TUTORIAL BLOK IKGD 2 2023 SKENARIO 1
(TOPIK 1-4)
Ketua : Najwa Dwi Sabilillah (202211153)
Sekretaris : Kharisma Dwi Nur Assyfa (202211139) & Agusta Resti (202211140) Dosen Pembimbing : Supraja Dwiyono, dr., M.Biomed.
Kelas : F
SKENARIO
Seorang pasien wanita usia 20 tahun datang ke poli gigi sebuah RS. Pasien mengeluh kesulitan dan sakit saat mengunyah dan menelan makanan. Dari anamnesis diketahui bahwa pasien memiliki riwayat HIV sejak 1 tahun yang lalu dan mendapatkan terapi kombinasi antiretroviral Lamivudin dan Efavirenz, tetapi pasien mengaku sering lupa meminum obatnya.
Pemeriksaan ekstraoral menunjukkan adanya krusta kecoklatan pada bibir. Pada intraoral ditemukan lesi ulseratif berbentuk ireguler ditutupi dengan pseudomembran kekuningan pada mukosa labial RA (rahang atas) dan RB (rahang bawah), serta plak berwarna putih pada dorsum lidah yang dapat dikelupas, mukosa bukal dan palatum (Gambar 1). Dokter gigi yang memeriksa memutuskan untuk melakukan pemeriksaan penunjang tambahan berupa tes kultur, sitologi eksfoliatif serta biopsi jaringan untuk membantu menegakkan diagnosis dan diberikan terapi yang dilakukan tepat. Akhirnya dokter gigi yang merawat memberikan resep obat antijamur untuk mengobati kelainan dalam mulut pasien.
TERMINOLOGI 1. Poli gigi
Poli gigi merupakan suatu unit yang melayani perawatan gigi. Biasanya poli gigi berada di pusat fasilitas kesehatan yang memiliki berbagai jenis pelayanan seperti klinik, puskesmas, dan rumah sakit, yang tujuannya untuk melayani pasien yang akan melakukan perawatan gigi seperti perawatan jaringan lunak, konservasi, ortodontik, penyakit mulut, dan lainnya.
Sumber : Anggraini, S. Pengaruh Mutu Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut terhadap Kepuasan Pasien dan Poliklinik Gigi. 2014
2. Anamnesis
Anamnesis merupakan suatu pengumpulan data dengan cara tanya jawab antara terapis dengan sumber data, dimana dengan dilakukannya tanya jawab diharapkan akan memperoleh informasi tentang penyakit dan keluhan yang dirasakan oleh sumber data. terdapat dua macam jenis dari Anamnesis:
● Auto-Anamnesis = pemeriksaan langsung dengan pasien dalam bentuk tanya jawab atau pemeriksaan fisik,
● Allo-Anamnesis = dengan orang yang dianggap tau dan mengerti keadaan pasien/pemeriksaan dilaboratorium.
Sumber :
- Novitasari Andra, Ridlo Saiful, Nur Kristina Tri. Instrumen. Jurnal Penilaian Diri Kompetensi Klinis Mahasiswa Kedokteran. Universitas Negeri Semarang, 8 Mei 2017
- kusumaningrum,PW. jurnal proses fisioterapi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
2014.
3. HIV
HIV adalah kelompok Retrovirus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum tentu membutuhkan pengobatan. Meskipun demikian, orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain bila melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi penggunaan alat suntik dengan orang lain. sedangkan kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir dari infeksi HIV disebut AIDS (Acquired Immune DeficiencySyndrome). Acquired Immune Deficiency Syndrome atau AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena kekebalan tubuh yang menurun yang disebabkan oleh infeksi HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh pada seseorang maka orang tersebut sangat mudah terkena penyakit seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak dan kanker
Sumber : JOMIS (Journal of Midwifery Science) 4 (1), 63-68, 2020, Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Jember. 2015. Mengenal & Menanggulangi HIV & AIDS Infeksi Menular Seksual dan Narkoba. Jember: Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Jember.
4. Antiretroviral lamivudin
Terapi kombinasi antiretroviral Lamivudin adalah Pengobatan yang memiliki mekanisme tindakan untuk mencegah replikasi virus yang secara bertahap menurunkan jumlah virus dalam darah. kombinasi Obat ini digunakan untuk orang yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV) dengan pengombinasian obat yang tujuan nya untuk menurunkan kejadian penurunan kekebalan tubuh. Obat ini bekerja dengan cara memblokir berbagai tahapan siklus hidup virus (juga dikenal sebagai siklus replikasi). Tujuan utama pemberian ARV adalah untuk menekan jumlah virus (viral load), sehingga akan meningkatkan status imun pasien HIV dan mengurangi kematian akibat infeksi oportunistik.
Sumber :
- Jurnal Interaksi obat Antiretroviral pada pasien
- World Health Organization. Consolidated guideline on the use of antiretroviral drugs for treating and preventing HIV infection. 2nd ed. Geneva: World Health Organization; 2016.
5. Efavirenz
Efavirenz adalah penghambat transkripsi balik non-nukleosida(NNRTI) yang sering digunakan sebagai terapi lini pertama untuk pengobatan infeksi HIV. Efavirenz sangat hidrofobik dan memiliki kelarutan serta bioavailabilitas yang rendah(40-45%). Salah satu pengembangan beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk meningkatkan kelarutan dan disolusi efavirenz melalui pendekatan fisik adalah dispersi padat.
Sumber :Jurnal Peningkatan Disolusi dan Stabilitas Efavirenz Menggunakan Beberapa Metode Dispersi Padat,oleh Meylani Sutor, Yoga Windhu Wardhana, Camellia Panatarani,2023.
6. Pemeriksaan ekstraoral
Pemeriksaan ekstra oral merupakan pemeriksaan yang dilakukan di daerah sekitar mulut bagian luar. Meliputi bibir, TMJ, kelenjar limfe, hidung, mata, telinga, wajah, kepala dan leher. Pemeriksaan ekstraoral dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan yang terlihat secara visual atau terdeteksi dengan palpasi. Seperti adanya kecacatan, pembengkakan, benjolan luka, cedera, memar, fraktur, dan dislokasi lain sebagainya.
Sumber : Peter heasman giles McCracken. harty's Dental dictionary. Churchill livingstone
7. Krusta
Krusta adalah suatu deposit yang mengeras dengan ketebalan bervariasi, terbentuk dari serum, darah, atau eksudat purulen (nanah) yang mengering pada kulit atau vermilion bibir.
Proses yang mendasarinya adalah ulserasi dengan eksudasi atau rupturnya vesikel, bulla, atau pustula.
Sumber :Terezhalmy GT, dkk. (2009) 8. Lesi ulseratif
Lesi yang berbentuk ke dalam atau seperti kawah pada kulit atau mukosa mulut. Merupakan luka yang terbuka pada jaringan kulit atau mukosa yang menunjukkan disintegrasi atau nekrosis secara bertahap.
Sumber : Langlais R P, Miller C S, Gehrig J S. Color Atlas of Common Oral Disease.
5th ed. Philadelphia: Walters Kluwer; 2017: 18-25 9. Pseudomembran
Pseudomembran atau thrush adalah kondisi membran inflamasi superfisial yang berwarna putih keabuan. Yang terjadi karena organisme-organisme yang berada dalam eksudat fibtinosupuratif yang dapat dengan mudah dilepaskan sehingga terlihat dasar eritema dibawahnya.
Sumber : Maria francisca ham dkk., 2020. Buku ajar patologi robbins.Elsevier (singapore)Pte. Ltd.10th edition.e-book.
10. Mukosa labial
Mukosa labial adalah lapisan yang terdapat didalam bibir terletak di bagian rahang atas.
Daerah kulit tertutup epitel yang berkeratin, terdapat folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Merah bibir tertutup epitel yang tidak berkeratin.
Sumber :
- Odell EW. 2017. Cawson s Essentials of Oral Pathology and Oral Medicine, 9th ed.
Elsevier. Hal 256-259
- Rashmi GS (Phulari), Textbook of dental anatomy, physiology, and occlusion. New Deli; Jaypee Brothers Medical Publishers 2014
11. Plak
Plak gigi adalah kumpulan mikroorganisme berada pada permukaan gigi dalam yang berbentuk biofilm yang dapat mempengaruhi sistem rongga mulut.Koloni bakteri pada biofilm dapat menyebabkan infeksi. Bakteri dalam biofilm dapat merespon berbagai faktor, seperti pengenalan seluler dari pelekatan spesifik atau non-spesifik pada permukaan sel.
Merupakan lesi datar, solid, yang terdapat di area kulit atau mukosa yang diameternya lebih dari 1 cm
Sumber :
- Nila kasuma.,2016.Plak Gigi.Andalas university press.e-book.
- Langlais R P, Miller C S, Gehrig J S. Color Atlas of Common Oral Disease. 5th ed.
Philadelphia: Walters Kluwer; 2017: 18-25 12. Dorsum lidah
Dorsum (permukaan dorsal atau superior) dari lidah adalah organ utama untuk pengecapan.
Dorsum lidah berwarna merah keabu-abuan dan teksturnya kasar. Dorsum lidah ditutupi oleh dua jenis papilla, yaitu papilla filiformis yang mencakup 2/3 anterior dari permukaan dorsal lidah dan Papilla fungiformis yang tersebar di seluruh permukaan dorsum lidah, mudah diidentifikasi karena bentuk bulatnya yang besar dan warna merah tua.
Sumber : Mushatat SF, Khalaf AA. A clinical study about Oral lesions and normal variants of the Oral Mucosa. J Pharm Sci Res. 2018;10(7):1755–7.
13. Mukosa bukal
Mukosa bukal merupakan membran mucous yang menutupi bagian dalam pipi dan bibir.
Bagian atas dan bawah berbatasan dengan gingiva (alveolar ridge) sedangkan bagian posterior berakhir di trigonum retromolar (raphe pterygomandibular). mukosa bukal memiliki lapisan epitel setebal 500-800 um.
Sumber :
- Cancer of the oral cavity and salivary glands,2023
- Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia April 2020, Volume 4, Nomor 1: 11-5 14. Palatum
Palatum adalah sebutan pada bidang langit - langit mulut. Palatum dibagi menjadi 3 yaitu;
Palatum molle, Palatum durum, Raphe palati.
Gambar rongga mulut yang dibuka. Yang berwarna kuning adalah Palatum durum. Yang berwarna merah adalah Palatum molle. Yang berwarna biru adalah Raphe palati.
Palatum molle : Adalah langit-langit mulut (palatum) yang berada di bawah, sebelah atas Uvula palatina ( jika dibandingkan dengan uvula palatina) dan merupakan sangat belakang sendiri. (Tidak jauh dengan lubang mulut)
Palatum drum : Adalah langit-langit mulut (palatum) yang berada sangat atas, di sebelah beakang gigi seri dan gigi taring
Raphe Palati : Adalah langit-langit mulut (palatum) yang terlihat menonjol dan memanjang mulai dari depan hingga belakang palatum
Sumber : Baker EW. Anatomi untuk Kedokteran Gigi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran Gigi EGC; 2015
15. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang merupakan pemeriksaan medis yang dilakukan atas indikasi tertentu yang digunakan untuk memperoleh keterangan yang lebih jelas. Pemeriksaan ini umumnya dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan fisik secara komprehensif dan anamnesa terhadap riwayat keluhan atau riwayat penyakit pada pasien. Pemeriksaan penunjang harus memiliki alasan dan tujuan yang jelas. Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mengoptimalkan tindakan keperawatan dan proses penyembuhan pasien, serta membantu dalam memperkuat diagnosis.
Sumber :At a Glance Ilmu Bedah Ed. 3. (n.d.). (n.p.): Erlangga.
16. Tes kultur
Tes kultur, dalam konteks umum, merujuk kepada berbagai jenis tes atau metode yang digunakan untuk mengevaluasi pertumbuhan, perkembangan, atau reproduksi organisme hidup, seperti bakteri, jamur, sel-sel tumbuhan, atau sel-sel hewan dalam lingkungan laboratorium yang dikendalikan. Tes kultur ini dapat memberikan informasi penting tentang
sifat-sifat biologis organisme tersebut dan juga digunakan dalam berbagai aplikasi, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan mikrobiologi, dan pengembangan obat-obatan.
Beberapa contoh tes kultur termasuk:
1. Kultur Bakteri: Tes kultur bakteri digunakan untuk mengidentifikasi jenis bakteri tertentu, menguji kepekaan bakteri terhadap antibiotik, atau memproduksi bakteri secara massal untuk tujuan medis atau industri.
2. Kultur Sel: Ini adalah metode yang digunakan dalam biologi sel untuk mengkultivasi sel-sel hewan atau tumbuhan dalam media yang sesuai untuk penelitian atau produksi sel.
3. Kultur Jamur: Untuk mengkultivasi jenis-jenis jamur tertentu, baik untuk tujuan penelitian atau produksi jamur konsumsi manusia.
4. Kultur Jaringan: Metode ini digunakan dalam bidang biologi dan pertanian untuk mengkembangkan jaringan tumbuhan dalam kondisi laboratorium, yang dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman secara vegetatif.
5. Kultur Sel Tumor: Dalam penelitian kanker, sel-sel tumor dapat dikulturkan untuk mempelajari pertumbuhan dan sifat-sifat sel kanker.
6. Kultur Jaringan Hewan: Digunakan dalam penelitian biologi dan pengembangan vaksin serta obat-obatan untuk mengkultivasi jaringan hewan tertentu.
Sumber : Herman, H., Rahman, R., & Asti, H. (2019). PROKALSITONIN DAN KULTUR DARAH SEBAGAI PENANDA SEPSIS DI RSUP DR WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR. Jurnal Media Analis Kesehatan, 10(2), 152-162.
17. Sitologi eksfoliatif
Sitologi eksfoliatif mulut adalah cabang ilmu patologi yang mempelajari morfologi sel terdeskuamasi, baik yang normal maupun yang berubah karena proses patologis dengan menganalisa sel permukaan rongga mulut yang terlepas.Dapat digunakan sebagai metode screening untuk lesi-lesi jinak dan yang dicurigai keganasan pada mukosa oral. Pada prinsipnya secara fisiologis, sel-sel permukaan terus menerus terdeskuamasi karena jaringan tubuh terus mengalami pembaruan. dapat dilakukan di jaringan lunak rongga mulut seperti mukosa bukal, labial, lidah, serta palatal dan gingival. Dilakukan pengambilan sel-sel dengan cara mengerok/scraping atau menyikat/brushing mukosa oral untuk mengambil sel-sel yang masih kontak dengan jaringan atau yang sudah terdeskuamasi.
Sumber : Sabirin, Indah Puti Rahmayani. 2015. Sitopatologi Eksfoliatif Mukosa Oral sebagai Pemeriksaan Penunjang di Kedokteran Gigi. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, Vol 2(1): 157- 161 & Mehrotra R. The role of cytology in oral lesions: a review of recent improvements. Diagn Cytopathol.J;40(1):73-83
18. Biopsi
Biopsi adalah tindakan mengambil sampel dari bagian tubuh, untuk mendapatkan jaringan yang diperlukan dalam pemeriksaan mikroskopis yang akan menentukan apakah jaringan tersebut adalah jaringan normal atau patologis (jaringan dengan penyakit, seperti tumor ganas atau jinak, infeksi dan lainnya). Biopsi bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis
suatu penyakit sehingga dapat mengetahui jenis pengobatan atau terapi yang terbaik bagi pasien sesuai dengan penyakitnya. Dalam beberapa kasus, biopsi dapat digunakan untuk menilai perkembangan dari suatu penyakit atau pengobatannya.
Sumber : dr. M. Naseh Sajadi Budi Irawan, Sp.OT(K). Jurnal Indonesia Orthopedic Association. 2021
19. Resep obat
Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan perundangan yang berlaku penulisan resep rasional setidaknya terdiri dari inscriptio, prescriptio, signatura dan subscriptio.
Sumber : Wanda lisyanto prabowo, 2021. Teori tentang pengetahuan peresepan obat. Jurnal medika hutama. Vol.02 No.04.
20. Anti jamur
Obat antijamur adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur.Antijamur adalah kelompok obat yang bermanfaat untuk mengatasi infeksi jamur. Obat antijamur atau antifungi ini tersedia dalam berbagai bentuk sediaan, mulai dari tablet, krim, salep, suntik, hingga sampo.Obat antijamur dapat bekerja dengan membunuh atau menghambat perkembangan sel jamur. Obat golongan ini umumnya menarget dinding sel atau membran sel jamur yang dibutuhkan jamur untuk memperbanyak diri dan bertahan hidup.
Sumber : Siswandono, Tri Widiandani. Kimia Medisinal 2 Edisi 2. Airlangga University Press. 2016.
IDENTIFIKASI MASALAH
1.) Pasien mengeluh kesulitan dan sakit saat mengunyah dan menelan makanan.
2.) Pemeriksaan ekstraoral menunjukkan adanya krusta kecoklatan pada bibir
3.) Pada intraoral ditemukan lesi ulseratif berbentuk ireguler ditutupi dengan pseudomembran kekuningan
4.) pasien memiliki riwayat HIV sejak 1 tahun yang lalu
5.) plak berwarna putih pada dorsum lidah yang dapat dikelupas
HIPOTESIS
● Ulkus Aftosa
● Kandidiasis oral
● Infeksi HIV
MORE INFO
1.) pasien wanita usia 20 tahun datang ke poli gigi sebuah RS.
2.) Dari anamnesis diketahui bahwa pasien memiliki riwayat HIV sejak 1 tahun yang lalu dan mendapatkan terapi kombinasi antiretroviral Lamivudin dan Efavirenz
3.) pasien mengaku sering lupa meminum obatnya.
4.) Pasien mengeluh kesulitan dan sakit saat mengunyah dan menelan makanan 5.) Pemeriksaan ekstraoral : adanya krusta kecoklatan pada bibir
6.) Pemeriksaan intraoral : adanya lesi ulseratif berbentuk ireguler ditutupi dengan pseudomembran kekuningan pada mukosa labial RA dan RB, serta plak berwarna putih pada dorsum lidah yang dapat di kelupas.
7.) Dokter gigi yang memeriksa memutuskan untuk melakukan pemeriksaan penunjang tambahan berupa tes kultur, sitologi eksfoliatif serta biopsi jaringan untuk membantu menegakkan diagnosis dan diberikan terapi yang dilakukan tepat
8.) Akhirnya dokter gigi yang merawat memberikan resep obat antijamur untuk mengobati kelainan dalam mulut pasien.
MEKANISME
I DON'T KNOW
1. Apakah pasien masih mengonsumsi obat hiv yg di berikan dokter sebelumnya?
2. Apakah pasien sering memegang/menggaruk luka pada bibir sehingga krusta menjadi kecoklatan?
3. Apakah pasien memiliki bad habits dalam berpasangan sehingga mengalami HIV?
4. Bagaimana cara pasien menjaga oral hygiene?
5. Apakah ada riwayat keluarga pasien yang mengalami penyakit HIV?
6. Apakah pasien Ada mengalami komplikasi penyakit yang lain?
7. Apakah ada gejala lain yang dirasakan oleh pasien tersebut selain kesulitan mengunyah dan menelan makanan?
8. Tipe berapakah HIV yang diderita pasien tersebut?
9. Sejak kapan pasien sulit mengunyah dan menelan makanan?
10. Apakah pasien merasakan efek samping dari obat selama terapi kombinasi antiretroviral lamivudin dan efavirenz?
11. Bagaimana riwayat minum obat Pasien apakah Pasien rutin meminum obatnya?
LEARNING ISSUE
1.Apa saja ciri-ciri dari virus secara umum?
Jawaban : Virus merupakan struktur sangat sederhana yang strukturnya terdiri dari genom asam nukleat, yg dilindungi oleh kulit dari protein. Metabolisme nya sangat lambat dan hanya dapat hidup didalam sel hospes (obligat intraseluler), hanya dapat memperbanyak diri (replikasi) jika dibiakan pada kultur sel, tidak dapat dibiakkan pada medium buatan.
Genom hanya terdiri satu tipe asam nukleat, yaitu RNA saja tau DNA saja. Sebagian besar DNA virus adalah double stranded dan sebagian besar RNA mempunyai genom single stranded (ss). Suatu genom sRNA adalah positive sense ( dapat digunakan sebagai mRNA untuk membentuk protein atau negative sense y dapat dikopi menjadi mRNA. Virus tidak mempunyai organel dan ukurannya sangat kecil sehingga tidak bisa dilihat dengan mikroskop sinar biasa.
Sumber: Subhash Chandra Parija. Textbook of Microbiology and Immunology. 2nd ed. New Delhi: Elsevier;2012:429.
2.Bagaimana cara penularan dan pencegahan dari terinveksinya penyakit HIV?
Jawaban :
Faktor Penularan HIV
HIV masuk melalui dua jalur yaitu melalui cairan kelamin dan darah, sehingga faktor risiko HIV berhubungan dengan kedua hal tersebut antara lain:
● Sering berganti pasangan
● Melakukan hubungan seksual yang beresiko baik homoseksual maupun heteroseksual
● Menggunakan jarum suntik narkoba secara bersamaan
● Penularan dari ibu hamil yang mengidap HIV melalui plasenta ke janin Pencegahan HIV
Penularan HIV dapat dicegah melalui langkah-langkah sebagai berikut:
● Saling setia terhadap pasangan, hindari berganti-ganti pasangan
● Hindari penggunaan narkoba terutama melalui jarum suntik
● Edukasi HIV yang benar mengenai cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya, dapat membantu mencegah penularan HIV di masyarakat.
Sumber : Yetika Marlinda, Muhammad Azinar. Jurnal of Health Education.
Universitas Negeri Semarang. 2017
3.Apa sajakah ciri ciri infeksi jamur oral ?
Jawaban :
Ciri ciri infeksi pada jamur ada bermacam macam gejala infeksi jamur candida pada oral sendiri dapat berupa:
- bercak kuning atau putih di sekitar lidah, mukosa labial, gingiva - kemerahan pada di mulut dan tenggorokan
- terdapat kulit yang pecah di sekitar mulut - rasa nyeri saat menelan
- luka pada sudut bibir
sedangkan pada pasien yang menggunakan terapi kortikosteroid atau pada pasien dengan imunosupresi. Presentasi nya adalah
- plak putih multiple yang dapat dibersihkan - mukosa terdapat eritema
- adanya sensasi tersengat ringan - kegagalan dalam pengecapan.
Sumber : Bhattacharya, S.Sae-Tia, S. & Fries B. Candidiasis and Mechanisms of Antifungal Resistance. Antibiotics. 2020; 9(6):312.
4. Bagaimana klasifikasi morfologi jamur, dan termasuk yang manakah jamur penyebab kelainan kasus tersebut?
Jawaban :
Berdasarkan morfologi jamur memiliki 2 bentuk pertumbuhan dasar:
• Jamur unisel yang benbentuk oval/lonjong dengan diameter bervariasi dari 3-15 um.
Berkembang biak dengan cara membelah diri (aseksual) membentuk tunas atau budding cell.
Yeast membentuk koloni basah dan berbau seperti ragi. Koloni yeast biasanya lembut, opaque, berukuran 1- 3mm, dan berwarna krem.
Terbagi dua:
a) yeast murni (jamur unisel tidak mampu membentuk pseudoifa atau klamidospora)
b) yeast like (jamur unisel yang mampu membentuk pseudoifa, berupa rantai sel yeast yang mengalami elongasi karena gagal berpisah pada proses budding). Contoh; Candida sp, Candida albicans, Torulla- koloni berwarna merah / orange, Cryptococcus neoformans)
• Mold
Jamur multisel dengan sel-sel tubulus silindris memanjang dan bercabang yang disebut hifa dengan diameter bervariasi dari 2-10 um. serta membentuk anyaman (miselium). Hifa yang dibentuk ada yang bersekat maupun tidak bersekat. Hifa di atas permukaan media disebut hifa aerial yang berfungsi sebagai alat berkembangbiak. Hifa yang berada di dalam media disebut hifa vegetatif berfungsi sebagai alat untuk meyerap makanan. Contoh: Aspergillus, Penicillium, Rhizopus, Mucor, Microdporum, Trichophyton, Epidermophyton.
• Dimorfik
Beberapa species, termasuk jamur patogen berbentuk dimorfik. Jamur ini mempunyai dua bentuk, yeast dan mold tergantung kondisi lingkungan seperti temperatur dan nutrisi yang tersedia. Berbentuk yeast jika berada di dalam inang/host atau pada suhu inkubasi 37°C, dan berbentuk mold jika berada di luar host atau pada suhu inkubasi suhu ruang. Contoh:
Histoplasma capsulatum, Coccidioides immitis, Blastomyces dermatidis
Jamur penyebab kelainan pada kasus tersebut adalah Candida spp., umumnya C. Albicans dan C. dubliniensis. Spesies Candida berbentuk oval dari proses budding sel yeast dengan ukuran berkisar 2-10 um, dan membentuk pseudohifa. Pada media agar atau pada suhu ruang atau suhu 37°C selama 24 jam, Candida memproduksi koloni lembut berwarna krem dan berbau ragi. Tidak seperti spesies Candida lain, Candida albicans berbentuk dimorfik, selain berupa yeast dan memiliki pseudohifa, Candida albicans juga dapat memproduksi hifa sesungguhnya. Setelah inkubasi selama 90 menit pada suhu 37°C, sel yeast C.albicans mulai membentuk hifa sesungguhnya.
Sumber :
- Regezi JA, Sciubba JJ, Jordan RCK. Oral Pathology: Clinical Pathologic Correlations. 7th ed. Missouri: ELSEVIER. 2017:105-106.
- Riedel S, Morse SA, Mietzner T, Miller S, et al. Jawets, Melnick, & Adelberg's Medical Microbiology. 28th ed. New York: LANGE McGraw Hill. 2019: 675-676, 700-701.
5.Jelaskan perbedaan antara plak dan pseudomembran?
Plak merupakan lesi datar, solid, yang terdapat di area kulit atau mukosa yang diameternya lebih dari 1 cm, meskipun pada dasarnya plak tidak dalam, plak bisa meluas dan bertambah dalam ke dermis dibandingkan dengan papula.
Sedangkan pseudomembran: lapisan tipis berwarna putih keabu abuan yang timbul terutama di daerah mukosa hidung, mulut sampai tenggorokan. Pseudomembran memiliki tanda klinis berupa lesi bercak atau plak putih yang terdapat di lidah, palatum, dan bukal, kemudian jika dikerok akan terlepas, meninggalkan permukaan mukosa merah dan dapat disertai perdarahan ringan
Sumber : Langlais R P, Miller C S, Gehrig J S. Color Atlas of Common Oral Disease.
5th ed. Philadelphia: Walters Kluwer; 2017: 18-25.
6.Obat anti jamur apakah yang dapat digunakan pada kasus pasien ?
pada kasus ini infeksi jamur terjadi pada oral yaitu kandidiasis pseudomembran jadi obat yang dapat digunakan adalah nistatin. nistatin merupakan obat golongan polien yang biasa digunakan untuk pengobatan kandidiasis oral, obat ini terdapat dalam bentuk:topikal,bentuk krim dan suspensi oral.
Sumber :Hakim L, Ramadhian M R. Kandidiasis Oral. Majority. 2015; 4 (8): 54-56 7. Apa saja Klasifikasi tipe HIV?
Virus HIV terbagi menjadi 2 tipe utama, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Cara penularan HIV-2 sama dengan HIV-1, yaitu melalui kontak seksual, paparan melalui darah (transfusi darah, penggunaan jarum suntik bersama), dan penularan perinatal.HIV-2 secara intrinsik resisten terhadap penghambat transkriptase balik nonnukleosida (NNRTI) generasi pertama dan penghambat fusi enfuvirtide Masing-masing tipe terbagi lagi menjadi beberapa subtipe. Pada banyak kasus, infeksi HIV disebabkan oleh HIV-1, 90% di antaranya adalah HIV-1 subtipe M. Sedangkan HIV-2 diketahui hanya menyerang sebagian kecil individu, terutama di Afrika Barat.
Infeksi HIV dapat disebabkan oleh lebih dari 1 subtipe virus, terutama bila seseorang tertular lebih dari 1 orang. Kondisi ini disebut dengan superinfeksi. Meski kondisi ini hanya terjadi kurang dari 4% penderita HIV, risiko superinfeksi cukup tinggi pada 3 tahun pertama setelah terinfeksi.
Tahapan Infeksi HIV
Infeksi HIV dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu
1. Tahap pertama adalah serokonversi, yaitu periode waktu tertentu dimana antibodi HIV sudah mulai berkembang untuk melawan virus. Orang yang terinfeksi virus HIV akan mengalami sakit mirip seperti flu, beberapa minggu setelah terinfeksi, selama satu hingga dua bulan. Kemudian, setelah kondisi tersebut, HIV dapat tidak menimbulkan gejala apapun selama beberapa tahun.
2. Tahap kedua adalah masa ketika tidak ada gejala HIV yang muncul. Dalam periode ini infeksi HIV berlangsung tanpa menimbulkan gejala. Virus terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh. Pengidap akan tetap merasa sehat. Bahkan, ia bisa saja sudah menularkan infeksi kepada orang lain. Tahap ini dapat berlangsung hingga 10 tahun atau lebih.
3. Tahap ketiga disebut sebagai tahap HIV simtomatik. Apabila pengidap HIV tidak mendapat penanganan tepat, virus akan melemahkan tubuh dengan cepat. Pada tahap ketiga ini, pengidap lebih mudah terserang penyakit serius. Tahap akhir ini dapat berubah menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).
Sumber :da Silva Z, Oliveira I, Andersen A, et al. Changes in the prevalence and incidence of HIV-1, HIV-2 and multiple infections in the urban area of Bissau, Guinea-Bissau: is HIV-2 disappearing? AIDS. 2018; 22:1195-202