Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah pada teori mengenai jenis penelitian berupa penelitian kepustakaan dan teori pewarisan menurut KUH Perdata. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah berupa teori mengenai adanya gambaran umum tentang Transgender, jenis penelitian berupa studi kepustakaan dan menggunakan pendekatan deskriptif normatif. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan penulis lakukan terletak pada sudut pandangnya, penelitian ini menggunakan hukum Islam untuk menganalisis, sedangkan penulis menggunakan dua sudut pandang untuk menganalisis yaitu hukum Islam dan hukum perdata.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan penulis lakukan terletak pada bidang teori tentang adanya gambaran umum tentang Transgender. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan penulis lakukan terletak pada sudut pandang, penelitian ini menggunakan hukum Islam untuk menganalisis sedangkan penulis menggunakan dua sudut pandang untuk menganalisis yaitu fikih Islam dan KUHPerdata. Perbedaan lain yang muncul dari penelitian ini dan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis adalah permasalahan utama dalam penelitian ini berfokus pada pembentukan hereditas bagi kaum transgender, sedangkan permasalahan utama dalam penelitian penulis adalah konsep keprihatinan hereditas. pewarisan transgender yang dapat dilihat dan dibuktikan melalui rumusan masalah penelitian.
PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Studi Penelitian Terdahulu
Metode Penelitian
Sistematika Pembahasan
HUKUM WARIS DAN TRANSGENDER
Pengertian Waris
Perkataan waris berasal daripada perkataan Arab waris\a-yaris\u-wirs\an, nama fail wa>ris\un bermaksud waris 1 Manakala pengertian waris menurut bahasa ialah pemindahan sesuatu daripada seseorang kepada orang lain. atau dari satu kaum ke kaum yang lain. Al-Miras menurut Syariah memberikan hukum sebagai garis panduan antara si mati dan ahli waris, dan apa-apa yang berkaitan dengan ahli waris. Daripada beberapa definisi di atas, ilmu faraidh secara ringkasnya ialah ilmu yang mengatur pemindahan harta si mati kepada ahli waris yang masih hidup berdasarkan ketentuan syariat Islam.
Harta warisan baru dapat dibagikan kepada ahli waris setelah dilakukan empat macam pembayaran, yaitu zakat warisan atau warisan, biaya perawatan jenazah, hutang dan tagihan ahli waris, serta wasiat pewaris.6 Sehingga dapat dapat disimpulkan bahwa harta warisan itu meliputi harta pewaris dan hak-haknya. 7 Liliana tedjosaputro, Keadilan bagi ahli waris hukum waris dari sudut pandang hukum perdata (perdata), (semarang: kupu-kupu memoli press, 2021),. Oleh karena itu harta benda itu tetap menjadi miliknya dan ia berhak menuntut pengembalian barang-barang itu kepada ahli waris yang menerimanya.
Ahli waris (erfgenaam) adalah semua orang yang berhak menerima warisan.14 Dalam Pasal 832 KUH Perdata, ahli waris yang dimaksud adalah anggota keluarga sedarah dan anggota luar nikah yang sah, serta suami-istri yang hidup di luar perkawinan dan suami-istri. dan istri yang hidup paling lama.15 Selain itu, Pasal 833 KUH Perdata mengatur bahwa ahli waris dengan sendirinya memperoleh hak milik atas seluruh harta benda menurut hukum. 13 Liliana tedjosaputro, keadilan bagi ahli waris, hukum waris ditinjau dari hukum perdata (burgelijke wetboek), (semarang: kupu-kupu memoli press, 2021), H. Ahli waris menurut Pasal 832 KUH Perdata adalah saudara sedarah, baik yang sudah menikah atau tidak, suami atau istri, yang hidup paling lama.
Ahli waris menurut wasiat adalah ahli waris yang menerima warisan karena wasiat (wasiat) dari pewaris bagi ahli waris yang dicatat dalam wasiat.17 Pasal 875 KUHPerdata menyatakan bahwa wasiat adalah. akta yang memuat pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya terjadi setelah ia meninggal dunia dan ia mencabutnya kembali. Selain itu, seorang ahli waris juga harus cakap dan berhak mewaris, artinya menurut undang-undang ia tidak dinyatakan tidak layak.
Sebab Dan Penghalang Waris
Yaitu para ahli waris dan ahli waris yang mempunyai hubungan darah atau sedarah sejak lahir, yang meliputi keturunan ahli waris, keturunan atau ibu dari ayah pewaris dan garis berikutnya di atas, atau mewarisi dengan bagian tertentu, seperti ibu, atau bagian tertentu. dengan sisa hartanya, seperti bapaknya, atau hanya sisa hartanya saja, misalnya saudara laki-laki, atau zawil arham, misalnya paman dari pihak ibu, yaitu warisan menurut garis (warisan), yaitu seluruh anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan; Ibu dan ayah serta sanak saudara mereka ke atas; Saudara laki-laki dan perempuan, pria dan wanita. Perbuatan pembunuhan yang dilakukan ahli waris terhadap ahli waris menjadi penghalang baginya (pewaris yang membunuhnya) untuk memperoleh harta warisan dari ahli waris. Seorang pembunuh tidak dapat mewarisi dari orang yang dibunuhnya, terlepas dari apakah pembunuhan yang dilakukannya itu dihukum atau tidak.
Selain itu, hadis Nabi Muhammad SAW daripada Abu Hurairah menurut riwayat Abu Dawud dan Ibn Majah yang mengatakan bahawa orang yang membunuh tidak berhak mewarisi orang yang dibunuhnya. Menurut undang-undang, yang berhak menjadi ahli waris adalah kerabat darah, baik yang sah dan tidak sah, dan suami atau isteri yang hidup paling lama (Pasa1 832 KUH Perdata). Hubungan luar nikah ialah hubungan antara lelaki dan perempuan dan pengiktirafan anak-anak secara sah 26.
Dalam Pasal 852 huruf a KUH Perdata ditentukan, selain saudara sedarah, undang-undang menentukan suami atau istri yang hidup paling lama sebagai ahli waris. Mereka yang telah divonis bersalah dituduh melakukan pembunuhan atau percobaan pembunuhan atau penyerangan yang memperparah terhadap orang yang meninggal. Menurut Pasal 840 KUH Perdata, anak-anak dari ahli waris yang tidak layak tidak boleh dirugikan karena kesalahan orang tuanya apabila anak itu menjadi ahli waris atas kekuasaannya sendiri (uiteigen hoofde), yang berarti menurut undang-undang, harta warisan anak itu tidak ada. berarti orang tuanya berhak menjadi ahli waris.
Akibat perbuatan tidak pantas ahli waris sehubungan dengan harta warisan itu batal dan hakim boleh. Pasal 839 KUH Perdata menyatakan bahwa ahli waris yang tidak dapat mewarisi karena tidak berhak, wajib mengembalikan seluruh penghasilan dan penghasilan yang dinikmatinya sejak dibukanya warisan.
Golongan Ahli Waris
Sebab sebenarnya masing-masing keduanya mempunyai bagian tertentu di luar keadaan ashabah.32 Artinya ahli waris ashabah berhak atas seluruh warisan atau sisa harta setelah ahli waris dzawil furudl mengambil bagiannya masing-masing. Dzawil arham adalah orang-orang yang sebenarnya mempunyai hubungan darah dengan ahli warisnya, namun karena ketentuan nash mereka tidak mendapat bagian, maka mereka tidak berhak menerima bagian kecuali tidak ada ahli warisnya termasuk ashab al-furudh dan ashab al - ushubah. Menurut syariat, arham artinya sanak saudara yang mutlak, baik ahli waris maupun bukan.
Kanun Sivil mengawal waris dengan membahagikan keluarga ke dalam kumpulan IV, yang muncul secara bergantian. Ahli waris golongan I adalah suami atau isteri yang umurnya paling lama, serta anak serta keturunannya berdasarkan Pasal 832, 852 dan 852 a KUH Perdata. Dalam Kanun Sivil, anak mempunyai kedudukan paling penting di antara ahli waris yang lain.
Berdasarkan KUH Perdata, hanya anak sah yang berhak menjadi ahli waris, sedangkan anak luar nikah tidak dapat mewarisi kecuali mendapat pengakuan. Ahli waris yang termasuk golongan III adalah saudara sedarah dalam garis lurus ke atas setelah orang tua ayah dan ibu, yaitu kakek dan nenek dari pihak ayah dan ibu berdasarkan Pasal 853 KUHPerdata. Golongan ini bertindak sebagai ahli waris apabila tidak ada lagi ahli waris golongan I dan II.
Berdasarkan Pasal 853 KUH Perdata, pembagian harta warisan mula-mula dibagi menjadi 2 bagian (kloving), Golongan II hanya menerima harta warisan jika tidak ada Golongan I. Ahli waris yang termasuk golongan IV adalah keluarga agunan sampai dengan dia. derajat keenam dari pihak ayah dan ibu.
Hukum Transgender
- Pengertian Transgender
Sedangkan kedudukan turun temurun dari seorang khuntha atau pemilik alat kelamin ganda yang menjalani operasi alat kelamin untuk perbaikan atau penyempurnaan alat kelamin, status hukumnya sesuai dengan jenis kelamin setelah dilakukan operasi. 53 Nurul Wafa Maulidina, Analisis Fatwa Mui Nomor 03/Munas/Viii/2010 Tentang Perubahan dan Penyesuaian Gender Serta Kaitannya Dengan Implikasi Hukumnya, hal.Sehingga status perkawinan dan warisan waria yang menjalani operasi gender sama dengan status perkawinan dan warisannya. jenis kelamin asli seperti sebelum operasi.
2 Nurul Wafa Maulidina, Analisis Fatwa Mui Nomor 03/Munas/Viii/2010 Tentang Perubahan dan Penyempurnaan Gender Serta Kaitannya dengan Implikasi Hukum, hal. Dengan demikian, bagi para khuntha muskil dan khuntha yang menjalani operasi kelamin dengan tujuan memperbaiki dan menyempurnakan alat kelaminnya, maka warisannya ditentukan oleh jenis kelaminnya setelah dioperasi. 6 Nurul Wafa Maulidina, Analisis Fatwa Mui Nomor 03/Munas/Viii/2010 Tentang Perubahan dan Penyempurnaan Gender Serta Kaitannya dengan Implikasi Hukum, skripsi, (semarang: UIN Walisongo, 2015) hal.
Status hukum jenis kelamin seseorang yang telah menjalani operasi pembesaran alat kelamin sebagaimana dimaksud pada angka 1 adalah sesuai dengan jenis kelamin setelah dilakukan operasi pembesaran alat kelamin walaupun belum mendapat keputusan pengadilan mengenai perubahan status tersebut. 13 Wafa Maulidina, “Analisis Fatwa Mui Nomor 03/Munas/Viii/2010 Tentang Perubahan dan Penyempurnaan Gender Serta Kaitannya Dengan Implikasi Hukumnya,” hal. Secara hukum, berdasarkan fatwa MUI nomor 03/MUNASVIII/MUI/2010, status hukum jenis kelamin seseorang yang melakukan operasi ganti kelamin dengan sengaja adalah sama dengan jenis kelamin aslinya sebelum dilakukan, meskipun telah ada penetapan pengadilan.
Jelas makna fatwa tersebut adalah status waris bagi seorang khuntsa atau pemilik alat kelamin ganda adalah sesuai dengan jenis kelaminnya setelah dioperasi. Berbeda dengan sistem pewarisan, KUHPerdata tidak menggunakan gender dalam pengaturan pewarisan. 17 Nurul Wafa Maulidina, Analisis Fatwa Mui Nomor 03/Munas/Viii/2010 Tentang Perubahan dan Penyempurnaan Gender Serta Kaitannya dengan Implikasi Hukum, hal.
Sedangkan bagi seorang khuntsa atau pemilik beberapa alat kelamin yang menjalani operasi alat kelamin dengan alasan perbaikan atau penyempurnaan alat kelamin, maka status warisnya adalah status hukum menurut jenis kelamin setelah dilakukan operasi. Sedangkan bagi seorang khuntha yang menjalani operasi kelamin dengan alasan perbaikan atau penyempurnaan alat kelamin, maka status warisnya adalah status hukum menurut jenis kelamin setelah dilakukan operasi. Status keturunan bagi seorang khuntsa atau pemilik beberapa alat kelamin yang menjalani operasi alat kelamin dengan alasan restorasi atau kesempurnaan alat kelamin, status hukumnya sesuai dengan jenis kelamin setelah operasi.