Bagaimana upaya guru Akidah Akhlak dalam membimbing perilaku keagamaan siswa di MTs Ma'arif 1 Punggur Lampung Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya guru dalam membimbing perilaku keagamaan siswa dilakukan dengan membimbing dan mengelola 5 (lima) dimensi keagamaan, yaitu dimensi iman, amalan, pengalaman, ilmu dan konsekuensi.
PENDAHULUAN
Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka peneliti mengajukan pertanyaan penelitian yaitu: Bagaimana upaya guru Akidah Akhlak dalam membimbing perilaku religius siswa di MTs Ma'arif 1 Punggur Lampung Tengah?. Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya guru Akidah Akhlak dalam membimbing perilaku keagamaan siswa di MTs Ma'arif 1 Punggur Lampung Tengah.
Penelitian Relevan
Kemiripan penelitian di atas dengan penelitian ini dapat dilihat dari kajian perilaku keagamaan siswa, dan penggunaan desain penelitian lapangan kualitatif yang lebih menekankan pada data hasil wawancara dan observasi. Perbedaan penelitian di atas dengan penelitian ini dapat dilihat dari kajian penelitian ini yang memuat upaya guru Akidah Akhlak dalam membimbing perilaku beragama.
LANDASAN TEORI LANDASAN TEORI
Pengertian Guru Akidah Akhlak
Tugas guru sebagai pendidik menuntut agar guru mengembangkan potensi profesionalnya sendiri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi peserta didik.
اَّنِّإاٱ
اا َنِّمااَۡ
لَۡزن َ
ااَوٱ
اُ َّللّ
Bentuk-bentuk Bimbingan Guru Akidah Akhlak
Adapun yang berkaitan dengan guru akhlak dalam bimbingan perilaku keagamaan yaitu bimbingan sosial dan pribadi, ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh. Bimbingan di atas sebenarnya menjelaskan perilaku keagamaan, bimbingan sosial pribadi yaitu menciptakan lingkungan yang kondusif, interaksi edukatif yang akrab, mengembangkan sistem pemahaman diri dan sikap positif.
Kompetensi Guru Akidah Akhlak
Artinya guru Aqidah Akhlak harus memiliki kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam. Berdasarkan pernyataan di atas, taqwa merupakan bagian dari kompetensi keagamaan yang harus dimiliki oleh seorang guru Akidah Akhlak.
Perilaku Keagamaan
- Pengertian Perilaku Keagamaan
- Ciri-ciri Perilaku Keagamaan
- Bentuk Perilaku Keagamaan Islam
Berdasarkan pengertian di atas, perilaku beragama adalah perilaku individu yang dipengaruhi oleh keyakinannya terhadap ajaran agama yang diyakininya. Merujuk pada pendapat di atas, perilaku dikategorikan sebagai perilaku religius jika dilandasi oleh iman, komitmen untuk mengamalkan.
ٱاُلۡت
ٱاَةَٰوَل َّصل
ا ِّر َكنُمۡل ٱا
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Keagamaan
Memahami kutipan di atas, dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku keagamaan seseorang terdiri dari faktor-faktor yang berasal dari dalam diri orang tersebut (internal), seperti kondisi kejiwaan, karakter dasar orang tersebut, dan faktor-faktor yang berasal dari luar (eksternal). Memahami kutipan di atas, perilaku beragama juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti lingkungan sekitar pelaku.
Upaya Guru Akidah Akhlak dalam Pembinaan Perilaku Keagamaan Guru Akidah Akhlak dalam konteks pembinaan perilaku keagamaan
- Faktor Penghambat Pembinaan Perilaku Keagamaan
- Faktor Pendukung Pembinaan Perilaku Keagamaan
Upaya Guru Aqidah Akhlak Dalam Mengembangkan Perilaku Keagamaan Guru Akhlak Aqidah Dalam Rangka Penanaman Perilaku Keagamaan. Berdasarkan pendapat di atas, upaya yang dapat dilakukan seorang guru dalam meningkatkan perilaku religius siswa adalah dengan cara menyebarkan salam, melaksanakan sholat berjamaah di sekolah, mengaji dan membaca Alquran, melakukan kegiatan ibadah, kegiatan silaturahmi antara siswa dan guru. Berdasarkan pendapat di atas, terdapat faktor penghambat pembinaan perilaku beragama di sekolah karena sebagian besar sekolah tidak dapat sepenuhnya mengontrol perilaku siswa karena keterbatasan waktu, sumber daya dan sumber daya keuangan atau kurangnya penekanan pada pentingnya moralitas.
Penyimpangan perilaku keagamaan juga terjadi karena keluarga tidak dapat menjalankan fungsinya secara normal, seperti fungsi keagamaan, sehingga lingkungan keluarga tidak memberikan pengalaman keagamaan yang cukup. Memahami kutipan di atas, dapat dikatakan bahwa ketidakmampuan keluarga menjalankan fungsi keagamaannya dengan baik merupakan faktor penghambat berkembangnya perilaku beragama. Lingkungan pendidikan di sekolah dapat berperan dalam membudayakan perilaku religius dengan merancang lingkungan yang tanggap terhadap isu-isu keagamaan di lingkungan siswa.
Sumber Data
Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah guru dan siswa Akidah Akhlak di MTs Ma`arif 1 Punggur Lampung Tengah. Sumber primer adalah sumber yang memberikan data secara langsung kepada pengumpul data.”68 Data primer yang dimaksud adalah “data berupa kata-kata lisan atau lisan, gerak tubuh atau tingkah laku subjek yang dapat dipercaya, dalam hal ini adalah subjek penelitian (informan) menurut terhadap variabel yang diteliti.” 69. Sumber utama dalam penelitian ini adalah guru Akidah Akhlak di MTs Ma`arif 1 Punggur Lampung Tengah.
Dari sumber primer tersebut dikumpulkan data tentang upaya guru Akidah Akhlak dalam membimbing perilaku beragama, mengacu pada tuturan lisan dari sumber primer itu sendiri. Sumber sekunder dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, siswa MTs Ma`arif 1 Punggur, Lampung Tengah. Data yang dicari dari sumber sekunder mendukung data sebagai pembanding data yang dihasilkan dari sumber primer.
Metode Pengumpulan Data
Wawancara dilakukan dengan sumber data primer yaitu guru Akidah Akhlak dan guru MT Ma'arif 1 Punggur Lampung Tengah. Data yang diharapkan dari wawancara mendalam adalah: data upaya guru Aqidah Akhlak dalam membimbing perilaku beragama. Metode observasi yang digunakan adalah observasi nonpartisipatif, karena peneliti tidak bersentuhan langsung dengan subjek tes dalam aktivitas kesehariannya.
76 Sugiyono, Pengertian Penelitian Kualitatif, hal. 68 . a) Pelaku yaitu guru Akidah Akhlak dan siswa kelas VIII MTs Ma`arif 1 Punggur Lampung Tengah. Dokumentasi adalah “mencari data tentang hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, jurnal, prasasti, risalah rapat, spidol, agenda, dll. 77. Peneliti menggunakan metode dokumentasi untuk mencari data tentang profil MTs Ma`arif 1 Punggur, jumlah guru dan siswa, sarana dan prasarana, dan struktur organisasi sekolah.
Teknik Penjamin Keabasahan Data
Triangulasi sumber memverifikasi kredibilitas data, yang dilakukan dengan memverifikasi data yang diperoleh dari beberapa sumber.'79. Peneliti bermaksud menguji data yang diperoleh dari satu sumber untuk membandingkannya dengan data dari sumber lain agar data yang diperoleh konsisten dan peneliti memperoleh gambaran yang lebih memadai tentang gejala yang diteliti. Teknik triangulasi dalam penelitian ini digunakan untuk membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan guru Akidah Akhlak, kepala sekolah dan siswa dengan data yang terkumpul.
Pengumpulan data dengan teknik wawancara pada pagi hari, pada saat informan masih segar, tidak banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid, sehingga lebih dipercaya. Jika hasil pengujian menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang agar ditemukan keamanan data. Triangulasi waktu digunakan untuk pengecekan dengan melakukan wawancara kepada guru Aqidah Akhlak, kepala sekolah dan siswa pada waktu yang berbeda.
Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini yaitu waktu pagi dan sore setelah istirahat. Mereduksi data berarti meringkas, memilih yang pokok, memusatkan perhatian pada hal-hal yang penting, mencari tema dan pola, serta membuang yang tidak perlu. Perilaku keagamaan siswa. Penyajian data (data presentation) dalam penelitian ini adalah penyajian data penelitian tentang peran guru Aqidah Akhlak dalam membimbing perilaku beragama yang dihasilkan dari hasil wawancara lapangan dan dipangkas pada tahap sebelumnya.
Verifikasi data (data verification) dalam penelitian ini adalah suatu susunan data yang sistematis yang dibuat untuk memudahkan peneliti menarik kesimpulan dari hasil penelitian. Kesimpulan dibentuk dengan menggunakan metode deduktif, yaitu dengan menyimpulkan hal-hal yang bersifat individual terhadap hal-hal yang bersifat umum. Metode deduktif digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil wawancara, yang kemudian digeneralisasi menjadi kesimpulan umum.
Deskripsi Lokasi Penelitian
- Sejarah Singkat MTs Ma`arif 1 Punggur
- Visi dan Misi MTs Ma`arif 1 Punggur a. Visi
- Keadaan Siswa MTs Ma’arif 1 Punggur
- Keadaan Sarana dan Prasraana MTs Ma’arif 1 Punggur Tabel 5
- Struktur OrganisasiMTs Ma’arif 1 Punggur
MTs Ma'arif 1 Punggur bekerjasama dengan lembaga pendidikan Ma'arif di lingkungan Pondok Pesantren Baitul Mustaqim yang disediakan oleh KH. Profil MTs Ma'arif 1 Punggur Nama Sekolah MTs Ma'arif 1 Punggur Akreditasi Akademi Status (B) Baik. MTs Ma`arif 1 Punggur dalam komitmennya terhadap dunia pendidikan memiliki visi “Terwujudnya siswa yang religius, berilmu, berkarakter islami dan mampu bersaing secara nasional dan global”.
Pengiriman guru untuk berbagai pelatihan dan pelatihan lainnya untuk meningkatkan kualitas guru di MTs Ma'arif 1 Punggur.86. Siswa merupakan salah satu komponen daya dukung MT Ma'arif 1 Punggur dalam mewujudkan visi dan misi. MTs Ma'arif 1 Punggur didukung dalam penyelenggaraannya oleh para dosen dan tenaga kependidikan yang berkompeten di bidangnya yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan.
Upaya Guru Akidah Akhlak dalam Membimbing Perilaku Keagamaan Siswa Siswa
- Dimensi Keyakinan
- Dimensi Praktik
- Dimensi pengalaman
- Dimensi Pengetahuan
- Dimensi Konskuensi
Sehubungan dengan upaya guru Akidah Akhlak dalam membimbing perilaku keagamaan siswa pada dimensi keimanan di MTs Ma`arif 1 Punggur, peneliti mewawancarai guru Akidah Akhlak (W/GAA/F) yang mengatakan bahwa upaya tersebut dirancang agar siswa Keyakinan yang kuat antara lain menanamkan nilai-nilai nilai keimanan Islam dengan memberikan materi dalam proses pembelajaran di sekolah. Informasi juga diperoleh dari hasil wawancara dengan siswa berikut (W/S3/P) yang mengatakan bahwa Guru Akidah Akhlak sering mengingatkan para siswa agar berhati-hati dalam bersosialisasi dan harus menjaga diri agar tidak terpengaruh oleh pergaulan yang dapat merugikan masa depan siswa. Mengenai kegiatan di sekolah yang mengedepankan pembentukan keyakinan yang kuat dalam ajaran agama, peneliti mewawancarai guru Akidah Akhlak (W/ GAA/F yang mengatakan ada beberapa kegiatan ekstrakurikuler di Mts Ma'Arif 1 Punggur seperti pramuka, Qiro, hadroh, kaligrafi, drama dan seni Islam seperti pengajian dan pembelajaran pidato.
Peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu siswa di MTs Ma`arif 1 Punggur, (W/S4/P) yang mengatakan bahwa guru Akidah Akhlak ketika mengajar di kelas sering menyuruh siswa untuk melakukan sholat berjamaah dan terkadang nomor dalam Al-Qur'an dikatakan. Peneliti juga melakukan wawancara dengan (W/S6/F) yang mengatakan bahwa guru Akidah Akhlak ramah dengan siswa, jika bertemu akan menyapa bahkan menyapa terlebih dahulu Guru Akidah Akhlak dalam rangka mendidik perilaku religius siswa datang bersinggungan dengan kompetensi moral material dan mulia.
PENUTUP
Saran
Upaya pembinaan perilaku keagamaan siswa di MTs 1 Punggur sudah baik, guru Akidah Akhlak telah mengupayakan hal-hal yang dapat membimbing siswa menuju kepribadian yang baik seperti mencontohkan, menasihati dan membiasakan, secara umum sangat baik untuk selalu dipertahankan. Dalam upaya guru Akidah Akhlak untuk membimbing perilaku keagamaan, agar siswa selalu meningkatkan kualitas ibadahnya, khususnya shalat fardu, sehingga kesadaran meneladani akan selalu tumbuh dalam diri siswa. Untuk mempercepat upaya guru Akidah Akhlak dalam membimbing perilaku keagamaan siswa, alangkah baiknya pihak sekolah dapat menambah kegiatan sekolah khususnya kegiatan yang berbasis keagamaan seperti keikutsertaan dalam pengajian Al-Quran, hadroh, kaligrafi dan pondok pesantren di bulan ramadhan di sekolah atau kegiatan sholat berjamaah dhuhur dan sholat dhuha untuk menambah ilmu dan pengalaman keagamaan di sekolah.
Abdul Hamid og Ahmad Saebani, Fiqh of Worship, Bandung: Faithful Readers, 2013 Abdul Mujid og Jusuf Mudzakir, Islamic Education, Jakarta: Kencana, 2012 Abu Ahmadidin Widodo og Supriyanto, Learning Psychology, Jakarta; Rineka Cipta. Bambang Syamsul Arifin, Psychology of Religion, Bandung: Faithful Library, 2008 Bimo Walgito, General Psychology, Yogyakarta: Andi Offset, 2011. Imam Sukardi, etl, Islamic Pillars for modern pluralism, Solo: Tiga Serangkai, 2010 Jalaluddin, Jakarta Psychology of Religaludin : Kong Grafindo Persada, 2012.
Kuantitatif, metode penelitian kualitatif, penelitian dan pengembangan, Bandung: Alfabeta, 2014 Suharsimi Arikunto, metode penelitian pendekatan praktis Jakarta: Bumi. Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: ar-Ruz Media, 2014 UU No. 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat Wahbah Zuhaili, Fiqh Imam Syafi`i Al-Fiqhu Asy-Syafi`i Al-Muyassar Jilid 2,.