PENDAHULUAN
Masalah Penelitian
- Identifikasi Masalah
- Pembatasan Masalah
- Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian sebelumnya, dikatakan bahwa Indonesia termasuk dalam kelompok negara dengan rata-rata manajemen laba yang tinggi dan tingkat perlindungan investor di Indonesia dinilai relatif rendah. Selain itu, tindakan manajemen laba dapat merugikan pemegang saham, dan informasi laba yang disajikan dapat mengakibatkan keputusan investasi yang salah sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai faktor apa saja yang mempengaruhi tindakan manajemen laba.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh keahlian akuntan publik terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur subsektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Untuk mengetahui pengaruh persentase jumlah direktur independen terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur subsektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan.
Kegunaan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh persentase kepemilikan saham institusional terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur sub sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sistematika Penulisan
LANDASAN TEORI
Pengertian dan Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Leopold A. Berstein (1998), laporan keuangan mewakili kinerja keuangan masa lalu dan posisi keuangan saat ini. Menurut Zaki Baridwan (2006) dan PSAK (2009), laporan keuangan akan bermanfaat jika memenuhi tujuh ciri berikut: . 1) Relevan.
Pengertian Manajemen Laba
Manajemen laba adalah tindakan seorang manajer untuk meningkatkan (menurunkan) laba yang dilaporkan saat ini dari suatu unit bisnis yang menjadi tanggung jawab manajer tersebut, tanpa meningkatkan (menurunkan) profitabilitas ekonomi jangka panjang dari unit tersebut. Sedangkan Scott (2000) menyatakan manajemen laba adalah pemilihan kebijakan akuntansi yang dilakukan manajemen untuk tujuan tertentu.
Motivasi Manajemen Laba
Misalnya saja dengan menggunakan metode penilaian persediaan LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah bagi perusahaan dibandingkan dengan menggunakan metode perhitungan persediaan lainnya seperti FIFO. Manajer perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana (IPO) cenderung melakukan manajemen laba, yaitu meningkatkan laba bersih perusahaan untuk menarik minat investor sehingga perusahaan memperoleh harga saham yang lebih tinggi.
Bentuk-Bentuk Manajemen Laba
Dahlan (2009) juga membuktikan bahwa kualitas auditor berpengaruh negatif signifikan terhadap tindakan manajemen laba, namun bertentangan dengan hasil penelitian Widyaningdyah (November: 2001) dalam penelitiannya yang menguji pengaruh reputasi auditor terhadap manajemen laba, ternyata . bahwa reputasi auditor tidak berpengaruh signifikan dan penelitian Vina (2005) yang menguji kualitas audit sebagai proksi spesialisasi industri Kantor Akuntan Publik (KAP) berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap manajemen laba. Dalam penelitian ini manajemen laba yang diproksikan dengan Discretionary Accrual (DA) Untuk menentukan Discresionary Accrual (DA), peneliti menggunakan model Utami (2006). Maka hipotesis alternatif pertama (Ha1) yang menyatakan keahlian auditor berpengaruh terhadap manajemen laba diterima.
Oleh karena itu hipotesis alternatif kedua (Ha2) yang menyatakan proksi independen berpengaruh terhadap manajemen laba tidak diterima. Ho4: Keahlian akuntan publik (antara KAP Big 4 dan KAP non Big 4), persentase jumlah komisaris independen dan persentase kepemilikan saham institusional secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Oleh karena itu hipotesis alternatif pertama (Ha4) diterima yang menyatakan bahwa keahlian akuntan publik, persentase jumlah komisaris independen dan persentase kepemilikan saham institusional secara simultan (simultan) berpengaruh terhadap manajemen laba.
Unsur-Unsur Laporan Keuangan yang Menjadi Sasaran
Agency Theory
Pemegang saham sebagai pihak utama mengadakan kontrak untuk memaksimalkan kesejahteraannya dengan profitabilitas yang terus meningkat. Masalah keagenan muncul akibat perilaku oportunistik agen, yaitu perilaku manajemen untuk memaksimalkan kesejahteraannya sendiri yang bertentangan dengan kepentingan prinsipal.
Tujuan Dilakukannya Manajemen Laba
Model Empiris Manajemen Laba
Pendekatan Modified Jones Model ini menjelaskan bahwa total akrual (TA) merupakan selisih antara laba (NI) dan arus kas dari aktivitas operasi (CFO). Oleh karena itu, laba akuntansi harus dikurangi dengan arus kas yang diperoleh dari aktivitas operasi (cash flow from operating events) selama periode yang bersangkutan (Sulistyanto; 2008). Sebab, kedua arus kas tersebut bukan merupakan hasil yang diperoleh dari aktivitas non-operasional perusahaan.
Freidlan (1994) juga menggunakan penjualan sebagai deflator, yang memodifikasi model De Angelo (1986) menjadi hubungan antara perubahan total akrual dan penjualan.
Corporate Governance
Dalam penelitian ini manajemen laba diproksikan dengan Discretionary Accruals (DA), dengan menggunakan model perhitungan Accruals dari Wiwik Utami (2006), sehingga nilai Discretionary Accruals (DA) dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut. Pada hasil uji statistik tabel t (Tabel 4.10), nilai uji signifikansi t membuktikan bahwa variabel keterampilan akuntan publik berpengaruh terhadap manajemen laba dengan tingkat kepercayaan sebesar 95%. Oleh karena itu, hasil pengujian ini tidak sesuai dengan hipotesis kedua yang menyatakan bahwa direktur independen berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Astuti (2006) yang mengatakan bahwa berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Faktor yang Mempengaruhi Manajemen Laba
- Keahlian Akuntan Publik (KAP Big-four atau KAP
- Persentase Dewan Komisaris Independen
- Persentase Kepemilikan Institusional
Kerangka Pemikiran
Namun keinginan untuk mendapatkan peringkat yang baik dapat menimbulkan moral hazard di pihak manajemen, yaitu melalui penerapan manajemen laba. Peneliti melihat ada beberapa faktor yang seharusnya mempengaruhi munculnya manajemen laba, sehingga peneliti ingin mengetahui apakah keahlian akuntan publik, persentase jumlah auditor independen dan persentase kepemilikan institusional dapat mempengaruhi adanya manajemen laba pada perusahaan. perusahaan.
Rumusan Hipotesis
METODE PENELITIAN
Data dan Sumber Data
Data sekunder berupa laporan keuangan auditan, laporan auditor, persentase dewan independen dan persentase kepemilikan institusional. Pertama, studi warisan, yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari literatur, artikel, jurnal, dan hasil penelitian terdahulu.
Pengumpulan Variabel
Identifikasi dan Pengukuran Variabel
- Variabel Dependen
- Variabel Independen
Kas dan setara kas merupakan aset operasi yang paling mudah dan paling banyak disalahgunakan, karena mudah digunakan atau dibelanjakan (Sulistyanto, 2008). Oleh karena itu variabel tersebut merupakan variabel dummy yaitu penggunaan skala 1 untuk auditor yang termasuk dalam kelompok KAP Big 4 dan skala 0 untuk auditor yang termasuk dalam kelompok KAP Non-big 4 Kantor Akuntan Publik yang termasuk dalam kelompok KAP Big 4 adalah: Price Waterhouse Coopers (PWC), Ernst and Young (EY), Deloitte dan KPMG. 2) Persentase jumlah komisaris independen.
Klein (2002a) membuktikan dalam penelitiannya bahwa besarnya diskresi akrual lebih tinggi pada perusahaan yang memiliki komite audit yang terdiri dari beberapa direktur independen, dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki komite audit yang terdiri dari banyak direktur independen.
Model Empiris
Variabel ini diukur dengan persentase kepemilikan institusional dalam struktur saham perusahaan, karena karena kepemilikan institusional dapat memantau perkembangan investasi secara profesional, maka tingkat kendali terhadap manajemen sangat tinggi sehingga kemungkinan terjadinya kecurangan dapat ditekan. investor mempunyai pengalaman karena mempunyai kemampuan mengolah informasi dibandingkan dengan investor individu.
Alat Analisa Data
Statistik deskriptif merupakan analisis yang menjelaskan gejala-gejala yang terdapat pada seluruh variabel penelitian untuk mendukung hasil analisis statistik. Pengujian tersebut dimaksudkan untuk mengetahui tingkat ketelitian terbaik dalam analisis regresi yang dinyatakan dengan koefisien determinasi komposit (R². R² = 1 artinya variabel independen berpengaruh sempurna terhadap variabel dependen (terikat), sebaliknya jika R² = 0 berarti variabel independen tidak memberikan pengaruh yang sempurna terhadap variabel dependen.
Jika nilai t-angka > + t-tabel atau angka < -i-tabel, maka variabel independen secara individual mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.
Tehnik Pengujian Asumsi Klasik
- Uji Normalitas
- Uji Autokorelasi
- Uji Multikolinearitas
- Uji Heterokedastisitas
Nilai Adjusted R² pada penelitian ini sebesar 0,235. Artinya ketiga variabel independen yaitu keahlian akuntan publik, persentase jumlah komisaris eksternal (independen) dan persentase kepemilikan institusional mampu menjelaskan variasi sebesar 23,5%. dalam manajemen laba. Berdasarkan uji statistik F pada tabel 4.11 di bawah ini maka model regresi dalam penelitian ini dapat digunakan untuk menjelaskan manajemen laba atau dapat dikatakan keahlian akuntan publik, persentase jumlah komisaris independen dan persentase institusional. kepemilikan bersama. atau secara simultan mempengaruhi manajemen laba. Nilai konstanta (α) pada model regresi penelitian sebesar 0,148 yang berarti tanpa variabel keahlian akuntan publik, persentase jumlah komisaris independen dan persentase kepemilikan institusional maka manajemen laba perusahaan dalam penelitian ini adalah sebesar 0,148 .
Oleh karena itu, hasil pengujian ini sesuai dengan hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Penulis menyarankan untuk menguji kembali salah satu variabel independen yaitu persentase jumlah komisaris independen karena peneliti dalam penelitian ini gagal membuktikan pengaruhnya terhadap manajemen laba. “Analisis Pengaruh Leverage, Spesialis Industri Auditor, Jumlah Komisaris Independen, Kepemilikan Institusional Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur di BEI”.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Objek Penelitian
Statistik Deskriptif
Analisis Hasil Penelitian
Berdasarkan Tabel 4.3 terlihat bahwa 53% sampel merupakan perusahaan yang melakukan praktik manajemen laba yang sifatnya menurun, dan sisanya melakukan praktik peningkatan laba, sehingga banyak perusahaan yang melakukan praktik manajemen laba yang bersifat meningkatkan laba atau penghasilan. pengurangannya hampir sama. Kemudian dilakukan uji asumsi klasik dan dilakukan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen baik secara individu maupun kolektif.
Pengujian Asumsi Klasik
- Hasil Uji Normalitas Data
- Hasil Uji Autokorelasi
- Hasil Uji Multikolinearitas
- Hasil Uji Heterokedastisitas
Untuk mengetahui apakah data pada penelitian ini mengandung autokorelasi atau tidak, dapat disimpulkan dari uji Durbin-Watson yang memberikan nilai DW. Oleh karena itu pada Tabel 4.6 nilai DW sebesar 2,232 antara batas (du = 1,73) dan (4-du = 2,27), sehingga dapat disimpulkan bahwa data pada penelitian ini tidak mempunyai korelasi positif dan negatif atau dapat diartikan karena tidak ada autokorelasi. Berdasarkan Tabel 4.7 dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas pada model regresi penelitian ini, dibuktikan dengan nilai toleransi ketiga variabel independen > (lebih besar) dari 0,10 dan nilai VIF ketiga variabel independen < 10.
Dalam penelitian ini heteroskedastisitas diuji dengan menggunakan uji Glejser, apabila variabel independen secara statistik berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (nilai signifikan < 5%), maka terdapat indikasi terjadi heteroskedastisitas.
Test of Goodness of Fit (adjusted R²)
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat faktor selain keahlian akuntan publik, persentase jumlah komisaris eksternal (independen) dan persentase kepemilikan institusional yang juga dapat berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Uji Statistik t (Uji Individu)
DA KAP – 0,13 KOM_Indpndn – 0,126 SHM_Insttsi Tabel 4.10 juga menjelaskan hasil uji signifikansi t yang menunjukkan dua dari tiga variabel independen dalam penelitian ini mempunyai nilai signifikansi individual dibawah nilai α = 5%, khususnya variabel kualitas akuntan publik (KAP ) mempunyai nilai t sebesar -5,206 dan nilai signifikansi t sebesar 0,00 yang berarti nilai tersebut lebih kecil dari α lt; 5%). Variabel persentase jumlah komisaris independen (KOM_indpdn) pada tabel 4.10 mempunyai nilai t sebesar -0,220 dan nilai signifikansi t sebesar 0,826 atau 82,6% yang dapat diartikan variabel komisaris independen tidak signifikan dan tidak mungkin. Variabel persentase kepemilikan saham institusional (SHM_insttsi) pada uji signifikansi t menghasilkan nilai t sebesar –2,126 dan mempunyai nilai signifikansi t sebesar 0,036 atau 3,6% yang berarti nilai tersebut lebih kecil dari nilai α = 5 % dan variabel ini berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Uji Statistik F (Uji Bersama)
Hipotesis ketiga adalah kepemilikan institusional. Hasil uji signifikansi t pada tabel 4.10 menyatakan bahwa pada tingkat kepercayaan 95%, variabel kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Artinya semakin tinggi kepemilikan saham institusional maka semakin kecil nilai manajemen laba (DA). Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Cost of Equity Capital (Studi Pada Perusahaan Publik Sektor Manufaktur), Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol 9 No.
Analisis Dampak Keberadaan Board Share dan Komite Audit Terhadap Aktivitas Manajemen Laba pada Perusahaan Publik di Indonesia.”
Hasil Pengujian Regresi Linear Berganda
Hasil Pengujian Hipotesis
- Keahlian Akuntan Publik
- Persentase Jumlah Dewan Komisaris Independen
- Persentase Jumlah Kepemilikan Institusional
- Hipotesis Secara Simultan
Hipotesis keempat merupakan hipotesis yang menguji ketiga variabel independen secara simultan (simultan) terhadap manajemen laba, kemudian dari tabel 4.11 (tabel uji signifikan f) menunjukkan nilai signifikansi f sebesar 0,000 yang membuktikan bahwa ketiga variabel independen tersebut adalah keahlian dari auditor negara, proporsi jumlah anggota dewan Kepemilikan saham independen dan institusional secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba dengan tingkat kepercayaan sebesar 95%. Penelitian ini menggunakan perhitungan rasio penyisihan modal kerja terhadap penjualan untuk memperoleh nilai tingkat manajemen laba (DA). Penulis menyarankan pada penelitian selanjutnya dapat diperluas dengan menambahkan variabel independen lain yang diyakini mempengaruhi manajemen laba sehingga variabel tersebut mempunyai nilai Adjusted R² yang lebih tinggi.
Penulis menyarankan untuk mempertimbangkan dan menganalisis perilaku manajemen laba yang terdapat dalam laporan keuangan untuk pengambilan keputusan mengenai laporan keuangan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
Penulis menyarankan untuk menggunakan sampel perusahaan pada industri lain, karena terdapat perbedaan karakteristik manajemen laba masing-masing industri. Penulis menyarankan emiten untuk menerapkan mekanisme tata kelola perusahaan yang baik tidak hanya untuk jangka pendek, namun juga jangka panjang dalam memantau, mendeteksi dan juga mengurangi tingkat manajemen laba yang sering dilakukan oleh manajemen. Kualitas Laba: Mempelajari Dampak Mekanisme Tata Kelola Perusahaan dan Dampak Manajemen Laba Menggunakan Analisis Jalur.
Pengaruh asimetri informasi terhadap praktik manajemen laba pada perusahaan perbankan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.