PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Dari hasil observasi tersebut peneliti tertarik untuk mendapatkan gambaran bagaimana metode role play meningkatkan harga diri atau harga diri anak TKIT 1 Qurrota A'yun Ponorogo. Penerapan metode bermain peran dalam meningkatkan harga diri pada anak usia dini di TKIT 1 Qurrota A'yun Ponorogo".
Fokus Penelitian
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Jelaskan capaian pengembangan harga diri setelah guru menerapkan metode bermain peran pada anak usia dini di TKIT 1 Qurrota A'yun Ponorogo.
Manfaat Penelitian
Sistematika Pembahasan
Oleh karena itu, jumlah poin akhir sesuai dengan jumlah item masalah dan tujuan penelitian.
KAJIAN PUSTAKA
Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
Sementara itu, dalam penelitian tersebut, peneliti membahas peningkatan harga diri melalui metode bermain peran pada anak usia dini, usia 5-6 tahun. Capaian pengembangan harga diri setelah guru mengenalkan metode bermain peran pada anak usia dini TKIT 1 Qurrota A'yun Ponorogo. Pentingnya pengembangan harga diri pada anak juga penting untuk dikembangkan sejak dini, sehingga pendidik di TKIT 1 Qurrota A'yun menggunakan metode bermain peran untuk mendorong perkembangan harga diri.
Mini Market di TKIT 1 Qurrota A'yun menjadi bukti betapa pentingnya metode role play bagi perkembangan anak usia dini. Penerapan metode bermain peran di TKIT 1 Qurrota A'yun tidak terlepas dari berbagai evaluasi sebagai penunjang untuk memaksimalkan proses pembelajaran di masa mendatang. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan analisis data yang dilakukan peneliti mengenai penerapan metode role play dalam meningkatkan harga diri pada anak usia dini di TKIT 1 Qurrota A'yun Ponorogo.
Perkembangan harga diri setelah guru mengenalkan metode bermain peran pada anak usia dini di TKIT 1 Qurrota A'yun Ponorogo mengalami peningkatan dan termasuk perkembangan sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh peneliti, terdapat beberapa saran sebagai kontribusi dan pertimbangan dalam meningkatkan rasa percaya diri anak dengan pembelajaran metode bermain peran di TKIT 1 Qurrota A'yun Ponorogo.
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Kehadiran Peneliti
Lokasi Penelitian
Peneliti di TKIT 1 Qurrota A'yun Ponorogo mencari data seperti profil sekolah, data penerapan metode bermain peran untuk meningkatkan harga diri sejak usia dini, kemudian mengumpulkan semua data, menganalisis dan kemudian menuliskan hasil penelitian yang diperoleh. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena pada saat peneliti melakukan observasi awal, peneliti menemukan beberapa kejanggalan yang kemudian peneliti ingin pelajari lebih lanjut di sekolah tersebut dan menjadi focal point peneliti yaitu fokus pada perkembangan self-esteem anak melalui metode bermain peran di TK kelas B.
Data dan Sumber Data
Data observasi dalam penelitian ini adalah observasi yang dilakukan yang berisi tentang penerapan metode role play untuk meningkatkan harga diri pada anak usia dini. Hal yang diperhatikan adalah aktivitas guru dalam penerapan metode role play dalam proses pembelajaran yang berkaitan dengan peningkatan self esteem atau harga diri anak. Untuk itu TKIT 1 Qurrota A'yun menerapkan kegiatan bermain peran untuk tumbuh kembang anak dan merangsang perkembangan terutama dalam perkembangan harga diri anak agar anak memiliki bekal untuk masa depannya.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, pembelajaran dengan menggunakan metode role playing penting diterapkan pada pembelajaran anak usia dini. Pada saat melakukan observasi, peneliti menilai beberapa faktor yang mendukung dan menghambat penerapan metode bermain peran. Perkembangan harga diri pada anak usia dini setelah penerapan metode bermain peran mengalami peningkatan, salah satu hal yang mendukung hal tersebut adalah mendapatkan insentif yang tepat.
Selama pelaksanaan role play di TKIT 1 Qurrota A'yun, anak-anak aktif dan menikmati karakter yang dimainkan, hampir semua mempelajari karakter yang ada pada karakter tersebut namun ada satu anak yang harus dipaksa oleh teman-temannya. Dengan dilaksanakannya program role play diharapkan perkembangan harga diri anak dapat meningkat sesuai dengan tahapan usianya.
Prosedur Pengumpulan Data
Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan lainnya agar mudah dipahami dan hasilnya dikomunikasikan kepada orang lain. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan konsep yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman, yang mengemukakan bahwa kegiatan analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berkesinambungan pada setiap tahapan penelitian. Dalam penelitian ini data yang akan direduksi adalah data hasil observasi, wawancara dan hasil penelitian yang dilakukan di TKIT 1 Qurrota A'yun Ponorogo.
Reduksi data diikuti dengan penyajian data, dan dalam penelitian kualitatif penyajian data dimungkinkan dalam bentuk uraian singkat, bagian-bagian, hubungan antar kategori. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah temuan baru yang sebelumnya belum jelas menjadi jelas setelah penelitian selesai. Verifikasi atau inferensi merupakan tahap lanjutan dimana peneliti menarik kesimpulan awal yang masih bersifat tentatif dan akan berubah kecuali ditemukan bukti yang kuat untuk mendukung tahap pengumpulan data selanjutnya.
Setelah kesimpulan ditarik, peneliti memastikan keabsahan data, proses pengkodean data dan penyajian data untuk memastikan tidak ada kesalahan pada data. Namun jika kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten pada saat peneliti kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan di awal merupakan kesimpulan yang kredibel.
Pengecekan Keabsahan Data
Kegiatan ini dapat dilakukan dengan wawancara intensif, observasi dan aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti berbohong dan menyontek. Triangulasi sumber digunakan untuk menguji kredibilitas data, yang dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh dalam penelitian. Pertama peneliti menggunakan wawancara, kemudian ia mengecek kembali dengan bantuan observasi dan dokumentasi, sehingga data yang diperoleh benar-benar valid.
Triangulasi temporal dapat mempengaruhi kredibilitas data, yang dilakukan dengan mengecek kembali hasil wawancara, observasi atau teknik lain yang digunakan pada waktu yang berbeda.45 Dengan teknik ini, peneliti mengecek kembali apakah datanya sama dengan yang pernah diteliti sebelumnya. Jika data valid, jika ada perbedaan, peneliti harus memeriksa kembali sampai data yang diperoleh valid. Pengecekan ini menggambarkan hasil dari proses yang diperoleh melalui penelitian dengan pembimbing yang melakukan penelitian kualitatif.46 Hasil penelitian dapat didiskusikan dengan pengamat lain agar peneliti mendapatkan masukan yang baik atas metodologi penelitian yang diamati.
Tahapan-tahapan Penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
Paparan Data
Bentuk Kegiatan Role Play di TKIT 1 Qurrota A'yun Role play merupakan metode yang harus diajarkan kepada anak karena memiliki banyak manfaat diantaranya melatih anak untuk berinteraksi dengan teman sebayanya karena dapat menjalin hubungan yang harmonis. Metode bermain peran sangat penting untuk diterapkan karena sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak dan dapat mendorong anak untuk melakukan kegiatan belajar anak sesuai dengan tahapan usianya. Memang metode bermain peran sangat penting untuk dikembangkan karena dapat merangsang perkembangan sosial anak, membantu anak memahami individu lain dan mempermudah berhubungan dengan lingkungan masyarakat.
Di sekolah kami menerapkan kegiatan role play, juga bila bertepatan dengan tema kerja, disini anak berperan sesuai keinginan atau cita-cita anak, misalnya polisi, dokter, guru dan pilot. Terlihat anak-anak sangat antusias karena guru juga menyiapkan peralatan untuk berperan sebagai guru. Kegiatan bermain peran sebagai pedagang ini dilakukan saat peneliti melakukan observasi pada Selasa 8 Maret 2022 pukul 08.30 WIB.
Beberapa hal yang mendukung promosi tumbuh kembang anak antara lain penggunaan media dalam pembelajaran metode role play yang diungkapkan oleh Ibu Pifin Puspitawati S.Pd. Untuk meningkatkan self-esteem atau keterampilan harga diri anak sebaiknya menggunakan metode bermain peran yang menarik agar anak penasaran dan berpartisipasi dalam ruang lingkup bermain peran.
Pembahasan
Berdasarkan wawancara dan observasi di atas dapat diketahui bahwa dengan pembelajaran metode bermain peran, hampir semua siswa berkembang sesuai dengan harapan indikator pencapaian perkembangan individu, walaupun beberapa anak masih dalam tahap perkembangan, namun hal tersebut tidak mengurangi semangat anak untuk belajar lebih lanjut dan guru berusaha memaksimalkan proses pembelajaran agar anak berkembang secara optimal. Bermain peran juga mengembangkan imajinasi anak, sehingga anak menjadi kreatif dalam melakukan kegiatan bermain peran, misalnya memerankan tokoh seorang pedagang yang menjajakan dagangannya. Mulyasa mengatakan bahwa bermain peran adalah cara siswa membangun hubungan dengan teman lain dengan meniru dan membicarakannya, sehingga siswa dapat mengembangkan perasaan, nilai dan perilaku serta cara untuk memecahkan masalah.
Melalui permainan peran, siswa dapat meningkatkan kemampuan kognitif, linguistik, sosial-emosional dan mengetahui perannya dalam kehidupan masyarakat. Saat melakukan permainan peran di dalam kelas, anak-anak sangat aktif, terutama pada waktu senggang anak, karena niatnya adalah untuk melakukan permainan drama, seperti bermain raja dan ratu, karakter boneka atau anjing, karena biasanya melalui permainan peran, anak dapat mengungkapkan ide dan perasaan anak. Memainkan peran percaya diri dalam permainan drama, yaitu ketika seorang anak diberikan peran yang tidak sesuai dengan ciri-ciri anak tersebut, ia akan berusaha tampil semaksimal mungkin.
Penerapan metode bermain peran dalam meningkatkan harga diri anak usia dini di TKIT 1 Qurrota A'yun Ponorogo kelompok B berjalan dengan baik yaitu pada saat bermain peran dengan tema karya, bermain peran pada jam bermain bebas dan kegiatan mini market memiliki banyak manfaat terutama berkontribusi dalam interaksi anak sehingga anak dapat memiliki pandangan positif terhadap dirinya sendiri dan merasa dirinya sukses dan berharga. Sebaiknya guru secara rutin kembali ke kegiatan metode bermain peran agar anak lebih terbiasa dengan pengembangan harga diri dan juga mengadakan kegiatan yang lebih bervariasi untuk pengembangan harga diri anak.
PENUTUP
Saran
Bagi sekolah agar lebih meningkatkan segala aspek perkembangan anak, terutama perkembangan harga diri anak yang sangat penting bagi pendidikan anak selanjutnya. Upaya meningkatkan harga diri siswa yang mengalami penelantaran orang tua melalui konseling realitas pada siswa kelas VIII G SMPN 13 Semarang Tahun Pelajaran 2012/2013. Sandy Azizah “Self Esteem (Coopersmith) (on line) tersedia di http://sandyazizah.blogspot.com2013/01/selfesteem.html?m=1 (diakses 4 Maret 2022.