Bagaimana penerapan Pasal 22(1) UU No. 18 Tahun 2003 tentang Pengacara Pidana di Kabupaten Jember. Untuk menentukan penerapan Pasal 22(1) UU No. 18 Tahun 2003 tentang Pengacara Pidana di Kabupaten Jember.
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
- Fokus Penelitian
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Penelitian
- Definisi Istilah
- Sistematika Pembahasan
Diperlukan suatu sistem penulisan yang baik, dimana penulis akan menguraikan secara sistematis seluruh isi yang terdapat dalam skripsi. Bab ini memuat penerapan Pasal 22(1) UU No. 18 Tahun 2003 tentang Pengacara dalam Perkara Pidana dan Perdata di Wilayah Hukum Jember.
KAJIAN KEPUSTAKAAN
Penelitian Terdahulu
Kedua, Pemberian bantuan hukum gratis kepada terdakwa tidak mampu (studi kasus di Pengadilan Negeri Sukoharjo) oleh Teguh Triyanto 2 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pemberian bantuan hukum gratis (prodeo) dalam perkara pidana kepada terdakwa tidak cakap dalam perkara pidana. Pengadilan Negeri Sukoharjo serta mengetahui kendala apa saja yang ditemui dalam pelaksanaan pemberian bantuan hukum gratis (prodeo) perkara pidana kepada terdakwa tidak mampu di Pengadilan Negeri Sukoharjo. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Teguh diatas mengenai pelaksanaan pemberian bantuan hukum yaitu (a) pelaksanaan pemberian bantuan hukum gratis kepada terdakwa miskin yang melakukan tindak pidana dengan ancaman hukuman 5 tahun di Sukoharjo . Pengadilan Negeri dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kajian Teori
METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Artinya penelitian ini mengkaji tentang pengacara dalam memberikan bantuan hukum, baik dalam perkara pidana maupun perdata. Informan tersebut di atas adalah para pengacara yang berada di bawah naungan PERADI Cabang Jember dan berdomisili atau berkantor hukum di Kabupaten Jember. Sedangkan dilihat dari pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena data yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa sebaran informasi dari para pengacara yang berdomisili atau mempunyai kantor hukum di Kabupaten Jember khususnya para pengacara yang bernaung di bawah. dari Persatuan Advokat Indonesia (PERADI) Cabang Jember.
Moleong mengartikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang atau subjek yang diteliti.3.
Lokasi Penelitian
Penyidikan ini juga dilakukan sebagai bentuk penyidikan lebih lanjut terhadap penerapan Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat di Kabupaten Jember. Pada hakikatnya bantuan hukum diberikan oleh pengacara kepada para pencari keadilan yang kurang mampu secara ekonomi di Kabupaten Jember.
Subyek Penelitian
Informan yang disebutkan di atas adalah para pengacara yang berdomisili atau berkantor di Kabupaten Jember dan banyak menangani kasus-kasus besar dan menarik perhatian masyarakat, baik kasus pidana, perdata, maupun Tata Usaha Negara. Sedangkan menurut Loflend, sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen, dan lain-lain. Terkait dengan hal tersebut, pada bagian ini jenis data dibedakan menjadi kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis, foto, dan lain-lain.
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber pertama.7 Sedangkan definisi lain mengartikan data primer sebagai sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.8 Data primer ini diperoleh dari hasil wawancara peneliti dengan informan yaitu advokat. yang berada di bawah naungan Persatuan Advokat Indonesia (PERADI) Cabang Jember. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari dokumentasi para Pengacara seperti berkas perkara yang ditanganinya, serta berbagai referensi seperti buku-buku yang berkaitan dengan bantuan hukum atau kewajiban Pengacara dalam memberikan bantuan hukum cuma-cuma (prodeo), jurnal, peraturan hukum. - undangan dll. berkaitan dengan masalah pokok penelitian ini (disertasi). Lebih dari itu, menurut Soerjono Soekanto, sumber data terbagi menjadi tiga, yaitu; sumber data primer, sumber data sekunder dan sumber data tersier.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data-data yang diperlukan dari para informan yang relevan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu kaitannya dengan penerapan Pasal 22(1) UU No. 18 Tahun 2003 tentang Pengacara. Sebagian besar data yang tersedia berbentuk surat, catatan, buku, buku harian, dan lain-lain. Ciri utama data ini adalah tidak terbatas pada ruang dan waktu, sehingga memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mempelajari hal-hal yang terjadi pada masa lalu.14 Teknik ini digunakan untuk memperoleh data yang dianggap dapat membantu memberikan informasi. apa yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini.
Oleh karena itu, teknik dokumentasi digunakan untuk mendukung data yang dapat dipercaya atau memperkuat hasil wawancara. Hal ini dibuktikan dengan dokumen terkait pemberian bantuan hukum gratis (prodeo) kepada pencari keadilan yang kurang mampu secara ekonomi. Sebagaimana tercantum dalam Pasal 22 ayat (1) UU No. 18 Tahun 2003 untuk Pengacara yang dalam hal ini menjadi objek penelitian.
Analisis Data
Penyajian data adalah kumpulan informasi terstruktur yang memberikan kemampuan untuk menarik kesimpulan dan mengambil tindakan. Penyajian data yang baik merupakan langkah penting untuk mencapai analisis kualitatif yang valid dan dapat diandalkan. Dalam penyajian data tidak hanya sekedar mendeskripsikannya secara naratif saja, namun disertai dengan proses analisis yang berkesinambungan hingga proses penarikan kesimpulan.
Tahapan ini merupakan tahap penarikan kesimpulan dari seluruh data yang diperoleh dari hasil penelitian. Pembentukan inferensi atau verifikasi adalah upaya menemukan atau memahami makna, keteraturan, pola, penjelasan, alur sebab akibat, atau proposisi. Sebelum menarik kesimpulan terlebih dahulu dilakukan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi dari kegiatan sebelumnya.Menurut Miles dan Huberman, proses analisis tidak berlangsung satu kali saja, melainkan secara interaktif, bolak-balik antara reduksi dan penyajian. dan aktivitas penarikan. kesimpulan atau verifikasi selama periode penelitian. Setelah dilakukan verifikasi, barulah dapat ditarik kesimpulan berdasarkan hasil penelitian yang disajikan dalam bentuk naratif. Penarikan kesimpulan merupakan tahap akhir dari kegiatan analisis data. Membuat kesimpulan adalah tahap terakhir dari pengumpulan data. untuk menangani.
Keabsahan Data
Bantuan hukum tersebut tertuang dalam Pasal 22 ayat Terkait dengan bantuan hukum gratis (prodeo), kantor kami yang dipimpin oleh pengacara Ahmad Cholily telah melaksanakan sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 22 ayat. mereka yang mencari keadilan yang tidak mampu.” Berdasarkan pasal tersebut, profesi hukum wajib memberikan bantuan hukum cuma-cuma (prodeo) kepada pihak-pihak yang berperkara yang tidak mampu secara finansial.
Terkait dengan Pasal 22(1) UU No. 18 Tahun 2003 tentang Pengacara, yang menyatakan bahwa “pengacara wajib memberikan bantuan hukum cuma-cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu”. Terkait dengan bantuan hukum, yaitu perkara perdata dalam hal ini, Pasal 22(1) mewajibkan semua pengacara untuk memberikan bantuan hukum cuma-cuma (prodeo) kepada pencari bantuan hukum yang kurang mampu secara ekonomi. Bahwa pemberian bantuan hukum (prodeo) gratis oleh Biro Hukum dan Penasihat Hukum “Achmad Cholily dan Rekan” telah sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) no. 83 Tahun 2008 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum cuma-cuma (gratis).
Bantuan hukum dalam hal ini merupakan perkara perdata, sehingga Pasal 22(1) mewajibkan semua pengacara memberikan bantuan hukum cuma-cuma (prodeo) kepada pencari bantuan hukum yang kurang mampu secara ekonomi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bantuan hukum perkara perdata di Kabupaten Jember yang diatur dalam Pasal 22 ayat (1) UU No. 18 Tahun 2003 tentang Pengacara pada dasarnya.
Tahap-tahap Penelitian
PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
Gambaran Obyek Penelitian
Penyajian dan Analisis Data
Mengingat hal ini, kantor kami RM dan Partners Law Studio berupaya keras memberikan bantuan hukum gratis (prodeo) kepada mereka yang mencari keadilan dan tidak mampu. Terkait dengan pemberian bantuan hukum (prodeo) gratis yang diberikan oleh Pengacara khususnya dalam hal ini untuk perkara pidana, Advokat Supianto di Firma Hukum E.A. Pemberian bantuan hukum oleh pengacara secara cuma-cuma (prodeo), diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) no. 83 Tahun 2008 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Gratis Sebagai Implementasi Pasal 22 Ayat (2) UU No. 18 Tahun 2003. tentang pengacara yang pada pokoknya menentukan siapa yang berhak memberikan bantuan hukum.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Advokat Uul Fathur Rohmah di Kantor Advokat dan Konsultan Hukum “Achmad Cholily dan Rekan”, Uul Fathur Rohma menyatakan bahwa, dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat yang mengamanatkan bahwa setiap Advokat wajib memberikan bantuan hukum gratis (prodeo) kepada pencari keadilan yang kurang mampu secara ekonomi. Sebagaimana dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Gratis yaitu. 29 Sekretariat Negara Republik Indonesia, Pasal 1 angka 3, PP Nomor 83 Tahun 2008 tentang syarat dan tata cara pemberian bantuan hukum cuma-cuma.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa bantuan hukum pidana di Kabupaten Jember termasuk dalam Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Kejaksaan yang pada intinya berkaitan dengan bantuan hukum cuma-cuma yang diberikan oleh pengacara (prodeo) kepada pencari keadilan yang tidak mampu. Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Kejaksaan menyatakan bahwa “pengacara wajib memberikan bantuan hukum cuma-cuma kepada pencari keadilan dan yang tidak mampu.”32 Berdasarkan pasal ini, pengacara wajib memberikan bantuan hukum cuma-cuma. pendampingan. bantuan hukum kepada masyarakat yang terkena dampak, mempunyai permasalahan hukum dan kurang mampu secara ekonomi.
Saran-Saran
Akibat hukum pelanggaran Pasal 22 ayat (1) UU No. 18 Tahun 2003 bagi Pengacara, tidak terdapat indikasi pelanggaran yang dilakukan oleh Pengacara di Kabupaten Jember, khususnya pemberian bantuan hukum gratis (prodeo) yaitu Pasal 22 Ayat. (1) Undang-undang No. 18 Tahun 2003 untuk Pengacara. Dalam kasus ini, Persatuan Pengacara Indonesia (PERADI) Cabang Jember mengangkat dan memberhentikan seluruh pengacara. Pencari keadilan (masyarakat) dapat mengajukan permohonan bantuan hukum gratis (prodeo) kepada pengacara, sebagaimana dimaksud dalam pasal 22 ayat (1) undang-undang no. 18 Tahun 2003 untuk Pengacara.
Divisi Sekretariat Kantor Advokat dan Konsultan Hukum Ahmad Cholily dan Rekan, Profil Kantor Advokat dan Konsultan Hukum Ahmad Cholily dan Rekan. Divisi Sekretariat Firma Hukum RM and Partners, Pengacara dan Konsultan Hukum, Profil Firma Hukum RM and Partners, 19 Agustus 2015. Bagaimana penerapan pasal 22 ayat (1) undang-undang nomor 18 tahun 2003 tentang pengacara dalam perkara perdata di Kabupaten Jember.