• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "SKRIPSI"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Telaah Pustaka

10 Alfiani Eka Nurlaili, 'Urf Tinjauan praktik Khit{{bah bagi perempuan di Desa Gondang Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek, Tesis (IAIN Ponorogo, 2020), 89. Sementara itu, penelitian ini menyoroti praktik tukar cincin berdasarkan review i'Urf yang berlokasi di desa Siwalan Mlarak Ponorogo. Dilihat dari aspek 'urf' pelaksanaan prosesi lamaran disertai dengan proses tukar cincin adalah mubah (boleh dilakukan).

Di antara beberapa uraian tersebut, praktik tukar cincin sebelum menikah di Desa Siwalan termasuk dalam 'urf qauli dan 'urf amali. Dari segi keabsahannya, tradisi tukar cincin sebelum menikah termasuk dalam 'Urf shahih, yaitu kebiasaan yang berlaku di tengah masyarakat yang tidak bertentangan dengan nash dan tidak merugikannya. Analisis Urf tentang proses pemasangan cincin saat menjelang pernikahan di Desa Siwalan Mlarak, Ponorogo.

Metodologi Penelitian

Sistematika Pembahasan

Bab ini berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Di dalamnya memuat hal-hal yang berkaitan dengan khitbah dan teori al-Urf seperti pengertian khitbah, dasar hukum khitbah, jenis-jenis khitbah, cara-cara khitbah, hikmah khitbah, pencabutan khitbah. khitbah, serta pendapat para ulama tentang khitbah yang disertai dengan tukar cincin. 17 Helaludin, hengki wijaya, Analisis Data Kualitatif Tinjauan Teori dan Praktek, (Jakarta Timur: Jaffray Theologia College, 2019), 22.

Kesimpulan merupakan uraian singkat dari rumusan masalah dan saran merupakan pendapat yang ditujukan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian ini.

TEORI AL-‘URF DALAM HUKUM ISLAM DAN TRADISI

Pengertian Al-‘Urf

Urf tidak terjadi pada individu, tetapi merupakan kebiasaan banyak orang, kebiasaan kebanyakan orang dalam perkataan atau perbuatan. Urf bukanlah kebiasaan yang alamiah, tetapi berasal dari amalan sebagian besar masyarakat, yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga menjadi tradisi. Karena 'urf dan 'adat sering berubah dalam ruang dan waktu dan selalu bergerak.

Macam-macam Al-‘Urf

Seperti kebiasaan orang untuk membeli dan menjual tanpa kontrak, menyajikan hidangan untuk dimakan tamu, mengunjungi tempat rekreasi pada hari libur. Contoh 'urf amm berupa akta, misalnya pada saat jual beli mobil, semua alat yang diperlukan untuk memperbaiki mobil sudah termasuk dalam harga jual tanpa akad tersendiri dan biaya tambahan. Merupakan adat yang berlaku di daerah dan masyarakat tertentu, seperti adat Jawa yang merayakan Lebaran Intan dan adat masyarakat Bengkulu merayakan tabot di bulan Muharram.

Ia adalah 'urf atau adat yang tidak bercanggah dengan salah satu prinsip syara', bermakna ia tidak membawa apa-apa maksud sebenar. Ia adalah 'urf atau adat yang tidak baik dan tidak boleh diterima kerana bertentangan dengan hukum syarak'.

Dasar hukum Al-‘Urf

Bermaaf-maafan dan suruhlah manusia mengerjakan yang ma'ruf dan jauhilah orang-orang yang bodoh” (QS. Ushul Fiqh ulama juga bersepakat bahawa hukum berdasarkan ‘urf boleh berubah mengikut perubahan masyarakat pada waktu dan tempat tertentu23.

Kedudukan Al-‘Urf

Kemungkinan perubahan hukum ini membuka peluang untuk terus melakukan pembaharuan hukum Islam melalui ijtihad di bidang-bidang hukum dimana diharapkan hukum Islam dapat menjadi solusi atas segala permasalahan hukum modern. Berdasarkan legitimasinya, 'Urf dibagi menjadi kategori 'Urf Sahih dan 'Urf Fasid, sehingga memiliki kedudukan yang khas. Sesuatu yang diketahui di antara mereka sendiri, meskipun tidak menjadi kebiasaan, tetapi telah disepakati dan dianggap bermanfaat bagi umat, dan selama tidak bertentangan dengan syara', maka harus dipertahankan.

Dan syar'i terpelihara 'urf sahih bangsa Arab dalam pembentukan undang-undang, maka diat (hukuman) dijatuhkan kepada wanita yang berakal budi, disyaratkan kafa'ah (kesesuaian) dalam urusan perkahwinan, dan juga. diambil kira. Urf Fasid tidak wajib memeliharanya kerana memeliharanya bermakna menentang dalil Syarak atau membatalkan dalil Syarak. Apabila orang memahami kontrak yang saling dilanggar seperti riba atau gharar (ketidakpastian transaksi), maka ia tidak mempunyai pengaruh untuk 'urf untuk membolehkannya.

Dalam hukum manusia positif, 'urf yang melanggar hukum umum tidak dikenal, namun dalam contoh akad ini dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu apakah akad tersebut dianggap darurat atau sesuai dengan kebutuhan manusia, jika itu merupakan darurat atau kebutuhan mereka Akad diperbolehkan, karena dalam keadaan darurat diperbolehkan melakukan hal-hal yang dilarang. Akan tetapi, jika tidak mengandung kegawatdaruratan atau keperluan mereka, maka sanksinya adalah pembatalan akad dan atas dasar itu urfnya tidak diakui.

Pertunangan dalam Islam (Khit{{bah)

  • Pengertian Pertunangan (Khit{{bah)
  • Dasar Hukum Khit{{bah
  • Macam-macam Khit{{bah
  • Adab Khit{{bah
  • Hikmah Khit{{bah
  • Pembatalan Khit{{bah
  • Tukar Cincin menurut pandangan ulama’

Manakala dalam terminologi Khit{{bah ialah permintaan perkahwinan lelaki dengan perempuan atau sebaliknya. Soemiyati mengatakan bahawa Khit{{bah, secara tidak langsung atau langsung melalui orang yang dipercayai, menyatakan permintaan untuk hubungan lelaki-ke-perempuan. Dengan demikian, khit{{bah dapat diartikan sebagai ungkapan dari seorang lelaki kepada seorang wanita bahawa dia adalah isterinya yang mendampinginya dalam hidupnya sehingga kematiannya, dengan cara yang berlaku dalam masyarakat dan tidak melanggar syariat agamanya. .

Khit{{bah dalam Islam bukan tanpa alasan atau dasar sebagaimana sunnah Nabi SAW. Mazhab Syafi'i berpendapat bahwa khit{{bah mustahab (dianjurkan) ini karena dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar r.a. Khit{{bah ta'rid, yaitu menyatakan sesuatu yang diinginkan atau melamar dengan kata yang masih rancu antara ingin menikah atau tidak.

Dalam melakukan proses khit{bah, keduanya dapat saling berbuat baik, seperti saling memberi hadiah, saling menanyakan tentang kepribadian (karakter, kesukaan), pandangan, sikap, dan sebagainya. Khit{{bah sebenarnya adalah gerbang yang menuju ke gerbang pernikahan, jadi khit{{bah digunakan sebagai dasar untuk saling mengenal dan memahami. Pembatalan kit{{bah masih dianggap tabu, hina bahkan menyakitkan di masyarakat, yang terkadang menimbulkan gejolak kebencian antara da'i dan kit{{bah, bahkan tak jarang orang-orang di sekitarnya.

Pembatalan khit{{bah) harus dilakukan dengan cara yang sama seperti inisiasi khit{{bah) yang dilakukan dengan cara yang ma'ruf dan tidak melanggar ketentuan syara'. Atas dasar alasan yang tidak syar'i maka batalnya khitbah tidak boleh dilakukan, karena hanya akan merugikan satu sama lain dan merupakan ciri orang munafik, karena ingkar janji dengan pihak yang disunat. Karena pada umumnya yang terjadi di masyarakat ketika khit{{bah dilakukan, selalu ada sesuatu yang diberikan kepada pihak yang khit{{bah), pemberian itu sebenarnya adalah pembuktian.

Ketika terjadi pembatalan khit{bah, kedua belah pihak harus menyerahkan segala urusannya kepada Allah saja dan memohon kebaikan dari apa yang telah terjadi dan apa yang telah Allah persiapkan pada kesempatan lain.

TRADISI TUKAR CINCIN JELANG PERNIKAHAN DI

Sejarah Desa Siwalan

Setelah beberapa lama, penduduk setempat melihat pemukiman baru telah dibuka, mulai berbondong-bondong untuk menetap dan hidup, semakin banyak orang berkumpul. Kawasan tersebut diberi nama Desa Siwalan, diambil dari banyaknya pohon Siwalan yang tumbuh di tempat tersebut. Nama Desa Siwalan diresmikan pertama kali saat Kyai Nido Besari menikah, sekaligus menandai penanaman pohon mangga Pelem Poh.

Letak Geografis

Selang beberapa waktu, penduduk setempat yang melihat telah dibukanya pemukiman baru mulai berbondong-bondong untuk menetap dan bermukim, semakin banyak orang yang berkumpul, kawasan itu diberi nama Desa Siwalan, diambil dari banyaknya pohon Siwalan yang tumbuh di tempat ini. Nama Desa Siwalan pertama kali berdiri saat Kyai Nido Besari menikah. Pada saat yang sama, dilakukan penanaman pohon mangga Pelem Poh. 42 .. a) Di selatan: desa Ngrukem b) Di barat: desa Joresan .

Kondisi Sosial

Tradisi tukar cincin bukanlah hal yang harus dilakukan sebelum menikah, begitu juga masyarakat Desa Siwalan Mlarak Ponorogo tidak semua orang melakukan prosesi tukar cincin, namun tidak sedikit juga yang memungkirinya. Dari hasil wawancara dengan Mbah Isnat dapat disimpulkan prosesi tukar cincin bukanlah sesuatu yang dilarang sebelum menikah tergantung keinginan dan. Dari hasil wawancara dengan Ibu Dimsuci dapat disimpulkan bahwa menurut beliau seiring dengan perkembangan zaman modern, prosesi tukar cincin merupakan prosesi yang baik dan sah.

Berdasarkan tradisi di Desa Siwalan, proses tukar menukar cincin dilakukan di kediaman suami sekaligus menentukan waktu atau tanggal pernikahan. Menurut sebagian besar masyarakat Desa Siwalan Mlarak, Ponorogo, proses tukar cincin sebelum menikah mengacu pada adat dan kebiasaan yang sudah ada sejak lama, sehingga banyak masyarakat yang percaya pentingnya bertukar cincin sebelum menikah. Dari hasil wawancara dengan Ibu Duwi dapat disimpulkan bahwa proses penggantian ring dilakukan seperti pada umumnya.

Penulis juga mewawancarai beberapa orang yang bertukar cincin sebelum menikah di desa Siwalan. Dari wawancara yang dilakukan dengan beberapa pasangan yang telah bertukar cincin sebelum pernikahan, praktik meminang dan menetapkan hari pernikahan dilakukan sesuai dengan yang dilakukan oleh masyarakat desa Siwalan pada umumnya, namun dalam proses pemasangan cincin dilakukan secara langsung. dilakukan oleh pasangan, yaitu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis, dapat disimpulkan bahwa di Desa Siwalan Mlarak Ponorogo masih menggunakan tradisi turun temurun yaitu bertukar cincin sebelum menikah.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah prosesi yang berlangsung pada tukar cincin dan tata cara meminang menurut tradisi dan adat Desa Siwalan Mlarak, Ponorogo. Dari wawancara dengan Mbak Tina dapat disimpulkan bahwa tukar cincin sebelum pernikahan tidak terlalu penting, yang terpenting adalah menentukan waktu pernikahan. Terkait dengan tukar cincin, masyarakat Desa Siwalan Mlarak Ponorogo bertukar cincin dengan keluarga besarnya, dan proses pemasangan cincin dilakukan langsung oleh calon pengantin dan pengantin pria secara bergantian.

Dari hasil wawancara dengan Mbak Ayyin dapat disimpulkan bahwa beliau memahami proses pemasangan cincin, sehingga ibu dan calon ibu mertua dijodohkan saat tukar cincin, padahal mayoritas masyarakat di Siwalan Desa dipasangkan. langsung. Pelaksanaan cincin tunangan secara langsung dianggap wajar oleh masyarakat Desa Siwalan karena pasangan yang bertukar cincin nantinya akan menjadi suami istri dan merupakan hal yang lumrah dan lumrah untuk dilakukan. Revisi Hukum Islam tentang tradisi tukar cincin emas dalam prosesi Khit{bah di Desa Sidorejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo.

Gambar

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin  Laki – Laki  1.358 Jiwa

Referensi

Dokumen terkait

Moderasi beragama tidaklah lahir dari ruang yang hampa, ia lahir dari ajaran Islam itu sendiri untuk membangun Islam yang selalu menjunjung tinggi pesan kemanusiaan dan