebaran nilai tahanan jenis rendah yang tersebar dari dekat permukaan hingga kedalaman sekitar 1000

Permukaan bumi pada mulanya juga memiliki panas yang sangat dahsyat, namun dengan berjalannya waktu (dalam orde milyard tahun) suhu permukaan bumi mulai menurun dan akhirnya

Secara keseluruhan, batuan dari permukaan hingga kedalaman 34 m merupakan endapan alluvial dan breksi polimik tidak terubah hingga terubah lemah pada kedalaman 34-120 m

Pada Gambar 4.6 dan 47 nampak yang membedakan dengan low terrain geothermal system selain  posisi upflow zone yang lebih tinggi karena berada di kawah dari

pada sistem ini dapat dilihat dengan adanya proses condensasi (ditunjukkan pada daerah yang diarsir warna hitam) pada lapisan dari fluida diaphasa. Sedikit sekali air permukaan

Sebaran pola resistivitas dengan rentang nilai 193-228 Ωm yang berada pada kedalaman lebih dari 2500 m dibawah permukaan diduga sebagai batuan dasar basement.. Daftar Pustaka Amriyah,