PENDAHULUAN
Fokus Penelitian
- Batasan Masalah
- Rumusan masalah
- Tujuan dan Manfaat Penelitian
Menjamin perlindungan hak reproduksi perempuan sebagaimana diamanatkan UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan belum dilaksanakan. Setelah penulis menjabarkan identifikasi permasalahan diatas agar permasalahan tersebut dapat dibahas lebih konkrit, maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada pembahasan pernikahan dini dan jaminan perlindungan hak reproduksi perempuan (fiqh dan perspektif hukum positif) . Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah yang telah penulis uraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
Bagaimana dengan pernikahan dini dan jaminan perlindungan hak reproduksi perempuan dalam perspektif fiqh dan hukum positif?” Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pernikahan dini dan jaminan perlindungan hak reproduksi perempuan dalam perspektif fiqh dan hukum positif.
Tinjauan Pustaka (Prior Research)
Dalam penelitian ini penulis mengutip hasil penelitian terdahulu yaitu penelitian yang dilakukan oleh Eko Agus Prayitno pada Pernikahan Remaja di Desa Labuhan Ratu 1 Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur pada tahun 2004 yang berfokus pada faktor-faktor penyebab pernikahan awan. . dampaknya terhadap tingkat perekonomian dan keharmonisan keluarga. batasan usia menikah menurut UU Perkawinan.28 Dari kedua penelitian tersebut, penulis ingin melakukan penelitian yang berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, namun tetap berkaitan yaitu dengan mengkaji pernikahan dini dan jaminan perlindungan hak-hak reproduksi perempuan. (Perspektif Fiqh dan Hukum Positif).
Metode Penelitian
- Jenis dan Sifat Penelitian
- Data dan Sumber Data
- Langkah-langkah Pengumpulan Data
- Teknik Analisa Data
Perkawinan Usia Dini
- Pengertian Perkawinan Usia Dini
- Dasar Perkawinan Usia Dini
- Hukum Perkawinan Usia Dini
- Dampak-dampak Perkawinan Usia Dini
Oleh karena itu penelitian ini akan mendeskripsikan pendapat para ahli hukum Islam (fiqh), KHI, dan peraturan perundang-undangan suatu negara mengenai pernikahan dini dan jaminan perlindungan hak-hak reproduksi perempuan. Dalam penelitian ini dokumentasi yang diperlukan adalah buku-buku atau referensi terkait pernikahan dini dan hak-hak reproduksi perempuan serta informasi yang dapat diperoleh melalui media cetak, elektronik, dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini. Cara berpikir deduktif dimulai dari proporsi umum yang kebenarannya telah diketahui (diyakini) dan berakhir pada suatu kesimpulan (pengetahuan baru) yang bersifat khusus.” 34 Dengan menggunakan metode deduktif ini, penulis mengambil pendapat para ulama secara positif. ketentuan hukum mengenai pernikahan dini dan jaminan perlindungan hak reproduksi perempuan dalam pernikahan dini.
Dalam kepustakaan fiqih, persoalan pernikahan dini sering disebut dengan pernikahan ash-shogir/az-zawaj al-mubakkir yang secara etimologis berarti kecil, namun dalam terminologi ini yang diutamakan adalah laki-laki atau perempuan yang belum baligh. Husein Muhammad menyatakan, pernikahan dini adalah perkawinan antara laki-laki atau perempuan yang belum mencapai pubertas. Pernikahan dini merupakan sebuah nama yang lahir dari komitmen moral dan keilmuan yang sangat kuat sebagai salah satu alternatif solusinya.
Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat dipahami bahwa perkawinan dini adalah perkawinan yang dilakukan oleh anak sebelum berumur 19 (sembilan belas) tahun bagi laki-laki dan 16 (enam belas) tahun bagi perempuan dan pada saat belum dewasa. Aisyah ra di usia muda adalah pernikahan yang penuh hikmah dan tujuan yang besar. Pernikahan dini pada hakikatnya adalah pernikahan juga, hanya saja dilakukan oleh mereka yang usianya masih muda.
Oleh karena itu, ada undang-undang terkait pernikahan dini yang secara umum harus dimasukkan dalam semua pernikahan, namun ada juga undang-undang yang khusus didasarkan pada kondisi khusus, seperti keadaan siswa yang masih bersekolah, bergantung pada orang tuanya dan tidak. beranak. Meskipun UU No. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 telah mendefinisikan aturan dan asas perkawinan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan perkawinan, kenyataannya di masyarakat sering terjadi penyimpangan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, misalnya dengan melakukan pernikahan dini. Lebih banyak anak perempuan yang menjadi korban pernikahan dini karena kemandirian ekonomi, status pendidikan dan kapasitas perempuan tidak penting bagi keluarga.
Minimnya sanksi pidana terhadap pelanggaran hukum perkawinan membuat pihak yang memaksakan pernikahan dini tidak dapat dituntut secara pidana. Undang-Undang Perlindungan Anak sangat jelas mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan anak, sehingga mengherankan jika masih banyak terjadi pelanggaran terhadap anak dalam konteks ini, yaitu pernikahan dini. Diharapkan pemerintah lebih serius dalam menindak setiap pelanggaran terkait anak dalam konteks ini, khususnya pernikahan dini.
Kesehatan Reproduksi Perempuan
- Pengertian Kesehatan Reproduksi
- Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi
- Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi
Larangan melakukan hubungan seksual pada saat haid dapat dipahami sebagai upaya untuk melindungi kesehatan reproduksi wanita dengan mencegah bertambahnya rasa sakit dan kemungkinan terkena atau terkena suatu penyakit. 71 Ida Ayu Chandranita Manuaba, dkk., Pengertian Kesehatan Reproduksi Wanita Edisi 2, (Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, 2009), hal. Berdasarkan pengertian Kementerian Kesehatan diketahui bahwa kesehatan reproduksi adalah : “keadaan kesehatan umum dan proses reproduksi”.
Dengan demikian, kesehatan reproduksi bukan sekedar keadaan bebas penyakit, namun bagaimana seseorang dapat hidup sehat.72 Pemahaman seperti ini pada akhirnya dianut oleh banyak ilmuwan, termasuk peneliti. Definisi kesehatan reproduksi yang diterima secara internasional adalah: “keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi”. Kesehatan reproduksi menurut International Conference on Population and Development (ICPD) adalah “keadaan kesehatan fisik dan mental dan bukan sekedar bebas dari penyakit, atau ketidakmampuan belaka, yang berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi”.
72 Ratna Batara Munti, Mewujudkan Hak Perempuan atas Kesehatan Reproduksi dan Seksual sebagai Hak Asasi Manusia, www.muhsinhar.staff.umy 27 Januari 2010. Dan Pasal 73 yang berbunyi: “Pemerintah berkewajiban menjamin tersedianya fasilitas informasi dan fasilitas yang aman untuk pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat, termasuk keluarga berencana.”83. Permasalahan kesehatan reproduksi patut menjadi perhatian semua pihak, tidak hanya individu yang bersangkutan, karena dampaknya yang luas mencakup berbagai aspek kehidupan dan menjadi tolak ukur kemampuan negara dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Secara umum, terdapat tiga ruang lingkup kesehatan reproduksi bagi perempuan sebagai pengemban fungsi reproduksi, antara lain. Namun jika dijelaskan lebih detail, ruang lingkup kesehatan reproduksi perempuan tidak hanya itu saja, namun juga hak pra dan pasca reproduksi. Permasalahan kesehatan reproduksi perempuan telah menjadi agenda internasional, termasuk Indonesia yang menyepakati hasil Konferensi Kesehatan Reproduksi dan Kependudukan.
84 Rangkaian pendidikan dan peningkatan kesadaran mitra informasi masyarakat tentang kesehatan reproduksi perempuan Perempuan, 2002 www.perempuan.or.id.
PERKAWINAN USIA DINI DAN JAMINAN PERLINDUNGAN
Perkawinan Usia Dini dan Jaminan Perlindungan
Dengan melihat tujuan suatu perkawinan, maka dibentuklah undang-undang perkawinan di Indonesia yang bertujuan untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah, yaitu rumah tangga yang memberikan kasih sayang, rasa aman, kedamaian, perlindungan, kebahagiaan, keberkahan, kehormatan, saling merasakan. saling menghormati, percaya dan diridhoi Allah SWT, serta siap berkorban dan berusaha menafkahi keluarga. Banyak pelanggaran hukum di tanah air akibat pernikahan dini, termasuk dalam UU No. 112 Andika Supriatna, Pernikahan Dini Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif, www.perbandinganmazhab.blogspot.com, Minggu 11 Oktober 2009.
Jadi undang-undang yang telah dibuat, ada pula yang tidak dilaksanakan di suatu daerah tertentu padahal undang-undang tersebut sudah ada sejak lama. Pasal 8 Undang-Undang Perlindungan Anak menyatakan bahwa “Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhannya baik jasmani, mental, spiritual, dan sosial.”117. Terkait dengan konsep gender, kebijakan pemerintah di berbagai bidang harus mendukung dan melindungi kesehatan reproduksi perempuan.
Pada tataran perundang-undangan, beberapa undang-undang telah menjadikan persoalan perlindungan kesehatan reproduksi menjadi ketentuan dan peraturan yang mengikat. Sehingga jaminan perlindungan dalam undang-undang kesehatan dapat dirasakan oleh semua pihak, khususnya dalam hal ini kesehatan reproduksi perempuan. Masyarakat diharapkan dapat membekali anak-anaknya dengan pengetahuan sejak dini tentang agama, pendidikan seks dan hal-hal yang dapat menimbulkan pergaulan bebas, serta upaya pencerahan pemikiran masyarakat untuk meminimalisir praktik pernikahan dini.
23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dimana dalam UU Perkawinan batasan usia anak perempuan untuk menikah adalah 16 tahun, sedangkan dalam UU tersebut. Pusat Pengkajian dan Perlindungan Anak (PKPA), http://www.kompas.com Andika Supriatna, Pernikahan Dini Dalam Perspektif Hukum Islam dan. Ida Ayu Chandranita Manuaba, dkk., Pengertian Kesehatan Reproduksi Wanita Edisi 2, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, 2009.
Undang-Undang Pokok Perkawinan dan Peraturan Perkawinan Khusus Bagi Anggota TNI, Kepolisian, Jasa Hukum dan Pegawai Negeri Sipil, Jakarta: Sinar Grafis, 2004.
KESIMPULAN
Saran
Terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, perlu dilakukan revisi agar tidak bertentangan dengan Undang-undang Nomor. Batasan perlindungan anak yang ditetapkan adalah 18 tahun. Pada usia tersebut, diperkirakan anak perempuan umumnya hanya menyelesaikan pendidikan menengah atas. Abu al-Hasan Nuruddin Muhammad bin Abdul Hadi Ash-Sindi, Al-Bukhari Najasiati Sindi, Juz 3, tapi: tidak, tidak.
Religionsministeriet i Republikken Indonesien, Al-Qur'an og dens oversættelse, Jakarta: Al-Qur'an Translator/Interpreter Organizing Foundation, 1971. Eko Agus Prayitno, "Ungt ægteskab i Labuhan Ratu 1 Village, Way Jepara District, East Lampung Regency in 2004” , Thesis, Metro, 2004. Imam Jalaluddin bin Abdurahman bin Abi Bakar as-Suyuti, al-Asbah wa Nadha'ir, ttp : tnp, tt.
Kompilasi Hukum Islam, Direktorat Pembinaan Peradilan Agama, Direktorat Jenderal Pembinaan Lembaga Keagamaan Islam, Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia, 2000. Majalah Bulanan Konseling Pernikahan dan Keluarga, BP-4 Pusat, 1991 Maulana Muhammad Ali , Islamologi, ttp : Daaril Kutubi Islamiyah , 1996 Muhammad bin Idris al-Syafi'i, al-Umm, edisi al-Muzni, ttp.:tnp.,t.t. Nurhayati HL, “Perkawinan Di Bawah Umur (Studi Kasus di Desa Muara Gading Mas Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur, 2002), Skripsi, Metro, 2002.
Ramlan Yusuf Rangkuti, Batasan Usia Pernikahan dan Persetujuan Calon Pengantin Dalam Perspektif Hukum Islam, www.ejournal.usu.ac.id 12 Oktober 2011 dikutip oleh Muhammad bin Idris al-Shafi'i, al-Umm, edisi al - Muzni , ttp.:tnp.,t.t. Ratna Batara Munti, Mewujudkan Hak Perempuan atas Kesehatan Reproduksi dan Seksual sebagai Hak Asasi Manusia, www.muhsinhar.staff.umy 27 Januari 2010. Zainuddin Ali, MA., Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafis, 2009 Zakiyah Daradjat Juprudence dkk, . Jakarta: Kementerian Agama Republik.
Lampung Timur dan selesai pada tahun 2003, sedangkan penulis menyelesaikan pendidikan menengah atas di MA Anyer Serang dan selesai pada tahun 2006.