• Tidak ada hasil yang ditemukan

skripsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "skripsi"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

Nurul Hikmah, Harmoni Ajaran Islam dalam Budaya Mappande Manu pada pernikahan Masyarakat Mandar di Desa Ujung Labuang, Kecamatan. Mappande manu merupakan kebudayaan yang dipentaskan secara turun temurun dan masih dipentaskan hingga saat ini di Desa Ujung Labuang. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap urgensi budaya mappande manu dalam pernikahan masyarakat Mandar, mengungkap bagaimana keselarasan ajaran Islam dalam budaya mappande manu, dan mengungkap bagaimana budaya mappande manu diimplementasikan dalam tradisi pernikahan masyarakat Mandar.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah penelitian lapangan yaitu suatu penilaian yang dilakukan dengan cara terjun langsung ke wilayah objek penelitian untuk memperoleh data terkait budaya mappande manu di desa Ujung Labuang. Pinrang mappande manu dalam tradisi masyarakat Mandar masih dilakukan oleh masyarakat Ujung Labuang hingga saat ini karena mappande manu merupakan kewajiban laki-laki untuk memberikan sesuatu kepada perempuan yang dimintanya, misalnya makanan pokok, uang dan lain sebagainya.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan : Penelitian ini bertujuan

Persamaan penelitian yang akan dilakukan peneliti adalah sama-sama membahas tentang adat perkawinan masyarakat Mandar. Inilah perbedaan penelitian Tika Kartika dengan penelitian yang dilakukan peneliti mengenai budaya mappande manu dalam tradisi pernikahan masyarakat Mandar. Persamaan penelitian Sabir dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah sama-sama membahas tentang adat perkawinan masyarakat Mandar.

Tinjauan Teori

Berdasarkan syariat Islam, urf adalah sesuatu yang telah diketahui manusia dan telah menjadi tradisi, baik berupa perkataan atau perbuatan dan atau meninggalkan sesuatu disebut juga adat. 17. Urf sahih ialah sesuatu yang diketahui oleh orang ramai dan tidak bercanggah dengan syariat, tidak menghalalkan sesuatu yang haram, dan tidak membatalkan sesuatu yang wajib, seperti yang biasa mereka lakukan ketika membuat akad. Urf fasid adalah sesuatu yang telah menjadi tradisi manusia, tetapi tradisi itu bertentangan dengan syariat, sama ada menghalalkan yang haram dan atau membatalkan yang wajib.

Waktu Penelitian

Fokus Penelitian

Jenis dan sumber data yang digunakan

Sumber data primer penelitian berasal dari data lapangan yang diperoleh melalui wawancara terstruktur dengan informan yang berkompeten dan mengetahui penelitian tersebut. 42 Sumber data primer dalam penelitian ini adalah masyarakat luas di Desa Ujung Labuang Kabupaten. Data sekunder merupakan data yang telah ada sebelumnya dan sengaja dikumpulkan oleh peneliti yang digunakan untuk melengkapi kebutuhan data penelitian, yang diperoleh dari referensi seperti majalah, jurnal, arsip, tesis dan berbagai hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini.

Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data dengan teknik dokumentasi, maka penelitian akan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya untuk mendukung penelitian ini agar berbagai hak yang terkait dapat dijelaskan dan diuraikan sehingga keabsahan dan kelayakan penelitian ini dapat dibuktikan secara ilmiah. Apabila analisis data menggunakan analisis deduktif, yaitu menganalisis permasalahan dari teori-teori umum atau kaidah-kaidah yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, maka diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang spesifik atau menyimpang dari kebenaran umum tentang fenomena dan. Dalam pengolahan data dengan mengumpulkan seluruh data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara di lapangan, kemudian data tersebut diobservasi secara mendalam dan analisis data dapat dilakukan ketika peneliti menemukan data lapangan.

Desa Ujunung Labuang merupakan salah satu desa pemukiman di Desa Lero berdasarkan Peraturan Daerah tentang Pemekaran Desa Tahun 1992 dan merupakan desa termuda dari 10 desa/kelurahan yang ada di Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Desa Ujung. Desa Ujung Labuang terdiri dari 2 (dua) desa yaitu desa Kassipute dan desa Tanahmilie yang berstatus desa swadaya yaitu salah satu desa yang mempunyai jumlah penduduk cukup padat di Kecamatan Suppa. Desa Kassipute di Desa Ujung Labuang mempunyai latar belakang emosi yang sama dengan Desa Lero ditinjau dari ciri budaya, adat istiadat, bahasa dan makanannya.

Sedangkan Dusun Tanahmilie berlatar belakang budaya Bugis dan merupakan bagian dari Desa Wiringtasi yang menyatu dengan Dusun Kassipute menjadi sebuah desa yaitu Desa Ujung Labuang. Setelah dua periode, diadakan pemilihan kepala desa dan terpilihlah Pak Ruslan menjadi kepala desa Ujung Labuang hingga saat ini. Sebagian jalan utama dalam kondisi baik karena telah diperbaiki, ada pula jalan di sekitar desa Ujung Labuang yang masih rusak parah, dan di beberapa tempat sudah dibangun beton bertulang, namun masih belum bisa menjangkau seluruh wilayah desa, sehingga masyarakat masih mengalami kendala dalam pengangkutan hasil pertanian.

Desa Ujung Labuang merupakan salah satu dari 10 desa dan kelurahan yang ada di wilayah kecamatan Suppa, terletak ± 17 km dari ibu kota kecamatan Suppa dan berjarak cukup jauh.

Tabel 1. batas wilayah desa ujung labuang
Tabel 1. batas wilayah desa ujung labuang

Prosesi Perkawinan dalam Tradisi Masyarakat Mandar

Oleh karena itu, akhlak mulia menjadi salah satu keputusan utama dalam memilih pasangan, baik laki-laki maupun perempuan. Keluarga laki-laki mengirimkan salah satu anggota keluarganya sebagai utusan ke rumah perempuan dan menanyakan apakah jalan masih kosong untuk dilalui. Lamaran atau mettumae ini dilakukan atas kesepakatan antara keluarga laki-laki dan perempuan untuk melangsungkan perkawinan.

Sejak peresmian pertunangan sebelumnya, hendaknya keluarga pihak laki-laki selalu memperhatikan gadis yang melamar atau melamarnya. Keluarga suami mengantarkan bahan-bahan yang akan digunakan dalam pernikahan ke rumah calon wanita dan beberapa hal lainnya. Maccanring dilaksanakan semeriah mungkin dan dihadiri oleh rombongan keluarga, tua dan muda, sahabat, sahabat dan tetangga, laki-laki dan perempuan.

Mappaduppa adalah keluarga pihak perempuan yang menyediakan sepasang pakaian lengkap untuk dikenakan oleh mempelai pria pada saat perkawinan dan diantar oleh keluarga pihak perempuan. Melaksanakan kunjungan resmi calon mempelai pria dan sanak saudaranya ke rumah calon mempelai wanita, menjaga hubungan silaturahmi antara kedua keluarga. Dua orang laki-laki membawa masigi (miniatur masjid) yang dibungkus dengan sarung atau kain.

Maande ande kaweng dilakukan oleh kedua mempelai dengan pengantin laki-laki memberi makan kepada pengantin perempuan dan sebaliknya.

Pelaksanaan Budaya Mappande Manu

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, peneliti memperoleh beberapa informasi mengenai asal usul kebudayaan Mappande Manu, diantaranya dari Bapak. Mahyuddin, mantan Imam Masjid al-Amal, Desa Kassipute, Desa Ujung Labuang. Barang yang dibawa pada saat Mappande Manu adalah beras, gula atau apapun yang dibawa oleh pihak laki-laki tanpa harus bertanya kepada pihak perempuan apakah yang harus mereka bawa. Mappande Manu dilakukan tergantung lamanya penantian hingga proses perkawinan diputuskan oleh kedua keluarga.

Arti dari Mappanda Manu adalah selalu mengingat bahwa kita telah bertunangan dengan seorang wanita dan harus selalu dikunjungi. 50 Wawancara Pak Mahyuddin (Mantan Imam Masjid Al-Amal Dusun Kassipute), tinggal di Kassipute Desa Ujung Labuang. Saat pertunangan dan pihak laki-laki masih berada di luar negeri dan keluarganya di kampung mengira sebentar lagi akan memasuki bulan puasa atau Ramadhan, pihak perempuan mengatakan bahwa pihak laki-laki jelas belum melupakan kami.

Ketika kita memasuki hari raya idul fitri, kita harus ingat kembali bahwa kita harus menjenguk wanita tersebut dengan membawa sesuatu yang akan digunakan saat hari raya idul fitri, biasanya berupa gula pasir, tepung atau yang nantinya akan dijadikan manisan dan disediakan ketika . tamu tiba (pesta pria). laki-laki) dan tidak diwajibkan membawa bekal ini atau itu dan kita sebagai perempuan tidak diwajibkan membebani laki-laki dengan barang-barangnya. Nah, jika kita ingin memasuki bulan Ramadhan, kita harus memberi makan kepada wanita tersebut, misalnya dengan membawa perlengkapan berupa gula pasir, parepulu' (beras ketan), tepung terigu dan ya, sejenis kue. kemudian dibawa ke rumah wanita tersebut pada bulan puasa atau Ramadhan. Nanti kita akan memasuki bulan baru puasa. 51 Wawancara dengan Bpk. Daamin S.Sos. Misalnya masyarakat yang ke Kendari, Sulawesi Tenggara untuk melaut, karena di Sulsel kekurangan ikan dan ombaknya besar, dan mereka adalah calon pengantin pria yang biasa ke luar negeri.

Berlangsung selama 6 bulan kemudian orang tuanya melamar seorang wanita dan pernikahannya dilakukan setelah dia tiba dan setelah bulan puasa jadi kita harus memberi makan wanita tersebut dengan membawa sesuatu misalnya beras, minyak, tepung dan sebagainya tanpa harus. membebani laki-laki itu, dan biasanya kami membawa nampan masing-masing.

Keserasian Ajaran Islam dalam budaya Mappande Manu pernikahan masyarakat Mandar masyarakat Mandar

تا َوِ ِِۚ

Mappande manu biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu yang pertama, beberapa laki-laki dari pihak laki-laki datang ke rumah pihak perempuan dan membawakan barang-barang seperti beras, gula, tepung, minyak dan lain-lain sesuai keinginan pihak laki-laki. Adapun dalam Al-Qur'an membahas tentang musyawarah atau yang biasa disebut perundingan.

رِفْغَتْسٱ َو

Selain itu, Nabi Muhammad SAW selalu berkonsultasi dengan mereka dalam segala hal, terutama jika menyangkut masalah perang. Oleh karena itu, umat Islam taat menjalankan keputusan musyawarah, karena keputusan tersebut merupakan keputusan mereka bersama Nabi. Mappande manu biasanya dilakukan ketika laki-laki yang melamar seorang perempuan pergi ke luar negeri, kemudian biasanya ia pergi ke luar negeri selama 5 sampai 6 bulan.

Mappande manu dibuat dengan cara keluarga laki-laki datang ke rumah perempuan dengan membawa sesuatu seperti beras, gula, tepung, minyak, ketan, susu, buah-buahan dan terkadang juga membawa manisan. Kemudian ketika bulan puasa dan idul fitri tiba, pernikahan belum juga dilangsungkan, suami datang ke rumah istri dengan membawa barang-barang seperti gula, mentega, tepung dan ini bisa disebut juga mappawuka.

PENUTUP

SARAN

Setelah melakukan penelitian dengan mewawancarai beberapa narasumber yang merupakan warga desa Ujung Labuang, maka saran peneliti mengenai budaya Mappande Manu adalah: Sebaiknya budaya seperti ini terus diterapkan dan dilestarikan oleh masyarakat desa Ujung Labuang. Diharapkan juga kepada masyarakat untuk selalu mengikuti dan mengambil bagian dalam budaya mappande manu ini mengingat masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang budaya, apalagi budaya mappande manu sangat jarang dilaksanakan oleh masyarakat dan juga generasi muda selalu diharapkan untuk selalu mengikuti dan mengambil bagian dalam budaya mappande manu ini. aktif dalam acara-acara kebudayaan di masyarakat, jangan anggap remeh dan lupakan budaya-budaya seperti ini. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia antara Fiqih Munakahat dan Hukum Perkawinan, Jakarta: Prenada Media.

Gambar

Tabel 1. batas wilayah desa ujung labuang
Tabel  3. Pendidikan di Desa Ujung Labuang
Tabel 4. Agama/Aliran Kepercayaan
Tabel 6. Keadaan Etnis di Desa Ujung Labuang

Referensi

Dokumen terkait

langsung, adakalanya dengan membawa kahanggi dan anak boru. Biasanya orang tua si perempuan tidak langsung menyetujui keinginan dari pihak laki-laki. Orang tua perempuan akan

menurut laki-laki, sehingga laki-laki tidak mampu menanggung semua permintaan orang tua perempuan tersebut, dan sehingga terjadi tidak cocok antara kedua remaja, karena

Pinangan atau khitbah yang umumnya dilakukan oleh pihak laki-laki namun dalam hal ini peminangan atau khitbah dilakukan oleh pihak perempuan, hal tersebut sudah

Jawaban: Tidak selalu ,sebab informasi kegiatan yang diberikan terkadang tidak langsung diberitahukan kepada orang tua, sehingga orang tua tidak mendapatkan informasi yang jelas

Terkadang hanya isyarat tubuh dan tanpa banyak kata seorang tokoh perempuan dapat dengan mudahnya mengalahkan laki-laki dari berbagai bidang tidak terkecuali

diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak keluarga perempuan selain mahar, sebab mahar hanya akan diacarakan tersendiri pada saat pelaksanaan akad nikah, dan biasanya

Sedangkan pada keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki, dan hanya mempunyai anak perempuan maka keluarga tersebut akan mengambil anak laki-laki yang akan

Oleh sebab itu, untuk mengetahui peningkatan KPS pada siswa laki-laki dan siswa perempuan maka dilakukanlah penelitian yang berjudul “Efektivitas LKS Berbasis Keterampilan Proses