• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI ANI JUMRIANI 10533 7526 13

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "SKRIPSI ANI JUMRIANI 10533 7526 13"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Pustaka

  • Hasil Penelitian yang Relevan
  • Pengertian Bahasa
  • Perkembangan Bahasa Anak
  • Pengertian Pragmatik
  • Tindak Tutur, Peristiwa Tutur, dan Bentuk Tuturan
  • Aspek-aspek Situasi Tutur
  • Kemampuan Guru Sebagai Pembimbing

Beberapa literatur yang relevan menjadi dasar penelitian ini mencakup berbagai hasil penelitian mengenai tindak tutur. Istilah deskriptif untuk tindak tutur yang berbeda digunakan untuk maksud komunikatif penutur dalam memproduksi tuturan. Berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tindak tutur adalah kegiatan tindakan dengan mengatakan sesuatu.

Peristiwa tutur merupakan rangkaian sejumlah tindak tutur yang diselenggarakan untuk mencapai suatu tujuan. Tindak tutur dan peristiwa tutur merupakan dua gejala yang terlibat dalam suatu proses, yaitu proses komunikasi. Searle (dalam Chaer menyebut tindak tutur lokusi ini sebagai tindak preposisional) karena tindak tutur ini hanya berkaitan dengan makna saja. Kalimat (1) dan (2) di bawah merupakan tindak wacana lokusi.

Tindak tutur direktif, sering juga disebut tindak tutur imposif, merupakan tindak tutur yang penuturnya bermaksud agar mitra tuturnya melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan tersebut. Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang penutur bermaksud agar tuturannya dimaknai sebagai evaluasi terhadap hal-hal yang disebutkan dalam tuturan tersebut. Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penutur untuk melaksanakan apa yang diutarakan dalam tuturannya.

Menjanjikan, mengumpat, mengancam, menyatakan komitmen merupakan ungkapan yang termasuk dalam jenis tindak tutur komisif. Tindak tutur asertif adalah tindak tutur yang membuat penuturnya yakin akan kebenaran yang dibicarakannya. Perlokusi merupakan tindak tutur yang sekedar menciptakan tuturan yang mempunyai fungsi, tanpa bermaksud agar tuturan tersebut mempunyai akibat (Yule, 2006: 84).

Tindak tutur sebagai suatu bentuk tindakan atau kegiatan, artinya tindak tutur juga merupakan tindakan. Sebagaimana disebutkan di atas, tindak tutur ilokusi merupakan ungkapan yang berfungsi selain mengatakan atau memberitahukan sesuatu, tetapi juga berfungsi untuk melakukan sesuatu. Dalam kajian pragmatik, makna tindak tutur sangat penting bagi penutur bahasa dan penutur bahasa lisan.

Fungsi pengarah mengacu pada kemampuan melakukan tindak tutur tertentu, seperti meminta, menyarankan, mempengaruhi, dan sebaliknya. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengungkap tindak tutur yang digunakan sebagaimana adanya.

Batasan Istilah

Data dan Sumber Data

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Analisis Data

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Pennelitian

Pembahasan

Setelah dilakukan identifikasi dan analisis data maka dapat diketahui bahwa dalam proses pembelajaran di TK Aisyiah Buntu Ampang terlihat bahwa guru dan siswa membentuk tindak tutur ilokusi yaitu tindak tutur indikatif, tindak tutur ekspresif, tindak tutur komisif dan tuturan asertif. tindakan. Indikator tindak tutur jenis ini adalah tindakan yang dilakukan mitra tutur setelah mendengar tuturan tersebut. Tindak tutur ini mendorong penuturnya untuk mau melakukan sesuatu. Pada dasarnya tindak tutur ini dapat memerintahkan lawan bicaranya untuk melakukan suatu tindakan, baik verbal maupun nonverbal.

Tindak tutur direktif merupakan tindak tutur yang bertujuan untuk menghasilkan suatu akibat berupa suatu tindakan yang dilakukan oleh penutur. Tindak tutur ekspresif merupakan tindak tutur yang penutur bermaksud agar tuturannya dimaknai sebagai evaluasi terhadap hal-hal yang disebutkan dalam tuturan tersebut. Tindak tutur jenis ini mencakup ungkapan terima kasih, selamat, permintaan maaf, kritik, pujian, belasungkawa, sanjungan, menyalahkan, tuduhan, dan kritik.

Tindak tutur yang diatur adalah tindak tutur yang mewajibkan penuturnya untuk melaksanakan apa pun yang dituturkan dalam tuturannya. Dalam penelitian ini, terdapat beberapa jenis tindak tutur imperatif yang ditemukan pada anak TK, misalnya ancaman, janji, penawaran, dan penolakan secara paksa. Tindak tutur afirmatif merupakan tindak ilokusi yang penuturnya terikat oleh kebenaran proposisi yang diungkapkan (Searle dalam Rusminto, 2006: 73).

Jenis tindak tutur ini meliputi tindak tutur menyatakan atau menceritakan, menyarankan, menyombongkan diri, mengeluh, menuntut dan melaporkan (Searle dalam Tarigan. Berdasarkan hasil penelitian tindak tutur yang digunakan dalam proses belajar mengajar di TK Aisyah Buntu Ampang Baroko Desa Baroko, menunjukkan bahwa guru dan siswa menggunakan tindak tutur berdasarkan fungsi bahasanya dan tindak tutur berdasarkan penggunaannya.Tindak tutur guru dan siswa di TK Aisyiah Buntu Ampang Desa Baroko Kecamatan Enrekang pada Proses pembelajaran masih terjalin secara aktif dan dinamis, meskipun terdapat campuran bahasa daerah dan bahasa Indonesia yang digunakan selama proses pembelajaran.

Tindak tutur dalam interaksi belajar mengajar di TK Aisyiah Buntu Ampang terdiri dari tindak tutur ilokusi antara guru-siswa, siswa-guru. Jenis tindak tutur ilokusi yang terdapat pada tuturan guru-siswa adalah tindak tutur langsung, tindak tutur ekspresif, tindak tutur komisif, dan tindak tutur asertif. Dalam tuturan guru-siswa ditemukan beberapa pernyataan dalam tindak tutur direktif yaitu ajakan, perintah, larangan dan nasehat.

Tindak tutur ekspresif terbagi menjadi beberapa pernyataan, antara lain: kesedihan, kesakitan, kebencian, permasalahan, kekecewaan, rasa bersalah. Tindak tutur komisif dibedakan menjadi beberapa tuturan, yaitu: tuturan ancaman, janji, penawaran, dan penolakan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Melalui hasil penelitian, ada baiknya bagi para guru bahwa kebiasaan berbahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di rumah dapat mempengaruhi penggunaan bahasa ketika individu melakukan komunikasi sosial di lingkungan sekolah. Sehingga individu khususnya anak usia prasekolah dapat melakukan interaksi sosial pada saat kegiatan belajar mengajar maupun di luar kegiatan belajar. Interaksi sosial di lingkungan sekolah menuntut anak untuk memahami percakapannya dengan guru dan temannya.

Untuk meningkatkan pemahaman terhadap isi dan tujuan percakapan yang dilakukan oleh anak TK, alangkah baiknya guru dari setiap kelas mendapat pendidikan bahasa yang baik dan benar, agar anak mengetahui cara berbicara yang sopan dan santun. , sehingga dapat terjalin komunikasi yang baik antara individu dengan temannya, lingkungan sekolah dan masyarakat. Departemen Pendidikan Nasional 2004. Apa, Mengapa dan Siapa Penanggung Jawab Program Pendidikan Anak Usia Dini di Taman Kanak-Kanak.

Referensi

Dokumen terkait

Soetojo Prawirohamidjojo dan Asis Safioedin, Hukum Orang dan Hukum, Keluarga, Alumni, Bandung1985, Suwarma,undang-undang hukum perkawinan dalam perspektif adat di Indonesia Jakarta