SISTEM TRANSPORTASI DI KOTA BIMA
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sistem Transportasi Dosen Pengampu:
Ir. Andi Syaiful Amal, MT, IPM, ASEAN Eng.
Oleh:
UTARI MUDIA SAPUTRI (202210340311251)
JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2023
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem Transportasi merupakan gabungan dari dua definisi, yaitu sistem dan transportasi. Sistem adalah suatu bentuk keterikatan dan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lain dalam tatanan yang terstruktur, sedangkan transportasi adalah suatu usaha untuk memindahkan, menggerakkan, mengangkut, atau mengalihkan orang atau barang dari suatu tempat ke tempat lain. Menurut Salim (2000) transportasi adalah kegiatan pemindahan barang (muatan) dan penumpang dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam transportasi ada dua unsur yang terpenting yaitu pemindahan/pergerakan (movement) dan secara fisik mengubah tempat dari barang (comoditi) dan penumpang ke tempat lain. Menurut Miro (2005) transportasi dapat diartikan usaha memindahkan, menggerakkan, mengangkut atau mengalihkan suatu objek dari suatu tempat ke tempat lain, di mana di tempat lain ini objek tersebut lebih bermanfaat atau dapat berguna untuk tujuan-tujuan tertentu. Sedangkan menurut Nasution (1996) adalah sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Transportasi memiliki peranan penting dan strategi dalam pembangunan nasional mengingat transportasi merupakan sarana untuk memperlancar roda perekonomian, memperkokoh persatuan dan kesatuan serta mempengaruhi hamper semua aspek kehidupan. Transportasi bukanlah tujuan akhir, melainkan sekadar alat untuk melawan jarak karena kemajuan teknologi memunculkan berbagai macam alat transportasi untuk memenuhi berbagai keperluan. Transportasi harus digunakan seefisien mungkin, karena ketidakefisienan sistem transportasi merupakan pembosoran besar. Akan banyak materi yang terbuang percuma dan sia-sia (Tamin, 2000).
1.2 Rumusan Masalah
-Bagaimana sarana, prasarana dan muatan di Kota Bima?
-Bagaimana gambaran umum lokasi di Kota Bima?
-Bagaimana Metode pengambilan data?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mempelajari dan mengetahui bagaimana sistem transportasi baik darat, udara maupun laut, gambaran umum lokasi dan metode pengambilan data di kota Bima
1.3.2 Tujuan Khusus
1) Mengetahui perkembangan sarana, prasarana dan muatan di Kota Bima 2) Mengetahui tingkat kemajuan dari ketiga moda transporttasi tersebut
BAB II METODOLOGI 2.1 Gambar Umum Lokasi
Gambar 1.1. Peta Kota Bima, Nusa Tenggara Barat
Secara geografis Kota Bima terletak di bagian timur Pulau Sumbawa pada posisi 118°41'00"-118°48'00" Bujur Timur dan 8°20'00"-8°30'00" Lintang Selatan. Kota Bima sendiri mempunyai luas wilayah sebesar 22,25 km².[6] Kota Bima memiliki areal tanah berupa: persawahan seluas 1.923 hektare (94,90% merupakan sawah irigasi), hutan seluas 13.154 ha, tegalan dan kebun seluas 3.632 ha, ladang dan huma seluas 1.225 ha dan wilayah pesisir pantai sepanjang 26 km. Secara umum kondisi tanah di Kota Bima didominasi oleh gunung batu, hal ini menyebabkan rata-rata masyarakatnya bertani dengan menanam jagung dan tanaman keras lainnya.
Secara administratif Kota Bima mempunyai batas- batas wilayah yaitu Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima, Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima, Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Wawo Kabupaten Bima dan Sebelah Barat berbatasan dengan Teluk Bima. Kota Bima terdiri dari 5 Kecamatan dan 41 Kelurahan. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 141.294 jiwa dengan luas wilayah 222,25 km² dan sebaran penduduk 635jiwa/km².
Tabel 1.2 Pembagian Wilayah Administratif Kota Bima
No. Kecamatan Kelurahan / Desa Luas
Wilayah I. Kecamatan Rasanae
Barat
1. Kel. Tanjung 2. Kel. Paruga 3. Kel. SaraE 4. Kel. NaE 5. Kel. Pane 6. Kel. Dara
0,79 0,91 0,48 0,31 0,31 7,34 10.14 II. Kecamatan Mpunda 1. Kel. Sambinae
2. Kel. Panggi 3. Kel. Monggonao 4. Kel. Manggemaci 5. Kel. Penatoi
5,43 3,51 0,63 0,52 0,74
No. Kecamatan Kelurahan / Desa Luas Wilayah 6. Kel. Lewirato
7. Kel. Sadia 8. Kel. Mande 9. Kel. Santi 10. Kel. Matakando
0,49 0,68 0,69 0,72 1,87 III. Kecamatan Raba 1. Kel. Penaraga
2. Kel. Penanae 3. Kel. Rite
4. Kel. Rabangodu Utara 5. Kel. RabangoduSelatan 6. Kel. Rabadompu Timur 7. Kel. Rabadompu Barat 8. Kel. Rontu
9. Kel. Ntobo 10. Kel. Kendo 11. Kel. Nitu
0,74 5,34 1,84 0,98 1,43 0,54 1,66 4,74 31,19
9,08 6,19 IV. Kecamatan Asakota 1. Kel. Melayu
2. Kel. Jatiwangi 3. Kel. Jatibaru 4. Kel. Kolo 5. Kel. Ule
6. Kel. Jatibaru Timur
0,76 18,91 17,18 26,49 3,27 2,42 V. Kecamatan Rasanae
Timur
1. Kel. Kumbe
2. Kel. Lampe 7,23
No. Kecamatan Kelurahan / Desa Luas Wilayah 3. Kel. Oi Fo’o
4. Kel. Kodo 5. Kel Dodu 6. Kel. Lelamase 7. Kel. Nungga 8. Kel. Oimbo
9,20 5,55 7,93 21,05 11,59 2,74
Jumlah I + II + III + IV + V 222,25
Sumber: Kota Bima Dalam Angka, BPS Kota Bima 2018
Luas wilayah Kota Bima adalah 222,25 km2 terdiri dari 8,53 persen diantaranya (18,96 km2) merupakan lahan sawah dan sisanya 91,47 persen (203,29 km2) merupakan lahan bukan sawah. Secara administratif wilayah Kota Bima sebelum dilakukan pemekaran wilayah terbagi dalam 3 (tiga) wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Rasanae Barat, Kecamatan Rasanae Timur, dan Kecamatan Asakota dengan jumlah kelurahan sebanyak 25 kelurahan.
Setelah dilakukan pemekaran, wilayah Kota Bima terbagi dalam 5 wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Asakota, Kecamatan Rasanae Barat, Kecamatan Mpunda, Kecamatan Raba dan Kecamatan Rasanae Timur, jumlah kelurahan 38 kelurahan.
Tabel 1.3 Distribusi dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Bima Tahun 2018
Dari data jumlah penduduk, dapat diketahui kepadatan penduduk Kota Bima tahun 2018 rata-rata 764 jiwa/km2. Kecamatan dengan penduduk terpadat adalah Kecamatan
Rasanae Barat yaitu 3.824 jiwa/km2, sedangkan kecamatan yang paling rendah tingkat kepadatannya adalah Kecamatan Rasanae Timur yaitu sebesar 276 jiwa/km2.
Melihat tingkat kepadatan Kota Bima, terjadi ketimpangan persebaran penduduk yang sangat besar antar kecamatan. Kecamatan Rasanae Barat dan Mpunda merupakan pusat permukiman penduduk, pemerintahan, perdagangan, pendidikan dan kegiatan lainnya dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai. Selain itu luas wilayah dua kecamatan tersebut lebih kecil dibanding kecamatan lainnya. Tiga kecamatan lain tingkat kepadatannya tidak sebesar dua kecamatan tersebut. Jika diamati lebih lanjut, berdasarkan data kepadatan penduduk per kelurahan, tingkat kepadatan penduduk yang tinggi berada pada wilayah kelurahan-
kelurahan di sekitar koridor Jalan Soekarno Hatta, Jalan Gajah Mada dan Jalan Sudirman.
2.2 Metode Pengambilan Data
Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode penelitian kuantitatif.
Artinya data yang dikumpulkan berasal dari penyebaran kuesioner dan data akan diolah dengan menggunakan metode statistika. Menurut V. Wiratna Sujarweni (2014:39) penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Penelitian kuantitatif juga diartikan sebagai penelitian yang didasari pada asumsi, selain menentukan variabel dan melakukan analisis menggunakan metode penelitian valid.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam mendukung konektivitas transportasi di Bima, terdapat tiga moda transportasi yang bisa kita gunakan yakni transportasi darat, laut dan udara.
3.1 Sistem transportasi darat
Transportasi di Kota Bima ditunjang oleh prasarana jalan: terminal dan pelabuhan laut. Panjang jalan raya sekitar 805,02 km terdiri dari : Jalan Negara (38,56 km), Jalan Provinsi (52,20 km), dan Jalan Kabupaten (174,26 km) yang sebagian besar merupakan jalan beraspal, dan sebagian lainnya jalan perkerasan batu dan jalan tanah. Fasilitas terminal sebanyak 3 buah, terdiri dari 1 buah terminal tipe B terletak di Kampung Dara yang merupakan terminal regional yang menghubungkan Kota Bima dengan kabupaten/kota lainnya, dan Terminal Tipe C yang terdapat di Kelurahan Kumbe yaitu terminal angkutan umum yang menuju ke Kecamatan Sape Kabupaten Bima dan di Desa Jati Baru yaitu terminal angkutan umum yang menuju ke Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Sarana angkutan darat dalam Kota Bima dilayani oleh bemo, benhur dan ojek.
Terdapat tiga buah terminal di kota Bima, yaitu Terminal Dara, Terminal Kumbe, dan Terminal Jatibaru. Terminal Dara berfungsi untuk melayani transportasi antar kota dan antar provinsi. Terminal Kumbe melayani transportasi untuk Kota Bima bagian timur, dengan tujuan utama Sape dan sekitarnya. Sedangkan Terminal Jatibaru untuk melayani transportasi Kota Bima bagian utara, dengan tujuan Wera dan sekitarnya. Sarana transportasi darat tersebut melayani angkutan kota di Pulau Sumbawa.
Terminologi yang digunakan dalam penyajian data angkutan darat di Kota Bima adalah sebagai berikut :
1. Kendaraan Bermotor
adalah setiap kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang ada pada kendaraan tersebut, biasanya digunakan untuk angkutan orang atau barang diatas jalan raya selain kendaraan yang berjalan di atas rel. Kendaraan bermotor yang dicatat adalah semua jenis kendaraan kecuali kendaraan bermotor TNI/Polri dan Korps Diplomatik.
2. Mobil Penumpang
adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi dengan tempat duduk untuk sebanyak-banyaknya delapan orang, tidak termasuk tempat duduk untuk pengemudi, baik dilengkapi atau tidak dilengkapi bagasi.
3. Mobil Bus
adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi dengan tempat duduk untuk lebih dari delapan orang, tidak termasuk tempat duduk untuk pengemudi, baik dilengkapi atau tidak dilengkapi bagasi.
4. Mobil Truk
adalah setiap kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan barang, selain mobil penumpang, mobil bis, dan kendaraan bermotor roda dua.
5. Sepeda Motor
adalah setiap kendaraan bermotor yang beroda dua.
Di Kota Bima juga terdapat angkutan umum tradisional seperti : 1. Benhur
Benhur merupakan modal transportasi tradisional masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Benhur merupakan kendaraan, yang dibuat dari kayu, dilengkapi dengan dua roda dan ditarik oleh seekor kuda. Di daerah lain, terdapat kendaraan yang sama tapi dengan penyebutan yang berbeda, seperti cidomo. Hanya saja, benhur lebih sederhana lagi dibandingkan cidomo. Dulu, benhur digunakan hampir oleh seluruh lapisan masyarakat Bima. Mulai dari emak-emak yang ke pasar, siswa yang ke sekolah, hingga warga yang akan pergi bekerja. Suara sepatu kuda, terdengar khas membelah jalan raya di Bima.
Namun situasi itu tidak akan ditemukan saat sekarang. Eksistensi benhur, kini sudah digantikan oleh kuda-kuda mesin seperti sepeda motor dan mobil. Warga tidak lagi menggunakan benhur, karena dianggap tidak efektif lagi untuk mengejar waktu. Masalah lain yang dihadapi, kotoran kuda yang merupakan mesin penggerak benhur, dianggap
menjadi pemantik munculnya kekumuhan di kawasan perkotaan. Sehingga, sedikit demi sedikit jangkauan trayek benhur dibatasi oleh pemerintah hingga kini jumlahnya nyaris tidak ada lagi.
2. Bemo
adalah kendaraan yang biasanya digunakan sebagai angkutan umum di Kota Bima.
Jumlah angkutan kota(bemo) di kota bima ternyata semakin berkurang. Saat ini angkot yang beroperasi tersisa hanya sekitar 40 unit dari jumlah sekitar 200 unit.
fakto yang mempengaruhi penyusutan bemo di kota bima. Diantarnya, Karena disebabkan sudah banyak masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor. Faktor lainnya, karena menjamurnya tukang ojek sebagai pilihan jasa transportasi umum.
Permasalahan yang terdapat di kota Bima saat ialah kemacetan yang ada di Pasar Raya Bima. Kemacetan tiada henti di sejumlah titik jalan strategis di Kota Bima, hingga kini tak mampu diatasi pemerintah. Masyarakat yang peduli terhadap kemacetan, mau tidak mau risih juga dengan kondisi seperti itu.
Sebenarnya akses jalan pasar itu lebar, hanya saja disesaki parkiran sepeda motor dan Benhur. Pemilik sepeda motor dan benhur, terkesan mengavling seluruh badan jalan.
Akibatnya, ruas jalan menjadi sempit sehingga menjadi kemacetan. “Hal inilah yang memicu kemacetan,” kata Messi. “Belum lagi jika ada bemo yang naik-turunkan penumpang, praktis akses jalan tersebut jadi tertutup,” timpalnya.
3.2 Sistem Transportasi Udara
Dari sektor udara, penerbangan di Bima dilayani oleh Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin atau biasa disebut Bandara Bima (BMU). BMU merupakan sebuah bandara kecil dekat Kota Bima yang namanya berasal dari Sultan terakhir Kerajaan Bima dan terletak di Palibelo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
Sebagai satu-satunya fasilitas transportasi udara di Bima, frekuensi penumpang di bandara tersebut semakin hari makin meningkat. Peningkatan jumlah penumpang tersebut dikarenakan BMU merupakan pintu gerbang bagi tiga wilayah di Nusa Tenggara Barat yakni Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu.
Transportasi udara yang memiliki karakter cepat, aman, efisien hingga menjadi alternatif utama bagi masyarakat, terutama yang memiliki mobilitas tinggi, tidak terkecuali bagi masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat. Untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat akan transportasi udara yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat mobilitas masyarakat dan untuk mendukung percepatan pembangunan di Bima, Pemerintah lingkungan telah membangun terminal Sultan Muhammad Salahuddin Bima yang merupakan terminal udara utama di lingkungan Kota Bima atau Kabupaten Bima dan Dompu. Terminal udara Sultan Muhammad Salahuddin Bima diresmikan pada Juli 1972 serta tergolong kelas III dengan jumlah penumpang 250.001-500.000 orang per tahun. Berdasarkan catatan selama 4 tahun terakhir, perkembangan pemudik di terminal udara ini terus meningkat, tak terbayangkan jumlah tersebut akan terus meningkat setiap tahunnya. Dengan bertambahnya jumlah penumpang dikhawatirkan bandara yang ada saat ini tidak mampu menampung penumpang atau akan terjadi overload di kemudian hari (Alfarizin, 2019:2), oleh karena itu bandara lokal perlu memikirkan penambahan fasilitas baik dari segi dari kualitas dan kuantitas.
Tantangan Transportasi Udara Sebagai satu-satunya akses transportasi udara di Bima, BMU acap kali mendapatkan kesulitan ketika harus berhadapan dengan masyarakat terkait pembebasan lahan. Tahun 2019 ini, Bandara Bima akan kembali dibenahi secara bertahap baik itu peningkatan sarana prasarana dan sejumlah fasilitas penunjang yang dibutuhkan, mengingat frekuensi penerbangan dari dan ke Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima cukup ramai yakni mencapai ratusan orang setiap harinya.
Rencananya bandara ini akan memperluas landasan pacunya menjadi 2.200 meter x 30 meter dari sebelumnya yang hanya sepanjang 1.650 meter x 30 meter di atas permukaan tanah agar bisa didarati oleh pesawat jenis Boeing. Selain perpanjangan runway, bandara BMU juga telah merencanakan pembangunan terminal baru. Hal ini untuk mempermudah akses penumpang saat menggunakan transportasi udara.
Maka dari itu, penting bagi bandara sebagai akses sektor udara untuk dapat memaksimalkan pengangkutan penumpang setiap harinya. Selama ini, Bandara Salahuddin Bima melayani sembilan penerbangan yang dilakukan oleh Garuda Indonesia, Wings Air dan Nam Air. Rute maskapai ini antara lain ke Lombok, Bali dan Makassar.
“Salah satu yang menjadi kendala kami dalam mengoperasikan bandara ini adalah sulitnya meminta lahan kepada masyarakat yang akan digunakan untuk pembangunan perluasan runway dan terminal bandara. Sehingga kami selalu melibatkan pemerintah daerah setempat untuk melakukan negosiasi kepada masyarakat,” ucap Kepala Seksi Pelayanan dan Kerjasama, UPBU Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Erlangga.
Selain masalah perluasan lahan, terhitung sejak tanggal 1 September 2019, salah satu maskapai yakni Garuda Indonesia memutuskan untuk hengkang dari bandara ini. Salah satu alasan berhentinya operasional penerbangan Garuda Indonesia di Bima adalah karena maskapai tersebut mengalami kerugian dan menurunnya jumlah penumpang.
Hal ini membuat pihak operasional bandara harus memutar otak untuk tetap meramaikan penerbangan dari dan menuju Bima. Sehingga diharapkan, pembebasan lahan yang dilakukan untuk perluasan runway dan pembangunan terminal dapat menarik minat maskapai lainnya untuk singgah di Bandara Bima.
Terminologi yang digunakan dalam penyajian data angkutan darat di Kota Bima adalah sebagai berikut :
1. Jadwal Penerbangan
Penerbangan yang dilakukan secara teratur dengan rute dan jadwal yang tetap.
2. Aircraft-Km
Jumlah jarak penerbangan (Km) selama periode waktu tertentu (satu tahun).
3. Performed Seat-Km
Hasil perkalian antara jumlah tempat duduk yang tersedia dengan jarak penerbangan (Km) dari tiap-tiap penerbangan selama periode waktu tertentu.
4. Performed Total-Km
Jumlah perkalian berat barang (ton) dengan jarak (Km)dari tiap-tiap penerbangan selama periode waktu tertentu (satu tahun)
3.3 Sistem Transportasi Laut
Sedangkan transportasi laut ditunjang oleh 1 pelabuhan laut sebagai pintu gerbang utama masuknya penumpang, barang dan jasa. Pelabuhan Bima yang Bernama Pelabuhan
Pelra Bima dibangun pada Tahun 1963, merupakan pelabuhan laut utama di wilayah pengembangan Pulau Sumbawa Bagian Timur sebagai Pelabuhan Feeder. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat-tempat pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat pelabuhan kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dengan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi
Transportasi laut memegang peranan yang sangat penting pada perekonomian Kabupaten Bima. Hal ini dapat dilihat dari masih besarnya mobilitas orang dan barang baik yang keluar maupun masuk Kabupaten Bima yang menggunakan transportasi laut, yaitu
melalui Pelabuhan Bima. Pelabuhan Bima saat ini masih memegang peranan yang penting sebagai pintu gerbang perekonomian, tidak hanya bagi Kabupaten Bima tapi juga wilayah sekitar. Sebagai pelabuhan penumpang, pelabuhan ini menjadi penghubung bagi kawasan timur Indonesia dengan rute yang dilayani antara lain Kalimantan, Sulawesi dan Papua.
Sehubungan dengan fungsinya yang strategis, pelabuhan laut Bima memiliki dermaga samudera sepanjang 142 m dan luas lantai 2.050 m² serta dermaga pelayaran rakyat sepanjang 50 m dengan lantai 500 m². kedalaman air Teluk Bima 12 m, lebar minimum 1000 m dan kedalaman sepanjang 134 m dan luas lantai 750 m², open strorage 26.097 m², terminal penumpang 200 m, listrik dengan kekuatan 15 KVA dan 2 buah Bunker air bersih, masing-masing dengan volume 200 Ton.
Pelabuhan laut Bima saat ini sudah disinggahi kapal-kapal besar seperti KM AWU, KM Tatamelau, KM Kelimutu, Kapal Ferry Cepat Barito dan Kapal Ferry Cepat Serayu serta kapal-kapal perintis. Di samping itu juga menjadi pusat bongkar muat barang ekspedisi dan pelayaran.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan nya dapat kita lihat bahwa di kota Bima terdapat tiga moda transportasi yaitu Transportasi Darat, Transportasi Udara, dan Transportasi Laut. Dapat dilihat dari contoh sarana transportasi umum yang ada di Bima yaitu : kendaraan bermotor, mobil penumpang, mobil bus, mobil truk, sepeda motor, benhur, bemo, dan ojek yang banyak dilihat di jalanan.
Dari sektor udara, penerbangan di Bima dilayani oleh Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin atau biasa disebut Bandara Bima (BMU). BMU merupakan sebuah bandara kecil. Sebagai satu-satunya fasilitas transportasi udara di Bima, frekuensi penumpang di bandara tersebut semakin hari makin meningkat. Perkembangan pemudik di terminal udara ini terus meningkat, tak terbayangkan jumlah tersebut akan terus meningkat setiap tahunnya.
Sedangkan transportasi laut ditunjang oleh 1 pelabuhan yang bernama pelabuhan Pelra. Pelabuhan Bima saat ini masih memegang peranan yang penting sebagai pintu gerbang perekonomian, tidak hanya bagi Kabupaten Bima tapi juga wilayah sekitar.
Sebagai pelabuhan penumpang, pelabuhan ini menjadi penghubung bagi kawasan timur Indonesia dengan rute yang dilayani antara lain Kalimantan, Sulawesi dan Papua.
4.2 Saran
Untuk mengurangi masalah transportasi di Indonesia, khususnya di Kota Bima, yang dapat dilakukan yaitu memperbaiki sarana dan prasarana, pemerintah dan masyarakat setempat ikut adil dalam upaya ini agar terciptanya sarana dan prasarana yang baik.
Apabila upaya-upaya yang dilakukan pemerintah Kota Bima untuk menyelesaikan problem-problem transportasi ini hanya akan sia-sia jika kesadaran semua pihak untuk menciptakan sebuah sistem transportasi yang berkembang dan berkelanjutan menyiapkan pilihan mobilitas yang bervariasi termasuk berjalan kaki, bersepeda, dan lain-lain merupakan suatu perwujudan untuk mengurangi kemacetan di kota tersebut.
LAMPIRAN
Gambar 1 : Terminal Dara di Bima Gambar 2 : Bandara Sultan Muhammad Salahudin
Gambar 3 : Pelabuhan Pelra Bima
Gambar 4 : Angkutan Umum Bemo
Gambar 4 : Angkutan Tradisional Benhur